Gu Fang Bu Zi Shang

Jadi, akhir-akhir ini saya rajin banget buka laptop. Kalau gak buka laptop palingan gantian melototin hape pinter.

Kenapa rajin? Bukan, saya lagi gak rajin nulis. Bisa diliat kan baik di blog maupun di ff gak ada postingan tulisan baru. Tapi saya lagi rajin baca.

Jadi awalnya iseng-iseng nyari komik di web langganan komik. Iseng aja karena yang biasa diikutin belom apdet akhirnya nyari-nyari komik lain. Kebetulan karena juga demen genre historical akhirnya klik tuh genre buat filter judul komik. Gak taunya malah nemu komik ini

 

 

Dan tahu apa? OMG! OMG! OMG! Gue langsung naksir komik ini. Baca baca baca eh ternyata cuma sampai volume dua 😥 hayati sedih. Pas gugling ternyata emang manhuanya cuma sampe dua volume gegara perusahaan penerbitannya bangkrut.

Tapi ternyata manhuanya diadaptasi dari novel makanya saya langsung cus ngejar novelnya.

Eh, ceritanya tentang apa? Nantilah kapan-kapan saya ceritain. Saya mau lanjut baca lagi 😛

Advertisements

Terlambat

 

Dan angin pun bertiup dingin.

“Kau dulu pernah mencintaiku.” tandas sang gadis.

“Kau tahu aku sangat mencintaimu.” Pemuda itu bergumam nyaris berbisik.

Sepasang pemudi pemuda itu hanya saling menatap. Kue cake yang terletak diantara mereka sama sekali tidak menggugah selera. Bagaimana akan menggugah jikalau salah satu dari pasangan itu menyebarkan aura membunuh.

“Kau tidak makan apapun.” Sang pria masih berusaha membujuk.

“Tidak perlu repot memikirkanku.” Sang gadis melempar pandangan kesal.

Restoran ini berada di lantai tiga puluh dari hotel berbintang. Pemandangan yang indah, seharusnya. Tapi semua ini hanya membuat sang gadis semakin merasa kesal.

Sang pemuda mengulurkan buku menu restoran. Salah satu dari sekian usaha untuk membujuk sang gadis. Reservasi di restoran ini lumayan sulit. Sangat disayangkan jika melewatkan kesempatan mencicipi hasil karya ahli Chef restoran ini bukan?

Pelayan restoran menatap mereka dengan tatapan kesal. Sudah dua jam sejak mereka tiba di restoran ini, dan mereka belum memesan apapun. Bahkan disaat para tamu restoran beranjak meninggalkan tempat ini, mereka belum memesan apapun.

“Kurasa sudah waktunya untuk mengakhiri semua ini kan?” Sang gadis kembali bersuara. Sang pemuda tersentak.

“Ini belum berakhir. Kita masih bisa memulai dari awal.” Sang pemuda memohon.

“Kau sudah terlambat.”

Sang gadis meniup lilin di hadapannya.


A/N: Sedang berusaha membuat fiksi fictogemino. Tapi susah dan kayaknya gagal. Fictogemino adalah fiksi alur ganda dimana fiksi tersebut bisa dibaca dari paragraf awal-akhir maupun paragraf akhir-awal.

Obsesi

A/N: Lagi-lagi nekat bikin fanfic dengan fandom yang masih belom dikuasai. Kali ini yang kena sialnya fandom Shingeki no Kyoujin. Dan kebetulan OWOP ngasih tema malam narasi dengan gambar dibawah ini jadilah fanfic yang sangat absurd ini. Yang pasti Shingeki no Kyoujin bukan punya saya yaaa~


img-20161212-wa0008

Armin terobsesi dengan laut.

