Binar Sayang

Sepasang manik berwarna cokelat gelap memandangku dengan intens. Tidak. Tatapannya tidak tajam, bahkan sebaliknya, tatapan mata itu memandangku dengan lembut.

Sudah satu jam kami duduk di kedai teh ini. Harus kuakui aroma teh yang nikmat menenangkan sarafku, meski sedikit. Kue-kue yang disajikan disini juga cukup nikmat. Kursi-kursi beraneka rupa bentuk tersusun dengan baik dan tentu saja tak lupa meja kecil yang sengaja diletakkan di depan atau disamping kursi jika seseorang butuh meletakkan sesuatu. Bahkan jika kau datang sendiri kedai ini juga menyediakan kursi yang sesuai untukmu, entah di pojok sana atau di counter agar kau bisa mengobrol santai dengan sang peracik teh. Mereka orang-orang yang baik, para peracik teh itu. Mereka akan mendengarkan apapun yang akan kau katakan asalkan kau tidak membuat keributan.

Lagu instrumen klasik mengalun lembut, menenangkan saraf bahkan membuatku terkantuk. Jangan salahkan kalau aku mulai menyender di kursi empuk yang nyaman, hampir menutup mataku. Akan tetapi lawan dudukku ini tidak melakukan apapun kecuali tersenyum. Ia malah mengeluarkan sebuah buku dari dalam tasnya, tak bisa kulihat jelas judulnya tapi seingatku itu adalah buku best seller bulan ini di toko buku terkemuka.

Lagu yang tenang, aroma teh yang nikmat, beserta kue yang manis. Tak butuh waktu lama hingga akhirnya aku kehilangan kesadaranku, tenggelam dalam tidur yang nikmat.

.
.
.

“Ah. Kekasih anda tertidur rupanya.”

Sang gadis mengangkat wajahnya dari buku yang ditekuninya. Salah seorang pelayan pria mengangkat piring kotor kue di meja ke nampannya dengan berhati-hati, berusaha tidak menimbulkan suaran. Sang gadis tersenyum memandang kekasihnya.

“Akhir-akhir ini dia mengalami insomnia karena stress dengan pekerjaannya. Kupikir perubahan suasana akan bagus baginya,” bisik sang gadis. Sang pelayan mengangguk setuju.

“Mungkin kami akan sedikit lama di tempat ini,” sang gadis melempar senyum dengan tatapan memohon maaf.

“Tak masalah, malah kami yakin saat kekasih anda terbangun kami bisa menyajikan kue yang masih panas dan teh yang mengepul nikmat.” Sang pelayan meninggalkan kedua pasangan itu.

Sang gadis tersenyum dan kembali memandang kekasihnya. Ah, kasihan sekali akhir-akhir ini kekasihnya itu kelelahan. Tapi melihat pemuda itu sekarang tertidur nyenyak sang gadis merasa puas juga. Mungkin kapan-kapan ia akan mengajak kekasihnya kembali ke kedai teh ini.

Manik cokelat itu kembali menekuni bukunya, sebelum kembali memandang kekasihnya dengan binar sayang.

Advertisements

Review NHW#5

 BELAJAR CARA BELAJAR  ( Learning  how to Learn)

Bunda dan calon bunda yang selalu semangat belajar, bagaimana rasanya mengerjakan Nice Homework di sesi #5 ini? Melihat reaksi para peserta matrikulasi ini yang rata ada di semua grup adalah:
a. Bingung, ini maksudnya apa?
b. Bertanya-tanya pada diri sendiri dan mendiskusikannya ke pihak lain, entah itu suami atau teman satu grup
c. Mencari berbagai referensi yang mendukung hasil pemikiran kita semua
d. Masih ada yang merasakan hal lain?

Maka kalau teman-teman merasakan semua hal tersebut di atas, kami ucapkan SELAMAT, karena teman-teman sudah memasuki tahap belajar cara belajar.

Nice Homework #5 ini adalah tugas yang paling sederhana, tidak banyak panduan dan ketentuan. Prinsip dari tugas kali ini adalah

Semua Boleh, kecuali yang tidak boleh

Yang tidak boleh hanya satu, yaitu diam tidak bergerak dan tidak berusaha apapun.

Selama ini sebagian besar dari kita hampir memiliki pengalaman belajar yang sama, yaitu OUTSIDE IN informasi yang masuk bukan karena proses rasa ingin tahu dari dalam diri kita melainkan karena keperluan sebuah kurikulum yang harus tuntas disampaikan dalam kurun waktu tertentu. Sehingga belajar menjadi proses penjejalan sebuah informasi. Sehingga wajar kalau banyak diantara kita menjadi tidak suka belajar, akibat dari pengalaman tersebut.

Di Institut Ibu Profesional ini kita belajar bagaimana membuat desain pembelajaran yang ala kita sendiri, diukur dari rasa ingin tahu kita terhadap sesuatu, membuat road map perjalanannya, mencari support system untuk hal tersebut, dan menentukan  exit procedure andaikata di tengah perjalanan ternyata kita mau ganti haluan.

