Kamu Pikir Kamu Kenal Endang?

Aku kenal Endang sejak SMA. Seorang gadis dengan wajah datar hampir tidak ada emosi. Bicaranya terpatah-patah, seperti orang yang memikirkan terlebih dulu apa yang ingin dikatakannya.

Dari segi fisik sebenarnya Endang biasa saja. Tapi dia punya aura yang berbeda. Aku bilang Endang adalah gadis yang unik. Tapi anak-anak yang lain mengatakan Endang memiliki aura yang aneh, seperti alien. Lucunya walau Endang kelihatan berbeda, tak ada yang berani mengganggunya. Atau dengan kata lain tak ada yang berani menindas Endang.

Maksudnya, ayolah. Siapa sih yang mau menindas gadis aneh berwajah datar yang punya aura aneh bak alien? Kalaupun ada pastinya gak sayang nyawa.

Banyak kawan SMA kami yang merasa aneh dengan pertemanan kami. Aku yang notabene gadis cerewet suka loncat sana sini berteman akrab dengan Endang yang datar tanpa emosi. Percayalah, itu bukan pasangan yang sesuai.

Kini kami sudah lulus dari bangku kuliah. Aku bekerja di sebuah perusahaan bergengsi sementara Endang menerapkan ilmunya untuk mengurus toko kelontong milik keluarganya. Awalnya aku merasa aneh kenapa harus susah-susah kuliah untuk mengurus toko keluarga. Tapi aku menepis pikiran itu, mungkin Endang punya pemikiran sendiri.

Ada banyak hal yang sebenarnya tak kupahami dari Endang. Tapi menurutku, satu hal ini adalah paling misteri diantara semuanya. Sejak aku mengenal Endang dari SMA, dia awet muda. Percayalah saat kukatakan awet muda adalah saat aku melihat Endang saat ini, dia tidak ada bedanya sewaktu di SMA. Pernah selintas aku menanyakan hal ini kepadanya tapi Endang hanya menatapku datar.

Tapi penasaranku memuncak dan aku kembali bertanya padanya, kenapa dia bisa begitu awet muda? Apa rahasianya? Obat macam apa yang dipakai?

“Aku tidak pakai obat apapun,” gumam Endang pelan. Aku tertawa tidak percaya.

“Ayolah, kita berteman baik sejak SMA. Beritahu aku rahasianya,” aku mendesak.

Sesaat kulihat Endang bingung dan menahan napas. Aku berpikir apakah Endang akhirnya akan memberitahu rahasia awet mudanya?

“Kau harus berjanji untuk merahasiakan ini,” gumam Endang. Aku menahan napas dan mengangguk tak sabar.

“Sebenarnya aku…,”

Aku menahan napas.

“…bukanlah makhluk dari planet ini. Makanya aku terlihat awet muda,”

Aku bengong lalu tertawa lebar. Duh, tak kusangka Endang bisa melawak begitu.

“Duh, Endang. Kalau mau ngelawak yang bener dong,” ujarku disela tawa. Endang menatapku serius.

“Aku jujur. Kalau kau tidak percaya kau bisa lihat,”

Endang menempelkan tangannya di pipi kiri dan mengayun wajah itu membuka seperti pintu. Alih-alih darah, tulang atau apapun aku malah melihat makhluk kecil aneh yang sedang duduk disana.

Makhluk itu mengatakan sesuatu tapi aku tak peduli. Yang kutahu pandanganku menggelap.
.
.
.
“-melanggar pasal 217A mengenai kerahasiaan alien,”

Aku membuka mataku. Rupanya aku pingsan dan masih terbaring di lantai. Aku mengerang dan bangkit dari posisiku.

Aku melihat Endang dan keluarganya sedang berbicara dengan pria berpakaian hitam. Mereka mengangguk patuh sementara pria bersetelan jas hitam itu marah-marah.

“Kau baik-baik saja?”

Seorang pria bersetelan jas hitam yang lain menghampiriku dan membantuku bangun. Aku cuma mengangguk seadanya.

“Bagaimana keadaanmu?” tanya pria itu lagi. Aku mengeluh kalau kepalaku pusing.

“Yah, aku mengerti perasaanmu. Mimpi yang mengerikan, eh?” Pria itu memakai kacamata hitam dan mengeluarkan sebuah -pena?

“Bagaimana kau-“

Lampu flash membanjiri mataku.

#END


A/N: Yes! Lagi-lagi fiksi tentang Man In Black. Kenapa gue seneng banget nulis ala ala alien dan petugas bersetelan jas hitam itu? 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s