Status

Game BunSay#2 : Hari 10

 

Kali ini masih tema mandiri secara finansial, tentu aja niatnya masih usaha diluruskan. Selurus makna dari surat Al-Fatihah.

Kalau kemarin pingin coba reseller padahal gak punya passion disana, sekarang pingin nyoba menulis cerita atau novel. Karena emang punya minat disitu.

Selama ini demen banget yang namanya nulis. Kalau enggak percaya silahkan aja scroll blog ini. Kebanyakan yang ditulis adalah cerita-cerita yang genrenya fiksi. Nah, punya mimpi pingin banget nulis cerita atau novel dengan genre fantasi Islam.

Hah? Fantasi Islam tuh maksudnya gimana?

Jadi gini, sejak jaman masih kecil dulu, gue demen banget sama yang namanya anime, manga dan games Jepang. Ide ceritanya ituloh…huh keren banget. Sekarang di umur 27 tahun ini juga masih demen yang begituan kok. Makanya kalau temen-temen atau orang lain ngeliat gue mereka selalu pikir gue anak kuliahan yang awet muda 😛 ini ciyuss…gak bohongan.

Nah, karena demen hal-hal fantasi gituan jadi coba kepikiran, kenapa enggak nulis cerita fantasi tapi ada unsur Islamnya gituloh. Jadi kita sebagai muslim jangan cuma ceriwis di socmed doang kalau ada yang mojokin kita. Kita bisa bales mereka dengan hasil karya apapun, truly it’s the elegant ways.

Nah, masalahnya adalah gue masih maless… wahahaha… ini adalah musuh besar gue. Padahal mah draft ceritanya mah udah ada. Tapi rasa males ini melanda banget banget. Sungguh enggak keren. Walhasil cuma bisa ngumpulin receh-receh idenya dengan perlahan, walau target tahun 2017 ini salah satu idenya harus jadi. Target oh target…good bye…

Padahal mah proses selanjutnya masih panjang. Mau dikirim ke koran apa gitu. Atau ngirim ke penerbit apa gitu. Tapi ini mah masih nulis gegara males.

Belum lagi kegiatan udah nambah PAUD jadinya makin….HALAH! Alesan banget! 😛

Anyway cuma bisa ngebanggain seenggaknya blog ini masih terisi tulisanlah walaupun tulisannya rata-rata random.

#Hari10

#Level2

#BunSayIIP

#MelatihKemandirian

#Tantangan10Hari

Advertisements

Cemilan Rabu BunSay #2 : Mendidik Kemandirian Emosi Anak

Cemilan Rabu 3

Seorang lelaki duduk beristirahat dibawah pohon. Matanya menatap seksama kepompong kecil yang tergantung di cabang pohon tempatnya berteduh. Kepompong itu bergerak-gerak, nampaknya ada yang berusaha keluar dari dalam kepompong itu. Sungguh kesempatan langka, pikir si lelaki. dan iapun memperhatikan dengan lebih seksama. Cukup lama juga, kepompong itu terus bergerak-gerak, hingga akhirnya sedikit tersobek di salah satu sisinya. sobekan itu masih sangat kecil, belum cukup untuk pintu keluar bagi si penghuni kepompong. Maka iapun masih terus mengeluarkan tenaga, yang menyebabkan kepompongnya terus berguncang.

Lama kelamaan, si lelaki merasa jatuh kasihan, begitu banyak tenaga sudah dikeluarkannya, belum juga si penghuni berhasil keluar. Dilihatnya kepompong itu lebih dekat. Rupanya sobekannya masih juga terlalu kecil. Akhirnya diambilnya inisiatif untuk menolong si penghuni itu untuk bisa segera keluar. Segera diguntingnya kepompong tersebut sehingga terbuka lebar sisinya, agar si calon kupu-kupu bisa segera keluar.

Tapi sungguh diluar dugaan, yang keluar dari kepompong itu bukanlah kupu-kupu cantik, tetapi kupu-kupu dengan bentuk aneh. Kepala dan perutnya besar, sementara sayapnya lemah tak bisa terentang. Kupu-kupu cacat itu langsung terjatuh ke tanah, dan hanya bisa menggelepar-gelepar tak berdaya.