Ketika ada salah seorang peserta matrikulasi yang bertanya, apakah Nice Homework #5 kali ini ada hubungannya dengan materi-materi sebelumnya? TENTU IYA

Tetapi kami memang tidak memberikan panduan apapun. Kalau teman-teman amati, bagaimana cara fasilitator memandu Nice Homework #5 kali ini?

🍀Ketika peserta bertanya, tidak buru-buru menjawab, justru kadang balik bertanya.

🍀Ketika peserta bingung, tidak buru-buru memberikan arah jalan, hanya memberikan clue saja.

🍀Fasilitator banyak diam andaikata tidak ada yang bertanya, karena memberikan ruang berpikir dan kesempatan saling berinteraksi antar peserta.

Itulah salah satu tugas kita sebagai pendidik anak-anak. Tidak buru-buru memberikan jawaban, karena justru hal tersebut mematikan rasa ingin tahu anak.

Membaca sekilas hasil Nice Homework #5 kali ini ada beberapa kategori sbb :
a. Memberikan teori tentang desain pembelajaran
b. Membuat desain pembelajaran untuk diri kita sendiri
c. Menghubungkannya dengan NHW-NHW berikutnya, sehingga tersusunlah road map pembelajaran kita di jurusan ilmu yang kita inginkan.
d. Ada yang menggunakan ketiga hal tersebut di atas untuk membuat desain pembelajaran masing-masing anaknya.

tidak ada BENAR-SALAH dalam mengerjakan Nice homework#5 kali ini, yang ada seberapa besar hal tersebut memicu rasa ingin tahu teman-teman terhadap proses belajar yang sedang anda amati di keluarga.

Semangat belajar ini tidak boleh putus selama misi hidup kita di dunia ini belum selesai. Karena sejatinya belajar adalah proses untuk membaca alam beserta tanda-tandaNya sebagai amunisi kita menjalankan peran sebagai khalifah di muka bumi ini.

Setelah bunda menemukan pola belajar masing-masing, segera fokus dan praktekkan kemampuan tersebut. Setelah itu jangan lupa buka kembali materi awal tentang ADAB mencari ilmu. Karena sejatinya

ADAB itu sebelum ILMU

Belajar ilmu itu mempunyai 3 tingkatan:

1⃣ Barangsiapa yang sampai ke tingkatan pertama, dia akan menjadi seorang yang sombong

Yaitu mereka yang katanya telah mengetahui segala sesuatu,  merasa angkuh akan ilmu yang dimiliki. Tak mau menerima nasehat orang lain karena dia telah merasa lebih tinggi. Bahkan dia juga menganggap pendapat orang yang memberikan nasehat kepadanya, disalahkannya. Selalu mau menang sendiri, tidak mau mengalah meskipun pendapat orang lain itu benar dan pendapatnya yang salah. Terkadang mengatakan sudah berpengalaman karena usianya yang lebih lama namun sikapnya masih seperti kekanak-kanakan. Terkadang ada  yang berpendidikan tinggi, namun  tak mengerti akan ilmu yang dia miliki. Dia malah semakin menyombongkan diri, congkak di hadapan orang banyak. Merasa dia yang paling pintar dan ingin diakui kepintarannya oleh manusia. Hanya nafsu yang diutamakan sehingga emosi tak dapat dikendalikan maka ucapannyapun mengandung kekejian.

2⃣ Barangsiapa yang sampai ke tingkatan kedua, dia akan menjadi seorang yang tawadhu`

tingkatan yang membuat semua orang mencintanya karena pribadinya yang mulia meski telah banyak ilmu yang tersimpan di dalam dadanya, ia tetap merendah hati tiada meninggi. Semakin dia rendah hati, semakin tinggi derajat kemuliaan yang dia peroleh. Sesungguhnya karena ilmu yang banyak itulah yang mampu menjadikannya faham akan hakikat dirinya. Dia tak mudah merendahkan orang lain. Senantiasa santun dan ramah, bijaksana dalam menentukan keputusan suatu perkara. Dia dengan semuanya itu membuatnya semakin dicinta manusia dan insya Allah, Allah pun mencintainya.

  • 3⃣ Barangsiapa yang sampai ke tingkatan ketiga, dia akan merasakan bahwa dia tidak tahu apa-apa (stay foolish, stay hungry)

Tingkatan terakhir adalah yang teristimewa. Selalu merasa dirinya haus ilmu tetap tidak mengetahui apa-apa (stay foolish, stay hungry) meskipun ilmu yang dimilikinya telah memenuhi tiap ruang di dalam dadanya. Karena dia telah mengetahui hakikat ilmu dengan sempurna, semakin jelas di hadapan mata dan hatinya. Semakin banyak pintu dan jendela ilmu yang dibuka, semakin banyak didapati pintu dan jendela ilmu yang belum dibuka. Justru, dia bukan hanya tawadhu`, bahkan lebih mulia dari itu. Dia selalu merasakan tidak tahu apa-apa, mereka bisa tak berdaya di dalamnya lantaran terlalu luasnya ilmu.

