Jemuran, Pewangi dan Pembunuh

clothes_missgreenlady

Membuka mesin cuci, kemudian mengeluarkan pakaian yang baru dicuci ke sebuah keranjang khusus cucian.

Hari ini cuaca cerah. Matahari bersinar terang, langit berwarna biru cerah dan tidak ada awan mendung sedikitpun. Ada beberapa awan bagaikan seulas cat air di kanvas langit biru, tapi tidak masalah. Itu awan langit tinggi, yang jika diprediksi secara tradisional tidak akan hujan selama dua hari kedepan.

Reina mencium cucian yang baru dikeluarkan, campuran antara detergent dan pewangi pakaian. Ada wangi lembut bunga yang samar-samar. Kadang Reina suka heran, mengapa cuciannya hanya mengeluarkan wangi samar-samar dan akan hilang kalau sudah kering nanti? Bagaimana caranya supaya wangi pewangi pakaian itu bisa bertahan agak lebih lama?

Sebenarnya Reina tidak akan berpikir seperti itu, kalau saja tidak secara kebetulan ia menerima pakaian yang baru saja dicuci oleh para tetangga. Jadi, Reina bisa menjahit. Iya, walau usianya terbilang masih muda, padahal statusnya sebagai Ibu Rumah Tangga, tapi Reina bisa menjahit walaupun hanya hal sederhana. Kebetulan tetangganya ingin meminta tolong mengecilkan ukuran baju. Karena Reina bisa menjahit dan kebetulan bertetangga, akhirnya Reina diminta tolong untuk mengecilkan baju tersebut. Tetangganya memberikan Reina beberapa baju yang baru saja dicuci dan pakaian itu begitu harum. Setelah Reina melakukan yang diminta oleh tetangganya, ternyata tetangga-tetangga yang lain juga mulai meminta Reina untuk melakukan hal yang sama. Alhasil Reina sering sekali menerima pakaian yang wangi setelah dicuci.

Dan disinilah Reina merasa penasaran, kenapa pewangi pakaian para tetangganya hebat sekali? Sementara pewangi pakaian Reina hanya bertahan wangi samar-samar? Apa triknya supaya pewangi pakaian bertahan lama?

Reina masih memikirkan masalah wangi baju, meski begitu tangannya masih bergerak lincah untuk menjemur baju.

“Daster sederhana lalu menjemur baju yang baru dicuci. Sungguh bukan kamu yang dulu,”

Reina tidak menunjukkan ekspresi apapun, meski telinganya mendengar jelas perkataan itu. Tanpa harus menoleh ia tahu siapa yang berbicara.

“Sepertinya dulu aku sudah bilang dengan jelas. Tidak perlu lagi mencariku. Aku sudah berhenti dari dunia itu,” Reina masih tidak peduli. Sesekali tubuhnya membungkuk untuk memungut pakaian di keranjang cucian dan menjemurnya dengan baik.

“Kau adalah salah satu yang terbaik. Murid dari guru kita yang hebat. Kau pikir kami mau begitu saja melepasmu?”

Seorang pria mendadak muncul di belakang Reina. Pria itu masih muda dan lumayan tampan. Rambutnya berwarna hitam legam dengan senyum yang ramah. Matanya menatap Reina yang memunggungi dirinya.

“Kalau dibandingkan denganmu aku jelas kalah.” Reina akhirnya menoleh dan memandang pria misterius itu.”Kurasa kau tidak datang kesini hanya sekedar untuk mengejek penampilanku yang sekarang, kan?”

Pria itu tersenyum.

“Hmm, jadi aku harus memanggilmu apa sekarang? Haruskah aku memanggilmu dengan kode namamu: Malaikat Maut?”

Pria itu tersenyum. “Rayhan saja. Kau bisa panggil aku seperti itu, untuk saat ini.”

Reina mengangguk sekilas dan kembali melanjutkan pekerjaannya, menjemur pakaian.”Namaku Reina. Dan untuk selamanya!”

“Bagiku kau masih tetap Bidadari Maut.” keras Rayhan. Sesaat tangan Reina terhenti mendengar nama itu tapi langsung bersikap biasa kembali seakan tak ada interupsi.

“Aku tak kenal nama itu,” sergah Reina.

“Tentu saja…” Rayhan mengeluarkan pisau kecil dari balik jaketnya. “… kau mengenal nama itu!” Rayhan melempar pisau itu ke punggung Reina.

Reina dengan kecepatan hebat berbalik dan menangkap pisau yang diarahkan kepadanya. Jari telunjuk dan jari tengahnya menjepit pisau kecil tersebut. Matanya menatap serius, walau ada rasa marah tersimpan di dalamnya. Dalam sekejap Reina kembali melesatkan pisau tersebut. Sayang Rayhan menangkapnya degan cara yang sama dengan Reina.

