NHW# 4 – Belajar Terus, Terus Belajar

Jadilah diri sendiri!

Bisa dibilang itu adalah tamparan yang cukup keras buat saya. Saya itu kadang suka bertingkah malu-maluin, walau gak ngerasa sih kalau udah ngelakuin hal yang malu-mauin Karena emang gak ada maksud untuk mempermalukan diri sendiri. Tapi ternyata dari sudut pandang orang lain saya malu-maluin…. 😀 Hahaha walau gak tau juga maksudnya kayak gimana. Tapi begitulah saya yang asli, tanpa polesan atau tanpa pura-pura.

Kadang suka mikir, pingin deh jadi kayak dia yang pinter, atau dia yang punya sifat kalem, atau siapa lagi lah yang diharapin punya sifat kayak gitu. Tapi saya sadar, itu namanya menipu diri sendiri dan saya jadi makin stress ketika sadar bahwa saya tuh gak bakal pernah jadi seseorang dengan berbagai sifat yang saya iriin ke orang-orang lain itu.

Nah, makanya waktu materi pekan ini dibilang jadilah diri sendiri saya sadar, harusnya ini yang saya lakukan dari dulu! Apalagi kalau disuruh mengenang mengenai materi pekan pertama yang saya pingin banget belajar ilmu psikologi islam. Duh…rasanya dung, dung banget. Gimana mau belajar lebih baik mengenai psikologi keluarga kalau psikologi diri sendiri aja stress gara-gara pingin jadi seseorang yang jelas-jelas tuh bukan saya banget.

Tapi gak papa. Kalau kata iklan-iklan, gak pernah gagal atau salah namanya gak pernah belajar. Makanya setelah menyadari kesalahan dasar ini saya jadi sadar, lepaskan keinginan saya yang pingin banget punya sifat kayak orang lain dan mulailah mencintai diri sendiri. Saya unik! Saya menarik! Dan saya punya kecantikan sendiri yang orang lain gak punya! Jadi stop membandingkan diri dengan orang lain. Buktinya suami mencintai saya apa adanya :p

Dan setelah menyadari kesalahan ini saya malah jadi lebih pingin belajar lebih mendalam mengenai psikologi keluarga islami. Sangat menarik sebenarnya karena walau hanya sedikit perlakuan yang berbeda psikologi orang bisa berbeda-beda bahkan bisa menghasilkan perilaku yang berbeda. Dan tentu saja karena setidaknya saya punya pengalaman hidup lebih banyak dari anak saya suatu saat nanti saya harus pinter-pinter bagaimana cara menyiasati suatu kondisi kalau misalnya terjadi sesuatu pada keluarga saya.

Setelah menyadari hal ini saya jadi kepikiran, apa aja yang sudah saya lakukan untuk kembali memperdalam pelajaran psikologi keluarga islam, menurut versi saya sendiri?

Nah kalau ini kembali lagi ke tugas NHW 2 yang dulu pernah saya buat. Dan setelah dicek kembali, ada beberapa indikator yang belum kesampaian untuk dikerjakan.

Untuk poin bunda sayang ada poin dimana saya harus mengantar dan menyambut suami berangkat dan pulang kerja dengan wajah ceria. Seringnya belum sampai wajah ceria sih, terkadang kalau pagi suka udah ribet duluan dengan pekerjaan rumah dan sorenya udah keburu capek duluan, jading paling banter cuma bisa kasih senyum. Duh…evaluasi diri sendiri nih harus pasang wajah ceria untuk suami. Alhamdulillah untuk poin lainya berjalan dengan baik, sesuai target bahkan kadang lebih. Misalnya memasak kue atau masak makanan bersama suami bukan cuma sepekan sekali tapi kadang bisa lebih.

Untuk poin bunda cekatan Alhamdulillah berjalan dengan baik, malahan suami suka ngebantu buat anggaran pengeluaran untuk isi kulkas. Tapi sayangnya untuk poin bunda produktif masih masih ogah-ogahan. Kalau target membaca sih masih gak ada masalah, tapi target menulis masih tersendat-sendat. Apalagi target menjahit, belum ada menghasilkan hasil jahitan apapun di bulan ini 😥

Nah, untuk target bunda sholehah ini yang sangat luar biasa dibutuhkan kerja keras. Apalagi di bagian sholat dhuha sama sholat tahajud, luar biasa besar banget godaannya kalau lagi sibuk atau pules ketiduran 😥 tapi tetep poin-poin ini harus dibiasakan. Susah Karena gak biasa, dan bisa Karena biasa. Jadi tetap semangat!

