Before The End (Part 1 )

Image result for banshee

Hik…hik…huwaa…huwaaa…..

Saat itu adalah malam ketujuh sebelum terjadinya peristiwa penting. Sebuah peristiwa yang akan mengubah kerajaan ini. Kerajaan Blezenn.

Suara tangisan dan pekikan terdengar di seluruh area istana. Saat itu belum terlalu malam, aku mengangkat wajahku dari buku yang sedang kubaca dan menatap jam digital kecil yang diletakkan di rak tempel dinding.

Pukul 20.30

Belum terlalu malam akan tetapi pekikan tangisan itu menegakkan bulu roma. Terdengar mengerikan, akan tetapi juga menyayat hati.

Derap langkah berlarian terdengar mendekat dan tiba-tiba saja pintu kamarku terbanti terbuka. Beberapa orang ksatria siaga dengan senjata mereka, memasuki kamar tidurku bagaikan air bah. Beberapa langsung berlari seakan hendak melindungiku, sisanya mengarahkan senjata mereka menuju pintu balkon kamarku.

Dalam situasi normal, bahkan para ksatria yang terpilih untuk melindungiku tidak boleh begitu saja masuk ke dalam kamrku. Hal ini untuk mencegah reputasiku sebagai seorang gadis terhormat menjadi rusak di hadapan publik.

Tapi dengan situasi seperti ini, kurasa peraturan seperti itu sudah tidak diperlukan lagi.

“Yang Mulia Tuan Putri, tolong segera pergi dari sini.”

Aku menatap komandan Heiss, pimpinan ksatria yang ditunjuk untuk melindungiku. Sungguh menyentuh hati betapa sekarang ia berusaha melindungiku. Pandangan Heiss tertuju kepada balkon yang terarah ke taman belakang istana. Dua orang ksatria membuka pintu balkon itu, berlari ke luar dan menodongkan senapan mereka entah kepada siapa.

Hik…hik…huwaa…huwaaa…..

Suara pekikan itu semakin meninggi dan bisa kulihat para ksatria menjadi pucat. Ada apa sebenarnya?

Dengan tenang aku melangkah keluar menuju balkon. Beberapa ksatria berusaha menahan dan membawaku pergi, akan tetapi semua tangan mereka kutepis dan dengan tenang aku tetap berjalan ke luar.

Dua orang tentara yang sudah lebih dulu berada di luar tampak ragu. Dan baru kusadari alasannya. Seorang wanita berpakaian serba hitam layaknya pada acara pemakaman sedang berdiri di bawah pepohonan. Wajahnya tidak terlihat karena kedua tangannya menutupi ajahnya, kepalanya mengenakan topi hitam bercadar hitam yang selalu digunakan para wanita bangsawan dalam acara pemakaman. Suara pekikan tangisan terdengar dari dirinya.

Ah. Seorang Banshee rupanya. Sang wanita pengabar kematian.

Aku menyandarkan tubuhku untuk melihatnya lebih jelas. Akan tetapi meski lampu di taman cukup terang untuk menerangi segala sudut, hanya di bawah pohon itu saja yang sepertinya tidak bisa tertembus cahaya. Aku tersenyum.

“Nona Banshe.” Aku memanggilnya.

Semua knight terkejut, beberapa bahkan ada yang berusaha menarikku masuk ke dalam. Akan tetapi aku tetap keras kepala.

Banshee itu menghentikan tangisannya dan mengangkat wajahnya. Meski ia telah menurunkan kedua tangannya tetap saja aku tidak bisa melihat wajahnya dibalik cadar hitam itu.

“Apa aku akan mati?” tanyaku dengan tenang.

Akan tetapi wanita Banshee itu tidak menjawabku. Malahan ia memekik semakin kencang. Yah, mungkin itulah jawaban yang kucari.

“Apa yang kalian lakukan! Cepat tarik Tuan Putri kedalam!”

Kali ini aku ikut dengan patuh. Para Knight itu menarikku ke dalam, menutup pintu balkon dan menarik tirai. Meskipun begitu suara pekikan masih terdengar, semakin lama semakin pelan hingga hilang sama sekali. Seorang knight membuka pintu balkon dan memeriksa keluar. Tak lama kemudian ia kembali lagi.

“Lapor komandan. Ba-banshee itu sudah menghilang.”

Knight itu melirik kepadaku saat mengucapkan banshee akan tetapi aku tidak mengindahkannya dan lebih memilih membaca bukuku. Suasana hening untuk sesaat dan Heiss memecahkan keheningan itu.

“Tuan Putri, saya menyarankan agar anda pindah dari kamar ini dan pindah ke kamar lain.”