Sampai dimanakah posisi kita? Hanya anda yang tahu.

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/


Sumber Bacaan :

Hasil Nice Homework #5, Peserta matrikulasi IIP Batch #3, 2017

Materi Matrikulasi IIP Batch #3, Belajar cara Belajar, 2017

Materi Matrikulasi IIP Batch #3, Adab Menuntut Ilmu, 2017

The Kite Runner

20170209_125539

Judul : The Kite Runner

Penulis :  Khaled Hosseini

Penerbit : Bloomsbury

Cetakan, Tahun terbit : Pertama, 2004

ISBN : 978 0 7475 6653 3

Terakhir kalinya baca buku versi inggris adalah saat membaca sebuah buku yang diadaptasi dari game. Bukan pengalaman yang menyenangkan sebetulnya karena saya justru lebih menikmati menonton gamenya dibanding membaca bukunya. Hal sepele sebenarnya, ternyata apa yang digambarkan di buku tidak mendetil dan tidak sejelas di game, makanya saya berhenti membacanya.

Setelah beberapa lama adek yang baru pulang dari Jepang menawarkan buku ini ke saya. Hmm, gak terlalu buruk sebenarnya. Karena buku ini juga pernah menjadi best seller di Indonesia waktu saya masih kuliah dulu, meski saya belum membaca bukunya. Tapi tantangannya adalah, saya diberikan buku ini dalam versi bahasa inggris, padahal terakhir kali membaca novel versi inggris mungkin sekitar satu tahun. Bisakah?

Ternyata tidak semenakutkan itu.

Versi inggris yang digunakan dalam buku ini adalah versi inggris yang biasa. Tidak rempong dan masih mudah dipahami. Pun kalau ada kata yang sulit dipahami itu hanya kata per kata dan masih bisa menggunakan kamus. Atau kalau malas menggunakan kamus – dalam hal ini adalah saya – masih bisa dipahami hanya dengan membaca kalimatnya saja.

Alur cerita?

Hmm, so far so good. Menceritakan seorang anak bernama Amir, putra seorang pengusaha sukses yang tinggal di rumah mewah di distrik perumahan elit. Ia mempunyai seorang pelayan bernama Hassan, yang merupakan keturunan Hazara, etnis minoritas yang cukup terpinggirkan di Afghanistan. Awal-awal bab hanya menceritakan mengenai masa kecil Amir dan Hassan di distrik yang bernama Wazir Akbar Khan. Jujur, sempat merasa bosan dengan cerita masa kecil mereka masa kecil mereka masih normal. Tidak ada konflik apapun. Benar-benar tenang dan damai. Sampai akhirnya kedua bocah itu mengikuti festival layang-layang.

Hmm, disini saya baru paham mengapa buku ini diberi judul The Kite Runner. Dalam buku ini dijelaskan bahawa Hassan memiliki bakat untuk mengetahui dimanakah layang-layang putus akan mendarat. Dan sesuai tradisi Afghanistan, jika seseorang berhasil mendapatkan layang-layang putus maka ia berhak memilikinya. Tidak jauh berbeda dengan di Indonesia.

Dan di festival ini pulalah konflik mulai terjadi. Jujur saya juga kaget, karena awalnya hanya membaca secara tenang tiba-tiba muncul twist yang tidak terduga. Dan disinilah pembaca semakin memahami bagaimana watak sebenarnya dari karkter Hassan dan Amir.

Ada banyak konflik yang dipaparkan di novel ini tapi yang terkesan bagi saya hanyalah konflik utama di festival layang-layang. Karena konflik itulah yang menjadi titik balik kehidupan Amir, Hassan beserta semua karakter dalam novel ini. Meskipun akhirnya Amir beserta ayahnya harus pindah ke Amerika untuk meminta suaka, dikarenakan suasana Afghanistan sudah tidak aman lagi, konflik itu terus menghantui Amir.

Buku ini layak disebut sebagai best seller.

Secara selintas buku ini juga menjelaskan mengenai situasi di Afghanistan. Buku ini memang tidak bisa dijadikan rujukan secara pasti, tapi setidaknya bisa menggambarkan secara kasar.

Dulu saya berpikir Afghanistan adalah negara yang taat agama Islam dan menjunjung nilai-nilai islam. Tapi ternyata dalam buku ini digambarkan bahwa tidak semua penduduk Afganistan adalah orang yang taat agama. Ayah Amir, misalnya, digambarkan sebagai karakter yang menganggap bahwa agama tidak terlalu penting.

“Baba was pouring himself a whiskey from the bar he had built n the corner of the room.” – p.14

“ ‘They do nothing but thumb their prayer beads and recite a book written in a tongue they don’t even understand.’ He took a sip. ‘God help us all if Afghanistan ever fall into their hands.’ “ –p.15

Bahkan Amir, sebagai karakter utama juga digambarkan tidak pernah melaksanakan sholat.

