Snow White Fanfic: A Queen With a Broken Heart

Chapter 1

Empat bulan telah berjalan sejak kematian Ratu Baik Hati.

Sebagai seorang anak, Snow White cukup dewasa dan bijak bila dibandingkan dengan anak sebayanya. Tentu saja gadis kecil itu hanyalah seorang gadis kecil berumur empat belas tahun, tapi ketajaman mata dan kebaikan hatinya terkadang membuat sang Raja lupa, bahwa Snow White masihlah seorang gadis kecil yang membutuhkan kasih sayang seorang Ibu. Bila bukan karena Perdana Menteri yang mengingatkan, bahwa Snow White hanyalah gadis kecil yang masih membutuhkan permainan, tentu Sang Raja lupa bahwa gadis kecil itu masihlah anak-anak.

“Perdana Menteri, bagaimana pendapatmu mengenai putriku, Snow White?”

Saat itu adalah senja yang indah, sinar senja jatuh ke atap Istana, membuat semburat senja semakin terasa indah. Sang Raja yang sedang berjalan santai dengan Perdana Menteri mengawasi Snow White yang sedang membaca buku di halaman bawah Istana.

“Di masa depan nanti, tak akan diragukan lagi Ia akan menjadi Ratu yang baik dan bijaksana bagi rakyatnya.” Perdana Menteri memandang Snow White dengan sayang. Bagi Perdana Menteri yang telah udzur itu, Snow White bagaikan cucu kandungnya sendiri.

“Benar.” settitik rasa bangga terselip dalam jawaban Sang Raja.

“Dan ingatlah Yang Mulia, tak peduli sebijaksana apapun Sang Putri, ia tetaplah seorang gadis kecil yang kesepian.”

Sang Raja mengangguk pelan, pertanda setuju. “Apa saranmu, Perdana Menteri?”

Perdana Menteri adalah orang yang pintar. Ia tahu bahwa Raja hanya bertanya berbasa-basi saja. “Yang Mulia lebih memahami kebutuhan gadis kecil itu,”

Sang Raja kembali mengangguk. Hening menyelimuti mereka berdua. Matahari semakin tenggelam, menyapukan kuas merah di langit yang biru. Snow White sudah tidak terlihat lagi di halaman bawah, sementara para pelayan dan pengawal sibuk menyalakan penerangan obor dan lilin.

“Aku akan menikah lagi.” Sang Raja bergumam lambat.

.

.

.
Pengumuman pun disebar. Bagaikan api merambat pada jerami kering, seluruh Negeri sudah mengetahuinya, Sang Raja sedang mencari Istri.

Rakyat bergairah mengikuti berita ini, menjadikan setiap sudut bar penuh hanya dengan masalah Raja yang mencari Istri baru. Para Bangsawan sangat bersemangat, merupakan kesempatan emas untuk menjadi bagian keluarga Raja. Para rakyat biasapun tidak ketinggalan bergairah, menerka dan bertaruh siapa yang akan beruntung menjadi istri Raja.

Snow White tidak terkejut mendengar berita ini. Beberapa hari sebelumnya, Sang Raja telah meminta izin kepada dirinya untuk mengangkat permaisuri baru. Bagi Snow White pun hal ini pasti akan terjadi, jauh sebelum Raja meminta izin pada dirinya. Snow White memahami, Ayahnya masih muda dan belia tentu memerlukan seorang pendamping yang sesuai untuk dirinya. Selain itu, tidak lengkap rasanya bila seorang Raja bertahta tanpa seorang Ratu, menandakan kecacatan negara dan tidak becusnya Raja tersebut.

Karena itulah, dengan senyum pengertian ia mengabulkan permohonan Raja.

Pemilihan calon Ratu digelar. Berminggu-minggu dan berbulan-bulan yang melelahkan, akhirnya tersisa tiga putri bangsawan yang jelita dan anggun. Masing-masing memiliki kelebihan sehingga sulit untuk memutuskan yang mana. Untuk mengatasi hal ini, Raja beserta Snow White memutuskan untuk mengunjungi masing-masing putri di kastil mereka.