Ternyata tindakan si lelaki untuk menolong dengan menggunting kepompong itu yang justru menyebabkan cacatnya kupu-kupu itu. Sesungguhnya susah payahnya si kupu-kupu keluar dari kepompong, termasuk proses akhir pertumbuhan bandannya. Melalui kerja kerasnya mengguncang kepompong sampai tersobek itulah yang justru akan mengecilkan kepala dan badannya hingga ke ukuran yang pas. Sementara otot sayapnya menjadi kuat sehingga cukup kuat untuk mengepakkan sayapnya.

Tetapi campur tangan seseorang mengeluarkannya terlalu cepat, maka proses pertumbuhan terakhir itu tak sempat dilewatinya. Yang terlahir adalah kupu-kupu berkepala dan badan yang bengkak, dengan sayap yang loyo tak berkekuatan.

CAMPUR TANGAN YANG MERUSAK

Seperti kupu-kupu itu pulalah nasib anak-anak kita, jika orang tua terlalu banyak ikut campur tangan dalam pembentukan kemandirian emosi mereka. Ketika anak sudah sampai pada tahap pengendalian diri maka hampir seluruh upaya mereka lakukan sendiri. Orang tua hanya berperan sebagai fasilitator saja.

Saat anak berupaya mengendalikan emosi kemarahan, kesedihan atau kekecewaan yang menyerang dirinya, maka ayah ibu hanya bisa memotivasi saja, sementara si anaklah yang harus memutuskan sendiri, apakah ia akan lakukan atau tidak. Jika orang tua memberikan campur tangan dan bantuan untuk menyelesaikan masalah anak, maka anak tidak akan memperoleh pembelajaran hidup.

Ketika dua orang anak bertengkar, bukanlah tugas orang tua untuk melerai dan memutuskan siapa yang bersalah dan harus minta maaf. tetapi semestinya anak-anak itu sendirilah yang menyelesaikannya. Yang bisa dilakukan orang tua adalah memotivasi kedua anak yang sedang berseteru untuk berempati satu sama lainnya, sehingga perseretuan bisa diakhiri. Masing-masing bisa menghormati hasil fikiran temannya serta saling menghormati.

Bisa saja orang tua memaksa salah satu pihak yang dianggapnya salah untuk mengaku  salah dan minta maaf, tetapi bukannya menyelesaikan masalah, justru akan memperburuk masalah. Bukannya empati yang timbul dihati anak tapi justru rasa iri, merasa dipojokkan , pilih kasih  yang menimbulkan rasa dendam.

Disinilah orang tua belajar tega untuk tidak buru-buru menolong anak yang sedang berjuang menempuh ujian kehidupan. sehingga orang tua tidak terlibat dalam campur tangan yang merugikan. Sepintas nampaknya menolong anak keluar dari kesulitan yang dihadapi, akan tetapi justru menggagalkan pengembangan kemandirian emosi anak.

Salam ibu profesional
/Tim Fasilitator Bunsay 2/


Sumber Inspirasi
    Istadi, Irawati. Melipat Gandakan Kecerdasan Emosi Anak. Bekasi. Pustaka Inti:2006

Status

Game BunSay #2 : Hari 9

Reseller.

Sebenernya ide ini udah lama banget sejak resign kerja. Sebagai IRT baik yang pingin punya uang tambahan buat jajan buku rasanya ini ide yang agak-agak menggoda gitu. Cuma ada beberapa alasan yang bikin saya belum daftar jadi reseller apapun.

Pertama, jualan kayaknya bukan passion gue. Dan ini dibuktikan dengan saat ini dimana gue nyoba bantu-bantu teman buat jualan tupperware ataupun selai cokelat tapi belum ada kemajuan apapun. Yah, walau dengan alasan tuh dua macam barang bukanlah barang sehari-hari yang harus dibeli tiap hari.

Yang kedua, hmmm… apa ya? Kayaknya alasan pertama udah cukup buat mematahkan semangat gue buat jadi reseller. Tapi meskipun begitu masih kebayang-bayang sih untuk jadi agen reseller gitu.