“Kan? Kau masih memiliki kemampuan yang mengagumkan,” Rayhan berbicara dengan gamblang.

Reina melotot, “Jangan bersikap kurang ajar!”

“Ck ck ck, rasa haus darahmu kurang besar. Kau pikir aku takut dengan rasa haus darah sekecil itu?” Rayhan meremehkan.

“Aku sudah tidak mau jadi pembunuh lagi,” Reina melanjutkan menjemur pakaiannya. Tinggal sedikit lagi tugasnya selesai dan ia bisa mulai memasak.

“Akui saja, ini bukan duniamu.”

Reina terhenti dari kegiatannya.

“Dunia normal yang damai seperti ini, mencuci, mengurus rumah tangga dan pekerjaan remeh lainnya. Kau dibesarkan dalam suasana yang lebih menarik. Dalam pertumpahan darah dan asap mesiu. Pisau dilempar -”

“Cukup! Aku bilang cukup!”

Kali ini Reina tidak main-main. Rayhan bisa melihat aura membunuh yang mengerikan dari Reina. Wajahnya tersenyum puas.

“Sudah kukatakan, kau-”

“Cukup Rayhan! Pergi sekarang juga atau aku akan membunuhmu!” Reina memperingatkan dengan nada yang dingin.

Rayhan melemparkan senyum yang lebih mirip seringai. “Sudah kubilang, kan? Bau detergent cucian atau apalah, semua itu tidak cocok untukmu. Bau darah yang pekat, kental bagai karat logam. Bau mesiu yang pedas. Itulah kehidupanmu! Itulah kehidupan kita!”

Reina masih menatap Rayhan dengan tatapan tajam. Rayhan hanya mendesah sambil masih tersenyum manis. Ia mengeluarkan sebuah kertas kecil seukuran kartu nama, melemparkannya kepada Reina. Reina menangkap kertas itu, menatap kertas kosong tak bertuliskan apapun, tapi Reina mengerti maksudnya.

“Kami masih menunggumu disana,” ujar Rayhan. Tak lama pria itu masuk kedalam bayangan dan akhirnya menghilang. Reina tidak lagi merasakan aura siapapun. Rayhan benar-benar telah pergi.

Reina meremas kartu nama itu dan kembali ke jemuran yang baru saja dicucinya. Samar-samar bau detergent dan pewangi pakaian menyerbu indera penciumannya. Tapi Reina tahu, seperti Rayhan yang juga mengenalnya. Bau darah dan mesiu jauh lebih menarik dibanding detergent dan pewangi pakaian.


A/N: Dibuat untuk melunasi hutang challenge bau-bauan dari IOC Writing. Tuh kaaann… aku nulis apalah ini????

 

Setiap Hari Senin

Picture sent

Picture received

Mas bro kalau ada cewek kayak difoto di gerbong kalian bilang ya. Gue tukeran jaga gerbong deh sama kalian.

Tring

Lagi rame woy…gue kepepet kayak pepes nih. Mana keliatan cewek elo.

Sembarangan. Bukan cewe gue, masih cemceman doang.

Tring

Woy… cewe lo ada di gerbong gue nih.

Elo dimana mas bro?

Gerbong cewek paling depan.

Gue kesana mas bro. Thanks ya, tukeran jaga dah sama gue di gerbong sembilan.

Set dah, gak ada gerbong yang lebih jauh lagi buat tukeran?

.
.

Iqbal, seorang polisi jaga dalam kereta langsung memasukkan handphone miliknya kedalam saku pakaian tugas. Pemuda itu segera melangkah ke gerbong yang dimaksud, gerbong wanita paling depan. Saat ia membuka pintu gerbong itu, Rahman, sesama kawan jaga WALKA melotot.

“Dasar! Kenapa gue mesti tukeran jaga gerbong sama elo sih? Mana gerbong yang jauh pula, nyusahin aja!”

Iqbal hanya bisa cengegesan, memasang wajah tak berdosa.

“Cuma setiap hari Senin doang bang. Kan besok-besok kalau elo yang mau tukeran jaga gerbong sama gue boleh-boleh aja. Asal jangan hari senin aja. Sisanya boleh deh,”

Rahman memasang wajah cemberut. Sebenarnya ia tidak marah, hanya saja sengaja pura-pura cemberut untuk menggoda temannya itu saja.

“Emang kenapa sih hari Senin? Cemceman elo cuma muncul setiap hari Senin doang?”

