Cemilan Rabu BunSay #2 : Mendidik Kemandirian Emosi Anak

Cemilan Rabu 3

Seorang lelaki duduk beristirahat dibawah pohon. Matanya menatap seksama kepompong kecil yang tergantung di cabang pohon tempatnya berteduh. Kepompong itu bergerak-gerak, nampaknya ada yang berusaha keluar dari dalam kepompong itu. Sungguh kesempatan langka, pikir si lelaki. dan iapun memperhatikan dengan lebih seksama. Cukup lama juga, kepompong itu terus bergerak-gerak, hingga akhirnya sedikit tersobek di salah satu sisinya. sobekan itu masih sangat kecil, belum cukup untuk pintu keluar bagi si penghuni kepompong. Maka iapun masih terus mengeluarkan tenaga, yang menyebabkan kepompongnya terus berguncang.

Lama kelamaan, si lelaki merasa jatuh kasihan, begitu banyak tenaga sudah dikeluarkannya, belum juga si penghuni berhasil keluar. Dilihatnya kepompong itu lebih dekat. Rupanya sobekannya masih juga terlalu kecil. Akhirnya diambilnya inisiatif untuk menolong si penghuni itu untuk bisa segera keluar. Segera diguntingnya kepompong tersebut sehingga terbuka lebar sisinya, agar si calon kupu-kupu bisa segera keluar.

Tapi sungguh diluar dugaan, yang keluar dari kepompong itu bukanlah kupu-kupu cantik, tetapi kupu-kupu dengan bentuk aneh. Kepala dan perutnya besar, sementara sayapnya lemah tak bisa terentang. Kupu-kupu cacat itu langsung terjatuh ke tanah, dan hanya bisa menggelepar-gelepar tak berdaya.

Ternyata tindakan si lelaki untuk menolong dengan menggunting kepompong itu yang justru menyebabkan cacatnya kupu-kupu itu. Sesungguhnya susah payahnya si kupu-kupu keluar dari kepompong, termasuk proses akhir pertumbuhan bandannya. Melalui kerja kerasnya mengguncang kepompong sampai tersobek itulah yang justru akan mengecilkan kepala dan badannya hingga ke ukuran yang pas. Sementara otot sayapnya menjadi kuat sehingga cukup kuat untuk mengepakkan sayapnya.

Tetapi campur tangan seseorang mengeluarkannya terlalu cepat, maka proses pertumbuhan terakhir itu tak sempat dilewatinya. Yang terlahir adalah kupu-kupu berkepala dan badan yang bengkak, dengan sayap yang loyo tak berkekuatan.

CAMPUR TANGAN YANG MERUSAK

Seperti kupu-kupu itu pulalah nasib anak-anak kita, jika orang tua terlalu banyak ikut campur tangan dalam pembentukan kemandirian emosi mereka. Ketika anak sudah sampai pada tahap pengendalian diri maka hampir seluruh upaya mereka lakukan sendiri. Orang tua hanya berperan sebagai fasilitator saja.

Saat anak berupaya mengendalikan emosi kemarahan, kesedihan atau kekecewaan yang menyerang dirinya, maka ayah ibu hanya bisa memotivasi saja, sementara si anaklah yang harus memutuskan sendiri, apakah ia akan lakukan atau tidak. Jika orang tua memberikan campur tangan dan bantuan untuk menyelesaikan masalah anak, maka anak tidak akan memperoleh pembelajaran hidup.

Ketika dua orang anak bertengkar, bukanlah tugas orang tua untuk melerai dan memutuskan siapa yang bersalah dan harus minta maaf. tetapi semestinya anak-anak itu sendirilah yang menyelesaikannya. Yang bisa dilakukan orang tua adalah memotivasi kedua anak yang sedang berseteru untuk berempati satu sama lainnya, sehingga perseretuan bisa diakhiri. Masing-masing bisa menghormati hasil fikiran temannya serta saling menghormati.

Bisa saja orang tua memaksa salah satu pihak yang dianggapnya salah untuk mengaku  salah dan minta maaf, tetapi bukannya menyelesaikan masalah, justru akan memperburuk masalah. Bukannya empati yang timbul dihati anak tapi justru rasa iri, merasa dipojokkan , pilih kasih  yang menimbulkan rasa dendam.

Disinilah orang tua belajar tega untuk tidak buru-buru menolong anak yang sedang berjuang menempuh ujian kehidupan. sehingga orang tua tidak terlibat dalam campur tangan yang merugikan. Sepintas nampaknya menolong anak keluar dari kesulitan yang dihadapi, akan tetapi justru menggagalkan pengembangan kemandirian emosi anak.

