04 November 2016

aksi-411

Mungkin sekarang udah tanggal 05 November 2016. Tapi gak masalah. Hey! Siapa bilang isu ini akan selesai cuma di tanggal 4 aja? Justru tanggal 4 hanyalah permulaan. Kami umat muslim akan memantau terus sejak sekarang.

SAYA ENGGAK IKUT AKSI 04 NOVEMBER!

Apa? Gak perlu di capslock dan di bold? Duh… kan cuma buat berlebay ria aja. Tapi yaudah deh ngikut aja, wateper yu sey!

Saya gak ikut aksi tanggal empat, dan saya bangga dengan hal itu.

Jangan! Jangan suuzon atau langsung judge saya gak peduli sama Al Quran! Baca dulu postingan saya ini, setelah beres silahkan komentar sesukamu.

Awal mula ribut-ribut Bapak Basuki udah ngomong sesuatu mengenai Al Maidah ayat 51 saya masih stay calmSeriously, I am still calm! Padahal kanan kiri sudah mulai heboh dan bisik-bisik mengenai kasus itu. Keadaan mulai gerah dan situasi bisa dipastikan bakal heboh. Tapi saya masih adem ayem aja. Bahkan gak ada perasaan apapun meskipun perasaan nyut di hati karena AlQuran gue digituin.

Dan ini bikin gue penasaran. Kenapa? Duh Allah! Kenapa kok kayaknya hati gue biasa aja AlQuran gue digituin. Padahal harusnya gue marah, kesel, sedih, lalala dengan berbagai macam perasaan melodrama lainnya. Bahkan bertebaran chat yang mengutip sastrawan favorit gue, yang menyatakan kalau enggak ada semangat lagi untuk membela agamamu lebih baik beli kain kafan. Duh, merinding disko bacanya. Apa ini sebuah pertanda kalau gue harus mulai beli kain kafan?

Dan di tanggal 4 November ini gue baru tahu! Kenapa Allah menciptakan gue dengan perasaan yang minim-minim aja.

Aksi tanggal 4 November udah terkenal banget sebelum tanggalnya. Yes! Dan chat grup WA sana-sini juga udah mulai bersebar untuk ikut turun aksi. Yang gak bisa ikut aksi boleh ngebantuian dengan cara donasi logistik dan uang. Sadly gue gak bisa ngelakuin itu semua. Dan gue cuma bisa doa doang. Doa semoga para kakak-kakak yang ikut aksi tetap bersabar, dijaga sama Allah. Semoga para polisi dan militer yang berjaga juga dikasih kesabaran dan ketahanan sama Allah. Dan semoga walau gue gak ikut aksi tapi hati gue terpaut ke TKP. Sepanjang hari gue cuma bisa ngikutin obrolan WA sana sini. Ketemu lagi sama kawan sana sini dalam aksi. Padahal gak janji ketemuan tapi bisa ketemuan dalam aksi. Duh, wish I was there 😦

TV juga mulai siaran sana sini mengenai berita aksi. Pertama nonton Metro, duh, langsung nyesel. Tapi apa mau dikata, pas nyalain TV tau-tau malah nampilin saluran Metro. Itu kan salah TVnya, bukan salah gue 😛

Ganti channel dapet berita INews yang pembawa beritanya rusuh banget pingin ngajak berantem. Padahal saya tau banget dari live report semua sahabat yang turun aksi, kami semua masih aksi damai. Akhirnya ganti channel lain dan dapetlah TVRI. Keuntungan yang tinggal daerah pedalaman, TVRI bening banget siarannya, meski semut masih suka jalan sana sini. Dan ternyata di TVRI berita aksi damai-damai aja tuh.

Ketegangan mulai terasa ketika jam menunjukkan pukul 6 sore. Yes! Ketahuilah kawan, meski cuma nonton TV tapi kami semua juga tegang nonton beritanya. Hati dan mulut udah komat-kamit, berdoa semoga yang di TKP (peduli banget, mau yang aksi maupun yang militer) semoga mereka semua baik-baik aja. Semoga yang bikin rusuh mendadak haus dan kurang fokus sehingga mundur dulu buat beli Aqua (saya gak promosi). Ditambah lagi beberapa kawan yang masih special live report dan masih ada di TKP, makin kejerlah doa di hati dan di mulut. Channel TV tetep gak berubah, masih TVRI tersayang, karena kalau nonton channel lain bisa dipastikan jantung udah loncat sana sini.

Tapi saya nulis ini bukan untuk mengulang kejadian yang bikin jantung dag dig dug duer. Yang saya soroti adalah berbagai pendapat mengenai aksi ini. Ada yang menatap positif aksi 4 november ini. Ada yang mengatakan aksi ini gak guna. Dan ada yang bilang buat apa sih aksi begituan? Kenapa gak pakai mediator aja ke menteri? Gak mikir banget. Dan sedihnya, yang bilang gitu adalah muslim juga. Yes! Sesama kawan muslim juga.

Saya gak bakal menghakimi pandangan mereka mengenai aksi. Karena dari sudut pandang saya aksi itu adalah salah satu cara untuk menyampaikan aspirasi pendapat. Selama dilaksanakan dalam koridor yang benar dan sesuai, kenapa enggak? Bahkan tajuk ceritanya juga udah bilang aksi damai. Jadi? Buat gue sih gak masalah.

