Target: Cemceman Hati

Senapan?

Kondisi baik.

Bidikan?

Kondisi baik.

Hari ini Abdul sedang pemeriksaan dua pekanan senapan laras panjang miliknya. Biasalah, Cuma sekedar memastikan agar senjatanya siap siaga digunakan kalau tiba-tiba harus menjalani misi dadakan, ke Zimbabwe, misalnya. Jangan sampai pas mau digunakan tetiba senapannya mendadak macet gegara karatan atau apa. Ok, senapannya gak mungkin karatan! Karena selain dirinya pastinya kesatuan militernya selalu mengadakan cek rutinan senapan tiap hari. Jadi gak mungkin ada cerita senapan mendadak macet gegara karatan. Tapi karena senapan ini punya Abdul, eh ralat, tanggung jawab milik Abdul, jadi otomatis senapan ini harus dirawat dan disayang. Tidak lupa harus dicintai, sebesar rasa cintaku padamu~

Dan karena hari ini hari Jumat, Abdul punya banyak waktu senggang untuk cek senapan miliknya dengan rasa sayang.

Sebenernya bohong banget sih dibilang Abdul gak punya kegiatan apapun. Paling tepat adalah Abdul sengaja meluangkan waktu Jumat pagi, tepatnya pukul 7 sampai 9 pagi supaya dia gak punya kegiatan apapun.

Abdul sedang berada di gudang angkatan militer berlantai lima. Tepatnya sekarang ia ada di lantai tiga. Wajahnya serius dan tampak waspada. Senapan laras panjang miliknya itu siaga di tangannya. Sebenernya dalam senapan itu enggak ada peluru apapun, jadinya enggak terlalu bahaya. Cuma karena Abdul pasang wajah sangar sambil nenteng senapan otomatis jin -yang kabarnya suka diem di ruangan itu- jadi keliatan kurang serem dan minggat dari ruangan itu sambil kisruh misruh. Maklum, kalah sangar dibanding Abdul.

Abdul meletakkan teropong bidikan senapan di depan matanya. Matanya menelusuri satu sosok target yang nun ada di sebelah sana. Yah, Abdul menaksir seenggaknya jarak antara target dan dirinya sekitar 100 meter di seberang jalan.

Saat Abdul memperhatikan tingkah laku sang target dari balik bidikan teropongnya, si target justru gak sadar apa-apa dan menjalankan kegiatannya seperti biasa. Bahkan sang target masih bisa tersenyum dengan indahnya, membuat hati Abdul jadi ter-enyuh.

Status target?

Hari ini target masih kelihatan cantik seperti biasanya.

CANTIK???

Ya, itu dia! Kalau anda semua melihat melalui bidikan yang sedang diarahkan, yang dibidik adalah seorang gadis cantik guru TK tetangga seberang jalan! Cantik sih, manis pula. Apalagi pakai jilbab panjang yang berkibar plus digandeng kesana kemari sama anak-anak krucil kayak bola. Cowok mana sih yang gak bakal ter-enyuh sama pemandangan kayak gitu. Tipe cewek idaman pas untuk istri ideal!

Abdul mengatur fokus bidikannya agar bisa mengawasi lingkungan targetnya lebih luas lagi. Tapi ternyata tidak ada pemandangan apapun selalin lebih banyak anak-anak krucil kelebihan semangat yang menarik-narik guru yang lain agar bergabung bermain bersama mereka. Entah itu main lompat tali karet, main bola atau entah main lainnya. Yang jelas sang target juga ikut bermain bersama anak-anak. Sungguh pemandangan yang indah untuk jombloers seperti dirinya.

“Lumayan cakep juga target elo.”

“Iyalah, standar gue cewek itu harus-“ Abdul berhenti ngoceh dan tersadar, harusnya ia sendirian saja di ruangan ini.

Kepalanya menoleh dan melihat sosok Rizki yang sudah berdiri di sampingnya, tepat di depan jendela. Matanya menatap melalui teropong ke arah yang sama yang baru saja diintip oleh Abdul. Ia langsung mendorong teropong itu dari dekat mata Rizki.