“Kagak usah tahu deh bang, yang penting elo boleh tukeran jaga gerbong sama gue seminggu ini,” bisik Iqbal sambil mendorong Rahman keluar gerbong wanita. Pasalnya beberapa penumpang gerbong melempar tatapan aneh kepada mereka, bisa jatuh gengsi mereka jika tersebar berita WALKA bersikap kekanakan saat bertugas.

Rahman hanya melotot sambil menggumamkan kata-kata yang tidak jelas. Iqbal juga tidak ambil pusing karena saat kawannya itu telah keluar gerbong ia langsung menutup pintunya.

Nah, saat gerbong menutup barulah Iqbal beraksi, pura-pura patroli melintasi gerbong sambil curi-curi pandang ke target yang diincar. Target yang dimaksud sebenarnya hanya seorang gadis biasa, mengenakan jilbab lebar dan panjang sekaligus busana muslimah yang menutup seluruh tubuhnya.

Iqbal tidak pernah tahu nama gadis itu. Tapi ia tahu kalau gadis itu selalu naik kereta di hari Senin pada jam yang sama. Gadis itu akan naik kereta tujuan Jakarta Kota dari Stasiun Bekasi pada pukul setengah delapan pagi dan akan turun di Stasiun Juanda. Lalu di sore harinya gadis itu akan naik kereta tujuan Bekasi pada pukul setengah tiga sore dari Stasiun Juanda.

Bagaimana Iqbal bisa tahu? Tidak, tidak, pemuda itu menolak disebut sebagai seorang stalker. Dia kan seorang WALKA jadi wajar kalau Iqbal hapal jadwal kereta gadis itu kan? Penumpang yang tidak saling kenal saja bisa saling berteman jika mereka selalu naik commuter yang sama. Lalu kenapa Iqbal tidak boleh hapal dengan jadwal kereta gadis itu? Setidaknya begitulah alasan Iqbal yang terlihat sekali terlalu dicari-cari.

Kali ini gadis itu sedang duduk memandang keluar jendela, kabel earphone berwarna hijau terlihat melintang jelas. Sesekali bibir gadis itu menggumam, mungkin mengikuti lirik lagu yang sedang didengar. Terkadang gadis itu mengutak-atik handphone miliknya, mungkin sedang mencari lagu yang lebih enak didengar.

Iqbal hanya memandangi gadis itu dari ujung gerbong. Mati gaya. Pemuda itu cuma bisa memandangi saja tanpa berani berbasa-basi, apalagi menanyakan nama dan nomor telepon, mungkin Iqbal akan pingsan. Diam-diam pemuda itu berharap semoga gadis itu terpilih sebagai Lucky Passenger, dengan begitu Iqbal bisa berbasa-basi kepadanya – Hei anda kan yang jadi Lucky Passenger, siapa nama anda?

Iqbal menggelengkan kepalanya. Duh, sejak hati dilanda cinta pikirannya selalu galau tak menentu. Bisa gawat.

“Stasiun Juanda,”

Iqbal tersentak, dari tadi dirinya melamun sampai tidak sempat mengamati gadis itu. Gadis targetnya kini sedang bersiap turun, menyandang tas ransel hitam yang besar. Iqbal selalu merasa penasaran, gadis itu masih mahasiswa atau sudah bekerja? Tas ransel miliknya selalu kelihatan berat sekali.

Pintu kereta terbuka, penumpang banyak yang turun di Juanda, sedikit sekali yang naik dari stasiun tersebut. Iqbal menjulurkan lehernya, berpura-pura mengamati apakah masih ada penumpang yang turun, padahal matanya curi-curi pandang ke arah gadis itu. Sungguh modus yang sangat cemerlang.

Saat pengumuman pintu kereta akan menutup Iqbal segera menarik tubuhnya menjauh dari pintu. Tapi tubuhnya tetap menempel di pintu kereta, matanya masih awas memandang gadis itu hingga tak terlihat lagi. Sungguh luar biasa, saat merasakan cinta, akal yang tadinya kepepet pasti akan selalu mendapatkan jalan. Istilah kerennya, love will find a way.

Iqbal mendesah kecewa. Ia harus bersabar hingga pukul setengah tiga sore nanti sampai ia bisa bertemu- bukan, bukan bertemu, tapi melihat gadis itu lagi. Sekarang ia harus kembali melaksanakan tugasnya sebagai WALKA Commuter Line.

Tring

Bunyi handphone milik Iqbal berbunyi, segera ia melihat pesan grup yang masuk.

Picture sent

Rupanya bukan pesan melainkan sebuah gambar foto. Penasaran Iqbal langsung mengunduh foto tersebut.

Foto dirinya yang sedang melamun!

