NHW 1 – Adab Menuntut Ilmu

Jadi, minggu ini saya baru aja dapat ilmu mengenai Adab Menuntut Ilmu. Sebelumnya saya udah post di sini jadi silahkan dicek lagi aja sendiri 😉

Nah, tugas kelas ini masih berhubungan dengan materi dari grup Institut Ibu Profesional. Kebetulan saya kedapetan di Batch 3 daerah Bekasi – Karawang dan tugasnya lumayan juga. Lumayan bikin pusing maksudnya 😛 tapi sekarang saya akan post disini untuk tugas mingguannya.


Sebenarnya yang namanya hidup itu pastinya akan selalu ada proses belajar mengajar. Bahkan ada hadis dari Rasulullah yang menyatakan tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat. Bayangin, dari buaian sampai liang lahat! Itu berarti menegaskan bahwa ilmu itu emang sangat penting banget dan kalau masih bisa dikejar ya kudu harus dikejar. Yang namanya belajar itu bukan cuma sekedar di sekolah atau kampus atau tempat les. Tapi setiap kehidupan kita, setiap detik napas kita pasti ada banyak hal yang bisa kita pelajari. Jadi kalau boleh diibaratkan sebenarnya kehidupan kita ini udah kayak universitas kok. Bedanya mungkin gak ada bangku sama meja, tapi pasti setuju kan kalau kehidupan ini bisalah disama-samain dengan universitas.

Nah, kalau misalnya ada kampus yang dinamakan Universitas Kehidupan, kira-kira mau ngambil urusan apa? Wah itu sebenarnya pertanyaan yang susah sih. Ada banyak yang saya pingin pelajarin, misalnya agama, filsafat atau psikologi. Tapi kalau saya tulis semua itu nanti namanya ngabsen, jadi saya mau pilih aja jurusan psikologi. Dan karena ini adalah grup Ibu Profesional mungkin saya panjangin aja nama jurusannya jadi ilmu psikologi keluarga islam. Keren kan?

Kalau menurut KBBI, Psikologi berarti ilmu yang berkaitan dengan mental baik normal maupun tidak abnormal dan pengaruhnya pada perilaku. Sementara keluarga berarti orang seisi rumah yang menjadi tanggungan. Jadi secara gamblang bisa dijelaskan bahwa psikologi keluarga islam adalah ilmu yang mempelajari mental dan pengaruh pada perilaku semua anggota keluarga yang menjadi tanggungan dengan berdasarkan hukum Islam. Awalnya dulu sama sekali enggak tertarik dengan yang namanya psikologi. Maklum, sewaktu kecil saya dijejalin kalau psikologi itu sama dengan gila atau sakit jiwa, jadi wajar kan kalau saya enggak tertarik buat cari tahu ilmu macam apa psikologi itu. Lucunya yang bikin saya tertarik ilmu psikologi gara-gara baca webtoon dari applikasi hape saya yang pintar. Nah di komik itu diceritain berbagai macam kasus yang terjadi yang berhubungan dengan masalah kejiwaan. Dan disanalah saya baru tahu, ternyata psikologi itu bukan cuma sekedar sakit jiwa. Bahkan yang namanya gangguan tidur atau insomnia itu juga masuk urusan ilmu psikologi.

Tapi yang bikin saya tertarik sebenarnya dalam cerita komik itu ada  cerita yang tokoh dalam kasus itu mengalami tekanan yang berat atau bahasa kerennya stress gegara dia dapet tekanan beban prestasi dari keluarganya. Orang tua si tokoh kasus ini kerja di perusahaan gengsi, kedua kakaknya lulus dari kampus yang keren dan juga kerja di perusahaan ternama. Sebagai anak paling bontot otomatis dia merasa tertekan dengan beban prestasi yang harus dicapai. Bahkan sampai stressnya si tokoh ini gak bisa tidur selama tiga bulan.

Setelah baca komik itu saya jadi mikir, zaman sekarang udah beda banget sama zaman waktu saya masih ngampus dulu. Apalagi kalau saya udah punya anak, seberapa besar beban prestasi yang harus dipikul anak saya supaya bisa sesuai dengan tuntutan pemerintah dan kemajuan zaman. Kita bisa lihat sendiri, banyak kasus dimana para remajanya gadget addict sampai seakan tanpa hape dunianya udah berakhir. Atau mungkin kasus bunuh diri dengan alasan yang bermacam-macam. Duh, sedih banget dengernya.