“Jangan ngintip! Itu target gue!”

“Aelah mas bro! Di TK seberang seenggaknya ada lima orang guru TK berjenis kelamin perempuan. Iya kali lima-limanya target elo semua!” Rizki masih berusaha mengintip melalui teropongnya tapi tangan Abdul masih menahan.

“Iya, tapi siapa tau aja yang lagi elo intip itu target gue!” Tangan Abdul masih mencoba menahan teropong Rizki yang masih membandel.

“Makanya elo bilang ciri-ciri target elo.”

Abdul dan Rizki masih berkutat satu sama lain sampai akhirnya usaha Abdul jelas gagal dan Rizki kembali mengintip lewat teropongnya. Abdul jelas-jelas ngedumel karena Rizki sudah menganggu waktu senggangnya yang berharga.

“Eh mas bro, jangan bilang target elo yang pakai jilbab biru.”

“Emang kenapa?”

“Karena kalau itu target elo, sekarang lagi ada cowok yang kayaknya pedekate sama si target.”

Abdul buru-buru mengintip lewat bidikannya dan ternyata benar, saat ini target pujaan hatinya sedang ngobrol dengan seorang cowok yang kayaknya kalau dilihat dari baju yang dipakainya, sesama pekerja di TK seberang jalan. Mereka mengobrol dengan akrab, bahkan sesekali sang target idaman hati memberikan senyum manisnya. Dan Abdul benar-benar tidak suka itu!

“Musuh terdeteksi. Dari sini gue dapet jelas sasaran musuh.”

“Eh, yang bener aja! Elo sehat?!” Rizki kaget dan menjitak kepala Abdul. Yang dijitak kepalanya cuma kisruh misruh sambil ngusep-ngusep kepala.

“Ah, ganggu aja!”

“Ada juga elo yang salah. Elo masih sehat kan mas bro?”

“Jelas masih sehat makanya gue mau bidik tuh lawan gue.”

“Bagus deh, supaya tambah sehat kalian lari keliling lapangan tembak 50 putaran ya.”

Suara yang dingin yang terdengar dari belakang leher Abdul dan Rizki, mampu menegakkan bulu kuduk mereka. Dan saat mereka melirik sosok tersebut ternyata komandan mereka, Andre sudah berdiri di belakang mereka. Wajahnya tidak kalah sangar.

“Eh komandan,” Rizki senyum-senyum gugup.

“Hehe, sehat ‘ndan?” Abdul gak kalah cengar-cengir.

“Satu… dua…,” Andre mulai perlahan menghitung sementara Abdul dan Rizki buru-buru langsung kabur dari ruangan itu. Sambil berlari Abdul menatap jengkel pada Rizki yang sekarang masih cengengesan sambil melempar tanda peace dari jarinya. Berantakan sudah rencananya untuk mengintip kegiatan sang target hari ini. Dan semua itu salah Rizki!

Status

Males uy…akhir-akhir ini kerjaannya cuma main laptop terus searching sana sini yang enggak jelas. Padahal harusnya nulis buat grup IOC lah, nulis novel yang tertunda lah, baca buku barulah, apalah atau nyetrika tapi gak ada satupun yang dikerjain.

Padaha; di dekstop udah disediain semua bahan-bahan buat nulis novel, tapi males banget nulisnya. Padahal ada banyak buku yang bisa dibaca tapi gak ada baca juga. Padahal setrikaan numpuk tapi masih males aja buat ngerjain. Dan yang lebih emejing adalah mulai males nonton film. Padahal mah tuh nonton film tinggal pencet tombol play aja, tapi ya gitu deh. Males super!

Kayaknya lagi jenuh deh tapi gak tau harus ngapain. Sekarang mah kerjaanya kalau udah males palingan baca Quran, dengerin Rukyah atau MP3 ayat Al-Quran tapi tetep aja masih berasa males.

Tau sih lagi jenuh tapi gak tahu jenuh kenapa. Kenapa ya?