Beserta pesan pendukung: Seorang WALKA ditemukan mati gaya karena satu gerbong dengan cemcemannya.

Dan pesan grup langsung ramai dengan isi pesan chat yang membuat seseorang menjadi paling salah tingkah di dunia ini: Cieeeee….


A/N: Yah~ hmm… yah, gitulah….

Satu Cuplik Kehidupan

Hosh. Hosh. Hosh.

Seorang pemuda berlari. Keringat bercucuran dari dahi dan lehernya, akan tetapi ia tak menghiraukan semua itu. Matanya terfokus pada satu tujuan.

Tubuhnya berkelit dengan lincah. Celana abu-abunya agak kotor sedikit, terpercik genangan air berwarna cokelat. Akan tetapi sekali lagi ia masih tidak menghiraukan semua itu.

Sedikit lagi. Tinggal sedikit lagi.

Napas pemuda itu sudah berat. Akan tetapi ia yakin bahwa ia bisa mencapai tujuannya tanpa gagal. Saat kakinya telah mencapai titik tertentu ia melompat. Melempar tubuhnya ke depan.

GREEEETTTT

Chandra, nama pemuda itu memposisikan tubuhnya berlutut. Ia aman.

“Dasar Bocah! Kamu lagi beruntung saya gak tutup pintu pagarnya! Kamu harusnya telat tahu!”

Pak Sukirman, satpam sekolah geleng-geleng kepala. Pria itu meletakkan tangannya di pinggang, menatap Chandra dengan jengkel. Pagar sekolah yang ada di belakangnya dalam posisi tertutup sempurna.

Chandra melempar senyum sinis. Ia menepukkan celananya, berusaha menyingkirkan debu. “Tentu saja saya tidak akan telat. Semua latihan lari di pagi hari akan terasa sia-sia,” ujar Chandra sok keren. Pak Sukirman hanya bisa bengong.

“Sampai jumpa lagi, Pak Sukirman,” Chandra mengibaskan jaketnya dan berjalan dengan tenang. Pak Sukirman kembali hanya bisa bengong.

Chandra melangkahkan kakinya sepanjang koridor sekolah. Langkahnya santai akan tetapi tatapan matanya waspada. Telinganya berusaha menangkap suara sekecil apapun, meski sekedar suara hembusan angin. Akan tetapi nihil, tak ada suara sekecil apapun.

Ini tidak bagus sama sekali. Chandra mempercepat langkahnya dan berhenti di depan pintu bertuliskan XII IPA 2.

“Disinilah medan perang akan dimulai,” pikir Chandra waspada.

Tubuhnya merapat ke arah pintu, telinganya ditempelkan ke daun pintu. Aneh, sama sekali tidak terdengar suara apapun. Ia berusaha mengintip ke jendela kelas akan tetapi suasana kelas nampak tenang.

Degup jantung pemuda itu berdetak cepat, keringat dingin mengalir. Perlahan Chandra membuka pintu dan mengintip, tidak ada guru di dalamnya. Dengan perasaan lega chandra menampakkan diri, membuka pintunya dan…

“CHANDRA!”

Sebilah penggaris kayu menebas dari arah atas, secara refleks Chandra menahan serangan itu dengan lembaran file tebal yang memang dibawanya dari awal.

“Abdul! Apa-apaan-“

“Diam! Beraninya kau terlambat!” Pemuda bernama Abdul itu melontarkan serangan lain, kali ini penggaris kayu itu menebas dari samping. Chandra berkelit, meloncat beberapa langkah kebelakang dan berlutut.

“Kau tidak tahu apa yang-“

“Diam! Kami tak menerima alasanmu!”

Abdul berlari, penggaris kayu itu menyabet ke segala arah. Chandra mulai kewalahan. Ia tidak bersenjata dan hanya punya kertas file tebal sebagai pelindung. Bukan hal yang bagus untuk melawan senjata penggaris kayu.

“Abdul sudah cukup!”

Sebuah suara mencoba menghentikan pertarungan mereka. Seorang gadis dengan jilbab yang lebar menatap mereka berdua dengan cemas.

“Jangan hentikan aku Latifah. Anak ini memang harus diberi pelajaran!”

“Tapi ini tidak benar. Bukankah yang penting Chandra bisa kembali mengambil tugas kita dengan selamat?!” Latifah terisak dengan emosi yang terlalu lebay.

“Aku akui aku memang salah. Tapi kau tak perlu menyerangku seperti ini!” seru Chandra.

“Diam Latifah! Tak akan kubiarkan Chandra menyakitimu dan membuatmu sedih!”

“Jangan kau bicara seperti itu pada Latifah!”

