Setiap Hari Senin

Picture sent

Picture received

Mas bro kalau ada cewek kayak difoto di gerbong kalian bilang ya. Gue tukeran jaga gerbong deh sama kalian.

Tring

Lagi rame woy…gue kepepet kayak pepes nih. Mana keliatan cewek elo.

Sembarangan. Bukan cewe gue, masih cemceman doang.

Tring

Woy… cewe lo ada di gerbong gue nih.

Elo dimana mas bro?

Gerbong cewek paling depan.

Gue kesana mas bro. Thanks ya, tukeran jaga dah sama gue di gerbong sembilan.

Set dah, gak ada gerbong yang lebih jauh lagi buat tukeran?

.
.

Iqbal, seorang polisi jaga dalam kereta langsung memasukkan handphone miliknya kedalam saku pakaian tugas. Pemuda itu segera melangkah ke gerbong yang dimaksud, gerbong wanita paling depan. Saat ia membuka pintu gerbong itu, Rahman, sesama kawan jaga WALKA melotot.

“Dasar! Kenapa gue mesti tukeran jaga gerbong sama elo sih? Mana gerbong yang jauh pula, nyusahin aja!”

Iqbal hanya bisa cengegesan, memasang wajah tak berdosa.

“Cuma setiap hari Senin doang bang. Kan besok-besok kalau elo yang mau tukeran jaga gerbong sama gue boleh-boleh aja. Asal jangan hari senin aja. Sisanya boleh deh,”

Rahman memasang wajah cemberut. Sebenarnya ia tidak marah, hanya saja sengaja pura-pura cemberut untuk menggoda temannya itu saja.

“Emang kenapa sih hari Senin? Cemceman elo cuma muncul setiap hari Senin doang?”

“Kagak usah tahu deh bang, yang penting elo boleh tukeran jaga gerbong sama gue seminggu ini,” bisik Iqbal sambil mendorong Rahman keluar gerbong wanita. Pasalnya beberapa penumpang gerbong melempar tatapan aneh kepada mereka, bisa jatuh gengsi mereka jika tersebar berita WALKA bersikap kekanakan saat bertugas.

Rahman hanya melotot sambil menggumamkan kata-kata yang tidak jelas. Iqbal juga tidak ambil pusing karena saat kawannya itu telah keluar gerbong ia langsung menutup pintunya.

Nah, saat gerbong menutup barulah Iqbal beraksi, pura-pura patroli melintasi gerbong sambil curi-curi pandang ke target yang diincar. Target yang dimaksud sebenarnya hanya seorang gadis biasa, mengenakan jilbab lebar dan panjang sekaligus busana muslimah yang menutup seluruh tubuhnya.

Iqbal tidak pernah tahu nama gadis itu. Tapi ia tahu kalau gadis itu selalu naik kereta di hari Senin pada jam yang sama. Gadis itu akan naik kereta tujuan Jakarta Kota dari Stasiun Bekasi pada pukul setengah delapan pagi dan akan turun di Stasiun Juanda. Lalu di sore harinya gadis itu akan naik kereta tujuan Bekasi pada pukul setengah tiga sore dari Stasiun Juanda.

Bagaimana Iqbal bisa tahu? Tidak, tidak, pemuda itu menolak disebut sebagai seorang stalker. Dia kan seorang WALKA jadi wajar kalau Iqbal hapal jadwal kereta gadis itu kan? Penumpang yang tidak saling kenal saja bisa saling berteman jika mereka selalu naik commuter yang sama. Lalu kenapa Iqbal tidak boleh hapal dengan jadwal kereta gadis itu? Setidaknya begitulah alasan Iqbal yang terlihat sekali terlalu dicari-cari.

Kali ini gadis itu sedang duduk memandang keluar jendela, kabel earphone berwarna hijau terlihat melintang jelas. Sesekali bibir gadis itu menggumam, mungkin mengikuti lirik lagu yang sedang didengar. Terkadang gadis itu mengutak-atik handphone miliknya, mungkin sedang mencari lagu yang lebih enak didengar.

Iqbal hanya memandangi gadis itu dari ujung gerbong. Mati gaya. Pemuda itu cuma bisa memandangi saja tanpa berani berbasa-basi, apalagi menanyakan nama dan nomor telepon, mungkin Iqbal akan pingsan. Diam-diam pemuda itu berharap semoga gadis itu terpilih sebagai Lucky Passenger, dengan begitu Iqbal bisa berbasa-basi kepadanya – Hei anda kan yang jadi Lucky Passenger, siapa nama anda?

Iqbal menggelengkan kepalanya. Duh, sejak hati dilanda cinta pikirannya selalu galau tak menentu. Bisa gawat.

“Stasiun Juanda,”

Iqbal tersentak, dari tadi dirinya melamun sampai tidak sempat mengamati gadis itu. Gadis targetnya kini sedang bersiap turun, menyandang tas ransel hitam yang besar. Iqbal selalu merasa penasaran, gadis itu masih mahasiswa atau sudah bekerja? Tas ransel miliknya selalu kelihatan berat sekali.

Pintu kereta terbuka, penumpang banyak yang turun di Juanda, sedikit sekali yang naik dari stasiun tersebut. Iqbal menjulurkan lehernya, berpura-pura mengamati apakah masih ada penumpang yang turun, padahal matanya curi-curi pandang ke arah gadis itu. Sungguh modus yang sangat cemerlang.

Saat pengumuman pintu kereta akan menutup Iqbal segera menarik tubuhnya menjauh dari pintu. Tapi tubuhnya tetap menempel di pintu kereta, matanya masih awas memandang gadis itu hingga tak terlihat lagi. Sungguh luar biasa, saat merasakan cinta, akal yang tadinya kepepet pasti akan selalu mendapatkan jalan. Istilah kerennya, love will find a way.

Iqbal mendesah kecewa. Ia harus bersabar hingga pukul setengah tiga sore nanti sampai ia bisa bertemu- bukan, bukan bertemu, tapi melihat gadis itu lagi. Sekarang ia harus kembali melaksanakan tugasnya sebagai WALKA Commuter Line.

Tring

Bunyi handphone milik Iqbal berbunyi, segera ia melihat pesan grup yang masuk.

Picture sent

Rupanya bukan pesan melainkan sebuah gambar foto. Penasaran Iqbal langsung mengunduh foto tersebut.

Foto dirinya yang sedang melamun!

Beserta pesan pendukung: Seorang WALKA ditemukan mati gaya karena satu gerbong dengan cemcemannya.

Dan pesan grup langsung ramai dengan isi pesan chat yang membuat seseorang menjadi paling salah tingkah di dunia ini: Cieeeee….


A/N: Yah~ hmm… yah, gitulah….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s