Sebenarnya semua itu cuma kebetulan. Di rumah Armin terdapat banyak sekali buku, mungkin dimasa mudanya kakek Armin senang membaca. Entahlah, setahu Armin kakeknya dulu adalah seorang guru. Jadi mungkin saja semua buku-buku itu untuk kepentingan kakeknya. Lagipula seorang guru memang diharuskan untuk banyak membaca dan memiliki pengetahuan yang luas, kan?

Saat itu Armin hanya iseng-iseng mengambil sebuah buku. Hari itu terlalu terik untuk bermain di luar rumah. Dan setahu Armin, Eren dan Mikasa sedang ada keperluan pergi ke distrik lain. Daripada ia bermain sendiri dan bertemu dengan anak laki-laki lain yang selalu mengganggunya, lebih baik Armin membaca buku saja. Toh sebenarnya dia juga bukan tipe anak yang suka bermain. Membaca, itu baru hobi yang menyenangkan.

Secara tidak sengaja Armin menemukan sebuah buku yang aneh. Buku itu berisi tulisan kecil yang berdempet disertai ilustrasi yang indah dan menarik. Buku itu bersampul kulit tebal dengan kertas buku yang sudah menguning, sepertinya buku lama. Buku itu tidak aneh sebenarnya, tapi yang aneh adalah isi buku tersebut. Buku itu menjelaskan mengenai hal apapun yang belum pernah Armin ketahui. Buku itu menjelaskan mengenai pegunungan – yang ini Armin tahu, distrik Shingashina lumayan dekat dengan daerah pegunungan. Buku itu juga menjelaskan mengenai sungai. Yang ini Armin juga tahu, hanya saja ada beberapa penjelasan mengenai sungai yang membuatnya bingung.

Buku itu menjelaskan bahwa sungai adalah aliran air besar yang biasanya terbuat dari alam. Armin bingung. Apa maksudnya dengan biasanya? Setahunya sungai di Shingasina mengalir di dinding-dinding batu, jadi apa maksudnya aliran air itu mengalir dari buatan alam?

Saat Armin menanyakan hal itu kepada kakeknya justru beliau terlihat marah dan mengambil paksa buku itu dari tangan Armin. Bocah itu terkaget. Tidak biasanya kakeknya semarah itu, apalagi Cuma karena masalah buku. Tapi melihat kakeknya semarah itu Armin tidak berani bertanya lagi. Malahan beberapa hari setelahnya Armin nekat mengambil buku itu dari penyimpanan kakeknya. Bukan, bukan, itu bukan mencuri tapi meminjam. Yah, meminjam.

Buku itu juga menyebutkan sesuatu mengenai laut. Armin mengernyitkan dahinya. Buku itu mengatakan laut adalah kumpulan air asin dalam jumlah banyak dan luas yang menggenangi dan membagi daratan atas benua atau pulau.

Armin bingung. Meskipun buku itu juga menyertakan ilustrasi laut Armin masih belum mampu membayangkannya. Armin tahu mengenai danau, bahkan katanya di dalam dinding Sina terdapat pulau yang dimiliki para bangsawan meskipun Armin belum pernah melihatnya sendiri, tapi setidaknya ia tahu mengenai danau. Sepertinya danau berbeda dengan laut karena danau tidak memiliki air yang asin. Armin menceritakan mengenai laut kepada Mikasa dan Eren, tapi Eren hanya menganggap itu bohongan sementara Mikasa menatap dengan rasa tertarik. Mereka tidak tahu apapun mengenai laut, dan kalaupun memang benar ada mereka ingin sekali melihatnya.

Karena itulah mereka semua ingin melihat laut. Karena itulah Armin terobsesi dengan laut.

.

.

.

Armin juga terobsesi dengan buku.

Buku itu… yah, Armin susah menjelaskannya, tapi sejak dulu Armin tahu kalau buku itu adalah hal yang sangat menarik. Kita bisa mendapatkan pengetahuan mengenai apapun dari buku. Sejak dulu Armin suka membaca dan sejak ia menemukan buku yang menjelaskan mengenai laut, ia semakin senang membaca.