Latifah terdiam, matanya menatap bingung dan cemas. Pasalnya awal mula permasalahan ini adalah mengenai tugas presentasi yang tertinggal. Kenapa sekarang jadi berubah menjadi kasus cinta segitiga?

“Diam!” seru Abdul.

Abdul menyerang, memanfaatkan kelengahan Chandra. Penggaris kayunya mampu menyabet lengan, perut dan paha Chandra. Chandra yang tidak siap diserang berlutut jatuh, kesakitan dan kehabisan napas.

Latifah segera mengulurkan botol air minum yang langsung diteguk oleh Chandra, yang mana membuat Abdul berdecak sebal. Mata Chandra meneliti ke suatu arah. Ia berdiri dan berlari, Abdul berusaha memotong jalur pemuda itu. Akan tetapi Chandra lebih cerdik, ia melompati serangan penggaris kayu itu, mengambil sebilah penggaris kayu yang lain dan menahan sabetan ke kepala dari Abdul.

“Sekarang kita seri,” ujar Chandra.

“Pertarungan belum berakhir!”

Chandra dan Abdul meloncat mundur beberapa langkah. Senjata siap di tangan sementara mata mereka waspada. Kedua pemuda itu saling menatap satu sama lain, mereka tidak bergerak. Kedua pihak saling menyadari, saat diri mereka bergerak itu akan menjadi serangan terakhir mereka.

Latifah menatap was-was kedua temannya. Masing-masing tangannya telah siap dengan air mineral di botol.

Suasana hening, sunyi. Hanya detik jam yang memecah keheningan. Peluh mengalir dan jantung berdetak kencang.

Tiba-tiba saja angin kencang menerpa pandangan Latifah, tak mampu melihat apapun. Saat Latifah membuka matanya kedua senjata sudah menebas satu sama lain. Chandra dan Abdul berusaha menahan ayunan pedang lawan dan menyarangkan serangan.

Mereka masih mengukur kekuatan satu sama lain saat…

PLOK!

…kepala mereka berdua dipukul pelan dengan buku absensi.

“Penggaris sekolah bisa patah!”

Chandra melompat mundur, mengacungkan penggaris kayu mereka kepada musuh baru…

“Guru!” “Pak Guru!”

…yang ternyata adalah guru mereka.

Syat! Syat! Syat!

Chandra dan Abdul terkapar di lantai. Guru mereka telah mengeluarkan jurus “sabetan cahaya buku absensi”. Tak pernah ada satu orangpun korban dari jurus itu yang mampu melihat gerakan cahaya sabetan itu.

Pak Guru menatap ke arah Latifah.

“Beri mereka minum!”

Tanpa basa-basi Latifah langsung berlari menghampiri kedua pemuda itu.

“Dan kalian berdua, sepulang sekolah temui saya untuk menerima hukuman,” Pak Guru menatap tajam. Chandra dan Abdul hanya bisa menatap Pak Guru dengan ringis kesakitan.

Pak Guru membalikkan badan, mereka bertiga hanya bisa memandang punggung pak guru. Angin berhembus dan Pak Guru melangkah pergi.

“Darah muda seperti kalian, memang terlalu berapi-api.”

Pak Guru memang keren!

#End#


A/N: Ini apa?????

Kamu Pikir Kamu Kenal Endang?

Aku kenal Endang sejak SMA. Seorang gadis dengan wajah datar hampir tidak ada emosi. Bicaranya terpatah-patah, seperti orang yang memikirkan terlebih dulu apa yang ingin dikatakannya.

Dari segi fisik sebenarnya Endang biasa saja. Tapi dia punya aura yang berbeda. Aku bilang Endang adalah gadis yang unik. Tapi anak-anak yang lain mengatakan Endang memiliki aura yang aneh, seperti alien. Lucunya walau Endang kelihatan berbeda, tak ada yang berani mengganggunya. Atau dengan kata lain tak ada yang berani menindas Endang.

Maksudnya, ayolah. Siapa sih yang mau menindas gadis aneh berwajah datar yang punya aura aneh bak alien? Kalaupun ada pastinya gak sayang nyawa.

Banyak kawan SMA kami yang merasa aneh dengan pertemanan kami. Aku yang notabene gadis cerewet suka loncat sana sini berteman akrab dengan Endang yang datar tanpa emosi. Percayalah, itu bukan pasangan yang sesuai.

Kini kami sudah lulus dari bangku kuliah. Aku bekerja di sebuah perusahaan bergengsi sementara Endang menerapkan ilmunya untuk mengurus toko kelontong milik keluarganya. Awalnya aku merasa aneh kenapa harus susah-susah kuliah untuk mengurus toko keluarga. Tapi aku menepis pikiran itu, mungkin Endang punya pemikiran sendiri.

