Bakat Bertahan Hidup

“Aku pikir kamu punya bakat untuk bertahan hidup,”

Awalnya Lucilla tertawa saat Maximus mengatakan hal itu kepadanya. Dalam dinginnya cuaca bersalju yang ganas di Germania, perang yang terus meminta darah dan beratnya tekanan kehidupan prajurit membuat Lucilla berpikir Maximus tengah mengejeknya.

Jikalau untuk sekedar bertahan hidup Lucilla yakin Maximus lebih ahli daripadanya. Lucilla hanyalah seorang putri Caesar yang bergelimang dalam kemewahan istana. Jangankan untuk bertahan hidup, bertahan dari suhu yang kejam di Germania ini saja sudah membuatnya kewalahan.

Hingga saat itu.

Saat dimana ayahnya yang tercinta dibunuh oleh adiknya sendiri.

Lucilla sadar. Sangat sadar bahwa ayahnya tidak meninggal dengan tenang dalam tidurnya, melainkan dibunuh oleh adiknya sendiri. Lucilla tidak tahu apa yang menyebabkan Commodus tega membunuh ayah mereka sendiri. Tapi Lucilla tahu, pasti suatu hal terjadi mengenai penerus tahta Caesar.

Pada saat Maximus datang untuk memberi penghormatan terakhir kepada ayah mereka, Commodus dengan dingin meminta Maximus untuk berjanji setia kepadanya, sebagai Caesar yang baru. Mencengangkan sebenarnya, Commodus dengan tenang dan dingin meminta Maximus untuk berjanji setia kepadanya. Tapi kilat mata kejam itu tidak luput dari pandangan Lucilla, bahkan mungkin dari Maximus sendiri.

Dan Maximus berlalu dari ruangan itu. Meninggalkan Commodus tanpa pernah mengucapkan ikrar setia kepadanya yang seenaknya saja mentasbihkan diri sebagai Caesar baru.

Sungguh berani.

Commodus menatap Lucilla dengan pandangan dingin. Rasanya sakit saat kau mengetahui bahwa ayahmu dibunuh oleh saudaramu sendiri tapi kau tidak bisa menggugatnya. Alih-alih menggugat, bahkan untuk menangisinya saja kau sudah dicekam ketakutan.

Tanpa basa-basi Lucilla menampar pipi Commodus, kanan dan kiri. Menatap adiknya itu dengan tajam dan melangkah keluar dari ruangan. Sayang, baru satu langkah dan langkahnya terhenti. Saat Lucilla kembali menatap Commodus, adiknya itu telah melemparkan tatapan kejam padanya. Tanpa perlu berbicara Lucilla paham, jika ia tidak mengikrarkan diri untuk setia kepada adiknya, maka nyawa taruhannya.

Bukan nyawa dirinya – oh, Lucilla lebih rela untuk mati dibanding harus setia pada adiknya yang gila. Melainkan nyawa Lucius, putranya.

Dengan berat hati Lucilla meraih tangan Commodus dan mengecup tangannya.

“Hail, Caesar!” gumam Lucilla dengan lirih.

Lucilla tak akan pernah bisa bersikap berani. Tidak dihadapan adiknya. Tidak seperti Maximus yang pemberani.

Lucilla tersenyum getir. Jadi inilah maksud Maximus, bahwa dirinya memiliki bakat untuk bertahan hidup. Meski itu berarti ia harus membunuh hati dan perasaannya sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s