Salam ibu profesional
/Tim Fasilitator Bunsay 2/


Sumber Inspirasi
    Istadi, Irawati. Melipat Gandakan Kecerdasan Emosi Anak. Bekasi. Pustaka Inti:2006

Cemilan Rabu Bunsay #2 : Ciri Anak Mandiri dan Tahapan Perkembangan Kemandirian

Kemandirian anak usia dini berbeda dengan kemandirian remaja ataupun orang dewasa. Jika pengertian mandiri untuk remaja dan orang dewasa adalah kemampuan seseorang untuk bertanggung jawab atas apa yang dilakukan tanpa membebani orang lain, sedangkan untuk anak usia dini adalah kemampuan yang disesuaikan dengan tugas perkembangan.

Adapun tugas-tugas perkembangan untuk anak usia dini antara lain belajar berjalan, belajar makan, berlatih berbicara, koordinasi tubuh, kontak perasaan dengan lingkungan, pembentukan pengertian, dan belajar moral.

Empat ciri kemandirian anak yang perlu diketahui:
1. Anak dapat melakukan segala aktivitasnya secara sendiri meskipun tetap dengan pengawasan orang dewasa.
2. Anak dapat membuat keputusan dan pilihan sesuai dengan pandangan, pandangan itu sendiri diperolehnya dari melihat perilaku atau perbuatan orang-orang di sekitarnya.
3. Anak mampu bersosialisasi dengan orang lain tanpa perlu ditemani orang tua.
4. Anak bisa mengontrol emosinya bahkan dapat berempati terhadap orang lain.

Lima tahapan perkembangan kemandirian anak yaitu:
1. Anak mampu mengatur kehidupan dan diri anak sendiri, misalnya: makan, ke kamar mandi, mencuci, membersihkan diri, dan memakai pakaian sendiri.
2. Anak bisa melaksanakan ide-ide anak sendiri dan menentukan arah permainan.
3. Anak bisa mengurus hal-hal yang ada dalam rumah dan bertanggung jawab terhadap sejumlah pekerjaan domestik, mengatur bagaimana menyenangkan dan menghibur diri sendiri dalam alur yang diperbolehkan, dan mengelola uang saku sendiri.
4. Anak bisa mengatur diri sendiri di luar rumah, misalnya di sekolah, menyelesaikan pekerjaan rumah, menyiapkan segala keperluan kehidupan sosial di luar rumah.
5. Anak mampu untuk mengurus orang lain baik di dalam rumah maupun di luar rumah, misalnya menjaga adiknya ketika orang tua sedang mengerjakan sesuatu yang lain.

Dalam mendidik anak mandiri ini dibutuhkan kesabaran dan pengetahuan yang cukup.  Jangan lupa bahwa anak bukanlah miniatur orang dewasa.  Oleh karena itu anak tidak boleh dituntut menjadi orang dewasa sebelum waktunya.

Salam Ibu Profesional,
/Tim Fasilitator Bunda Sayang/


 Sumber bacaan :

http://www.al-maghribicendekia.com/2013/09/ciri-anak-mandiri-dan-tahapan

Cemilan Rabu BunSay: Kemandirian

Related image

Cemilan Rabu 1
12 Juli 2017

Kemandirian atau bergantung pada diri sendiri adalah konsep yang harus diperhatikan untuk ditanamkan pada jiwa anak. Banyak anak yang menjadi kurang mandiri pada era sekarang ini. Hal ini nampak jelas dirumah-rumah karena mereka sering kali bergantung pada pembantu. Begitu juga dalam mengerjakan tugas – tugas dan belajar. Sikap tersebut membuat nilai kemandirian pada anak berkurang. Dengan demikian, pada orangtua dan pendidik harus melatih anak agar belajar percaya diri serta dapat mandiri dalam perkara ibadah dan kehidupan.

Berikut beberapa hal yang dapat membantu untuk menanamkan nilai kemandirian pada diri anak.

1. Membiasakan Anak untuk Mengerjakan Urusan Rumah Sendiri

Misalnya, merapikan kamar, belajar dan mengerjakan tugas dengan tetap memberikan perhatian untuk membantunya pada saat tertentu.

2 .Membiasakan  Anak untuk Membeli Sesuatu dari Toko (Warung) dan Memberi Mereka Tugas Kecil

Misalnya  memberikan mereka catatan belanja dan membiarkan mereka belanja sendiri, lakukan berkali-kali sampai akhirnya mereka terlatih.

3. Pemilihan Baju

Memberikan kesempatan kepada anak untuk memilih bajunya sendiri. Saat tidak cocok kita bisa bertanya dan mengarahkannya saja.

