Status

Game Kelas BunSay: Level 1

Saya takut dimarahi.

Karena faktor dibesarkan oleh keluarga yang cukup keras dan hukuman berupa sedikit-sedikit dimarahi tanpa diberi penghargaan menjadikan saya jadi pribadi yang takut untuk dimarahi. Bukan berarti saya takut untuk bertanggung jawab. Kalau misalnya saya memang melakukan suatu kesalahan dan merugikan pihak lain saya akan dengan lapang hati melakukan hal yang disebut bertanggung jawab.

Tapi saya cuma takut jika harus dimarahi. Pengalaman hidup sejak kecil membuktikan dimarahi itu adalah hal yang sangat mengerikan. Jauh lebih mengerikan walaupun menonton film horor tingkat apapun atau hal-hal menakutkan apapun.

Karena itulah bersama suami, kami membuat prinsip tidak boleh ada kebohongan diantara kami. Benar atau salah bukanlah hal yang penting. Kejujuran jauh lebih dihargai daripada masalah sepele benar dan salah. Karena kejujuran dituntut untuk lebih bertanggung jawab dengan keputusan yang diambil saya merasakan kejujuran itu adalah hal yang sangat sulit. Karena kalau bohong tinggal lempar batu sembunyi tangan, tapi untuk jujur itu merupakan level yang lain. Apalagi kalau masa kecilnya tidak pernah mengalami hal yang namanya penghargaan tapi kritikan dan dimarahi terus-terusan, wajar kan kalau setiap keputusan yang diambil saya merasa ragu-ragu hanya karena takut dimarahi?

Karena itulah dalam 10 hari ini saya mencoba menerapkan prinsip I’m responsible for my communication. Intinya saya harus bertanggung jawab dalam hal apapun dengan mengatakan hal yang sebenarnya kepada suami saya.

.

.

.


Hari 1

Hari pertama kami mencoba berlatih bertanggung jawab atas komunikasi kami, belum banyak hal yang bisa berubah. Yah, perubahan tidak bisa langsung mendadak, kan? Perlu proses.

Tapi setelah menerapkan kejujuran saya merasakan beban mental saya jauh lebih ringan dibandingkan jika harus berbohong. Dan sebenarnya ini melegakan. Saya tidak harus merasa berat karena sudah berbohong. Tidak perlu harus mendenda diri sendiri karena sudah berbohong dan berbagai perasaan negatif lainnya yang melanda hati. Setelah berkata jujur saya bisa merasakan kelegaan dan ketenangan.

Apalagi didukung oleh suami yang berjanji tidak akan marah walau apapun yang terjadi, asalkan saya harus bicara jujur!

Misalkan pada hari pertama ini, jatah uang mingguan kami sudah habis karena memang ada banyak keperluan yang harus dibeli sementara harga sembako meroket. Kalau dulu sebelum menikah saya katakan kepada keluarga saya bahwa saya kehabisan jatah uang mingguan pasti saya akan diceramahi, padahal apa yang saya beli memang sebuah kebutuhan.

Sementara ketika suami menanyakan jatah uang mingguan saya hanya bisa terdiam dan memasang wajah bersalah. Jujur, pengalaman dimarahi orang tua masih membayang sehingga saya takut kalau suami juga ikut-ikutan marah. Tapi suami mendesak dan akhirnya saya bicara jujur. Suami memahami, namanya juga butuh mau gimana lagi, dan justru menambah jatah uang mingguan.

Hati langsung terasa lega dan plong, karena suami tidak marah dan jatah uang mingguan ditambah 😛

Alhamdulillah saya bisa bicara jujur ketika ada masalah sehingga saya tidak perlu stress sendiri menghadapi masalah. Memang sih setelah itu saya diingatkan secara baik-baik oleh suami untuk lebih bisa manage keuangan lebih baik, tapi respon ini lebih bisa saya terima dibandingkan harus dimarahi atau diceramahi. Yah setidaknya inillah buah dari kejujuran saya, saya harus lebih bertanggung jawab untuk menjalankan tugas rumah tangga.

Hahahaha, masih hari pertama dan jalan buat belajar masih panjang…

In syaa Allah semoga tetap istiqomah. Amin.


#level1

#day1

#tantangan10hari

#komunikasiproduktif

#kuliahbunsayiip

Advertisements

BunSay#1 : Komunikasi Produktif, Komunikasi Efektif

Cemilan Rabu #1 
31 Mei 2017

Seberapa pentingnya komunikasi? Dari komunikasi, orang dewasa dan anak-anak belajar tentang agama, values, dan sebagainya. Komunikasi juga menentukan konsep diri anak/ self concept yang nantinya akan menentukan harga diri/ self value dan percaya diri/ self confidence anak. Inilah mengapa materi Komunikasi Produktif menjadi awal dari segala materi.