Rencana perjalanan sudah diatur. Bagi Snow White yang lama tidak keluar Istana sejak kematian ibunya, Sang Ratu Baik Hati, tentu ini akan menjadi pengalaman yang menyenangkan. Sang Raja pun merasa puas melihat putrinya dalam keadaan senang. Setelah satu hari perjalanan, rombongan itu akhirnya tiba di kastil pertama, dimana calon Ratu bernama Putri Grunhilde. Kedatangan rombongan Raja itu tentu saja disambut dengan meriah oleh penghuni kastil, tak terkecuali Putri Grunhilde sendiri. Akan tetapi Snow White mampu melihatnya, Putri Grunhilde tidak tersenyum tulus melainkan hanya tersenyum karena suatu kewajban saja. Meskipun begitu Snow White tidak mengatakan apapun dan bertekad untuk terus memperhatikan salah satu calon ibunya yang baru itu.

.

.

.

Makan malam digelar dengan mewah dan Snow White beserta Raja dijamu dengan baik. Kecantikan Grunhilde dan kepiawaiannya dalam bermusik dan bersajak menarik perhatian Raja. Apalagi Grunhilde Grunhilde merupakan wanita yang paham mengenai topik politik dan seni berperang, menjadikan Raja memberi perhatian lebih kepada Grunhilde.

Snow White justru menangkap hal yang sebaliknya, memang benar Grunhilde memiliki perilaku dan pengetahuan yang sesuai untuk menjadi seorang Ratu, akan tetapi Snow White menangkap perasaan tak berminat dibalik sikap ramah Grunhilde. Dan hal ini baru diketahui oleh Snow White, malam sebelum kepulangannya dari kastil itu.

Malam itu begitu gelap, rembulan bersembunyi di balik awan. Angin berhembus kencang, memastikan setiap manusia akan terlelap nyaman di permbaringan mereka. Akan tetapi Snow White tidak mampu memicingkan matanya walau hanya sekejap. Karena itulah ia memutuskan untuk berjalan-jalan sejenak. Dan disanalah Snow White mengetahuinya, kenyataan sikap dingin dibalik perilaku ramah Grunhilde.

Dibalik semak dan pepohonan, Grunhilde berpelukan erat dengan seorang pria. Snow White tidak mampu melihat jelas akan tetapi sepertinya pria itu salah seorang dari pengawal kastil. Snow White berusaha mengendap pergi dari tempat itu, berusaha tidak menimbulkan bunyi berisik. Saat Snow White kembali menengok untuk melihat terakhir kalinya, Grunhilde berciuman mesra dengan pengawal itu. Snow White berlari cepat menuju kamarnya.

Akhirnya, terjawab sudah sikap dingin Grunhilde kepada ayahnya.

.

.

.
Kastil sedang sangat sibuk pagi ini. Selepas sarapan, Raja dan Snow White akan meninggalkan kastil ini menuju kastil calon permaisuri lainnya. Akan tetapi diwaktu sesibuk itu, Snow White mampu menemukan Grunhilde.

“Putri Grunhilde,” Snow White membungkuk hormat.

“Ah, Tuan Puteri Snow White. Sungguh kehormatan bertemu Tuan Puteri di waktu sesibuk ini,” Grunhilde tersenyum ramah. Benar-benar ramah di mata Snow White.

“Begitulah. Apakah Anda tidak keberatan jika kita berjalan sebentar?”

Grunhilde menaikkan alisnya, akan tetapi mengikuti keinginan Snow White. Mereka berjalan santai mengelilingi taman kastil, menuju kebun mawar yang rupanya belum berbunga subur.

“Sayang sekali, tapi memang saat ini belum waktunya bunga mawar ini mekar dengan indah.” Grunhilde menjelaskan. Snow White hanya tersenyum pilu.

“Apakah ada hal yang ingin anda katakan kepada saya?” Grunhilde memancing Snow White.

Snow White memandang lekat Grunhilde, sebelum akhirnya memberanikan diri untuk bertanya. “Menurut Anda, bagaimana Ayah saya?”

Grunhilde menatap kebun mawar, tetai pikirannya mengembara ke tempat lain. “Sebagai seorang Raja, beliau adalah Raja yang luar biasa untuk rakyatnya.”

“Sebagai seorang Pria?”

Grunhilde menatap dalam kepada Snow White, berusaha memilih kalimat. “Beliau adalah pria yang baik.”

Snow White kembali menatap kebun mawar. “Apakah anda mencintai ayahku?”

Hening. Grunhilde tidak mampu menjawab.

“Kau mencintai orang lain.”