4. Kemandirian Iman

Kemandirian Iman maksudnya adalah kita mengajari anak untuk menjaga ibadahnya sendiri. Ini juga tidak berarti membiarkannya, dan kita tetap harus mengawasi dengan tepat dan dan mengingatkannya  untuk beribadah.

5. Mengajarinya Perencanaan Sederhana

Misal membuat jadwal yang harus anak kerjakan setiap harinya dengan sederhana saja. Hal ini akan membantunya merencanakan aktivitasnya dengan baik, dengan demikian anak bisa belajar cara mengatur waktunya dan menjaganya agar efektif.

6. Mengambil Manfaat dari Rekreasi dan Perjalanan dalam Menanamkan Konsep  Kemandirian

Misal menjadikannya penanggung jawab dalam hal merapikan kamar atau mengelola sejumlah uang. Hal ini akan membantunya mandiri dalam mencari cara untuk menyelesaikan sesuatu yang dituntut darinya.

7. Kerjasama

Agar dalam kemandirian tidak menimbulkan hal-hal yang kurang baik seperti individualisme, sombong, dan rasa tidak memerlukan orang lain, perlu ditanamkan konsep bekerja sama dengan orang lain dalam bentuk yang baik.

Itulah beberapa cara yang dapat membantu kita menanamkan konsep kemandirian dan bergantung pada diri sendiri di jiwa anak. Jika konsep ini dilakukan dengan baik,  akan lahir generasi positif dengan izin Allah ta’ala.semoga bermanfaat… 🙏

Salam Ibu Profesional
/Tim Fasilitator Bunda Sayang /


Sumber :

Dr.  Yaser Nashr, _Mencetak Anak Berkarakter Positif, Unggul, Kreatif dan Berakhlak Mulia_

Cemilan Rabu BunSay: Berkomunikasi Sesuai Bahasa Cinta Anak

Menurut Gary Champan & Ross Campbell, MD, dalam buku mereka yang bertajuk The Five Love Languages of Children, terdapat 5 cara anak dan manusia memahami dan mengekspresikan cinta, yakni;

1. Sentuhan Fisik,

2. Kata-kata Mendukung,

3. Waktu Bersama,

4. Pemberian Hadiah,

5. Pelayanan.

Umumnya setiap anak bisa menerima cinta melalui 5 bahasa di atas, namun ada satu bahasa yang paling dominan pada masing-masing anak. Berikut adalah tips dalam berkomunikasi dengan si kecil sesuai bahasa cintanya.

1. Apabila bahasa cinta anak kita adalah Sentuhan Fisik

* Saat bertemu dan berpisah dengan si kecil, berilah pelukan.
* Saat si kecil stres, beri belaian untuk menenangkannya.
* Peluk dan cium si kecil saat ia tidur malam dan bangun pagi.
* Setelah mengajar disiplin pada si kecil, beri pelukan sejenak dan jelaskan bahwa pengajaran yang diberikan adalah untuk kebaikannya dan Anda tetap sayang padanya.
* Saat memilih hadiah untuknya, beri benda yang dapat ia pegang/peluk, seperti bantal, boneka, atau selimut.
* Saat menghabiskan waktu bersama si kecil, seperti menonton televisi bersama, duduklah berdekatan dengannya, sambil berpelukan.
* Sering-seringlah bertanya padanya apakah ia mau digandeng atau dipeluk.
* Apabila ia terluka, pegang dan peluk mereka untuk memberi kenyamanan.

2.Apabila bahasa cintanya adalah Kata-kata Mendukung

* Saat menyiapkan bekal untuknya, masukkan kertas kecil berisi kata-kata mendukung.
* Saat ia berhasil mencapai prestasi, tunjukkan rasa bangga Anda dengan memberi kata-kata membangun, seperti “Mama bangga dengan adik bermain adil di permainan tadi,” atau “Kakak baik sekali membantu adik membangun rumah-rumahan itu.”
* Simpan hasil karya si kecil, seperti lukisan atau tulisan, dan pajang dengan tambahan tempelan kertas mengapa Anda bangga dengan karyanya itu.
* Biasakan mengucap kata, “Mama sayang kamu,” tiap berpisah dengan si kecil atau menidurkannya di malam hari.
* Saat si kecil bersedih, bangun kepercayaan dirinya dengan mengucapkan alasan-alasan yang membuat Anda bangga padanya.

