Hari Ke 3 di Semarang

Hari ke tiga~

Karena hari ini semua masyarakat di rumah mbak Dina kerja, sekolah dan kampus, walhasil kami jalan-jalan berdua doang, aku dan suami. Setelah sarapan dan ngegosip dikit sama mbak Dina akhirnya kami cus pergi.

20170130_104257

Sasaran pertama kami adalah Museum Satria Bhakti Mandala. Hehehe… inilah kami, kalau traveling mah gak suka yang kemana-mana, tapi demennya ke tempat-tempat bersejarah plus museum. Pas ke museum ini sempet bingung gegara pintu depan museum dikunci, akhirnya sama petugas parkir kami digiring ke pintu belakang museum. Oalah… pantesan aja pintunya dikunci, penjaga museumnya lagi ngasih tur buat anak-anak sekolah. Tapi toh gak masalah, kami jadi bisa jalan-jalan sendiri.

Suasana di museum itu gelap, serius deh! Malahan ada satu ruang yang full sama wayang yang kesannya gimana gitu. Saking ada aura gak enak akhirnya kami putusin untuk enggak masuk kesana. Dan malemnya kita tidur sambil ditemenin sama Rukyahan lewat hape 😀

Tapi museum itu emang lumayan bagus sih, terutama buat kamu yang penggemar sejarah. Disana kita jadi belajar ulang mengenai sejarah kemerdekaan baik yang post maupun yang pasca kemerdekaan. Bahkan di museumnya ada pojok khusus untuk buku-buku, yang kayaknya buku lama soalnya banyak debunya. Di museum ini juga dipajang miniatur G30S/PKI. Wahkalau ini salah satu tema favorit sejarah saya tuh. Bahkan di museum ini juga dipajang bendera palu arit dan tentara-tentara jaman dulu.

Museum ini ada dua lantai dan setiap lantainya ada banyak ruangan yang menceritakan berbagai sejarah perjuangan di Indonesia. Hmm, saya jadi makin merasakan betapa perjuangan dulu bener-bener penuh air mata dan darah. Jadi inget kata-kata presiden Soekarno, JAS MERAH yaitu Jangan Sekali Sekali Melupakan Sejarah. Siap Pak Soekarno! Insyaa Allah gak bakal ngelupain sejarah Indonesia asalkan museumnya dijaga dan dirawat oleh pemerintah.

20170130_104308

Selesai dari Museum, kita keluar dari area Museum dan foto di depan Tugu Muda Semarang. Tugu ini pas banget ada di depan museum jadinya gak perlu susah-susah buat foto. Setelah foto di Tugu Muda, kita nyebrang jalan dan voila… nyampai di gedung peninggalan Belanda yang dinamakan Lawang Sewu. Kalo kata Mbak Dina Lawang Sewu lebih cantik dilihat di malam hari, masalahnya kan kita pelancong, jadi lebih enak jalan siang hari.

Gedung Lawang Sewu bener-bener khas peninggalan Belanda. Pertama kali masuk kita langsung ngerasain segernya angin. Maklum, gedung belanda kan punya ciri khas langit-langit tinggi dan jendelanya gede-gede, jadi biar gak pakai AC tetep aja di dalam ruangan kerasa dingin.

Gedung Lawang Sewu ini masih kepunyaan PT Kereta Api Indonesia, makanya berbagai pernik yang sempet saya lihat di Museum Kereta Ambarawa juga bisa dilihat disini. Minus lokomotif kereta sih, tapi pernak-pernik kecil macemnya mesin pencetak tiket dan kalkulator ada disini.

Bangunan ini punya lima gedung yang enggak semuanya dibuka. Bahkan untuk gedung utama yang dibuka cuma sampai tangga yang menunjukkan kaca-kaca mozaiknya aja. Untuk lantai duanya sendiri ditutup dan orang umum dilarang masuk. Untuk Gedung kedua ada dua lantai yang full dibuka untuk umum dan sepertinya bisa disewa juga untuk pertemuan. Pas kami kesana ada yang lagi workshop tapi pas kami liat ternyata peserta WSnya orang kereta api juga. Entahlah kalau ruangan itu bisa disewa untuk umum atau enggak. Kami juga sempet pergi ke loteng di gedung dua, tapi berhubung banyak kelelawar disana kami cuma sekedar lihat-lihat aja dan langsung keluar.

Di gedung ketiga ada dua lantai dan yang dibuka cuma satu lantai. Di lantai satu diperlihatkan proses pemugaran Lawang Sewu dan pembaruan gedung. Disini juga diperlihatkan keramik lantai yang digunakan masa Belanda dan perbandingan keramik yang digunakan di masa kini. Kalau lantai duanya sih ketutup, tapi pas saya kesana ada orang kereta api yang lagi nyender di jendela. Mungkin lantai dua dijadiin kantor sama mereka. Sementara sisa dua gedungnya lagi kami enggak masuk karena sepertinya tertutup untuk umum. Mungkin digunakan sebagai kantor makanya orang umum gak boleh sembarangan masuk.

Capek banget jalan-jalan akhirnya kami istirahat dulu untuk selanjutnya kami jalan menyisiri Jalan Pandanaran. Disana adalah pusat oleh-oleh khas Semarang yang berjejer di satu jalan. Kami mampir untuk beli oleh-oleh di toko Juwana. Yang dibeli? Tentu aja bandeng presto yang enak banget. Sempet bingung waktu mau beli bandeng uuran apa disana. Kami pikir mau beli yang ukuran sedang, sayang lagi habis. Penjualnya nawarin mau yang ukuran kecil gak? Pas saya tanya ukuran kecil kayak gimana ditunjukkin sama penjualnya bandeng sepanjang lengan orang dewasa. Saya sama suami kaget, tapi kami putusin untuk beli yang seukuran itu. Pas ditanya sama Mbak Dina malah dibilang di Semarang ukuran segitu emang kecil, tapi kalau di Jakarta ukuran yang saya beli itu ukuran besar. Hmm, harus noted kalau Insyaa Allah ke Semarang lagi beli oleh-oleh bandeng presto.

Setelah beli oleh-oleh kami langsung cus pulang ke rumah Mbak Dina, packing sekaligus istirahat karena besok kereta kami berangkat jam enam pagi dan membawa kami balik ke Jakarta.

Menghabiskan malam yang terakhir kalinya di kamar tamu yang lumayan nyaman, sambil nonton tv kabel. Tidur setelah sebelumnya baca Quran dulu sambil ditemenin Rukyah lewat Hape. Pengalaman berlibur yang menyenangkan, walau mungkin emang enggak lama sih. Tapi lumayan worthedlah. Jadi pingin jalan-jalan lagi.

Selanjutnya Insyaa Allah traveling kemana lagi ya?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s