Buku –buku tebal yang ada di rak buku milik kakeknya menuntut untuk dibaca. Setiap buku walaupun memuat banyak informasi dan pengetahuan terkadang juga memuat hal-hal aneh yang belum Armin ketahui. Salah satu buku mengatakan hujan terbentuk dari penguapan air laut yang sudah mencapai batasnya lalu turun kembali ke bumi sebagai hujan. Lagi-lagi kata laut keluar dari buku tersebut. Armin memang tidak bisa membayangkan seperti apa laut itu. Tapi Armin tahu hujan selalu turun dengan deras bahkan di distrik Shinganshina sekalipun. Kalau hujan deras membutuhkan banyak air, berarti laut itu memang memiliki banyak sekali air, kan?

Armin penasaran sekali dengan laut, akan tetapi bocah itu harus menahan kecewa. Selain buku kuno yang dilarang oleh kakeknya itu, tak ada lagi buku yang membahas mengenai laut. Padahal semua buku tebal yang ada di rak buku itu sudah habis dibaca oleh Armin, tapi tak ada yang menyebutkan mengenai laut. Buku-buku itu hanya menjelaskan mengenai sejarah awal mula manusia tinggal di dalam dinding dan bagaimana manusia selalu berusaha melawan para Titan.

Bukan berarti Armin tidak tertarik dengan sejarah manusia, akan tetapi terkadang sejarah yang ia baca dipenuhi dengan hal-hal yang aneh. Bagaimana awal mula Titan muncul? Mengapa mereka memakan manusia? Bagaimana manusia membangun dinding yang memisahkan manusia dengan Titan? Semua itu tidak dijelaskan dalam buku-buku sejarah yang ia baca. Yang ada hanyalah cerita kuno yang justru sama sekali tidak ada hubungannya dan malah bersifat omong kosong.

Begitu jarang buku yang menjelaskan apa itu laut. Dan buku yang Armin tahu dan membahas mengenai laut hanya satu buku itu saja. Armin terpaksa menelan rasa kecewa hingga akhirnya ia berjanji, suatu saat ia harus melihat laut. Suatu saat ia akan pergi ke dunia luar.

Suatu saat mereka akan pergi keluar dari dinding dan melihat laut.

Memang mengecewakan, tapi sejak itu Armin terobsesi dengan buku. Buku apapun pasti akan dibacanya, berharap suatu saat nanti buku itu akan menjelaskan apa itu laut dan bagaimana dunia luar dinding.

Sampai saat itu tiba, Armin membiarkan dirinya terobsesi dengan laut dan buku. Sampai tiba waktunya Armin mampu menyelami dalamnya lautan, Armin akan membiarkan dirinya menyelami dalamnya buku.

Karena Armin terobsesi dengan laut dan buku.

Roh dan Istirahat

A/N: Challenge dari OWOP yang tema ceritanya diambil dari kalimat dari buku apapun. Saya ngambil kalimat dari buku Supernatural: Bone Key, Dendam Terakhir Calusa. Kalau dalam ceritanya ada tulisan miring berarti kalimat itu diambil dari bukunya dan dijadikan ide cerita untuk fanfic ini. Sebenernya bukan penggemar Supernatural sih, cuma pingin aja bikin sesuatu dari buku ini makanya jadilah fanfic super gaje ini.

.

.

“Aku bertanya padamu, anak muda. Ini rumahku dan aku mau tahu apa yang kamu lakukan disini!”

Sam Winchester menganga. Well, dia memang selalu berurusan dengan hantu, roh, iblis bahkan malaikat dan dewa sepanjang hidupnya. Tapi baru kali ini Sam bisa melihat dengan jelas – yang artinya benar-benar jelas – sesosok roh penghuni rumah gelap dan kosong ini. Well, rumah kosong memang selalu gelap sih. Beda dengan kakaknya, Dean Winchester yang justru menatap roh itu dengan wajah yang tenang-tenang saja. Sam menebak ini bukanlah hal yang aneh untuk kakaknya. Mungkin kapan-kapan Sam harus menanyakan kenapa ada roh yang bisa terlihat terlalu jelas di dunia ini.