Aku tertawa kecil, “Heiss, itu percuma saja. Kemanapun aku pergi pasti aku akan mati. Tidak perlu melakukan hal yang tidak perlu.” Ujarku sambil masih membaca buku.

“Tuan putri, tugas saya adalah untuk melindungi anda-“

Heiss tidak sempat melanjutkan kata-katanya karena aku sudah memberikan tatapan dingin kepadanya. Malahan mungkin suhu ruangan ini menurun karena selintas aku bisa melihat para knight yang lain gemetar, entah karena tatapan dinginku atau merasa ketakutan.

“Heiss, tentu kamu yang paling paham apa maksud dari melindungi, bukan?”

Heiss menurunkan kepalanya dan tidak mengatakan apapun. Aku tertawa kecil, “Bukankah kalian seharusnya mencemaskan ayahku?” tanyaku dengan getir. “Mungkin saja semua keributan ini mengganggu kegiatannya, kan?”

Heiss masih tidak mengatakan apapun. Mataku menatap jam digital yang menunjukkan pukul sepuluh malam. Aku bangkit dari dudukku dan memperbaiki tirai kamarku.

“Aku ingin beristirahat.”

Heiss dengan segera paham maksudku dan memerintahkan para knight keluar dari kamarku. Beberapa dayang istana masuk dan mulai berusaha membereskan kamarku yang sedikit berantakan karena kekacauan para knight tadi.

“Saya akan menempatkan beberapa knight di depan kamar tidur anda.”

Aku tidak mengatakan apapun dan Heiss keluar dengan cepat. Para dayang dengan cepat menyiapkan segala keperluanku dan keluar dari kamar. Tak lupa mereka bergumam bahwa jika aku memerlukan bantuan mereka malam ini, mereka akan menunggu di ruang depan.

Aku mengangguk pelan, tidak terlalu mempedulikan mereka dan langsung masuk ke tempat tidur. Lampu ruangan sudah gelap akan tetapi tirai jendela sengaja kubuka. Cahaya malam dan lampu di taman masuk ke kamarku sehingga tidak terlalu gelap. Aku membaringkan tubuhku, mataku menatap luar jendela sebelum akhirnya berusaha tidur.

Dalam hati aku mengeluh, sepertinya malam ini aku akan kembali bermimpi buruk dan terjaga di tengah malam.

.

.

.

Heiss keluar dari kamar putri Elise, tatapan matanya kosong.

“Empat orang berjaga di sini. Tidak ada seorang pun yang boleh masuk ke kamar tuan putri selain pelayannya.”

Para knight berdiri tegap, tanda mereka patuh dan paham dengan perintah yang diberikan.

“Siap!”

Tak lama kemudian para pelayan keluar, pemimpin mereka dayang Leyla menghembuskan napas lelah. Ia memerintahkan dayang lain untuk kembali beristirahat sementara dirinya duduk di kursi di ruangan depan kamar tidur Elise. Seorang pelayan membawakan teh dan beberapa cemilan untuk menemani malamnya.

“Bagaimana keadaan tuan putri, nyonya?” Heiss melangkah mendekati dayang yang sudah tua itu, membiarkan sang dayang menghirup tehnya terlebih dahulu.

“Terlalu tenang. Tidak baik.”

Suasana hening.

“Ini salahku.”

“Ini salah kita.”

Suasana kembali hening. Malam ini terlalu menyakitkan untuk diisi dengan pembicaraan sehingga Heiss dan Leyla hanya terdiam. Tak lama kemudian Heiss mohon pamit sementara Leyla menyandarkan tubuhnya di sebuah sofa berlengan yang nyaman.

.

.

.

Malam keenam.

Hik…hik…huwaa…huwaaa…..

Aku mendesah dan lagi-lagi derap langkah lari kembali terdengar. Untunglah untuk mencegah mereka masuk ke kamarku seperti malam lalu, aku dengan sengaja duduk membaca di ruang perpustakaan. Sekaligus mengetes apakah Banshee itu akan tetap mengejarku meskipun aku tidak berada di kamarku.

Dan dugaanku tepat.

Saat ini aku sedang duduk di sebuah meja di depan jendela. Dan Banshee itu berdiri tepat di depan jendela di hadapanku. Para knight sudah berdiri mengelilingiku dan menodongkan senapan mereka. Aku mendesah, kenapa harus menodongkan senjata kepadanya kalau kalian tidak berniat menembaknya?

Aku meletakkan kepalaku di tangan, menatap Banshe yang masih menangis meraung-raung. Suaranya benar-benar sangat kecang dan menegakkan bulu roma. Aku penasaran apakah tangisannya memang terdengar ke seluruh istana ini?