35 Sirah Shahabiyah: 35 Sahabat Wanita Rasullullah SAW Jilid 1

20170427_102006

Judul Asli : Shahabiyyaat Haul Ar-Rasuul saw

Penulis : Mahmud Al-Mishri

Penerjemah : Asep Sobari, Lc. dan Muhil Dhofir, Lc.

Tahun, Cetakan : Juni 2010, Cetakan Ketujuh

Penerbit : Al-I’tishom Cahaya Umat

ISBN : 979-3071-36-2


Sahabat-sahabat Nabi saw. adalah generasi terbaik sepanjang sejarah peradaban manusia setelah para Nabi dan Rasul. Demikian halnya dengan para sahabat wanita yang hidup bersama mereka. Setiap sahabat wanita ibarat kuntum bunga yang tumbuh di ladang Islam. Lalu, ketika awan berarak di atasnya dan menumpahkan air hujan, bunga yang bersih dan sarat dengan nilai takwa itu terus tumbuh subur dengan pupuk yang diperleh dari dua sumber yang bersih, yakni Al-Quran dan As-Sunnah. Maka, pada masa berikutnya, ia menebarkan semerbak keharumannya kepada seluruh pelosok alam raya dengan keharuman iman dan tauhid. Demikian halnya dengan pengorbanan dan kegigihan dalam membela akidahnya. Mereka mau mengorbankan segala yang dimiliki untuk kepentingan Islam dan tidak jerih dengan kezhaliman, siksaan, dan kematian yang harus dihadapinya.

Mari menuju oase yang subur dengan buah-buahan yang ranum untuk berjumpa dengan wanita-wanita yang tulus dan menghirup aroma ketulusan mereka. Mari kita teguk kesegaran air dan kita hirup keharuman kisah dari: 1. Khadijah binti Khuwailid ra., 2. Saudah binti Zam’ah ra., 3. ‘Aisyah binti Abu Bakar ra., 4. Hafshah binti Umar ra., 5. Zainab binti Khuzaimah ra., 6. Ummu Salamah ra., 7. Zainab binti Jahsy ra., 8. Juwairiyah binti Al-Harits ra., 9. Ramlah binti Abu Sufyan (Ummu Habibah) ra., 10. Shafiyyah binti Huyay ra., 11. Maimunah binti Al-Harits ra., 12. Fatimah binti Rasulullah saw., 13. Halimah As-Sa’diyah.


Sesuai judulnya, buku ini adalah jilid satu dari total dua jilid buku. Dalam buku ini dijelaskan sirah beserta peranan para sahabat wanita zaman Rasulullah saw. Jelasnya urutan 1 sampai 11 adalah peranan para istri nabi atau biasa kita kenal Ummul Mukminin dalam sejarah Islam. Untuk nomor 12 jelas itu adalah putri Rasulullah yang tercinta, Fatimah. Sementara untuk nomor 13 itu adalah ibu susuan Rasulullah.

Menuliskan sirah para sahabat wanita ini jelas tidak bisa mendetil sekali. Karena banyaknya jasa dan terbatasnya halaman kertas menjadi salah satu permasalahan penulis untuk menuliskan semua jasa mereka. Selain itu keterbatasan penulis untuk mengungkapkan keagungan dan harumnya jasa mereka juga menjadi salah satu kendala yang lain. Meskipun begitu kita sebagai pembaca masih bisa meneladani kisah mereka dan menjadi catatan terutama bagi wanita muslimah zaman ini yang kekurangan idola muslimah yang bisa diteladani.

Buku ini lumayan bagus dan saya rekomendasikan karena bahasanya yang mudah dipahami dan tidak bertele-tele. Penulis menuliskan isi buku dengan gaya bercerita disertai sub bab yang menarik dan jelas, membuat pembaca merasa ketagihan untuk terus membaca dan tidak mau menutup bukunya, setidaknya sebelum menyelesaikan satu sirah sahabat wanita. Banyak pelajaran dan kebijaksanaan yang dapat diambil dan diteladani, terutama bagi wanita muslimah yang sudah kebingungan harus bersikap seperti apa sebagai muslimah sejati.