Nah, pas minta ijin sama suami, doi sih bilang kalau aku mau jualan atau jadi reseller sih boleh aja. Tapi pertama-tama gue ditanya dulu, kenapa niat pingin jadi reseller?

Yah, dengan jujur gue bilanglah. Pingin punya tambahan uang aja.

“Emang butuh uang buat beli sesuatu? Kenapa gak minta sama aku?” suami mulai nanya tingkat lanjut,

“Bukan buat beli sesuatu sih. Cuma buat situasi darurat kalau misalnya mungkin suami kenapa-kenapa.” jawabku.

Nah disini suami langsung pasang muka kerut. “Wah, kalau alasannya kayak gitu aku gak kasih ijin.”

Langsung siyoookkk mode on. “Kenapa?”

“Kalau alasan kamu mau jadi reseller kayak gitu, seakan-akan kamu tuh meragukan rejeki yang Allah kasih sama kamu. Cobaan tuh bukan cuma saat lagi sulit uang. Banyak loh kasus cobaan istri saat penghasilan mereka justru lebih besar dari suami.”

Aku langsung diem.

“Lain cerita kalau kamu reseller niatnya untuk hasilnya membantu sesama. Atau bikin seneng orang tua kita. Itu gak apa-apa.”

Masih diem.

“Aku gak maksud ngelarang kamu reseller loh. Cuma niat kamu diperbaikin lagi ya.”

Aku ngangguk-ngangguk. Iya ya, mungkin walau cuma sedikit ada sedikit rasa takut saat Allah ngasih cobaan kesempitan harta makanya mendadak kepikiran ide buat nambah penghasilan reseller gitu. Sekarang setelah ditegur sama suami rasanya jadi tenang dan enggak buru-buru memutuskan mau jadi reseller atau enggak.

Dan sekarang jadi kepikiran, mungkin semua game BunSay selama beberapa hari ini harus saya perbaiki kembali niatannya. Yeah mandiri secara finansial tapi untuk apa tujuannya? Mungkin disini saya haruis kembali meluruskan hati.

Alhamdulillah, punya suami yang baik dan selalu menuntun. Enggak menuntut macem-macem dan selalu membimbing.

#Hari9

#Level2

#BunSayIIP

#MelatihKemandirian

#Tantangan10Hari


Omake…

“Tapi kak, tadi liat-liat di web jualannya jilbabnya pada lucu-lucu sama bagus-bagus ih. Boleh beli gak? Kan lagi butuh beberapa warna tertentu.”

“Hmm, yaah. Kalau emang perlu mah beli aja.”

Yesss!!!

Status

Game BunSay #2: Hari 8

20170723_153520

Hari ini capek banget. Saking capeknya mungkin postingan kali ini bakal apa adanya, atau dengan kata lain enggak panjang.

Tangan capek karena seharian full dari pagi jam 8 pagi sampai jam 3 sore full gunting-gunting. Dilanjut sampai jam 5 sore nempel-nempel. Walhasil bisa dibayanginlah betapa capeknya tangan dan betapa ngantuknya mata.

Tapi lumayan puas juga karena alat peraga edukasi anak-anak PAUD untuk pengenalan huruf abjad alhamdulillah selesai sudah. Iyalah, demi bisa mandiri secara finansial harus berusaha sebaik mungkin agar gak disangka kerja ngasal-ngasalan doang. Nilai plusnya semua tempel dan gunting ini dibantuin sama suami makanya jadi ada quality time bersama suami.

Yah, sekarang saatnya untuk goler dan istirahat sebelum menemui kesibukan di Senin pagi.

#Hari8

#Level2

#BunSayIIP

#MelatihKemandirian

#Tantangan10Hari

Status

Game BunSay#2 : Hari 7

20170722_135252

Hari ini hari Sabtu. Besok hari Senin udah masuk KBM Efektif di PAUD. Anak-anak PAUD sekarang belajarnya udah canggih, udah mulai pengenalan huruf abjad dan angka. Dan karena basis PAUDnya adalah yayasan Islam makanya kami juga mulai pengenalan huruf hijaiyah.