“Tuan Putri, lebih baik kita pergi saja dari sini.” Salah seorang Knight berusaha menutupi ketakutannya. Serius deh, yang akan mati kan aku. Kenapa justru mereka yang ketakutan. Ataukah mereka takut kalau mereka juga akan ketularan mati? Perlahan aku tertawa kecil.

“Tenang saja. Kalian tidak akan ketularan ikut mati.” Aku tersenyum pelan.

“Bukan begitu maksud saya!”

Tapi aku tidak mendengar dan tertawa kecil. Perlahan mataku terasa berat, rasanya ingin tidur. Sejak kapan pekikan Banshee ini bagaikan lullaby bagiku? Baru saja aku akan meletakkan kepalaku di meja tiba-tiba Heiss berlari masuk ke perpustakaan.

“Apa yang kalian lakukan! Kenapa kalian tidak membawa Tuan Putri?”

Ah, teriakan Heiss rasanya mampu menandingi pekikan nona Banshee. Aku langsung bangkit dari kursiku, “Tidak perlu memarahi mereka Heiss. Akulah yang berkeras ingin tetap di sini.” Jelasku.

Jelas Heiss ingin mengatakan sesuatu tapi aku lebih cepat, “Lihat kan, Heiss? Padahal aku sedang di perpustakaan dan Nona Banshee tidak datang ke kamarku.”

Kurasa apa yang kukatakan cukup jelas tanpa perlu penjelasan lain, kan? Kematianku adalah hal yang pasti. Heiss menunjukkan raut wajah kurang suka dan jengkel, sesekali matanya menatap Banshee yang masih meraung-raung dengan penuh perasaan.

“Mari Tuan Putri, saya akan antarkan anda ke kamar.”

Ah, ya. Aku memang sempat ingin tidur tadi. Mungkin kali ini nasihat Heiss bukan hal yang buruk. Heiss mengulurkan tangannya dan aku menggenggamnya. Mataku sudah terasa berat jadi aku memilih untuk mempercayai Heiss untuk menuntunku.

.

.

.

Suara raungan Banshee perlahan mulai tak terdengar. Kini aku sudah di tempat tidur dengan selimut hangat yang tebal. Padahal tadi mataku terasa berat, akan tetapi sekarang malah jadi tidak bisa tidur. Kupandangi kotak kayu yang ada di rak pajang kamarku. Perlahan aku mendesah. Malam ini Heiss kembali meletakkan empat orang penjaga dan seorang dayang di ruangan depan, berjaga di pintu kamarku. Meskipun begitu aku tetap mengalami mimpi buruk dan terbangun di tengah malam dengan keringat membasahi gaun tidurku.

Rasanya malam ini aku akan kembali bermimpi buruk.

.

.

.

Malam Kelima.

Hari ini istana mengalami hal yang biasa, seorang wanita ditemukan tewas membunuh dirinya sendiri dengan menggantung diri di pohon halaman belakang istana. Nyonya Leyla mengatakan padaku bahwa wanita yang bunuh diri itu adalah Countess Ariana, istri dari Duke Hayden dari Western Blezenn.

Aku hanya menatap tidak peduli. Sudah bukan rahasia lagi kalau ayahku itu memang suka bermain wanita. Sebagai seorang raja, ia merasa apapun yang ia inginkan harus dipenuhi. Hingga akhirnya bagaimana ia mempermainkan wanita sama seringnya dengan ia mengganti kaus kaki. Dan karena ia seorang raja, ia dengan semena-mena memiliki wanita yang menarik perhatiannya. Tidak perlu menyebutkan ratu kerajaan ini yang sudah berganti lima kali dan selir yang berjumlah lima puluh orang. Bahkan wanita cantik dari pelacuran dan wanita terhormat bangsawan tidak lepas dari hasrat ayahku.

Tidak aneh jika kerajaan  ini perlahan hancur dari dalam.

Hik…hik…huwaa…huwaaa…..

Aku mendesah dan meletakkan pulpenku. Ruang kerjaku memang luas, tapi tidak mungkin menampung para menteri dan knight yang berbondong datang untuk melindungiku.

“Tidak perlu masuk.” Ujarku kepada para tentara yang sudah menerobos pintu kerjaku. Para menteri yang sedang berada di ruanganku terdiam dan hanya menonton.

Kedatangan para tentara sudah bukan hal yang aneh. Mungkin aku harus membicarakan ini kepada Heiss. Toh, Banshee itu hanya menangis meraung di depan jendelaku dan tidak melakukan hal apapun yang membahayakanku.

