Skuadron Semut dan Mi Goreng

Kami adalah Skuadron  Semut.

Nama yang imut, kami tahu. Tapi itulah dia, para atasan bilang walau nama kami imut tapi mereka harap kami bisa sama galaknya seperti semut merah yang menyengat.

.

.

 “Hei, jadi kan?”

“Jadi dong. Ini lagi siap-siap. Kan mulai jam 9 malam.”

“Duh, gue belom siap!”

“Gimana sih?! Ngantri tuh!”

“Plis mak! Jangan tatap kami dengan prihatin gitu!”

“Makanya cepetan nikah! Kalau mau curhat ada yang dengerin!”

.

.

Kami adalah angkatan militer yang baru saja diangkat dan dilatih untuk jadi Kopassus. Kau tahu jadi Kopassus itu lumayan membuat kepala kami migren, stress dan baper.

.

.

“Yak! Semua kumpul di tempat yang telah disediakan!”

Semua orang duduk di kursi masing-masing, mengelilingi meja panjang yang disatukan di ruang kantin asrama militer.

.

.

Saat orang lain mencoba bebas dari stress dengan cara jalan-jalan atau main game, kami malah-

.

.

Pemimpin acara memandang sekeliling. Beberapa peserta ada yang gugup dan tegang. Beberapa tidak bisa menyembunyikan kebaperannya. Yang lain menatap penuh minat pada piring yang terletak di depan mereka masing-masing.

“Kita akan buka acara pekan ini dengan evaluasi porsi mi goreng di piring masing-masing peserta,”

-makan mi goreng.

.

.

Setiap dua pekan sekali, kami angkatan skuadron semut akan mengadakan acara alir rasa, atau bahasa kerennya curhat sambil makan mi goreng. Kau tahu beban berat, stress berat dengan latihan yang luar binasa, makanya acara curhat ini adalah acara yang paling kami tunggu-tunggu tiap dua pekan. Hei, kami Kopassus juga manusia biasa tau!

Kenapa dua pekan sekali?

Yah, tadinya sih pernah diadain seminggu sekali. Tapi rasanya gimana gitu loh, kok kayaknya lembek amat. Padahal jadi Kopassus itu harus bermental permata! Iya bener permata! Permata kan benda yang paling keras di dunia.

Cukup ngaconya, kita lanjut.  Karena seminggu sekali cukup menguras kantong akhirnya kami pindah acaranya jadi sebulan sekali. Tapi setelah dilakuin sebulan sekali ternyata yang curhat terlalu lama karena ada terlalu banyak kejadian yang harus dicurhatin dalam kegiatan satu bulan itu. Akhirnya kami ubah lagi jadi tiap dua pekan sekali.

Nah, pas tiap dua pekan sekali diadain barulah terasa enaknya buat kami semua. Hati plong karena udah curhat dan dompet juga gak pekak gegara tiap minggu harus jajan mi goreng.

.

.

“Hati gue lagi nyes banget. Bener-bener nyes. Pacar gue mutusin gue secara sepihak. Jadinya gue masak 3 porsi mi goreng yang kayaknya sesuai buat tingkat stress gue!” curhat salah satu peserta.

Ada yang menatap prihatin tapi banyak yang menatap dingin seakan mengatakan yaelah-bro-cewe-bukan-cuma-satu-di-dunia.  Saking malesnya denger curhat gak bermutu itu para peserta ngambil jatah mi goreng pihak yang lagi curhat dari tiga porsi jadi dua porsi mi goreng. Harusnya sih ngambil lagi jadi kesisa satu porsi, cuma you knowlah mana puas makan mi goreng cuma satu porsi?

Pemimpin acara rasanya keki banget denger curhat baper itu, tapi disabar-sabarin. Untung aja curhatnya gak terlalu banyak jadinya dia bisa nunjuk orang lain untuk ngelanjutin acara curhat mereka.

