NHW#9 – Ibu Sebagai Agen Perubahan

Tugas kali ini masih berhubungan dengan NHW yang sebelumnya, tepatnya NHW 7 dan NHW 8. Gak kerasa udah NHW 9 dan Insyaa Allah ini adalah NHW terakhir di pekan ini sebelum ketahuan apakah aku lulus atau enggak dalam kelas matrikulasi 😛

Gak banyak yang mau ditulis juga karena tugas kali ini adalah menghubungkan antara minat dan passion kita kearah isu sosial. Kenapa berhubungan dengan passion kita? Yah, karena kegiatan awalnya aja menulis dan membaca, kegiatan yang emang saya suka dan saya bisa. Jadinya kalau kegiatan ini emang sesuai di passion kita diharapkan kita juga bisa membantu permasalahan sosial yang ada di bidang kegiatan tersebut.

Sebenarnya enggak banyak permasalahan sosial dalam bidang membaca dan menulis, malahan bisa dibilang permasalahan klasik. Dari sejak jaman saya masih bocah ingusan baru kenal yang namanya buku sampai sekarang yang saya udah hobi banget baca dan hunting buku keren permasalahannya masih aja sama. Untuk membaca permasalahannya minat baca buku di masyarakat masih rendah. Sementara untuk menulis bisa dibilang masyarakat Indonesia masih aja kaku untuk masalah nulis. Nulis disini maksudnya adalah menghasilkan tulisan ya, bukannya nulis pakai pensil atau pena walau boleh pakai apapun sih sebagai media nulisnya termasuk laptop.

Tabel isu sosial

Kenapa minat baca di Indonesia rendah itu karena indikator penilaiannya berdasarkan jumlah judul buku yang dijual per tahunnya di toko buku offline. Jadi kalau misalnya kita cuma baca buku bentuk digital atau sekedar minjem buku udah dipastikan itu gak masuk dalam indikator penilaian. Selain itu harga buku di Indonesia yang makin lama makin mahal membuat kita sebagai customer buku mikir-mikir untuk beli buku, kecuali kalau lagi diskonan buku, baru deh tuh diborong semua.

Selain itu pendidikan di Indonesia tidak mewajibkan siswanya untuk membaca, terutama membaca sastra klasik Indonesia. Karena dari awal para siswa tidak dilatih untuk membiasakan membaca jadinya minat baca masyarakat di Indonesia juga gak tinggi-tinggi amat.

Mengenai minat menulis kasusnya hampir sama dengan membaca. Karena kegiatan menulis itu sinkron dengan membaca, kalau dari awal enggak dibiasain membaca maka untuk menulis juga rada susah. Padahal biasanya orang yang mau menulis awalnya harus membaca sumbernya, kan? Misal dia mau nulis cerpen atau novel pasti dia baca dulu cerpen-cerpen atau novel yang bagus dan mencontoh tulisannya. Karena dari awal enggak dibiasain membaca, akhirnya minat menulis juga rendah. Apalagi kalau tiba-tiba harus disuruh cari ide buat menulis pastinya langsung bingung dan kaku untuk menulis.

Sebenarnya awalnya enggak susah, asalkan dari awal memang punya niat dan suka dengan kegiatan membaca dan menulis maka kemampuan dua kegiatan itu bisa diasah. Misalkan dalam kasus saya, untuk membaca setidaknya biasakan untuk membaca minimal satu paragraf, lama-kelamaan jumlah minimal baca bisa ditingkatkan dari satu paragraf menjadi satu halaman hingga menyelesaikan satu buku dalam waktu singkat. Begitu juga dalam hal menulis, biasakan menulis dalam jumlah kata yang sedikit lama-kelamaan akan terbiasa menulis panjang. Kedua hal itu adalah permasalahan paling umum dan klasik yang terjadi di Indonesia, tapi penyelesaiannya sebenarnya sederhana. Masalahnya adalah apakah kita memang mau berubah dan berusaha ambil bagian untuk mengubah lingkungan? Itu hanya bisa dijawab oleh masing-masing orang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s