Snow White Fanfic: A Queen with A Broken Heart

Chapter 2

Karena Raja tidak memiliki saudara lain, sementara Snow White masih terlalu muda untuk menjadi seorang Ratu, maka Grunhilde dinobatkan sebagai seorang Ratu. Grunhilde menerima tanggung jawab yang berat itu. Setelah Grunhilde menjadi seorang Ratu, ia memerintahkan agar Snow White mengganti gaun kerajaannya menjadi gaun pelayan dan menempati kamar pelayan. Hal ini bertujuan untuk mendidik Snow White agar memahami kehidupan rakyat biasa, kilah Sang Ratu. Jika Snow White tidak mampu memahami kehidupan rakyat biasa, bagaimana mungkin Ia bisa menjadi ratu yang baik? Begitulah alasan Grunhilde.

Para pegawai Istana setuju dengan alasan Grunhilde, sementara Snow White tidak mampu membantah. Akan tetapi semakin lama semakin terlihat bahwa Ratu mulai bertindak semena-mena kepada Snow White. Sang puteri kecil itu diharuskan melaksanakan tugas pelayan yang berat dan hanya diberi makan ala kadarnya. Para pelayan berbisik-bisik bahwa Ratu yang kejam itu menindas Snow White dan menaruh kasihan. Terkadang mereka menggantikan tugas pelayan yang diberikan kepada Snow White, akan tetapi setelah Ratu mengetahuinya para pelayan itu dihukum dengan kejam. Karena itulah para pelayan tidak berani lagi menggantikan tugas Snow White. Snow White juga paham bahwa hukuman Ratu bisa sangat kejam hingga akhirnya ia tidak memperbolehkan para pelayan untuk menggantikan tugasnya.

.

.

.

Snow White sedang menimba sumur. Gadis berumur enam belas tahun itu sebenarnya sedang dalam perjalanan pulang dari belanja di kota. Akan tetapi di tengah jalan gadis itu merasa haus sehingga ia terpaksa mampir di sumur milik desa. Snow White tidak terlalu suka menimba air dari sumur, karena ia tidak begitu kuat menimba ember kayu yang berat. Akan tetapi rasa haus menderanya, terpaksa ia menimba air. Lengannya sakit dan rasa haus membuatnya pusing, ember kayu hampir mencapai atas bibir sumur. Rasa haus tak tertahan lagi saat tarikan tali sumur melemah, menyebabkan ember merosot kembali ke dasar sumur.

Ember kayu tidak jadi meluncur ke dasar sumur, seseorang telah menahan tali sumur tersebut. Snow White tidak mampu melihat orang yang menolongnya, kepalanya pusing sementara pandangannya menggelap. Seseorang itu menarik ember kayu, menyendok air dan mendekatkannya ke bibir Snow White. Snow White meminum dengan rakus. Ia tidak peduli sopan santun, rasa haus yang mendera benar-benar membunuhnya.

“Wow sabar, kau seperti tidak minum berhari-hari saja,” suara itu berusaha bercanda tetapi Snow White tidak peduli. Gadis itu terus meminum airnya hingga setengah air di ember kayu habis diminumnya.

“Wow, kau benar-benar haus.” ujar suara itu lagi.

Saat itulah Snow White baru bisa melihat jelas siapa yang menolongnya. Seorang pemuda berpakaian pengelana, akan tetapi entah kenapa pedang panjang terselip di pinggangnya. Tak jauh dibelakang pemuda itu juga terdapat seseorang yang sedang menahan dua kuda dan menatap bergantian antara dirinya dan pemuda di depannya. Sadar karena mungkin ia telah mempermalukan dirinya sendiri, Snow White mengibaskan pakaiannya dan meraih belanjaannya.

“Terima kasih telah membantu saya. Saya mohon pamit,” Snow White buru-buru pergi.

“Hei, hei, bagaimana kalau kuantar? Kau kelihatan… tidak terlalu sehat,” Pemuda itu menatap Snow White dengan tidak yakin. Wajar saja, wajah Snow White benar-benar pucat.

“Tidak perlu, terima kasih atas bantuan anda.” Snow White mempercepat langkahnya. Tak baik dirinya pergi belanja terlalu lama, apalagi menerima tawaran orang asing untuk mengantarkan dirinya kembali ke Istana.

.

.

.

Dan seperti yang sudah diduga, Ratu menghukumnya karena ia terlambat kembali ke Istana. Kali ini hukumannya adalah membersihkan kamar tamu Istana. Snowa White tidak paham mengapa ia harus membersihkan kamar tamu. Tapi bisik-bisik pelayan mengatakan bahwa istana mereka akan kedatangan tamu penting sore ini.