Kalau dipikir-pikir dengan semua minat saya ini kira-kira Allah punya tugas apa untuk saya di dunia ini? Wallahu’am Allah mau menugaskan saya apa di dunia ini, tapi setidaknya bolehlah saya menebak. Dengan minat saya yang lebih suka menulis dan membaca, dan juga pingin banget belajar psikologi keluarga islam, mungkin saja Allah menugaskan saya untuk menulis sesuatu dengan ilmu psikologi keluarga islam tersebut, tentu dengan memanfaatkan minat menulis dan membaca. Mau menulis fiksi atau non fiksi terserah, yang penting saya harus menulis untuk berbagi dan mencerahkan para pembaca. Tentu saja saya gak cuma harus menulis tapi juga harus mempraktekannya di keluarga saya. Ditambah dengan situasi lingkungan, yaitu suami yang mendukung minat saya dan lingkungan rumah yang tenang. Insya Allah semua situasi terpenuhi. Yang tersisa tinggal saya sendiri, harus memaksa diri supaya bisa naik level di hadapan Allah SWT.

Kira-kira ilmu apa saja yang saya butuhkan agar saya bisa menjadi penulis bagian psikologi keluarga islam dan bisa berbagi kepada orang lain? Yang pasti saya harus menentukan tahapan ilmu yang dikuasai. Menggunakan ilmu dari Ibu Profesional beberapa tahapan yang saya pikir harus dikuasai adalah:

  1. Bunda Sayang: Ilmu mengenai psikologi suami dan psikologi anak-anak dalam islam beserta contoh kasusnya
  2. Bunda Cekatan: Ilmu manajemen diri dan kenyamanan keluarga di rumah
  3. Bunda Produktif: Ilmu mengenai minat dan bakat keluarga, ilmu membaca dan menelaah bacaan lebih mandalam, ilmu menulis agar dipahami oleh semua kalangan
  4. Bunda Shalehah: Ilmu agama khususnya kajian keluarga islam

Tidak ada kata terlambat untuk belajar, meskipun untuk seumuran saya. Karena yang namanya belajar itu adalah misi seumur hidup maka denagn tahapan ilmu itu saya berusaha menyusun komitmen agar setidaknya saya bisa mencapai semua tahapan ilmu tersebut. Targetnya sih setiap tahapan ilmu itu bisa dikuasai dalam waktu satu tahun. Jadi kalau mau dihitung dalam satu hari ada 24 jam semoga dalam waktu satu tahun minimal saya punya jam terbang 8500 (delapan ribu lima ratus) jam dalam tahapan ilmu tersebut.. Maksimal 10000 (sepuluh ribu) jam kerja lah biar ilmunya lebih maksimal. Dalam waktu empat tahun itu saya akan menyusun tahapan ilmu:

  1. KM 0 – KM 1 (tahun 1) : Menguasai yang berkaitan ilmu bunda sayang
  2. KM 1 – KM 2 (tahun 2) : Menguasai yang berkaitan ilmu bunda cekatan
  3. KM 2 – KM 3 (tahun 3) : menguasai yang berkaitan ilmu bunda produktif
  4. KM 3 – KM 4 (tahun 4) : menguasai yang berkaitan ilmu bunda shalehah

Yah, walau saya menulis tahapan hingga empat tahun begini, bukan berarti saya harus nunggu empat tahun dulu baru belajar ilmu yang berkaitan dengan bunda shalehah. Mengenai masalah belajar semua ilmu bunda itu insya Allah bakal dicicil sedikit demi sedikit bahkan dari tahun pertama. Yang pasti setelah setiap tahun selesai maka setidaknya saya harus menguasai tahapan ilmu yang ditargetkan setiap tahunnya.

Dan itu berarti saya harus merevisi kembali checklist indikator wanita professional punya saya dan menyesuaikannya dengan tahapan ilmu yang ingin saya kuasai. Misalnya saja dalam poin bunda produktif saya harus memasukkan poin membaca ilmu psikologi keluarga islam. Atau dalam poin bunda shalehah saya harus rajin-rajin ikut kajian islam mengenai keluarga dan parenting.

Banyak banget tugasnya….

Emang banyak! Sesuatu yang bagus gak bisa dihasilkan dari cara instan. Karena itulah…semangat untuk membentuk keluarga yang menakjubkan!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s