3. Apabila bahasa cintanya adalah Waktu Bersama

* Coba libatkan anak dalam aktivitas-aktivitas Anda, seperti belanja ke supermarket, memasak, mencuci piring, dan lain sebagainya.
* Saat si kecil ingin bercerita, hentikan sejenak aktivitas Anda untuk benar-benar menatap dan mendengarnya.
* Ajak si kecil memasak bersama, seperti membuat kue atau camilan lainnya.
* Tanyakan kepada si kecil mengenai tempat-tempat yang ingin ia kunjungi, dan jika ada kesempatan, beri kejutan dengan mengajak mereka ke tempat-tempat tersebut.
* Biasakan untuk memintanya menceritakan hari yang ia lalui di sekolah atau aktivitas lain yang telah ia lakukan.
* Saat mengajak si kecil bermain, bermainlah bersamanya ketimbang hanya menonton.
* Jika Anda memiliki lebih dari 1 anak, tetapkan jadwal bermain dengan masing-masing anak secara individu, tanpa melibatkan yang lain.

4. Apabila bahasa cintanya adalah Pemberian Hadiah

* Kumpulkan hadiah-hadiah kecil (tak perlu mahal) untuk diberikan kepada si kecil di saat-saat yang pas.
* Bawa permen atau camilan kecil lain yang dapat Anda berikan pada si kecil saat sedang bepergian.
* Beri makanan kesukaan si kecil, Anda bisa memasaknya sendiri atau mengajak si kecil ke restoran kesukaannya.
* Buah sebuah “kantong hadiah” berisi hadiah-hadiah (tak perlu mahal) yang dapat dipilih si kecil saat ia melakukan prestasi.
* Saat menyiapkan bekal untuknya, selipkan hadiah kecil untuknya.
* Buatkan semacam permainan teka-teki untuknya mencari hadiah dari Anda.
* Daripada membeli hadiah ulang tahun yang mahal, buatkan pesta ulang tahun meriah di tempat yang ia sukai.

5. Apabila bahas cintanya adalah Pelayanan

* Temani ia saat mengerjakan pekerjaan rumahnya.
* Saat ia sedih atau menghadapi kesulitan, buatkan makanan kesukaannya.
* Daripada menyuruhnya tidur, gendong atau gandeng mereka ke tempat tidur.
* Saat sedang bersiap-siap berangkat ke sekolah, bantu mereka memilih pakaian untuk hari itu.
* Mulai ajarkan si kecil mengasihi orang lain dengan memberi contoh membantu orang lain atau memberi sumbangan kepada orang yang kurang mampu.
* Saat si kecil sakit, angkat semangatnya dengan menonton film, membaca buku, atau masak sup yang ia sukai.
* Saat menyiapkan sarapan, makan siang, atau makan malam, selipkan makanan penutup atau camilan kesukaan mereka.

Cara mengamati bahasa cinta anak :

1.  Amati cara si Kecil mengekspresikan cintanya pada Mama

Apabila si Kecil seringkali mengucapkan “Aku sayang Mama” atau “Terima kasih Mama atas makan malam yang enak”, Bahasa Cinta yang dominan padanya mungkin adalah “Kata-kata Mendukung”.

2. Amati cara si Kecil mengekspresikan cinta kepada orang lain

Apabila si Kecil seringkali ingin memberikan hadiah kepada teman atau gurunya, mungkin Bahasa Cinta yang dominan padanya adalah “Pemberian Hadiah”.

3. Pelajari apa yang seringkali diminta oleh si Kecil

Apabila si Kecil sering meminta Mama untuk menemaninya bermain atau membacakan cerita untuknya, maka Bahasa Cinta yang dominan padanya mungkin “Waktu Bersama”. Sedangkan kalau si Kecil sering meminta pendapat Mama mengenai apapun yang sedang dilakukannya, seperti “Mama suka ga sama gambarku?” atau “Bajuku bagus ga Ma?”, mungkin Bahasa Cinta yang dominan padanya adalah “Kata-kata Mendukung”.

4. Pelajari apa yang seringkali dikeluhkan oleh si Kecil

Apabila si Kecil sering mengeluh mengenai kesibukan Mama atau Papa diluar rumah, seperti “Papa kok kerja terus yah” atau “Mama kok ga pernah mengajakku ke taman lagi,” maka mungkin Bahasa Cinta yang dominan padanya adalah “Waktu Bersama”.

5. Beri 2 pilihan kepada si Kecil

Dalam melakukan aktivitas sehari-hari, Mama bisa menanyakan apa yang diinginkan si Kecil, untuk menemukan Bahasa Cinta yang dominan padanya. Pertanyaan yang diberikan dapat berupa pilihan antara 2 Bahasa Cinta. Contohnya, saat Mama ada waktu luang, dapat memberi pilihan kepada si Kecil seperti “Sore ini adik mau Mama temani jalan-jalan atau mau Mama betulkan rok adik yang rusak?”, dengan memberi pilihan ini maka Mama memberikan pilihan antara Bahasa Cinta “Waktu Bersama” atau “Pelayanan”.