Grunhilde menatap Snow White, aura dewasa dan kebijaksanaan menguar dari pribadi Snow White.

“Tidak masalah bagiku. Cinta tidak bisa dipaksa. Jika anda tidak mau menikah dengan ayahku karena ada pria lain yang lebih anda cintai, itu tidak masalah.”

Grunhilde memandang Snow White tidak percaya. “Anda bercanda!” tuduh Grunhilde.

Snow White tertawa, “Aku serius.” Grunhilde hendak menyanggah akan tetapi seorang pelayan menginterupsi pembicaraan mereka dan meminta agar mereka berdua menuju ruang makan. Snow White dan Grunhilde mengikuti pelayan tersebut, akan tetapi Grunhilde tidak mampu menyembunyikan kegelisahan hatinya.

.

.

.
Snow White dan Sang Raja bersiap menaiki kereta kuda, mereka dilepas oleh Putri Grunhilde dan bangsawan lainnya. Grunhilde terus memandang Snow White sementara yang ditatap hanya tersenyum lembut. Sang Raja juga terus menatap Grunhilde dan tidak mendengarkan apapun.

Kereta kuda sudah tiba, para bangsawan memberi hormat kepada Raja dan Snow White yang dibalas anggukan kecil. Raja mengecup punggung tangan Grunhilde yang dibalas dengan senyum yang malas-malasan. Grunhilde mencuri kesempatan untuk berbisik kepada Snow White, “Tolong rahasiakan semua pembicaraan kita,” Snow White memandang Grunhilde dan mengangguk pelan.

Kereta Kuda semakin menjauh, akan tetapi Grunhilde terus memandang rombongan tersebut. Hatinya merasa gundah akan tetapi dirinya memaksa untuk percaya bahwa Snow White akan memegang janjinya.

.

.

.

Snow White dan Sang Raja telah kembali ke Istana, telah menyelesaikan perjalanan mereka untuk menemui calon Permaisuri lainnya. Perjalanan yang sia-sia, pikir Sang Raja, karena hatinya telah tertambat erat pada Grunhilde. Saat ini Raja sedang duduk di meja makan, menunggu Snow White yang sedang bersiap-siap untuk bergabung dengannya. Tak lama kemudian Snow White memasuki ruangan dan duduk berdekatan dengan Raja.

Para pelayan kerajaan membawakan hidangan makan malam yang mewah, disajikan dalam piring perak dan emas yang cantik. Sang Raja memutuskan untuk menceritakan keputusannya kepada putrinya.

“Snow White, menurutmu bagaimana para calon Permaisuri yang telah kita temui?”

Snow White memandang ayahnya dan mencoba memilih kata dengan tepat. “Mereka bertiga memang calon permaisuri yang cukup cakap untuk menjadi istri Ayahanda sekaligus pendamping seorang Raja negeri ini.”

“Lalu, kau menyukai siapa dari mereka bertiga?”

Snow White merenung, dahinya berkerut. “Putri Kedua, putri Ariana.”

Wajah Raja tampak kecewa. “Begitukah? Tapi kulihat kau sangat akrab dengan Putri Grunhilde.”

Snow White menghentikan gerak pisau dan garpunya, “Kami hanya berbincang sebentar.”

“Lalu, bagaimana menurutmu kemampuan Grunhilde untuk sebagai seorang Ratu?” Raja terus mengejar, jelas sekali tertarik dengan Grunhilde dan tidak mengindahkan pendapat Snow White.

“Putri Grunhilde memang mempunyai kecerdasan yang baik sebagai seorang Ratu, tapi saya pikir ia tidak akan sesuai untuk menjadi isteri ayahanda,”

Raja meletakkan pialanya dengan suara keras, nada bicaranya setingkat lebih meninggi. “Menurutmu apakah aku tidak pantas untuk Grunhilde?”

Jantung Snow White berdetak dengan kencang, sepertinya Ia telah salah langkah. Akan tetapi gadis kecil itu berusaha meneruskan, “Apakah Ayahanda tega memisahkan cinta sejati?”

Dan saat itu Sang Raja tersadar, putrinya mengetahui sesuatu yang tidak ia ketahui. “Apa maksudmu?”

Snow White tidak menjawab pertanyaan ayahnya dan memilih berkonsentrasi pada makanannya. Sebenarnya ia mendengar pertanyaan ayahnya, tapi Snow White telah bersumpah untuk tidak menceritakan mengenai Grunhilde kepada siapapun, termasuk kepada ayahnya sendiri.

