Binar Sayang

Sepasang manik berwarna cokelat gelap memandangku dengan intens. Tidak. Tatapannya tidak tajam, bahkan sebaliknya, tatapan mata itu memandangku dengan lembut.

Sudah satu jam kami duduk di kedai teh ini. Harus kuakui aroma teh yang nikmat menenangkan sarafku, meski sedikit. Kue-kue yang disajikan disini juga cukup nikmat. Kursi-kursi beraneka rupa bentuk tersusun dengan baik dan tentu saja tak lupa meja kecil yang sengaja diletakkan di depan atau disamping kursi jika seseorang butuh meletakkan sesuatu. Bahkan jika kau datang sendiri kedai ini juga menyediakan kursi yang sesuai untukmu, entah di pojok sana atau di counter agar kau bisa mengobrol santai dengan sang peracik teh. Mereka orang-orang yang baik, para peracik teh itu. Mereka akan mendengarkan apapun yang akan kau katakan asalkan kau tidak membuat keributan.

Lagu instrumen klasik mengalun lembut, menenangkan saraf bahkan membuatku terkantuk. Jangan salahkan kalau aku mulai menyender di kursi empuk yang nyaman, hampir menutup mataku. Akan tetapi lawan dudukku ini tidak melakukan apapun kecuali tersenyum. Ia malah mengeluarkan sebuah buku dari dalam tasnya, tak bisa kulihat jelas judulnya tapi seingatku itu adalah buku best seller bulan ini di toko buku terkemuka.

Lagu yang tenang, aroma teh yang nikmat, beserta kue yang manis. Tak butuh waktu lama hingga akhirnya aku kehilangan kesadaranku, tenggelam dalam tidur yang nikmat.

.
.
.

“Ah. Kekasih anda tertidur rupanya.”

Sang gadis mengangkat wajahnya dari buku yang ditekuninya. Salah seorang pelayan pria mengangkat piring kotor kue di meja ke nampannya dengan berhati-hati, berusaha tidak menimbulkan suaran. Sang gadis tersenyum memandang kekasihnya.

“Akhir-akhir ini dia mengalami insomnia karena stress dengan pekerjaannya. Kupikir perubahan suasana akan bagus baginya,” bisik sang gadis. Sang pelayan mengangguk setuju.

“Mungkin kami akan sedikit lama di tempat ini,” sang gadis melempar senyum dengan tatapan memohon maaf.

“Tak masalah, malah kami yakin saat kekasih anda terbangun kami bisa menyajikan kue yang masih panas dan teh yang mengepul nikmat.” Sang pelayan meninggalkan kedua pasangan itu.

Sang gadis tersenyum dan kembali memandang kekasihnya. Ah, kasihan sekali akhir-akhir ini kekasihnya itu kelelahan. Tapi melihat pemuda itu sekarang tertidur nyenyak sang gadis merasa puas juga. Mungkin kapan-kapan ia akan mengajak kekasihnya kembali ke kedai teh ini.

Manik cokelat itu kembali menekuni bukunya, sebelum kembali memandang kekasihnya dengan binar sayang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s