“Then I remember I haven’t prayed for over fifteen years.” –p.301

Yang dijelaskan selalu melaksanakan sholat hanyalah Hassan dan Ali, ayah dari Hassan.

“Hassan never missed any of the five daily prayers.” –p.60

Masih banyak poin-poin lain yang membuat saya tersadar, bahwa ternyata modernisasi juga melanda Afghanistan sehingga negara itu juga mengalami apa yang dialami umat muslim di Indonesia. Membuka mata saya, karena selama ini saya membayangkan bahwa justru Afghanistan yang sedang digadang-gadang oleh Israel ini taat beragama.

Tentu saja penilaian ini muncul kalau hanya berdasarkan penggambaran di novel ini. Saya yakin di Afghanistan tidak semua orang memiliki karakter seperti Amir dan ayahnya. Sama yakinnya bahwa di negara itu masih banyak warga yang benar-benar taat agama. Hanya saja poin-poin novel ini membuka mata saya sedikit mengenai situasi di Afghanistan. Apalagi si penulis menuliskannya berdasarkan pengalamannya semasa kecil tinggal disana sebelum akhirnya pindah ke Amerika.

Buku ini sangat layak dibaca menurut saya. Alur ceritanya yang mengalir pelan dengan twist konflik tak terduga di tengahnya, menyebabkan saya jadi ketagihan dan tidak mau mengalihkan pandangan ke buku lainnya. Novel ini mengajak pembaca untuk merenung mengenai nilai kemanusiaan terutama sifat pemberani, membuat pembaca tergugah dan membandingkan diri dengan karakter Amir.

NHW #5 – Learning How To Learn

Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya

Pastinya kita udah gak asing lagi dengan istilah itu. Kalau dipikir secara logika, sejak kecil anak-anak diasuh oleh ibunya. Bukannya mau melupakan peran seorang ayah, tapi dominan ibulah yang akan berperan lebih banyak untuk mendidik anaknya, mengajarkan nilai agama dan moral, membangun mental anak dan sebagainya. Jadi sebenarnya istilah ibu sebagai sekolah pertama itu memang gak salah.

Mendidik anak adalah tugas yang berat, enggak bisa sembarangan aja dan langsung instan jadi layaknya masak mi instan. Ada proses yang perlahan, bahkan seumur hidup untuk mendidik anak-anak yang sholah-sholehah, baik dan membanggakan. Layaknya sekolah, ibu adalah sekolah seumur hidup bagi anak-anaknya. Bedanya kalau disekolah anak masuk pagi lalu pulang sore, tapi kalau di rumah 24 jam dalam satu pekan di satu tahun anak-anak menjadi tanggung jawab orang tua, khususnya ibunya.

Agar menjadi anak yang sholeh-sholehah sesuai dengan harapan keluarga, tentu saja diperlukan apa yang disebut desaign pembelajaran. Menurut sumber wikipedia desaign pembelajaran bisa diartikan sebagai prinsip penerjemahan dari pembelajaran dan instruksi ke dalam rencana untuk bahan-bahan aktivitas instruksional. Tujuannya adalah agar kegiatan pembelajaran lebih efektif dan efisien serta mengurangi tingkat kesulitan dalam proses pembelajaran. Umumnya desaign pembelajaran ini banyak digunakan dalam sistem pendidikan seperti sekolah maupun kampus, hanya saja kita mungkin lebih terbiasa melihat semua itu dalam bentuk buku raport yang selalu diberikan setiap akhir semester.

Memanfaatkan desaign pembelajaran sekolah kita bisa saja memanfaatkannya untuk pendidikan di rumah. Apalagi kalau dikatakan ibu itu adalah sekolah pertama bagi anak-anak. Untuk di sekolah yang mempelajari ilmu pengetahuan saja digunakan prinsip desaign pembelajaran, apalagi bagi ibu yang akan mendidik anak-anaknya bahkan seumur hidupnya. Tentu akan lebih membutuhkan desaign pembelajaran.

Nah untuk pekan ini tugasnya disuruh membuat desaign pembelajaran. Dan setelah dicari kesana-kemari di internet, ternyata tugas kali ini agak berhubungan dengan ilmu psikologi pengajaran. Jadi tambah semangat untuk cari-cari ilmu yang satu ini, apalagi rencananya desaign ini akan saya gumakan untuk anak-anak saya kelak. Jadi bolehlah dicoret-coret sebentar untuk rencana pembelajaran anak-anak.

Setelah mencari-cari dan membaca-baca, untuk sementara saya akan menggunakan desaign pembelajaran dengan model Personel System Instructional atau bisa kita singkat PSI. Loh kok untuk sementara? Yah apapun kan bisa terjadi di masa depan nanti. Kalau misalnya saya menemukan desaign yang lebih baik kenapa enggak?

