IMG_20180908_100725

Judul Terjemahan: Absolute Justice

Judul Asli: Zettai Seigi

Penulis: Akiyoshi Rikako

Penerjemah: Nurul Maulidia

Penerbit: Penerbit Haru

Cetakan: Kedua, Juli 2018

Dimensi Buku: 268 halaman, 19 cm

ISBN: 978-602-51860-1-1


BLURB BUKU

Seharusnya monster itu sudah mati…

 


REVIEW BUKU

Blurb bukunya singkat… Cuma satu kalimat itu aja. Otomatis saya langsung penasaran kan, gimana sih ceritanya?

Memang mungkin salah saya juga kali ya… pasang harapan cukup tinggi dengan judul buku ini. Otomatis buth sekitar satu bulan untuk saya meneyelesaikan baca buku ini. Itu juga diulang dulu dari awal untuk refresh memory.

Kasus di buku ini lumayan Ok sih, menurut saya genre buku ini masuk misteri dan psikologi. Misteri karena seperti karya Akiyoshi-sensei yang biasa, ada kasus pembunuhan walau di awal kita juga udah dikasih jawabannya siapa yang korban dan siapa yang pelaku. Psikologi karena menurut saya subjek yang dibicarakan di novel ini memang rada sakit jiwa. Oh iya, buku ini diceritakan melalui empat sudut orang yang berbeda yang menceritakan pengalaman mereka dengan korban terbunuh. Karena itulah saya sebagai pembaca juga bisa merasakan apa yang dialami oleh masing-masing POV ini.

Seperti biasa, Akiyoshi-sensei emang paling jago untuk menggiring pembacanya merasakan hal yang sama dengan para karakternya.

Terus kenapa saya bacanya bisa lama banget?

Pertama, mungkin karena saya terlalu terbawa dengan alur POVnya sehingga merasa gak nyaman dengan karakter dan nilai-nilai yang dianut oleh si korban. Akhirnya fatal, saya malah jadi males baca. Itu juga saya paksain baca karena pingin beli buku bacaan baru. Dan dengan prinsip gak boleh beli buku baru kalau buku yang lama belum selesai dibaca, akhirnya saya makasain diri untuk baca. Meskipun harus pause untuk beberapa saat untuk menjaga pikiran saya tetap waras.

Kedua, ekspektasi saya ketinggian. Walaupun untuk karya Akiyoshi-sensei tetap bagi saya yang terbaik adalah The Girl In The Dark dan Holy Mother walaupun untunglah ekspektasi saya gak setinggi ini. Tapi secara gak sadar saya pasang ekspektasi sesuai Scheduled Suicide Day yang merupakan rating kedua. Eh… tak tahunya ternyata buku ini – menurut saya – selevel dengan The Dead Returns dan Silence yang menempati rating paling rendah dalam daftar Akiyoshi Rikako milik saya. Akibatnya bisa ditebak, kecewa datang duluan sehingga bikin malas baca.

Walaupun saya bilang buku ini tidak sesuai ekspektasi saya, tapi untuk pembaca yang memang gak mau mikir dan cuma mau baca saja buku ini layak konsumsi. Tentu saja harus dijaga agar pikiran anda tetap waras karena takutnya kebawa alur cerita. Itulah sebabnya say abaca buku ini rada lama, untuk menjaga kewarasan pikiran saya 😛

Selain itu tema psikologi yang diangkat juga lumayan ok. Judul Absolute Justice memang sesuai dengan isi ceritanya. Membuat saya mengacungi jempol pada Akiyoshi-sensei yang bisa-bisanya kepikiran ide cerita seperti ini. Membuat saya memikirkan kembali apakah selama ini saya sudah berusaha mematuhi nilai-nilai aturan beragama dan bernegara? Atau apakah saya masih tipe orang yang ah cuma sedikit gak bakal dosa?

Advertisements

IMG_20180908_100831

Judul Terjemahan: Credit Roll Of The Fool

Judul Asli: Gusha No End Roll

Penulis: Honobu Yonezawa

Penerjemah: Faira Ammadea

Penerbit: Penerbit Haru

Cetakan: Pertama, April 2018

Dimensi Buku: 260 halaman, 19 cm

ISBN: 978-602-6383-50-1


BLURB BUKU

Oreki Hotaro lagi-lagi terseret oleh rasa ingin tahu Chitanda Eru. Melawan keinginannya, kali ini Hotaro harus menebak penyelesaian scenario naskah film misteri kelas 2-F yang akan ditayangkan saat Festival Kanya nanti.

Seorang siswa terjebak dalam kamar tertutup bangunan terbengkalai, mati setelah tangannya terpotong. Namun, siapa yang membunuh? Bagaimana caranya? Film itu selesai begitu saja tanpa penjelasan. Hotaro-lah yang bertugas untuk menebak siapa dan bagaimana trik pembunuhan itu dilakukan.

Namun, hanya itukah masalahnya? Atau ada sesuatu yang lebih besar dari sekedar menyelesaikan skenario film?


REVIEW SAYA

Walaupun sudah menonton animenya – dan otomatis sudah tahu jalan ceritanya – saya masih menikmati membaca buku ini. Apalagi dalam cerita kali ini entah kenapa saya merasa Hotaro agak lebih banyak menceritakan pemikirannya dibanding di buku satu (apa ada yang merasa sama dengan saya?)

Kalau di buku satu Hotaro masih terlihat kalem dan hemat energi, di buku kedua ini Hotaro makin vocal menceritakan pemikirannya walau hanya sebatas pemikirannya sendiri dan belum diucapkan kepada karakter buku lainnya. Tetap, sifat hemat energinya masih ada.

Chitanda Eru memang mengerikan 😛

Di buku  kedua ini walaupun yang diminta tolong oleh kelas 2-F untuk memecahkan misteri ini, tetap saja yang akhirnya dilimpahi tanggung jawab adalah Hotaro. Meskipun merasa malas dan dengan alasan hemat energi, namun dengan dorongan semua kawannya di Klub Literatur Klasik dan permintaan khusus dari Irisu Fuyumi kelas 2-F, mau tidak mau Hotaro harus mengorbankan waktunya yang berharga untuk memecahkan misteri.

Di sini saya sangat menikmati dimana Hotaro mulai menarasikan pemikirannya mengenai berbagai macam kemungkinan pemecahan misteri, penilaiannya mengenai karakter seseorang dan komentar Hotaro mengenai pembicaraan atau sikap orang lain.

Kalau di animenya mungkin dialog pikiran Hotaro tidak terlalu jelas, atau mungkin sedikit dark Tapi di dalam buku dialog pikiran Hotaro cukup deskriptif, bahkan bersifat komedi membuat saya bisa membaca berulang kali karena terlalu lucu bahkan menghibur.

Yah, tidak akan berpanjang lebar. Bagi yang sudah membaca buku maupun menonton animenya pasti pahamlah maksud saya. Lagipula misteri yang ada di buku ini tidak terlalu rumit, sehingga bisa dijadikan bacaan ringan untuk santai. Buku ini juga bisa dibaca tanpa edisi Hyouka yang sebelumnya, tapi tentu saja pembaca jadi kehilangan gambaran seperti apakah karakter yang ada di buku kali ini, mengingat karakter literature klasik dijelaskan pada buku pertama.

Overall¸buku ini sangat menarik. Akan saya baca lagi di kala senggang saat tidak ada buku baru yang harus dibaca.