Tamu yang ditunggu tiba, tapi Snow White tidak tahu, gadis malang itu masih sibuk membersihkan tiap sudut kamar tamu. Benar-benar melelahkan, pikir gadis itu. Mungkin setelah semua tugasnya selesai ia akan pergi makan, mandi dan langsung tidur.

Pintu kamar terbuka, Snow White kaget dan menoleh ke arah pintu. Disana ia melihat pemuda yang menolongnya tadi siang. Pemuda itu juga tampak kaget melihat Snow White.

“Jadi kau pelayan di istana ini? Pantas saja kau tampak lelah setengah mati tadi siang,” sang pemuda langsung berjalan menghampiri Snow White. Sementara gadis itu hanya terdiam dan merapat ke dinding, tidak yakin harus bicara apa.

“Halo~ kau bengong, nona?“ pemuda itu melambaikan tangannya tepat di depan mata Snow White.

Snow White tidak yakin harus berbicara apa, karena itulah Snow White hanya bisa diam sambil mengamati sosok pemuda di hadapannya itu.

Pemuda itu berkacak pinggang, “Ada apa Nona? Belum pernah bertemu pria setampan diriku?”

Wajah pemuda itu dipenuhi seringai jahil. Tata krama istana mengajarkan bahwa memutar bola mata merupakan sikap yang sangat tidak sopan, karena itulah Snow White tidak memutar bola matanya karena kenarsisan pemuda itu. Akan tetapi Snow White mendengus kecil.

“Yah, wajar saja. Pelayan istana seperti dirimu pastinya jarang bertemu dengan pria tampan. Apalagi yang setampan diriku ini.” Pemuda itu merentangkan lengannya seakan mempertegas pernyatannya.

“Karena itu, silahkan pandangi wajah tampanku ini selama yang kau mau,” pemuda itu tersenyum memikat.

Snow White mengakui, jika dalam situasi biasa bisa saja dirinya jatuh cinta pada pemuda ini. Jujur wajahnya memang tampan. Tapi demi apa, kenapa pemuda ini narsis sekali?

“Jadi, apa kau sebegitu inginnya bertemu denganku sampai menungguku di kamar ini?” Pemuda itu memandang sekeliling.

“Aku sedang membersihkan kamar ini!” ketus Snow White dengan jengkel.

“Ah sayang sekali. Tapi kau sudah selesai membersihkannya?”

“Aku tinggal mengepelnya,” Snow White masih menjawab dengan ketus.

Pemuda itu memandang Snow White, “Tidak perlu dipel, aku mau langsung tidur saja. Lagipula kau hampir pingsan tadi siang jadi langsung saja beristirahat,”

“Aku tak bisa-“ Snow White hendak menyanggah, kelihatan sekali tidak setuju dengan ide itu.

“Nanti kalau ada yang bertanya padaku akan kujawab kau melaksanakan tugasmu dengan baik.”

Snow White cemberut. “Hei, aku sudah berbaik hati padamu, jadi sana. Sana.” pemuda itu mengibaskan tangannya bagaikan mengusir lalat. Snow White benar-benar cemberut.

“Kalau itu keinginan anda,” Snow White meraih peralatan bersih-bersihnya.

“Hei! Setidaknya bilang terima kasih padaku!”

Snow White mendelik sebal, “Terima kasih,” gumamnya ketus sebelum akhirnya keluar dari kamar. Pemuda itu menggeleng kepalanya, “Heran, gadis itu kasar sekali.”

“Tapi lumayan cantik,” gumamnya tak lama kemudian.

.

.

.

Snow White tiba di kamar makan pelayan dengan terhuyung, perutnya lapar dan tubuhnya lelah. Belum lagi tingkah si tamu yang narsis sekali, benar-benar lelah mental dan fisik. Tanpa banyak omong Snow White meraih makanannya dan meneguk air sepuasnya.

“Tuan Puteri, apa kau tadi bertemu dengan tamu itu?” seorang pelayan tua menghampiri Snow White yang hanya dijawab dengan anggukan lemah.

“Putriku, ternyata ia adalah seorang pangeran dari negeri sebelah. Tadi hamba mendengarnya saat Ratu berbicara padanya,”

Tak ada jawaban dari Snow White, ia hanya berusaha menghabiskan makan malamnya. Lagipula ia tidak mau mengingat betapa tinggi tingkat narsis pangeran itu.

“Sungguh terlalu Yang Mulia Ratu! Bahkan disaat ada tamu seperti ini ia tidak memperkenalkan Anda dengan pangeran itu!”