“Hari ini gue latihan ngerangkak di lumpur,”

“Yaelah mas bro! Latihan gitu mah kurang greget!” peserta lain mencemooh curhatan peserta kedua.

Yang lagi curhat mengangkat tangannya, berusaha meredam cemoohan para peserta lain, “Yang bikin greget adalah gue ngerangkak di lumpur sambil dihujanin peluru bedil sebanyak tiga ratus peluru senapan, cuy!”

Hoo! Ini baru greget! Peserta yang lain langsung tepuk tangan.

Si curhat nomor 2 mengaku ia memasak empat porsi mie goreng yang kayaknya sesuai dengan tingkat stress dia. Awalnya pembawa acara mau nawarin siapa tau dia mau nambah porsi mi gorengnya jadi enam porsi. Tapi dasar rakus, yang ada para peserta lain bilang tingkat stress si greget ini cuma setara tiga setengah porsi.

Tiga setengah porsi! Bayangin!

Emang dasar rakus! Si pembawa acara cuma geleng-geleng kepala ngeliat temen seangkatannya yang rupanya dalam bidang mi goreng lumayan bersemangat. Bersemangat mengurangi jatah kawan buat ditambah ke jatah piring masing-masing.

“Komandan gue nyuruh gue push-up 500 kali dilanjut keliling lapangan rumput 25 kali.”

Bah! Curhat ini cuma setara dua porsi mi goreng, sama kayak curhat nomor satu.

“Gue gak sengaja matahin bedil gue!” Huwoo greget sekali. Setara dengan empat porsi mi goreng.

“Gue disuruh motongin rumput halaman latihan.” Ngeekk. Satu porsi mi goreng.

“Gue disuruh ngebedil tiga ratus peluru buat dia!” sambil nunjuk si curhat nomor 2. Lumayanlah, tiga porsi mi goreng cukup.

Dan seterusnya.

Dan seterusnya.

Dan sekian terima kasih.

.

.

.

Acara curhat dimulai jam sembilan malam dan berakhir jam dua belas malam. Pas banget kayak Cinderella. Bedanya semua peserta sudah punya hati yang plong dan perut yang kenyang. Terima kasih atas jasamu mi goreng. Kau memang teman setia dimana saja.

“Baiklah mari kita tutup acara curhat pekan ini dengan mencuci piring masing-masing,”

Sekejap semua peserta langsung ngacir ke tempat cuci piring. Ada yang khusus buat nyabunin piring sama sendok, ada yang khusus ngebilas doang, dan ada yang ngelapin piring dan sendok dengan baik dan benar lalu disimpan di tempat peralatan makan. Disini semua harus serba teratur dan rapi cuy. Kalau enggak kau akan merasakan neraka dunia yang kejam yang disebut kemarahan ibu kantin. Percayalah, itu bukan jenis neraka yang kau ingin alami. Setelah selesai ngeberesin peralatan makan semua peserta balik lagi ke kursi masing-masing.

“Kita berdoa semoga acara kali ini bermanfaat,” Langsung terdengar bisik-bisik dan gumaman doa dilanjut menyapu muka sehabis doa. Duh, soleh sekali. Good job.

“Dan berpelukan.”

Semua peserta langsung kumpul jadi satu, saling peluk satu sama lain. Mereka berpelukan sambil berseru dengan riang, “Berpelukaaan~,” duh jadi inget acara jaman masih bocah banget. So sweet~

“Baiklah selamat malam semua. Kami akan tunggu lagi kehadiran kalian dua minggu lagi,” pembawa acara resmi menutup acara.

Semua peserta membereskan kursi mereka masing-masing lalu berpelukan dan ber-dadah kepada semua kawan satu angkatan. Iyuuh~ co cuwit sekalee. Mereka keluar, bubar dengan hati yang tenang dan perut yang kenyang.

Yeah, Kopassus juga manusia biasa toh.


A/N: Ngawur sengawurnya… duh…kalo ada anggota Kopassus atau TNI yang baca cerita saya tolong jangan bedil saya :p

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s