Serendipiti

Berkas sinar matahari menyelinap diantara awan. Langit yang tadinya berwarna biru gelap perlahan berubah menjadi jingga yang menyenangkan. Matahari terbit menimbulkan perasaan hangat yang menyelimuti tubuh.

“Matahari terbit,” Sophia mendesah kagum.

Saat ini Sophia dan Lancelot sedang berada di kawasan perbukitan yang lumayan tinggi. Sophia yang sedang berkelana mencari ibunya, sementara Lancelot yang berkelana untuk melihat luasnya dunia. Dua orang dengan dua niat dan satu tujuan ini dipertemukan dalam kisah takdir yang belum diketahui ujungnya.

Angin pagi bertiup kencang menerbangkan lembaran jilbab Sophia. Sophia menghentikan langkahnya, matanya menatap kagum pada matahari yang baru saja terbit. Lancelot awalnya tak peduli. Pemuda itu sudah lama berkelana, karena itu matahari terbit tidak lagi menarik perhatiannya. Tapi Sophia berbeda. Gadis itu baru saja memulai petualangannya. Bagi seorang gadis yang sudah lama hidup terisolasi di hutan, matahari terbit tentu jadi pemandangan baru baginya.

“Itu bukan hal yang luar biasa. Ayo lanjutkan langkahmu!” Lancelot menyela agak keras. Sayangnya, Sophia adalah gadis yang keras kepala jadi ia menghiraukan panggilan Lancelot. Lagipula Sophia menyadarinya, walau Lancelot agak angkuh dan terlihat seram, tapi jauh dalam hatinya Lancelot adalah pemuda yang cukup baik.

“Oh ayolah, aku belum pernah lihat pemandangan seindah ini. Jangan terlalu galak!”

Lancelot mendelik tajam tapi Sophia cuek dan terus menonton matahari terbit.

“Lagipula jangan terlalu dingin. Kalau kau menganggap semua hal yang biasa terjadi itu adalah hal yang biasa, suatu saat hatimu bisa jadi beku, loh!” Sophia masih sok menggurui.

Lancelot menghela napas. Pemuda itu sudah belajar dari pengalaman, percuma saja berdebat dengan gadis keras kepala ini. Pemuda itu mendekat dan berdiri di sisi Sophia, menatap matahari terbit.

“Serendipiti'” gumam Lancelot. Sophia menatap bingung.

“Serendipiti. Itu adalah saat kau mendapatkan sesuatu yang membuatmu bahagia tapi kau tidak pernah mengharapkan kebahagiaan itu sebelumnya,” jelas Lancelot.

Sophia mengangguk paham, matanya kembali menatap matahari yang sudah muncul setengahnya.

“Berarti… matahari terbit ini juga bisa disebut serendipiti,” Sophia kembali mendesah kagum.

Lancelot menatap lekat wajah Sophia yang bersinar disirami cahaya mentari. Angin pagi meniup lembut menyebabkan jilbab gadis itu berkibar pelan. Jelas ini bukan pemandangan matahari terbit yang biasa. Dan gadis disisinya saat ini seperti bukan gadis keras kepala yang biasanya.

“Serendipiti,” Lancelot berbisik pelan.

Sophia menoleh tapi Lancelot langsung membuang muka.

“Kau juga setuju kan?” Sophia tersenyum manis, mau tidak mau wajah Lancelot bersemu merah. Pemuda itu langsung melangkah pergi.

“Ayo pergi!”

“Eh tunggu, aku masih mau lihat-“

Tapi Lancelot tidak mendengarkan dan melangkah pergi dengan cepat disusul oleh Sophia yang mulai menggerutu.

Pasti ia tadi salah ucap. Itu pasti. Lancelot tidak akan pernah mau mengakui kalau sesaat ia merasa Sophia adalah serendipiti miliknya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s