Bersin

HACHIMM!

Semua orang atau tepatnya semua serdadu yang sedang berlatih menembak langsung berhenti dan melihat ke satu arah. Ke arah si pelaku yang baru saja bersin dengan kerasnya.

Rizki, nama serdadu itu mengelap hidungnya sambil bergumam minta maaf.

Rizki kembali berusaha berkonsentrasi, matanya menatap melalui teropong senapannya dan berusaha membidik papan sasaran yang terpasang nun jauh disana. Tapi entah kenapa matanya rasanya berat sekali, telinga berdengin dan tiba-tiba saja-

HACHIMM!

DOR!

-jarinya tidak sengaja menekan pelatuk senapan. Untung saja latihan menembak kali ini menggunakan peluru karet, walau kalau kena ke badan tetap saja bisa mengakibatkan luka yang fatal. Tapi yang jadi fokus saat ini bukan peluru karet ataupun Rizki yang tidak sengaja menembak atau apapun. Melainkan peluru yang tidak sengaja ditembak itu berhasil menembus pusat papan sasaran.

“Wow, hebat Ki! Udah jago elo sekarang!”

Rizki, pelaku penembakan tidak sengaja itu cuma pasrah. “Suer deh gue gak sengaja. Itu tadi ketekan pelatuknya.” Rizki kembali memasang posisi siap untuk menembak. Tapi masih sama seperti tadi matanya terasa berat, hidungnya terasa gatal hingga-

HACHIMM!

DOR!

-lagi-lagi peluru karet menembus papan sasaran.

“Ah gila lo! Udah jago sekarang.” Abdul teman satu angkatan Rizki meninju pelan pundak Rizki.

“Kagak! Beneran suer deh! Elo kagak liat gue-gue- HACHIMM!”

Abdul mundur dua langkah. “Dua kali bersin dan elo selalu pas kena pusat papan sasaran. Ajarin gue lah,”

Rizki baru saja mau memprotes sebelum akhirnya ia kembali bersin, berkali-kali dan berturut-turut. Setalah bersin wajah Rizki malah semakin gak keruan, mata merah dengan hidung bengkak. Benar-benar bukan wajah yang sedap dipandang.

“Gak kuat gue. Gue ngizin dulu deh sama pelatih,” Rizki males menanggapin Abdul yang masih penasaran dengan keberuntungannya. Kakinya melangkah mendekati si pelatih untuk izin latihan.

“Yaudah deh. Nanti kalau udah sembuh ajarin gue ya!” Abdul berujar dengan ngotot. Sayang Rizki tidak mendengarkan dan semakin melangkah menjauh dari sana.

.

.

.

Sepekan kemudian

Rizki sedang memasang pose untuk berlatih menembak, jarinya telunjuknya sudah siap di pelatuk senapan sementara matanya awas menatap sasaran.

“Udah sembuh Ki? Ajarin gue nembak ya?” Abdul datang entah dari mana. Tapi Rizki Cuma memasang pose serius dan menekan pelatuk senapan-

DOR!

-yang menunjukkan Rizki gagal mencapai sasaran.

“Yah, kok gagal sih? Coba lagi gih,”

Tanpa perlu disuruh Rizki sudah menembak lagi, tapi sayang pusat sasaran masih kinclong sementara peluru kedua Rizki menembus tepi sasaran. Abdul melempar tatapan tidak percaya.

“Kok bisa sih? Pekan lalu elo jago banget.”

Rizki bangkit dari posisinya, “Kan gue udah bilang itu semua kebetulan doang.” Wajah Rizki benar-benar jengkel sekarang.

“Kayaknya elo lebih bagus bersin aja terus biar semua tembakan elo kena sasaran,”

Rizki melotot, “Gak sopan!”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s