Jadi yang dimaksud dengan Personel System Instructional atau PSI ini adalah suatu sistem pembelajaran yang saling berkaitan antara instruksi, tugas, dan tingkat kemajuan anak dalam belajar. Dalam desain ini anak-anak sendirilah yang menentukan apa yang ingin dipelajari dan berapa lama pembelajaran tersebut. Orang tua mempunyai peran mendalam bahkan terlibat langsung dalam proses pembelajaran anak-anak serta dalam proses pembelajaran tidak dibatasi oleh waktu untuk memahami pembelajaran tersebut. Secara pengertian ilmiahnya kurang lebih seperti itu, tapi saya tidak akan menjelaskan lebih dalam mengenai desaign ini. Yang pertama karena saya bukan jurusan psikologi yang bisa saja saya salah tafsir. Dan yang kedua ini tugas NHW, bukan textbook kuliah 😛

Nah, kira-kira dengan menggunakan desaign PSI ini saya ingin menerapkan pembelajaran seperti ini ke anak saya.

Tema Yang Ingin Dipelajari

Sub Bab yang berhubungan Sumber Pembelajaran

Peranan Orang Tua dalam Pembelajaran

Agama a.       Tauhid kepada Allah

b.      Mengenalkan hukum halal dan haram

c.       Membiasakan Shalat, Puasa dan Sedekah sejak usia dini

d.      Mengajarkan Al-Quran

e.      Menceritakan kisah Nabi dan Rasul, Para Sahabat dan keluarga Rasul

1.       Buku

2.       Komik Islami

3.       Film

4.       Internet

5.       Sumber lain yang terpercaya

1.       Membimbing sekaligus mendampingi anak-anak di setiap pembelajaran sub bab yang berhubungan.

2.       Menjadi contoh bagi anak-anak untuk setiap sub bab pembelajaran

Moral a.       Tidak boleh berbohong

b.      Tidak boleh mencuri

c.       Tidak boleh mencela dan mencemooh

d.      Mengikuti nilai moral yang berlaku dalam masyarakat

1.       Buku

2.       Internet

3.       Sumber lain yang terpercaya

1.       Membimbing anak untuk selalu mengingat Allah dan takut kepada Allah

2.       Menjadi contoh yang baik  bagi anak dalam setiap sub bab pembelajaran

3.       Mendampingi anak dan menjelaskan apa saja yang boleh diikuti dan apa saja yang harus ditinggalkan

Fisik 1.       Membiasakan makan, minum dan tidur dengan sehat dan teratur

2.       Membiasakan berolah raga

1.       Buku

2.       Internet

3.       Sumber lain yang terpercaya

1.       Membimbing sekaligus mendampingi anak-anak di setiap pembelajaran sub bab yang berhubungan

2.       Menjadi contoh bagi anak-anak untuk setiap sub bab pembelajaran

Intelektual 1.       Mengenalkan buku atau bacaan yang baik sejak dini

2.       Membiasakan berpikir kritis sejak dini

3.       Melatih kemampuan berbicara dan bercerita di depan umum

4.       Melakukan berbagai hal untuk menemukan minat anak (mis: masak, membaca, menulis, olahraga)

1.       Buku

2.       Internet

3.       Sumber lain yang terpercaya

1.       Membimbing sekaligus mendampingi anak-anak di setiap pembelajaran sub bab yang berhubungan

2.       Menjadi contoh bagi anak-anak untuk setiap sub bab pembelajaran

3.       Mendorong dan menyemangati anak untuk berani di depan umum

Psikis 1.       Menumbuhkan sifat pemberani dan percaya diri

2.       Menghindari rasa takut yang berlebihan

3.       Menghindari pemanjaan yang berlebihan

4.       Menanamkan sifat sabar

1.       Buku

2.       Internet

3.       Sumber lain yang terpercaya

1.       Memperkenalkan anak untuk bersosialisasi dengan masyarakat, tidak hanya sekedar keluarganya saja

2.       Membiarkan anak untuk memikul tanggung jawab dan berlatih menjalankan tugas

3.       Membiasakan lembut, sabar dan tegas dalam mendidik anak

Sosial 1.       Penanaman dasar psikis yang baik

2.       Mengajarkan untuk menghormati hak orang lain

3.       Mengikuti norma sosial masyarakat

4.       Menghindari penyimpangan nilai sosial masyarakat

1.       Buku

2.       Internet

3.       Sumber lain yang terpercaya

1.       Membimbing sekaligus mendampingi anak-anak di setiap pembelajaran sub bab yang berhubungan

2.       Menjadi contoh bagi anak-anak untuk setiap sub bab pembelajaran

Untuk poin pembelajarannya saya nyontek dari kitab Tarbiyatu‘l-Aulad fi’l-Islam Jilid satu karangan Dr. Abdullah Nashih Ulwan. Maklumlah, belum punya anak makanya masih belum kepikiran apa aja yang harus diprioritaskan untuk diajarkan kepada anak-anak 😛 Tapi ini kitab yang bagus sebagai panduan pendidikan anak dalam Islam jadi buku ini insyaa Allah akan jadi salah satu buku refrensi saya untuk mendidik anak.