“Bibi…” Snow White memanggil lirih. Yang ia butuhkan saat ini adalah tempat tidur yang nyaman. Tidak perlu ditambah dengan gosip yang aneh-aneh terutama tentang pangeran itu.

“Aduh Tuan Puteri, Anda terlihat lelah sekali. Sebaiknya anda segera istirahat.”

Snow White menyuapkan sendok terakhir, meneguk air miliknya untuk kemudian langsung ke kamarnya. Tak lupa ia mengucapkan selamat malam kepada semua pelayan yang ada disana. Snow White langsung rebah ke tempat tidur, melupakan mandi yang seharusnya dilakukannya.

.

.

.

Snow White menimba air lagi, wajahnya kecut sementara peluh berulir dari dahinya. Gadis itu benar-benar benci menimba air, tapi karena pagi ini gadis itu kebagian tugas untuk mencuci baju mau tidak mau Snow White harus menimba air. Cucian bajunya tidak begitu banyak, karena para pelayan diharuskan mencuci baju mereka masing-masing, tapi tetap saja Snow White harus menimba air. Andai saja air bisa langsung memancar dari bawah tanah yang sayangnya baru bisa terjadi entah berapa ratus tahun lagi.

“Jadi kau ada disini?”

Snow White mengalihkan pandangannya ke sumber suara akan tetapi tangannya terus mencuci baju. Pangeran yang kemarin memandangnya tak jauh dari tempat Snow White mencuci baju.

“Mau apa anda disini?”

“Hanya penasaran dengan sosok puteri kerajaan ini,”

Snow White mendelik, “Anda mengejekku?” jelas sekali nada jengkel. Karena saat ini Snow White benar-benar berantakan, busa cucian dan keringat menempel pada pakaian dan rambutnya. Benar-benar tidak kelihatan anggun sama sekali.

“Apa sekian lama menjadi pelayan istana membuat anda melupakan tata krama kerajaan?”

Snow White mendelik tajam tapi berusaha mengabaikan sindiran itu. Dengan sembarangan gadis itu menyelesaikan kegiatan mencuci pakaiannya dan cepat-cepat pergi dari sana.

“Tunggu… tunggu, aku cuma bercanda.” pangeran itu mengejar dan menghalangi jalan Snow White. Snow White tidak menggubris dan berusaha melangkah ke depan. Akan tetapi setiap Snow White berusaha melangkah Pangeran itu selalu menghalangi langkah Snow White.

“Baiklah pangeran tampan, aku punya banyak pekerjaan.” Snow White mendesis dibagian tampan sementara pangeran itu menyeringai.

“Pergilah dari sini sebelum aku memanggil pengawal untuk mengusirmu,” lanjut Snow White.

Pangeran itu hanya terkekeh. “Aku punya nama, Anda tahu. Namaku James-“

“Tak peduli! Charming sesuai untukmu.” Snow White langsung memotong, James mengangkat kedua alisnya, terkekeh pelan. “Sekarang, jangan ganggu aku, Charming!

James terkekeh, “Bukan begitu caranya memperlakukan seorang pangeran,”

“Oh, lalu apa ini caramu untuk mendapatkan perhatian seorang gadis?”

James menatap Snow White. “Kau pandai berbicara,”

“Luar istana mengajarkan banyak hal padaku,” Snow White hendak pergi dari sana tapi buru-buru dicegah kembali oleh James.

“Aku butuh seseorang untuk mengantarkanku berkeliling luar istana,”

Snow White mengangkat alisnya. “Dan alasan apa yang membuat anda memilih saya?”

“Karena kau puteri kerajaan ini,”

“Dan siapa yang mengatakan kalau akulah puteri kerajaan ini?” Snow White menyipit curiga.

James mengangkat bahunya, “Beberapa koin emas cukup membuat pelayan dan pengawal istana berbicara.”

Snow White membelalakkan matanya. Astaga, ternyata pelayan istana dan pengawalnya mudah sekali disuap dengan koin emas.

“Ayolah, gosip menarik beredar ke negeri tetangga. Puteri Snow White yang cantik dengan kulit seputih salju-“ James memandang lekat wajah Snow White yang walau pucat tetap saja menguarkan aura kecantikan tersendiri.

“- rambut sehitam eboni-“ James memandang rambut hitam Snow White yang berkilau.

“- dan bibir semerah darah. Siapapun juga akan langsung tahu jika melihatmu.” Yak, James mulai terpikat dengan kecantikan Snow White. Gosip yang beredar memang tidak salah. Malahan Tuan Putri yang ada di hadapannya ini jauh lebih menawan dibanding gosip yang didengarnya.

Snow White masih terdiam, seakan menimbang apakah pemuda yang ada di hadapannya ini pantas untuk dipercaya.