“Maafkan kami tuan…”

“Herland. Panggil aku Herland.”

Hantu Herland itu mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Sam mengernyit, bagaimana caranya kau bisa berjabat tangan dengan hantu? Tapi Dean menerima uluran jabat tangan itu. Bisa dipastikan Dean tak akan pernah bisa berjabat tangan dengan Herland karena tangan hantu itu terus menembus tangan kakaknya. Dean memasang ekspresi ya-begitulah-kita-tak-bisa-bersalaman dan hantu bernama Herland itu terlihat kecewa.

“Jadi young men. Bisa kalian jelaskan kenapa kalian ada di rumahku?”

Sam menatap sekeliling rumah kosong yang bobrok itu. Sudah tidak pantas disebut rumah lagi karena rumah ini bergaya abad 19an dan kebanyakan rumah di lingkungan ini sudah ditinggalkan pemiliknya pada tahun 1920an.

“Hanya menumpang beristirahat sir. Kami dari tempat yang jauh dengan uang terbatas, jadi disinilah kami.”

“Jadi kalian seorang pejalan? Pengangguran kukira karena kalian terus berjalan tanpa memiliki uang sepeserpun.”

Telak. Jarang sekali seorang Dean Winchester mendapati dirinya tidak bisa berkata-kata. Bahkan Sam menganga mendengar cemoohan hantu itu. Sungguh hantu tidak sopan. Mereka punya pekerjaan kok. Mungkin memang bukan jenis pekerjaan yang normal – memburu roh, membunuh iblis, terkadang harus berurusan dengan malaikat – minus mereka dikejar-kejar agen FBI, tapi intinya mereka punya pekerjaan kan?

Dean mendengus. “Baiklah sir kukatakan padamu, aku dan adikku ini bekerja sebagai pengusir roh. Dan kulihat kau terjebak di rumah ini. Jadi begini saja, kalau kau mau membiarkan kami beristirahat disini maka akan kubuat kau bisa melanjutkan perjalananmu ke dunia sana dan tidak terjebak di tempat ini lagi.”

Herland menahan napas, tanda tertarik. Sam ingin meninju dirinya sendiri, hantu TAK BISA bernapas jadi hantu itu pasti tidak sedang menahan napas.

“Tapi kalau kau masih cerewet sir, aku dan adikku ini akan pergi dari sini dan kau bebas menghantui rumah ini semaumu!”

Dean bersiap-siap akan pergi dari rumah itu walau Sam tahu itu hanyalah pura-pura yang meyakinkan. Yang benar saja! Diluar sedang hujan deras dan Sam yakin Dean mana mungkin meninggalkan rumah bobrok itu hanya untuk bermalam di Impalanya. Tidur di mobil tidak begitu enak walau dibandingkan tidur di rumah yang bobrok sekalipun.

“Baiklah, baiklah young men. Kalian bebas tidur di rumah ini dengan syarat kalian akan membebaskanku dari rumah ini.”

Dean memasang wajah kemenangan.

“Tentu saja sir. Dimana anda dikuburkan?”

Little Church Abbey tiga blok dari sini.”

Sam mengangguk, “Tentu saja sir besok akan kami pastikan anda tidak berada di tempat ini lagi.”

“Baiklah young men, kalau begitu aku pamit dulu. Silahkan beristirahat dimanapun kalian mau di rumah ini.” Herland mengucapkan selamat tinggal dan kemudian menghilang.

Dean menghela napas lelah dan Sam menatap sekeliling rumah. Sungguh melelahkan harus berurusan dengan roh dan hantu kapanpun dan dimanapun tanpa hari libur.