Ada banyak hal yang sebenarnya tak kupahami dari Endang. Tapi menurutku, satu hal ini adalah paling misteri diantara semuanya. Sejak aku mengenal Endang dari SMA, dia awet muda. Percayalah saat kukatakan awet muda adalah saat aku melihat Endang saat ini, dia tidak ada bedanya sewaktu di SMA. Pernah selintas aku menanyakan hal ini kepadanya tapi Endang hanya menatapku datar.

Tapi penasaranku memuncak dan aku kembali bertanya padanya, kenapa dia bisa begitu awet muda? Apa rahasianya? Obat macam apa yang dipakai?

“Aku tidak pakai obat apapun,” gumam Endang pelan. Aku tertawa tidak percaya.

“Ayolah, kita berteman baik sejak SMA. Beritahu aku rahasianya,” aku mendesak.

Sesaat kulihat Endang bingung dan menahan napas. Aku berpikir apakah Endang akhirnya akan memberitahu rahasia awet mudanya?

“Kau harus berjanji untuk merahasiakan ini,” gumam Endang. Aku menahan napas dan mengangguk tak sabar.

“Sebenarnya aku…,”

Aku menahan napas.

“…bukanlah makhluk dari planet ini. Makanya aku terlihat awet muda,”

Aku bengong lalu tertawa lebar. Duh, tak kusangka Endang bisa melawak begitu.

“Duh, Endang. Kalau mau ngelawak yang bener dong,” ujarku disela tawa. Endang menatapku serius.

“Aku jujur. Kalau kau tidak percaya kau bisa lihat,”

Endang menempelkan tangannya di pipi kiri dan mengayun wajah itu membuka seperti pintu. Alih-alih darah, tulang atau apapun aku malah melihat makhluk kecil aneh yang sedang duduk disana.

Makhluk itu mengatakan sesuatu tapi aku tak peduli. Yang kutahu pandanganku menggelap.
.
.
.
“-melanggar pasal 217A mengenai kerahasiaan alien,”

Aku membuka mataku. Rupanya aku pingsan dan masih terbaring di lantai. Aku mengerang dan bangkit dari posisiku.

Aku melihat Endang dan keluarganya sedang berbicara dengan pria berpakaian hitam. Mereka mengangguk patuh sementara pria bersetelan jas hitam itu marah-marah.

“Kau baik-baik saja?”

Seorang pria bersetelan jas hitam yang lain menghampiriku dan membantuku bangun. Aku cuma mengangguk seadanya.

“Bagaimana keadaanmu?” tanya pria itu lagi. Aku mengeluh kalau kepalaku pusing.

“Yah, aku mengerti perasaanmu. Mimpi yang mengerikan, eh?” Pria itu memakai kacamata hitam dan mengeluarkan sebuah -pena?

“Bagaimana kau-“

Lampu flash membanjiri mataku.

#END


A/N: Yes! Lagi-lagi fiksi tentang Man In Black. Kenapa gue seneng banget nulis ala ala alien dan petugas bersetelan jas hitam itu? 

04 November 2016

aksi-411

Mungkin sekarang udah tanggal 05 November 2016. Tapi gak masalah. Hey! Siapa bilang isu ini akan selesai cuma di tanggal 4 aja? Justru tanggal 4 hanyalah permulaan. Kami umat muslim akan memantau terus sejak sekarang.

SAYA ENGGAK IKUT AKSI 04 NOVEMBER!

Apa? Gak perlu di capslock dan di bold? Duh… kan cuma buat berlebay ria aja. Tapi yaudah deh ngikut aja, wateper yu sey!

Saya gak ikut aksi tanggal empat, dan saya bangga dengan hal itu.

Jangan! Jangan suuzon atau langsung judge saya gak peduli sama Al Quran! Baca dulu postingan saya ini, setelah beres silahkan komentar sesukamu.

Awal mula ribut-ribut Bapak Basuki udah ngomong sesuatu mengenai Al Maidah ayat 51 saya masih stay calmSeriously, I am still calm! Padahal kanan kiri sudah mulai heboh dan bisik-bisik mengenai kasus itu. Keadaan mulai gerah dan situasi bisa dipastikan bakal heboh. Tapi saya masih adem ayem aja. Bahkan gak ada perasaan apapun meskipun perasaan nyut di hati karena AlQuran gue digituin.