Supaya desaign pembelajaran ini makin naik tingkat keberhasilannya, tentu saja orang tua harus ikut nyemplung dengan anaknya dalam setiap pembelajaran itu. Dengan demikian maka diharapkan selain anak ikut belajar, orang tua juga makin punya kedekatan erat dengan anaknya sehingga bisa saling memahami satu sama lain. Sebenernya sih PSI ini masih punya poin lain untuk pembelajaran tapi saya bikin yang sekenanya dulu aja, sambil ngerevisi lagi desaign ini untuk kedepannya.

Hmmm….yah, untuk saat ini mungkin ini dulu kali ya metode pembelajarannya 😛 nanti sambil jalan sambil direvisi. Yang pasti ilmu agama yang harus pertama kali ditekankan di jiwa anak terlebih dulu. Kalau kata Albert Einstein science without religion is lame, religion without science is blind.

SBT OWOP – Cinta Ditolak?

Ini adalah Story Blog Tour OWOP. Saya ada di urutan ke empat. Chapter yang sebelumnya bisa dinikmati disini

Silahkan menikmati lanjutan cerita saya~


“Waaah. Itu kan si Steven! Makhluk yang sok ganteng di kampung. Ngapain dia di sana” Degup jantungnya berdetak kencang, matanya melotot, dan giginya bergidik kecil.

Udin kagak percaya sama yang dilihatnya di kejauhan sana. Saking gak percayanya Udin bolak-balik buka-tutup tuh mata, udah kayak jalanan macet di puncak aja. Eh bukan, maksudnya tuh siapa tau aja matanya si Udin kelilipan, jadinya biar bisa ngeliat lebih jelas dan cling gitu looh.

Sayangnya udah seribu kali buka-tutup mata Udin masih ngeliat tuh bayangan Lela sama Steven nun jauh disana. Padahal para cewe-cewe yang jalan disekitar Udin udah pada natap sinis, dipikir si Udin buka-tutup mata buat ngegodain cewe-cewe. Tapi bodo amat dah sama si Udin, dia gak bakal ngeliat cewe lain kalo udah ada Lela.

Karena buka-tutup mata masih gak ampuh Udin sekarang giliran gosokin matanya pake tangan. Berkali-kali sambil kenceng pula, sayang yang dia liat masih sosok Lela yang ketawa-ketiwi bareng Steven.

“Haiya! Jangan gosok mata keras-keras gitu lah! Sinilah beli obat mata sama Oe! Diskon!”

Si engkoh  yang lagi ngejagain toko obat manggil Udin buat mampir ke tokonya. Si Udin cuma bisa cengo sambil ngelengos. Sementara kuli-kuli pasar pada ngetawain Udin. Uh, tengsin lah yaw~

Udin buru-buru coba ngedeket ke arah Lela sama Steven yang lagi duduk santai aduhai di warung makan soto. Karena disana gak ada tempat ngumpet, walhasil Udin terpaksa sembunyi di jejeran motor yang lagi di  parkir. Udin mah kagak pedulian, padahal dari tadi dia udah dipelototin sama tukang parkir motor yang pasang wajah asem ke Udin. Emang sih gak terlalu enak ngumpet di barisan motor yang diparkir, tapi seenggaknya Udin bisa ngeliat Lela sama Steven dengan jelas sambil sekalian nguping.

“Duh, Neng Lela. Bapak kamu polisi ya?” Steven ngobrol santai ke Lela.

“Nah loh. Emang encang pernah kerja jadi polisi, gitu?” Udin mulai nginget-nginget tampang Encang yang kerempeng udah  kayak tusuk gigi. Badan kayak gitu iya kali jadi polisi. Kalo hansip mah mungkin-mungkin aja.

“Kok, gitu bang?” Lela nanggepin obrolan Steven.

“Iya, soalnya kamu udah nangkep hati abang~”

Udin pingin banget muntah denger gombalan si Steven. Duh, iya kali gombalannya macem gosip-gosip tukang sayur di pasar. Tapi si Lela yang jadi bahan gombalan bukannya jijik malah kesemsem. Ketawa malu-malu  sambil ngasih tatapan genit ke Steven.

Ngeliat wajah seneng si Lela, hati Udin jadi ter-enyuh. “Hiks… Neng Lela, teganya kau mengkhianati cinta suci kita,” teriak Udin dalam hati. Niatnya sih mau teriak beneran, tapi sekarang kan Udin lagi ngumpet. Gak elit toh kalau ketahuan ngumpet di barisan motor?

Hati Udin merapuh, sedih banget ngeliat Lela yang ketawa-ketiwi barengan Steven. Pas lagi sedih-sedihnya Udin ngeliat Steven ngelingkarin lengannya di bahu Lela. Udin cuma bisa melotot panas.

“Bujug buneng! Si Stevan berani amat main sosor gitu!” Udin hampir aja teriak, tapi untung aja mulutnya keburu ditutup sendiri sama tangannya. Sekali lagi, gak boleh ketahuan toh.