Namanya juga anak PAUD masih bocah-bocah cilik yang demen main, makanya belajarnya juga di ala ala supaya kayak main-main.

Nah, kalau buatku PAUD ini salah satu proses buat mandiri secara finansial. Supaya lebih kerasa mandirinya makanya usahanya juga harus maksimal kan?

Makanya di hari sabtu yang santai ini buka-buka internet buat nyari contoh untuk alat peraga edukasi buat anak PAUD. Lumayan banyak juga ternyata alat peraga edukasi, makanya begitu ketemu contoh yang OK langsung mau coba dibikin sendiri. Moga-moga hari Selasa In Shaa Allah udah siap digunakan.

Kenapa Selasa? Soalnya pelajaran bahasa adanya di hari Selasa.

Terus hari Senin ngapain?

Belajar Agama Islam pengenalan huruf hijaiyah. Tuh di foto juga udah keliatan alat peraga hijaiyahnya 😛

#Hari7

#Level2

#BunSayIIP

#MelatihKemandirian

#Tantangan10Hari

Status

Game BunSay #2 : Hari 6

Salah satu hal lain yang membantu kemandirian finansialku: Kerja.

Baru inget uy, terakhir kerja itu pas tahun 2013 dan itu juga resign gegara suami enggak suka kerjaanku masuk shift. Belum lagi waktu itu ada drama dimana atasan gue rese’ banget sama jilbab yang gue pake. Ya sudahlah, bye bye kerjaan, ku resign darimu.

Pas habis itu pindahlah ke Cibitung dan gue gak punya kerjaan apapun selain goler-goler aja di rumah. Kebetulan ada yang nawarin kerjaan jadi guru PAUD di sekitaran rumah. Suami kasih acc hingga akhirnya, jeng jeng, tahun ajaran 2017/2018 ada guru baru di PAUD. Namanya Ummi Ita. Yeee 😛

Sebenernya untuk saat ini mungkin belum orientasi ke uang kali ya. Pertama, PAUD ini masih baru operasionalnya sehingga masih belum stabil (you knowlah~) dan yang kedua untuk ngebiasain diri aja untuk bekerja dan aktivitas lagi setelah sekian lama enggak kerja lagi. Suami juga bilang setelah aku masuk PAUD lumayanlah seenggaknya ada tujuan hidup yang lebih ok daripada cuma sekedar goler-goler di rumah. Yah, yang penting untuk saat ini kemampuan kemandirianku lagi dicoba untuk dilatih lagi.

Betewe foto diatas adalah foto saat PAUD ngadain rapat dengan wali murid untuk pertama kali. Aku mah jadi tukang foto makanya enggak ada digambar 😛

#Hari6

#Level2

#BunSayIIP

#MelatihKemandirian

#Tantangan10Hari

Status

Game BunSay#2 : Hari 5

20170719_160733

Hmm…yah. Karena hari ini mendadak tepar plus pilek jadinya gak banyak sih yang dikerjain. Palingan cuma memilah-milah buku yang pingin dijual.

Memilah buku itu adalah kerjaan yang paling susah! Believe me! Seenggaknya buat aku sih… karena dengan milah buku kita tuh harus tahu kenapa buku ini dulu enggak kebaca. Terus dibuka-buka ulang. Eh gak taunya malah jadi keterusan baca dan akhirnya lama lagi beres-beres buku. Masih mending kalau cuma satu buku, lah ini semua buku diperiksa kelayakan ceritanya jadinya lama deh meriksa bukunya 😛

Anyway, akhirnya tugas ini beres juga. Hasilnya adalah satu kardus plus beberapa tumpuk buku siap untuk dijual. Hmm, belum siap juga sih, perlu di dokumentasiin dulu biar bisa masuk olshop. Yah intinya gitulah. Sekarang masih mau istirahat lagi biar pileknya agak enakan.

#Hari5

#Level2

#BunSayIIP

#MelatihKemandirian

#Tantangan10Hari