Jemuran, Pewangi dan Pembunuh

clothes_missgreenlady

Membuka mesin cuci, kemudian mengeluarkan pakaian yang baru dicuci ke sebuah keranjang khusus cucian.

Hari ini cuaca cerah. Matahari bersinar terang, langit berwarna biru cerah dan tidak ada awan mendung sedikitpun. Ada beberapa awan bagaikan seulas cat air di kanvas langit biru, tapi tidak masalah. Itu awan langit tinggi, yang jika diprediksi secara tradisional tidak akan hujan selama dua hari kedepan.

Reina mencium cucian yang baru dikeluarkan, campuran antara detergent dan pewangi pakaian. Ada wangi lembut bunga yang samar-samar. Kadang Reina suka heran, mengapa cuciannya hanya mengeluarkan wangi samar-samar dan akan hilang kalau sudah kering nanti? Bagaimana caranya supaya wangi pewangi pakaian itu bisa bertahan agak lebih lama?

Sebenarnya Reina tidak akan berpikir seperti itu, kalau saja tidak secara kebetulan ia menerima pakaian yang baru saja dicuci oleh para tetangga. Jadi, Reina bisa menjahit. Iya, walau usianya terbilang masih muda, padahal statusnya sebagai Ibu Rumah Tangga, tapi Reina bisa menjahit walaupun hanya hal sederhana. Kebetulan tetangganya ingin meminta tolong mengecilkan ukuran baju. Karena Reina bisa menjahit dan kebetulan bertetangga, akhirnya Reina diminta tolong untuk mengecilkan baju tersebut. Tetangganya memberikan Reina beberapa baju yang baru saja dicuci dan pakaian itu begitu harum. Setelah Reina melakukan yang diminta oleh tetangganya, ternyata tetangga-tetangga yang lain juga mulai meminta Reina untuk melakukan hal yang sama. Alhasil Reina sering sekali menerima pakaian yang wangi setelah dicuci.

Dan disinilah Reina merasa penasaran, kenapa pewangi pakaian para tetangganya hebat sekali? Sementara pewangi pakaian Reina hanya bertahan wangi samar-samar? Apa triknya supaya pewangi pakaian bertahan lama?

Reina masih memikirkan masalah wangi baju, meski begitu tangannya masih bergerak lincah untuk menjemur baju.

“Daster sederhana lalu menjemur baju yang baru dicuci. Sungguh bukan kamu yang dulu,”

Reina tidak menunjukkan ekspresi apapun, meski telinganya mendengar jelas perkataan itu. Tanpa harus menoleh ia tahu siapa yang berbicara.

“Sepertinya dulu aku sudah bilang dengan jelas. Tidak perlu lagi mencariku. Aku sudah berhenti dari dunia itu,” Reina masih tidak peduli. Sesekali tubuhnya membungkuk untuk memungut pakaian di keranjang cucian dan menjemurnya dengan baik.

“Kau adalah salah satu yang terbaik. Murid dari guru kita yang hebat. Kau pikir kami mau begitu saja melepasmu?”

Seorang pria mendadak muncul di belakang Reina. Pria itu masih muda dan lumayan tampan. Rambutnya berwarna hitam legam dengan senyum yang ramah. Matanya menatap Reina yang memunggungi dirinya.

“Kalau dibandingkan denganmu aku jelas kalah.” Reina akhirnya menoleh dan memandang pria misterius itu.”Kurasa kau tidak datang kesini hanya sekedar untuk mengejek penampilanku yang sekarang, kan?”

Pria itu tersenyum.

“Hmm, jadi aku harus memanggilmu apa sekarang? Haruskah aku memanggilmu dengan kode namamu: Malaikat Maut?”

Pria itu tersenyum. “Rayhan saja. Kau bisa panggil aku seperti itu, untuk saat ini.”

Reina mengangguk sekilas dan kembali melanjutkan pekerjaannya, menjemur pakaian.”Namaku Reina. Dan untuk selamanya!”

“Bagiku kau masih tetap Bidadari Maut.” keras Rayhan. Sesaat tangan Reina terhenti mendengar nama itu tapi langsung bersikap biasa kembali seakan tak ada interupsi.

“Aku tak kenal nama itu,” sergah Reina.

“Tentu saja…” Rayhan mengeluarkan pisau kecil dari balik jaketnya. “… kau mengenal nama itu!” Rayhan melempar pisau itu ke punggung Reina.

Reina dengan kecepatan hebat berbalik dan menangkap pisau yang diarahkan kepadanya. Jari telunjuk dan jari tengahnya menjepit pisau kecil tersebut. Matanya menatap serius, walau ada rasa marah tersimpan di dalamnya. Dalam sekejap Reina kembali melesatkan pisau tersebut. Sayang Rayhan menangkapnya degan cara yang sama dengan Reina.

“Kan? Kau masih memiliki kemampuan yang mengagumkan,” Rayhan berbicara dengan gamblang.

Reina melotot, “Jangan bersikap kurang ajar!”

“Ck ck ck, rasa haus darahmu kurang besar. Kau pikir aku takut dengan rasa haus darah sekecil itu?” Rayhan meremehkan.

“Aku sudah tidak mau jadi pembunuh lagi,” Reina melanjutkan menjemur pakaiannya. Tinggal sedikit lagi tugasnya selesai dan ia bisa mulai memasak.

“Akui saja, ini bukan duniamu.”

Reina terhenti dari kegiatannya.

“Dunia normal yang damai seperti ini, mencuci, mengurus rumah tangga dan pekerjaan remeh lainnya. Kau dibesarkan dalam suasana yang lebih menarik. Dalam pertumpahan darah dan asap mesiu. Pisau dilempar -”

“Cukup! Aku bilang cukup!”

Kali ini Reina tidak main-main. Rayhan bisa melihat aura membunuh yang mengerikan dari Reina. Wajahnya tersenyum puas.

“Sudah kukatakan, kau-”

“Cukup Rayhan! Pergi sekarang juga atau aku akan membunuhmu!” Reina memperingatkan dengan nada yang dingin.

Rayhan melemparkan senyum yang lebih mirip seringai. “Sudah kubilang, kan? Bau detergent cucian atau apalah, semua itu tidak cocok untukmu. Bau darah yang pekat, kental bagai karat logam. Bau mesiu yang pedas. Itulah kehidupanmu! Itulah kehidupan kita!”

Reina masih menatap Rayhan dengan tatapan tajam. Rayhan hanya mendesah sambil masih tersenyum manis. Ia mengeluarkan sebuah kertas kecil seukuran kartu nama, melemparkannya kepada Reina. Reina menangkap kertas itu, menatap kertas kosong tak bertuliskan apapun, tapi Reina mengerti maksudnya.

“Kami masih menunggumu disana,” ujar Rayhan. Tak lama pria itu masuk kedalam bayangan dan akhirnya menghilang. Reina tidak lagi merasakan aura siapapun. Rayhan benar-benar telah pergi.

Reina meremas kartu nama itu dan kembali ke jemuran yang baru saja dicucinya. Samar-samar bau detergent dan pewangi pakaian menyerbu indera penciumannya. Tapi Reina tahu, seperti Rayhan yang juga mengenalnya. Bau darah dan mesiu jauh lebih menarik dibanding detergent dan pewangi pakaian.


A/N: Dibuat untuk melunasi hutang challenge bau-bauan dari IOC Writing. Tuh kaaann… aku nulis apalah ini????

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s