NHW#7 – ST30, Bakat dan Hidup Bahagia

Kemarin habis ke suatu web untuk mengenal diri sendiri, bahasa kerennya sih untuk menemukan bakat apa sih yang kita punya. Ada tes yang bernama Strength Typology 30. Apa sih maksudnya Strength Typology 30?

Nah, hasil tes diatas itulah yang dimaksud ST30 (Strength Typology). Jadi awalnya kita disuruh memilih beberapa kalimat yang ditawarkan untuk menunjukkan kalimat yang kita banget atau kalimat yang enggak kita banget. Dari hasil gambar itu web ini menyimpulkan bahwa:

Tes Bakat

Setelah dipikirin lagi emang iya sih saya justru lebih percaya dengan suatu berita atau fakta yang punya angka statistik atau data. Jadi kalau cuma katanya atau gosipnya itu udah dipastiin gak bakal mudah dipercaya, kecuali saya udah riset berita tersebut dan ternyata berita itu adalah fakta. Selain itu katanya saya banyak ide. Bukannya mau sombong sih, tapi ide buat menulis cerita emang banyak banget di kepala saya. Bahkan saking banyaknya harus ditulis semua ide itu biar enggak hilang. Masalahnya tinggal nulisnya aja yang belum konsisten. Terima kasih untuk orang tua saya yang mendukung hobi saya untuk membaca, jadilah saya yang seperti ini yang banyak idenya.

Hmm, lagi-lagi analitis dan suka mengumpulkan informasi. Mungkin itulah sebabnya saya selalu suka mencari informasi yang bisa dipercaya dulu sebelum akhirnya bener-bener percaya dengan fakta dan berita itu. Mungkin ini bawaan dari kuliah dulu yang masuk jurusan MIPA jadinya saya suka sesuatu yang bersifat pasti, teratur secara metodologi dan hasilnya bisa dipercaya.

Senang berkomunikasi? Entahlah tapi saya lebih senang berkomunikasi dengan orang yang memang sudah saya kenal dan bisa saya pahami. Jadi memang tidak semua orang bisa saya anggap sebagai tempat untuk bertukar ide dan informasi. Saya punya dua orang sahabat sejak masa kuliah dan kami memang cocok sehingga kalau bertukar ide atau informasi bisa makan waktu berjam-jam untuk mendiskusikan berbagai macam hal yang seru. Tapi kalau misalnya saya memang enggak cocok dengan orang tersebut jangankan bertukar ide, ngobrol juga palingan hanya sekedarnya saja, sebatas basa-basi dan memberi salam.

Untuk senang menggabungkan ide atau teori hingga terbentuk teori yang baru mungkin lebih tepatnya kalau ini saya aplikasikan dalam ide. Maklum, saya suka nonton drama korea, baca komik Jepang dan nonton animasi atau game Jepang. Ide cerita mereka lumayan keren-keren sehingga saya suka remake ide cerita dengan menggabungkan beberapa ide dari komik, animasi, games maupun drama. Nah, mungkin karena kebanyakan nonton atau baca hal yang beginian makanya saya bisa atau lebih tempatnya mudah mengkhayalkan kira-kira apa yang akan terjadi di masa depan.

Nah, bisa dibilang penjabaran dari web itu mungkin bisa dibilang hal yang akan membuat saya bahagia. Kalau dari web itu katanya saya justru punya bakat di bidang jurnalis atau penerjemah. Hah, sudah saya duga sih sebenernya. Cuma apalah daya, dulu orang tua maksa saya untuk masuk jurusan IPA dan kuliah di jurusan MIPA, jadinya saya gak bahagia sama sekali atau bisa dibilang nilai jeblok. Untung aja MIPA itu harus serba teratur dan prinsip metodologis serta mengambil analisis kesimpulan, seenggaknya saya enggak stress banget di jurusan MIPA.

Nah, mengenai bahagia ternyata kehidupan kita juga bisa dibagi menjadi empat hal.

tabel 2

Biasanya, kita akan bahagia banget kalau melakukan hal yang kita suka dan kita bisa melakukannya. Iya kan? Siapa sih yang gak bakal bahagia kalau udah ketemua dua hal tersebut? Rata-rata sih semua orang bakal bahagia, kecuali mungkin dia emang enggak normal atau alien 😛

Kegiatan yang suka tapi tidak bisa, biasanya kayak begini cuma bisa mupeng (muka kepengen) aja. Kalau dia punya niat baja pastinya bakal dicari sama dia supaya dia bisa ngelakuin hal itu, entah les, atau nyari bimbingan lewat internet atau bisa apa aja. Istilahnya banyak jalan menuju Roma.

Kalau untuk kegiatan tidak suka tapi bisa, yah ini sih susah karena jatuhnya waktu ngerjain kegiatan itu pasti males-malesan. Apalagi kalau kegiatan itu adalah sebuah kewajiban, pastinya bakal males banget ngerjainnya walau ujungnya harus dikerjain juga. Cuma bisa berharap kegiatan kayak begini enggak terlalu sering-sering aja 😛

Untuk kegiatan tidak suka dan tidak bisa ya sudahlah, gak perlu repot-repot untuk dilirik. Faktor trigger utamanya aja udah enggak suka ditambah kita gak bisa ngelakuin hal itu. Buat apa dilirik? Toh cuma ngabis-ngabisin waktu aja. Lebih baik kita fokus ke kegiatan yang kita suka dan kita bisa melakukannya dan memaksimalkan hal tersebut.

Nah, untuk saya sendiri beberapa kegiatan sehari-hari saya Insyaa Allah bisa dimasukkan dalam kategori kuadran ini. Misalnya dalam kegiatan sehari-hari:

tabel 1

Baru sadar setelah dikuadran ternyata punya banyak potensi yang bisa dikembangkan di kuadran kegiatan yang saya tidak suka tapi bisa saya lakukan. Pertanyaannya adalah bagaimana cara mengembangkannya? Pastinya saya harus mengubah mindset  saya dan menganggap semua pekerjaan itu menyenangkan. Misalnya Alhamdulillah saya udah gak males buat nyetrika baju, tapi dengan catatan pas nyuci baju jangan numpuk banyak-banyak biar nyeterikanya juga gak capek.

Atau misalnya saya males banget dengerin curhatan orang yang penuh dengan drama, padahal hidup ini udah drama dan dia curhat tambah dibikin drama. Kalau kata iklan hidup itu enggak seindah drama korea tapi saya mencoba sabar dan mendengarkan. Karena yang pertama curhatan orang itu siapa tahu aja bakal berguna buat saya di masa depan, misalnya saya punya anak yang udah besar dan dia punya masalah yang sama saya bisa kasih nasihat yang tepat untuk kasus itu. Atau enggak bolehlah bahan curhatannya saya jadiin ide buat nulis cerita. Jadi saya mencoba menerima banyak orang mau curhat sama saya padahal saya gak ngapa-ngapain kecuali cuma ngedengerin curhatan mereka aja. Lagian sekalian mengembangkan imajinasi sambil belajar psikologi 😛

Intinya mindset yang mempengaruhi semua. Jangan biarkan mindset mempengaruhimu, tapi kamulah yang harus menyetel mindset itu sehingga kamu bisa menemukan hobimu, mengembangkan bakatmu dan menjalani kehidupan yang Insyaa Allah bahagia. Kalau saya udah bahagia insyaa Allah pencapaian ilmu psikologis keluarga islam bisa lebih mudah dicapai, kan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s