Yang jadi masalah adalah kedatangan mendadak para menteri ini. Aku curiga mereka sengaja datang di malam hari ini untuk memastikan gosip Banshee yang menangis meraung di depan kamarku. Meski harus kuakui mereka cukup cerdik untuk membawa laporan pemerintahan kerajaan kepadaku.

Aku tidak pernah belajar pemerintahan dan aku tidak pernah disiapkan untuk menjadi seorang pemimpin. Aku hanya dibesarkan untuk terlihat cantik dan dinikahkan dengan pria mesum lainnya di kerajaan lain. Tapi siapa sangka ternyata semakin dewasa kecantikanku semakin menonjol hingga semua ini terjadi.

Nyonya Leyla datang dan menuangkan teh untuk diriku, perlahan aku menghirup teh yang masih panas itu. Raungan Banshee membuat kepalaku sakit dan pusing. Perlahan hatiku mengeluh, aku tahu kalau aku akan mati tapi apa perlu Banshee itu meraung setiap malam? Tidak bisakah dia meraung setiap dua hari sekali atau tiga hari sekali? Mendegar raungannya setiap malam mau tak mau membuat kepalaku terasa pusing dan berisik.

Suara derap langkah kembali terdengar dan para knight terlihat gelisah. Ah, tidak diragukan lagi pasti Heiss yang datang.

“Tuan Putri! Apa-“  Kata-kata Heiss terpotong melihat banyaknya menteri yang ada di kamarku.

“Ah, kebetulan Heiss. Tolong suruh para knight mundur dan cukup sisakan empat orang di dalam. Seperti yang kamu lihat ruang kerjaku tidak cukup luas.”

Heiss kelihatan sekali ingin membantah, akan tetapi dengan enggan ia melakukan apa yang kusuruh. Suara pekikan Banshee makin terdengar kencang dan untunglah, para menteri langsung mohon pamit dari ruang kerjaku, dengan sangat tidak sopan meninggalkan setumpuk laporan pemerintahan di meja kerjaku yang seharusnya ayahkulah yang melakukanya.

Sepeninggal para menteri itu, yang kucurigai mereka pergi karena takut atau karena pusing dengan pekakan Banshee, Heiss masuk ke kamarku.

“Tuan Putri-“

“Tidak masalah Heiss. Kau tahu sendiri Banshee hanya menangis meratap tanpa melakukan apapun kepadaku.” Ujarku tanpa mengangkat mataku dari laporan yang kubaca. “Selanjutnya tidak perlu mengirim satu kompi knight ke kamarku setiap nona Banshee ini meraung-raung.”

“Tapi saya tetap akan menempatkan empat penjaga di kamar anda selama dua puluh empat jam sehari.”

Aku mengangguk pelan, membiarkan Heiss melakukan apapun yang ia mau.

Untuk sesaat suasana hening, yah walaupun tidak begitu hening dengan Banshee yang masih meraung-raung di luar sana. Aku mengangkat mataku dan mengisyaratkan Heiss duduk di depanku. Sebuah tawaran yang langsung disambut oleh sang komandan.

“Maafkan saya.” Gumam Heiss.

“Tolong jangan katakan itu.” Gumamku. Tapi aku yakin Heiss pasti bisa mendengarnya meskipun nona Banshee ini memang heboh sekali. “Saat ini aku hanya punya kamu dan Leyla. Aku tidak ingin mendengar ucapan maaf dari kalian.”

Nyonya Leyla juga ada di sini, tapi ia hanya berdiam diri. Ia kembali menuangkan teh ke cangkirku yang kosong dan menuang teh yang baru untuk Heiss. Aku mengisyaratkan Nyonya Leyla untuk duduk di kursi samping Heiss. Heiss mencoba meraih tanganku untuk menggenggamnya, tapi dengan cepat aku langsung menarik tanganku.

“Maaf, untuk saat ini…” tubuhku terasa gemetar, napasku berat dan keringat dingin mulai menetes di dahiku.

Heiss tidak tersinggung tapi merasa semakin bersalah. Meskipun begitu ada raut wajah maklum dan ia tidak mengatakan apapun. Nyonya Leyla meletakkan selimut tipis di pundakku dan mengoleskan minyak aromaterapi di leherku. Untuk sesaat aku merasa tenang.

“Kenapa para menteri itu datang?”

Pikiranku kembali tersadar, “Ah, mungkin mereka cuma penasaran dengan gosip Banshee ini.”

“Lalu laporan ini?” Heiss masih mengejar.