“Apakah ini berarti kau menerima ajakanku?” James memutuskan dengan sepihak.

“Aku punya banyak kerjaan yang lebih penting.”

“Ayolah~ ini juga tugas penting karena terkait misi diplomatik dua kerajaan.” James mulai berkilah. Apapun yang terjadi James harus berhasil mengajak gadis ini jalan-jalan ke luar istana. Tak peduli harus menggunkan cara licik sekalipun.

Snow White masih diam dan kali ini menatap curiga kepada James.

“Atau haruskah aku laporkan pada Ratu bahwa Puteri Snow White berusaha menggagalkan misi diplomatik kerajaan?”

Snow White melotot kepada James, “Kau mengancamku?”

“Jika itu bisa membuat Anda mau jalan denganku,” James mengangkat bahu dan terkekeh, kentara sekali menyeringai puas. Snow White memandang sebal.

“Jadi?” James mendesak.

“Hanya karena untuk misi diplomatik,” Snow White menjawab dengan sebal.

James tersenyum puas.

“Sore hari kutunggu di depan gerbang Istana. Dan aku benci orang yang terlambat!” Snow White menoleh sekilas dan melanjutkan langkahnya. James tak lagi menyembunyikan seringai lebarnya dan malah mulai berjingkrak senang.

.

.

.

Grunhilde melihat semua itu dari jendela kamarnya di istana atas, matanya menatap dingin pada Snow White dan Pangeran James.

“Kau tidak bisa lagi menyembunyikan kecantikan gadis kecil itu.”

Grunhilde tidak mempedulikan ucapan tersebut, akan tetapi matanya memancarkan sinar yang dingin.

“Aku tidak tertarik dengan kecantikan gadis itu,” Grunhilde memutar tubuhnya, menatap cermin besar yang aneh.

“Lalu apa yang kauinginkan?” Suara itu muncul dari dalam cermin, menampilkan sesosok wajah pucat bagaikan topeng.

“Oh Ibuku tersayang, kau pikir apa alasan aku mengutuk dirimu menjadi cermin seperti ini?” Grunhilde tersenyum, “Dikutuk selamanya untuk menjadi cermin yang tak mampu berbuat apapun.”

Grunhilde berputar dalam kamarnya. “Tak menyangka bahwa anakmu, yang mewarisi kekuatan sihirmu akan tega menggunakan kekuatannya untuk mengutuk ibunya sendiri.” Grunhilde tertawa terkekeh.

“Grunhilde, kau tahu aku hanya ingin membuatmu bahagia!”

“Diam!” Grunhilde melemparkan gelas kaca ke cermin tersebut akan tetapi hanya gelas itu yang pecah berkeping sementara cermin tersebut tidak rusak sama sekali.

“Kau ingin aku bahagia? Memaksaku menikah dengan Raja? Bekerja sama dengan pria terkutuk itu dan membunuh kekasihku?!”

“Grunhilde, Raja sangat mencintaimu-“

“Dia bukan cinta sejatiku!” jerit Grunhilde, rambutnya berantakan sementara napasnya terengah.

“Hanya Edward… hanya dia… cinta sejatiku…” Grunhilde terduduk di lantai. Air mata mengalir di pipi ratu muda itu, napasnya terisak.

“Dan Snow White tolol itu merasa dewasa dan ikut campur urusanku. Harusnya dulu aku membunuhnya…. yah, harusnya aku membunuhnya. Gadis tolol itu membuka mulut terlalu lebar hingga akhirnya Raja dan kau membunuh Edwardku!”

“Grunhilde, kau tahu aku sangat mencintaimu.”

Grunhilde menatap tajam cermin tersebut. “Kau tidak mencintaiku Ibuku tersayang. Kau terlalu mencintai kekuasaan.”

“Grunhilde, kumohon jangan terus menambah dosamu,” sosok di cermin tersebut mulai terisak.

“Semua sumber kebencianku harus kulenyapkan. Raja bodoh itu sudah mati dan Ibuku tersayang, kau sudah tak berdaya. Sisanya, tinggal gadis tolol itu.”


A/N: Hai…hai…sekarang entah kenapa lagi seneng nulis cerita fanfic ini. Sebenernya ide cerita ini ada yang sedikit kuambil dari drama tv Once Upon A Time dari ABC TVs sih…cuma karena belom pernah nonton filmnya secara full dan cuma nonton per part jadinya saya juga gak tau apakah cerita yang sekarang ini ditulis bakal sama banget sama filmnya atau enggak. Kalau sama banget maap deh…itu semua unsur ketidak sengajaan kok 😛 yang penting saya udah tulis disclaimernya kalau emang mirip banget.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s