Selain itu sumber yang digunakan juga mendetil dan dari berbagai sumber dengan status hadis yang jelas dan tidak meragukan.  Menjadikan buku ini mempunyai riwayat yang In shaa Allah jelas dan bisa dipertanggung jawabkan. Sebagai pembaca saya sangat menyenangi buku ini karena bisa memberikan gambaran kepada saya untuk menjadi muslimah yang tidak hanya cantik diluar, tetapi juga cantik di dalam serta memiliki sifat pemberani untuk membela Islam. Terutama dengan keadaan yang lumayan rusuh di negeriku ini, Indonesia.

Alice’s Adventures in Wonderland

20170427_101610

Author : Lewis Carroll

Year : 2015

Published : Macmillan Children’s Books

ISBN : 978-1-4472-7999-0

…suddenly a White Rabbit with pink eyes ran close by her.

So begin Lewis Carroll’s famous story, which has become one of the best-loved books ever written.

Alice’s adventures lead her down the rabbit-hole into Wonderland, where she meets an array of curious characters, including the Mad Hatter, the Mock Turtle and the grinning Cheshire-Cat.


Akhirnya setelah sekian lama nemu juga salah satu buku klasik ini di bazaar buku paling heboh, Big Bad Wolf 2017. Buku ini adalah salah satu dari sekian buku yang saya beli (baca: langsung beli tanpa ngelirik buku lain). Alasannya enggak lain karena ini adalah salah satu buku klasik yang harus saya punya!

Ceritanya sebenernya udah enggak aneh lagi, seorang gadis cilik bernama Alice yang sedang duduk di tepi sungai bersama kakak perempuannya di suatu hari yang panas di musim panas. Alice kecil merasa bosan menemani kakaknya yang sedang membaca buku yang berderet tulisan, tanpa gambar maupun tanpa percakapan. Nah, saat Alice ini lagi bosan dia melihat seekor kelinci putih menggunakan waistcoat dan melirik jam sakunya sambil mengeluh kalau ia terlambat untuk sesuatu. Alice kecil yang selalu merasa penasaran pun mengikuti si kelinci putih dan memulai petualangannya di wonderland.

Untuk baca buku ini sebenernya enggak perlu mikir sih. Tapi karena buku ini dalam versi bahasa inggris palingan mikir cuma buat ngartiin aja jalan cerita isi buku ini. Sisanya sih buat saya enggak perlu terlalu dipikirkan karena semua tokoh yang ada di buku ini beneran gila! Saking gilanya kita gak perlu susah payah untuk berpikir, cukup baca dengan tenang. Meski begitu bukan berarti buku ini enggak bisa ditelaah dan dibedah. Bisa sih, cuma saya gak bakal menjelaskan dan menjabarkan apa isi buku ini macam kritikus. Banyak web yang bisa ngejelasin hal itu dan tulisan saya ini bukan bermaksud untuk membedah buku Alice ini.

Balik lagi ke masalah karakter yang gila, semua karakter disini emang rada-rada. Misalnya aja Mad Hatter dan March Hare yang terus-terusan minum teh yang enggak selesa-selesai sejak beberapa minggu yang lalu gegara jam mereka berhenti di waktu untuk minum teh. Atau para tukang kebun yang ngecat mawar putih jadi merah gegara mereka salah tanam pohon mawar. Atau Alice yang harus ikutan lomba lari yang enggak selesai-selesai cuma untuk mengeringkan diri setelah kebanjiran. Atau ratu hati yang demen banget bentar-bentar perintah “penggal kepala dia!”.

Nah loh, Alice gadis kecil paling baru umur 6 atau 7 tahun menghadapi semua kegilaan itu gimana coba? Saking gilanya si Alice malah udah jadi terbiasa menghadapi semua kegilaan itu. Termasuk menghadapi Cheshire-Cat yang suka menghilang dan nyengir lebar.

Dannn…masih banyak lagi sih. Tapi cerita ini juga emang bukan rahasia karena seenggaknya pasti udah pernah denger dong endingnya. Yak, semua itu hanya mimpi! Cuma gue merasa puas sih bisa beli buku ini di BBW! Dengan ini perjalanan gue untuk mengoleksi classical pun resmi dimulai!