Kunci dalam komunikasi ialah perasaan.  Jika ingin nasehat atau pesan kita diterima oleh orang lain terutama anak kita, yang diperlukan ialah memahami perasaannya terlebih dahulu. Karena pada dasarnya, manusia memiliki lima kebutuhan dasar dalam komunikasi yaitu agar perasaannya Di dengar, Di kenali, Di terima, Di mengerti, dan Di hargai (5D) yang merupakan kunci komunikasi.

Kadang secara tidak sengaja kita salah berbicara kepada anak untuk mendapatkan hasil instan (misal: agar anak cepat diam dari tangisnya). Kesalahan Komunikasi ini menimbulkan dampak yang disebut dengan Verbal Abuse, meski terjadi secara tidak sengaja tetapi hal ini dapat merusak jiwa anak dan efeknya baru terlihat dalam jangka panjang.

Berikut akibat kesalahan komunikasi pada anak:
♻ Melemahkan konsep diri
♻ Membuat anak diam, melawan, tidak perduli, sulit diajak kerjasama
♻ Menjatuhkan harga dan kepercayaan diri anak
♻ Kemampuan berfikir menjadi rendah
♻ Tidak terbiasa memilih dan mengambil keputusan bagi diri sendiri
♻ Iri
♻ Menjadi generasi yang BLAST (teori Mark Kaselmen) merupakan singkatan dari Boring-Lonely-Angry/Afraid-Stress-Tired yang akhirnya mengakibatkan beberapa penyimpangan sosial.

Selain kata-kata, yang harus diperhatikan dalam berkomunikasi ialah bahasa tubuh. “Action is louder than words

Lalu bagaimana cara berkomunikasi yang baik, benar dan menyenangkan pada anak ? (Langkah-langkah berikut ini pada dasarnya bisa digunakan kepada siapa saja lawan bicara kita)

1. Jangan bicara tergesa-gesa
Siapa yang tidak pernah merasa bahwa waktu sempit atau sedikit? Tapi bicara tergesa-gesa akan membuat pesan yang kita sampaikan gagal diterima otak anak. Hindari bicara tergesa-gesa,  apalagi sambil marah-marah dengan muka garang tanpa senyum. Bahkan jika bisa, cobalah tersenyum. Senyum dapat mengaktifkan hormon seretonin yang membuat kita merasa senang. Ingat, jika perasaan senang, otak bisa menyerap lebih banyak!

2. Ingat: Setiap pribadi unik
Hargai setiap pribadi lawan bicara kita. Allah telah menciptakan setiap manusia unik dan berbeda-beda (lihat QS 3:6), maka jangan samakan dirinya dengan kita apalagi orang lain.

3. Kenali diri sendiri dan anak
Kebanyakan orang yang belum mengenal diri masih terpaku dengan rutinitas.
Masih ingat aktifitas dinamis? Orang yang telah banyak mengelola aktifitas dinamis bisa jadi telah lebih dulu mengenal siapa dirinya (be do have). Sehingga mereka cenderung mudah memanage diri, waktu dan kondisi di sekitar mereka.

Karena itu, ambillah waktu untuk mengenali diri sendiri dan anak atau siapapun orang terdekat kita. Dengan lebih mengenal anak, akan lebih mudah kita berkomunikasi dengannya. Sisihkan waktu tertentu untuk bisa berduaan hanya dengan anak/pasangan.

4. Pahami perbedaan needs dan wants
Setiap pribadi unik, begitu juga dengan kebutuhan (needs) dan kemauan (wants) -nya. Bedakan kebutuhan dan kemauan kita dengan anak. Misalnya, anak mau bermain terus, namun ia butuh mandi atau makan. Coba pahami kemauannya, selami dunianya, baru kemudian beritahu anak apa yang sesungguhnya menjadi kebutuhannya.

5. Pahami “Masalah Siapa?”
Siapa yang sebenarnya memiliki masalah? Saya atau anda? Kadang, kita mencampurkan masalah kita dengan orang lain, atau masalah orang lain dengan kita. Sebelum berkomunikasi, analisa siapakah yang bermasalah? Apakah perlu dibantu atau tidak? Misal ketika anak dihadapkan pada suatu masalah, ini adalah kesempatan anak untuk berpikir, memilih, dan mengambil keputusan (BMM). Jika anak dibimbing untuk membuat pilihan dan mengambil keputusan, ia akan tumbuh menjadi anak yang mandiri dan bertanggung jawab.

6. Baca bahasa tubuh
Bahasa tubuh lebih nyaring dari kata-kata. Dalam komunikasi 55% berisi bahasa tubuh, 38% nada suara dan sisanya hanya 7% yang ditentukan oleh kata-kata. Karena itu, bahasa tubuh tidak pernah bohong. Baca bahasa tubuh anak untuk mengerti apa yang ia rasakan.