Lalu gimana yang bilang aksi 4 november itu gak guna? Dari POV (Point Of View) saya dia juga gak salah. Seperti saya bilang diatas, aksi itu salah satu cara untuk menyampaikan aspirasi. Dan kalau ada yang bilang aksi itu gak guna, kita liat dulu, orang seperti apakah dia? Mungkin aksi memang bukan jalan dia. Tapi mungkin aja kan dia melakukan aksi dengan cara yang lain, menulis misalnya? Seperti yang saya lakukan ini.

Mau cara apapun yang dilakukan, menurut gue sih gak masalah. Sepanjang dia menyalurkan aspirasi pendapatnya. Dan selama gak bikin rusuh! Nah itulah aspirasi rakyat yang baik.

Tapi adalah salah kalau kalian menghina bagaimana cara kami melakukan aspirasi. Dan selama seharian tanggal 4 november, gue bisa liat itu semua. Bahkan hanya ngeliat bagaimana pendapat dan chat mereka mengenai aksi, gue bisa liat sedikit kepribadian orang itu.

Ada yang mempertanyakan kenapa harus aksi? Dan disini gue cuma bisa mikir, berarti ilmu dia belom nyampe kesana makanya dia masih mempertanyakan kenapa aksi 4 november itu bisa terjadi.

Kenapa sampai bisa rusuh kayak gitu? Dan gue cuma bisa mikir berarti anak ini baru pertama kali ngikut aksi dan belom tau kemungkinan perubahan situasi aksi di lapangan.

Ada yang bilang orang yang ikutan aksi adalah orang bodoh, dan gue cuma bisa mikir mungkin ini masuk orang yang gak pedulian. Kalau yang bilang begini adalah non muslim, gue bisa bilang dia gak peduli karena toh bukan agama dan kepercayaannya. Jadi buat apa susah?

Kalau yang bilang adalah orang muslim? Yah, gue bisa bilang dia masuk kategori yang gak pedulian. Dan itu urusan Allah, gue gak punya hak untuk judge orang lain.

Masih banyak hal yang lain. Tapi gue gak perlu menambahkan minyak ke dalam api. Gue yakin, bahwa kita semua kemaren udah panas. Gimana perasaan kalian kalau udah janjian bertamu taunya tuan rumah melanglang buana entah kemana dan tamunya ngemper di depan rumah. Duh, kalau bisa summon Titan di Shingeki no Kyoujin itu pasti udah pada dipanggil semua titannya. Panas plus gerah bo!

Dan itulah situasi yang gue alamin! Ternyata oh ternyata, gue dikelilingi oleh mereka semua yang panas… panas… panas… mencari tuan rumah yang dimana~ dimana~ dimana? Ataukah semua ini hanyalah alamat palsu?

Dan yak! Ternyata disanalah gue berada. Bergabung dalam barisan adem sari untuk melegakan panas dalam para actioner Istana Merdeka. Sejak tv mulai rusuh bahwa demo makin rusuh, chat di WA mulai gila-gilaan. Dan kalau gak disetir makin gila lagi dan makin heboh. Dan disinilah baru gue sadarin. Gue enggak ikut aksi? Iya sih. Hati gue gak nyut walau AlQuran gue digituin? Iya sih. Gue telat banget emosinya? Iya sih. Terus kenapa? Dan menurut gue itu penting. Dari sekian banyaknya manusia yang dominan panas dalam harus ada minoritas yang jadi adem sari, dan gue ternyata masuk ke dalam barisan itu.

Enggak gampang untuk jadi barisan adem sari! Salah-salah emosi dikit langsung berubah jadi panas membara. Dan disinilah gue sadarin, ternyata kenapa gue lola banget masalah beginian, mungkin aja memang keputusan dari Allah supaya gue bisa mikir dengan jernih, gak kehasut emosi dan bisa bikin adem sari untuk yang lain. Lagian siapa bilang gue gak bisa ikut aksi? Buktinya gue nulis ini karena gue juga berharap masuk dalam barisan aksi, meski dengan cara yang lain.

So, daripada debat sana sini cuma untuk mencemooh aksi yang menurut elo kemarin itu gak jelas. Lebih baik mempertanyakan pada diri sendiri, apa yang sudah elo lakukan untuk negara ini. Aksi kemarin hanyalah salah satu cara bahwa muslim masih peduli dengan negara ini. Tulisan ini juga salah satu cara bahwa saya masih peduli pada negara ini. Dan kamu? Apa yang udah kamu lakukan?

Gue enggak ikut aksi 4 Nvember. Terus kenapa? Setidaknya dengan tulisan ini gue bisa menambah catatan sejarah, bahwa sesuatu yang besar pernah terjadi di tanggal 4 November 2016. Dan gue gak bakal malu untuk ceritain ini semua ke anak cucu gue. Someday gua bakal cerita pada zaman dahulu kala 4 November 2016, pernah terjadi aksi damai yang besar dimana umat Islam bersatu padu untuk membela AlQuran. Sungguh pemandangan yang menggetarkan. Gue dimana? Gue dirumah, menjadi barisan adem sari dan penulis tambahan catatan sejarah.

Jadi, daripada cuma nulis hastag presiden pergi kemana atau si pelaku kabur kemana saat terjadi aksi. Lebih baik kita tulis saja betapa menggetarkannya aksi itu. Betapa besarnya aksi yang kita lakukan sehingga membuat gentar tidak hanya si pelaku, tapi juga bapak terhormat yang kita harapkan keputusannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s