Terpeleset

Sebenarnya itu tangga utama di sekolah, tapi jarang sekali murid-murid naik ke lantai dua menggunakan tangga itu. Alasan utamanya, letak tangga itu jauh dari jarak kelas. Ruangan yang terletak persis dekat tangga itu adalah ruangan kepala sekolah, ruang guru, toilet guru dan ruang bimbingan konseling. Otomatis sisi gedung sekolah dekat tangga utama itu bukanlah ruangan yang sering didatangi oleh siswa, apalagi untuk sekedar didaki tangganya.

Alasan kedua, tangga itu lumayan curam dan pijakannya agak kecil. Entah kenapa bisa begitu, sepertinya tukang bangunannya agak error saat membangun tangga itu. Dengan dua alasan itu jelas anak-anak sekolah SMAku malas menggunakan tangga itu dan lebih memilih menggunakan tangga lain yang lebih dekat dengan ruang kelas.

Tapi lucunya walau jarang digunakan oleh para murid, ada rumor aneh yang mengatakan barang siapa murid perempuan yang lewat di tangga utama dan terpeleset dan ditangkap oleh murid pria, maka mereka akan menjadi pasangan hidup.

Aneh, sekaligus lucu. Tapi lucunya lagi peristiwa itu benar-benar terjadi. Saking anehnya peristiwa terpeleset itu dicatat dalam buku sejarah SMA kami dan saat pasangan terpeleset itu benar-benar menikah, foto pernikahan mereka diabadikan di buku sejarah SMA. Terjadinya kecelakaan itu baru 5 kali terjadi hingga detik ini dan kelima-lima peristiwa itu berakhir pada pernikahan para pelaku terpeleset itu. Untuk catatan, peristiwa terpeleset itu terakhir kali terjadi sekitar enam tahun yang lalu.

Aku tadinya tidak percaya dengan hal-hal semacam itu. Tadinya.

Aku bersekolah di SMA itu, dan aku adalah ketua klub perpustakaan. Sore itu aku dipanggil oleh guruku sehubungan dengan pelajaran sastra, jadi mau tidak mau aku harus naik ke lantai dua menggunakan tangga utama. Sebenarnya tidak ada hal yang aneh. Sebagai ketua klub perpustakaan aku memang biasa diminta bantuan untuk membantu persiapan pelajaran sastra, jadi aku bisa dibilang menjalankan kegiatanku seperti biasanya.

Yang tidak biasa adalah ternyata guru itu menyuruhku untuk membawa setumpuk buku sastra ke perpustakaan yang ada di lantai satu. Dan karena akan lebih cepat sampai bagiku ke perpustakaan dengan menggunakan tangga utama maka aku harus membawa semua buku tebal itu menuruni tangga utama.

Agak mengerikan sebenarnya karena tangganya lumayan sempit dan curam. Aku harus memaksa kakiku meraba-raba anak tangga karena mataku tak bisa melihat anak tangga.

Dan seperti bisa diduga, aku jatuh terpeleset sementara buku-buku tebal itu jatuh berhamburan. Aku dapat merasakan tubuhku melayang jatuh dan cuma bisa menutup mata dengan pasrah, menunggu rasa sakit di sekujur tubuhku.

Tapi rasa sakit yang kutunggu tidak kunjung datang, malahan aku mendengar suara seseorang yang mengerang sakit. Perlahan aku membuka mataku dan membelalak. Pasalnya, saat ini aku jatuh menimpa seorang murid laki-laki. Tapi bukan itu masalahnya. Masalahnya adalah laki-laki yang kutimpa itu adalah orang yang paling kubenci.

Dia adalah Radit, ketua klub basket sekolah. Dia sering mengejekku sebagai kutu buku dan tingkahnya pecicilan. Aku benar-benar benci dengan anak ini.

Radit menatapku dengan pandangan sebal, mulutnya hampir terbuka untuk mengomeliku tapi keburu didahului suara lain.

“Pasangan terpeleset,”

Aku dan Radit menoleh ke sumber suara, dan ternyata posisi kami yang terjatuh ini menjadi bahan tontonan anak-anak klub basket lainnya. Bahkan ada yang mengambil foto kami melalui kamera handphonenya. Mereka terkejut melihat kami dan mulai berisik. Aku dan Radit saling menatap horor dan bangkit dari posisi jatuh kami, berdiri saling menjauhi.

“Sungguh beruntung, kita jadi saksi pasangan terpeleset yang keenam,”

“Jangan lupa undangan nikahnya ya!”

“Yak! Foto ini kita masukin aja ke buku sejarah SMA.”

Dan masih banyak celotehan ramai lainnya yang membuatku sakit kepala. Aku cuma bisa melotot marah pada Radit yang entah kenapa sekarang wajahnya memerah sampai telinga dan membuang muka dariku. Ada apa sih dengannya?

Tapi satu hal yang jelas. Mana mau aku menikah dengan Radit si anak pecicilan!

#03022017
#Terpeleset


A/N: Done! Challenge dari Dini dengan tema terpeleset. Kepikirannya ide kayak gini doang yang penting bisa bebas dari hukuman :v

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s