Dan ini bikin gue penasaran. Kenapa? Duh Allah! Kenapa kok kayaknya hati gue biasa aja AlQuran gue digituin. Padahal harusnya gue marah, kesel, sedih, lalala dengan berbagai macam perasaan melodrama lainnya. Bahkan bertebaran chat yang mengutip sastrawan favorit gue, yang menyatakan kalau enggak ada semangat lagi untuk membela agamamu lebih baik beli kain kafan. Duh, merinding disko bacanya. Apa ini sebuah pertanda kalau gue harus mulai beli kain kafan?

Dan di tanggal 4 November ini gue baru tahu! Kenapa Allah menciptakan gue dengan perasaan yang minim-minim aja.

Aksi tanggal 4 November udah terkenal banget sebelum tanggalnya. Yes! Dan chat grup WA sana-sini juga udah mulai bersebar untuk ikut turun aksi. Yang gak bisa ikut aksi boleh ngebantuian dengan cara donasi logistik dan uang. Sadly gue gak bisa ngelakuin itu semua. Dan gue cuma bisa doa doang. Doa semoga para kakak-kakak yang ikut aksi tetap bersabar, dijaga sama Allah. Semoga para polisi dan militer yang berjaga juga dikasih kesabaran dan ketahanan sama Allah. Dan semoga walau gue gak ikut aksi tapi hati gue terpaut ke TKP. Sepanjang hari gue cuma bisa ngikutin obrolan WA sana sini. Ketemu lagi sama kawan sana sini dalam aksi. Padahal gak janji ketemuan tapi bisa ketemuan dalam aksi. Duh, wish I was there 😦

TV juga mulai siaran sana sini mengenai berita aksi. Pertama nonton Metro, duh, langsung nyesel. Tapi apa mau dikata, pas nyalain TV tau-tau malah nampilin saluran Metro. Itu kan salah TVnya, bukan salah gue 😛

Ganti channel dapet berita INews yang pembawa beritanya rusuh banget pingin ngajak berantem. Padahal saya tau banget dari live report semua sahabat yang turun aksi, kami semua masih aksi damai. Akhirnya ganti channel lain dan dapetlah TVRI. Keuntungan yang tinggal daerah pedalaman, TVRI bening banget siarannya, meski semut masih suka jalan sana sini. Dan ternyata di TVRI berita aksi damai-damai aja tuh.

Ketegangan mulai terasa ketika jam menunjukkan pukul 6 sore. Yes! Ketahuilah kawan, meski cuma nonton TV tapi kami semua juga tegang nonton beritanya. Hati dan mulut udah komat-kamit, berdoa semoga yang di TKP (peduli banget, mau yang aksi maupun yang militer) semoga mereka semua baik-baik aja. Semoga yang bikin rusuh mendadak haus dan kurang fokus sehingga mundur dulu buat beli Aqua (saya gak promosi). Ditambah lagi beberapa kawan yang masih special live report dan masih ada di TKP, makin kejerlah doa di hati dan di mulut. Channel TV tetep gak berubah, masih TVRI tersayang, karena kalau nonton channel lain bisa dipastikan jantung udah loncat sana sini.

Tapi saya nulis ini bukan untuk mengulang kejadian yang bikin jantung dag dig dug duer. Yang saya soroti adalah berbagai pendapat mengenai aksi ini. Ada yang menatap positif aksi 4 november ini. Ada yang mengatakan aksi ini gak guna. Dan ada yang bilang buat apa sih aksi begituan? Kenapa gak pakai mediator aja ke menteri? Gak mikir banget. Dan sedihnya, yang bilang gitu adalah muslim juga. Yes! Sesama kawan muslim juga.

Saya gak bakal menghakimi pandangan mereka mengenai aksi. Karena dari sudut pandang saya aksi itu adalah salah satu cara untuk menyampaikan aspirasi pendapat. Selama dilaksanakan dalam koridor yang benar dan sesuai, kenapa enggak? Bahkan tajuk ceritanya juga udah bilang aksi damai. Jadi? Buat gue sih gak masalah.

Lalu gimana yang bilang aksi 4 november itu gak guna? Dari POV (Point Of View) saya dia juga gak salah. Seperti saya bilang diatas, aksi itu salah satu cara untuk menyampaikan aspirasi. Dan kalau ada yang bilang aksi itu gak guna, kita liat dulu, orang seperti apakah dia? Mungkin aksi memang bukan jalan dia. Tapi mungkin aja kan dia melakukan aksi dengan cara yang lain, menulis misalnya? Seperti yang saya lakukan ini.

Mau cara apapun yang dilakukan, menurut gue sih gak masalah. Sepanjang dia menyalurkan aspirasi pendapatnya. Dan selama gak bikin rusuh! Nah itulah aspirasi rakyat yang baik.