Sumber bacaan:

Gary Chapman & Ross campbell M.D, The 5 Love language of children, jakarta, 2014

Eric Berne, Games people Play, jakarta

Eric Berne, Transaksional Analysis, jakarta.

Cemilan Rabu BunSay

Cemilan Rabu 3
14 Juni 2017

Ratna dan Galih bersiap untuk pergi ke resepsi pernikahan sahabat Ratna. Ratna telah membeli gaun baru dan ingin tampil sempurna. Dia memegang dua pasang sepatu, yang pertama berwarna biru, dan yang kedua berwarna keemasan. Kemudian Ratna mengajukan pertanyaan pada Galih, pertanyaan yang paling ditakuti para pria, “Sayang, sepatu yang mana yang cocok untuk gaun ini?”

Rasa dingin menjalari punggung Galih. Ia tahu ia dalam kesulitan. “Ahh … umm … yang mana saja yang kamu suka, sayang,” jawabnya dengan tergagap.

“Ayolah, mas,” desak istrinya dengan tidak sabar. “Yang mana yang lebih bagus … Yang biru atau yang keemasan?

“Keemasan!” sahut Galih gugup.

“Emangnya apa yang salah dengan sepatu biru ini?” tanya Ratna. “Kamu memang ngga suka kan aku beli sepatu ini, Mas!”

Bahu Galih melorot. “Kalau kami ngga terima pendapatku, jangan bertanya dong!” katanya. Galih pikir istrinya bertanya untuk menyelesaikan “masalah”, tetapi ketika ia memberikan jawaban, istrinya sama sekali tidak berterima kasih.

🔅🔅🔅🔅🔅

Apakah Bunda pernah mengalami hal serupa di atas? 😊

Jika YA, sampaikan tips ini pada suami Bunda ya. Bantulah suami memahami kebutuhan dan keinginan Bunda dengan cara yang positif.

💡 TIPS MENGATASI SEPATU BIRU ATAU MERAH 👠

Apa yang harus dilakukan pria jika mendapatkan pertanyaan “sepatu biru atau merah”?

❎ Tidak “terjebak” memilih
✅ Balik bertanya ➡ “Kamu sudah memilihkan, sayang?”
✅ Puji apapun pilihan akhir wanita

OTAK DAN BICARA

Dr. Tonmoy Sharma, kepala pengajar psikofarmakologi di Institut Psikiatri, London, pada tahun 1999 melakukan scan otak MRI. Hasilnya, pria memiliki sedikit titik penting dalam otak untuk fungsi bicara, yaitu seluruh belahan otak kiri aktif, namun MRI tidak dapat menemukan banyak pusat bicara.

Sedangkan pada wanita, keterampilan berbicara berada dibelahan otak kiri depan, dan masih ditambah di area yang lebih kecil dibelahan kanan.

Karena memiliki area berbicara di kedua belahan, selain membuat wanita pandai berkomunikasi, hal ini membuat wanita menikmati berbicara dan banyak melakukannya. Hal ini memungkinkan wanita dapat mengerjakan pekerjaan lain sambil terus bicara ( multi tasking ).

WANITA BUTUH BICARA

Otak pria terbagi-bagi dan memiliki kemampuan untuk memisahkan dan menyimpan informasi. Pada akhir hari yang penuh masalah, otak pria yang mono-tracking dapat menyimpan semua masalah tersebut.

Berbeda dengan otak wanita, masalah wanita terus berputar di dalam kepalanya. Satu-satunya cara wanita melepaskan masalah dari kepalanya adalah membicarakan masalah tersebut untuk mengungkapkannya. Karena itu, saat seorang wanita bicara diakhir harinya, tujuannya adalah untuk melepaskan ganjalan hatinya, bukan untuk mendapatkan kesimpulan atau solusi.

BERPIKIR

Apa yang dilakukan oleh pria jika mendapatkan tantangan?

Jawaban populer : “Serahkan padaku” atau “Akan Aku pikirkan”.

Pria berpikir dalam diam, curhat tanpa suara dengan diri sendiri, dengan wajah nyaris tanpa ekspresi.

Kelemahan :
Wanita salah sangka menganggap pria tersebut pendiam, murung dan tidak ingin bersamanya.

Apa yang dilakukan wanita ketika berpikir?