Lela dan Steven berdiri dan keluar dari warung soto. Udin buru-buru ngumpet lagi di tempat yang gak bakal keliatan sama tuh dua orang, meninggalkan abang tukang parkir yang bete abis sama Udin. Lela sama Steven pergi ke arah parkiran mobil, masuk ke dalam mobil yang berkilau mewah terus keluar dari area pasar kearah jalan raya.

Setelah yakin Lela sama Steven udah gak ada lagi Udin keluar dari persembunyiannya, dibelakang tong sampah. Matanya sendu menatap arah mobil yang dikendarain Lela dan Steven.

“Neng Lela, apa maksudnya ini semua?” Udin bergumam sendu.

Seseorang mengulurkan sehelai kertas kearah Udin. Udin yang pikirannya masih bingung cuma bisa nerima sambil baca tuh selebaran yang baru dikasih.

Cinta anda ditolak? Silahkan hubungi mbah dukun AntiTolak. Dijamin menyelesaikan masalah dengan lebih banyak masalah.

Wajah Udin cengo.

“Tertarik mas? Bawa selebaran ini diskon lima puluh persen loh.” Mas-mas yang ngasih selebaran promosi.

.

.

.

Di Rumah Udin

“Ini bocah disuruh belanja lama bener sih!” Emak udah mencak-mencak banget. Udah laper tapi belom bisa masak gegara si Udin belom muncul-muncul.

Babeh?

Babeh mah lagi nguap gak peduli. Tidur aja dulu sampai nungguin makanan bisa dimakan.


A/N: Komedi failed? Mungkin? Tau deh. Chapter selanjutnya bisa dinikmati disini

Materi 5 – Belajar Bagaimana Caranya Belajar

BELAJAR BAGAIMANA CARANYA BELAJAR

Bunda dan calon bunda yang selalu semangat belajar,

Bagaimana sudah makin mantap dengan jurusan ilmu yang dipilih? kalau sudah, sekarang mari kita belajar bagaimana caranya belajar. Hal ini akan sangat bermanfaat untuk lebih membumikan kurikulum yang teman-teman buat. Sehingga ketika teman-teman membuat kurikulum unik (customized curriculum) untuk anak-anak, makin bisa menerjemahkan secara setahap demi setahap karena kita sudah melakukannya. Inilah tujuan kita belajar.

Sebagaimana yang sudah kita pelajari di materi sebelumnya, bahwa semua manusia memiliki fitrah belajar sejak lahir. Tetapi mengapa sekarang ada orang  yg senang belajar dan ada yang tidak suka belajar.

Suatu pelajaran yang menurut kita berat jika dilakukan dengan senang hati maka pelajaran  yang berat itu akan terasa ringan, dan sebaliknya pelajaran yang ringan atau mudah jika dilakukan dengan terpaksa maka akan terasa berat atau sulit.

Jadi suka atau tidaknya kita pada suatu pelajaran itu bukan bergantung pada berat atau ringannya suatu pelajaran. Lebih kepada rasa.

Membuat BISA itu mudah, tapi membuatnya SUKA itu baru tantangan

Melihat perkembangan dunia yang semakin canggih dapat kita rasakan bahwa dunia sudah berubah dan dunia masih terus berubah.

Perubahan ini semakin hari semakin cepat sekali.

Anak kita sudah tentu akan hidup di jaman yang berbeda dengan jaman kita. Maka teruslah mengupdate diri, agar kita tidak membawa anak kita mundur beberapa langkah dari jamannya.

Apa yang perlu kita persiapkan untuk kita dan anak kita ?

Kita dan anak-anak perlu belajar tiga hal :

  1. Belajar hal berbeda
  2. Cara belajar yang berbeda
  3. Semangat Belajar yang berbeda

 Belajar Hal Berbeda

Apa saja yang perlu di pelajari ?

yaitu dengan belajar apa saja yang bisa:

🍎Menguatkan Iman,
ini adalah dasar yang amat penting bagi anak-anak kita untuk meraih masa depannya

🍎Menumbuhkan karakter yang baik.

🍎Menemukan passionnya (panggilan hatinya)


Cara Belajar Berbeda

Jika dulu  kita dilatih untuk terampil menjawab, maka latihlah anak kita untuk terampil bertanya Keterampilan bertanya ini akan dapat membangun kreatifitas anak dan pemahaman terhadap diri dan dunianya.

Kita dapat menggunakan jari tangan kita sebagai salah satu cara untuk melatih keterampilan anak2 kita untuk bertanya.

Misalnya :

👍Ibu jari : How

👆Jari telunjuk : Where

✋Jari tengah : What

✋Jari manis : When

✋Jari kelingking : Who

👐Kedua telapak tangan di buka : Why

👏Tangan kanan kemudian diikuti tangan kiri di buka : Which one.

Jika dulu kita hanya menghafal materi, maka sekarang ajak anak kita untuk mengembangkan struktur berfikir. Anak tidak hanya sekedar menghafal akan tetapi perlu juga dilatih untuk mengembangkan struktur berfikirnya

Jika dulu kita hanya pasif mendengarkan, maka latih anak kita dg aktif mencari. Untuk mendapatkan informasi tidak sulit hanya butuh kemauan saja.