Btw, buku ini layak dibeli buat kalian yang juga tertarik sama classical dan baru mau belajar baca buku english version.

Aside

Pemilu!

Jadi kemarin tanggal 19 gue melaksanakan kewajiban gue dalam pesta demokrasi rakyat! Iye…apalagi kalau bukan pemilu pilkada Jakarta season 2?!

20170419_073857

Sebenernya kagak heboh-heboh amat sih. Gegara suami diharuskan balik lagi ke kantor maksimal jam 11 siang akhirnya kami pakai sistem kebut. Kami datang, Kami nyoblos, Kami pulang. Simpel, kan? Terpaksa pulang cepet dan gak bisa nungguin hasil penghitungannya sih. Tapi gak masalah deh, soalnya lewat quick countternyata yang gue nyoblos menang. Tinggal nunggu perhitungan yang sebenernya aja.

Pas ke sana dipikir bakal sepi. Eh ternyata udah ramai. Kayaknya nasibnya banyak juga kayak suami gue, kantor di daerah dan harus balik cepet. Wkwkwk banget… 😛

20170419_073534

TPS gue dijagain sama satu polisi sama satu TNI. Karena gue gak berani moto mereka dari deket jadinya gue poto aja dari jauh 😛

Bersin

HACHIMM!

Semua orang atau tepatnya semua serdadu yang sedang berlatih menembak langsung berhenti dan melihat ke satu arah. Ke arah si pelaku yang baru saja bersin dengan kerasnya.

Rizki, nama serdadu itu mengelap hidungnya sambil bergumam minta maaf.

Rizki kembali berusaha berkonsentrasi, matanya menatap melalui teropong senapannya dan berusaha membidik papan sasaran yang terpasang nun jauh disana. Tapi entah kenapa matanya rasanya berat sekali, telinga berdengin dan tiba-tiba saja-

HACHIMM!

DOR!

-jarinya tidak sengaja menekan pelatuk senapan. Untung saja latihan menembak kali ini menggunakan peluru karet, walau kalau kena ke badan tetap saja bisa mengakibatkan luka yang fatal. Tapi yang jadi fokus saat ini bukan peluru karet ataupun Rizki yang tidak sengaja menembak atau apapun. Melainkan peluru yang tidak sengaja ditembak itu berhasil menembus pusat papan sasaran.

“Wow, hebat Ki! Udah jago elo sekarang!”

Rizki, pelaku penembakan tidak sengaja itu cuma pasrah. “Suer deh gue gak sengaja. Itu tadi ketekan pelatuknya.” Rizki kembali memasang posisi siap untuk menembak. Tapi masih sama seperti tadi matanya terasa berat, hidungnya terasa gatal hingga-

HACHIMM!

DOR!

-lagi-lagi peluru karet menembus papan sasaran.

“Ah gila lo! Udah jago sekarang.” Abdul teman satu angkatan Rizki meninju pelan pundak Rizki.

“Kagak! Beneran suer deh! Elo kagak liat gue-gue- HACHIMM!”

Abdul mundur dua langkah. “Dua kali bersin dan elo selalu pas kena pusat papan sasaran. Ajarin gue lah,”

Rizki baru saja mau memprotes sebelum akhirnya ia kembali bersin, berkali-kali dan berturut-turut. Setalah bersin wajah Rizki malah semakin gak keruan, mata merah dengan hidung bengkak. Benar-benar bukan wajah yang sedap dipandang.

“Gak kuat gue. Gue ngizin dulu deh sama pelatih,” Rizki males menanggapin Abdul yang masih penasaran dengan keberuntungannya. Kakinya melangkah mendekati si pelatih untuk izin latihan.

“Yaudah deh. Nanti kalau udah sembuh ajarin gue ya!” Abdul berujar dengan ngotot. Sayang Rizki tidak mendengarkan dan semakin melangkah menjauh dari sana.

.

.

.

Sepekan kemudian

Rizki sedang memasang pose untuk berlatih menembak, jarinya telunjuknya sudah siap di pelatuk senapan sementara matanya awas menatap sasaran.