Berpikir keras-keras = berbicara secara acak sekaligus mendaftar segala kemungkinan dan pilihan solusi.

Kelemahan :
Pria salah paham menganggap wanita “memberinya” sederet masalah dan mengharapkan solusi. Hal ini membuat pria cemas, marah, atau mencoba memberikan solusi. dalam dunia kerja, pria menilai wanita yang berpikir keras-keras sebagai wanita yang tidak disiplin dan tidak cerdas.

🔅🔅🔅🔅🔅

Dalam sehari, wanita memiliki 21.000 kata yang harus dikeluarkannya. Bandingkan dengan pria yang hanya memiliki ⅓-nya yaitu 7.000 kata. Perbedaan ini menjadi jelas dipenghujung hari ketika pria dan wanita bertemu setelah aktivitas harian masing-masing. Pria yang telah menghabiskan 7.000 katanya di tempat kerja tidak berkeinginan berbicara lagi. Sementara wanita tergantung aktifitasnya hari itu. Jika ia menghabiskan hari dengan berbicara dengan orang lain, mungkin ia telah menggunakan jatah katanya hari tersebut dan hanya sedikit berkeinginan berbicara lagi dengan pria pasangannya (berbicara bagi wanita adalah membangun hubungan). Jika wanita itu di rumah saja bersama anak-anaknya yang masih kecil-kecil, wanita itu akan beruntung jika dia sudah menggunakan 2.000 – 3.000 katanya. Ia masih memiliki sekitar 15.000 kata lagi yang bisa diucapkannya!

Proses wanita berbicara pada pasangan di penghujung hari dengan sisa kata yang ada sering disalah artikan oleh pasangannya sebagai cerewet dan omelan. Hal ini karena pria yang telah kehabisan kata tersebut menginginkan kedamaian dan ketenangan. Masalah muncul ketika wanita mulai kesal karena merasa tidak ditanggapi dan diabaikan.

Ketika pria tidak berkata apa-apa (diam), serta merta wanita merasa dirinya tidak dicintai.

Tujuan wanita berbicara adalah bicara.

Tetapi, menurut pria, ketika wanita menceritakan masalahnya tanpa henti maka itu adalah sebuah kode permohonan untuk mendapatkan solusi. Dengan otak analitisnya, pria akan memotong pembicaraan pasangannya dan memberikan solusi.

Kabar baik bagi pria :

Ketika seorang wanita berbicara untuk mengeluarkan kata-kata yang belum sempat diucapkannya hari itu, dia tidak ingin disela dengan solusi untuk masalahnya. WANITA HANYA INGIN DIDENGARKAN.

Ketika seorang wanita telah selesai berbicara dia akan merasa lega dan bahagia. Wanita akan menilai pasangannya sebagai pasangan yang hebat karena mau menyimak.

Dengan membicarakan masalah sehari-hari, wanita modern mengatasi rasa tertekannya. Mereka menilai percakapan yang terjalin antara mereka sebagai sebuah hubungan dan dukungan.

74% wanita bekerja dan 98% wanita yang tidak bekerja, menyebutkan kegagalan terbesar pasangan mereka adalah mereka enggan berbicara, terutama di penghujung hari sepulang dari aktivitas.

Generasi wanita sebelumnya tidak pernah mengalami ini karena mereka selalu mempunyai begitu banyak anak dan wanita-wanita lainnya yang dapat diajak bicara dan saling mendukung. Sekarang, para ibu yang tinggal di rumah sepertinya tampak kesepian karena ketiadaan teman bicara. Akan tetapi, dengan kemampuan otak yang luar biasa, wanita dapat belajar keterampilan baru yang dibutuhkan untuk bertahan.

MEMBUAT PRIA MENDENGARKAN/MENYIMAK

✅Tentukan waktu
✅Tegaskan bahwa Anda butuh/tidak butuh solusi

“Sayang, Aku ingin ngobrol denganmu tentang pengalamanku hari ini. Setelah makan malam ya. Aku tidak perlu solusi darimu, Aku hanya ingin Kamu mendengarkanku.”

Kebanyakan pria akan memenuhi permintaan seperti ini karena jelas waktunya dan tujuannya ➡ sesuai dengan otak pria.

Sebaliknya, jika Anda membutuhkan solusi/masukan, perhatikan :

✅Choose the right time
✅Penuhi kebutuhannya
✅Tegaskan kebutuhan Anda akan solusi

“Sayang, Aku ingin ngobrol denganmu tentang perkembangan belajar Arya. Setelah Arya tidur ya. Aku butuh masukanmu sayang.”