7. Dengarkan Perasaan
Kunci komunikasi ialah perasaan. Maka cobalah dengar perasaannya dengan menebak apa yang sedang ia rasakan dari bahasa tubuhnya. Misalnya, “Adik sedang kesal/marah/jengkel ya?”, “Adik sedih ya karna mainannya hilang?”. Dengan menerima perasaan anak, anak mau membuka diri, mengeluarkan emosi dan masalahnya. Dengan mengetahui apa masalahnya, kita dapat membantu anak untuk menyelesaikan masalah tersebut.

8. Mendengarkan dengan aktif
Jadilah cermin ketika anak bercerita tentang masalahnya. Tunggu dan eksplore perasaannya hingga tuntas, dan berikan respons yang sesuai seperti, “Oooh.. Begitu ya?” “Terus?” “Kamu kesal sekali ya?”. Sediakan ruang bagi emosinya. Jika emosinya sudah mengalir, maka korteks otaknya siap bekerja. Selanjutnya, anak akan lebih mudah menerima informasi dan pesan dari kita.

9. Hindari 12 gaya populer (parenthogenic)

Tanpa kita sadari, secara turun temurun 12 gaya komunikasi ini sering kita gunakan dalam percakapan sehari-hari. Ketika anak sedang atau tidak bermasalah pun, jika kita sering meresponnya dengan menggunakan 12 gaya populer ini, anak akan merasa TIDAK percaya dengan emosi atau perasaannya sendiri.

Berikut ialah contoh-contoh 12 gaya populer:

1⃣Memerintah,
contoh: “Mama tidak mau dengar alasan kamu, sekarang masuk kamar dan bereskan kamarmu!”

2⃣Menyalahkan,
contoh: Ketika anak tidak bisa mengerjakan soal PRnya, ayah berkata, “Tuh kan. Itulah akibatnya kalau kamu tidak mendengarkan Ayah dan malas belajar”

3⃣Meremehkan,
contoh: “Masak pakai sepatu sendiri saja tidak bisa, bisanya apa dong Kak?”

4⃣Membandingkan,
contoh: “Kok kamu diminta naik ke panggung saja tidak mau sih Kak, tuh lihat Andi saja mau”

5⃣Memberi cap,
contoh:”Dasar anak bodoh, disuruh beli ini saja salah!”

6⃣Mengancam,
contoh: “Kalau kamu tidak mau makan lagi, kamu tidak akan dapat uang jajan selama seminggu!”

7⃣Menasehati,
contoh: “Makanya, kalau mau makan cuci tangannya dulu, nak… Tangan kan kotor banyak kumannya…”

8⃣Membohongi,
contoh: “Disuntik tidak sakit kok nak, seperti digigit semut aja kok”

9⃣Menghibur,
contoh: Ketika adik menemukan bahwa es krim nya dimakan oleh kakaknya tanpa sepengetahuannya, bunda berkata, “Sudah ya sayang, besok bunda belikan lagi es krimnya, lebih enak dari yang dimakan kakak tadi”

🔟Mengeritik,
contoh: “Lihat tuh! Masak mengepel masih kotor dimana-mana begitu. Mengepelnya yang benar dong!”

1⃣1⃣Menyindir,
contoh: “Hmmm… Pintar ya? Sudah mandi, sekarang main tanah dan pasir lagi”

1⃣2⃣Menganalisa,
contoh: “Kalau begitu, yang mengambil bukumu bukan temanmu, mungkin kamu tinggalkan di tempat lain…”

Aha! makin banyak yang harus kita perbaiki ya, ayo lanjutkan tantangan 10 hari teman-teman, dengan kualitas komunikasi yang semakin bagus.

10. Gunakan “Pesan Saya”
Jika kita yang memiliki masalah terhadap anak, gunakanlah “pesan saya” atau “i-message” yaitu dengan:

“Ayah/Ibu merasa …. (isi perasaan kita) Kalau kamu …. (isi perilaku anak) Karena… (isi konsekuensi terhadap diri sendiri/orangtua/orang lain”

Contoh: “Ayah merasa marah kalau kamu tidak mendengarkan ayah bicara karena itu membuat ayah merasa tidak berharga“.

Pesan saya memisahkan antara masalah dengan diri anak. Bedakan dengan pesan kamu. Pesan kamu menggunakan kamu (yaitu anak) sebagai subjek masalah misalnya, “Kamu tidak pernah mendengarkan ayah!“. Dalam “pesan kamu”, anak tidak bisa membedakan mana masalahnya dan mana dirinya. Hal tersebut jika terus menerus dapat melemahkan konsep diri anak.

/Tim Fasilitator Bunda Sayang 2/


Sumber Informasi:
Catatan Seminar Elly Risman, artikel
Cemilan Rabu Bunda Sayang Batch #1