Jika dulu kita hanya menelan informasi dr guru bulat-bulat, maka ajarkan anak untuk berpikir skeptik

Apa itu berpikir skeptik ?

Berpikir Skeptik yaitu tidak sekedar menelan informasi yang didapat bulat-bulat. Akan tetapi senantiasa mengkroscek kembali kebenarannya dengan melihat sumber-sumber yang lebih valid.


Semangat Belajar Yang berbeda

Semangat belajar  yang perlu ditumbuhkan pada anak kita adalah :

🍀Tidak hanya sekedar mengejar nilai rapor akan tetapi memahami subjek atau topik belajarnya.

🍀Tidak sekedar meraih ijazah/gelar tapi kita ingin meraih sebuah tujuan atau cita-cita.

Ketika kita mempunyai sebuah tujuan yang jelas maka pada saat berada ditempat pendidikan kita sudah siap dengan sejumlah pertanyaan-pertanyaan. Maka pada akhirnya kita tidak sekedar sekolah tapi kita berangkat untuk belajar (menuntut ilmu).

Yang harus dipahami,

Menuntut Ilmu bukan hanya saat sekolah, tetapi dapat dilakukan sepanjang hayat kita

Bagaimanakah dengan Strategi Belajarnya?

• Strategi belajar nya adalah dengan menggunakan Strategi Meninggikan Gunung bukan meratakan lembah

Maksudnya adalah dengan menggali kesukaan, hobby, passion, kelebihan, dan kecintaan anak-anak kita terhadap hal2 yg mereka minati dan kita sebagai orangtuanya mensupportnya semaksimal mungkin.

Misalnya jika anak suka bola maka mendorongnya dengan memasukkannya pada club bola, maka dengan sendirinya anak akan melakukan proses belajar dengan gembira.

🚫 Sebaliknya jangan meratakan lembah yaitu dengan menutupi kekurangannya,

Misalnya apabila anak kita tidak pandai matematika justru kita berusaha menjadikannya untuk menjadi pandai matematika dengan menambah porsi belajar matematikanya lebih sering (memberi les misalnya).

Ini akan menjadikan anak menjadi semakin stress.

Jadi ketika yang kita dorong pada anak-anak kita adalah keunggulan / kelebihannya maka anak-anak kita akan melakukan proses belajar dengan gembira.

Orang tua tidak perlu lagi mengajar atau menyuruh-nyuruh anak untuk belajar akan tetapi anak akan belajar dan mengejar sendiri terhadap informasi yang ingin dia ketahui dan dapatkan. Inilah yang membuat anak belajar atas kemauan sendiri, hingga ia melakukannya dengan senang hati.

Bagaimanakah membuat anak menjadi anak yang suka belajar ?

Caranya adalah :

  1. Mengetahui apa yang anak-anak mau / minati
  2. Mengetahui tujuannya, cita-citanya
  3. Mengetahui passionnya

Jika sudah mengerjakan itu semua maka anak kita akan meninggikan gunungnya dan akan melakukannya dengan senang hati.

  Good is not enough anymore we have to be different

Baik saja itu tidak cukup,tetapi kita juga harus punya nilai lebih (yang membedakan kita dengan orang lain).

Peran kita sebagai orang tua :

👨👩👧👧Sebaga pemandu : usia 0-8 tahun.

👨👩👧👧Sebagai teman bermain anak-anak kita : usia 9-16 tahun.

kalau tidak maka anak-anak akan menjauhi kita dan anak akan lebih dekat/percaya dengan temannya

👨👩👧👧sebagai sahabat yang siap mendengarkan anak-anak kita : usia 17 tahun keatas.

Cara mengetahui passion anak adalah :

  1. Observation ( pengamatan)
  2. Engage (terlibat)
  3. Watch and listen ( lihat dan dengarkan suara anak)

Perbanyak ragam kegiatan anak, olah raga, seni dan lain-lain.

Belajar untuk telaten mengamati, dengan melihat dan mencermati terhadap hal-hal yang disukai anak kita dan apakah konsisten dari waktu ke waktu.

Diajak diskusi tentang kesenangan anak, kalau memang suka maka kita dorong.

Cara mengolah kemampuan berfikir Anak dengan :

  1. Melatih anak untuk belajar bertanya,

Caranya: dengan menyusun pertanyaan sebanyak-banyaknya mengenai suatu obyek.

2. Belajar menuliskan hasil pengamatannya Belajar untuk mencari alternatif solusi atas masalahnya

3. Presentasi yaitu mengungkapkan akan apa yang telah didapatkan/dipelajari

4. Kemampuan berfikir pada balita bisa ditumbuhkan dengan cara aktif bertanya pada si anak.

Selamat belajar dan menjadi teman belajar anak-anak kita,

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi IIP/


Sumber bacaan :

Dodik Mariyanto, Learning How to Learn, materi workshop, 2014

Joseph D Novak, Learning how to learn, e book, 2009