Sang Raja menatap tajam ke arah putrinya yang masih keras kepala dan diam. Raja meneguk minuman dari pialanya, bertekad untuk mencari tahu apa maksud putrinya.

.

.

.

Tiga bulan berlalu, Grunhilde datang ke Istana beserta iringan pengawal kerajaan. Kedatangannya disambut dengan wajah sumringah Raja dan Snow White yang kebingungan. Bertanya-tanya mengapa Grunhilde bersedia datang ke Istana untuk menikah dengan ayahnya.

Grunhilde keluar dari kereta kerajaan, disambut oleh uluran tangan Raja dan tak lupa kecupan di punggung tangannya. Sementara Snow White membungkuk hormat, karena wanita itu akan menjadi seorang Ratu. Raja tampak jelas sangat bahagia dan menawarkan diri untuk mengantar Grunhilde berkeliling Istana, menampik tawaran pelayan Istana untuk menunjukkan dalam Istana kepada putri yang baru tiba itu.

Hari baru saja memasuki malam ketika akhirnya Snow White diperintahkan untuk mengantarkan Grunhilde ke kamarnya. Besok adalah waktunya pernikahan, Raja tidak ingin Grunhilde terlalu lelah untuk pernikahan besok.

“Putri Grunhilde, mengapa anda mau menikah dengan ayahku? Bukankah…” Snow White tidak mampu lagi membendung rasa penasarannya, tetapi gadis itu juga tidak mampu menyelesaikan kalimatnya.

Grunhilde menatap Snow White serius sebelum akhirnya tersenyum, “Tidak masalah, Ia telah meninggalkanku.”

Snow White tidak menyembunyikan keterkejutannya, “Mengapa?”

“Kurasa… ia tidak mampu untuk terus berada di sisiku.”

Snow White memandang Grunhilde, mengharapkan penjelasan akan tetapi tidak ada kata apapun yang terucap dari Grunhilde.

“Nah Putri Kecil, terima kasih telah mengantarkanku sampai ke kamar. Kurasa bukan hanya aku saja yang perlu beristirahat, tapi kita berdua memerlukannya.”

Grunhilde mngusirnya secara halus.

“Saya mohon pamit,” Snow White undur diri. Grunhilde membalas dengan tersenyum, memasuki kamarnya.
.

.

.

Pernikahan antara Raja dan Grunhilde diselenggarakan secara besar-besaran. Siapa yang bisa melupakan pernikahan antara seorang Raja yang gagah dengan Permaisurinya yang jelita? Semua itu adalah kebahagiaan yang sangat besar. Bukan hanya untuk keluarga kerajaan tetapi juga untuk seluruh rakyat.

Akan tetapi saat yang membahagiakan itu harus berakhir.

Sang Raja jatuh sakit. Entah apa penyebabnya bahkan dokter seluruh penjuru kerajaan tak mampu menemukan penyebabnya. Akhirnya dapat diduga, setelah sebulan jatuh sakit akhirnya Raja menghembuskan napas terakhirnya. Meninggalkan Snow White yang berumur lima belas tahun dan Grunhilde yang baru satu tahun dinikahi.

Seluruh kerajaan berduka, akan tetapi Snow White dan Grunhilde jauh lebih bersedih. Pemakaman baru saja digelar, Snow White dan Grunhilde belum melepaskan gaun pemakaman mereka.

“Sekarang hanya ada kita berdua,” Grunhilde berucap lirih. Air mata masih mengalir pelan dari pipi Snow White. Grunhilde menggenggam tangan Snow White, “Kita akan melewati semua ini,” ujar Grunhilde yakin. Snow White memandang Grunhilde, memandang sepasang mata yang teguh, gadis kecil itu mengangguk pelan. Mereka berdua saling berpelukan.

.

.

to be continued


A/N: Yak, dateng lagi cerita baru dengan settingan dongeng pilihan Snow White. Dibuat dalam rangka Challenge IOC Writing: Reason behind the villain sama hutang OWOP: POV Antagonis. Sementara Chapter 1 dulu dan deadline sampai akhir bulan Mei. Jadi yaa In Shaa Allah bulan ini beres kok. Tunggu aja lanjutannya…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s