“Udah sembuh Ki? Ajarin gue nembak ya?” Abdul datang entah dari mana. Tapi Rizki Cuma memasang pose serius dan menekan pelatuk senapan-

DOR!

-yang menunjukkan Rizki gagal mencapai sasaran.

“Yah, kok gagal sih? Coba lagi gih,”

Tanpa perlu disuruh Rizki sudah menembak lagi, tapi sayang pusat sasaran masih kinclong sementara peluru kedua Rizki menembus tepi sasaran. Abdul melempar tatapan tidak percaya.

“Kok bisa sih? Pekan lalu elo jago banget.”

Rizki bangkit dari posisinya, “Kan gue udah bilang itu semua kebetulan doang.” Wajah Rizki benar-benar jengkel sekarang.

“Kayaknya elo lebih bagus bersin aja terus biar semua tembakan elo kena sasaran,”

Rizki melotot, “Gak sopan!”

Aside

Masa Kecil

Jadi inget masa kecil gue yang indah. Oh iya, FYI gue kelahiran tahun 90 dimana anak kelahiran segitu adalah generasi anak paling bahagia.

Why?

Karena kita bisa nonton anime setiap hari ahad dari jam 5 subuh sampai jam 12 siang!

Coba! Bocah generasi sekarang emang bisa kayak gitu? Kagak bisa cuy!

Inget banget dulu jam 5 subuh ada namanya Shaman King. Tapi karena anime nya agak aneh jadinya lebih milih baca komiknya aja.

Terus lupa ada apa lagi. Tapi seinget gu ada anime Gundam Seed (gak tau yang destiny atau masih yang season satu), Fushigi Yuugi sama entah anime lain. Tapi yang pasti dulu anime yang paling pagi diputer itu jam 7 pagi yaitu Doraemon.

Doremon itu adalah komik pertama yang gue baca waktu jaman bocah dan gue pakai sebagai latihan belajar baca. Kalau gak salah dulu komik Doraemon yang pertama kali dibeli komik petualangan di negara anjing gitu sih. Lupa judulnya tapi intinya gitulah.

Komik kedua yang mengisi masa kecil gua yang bahagia adalah Sailor Moon. Iyee, gue masih jadi penggemar beratnya Sailor Moon bahkan sampai sekarang. Malahan dulu saking ngefans gue sampai ngebayangin kalau sebenarnya gue ini Sailor Saturnus. Dulu sih sempet suka sama sailor mercury, tapi begitu saturnus muncul langsung berpindah ke lain hati. Kapan-kapan mungkin gue mau nulis sesuatu mengenai sailor saturnus ini saking naksirnya gue sama dia.

Dan komik terakhir yang mengisi masa kecil gue sekaligus yang paling bikin BT adalah ini:

Gue ngikutin komik ini dari jaman komiknya masih harga 3500 dan memutuskan untuk berhenti beli gegara harganya udah mahal banget. Padahal gue pelajar miskin yang juga demen baca buku jadinya agak susah kalau harus nabung komik yang harganya aje gilee… :”(

Bahkan sampai jaman gue udah nikah komiknya belom beres, misterinya belom beres malah jadi nambah misteri baru 😦 lelah hayati belinya…makanya ngikutin lewat online aja.

Dan masih banyak lagi anime manga yang mengisi masa kecil gue yang manis. Kagak heran kalau sekarang gue jadi otaku…wkwkwkw….. kapan-kapan nulis lagi ah mengenai anime manga dan games 😛

#Nemu Oreki Houtarou, Jane Marple dan Hercule Poirot versi Aoyama Gosho. Sayang Jane Marplenya gak begitu bagus. Mereka bertiga adalah detektif kesukaanku plus sama Hajime Kindaichi. Mereka adalah contoh detektif yang manusia banget. Dan mereka berempat ini adalah favoritku. Kalau Conan…ehm… bukannya gak suka sih. Suka cuma kayaknya Conan aka Shinichi terlalu sempurna jadi biasa aja sih 😦