The Kite Runner

20170209_125539

Judul : The Kite Runner

Penulis :  Khaled Hosseini

Penerbit : Bloomsbury

Cetakan, Tahun terbit : Pertama, 2004

ISBN : 978 0 7475 6653 3

Terakhir kalinya baca buku versi inggris adalah saat membaca sebuah buku yang diadaptasi dari game. Bukan pengalaman yang menyenangkan sebetulnya karena saya justru lebih menikmati menonton gamenya dibanding membaca bukunya. Hal sepele sebenarnya, ternyata apa yang digambarkan di buku tidak mendetil dan tidak sejelas di game, makanya saya berhenti membacanya.

Setelah beberapa lama adek yang baru pulang dari Jepang menawarkan buku ini ke saya. Hmm, gak terlalu buruk sebenarnya. Karena buku ini juga pernah menjadi best seller di Indonesia waktu saya masih kuliah dulu, meski saya belum membaca bukunya. Tapi tantangannya adalah, saya diberikan buku ini dalam versi bahasa inggris, padahal terakhir kali membaca novel versi inggris mungkin sekitar satu tahun. Bisakah?

Ternyata tidak semenakutkan itu.

Versi inggris yang digunakan dalam buku ini adalah versi inggris yang biasa. Tidak rempong dan masih mudah dipahami. Pun kalau ada kata yang sulit dipahami itu hanya kata per kata dan masih bisa menggunakan kamus. Atau kalau malas menggunakan kamus – dalam hal ini adalah saya – masih bisa dipahami hanya dengan membaca kalimatnya saja.

Alur cerita?

Hmm, so far so good. Menceritakan seorang anak bernama Amir, putra seorang pengusaha sukses yang tinggal di rumah mewah di distrik perumahan elit. Ia mempunyai seorang pelayan bernama Hassan, yang merupakan keturunan Hazara, etnis minoritas yang cukup terpinggirkan di Afghanistan. Awal-awal bab hanya menceritakan mengenai masa kecil Amir dan Hassan di distrik yang bernama Wazir Akbar Khan. Jujur, sempat merasa bosan dengan cerita masa kecil mereka masa kecil mereka masih normal. Tidak ada konflik apapun. Benar-benar tenang dan damai. Sampai akhirnya kedua bocah itu mengikuti festival layang-layang.

Hmm, disini saya baru paham mengapa buku ini diberi judul The Kite Runner. Dalam buku ini dijelaskan bahawa Hassan memiliki bakat untuk mengetahui dimanakah layang-layang putus akan mendarat. Dan sesuai tradisi Afghanistan, jika seseorang berhasil mendapatkan layang-layang putus maka ia berhak memilikinya. Tidak jauh berbeda dengan di Indonesia.

Dan di festival ini pulalah konflik mulai terjadi. Jujur saya juga kaget, karena awalnya hanya membaca secara tenang tiba-tiba muncul twist yang tidak terduga. Dan disinilah pembaca semakin memahami bagaimana watak sebenarnya dari karkter Hassan dan Amir.

Ada banyak konflik yang dipaparkan di novel ini tapi yang terkesan bagi saya hanyalah konflik utama di festival layang-layang. Karena konflik itulah yang menjadi titik balik kehidupan Amir, Hassan beserta semua karakter dalam novel ini. Meskipun akhirnya Amir beserta ayahnya harus pindah ke Amerika untuk meminta suaka, dikarenakan suasana Afghanistan sudah tidak aman lagi, konflik itu terus menghantui Amir.

Buku ini layak disebut sebagai best seller.

Secara selintas buku ini juga menjelaskan mengenai situasi di Afghanistan. Buku ini memang tidak bisa dijadikan rujukan secara pasti, tapi setidaknya bisa menggambarkan secara kasar.

Dulu saya berpikir Afghanistan adalah negara yang taat agama Islam dan menjunjung nilai-nilai islam. Tapi ternyata dalam buku ini digambarkan bahwa tidak semua penduduk Afganistan adalah orang yang taat agama. Ayah Amir, misalnya, digambarkan sebagai karakter yang menganggap bahwa agama tidak terlalu penting.

“Baba was pouring himself a whiskey from the bar he had built n the corner of the room.” – p.14

“ ‘They do nothing but thumb their prayer beads and recite a book written in a tongue they don’t even understand.’ He took a sip. ‘God help us all if Afghanistan ever fall into their hands.’ “ –p.15

Bahkan Amir, sebagai karakter utama juga digambarkan tidak pernah melaksanakan sholat.

“Then I remember I haven’t prayed for over fifteen years.” –p.301

Yang dijelaskan selalu melaksanakan sholat hanyalah Hassan dan Ali, ayah dari Hassan.

“Hassan never missed any of the five daily prayers.” –p.60

Masih banyak poin-poin lain yang membuat saya tersadar, bahwa ternyata modernisasi juga melanda Afghanistan sehingga negara itu juga mengalami apa yang dialami umat muslim di Indonesia. Membuka mata saya, karena selama ini saya membayangkan bahwa justru Afghanistan yang sedang digadang-gadang oleh Israel ini taat beragama.

Tentu saja penilaian ini muncul kalau hanya berdasarkan penggambaran di novel ini. Saya yakin di Afghanistan tidak semua orang memiliki karakter seperti Amir dan ayahnya. Sama yakinnya bahwa di negara itu masih banyak warga yang benar-benar taat agama. Hanya saja poin-poin novel ini membuka mata saya sedikit mengenai situasi di Afghanistan. Apalagi si penulis menuliskannya berdasarkan pengalamannya semasa kecil tinggal disana sebelum akhirnya pindah ke Amerika.

Buku ini sangat layak dibaca menurut saya. Alur ceritanya yang mengalir pelan dengan twist konflik tak terduga di tengahnya, menyebabkan saya jadi ketagihan dan tidak mau mengalihkan pandangan ke buku lainnya. Novel ini mengajak pembaca untuk merenung mengenai nilai kemanusiaan terutama sifat pemberani, membuat pembaca tergugah dan membandingkan diri dengan karakter Amir.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s