Keputusan

Gadis itu memejamkan matanya dengan rapat, dahinya berkerut menyebabkan alisnya seperti akan bertemu satu sama lain. Bibirnya mengerucut, seakan ingin mengatakan sesuatu tapi ditahan. Dilihat dari ekspresinya jelas bukan perasaan yang menyenangkan.

“Tuan Puteri, semuanya tergantung pada keputusan anda,” sebuah suara terdengar. Walaupun begitu nada suaranya memberat seolah mengisyaratkan suka tidak suka harus dilakukan.

Gadis belia berumur delapan belas tahun yang dipanggil Tuan Puteri itu masih terdiam, belum mengatakan apapun.

“Tuan Puteri, anda harus memutuskannya sekarang.”

“Yang Mulia Raja dan Ratu terbunuh dalam usaha kudeta. Anda sebagai pewaris negeri ini harus memutuskan dengan cepat!”

“Tuan Puteri!”

“Tuan Puteri!”

“Mohon segera diputuskan!”

Gadis itu membuka matanya, seketika suara-suara yang memaksakan kehendak langsung terdiam. Gadis itu memandang semua wajah yang ada disana, menatapnya dengan tenang. Helaian rambut panjang berwarna hitam bergerak mengikuti angin, sejujurnya itu adalah pemandangan yang menawan kalau saja bukan dalam situasi genting semacam ini. Sang Puteri menggunakan dress putih selutut dengan rambut hitam panjang tergerai hingga pinggang. Kakinya melangkah ke ambang jendela istana yang menampilkan pemandangan malam ibu kota kerajaan.

Gadis itu mengedarkan pandangannya, menyusuri kerlip lampu malam ibukota. Sungguh pemandangan yang indah kalau dilihat secara sepintas. Tapi mereka semua tahu, ada pemandangan yang mengerikan dibalik semua kerlip lampu malam itu.

“Para penduduk ibukota…” gumam sang Puteri dengan lambat.

Seorang pria berbaju militer menjawab dengan segera, “Proses evakuasi sudah selesai sejak dua jam yang lalu. Kami sudah mencoba meminimalisir korban jiwa, tapi dalam situasi seperti ini…,”

“Bagaimana dengan makanan dan bantuan obat-obatan?” Sang Puteri masih bertanya.

“Semua sudah siap. Jika perjanjian itu benar dalam waktu lima menit lagi kami siap berperang,” ujar seorang pria baya yang lain.

Sang Puteri menoleh kepada para menteri, jenderal dan panglimanya. Wajah mereka semua terlihat penuh tekad. Tak ada alasan bagi Sang Puteri untuk takut.

Perang memang hal yang sangat menakutkan. Jika pena kuasa milik Tuhan telah menggoreskan, maka dimanapun dan kapanpun, keputusan Tuhan adalah mutlak.

Sang Puteri menghela napas berat. Pemandangan malam yang indah meski rembulan dan bintang tidak terlihat. Ironisnya, ini adalah situasi yang cocok untuk pertempuran. Sang Puteri menatap jam tangan yang melingkari pergelangan tangannya yang putih. Jarum pendek menunjuk angka 12 sementara jarum panjang sesaat lagi akan menghimpit rekannya.

Sang Puteri mendesah, “Sekarang tanggal 31 desember…,” ujar sang Puteri dengan berat. Matanya kembali menatap sekumpulan menteri dan tentara yang masih ada di ruangan itu. Suasana tampak tegang, bahkan beberapa diantara mereka tidak malu-malu untuk berkeringat dingin.

Sang puteri bersender di ambang jendela, rambut hitamnya searah dengan tiupan angin malam. Gadis itu menutup matanya sesaat dan membukanya kembali, kali ini dengan penuh tekad.

“Laksanakan!” perintah sang Puteri bernada dingin.

Pria dengan baju militer langsung menempelkan telepon genggam di telinganya dan mengatakan ulang perintah sang Puteri, “Laksanakan!” tegas sang panglima. Semua orang yang masih di ruangan yang sama dengan Puteri menahan napas.

Sebuah kembang api meluncur di angkasa, tepat di jendela yang ambangnya sedang disandari oleh Sang Puteri. Kembang api itu melesat dengan cepat sementara sang Putri tidak repot-repot untuk menoleh, sekedar memandang kembang api itu. Tak lama kembang api itu meledak, cahayanya yang menyirami ibukota bahkan menyinari rambut hitam sang puteri.

Tak lama kembang api itu meledak di angkasa….

sederetan bom meledak di cakrawala. Tepatnya pada kerlipan lampu ibukota yang sesaat lalu terlihat indah. Kini tak ada lagi kerlipan lampu malam ibukota. Api merah raksasa berkobar sebagai gantinya, disusul dengan serentetan bunyi senapan dan bom yang dijatuhkan dari pesawat perang.

Tak ada yang namanya tahun baru.

Yang ada hanyalah perang.

Ironis.


A/N: Ditulis untuk challenge IOC Writing dengan prompt Malam ini aku tidak bisa tidur karena bunyi kembang api yang menggelegar terus menerus. Tunggu, itu kembang api atau bom. Tapi kayaknya gak nyambung ya =_=;  yah besok kali mungkin nulis ulang mumpung deadline tanggal 8. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s