Mom&Kid: Kembaran

<POV Bunda>

“Assalamualaikum! Ayah pulang!”

Suara bantingan pintu depan rumah. Aku dan Latifah terkikik sebentar sebelum akhirnya pergi ke depan untuk menyambut Ayah – sebenarnya Latifah berlari. Duh, ada rasa takut-takut karena Latifah baru saja lancar berjalan dan sekarang anak itu sedang berlari. Bisa dibayangkan, kan?

“Ayah!”

Latifah langsung meloncat ke pelukan ayahnya yang disambut sang Ayah dengan riang. Ayah mengangkat Latifah ke atas, Latifah tertawa riang. Sementara aku merasa ngeri.

“Eh! Kok anak ayah kembaran sama bunda?!” Ayah tertawa riang melihat celemek memasak yang Latifah gunakan memiliki motif yang sama dengan celemek yang biasa kugunakan di dapur.

Latifah mengangguk semangat. “Hmm! Ayah ulang tahun!”

“Selamat ulang tahun ayah!” Aku juga langsung mengucapkan selamat ulang tahun pada suamiku. Suamiku memasang wajah gembira.

“Terima kasih!” balas suamiku riang.

Aku mencium pipi kiri suamiku sementara Latifah mencium pipi kanan. Setelah selesai mencium Latifah langsung terkiki geli karena pipinya yang gembil dicubit sayang oleh Ayahnya.

“Ayah! Kembar!” Latifah menunjuk celemek yang digunakannya dengan celemek yang masih kugunakan.

“Iya! Anak ayah manis!”

“Ayah makan! Makan!” Latifah menunjuk ke dapur, sementara suamiku menatap kebingungan. Aku langsung meraih tas kerja suamiku dan menariknya ke dapur.

Di meja makan terhidang enam potong kue pie yang masih mengepul hangat. Tiga diantaranya terlihat cantik sementara sisanya terlihat berantakan.

“Kue!  Ayah!” Latifah menunjuk tiga potong kue yang berantakan dilanjutkan menunjuk suamiku.

“Wah! Anak ayah hebat! Bisa masak kue kayak bunda!” Suamiku langsung buru-buru duduk di meja makan dan mengambil satu potong kue pie yang dibuat oleh Latifah, mengigitnya dalam satu gigitan besar. Sebentar saja wajah suamiku langsung berubah.

“Ayah! Enyak?” Latifah bergelayut manja di paha ayahnya sementara ayahnya gelagapan, salah tingkah.

“Enyak?” Latifah kembali bertanya dengan mata berbinar. Suamiku malah mengerling ke arahku, meminta bantuan.

Aku tersenyum geli dan ikut duduk di kursi makan yang ada. “Latifah udah capek-capek bikin buat ulang tahun ayah, loh!”

“Eh… iya, enak kok. Anak ayah pinter bikin kue. Kembaran jagonya kayak bunda.” Suamiku salah tingkah, mengelus lembut puncak kepala Latifah. Latifah mengabil dua potong kue pie yang tersisa.

“Habisin!”

Suamiku memasang wajah ngeri, tapi dengan senyum terpaksa ia mengambil juga dua kue pie itu. Memakannya dengan cepat dan menghabiskan air di gelas. Suamiku tersenyum kecut, Latifah tertawa senang, sementara aku tertawa geli.

“Nih, kue buat ayah. Yang ini buatan bunda,” Aku mengeluarkan kue pie yang masih hangat dan baru saja matang.

“Ini buat kita bertiga aja,”

Aku, Latifah dan suamiku mengambil jatah masing-masing dari kue pie hangat yang baru saja kubuat. Suamiku dan Latifah tampak puas dan menikmati kue pie buatanku. Sementara aku melihat mereka makan dengan semangat sudah membuatku senang.

“Enak?” Aku bertanya.

“Enak!”

“Enyak!”

Dan kami pun tertawa riang di dapur yang hangat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s