“Laporan kali ini memerlukan persetujuan keluarga kerajaan.” Heiss mengangguk paham. Bisa dikatakan urusan pemerintahan dipegang oleh perdana menteri dan seharusnya sisanya dipegang oleh raja. Akan tetapi dengan kondisi ayahku yang sangat tidak bisa diandalkan seperti ini sepertinya para menteri putus asa dan mendatangiku untuk mengurus masalah kerajaan.

Aku masih membaca beberapa laporan dan teringat sesuatu, “Mengenai Countess Ariana…”

“Mayatnya sudah dikirim kembali ke kediaman Duke Hayden.”

“Lalu bagaimana tanggapan Duke Hayden mendengar semua ini?”

Heiss menggeleng, “Ia menolak istrinya sendiri untuk dimakamkan di pemakaman kediamannya. Ia malah menawarkan perhiasan dan emas supaya raja tidak menghukum keluarga mereka.” Ujar Heiss dengan jijik. Jelas sekali ia memandang rendah perilaku Duke Hayden.

Aku tidak mengatakan apapun. Begitu atasan begitu juga bawahannya. Ternya Duke Hayden adalah tipe yang suka menjilat atasan dan tidak ragu mengorbankan keluarganya sendiri. Dalam hal ini istrinya sendiri untuk dikirim ke ayahku. Aku yakin karena Countess Ariana tidak terima dengan perlakuan suaminya dan juga tidak ingin kehilangan martabatnya makanya ia membunuh dirinya sendiri.

Aku berpikir ngilu, kenapa harus gantung diri? Kenapa tidak pakai racun atau menembak diri dengan pistol?

Ah, tidak tidak. Pikiranku sudah melantur kemana-mana. Pekikan Banshee masih terdengar meskipun sudah tidak terlalu kencang. Aku menarik napasku, apa kabar kerajaan ini? Aku sebentar lagi mati dan ayahku itu tidak bisa diharapkan. Dalam benakku terbayang kotak kayu besar yang kini masih berada di rak pajangan di kamarku.

“Paman Lucas, bagaimana kabarnya sekarang?” Entah dari mana tiba-tiba saja ucapan itu terlontar dari bibirku.

Lucas adalah adik dari ayahku. Sejak muda ia sudah ikut bagian dalam militer dan saat ini ditugaskan di perbatasan perairan. Terakhir kali aku bertemu dengannya adalah lima tahun yang lalu saat umurku 16 tahun.

“Pastinya baik-baik saja. Mereka bilang tidak ada kabar berarti kabar baik, kan?”

Aku menggeleng. Dengan keadaan kerajaan yang seperti ini, ayahku yang tidak bisa diharapkan dan aku yang sudah diratapi oleh Banshee, aku berharap Paman Lucas segera kembali ke istana. Toh meskipun ayahku gemar main wanita di sana-sini ternyata ia tidak pernah punya anak lain selain diriku. Akan lebih baik jika Paman Lucas yang menggantikan ayahku menjadi raja. Sekali lagi bayangan kotak kayu berkelibat di mataku.

Aku menghela napas dan bangkit dari meja kerjaku, “Heiss, bisakah aku minta tolong kepadamu untuk mencari kontak apapun untuk menghubungi pamanku? Nomor handphone telepon bahkan tidak masalah kalau harus pakai merpati pos.” Aku tersenyum.

Heiss tersenyum lemah, “Zaman sekarang mana ada lagi yang pakai merpati pos?”

“Baiklah, kalau begitu Leyla, tiba-tiba besok aku ingin makan bubur daging bebek.”

Leyla tertawa, “Baiklah akan saya siapkan.”

“Tuan Putri terlalu random.”

“Itu karena aku mengantuk.” Aku merenggangkan tubuhku dan tidak menahan kuapanku lagi. Baru kusadari tidak ada lagi pekikan raungan dari Banshee.

“Saya akan menyiapkan keperluan tidur anda.”

“Saya akan menempatkan empat penjaga.”

Aku mengangguk pelan. “Baiklah, selamat malam semuanya.”

Nyonya Leyla dan para pelayan lain membantuku mengganti pakaian menjadi gaun tidur, membereskan tempat tidurku. Tirai kuperintahkan untuk dibuka karena aku ingin tidur ditemani cahaya dari luar. Saat semuanya sudah beres mereka mematikan lampu, membungkuk hormat dan menutup pintu. Aku tersenyum.

Untuk sementara mataku membiasakan diri dengan kegelapan dan menatap sekeliling kamarku. Semua ini akan kutinggalkan sebentar lagi. Perlahan aku melangkah menuju rak pajangan, dimana terdapat kotak kayu berukuran sedang. Perlahan aku membuka tutupnya dan memandang isinya. Semuanya akan baik-baik saja.

.

.

.

to be continued

 

 

Advertisements