Tapi adalah salah kalau kalian menghina bagaimana cara kami melakukan aspirasi. Dan selama seharian tanggal 4 november, gue bisa liat itu semua. Bahkan hanya ngeliat bagaimana pendapat dan chat mereka mengenai aksi, gue bisa liat sedikit kepribadian orang itu.

Ada yang mempertanyakan kenapa harus aksi? Dan disini gue cuma bisa mikir, berarti ilmu dia belom nyampe kesana makanya dia masih mempertanyakan kenapa aksi 4 november itu bisa terjadi.

Kenapa sampai bisa rusuh kayak gitu? Dan gue cuma bisa mikir berarti anak ini baru pertama kali ngikut aksi dan belom tau kemungkinan perubahan situasi aksi di lapangan.

Ada yang bilang orang yang ikutan aksi adalah orang bodoh, dan gue cuma bisa mikir mungkin ini masuk orang yang gak pedulian. Kalau yang bilang begini adalah non muslim, gue bisa bilang dia gak peduli karena toh bukan agama dan kepercayaannya. Jadi buat apa susah?

Kalau yang bilang adalah orang muslim? Yah, gue bisa bilang dia masuk kategori yang gak pedulian. Dan itu urusan Allah, gue gak punya hak untuk judge orang lain.

Masih banyak hal yang lain. Tapi gue gak perlu menambahkan minyak ke dalam api. Gue yakin, bahwa kita semua kemaren udah panas. Gimana perasaan kalian kalau udah janjian bertamu taunya tuan rumah melanglang buana entah kemana dan tamunya ngemper di depan rumah. Duh, kalau bisa summon Titan di Shingeki no Kyoujin itu pasti udah pada dipanggil semua titannya. Panas plus gerah bo!

Dan itulah situasi yang gue alamin! Ternyata oh ternyata, gue dikelilingi oleh mereka semua yang panas… panas… panas… mencari tuan rumah yang dimana~ dimana~ dimana? Ataukah semua ini hanyalah alamat palsu?

Dan yak! Ternyata disanalah gue berada. Bergabung dalam barisan adem sari untuk melegakan panas dalam para actioner Istana Merdeka. Sejak tv mulai rusuh bahwa demo makin rusuh, chat di WA mulai gila-gilaan. Dan kalau gak disetir makin gila lagi dan makin heboh. Dan disinilah baru gue sadarin. Gue enggak ikut aksi? Iya sih. Hati gue gak nyut walau AlQuran gue digituin? Iya sih. Gue telat banget emosinya? Iya sih. Terus kenapa? Dan menurut gue itu penting. Dari sekian banyaknya manusia yang dominan panas dalam harus ada minoritas yang jadi adem sari, dan gue ternyata masuk ke dalam barisan itu.

Enggak gampang untuk jadi barisan adem sari! Salah-salah emosi dikit langsung berubah jadi panas membara. Dan disinilah gue sadarin, ternyata kenapa gue lola banget masalah beginian, mungkin aja memang keputusan dari Allah supaya gue bisa mikir dengan jernih, gak kehasut emosi dan bisa bikin adem sari untuk yang lain. Lagian siapa bilang gue gak bisa ikut aksi? Buktinya gue nulis ini karena gue juga berharap masuk dalam barisan aksi, meski dengan cara yang lain.

So, daripada debat sana sini cuma untuk mencemooh aksi yang menurut elo kemarin itu gak jelas. Lebih baik mempertanyakan pada diri sendiri, apa yang sudah elo lakukan untuk negara ini. Aksi kemarin hanyalah salah satu cara bahwa muslim masih peduli dengan negara ini. Tulisan ini juga salah satu cara bahwa saya masih peduli pada negara ini. Dan kamu? Apa yang udah kamu lakukan?

Gue enggak ikut aksi 4 Nvember. Terus kenapa? Setidaknya dengan tulisan ini gue bisa menambah catatan sejarah, bahwa sesuatu yang besar pernah terjadi di tanggal 4 November 2016. Dan gue gak bakal malu untuk ceritain ini semua ke anak cucu gue. Someday gua bakal cerita pada zaman dahulu kala 4 November 2016, pernah terjadi aksi damai yang besar dimana umat Islam bersatu padu untuk membela AlQuran. Sungguh pemandangan yang menggetarkan. Gue dimana? Gue dirumah, menjadi barisan adem sari dan penulis tambahan catatan sejarah.

Jadi, daripada cuma nulis hastag presiden pergi kemana atau si pelaku kabur kemana saat terjadi aksi. Lebih baik kita tulis saja betapa menggetarkannya aksi itu. Betapa besarnya aksi yang kita lakukan sehingga membuat gentar tidak hanya si pelaku, tapi juga bapak terhormat yang kita harapkan keputusannya.