Mencairkan Sebuah Hati Yang Beku

img-20170205-wa0006

“Kenapa kau mau melakukan semua ini?”

Seorang gadis menatap heran sosok berjubah dihadapannya. Saat ini sang gadis dan sosok berjubah itu ada di dalam lebatnya hutan pohon cemara. Hanya berdua. ‘Para pengawal pastilah langsung kabur saat melihat sosok berjubah ini,’ pikir sang gadis pasrah, seakan kaburnya para pengawal bukanlah hal yang aneh.

‘Sudahlah, toh sebentar lagi kematian akan menjemputku,’ batin sang gadis.

“Kau tidak menjawab pertanyaanku!” hardik sosok tersebut.

Sang gadis kembali menatap sosok berjubah di hadapannya. Sosok itu adalah seorang penyihir, berdasarkan suaranya sepertinya seorang laki-laki. Menilai dari tinggi dan beratnya suara dibalik sosok berjubah itu sepertinya umur si penyihir lebih tua beberapa tahun dibanding dirinya. Tapi entahlah, penyihir terkenal memiliki wajah awet muda dan umur yang panjang, jadi rasanya tidak sopan menebak umur penyihir di hadapannya ini.

“Salam kenal tuan penyihir, nama saya adalah Guinevere,” sang gadis membungkuk hormat sambil membentangkan sisi gaunnya. Salamnya terlihat begitu anggun, sesuai dengan derajatnya yang seorang putri kerajaan.

“Sayalah yang akan menjadi korban persembahan bagi kutukan anda,” Guinevere menegakkan tubuhnya dan melempar senyum manis.

“Kenapa kau mau melakukan semua ini? Kenapa kau mau menjadi korban persembahan kutukanku?” si penyihir kembali bertanya, tapi Guinevere tidak menjawab. Matanya malah sibuk menatap hutan pohon cemara, mengagumi batang pohonnya serta burung yang bersembunyi dibalik dahan pohon.

Sang penyihir kehabisan kesabaran, ia mengangkat tangannya dan mengarahkannya kepada Guinevere. Guinevere merasakan napasnya tercekat, ia tidak mampu bernapas. Tubuhnya lunglai dan akhirnya terduduk keras ke tanah. Tapi secepat kedatangannya, secepat itu pula Guinevere kembali bisa bernapas. Gadis itu terbatuk keras.

“Jawab. Pertanyaanku.” Kali ini sang penyihir menuntut dengan nada suara yang berbahaya.

“Apa yang harus saya katakan kepada anda? Bukankah anda yang meminta saya untuk menjadi korban persembahan bagi kutukan anda?”

Sang penyihir mengangkat alisnya. “Dan ayahmu membiarkanmu menjadi persembahan tanpa perlawanan?”

Guinevere tertawa pelan. “Tuanku, perlawanan hanya terjadi apabila seseorang mengambil sesuatu yang dicintainya secara paksa,” jelas sang gadis seakan hal itu adalah hal yang jelas.

Sang penyihir terdiam. Gadis ini datang sendiri ke hutan yang dijanjikan sendirian. Ia tahu pengawal gadis itu menemaninya sampai tepi hutan, akan tetapi saat sang gadis berjalan ke tengah hutan semua pengawalnya melarikan diri, meninggalkan sang putri kerajaan berjalan seorang diri.

“Kau tidak dicintai?”

“Aku dicintai,”

“Kalau kau dicintai, tentu ayah dan pengawalmu akan berusaha keras untuk tidak menjadikanmu korban persembahan.” Tepis sang penyihir.

Guinevere tersenyum, “Tuanku, hamba dicintai oleh rakyat hamba. Bukankah itu sudah cukup?”

Sang penyihir hanya terdiam.

“Kutukan anda hanya mencamkan agar negeri kami selamat, kerajaan kami harus mengorbankan seseorang yang paling kami cintai. Saya adalah orang yang paling dicintai oleh rakyat kami, karena itu sudah cukup, kan?” Guinevere kembali tersenyum.

“Pulanglah.”

Guinevere membelalakkan matanya. Bukan ini yang ia harapkan.

“Pulanglah. Tidak pernah ada kutukan di negerimu. Semua itu hanyalah kebohongan.”

“Apa maksud anda kebohongan?” Guinevere merasa penasaran.

Sang penyihir mendesah, “Ayahmu adalah seorang diktator yang kejam dan tidak dicintai oleh rakyatnya. Aku sengaja menyebar kebohongan berupa kutukan itu agar ayahmu turun dari tahta, atau mungkin berubah menjadi baik.”

Sang penyihir berjalan mendekati Guinevere, tangannya menyapu pelan pipi Guinevere. “Sayang, ternyata ayahmu masih sama lalim dan diktatornya dengan dulu.”

“Lalu kenapa anda tidak benar-benar mengutuk kerajaan kami?” Guinevere menatap penasaran sang penyihir di hadapannya. Ingin gadis itu membuka tudung jubahnya, agar ia mampu menatap bola mata sang penyihir. Alih-alih kejam, Guinevere malah merasakan nada kesepian dari suara sang penyihir.

“Aku tak bisa.

“Kenapa?” desak Guinevere.

“Karena aku telah bersumpah untuk melindungi kerajaan itu,” terselip rasa rindu dalam ucapan sang penyihir dan Guinevere bisa menangkap itu.

Sang penyihir menjauhkan tangannya dari pipi Guinevere dan melangkah menjauh. “Pergilah,” bisik sang penyihir.

“Aku tak bisa kembali ke kerajaan,” Guinevere meratap.

“Aku tak peduli,”

“Ayahanda akan menikahkanku dengan jenderalnya yang bengis dan kejam. Saya tidak mau itu,” Guinevere menggeleng pelan. “Kumohon, biarkan saya ikut bersama anda. Saya bersedia menjadi pelayan anda,”

“Seorang putri menjadi seorang pelayan?” Sang penyihir mendengus.

“Aku bisa memasak dan menjahit. Aku juga bisa bersih-bersih,” Guinevere mulai menawarkan kemampuannya. Sang penyihir masih tak tertarik dan berjalan menjauh.

“Saya juga bisa mencoba mencairkan hati anda yang beku,” teriak Guinevere.

Sang penyihir menghentikan langkahnya dan menolehkan kepalanya, menatap Guinevere.

“Apa maksudmu?” tuntut sang penyihir. Guinevere tidak menjawab tetapi mengeluarkan sebuah liontin berbandul kaca dengan rantai tipis berwarna putih dari saku gaunnya. Melihat liontin itu sang penyihir menurunkan tudung jubahnya. Dari balik tudung itu seorang pemuda berambut pirang dan berwarna hijau daun menatap Guinevere.

“Kau? Bagaimana?”

“Hatimu membeku dikarenakan rasa cintamu kepada ibuku. Karena itu izinkan aku sebagai putrinya untuk mencairkan kebekuan hatimu itu,”

Sang penyihir menatap lekat bandul kaca dan akhirnya mendesah sedih.

“Dengan cara apa kau akan mencairkan kebekuan hatiku?”

Guinevere tersenyum lembut. “Biarkan aku mencintaimu,” bisiknya.


A/N: Lalalala~ lagi gak punya ide disuruh nulis fantasi dengan tema cinta… ya sudahlah…terima jadi saja :v

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s