Di zaman dimana teknologi berkembang dengan cepat, anak-anak jadi terlalu rentan terhadap segala sesuatu yang ada di internet. Padahal semua yang berasal dari internet belum tentu baik dan memiliki sumber yang bisa dipercaya. Cepatnya informasi yang beredar di internet jika tidak disikapi dan dibimbing dengan baik oleh orang tua, maka anak-anak akan mudah terjerumus ke dampak negatif, misalkan saja narkoba, tawuran, pemerkosaan atau hal lainnya. Selain itu semakin meningkatnya kasus kriminalitas melalui dunia cyber mengakibatkan para orang tua harus ekstra waspada dalam membimbing anak-anaknya. Anak-anak yang rentan bisa saja mendapat limpahan informasi yang padahal seharusnya secara umur ia belum siap menerima informasi tersebut. Karena itulah semakin berkembangnya teknologi sebagai orang tua kita harus membimbing anak-anak kita bukan hanya pengetahuan, tetapi juga akal dan psikisnya agar siap menghadapi derasnya kemajuan teknologi dan tetap bertahan dengan norma-norma Islam meskipun diserang dari berbagai arah.

Terus saya harus gimana dong?

Iya sih, saya gak punya latar belakang apapun yang berhubungan dengan psikologi. Tapi zaman sekarang udah maju, saya bisa memanfaatkan kemajuan teknologi untuk mencari sumber ilmu yang saat ini semakin mudah didapatkan. Hape udah enggak kekinian lagi kalau cuma dipakai untuk socmed. Mendingan dipakai buat baca-baca hal yang bermanfaat. Nah salah satunya bisalah dimanfaatin untuk menambah pengetahuan, khususnya buat saya mengenai psikologi keluarga islam ini. Melalui internet perkembangan ilmu bisa terus di update sesuai masa kini sehingga bisa dipelajari dan diaplikasikan saat mendidik anak ataupun membimbing keluarga.

Sumber bacaan bisa macam-macam, melalui buku, situs web terpercaya maupun jurnal ilmiah. Kita juga harus hati-hati kalau membaca sesuatu dari sumber yang belum jelas asal-usulnya. Apalagi yang lagi saya lakonin ini adalah ilmu psikologi, jadi kudu ekstra hati-hati, urusannya masalah mental seseorang sih.

Tapi kita juga gak bisa belajar dengan membaca aja. Kita terkadang harus cari contoh kasusnya karena walau kita punya ilmu tapi enggak pernah diterapin itu sia-sia aja. Karena itu selain baca mengenai pemahaman ilmu psikologi, kita juga harus mencari contoh kasus yang terkait, memahami permasalahan dan mengaplikasikan pemahaman itu kepada anak kita. Gak usah repot-repot sih,cukup kita pantengin aja berita dan kalau misalnya ada kasus yang pelakunya masih remaja kita bisa coba mempelajari kenapa si pelaku melakukan hal tersebut, setelah itu kita bisa membimbing anak kita agar tidak terjerumus seperti itu.

Hufft…setelah dibahas ternyata banyak juga tugas yang harus dilakukan kalau kita ingin anak-anak kita tidak terjerumus ke hal negatif seperti itu. Tapi tenang aja, insyaa allah semua itu pasti bisa dilaluin, asalkan orang tuanya juga berinisiatif untuk berubah ke hal yang lebih baik. Anak-anak cenderung selalu meniru apa yang dilakukan oleh orang tuanya, jadi bisa dikatakan orang tua adalah sekolah pertama bagi anak-anak.

Saya akuin sih terkadang saya suka slebor, tapi bukan berarti saya juga mau punya anak yang sleboran. Nah, disini saya harus mencoba memperbaiki diri sendiri. Kalau mengacu pada ilmu adab menuntut ilmu yang kemarin, saya akui selama ini saya memang hobi membaca berbagai topik maupun ilmu pengetahuan yang random. Tujuannya cuma satu, untuk sekedar tahu dan supaya pengetahuan lebih luas. Tapi setelah dapat ilmu adab menuntut ilmu akhirnya saya sadar juga, mungkin selama ini tujuan saya untuk membaca salah arah. Saya hanya sekedar ingin tahu tanpa ada niatan untuk mengaplikasikan ilmu yang baru saya baca itu. Alhasil walau saya sudah baca tapi ilmu itu biasa-biasa aja, tidak terlalu ngefek di dunia nyata. Jangankan ngefek, yang ada malah kepikiran bacaan yang baru saya baca itu gak ada gunanya, cuma sekedar passing time aja. Duh, jadi malu tapi untungnya cepet-cepet disadarin. Jadi, sambil belajar bareng IIP ini saya mau balik lagi lurusin niat untuk terus belajar dan mencari ilmu supaya bisa diaplikasikan ke anak cucu saya. Amin.

Advertisements

2 thoughts on “NHW 1 – Adab Menuntut Ilmu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s