WANITA DAN SUARA
Penelitian menunjukkan, dalam dunia kerja, seorang wanita yang bersuara lebih dalam dianggap lebih cerdas, berwibawa dan dapat dipercaya. Untuk mendapatkan suara yang lebih dalam, Anda dapat berlatih merendahkan dagu, berbicara lebih lambat dan monoton.

Di lapangan, untuk mendapatkan kewibawaan, banyak wanita yang menaikkan suaranya, padahal hal tersebut justru memberi kesan agresif dan kontraproduktif.

/Tim Fasilitator Bunda Sayang 2/

IMG-20170614-WA0001


📚 Sumber Bacaan :

Why Men Don’t Listen and Women Can’t Read Maps Mengungkap Perbedaan Pikiran Pria dan Wanita Agar Sukses Membina Hubungan, Allan + Barbara Pease

Family Forum

Cemilan Rabu 2
7 Juni 2017

🍇Apa sih family forum itu?

➡Family forum adalah kegiatan ngobrol bersama keluarga inti,  yang dibangun untuk saling mengalirkan rasa,  mengetahui hobi anak-anak, aktivitas harian mereka, trend pengetahuan dan berita yang ada saat ini, kebutuhan seluruh anggota keluarga dan masalah atau tantangan-tantangan apa saja yang dihadapi oleh seluruh anggota keluarga serta harapan dan cita-cita dari masing-masing anggota keluarga. Family forum merupakan salah satu sarana pendukung terjadinya komunikasi produktif di dalam keluarga.

🍌Siapa saja yang terlibat dalam Family Forum?

➡Keluarga inti: Ayah,  ibu,  dan anak-anak.

🍊Kenapa kita perlu mengadakan family forum?

-Sebagai sarana untuk mengalirkan rasa
-Menyamakan Frame of Experience dan Frame of Reference
-Melancarkan komunikasi diantara anggota keluarga
– Sarana belajar bagi anggota keluarga untuk dapat berbicara dan mendengar dengan baik.
– Menggagas ide,  menyamakan visi misi keluarga, merencanakan dan menetapkan cita-cita bersama

🍰Kapan, dimana dan bagaimana kita bisa melaksanakan family forum?

➡ Boleh kapan dan dimana saja. Bentuknya pun beragam, seperti di meja makan dengan sebutan “meja peradaban”, bisa juga selepas jamaah maghrib menjadi ” maghrib time”, ngeteh bersama “tea time”, ngopi bersama “coffee break”, ngegame bersama “play on”, ngemil bersama “snack time”, bahkan bisa dilakukan jarak jauh dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi saat ini, dll.

Ketika anggota keluarga sedang berkumpul semua, maupun saat salah satu anggota keluarga berada dalam kondisi berjauhan, masih tetap bisa dilakukan kegiatan family forum.

Sebagai sarana pendukung komunikasi produktif dalam keluarga, perbanyaklah membuat forum keluarga saat sore ngeteh bersama, atau sepekan sekali saat akhir pekan.

Selamat membuat forum keluarga

/Tim Fasilitator Bunda Sayang 2/


Sumber Bacaan:

Hasil Belajar Kelas Bunda Sayang Koordinator Nasional dg Ibu Septi Peni Wulandani

Review 1 Game Level 3, Kelas Bunda Sayang 1

Pengalaman pribadi fasil Bunda Sayang 2

BunSay#1 : Komunikasi Produktif, Komunikasi Efektif

Cemilan Rabu #1 
31 Mei 2017

Seberapa pentingnya komunikasi? Dari komunikasi, orang dewasa dan anak-anak belajar tentang agama, values, dan sebagainya. Komunikasi juga menentukan konsep diri anak/ self concept yang nantinya akan menentukan harga diri/ self value dan percaya diri/ self confidence anak. Inilah mengapa materi Komunikasi Produktif menjadi awal dari segala materi.

Kunci dalam komunikasi ialah perasaan.  Jika ingin nasehat atau pesan kita diterima oleh orang lain terutama anak kita, yang diperlukan ialah memahami perasaannya terlebih dahulu. Karena pada dasarnya, manusia memiliki lima kebutuhan dasar dalam komunikasi yaitu agar perasaannya Di dengar, Di kenali, Di terima, Di mengerti, dan Di hargai (5D) yang merupakan kunci komunikasi.

Kadang secara tidak sengaja kita salah berbicara kepada anak untuk mendapatkan hasil instan (misal: agar anak cepat diam dari tangisnya). Kesalahan Komunikasi ini menimbulkan dampak yang disebut dengan Verbal Abuse, meski terjadi secara tidak sengaja tetapi hal ini dapat merusak jiwa anak dan efeknya baru terlihat dalam jangka panjang.

Berikut akibat kesalahan komunikasi pada anak:
♻ Melemahkan konsep diri
♻ Membuat anak diam, melawan, tidak perduli, sulit diajak kerjasama
♻ Menjatuhkan harga dan kepercayaan diri anak
♻ Kemampuan berfikir menjadi rendah
♻ Tidak terbiasa memilih dan mengambil keputusan bagi diri sendiri
♻ Iri
♻ Menjadi generasi yang BLAST (teori Mark Kaselmen) merupakan singkatan dari Boring-Lonely-Angry/Afraid-Stress-Tired yang akhirnya mengakibatkan beberapa penyimpangan sosial.

Selain kata-kata, yang harus diperhatikan dalam berkomunikasi ialah bahasa tubuh. “Action is louder than words

Lalu bagaimana cara berkomunikasi yang baik, benar dan menyenangkan pada anak ? (Langkah-langkah berikut ini pada dasarnya bisa digunakan kepada siapa saja lawan bicara kita)

1. Jangan bicara tergesa-gesa
Siapa yang tidak pernah merasa bahwa waktu sempit atau sedikit? Tapi bicara tergesa-gesa akan membuat pesan yang kita sampaikan gagal diterima otak anak. Hindari bicara tergesa-gesa,  apalagi sambil marah-marah dengan muka garang tanpa senyum. Bahkan jika bisa, cobalah tersenyum. Senyum dapat mengaktifkan hormon seretonin yang membuat kita merasa senang. Ingat, jika perasaan senang, otak bisa menyerap lebih banyak!

2. Ingat: Setiap pribadi unik
Hargai setiap pribadi lawan bicara kita. Allah telah menciptakan setiap manusia unik dan berbeda-beda (lihat QS 3:6), maka jangan samakan dirinya dengan kita apalagi orang lain.

3. Kenali diri sendiri dan anak
Kebanyakan orang yang belum mengenal diri masih terpaku dengan rutinitas.
Masih ingat aktifitas dinamis? Orang yang telah banyak mengelola aktifitas dinamis bisa jadi telah lebih dulu mengenal siapa dirinya (be do have). Sehingga mereka cenderung mudah memanage diri, waktu dan kondisi di sekitar mereka.

Karena itu, ambillah waktu untuk mengenali diri sendiri dan anak atau siapapun orang terdekat kita. Dengan lebih mengenal anak, akan lebih mudah kita berkomunikasi dengannya. Sisihkan waktu tertentu untuk bisa berduaan hanya dengan anak/pasangan.

4. Pahami perbedaan needs dan wants
Setiap pribadi unik, begitu juga dengan kebutuhan (needs) dan kemauan (wants) -nya. Bedakan kebutuhan dan kemauan kita dengan anak. Misalnya, anak mau bermain terus, namun ia butuh mandi atau makan. Coba pahami kemauannya, selami dunianya, baru kemudian beritahu anak apa yang sesungguhnya menjadi kebutuhannya.

5. Pahami “Masalah Siapa?”
Siapa yang sebenarnya memiliki masalah? Saya atau anda? Kadang, kita mencampurkan masalah kita dengan orang lain, atau masalah orang lain dengan kita. Sebelum berkomunikasi, analisa siapakah yang bermasalah? Apakah perlu dibantu atau tidak? Misal ketika anak dihadapkan pada suatu masalah, ini adalah kesempatan anak untuk berpikir, memilih, dan mengambil keputusan (BMM). Jika anak dibimbing untuk membuat pilihan dan mengambil keputusan, ia akan tumbuh menjadi anak yang mandiri dan bertanggung jawab.

6. Baca bahasa tubuh
Bahasa tubuh lebih nyaring dari kata-kata. Dalam komunikasi 55% berisi bahasa tubuh, 38% nada suara dan sisanya hanya 7% yang ditentukan oleh kata-kata. Karena itu, bahasa tubuh tidak pernah bohong. Baca bahasa tubuh anak untuk mengerti apa yang ia rasakan.

7. Dengarkan Perasaan
Kunci komunikasi ialah perasaan. Maka cobalah dengar perasaannya dengan menebak apa yang sedang ia rasakan dari bahasa tubuhnya. Misalnya, “Adik sedang kesal/marah/jengkel ya?”, “Adik sedih ya karna mainannya hilang?”. Dengan menerima perasaan anak, anak mau membuka diri, mengeluarkan emosi dan masalahnya. Dengan mengetahui apa masalahnya, kita dapat membantu anak untuk menyelesaikan masalah tersebut.

8. Mendengarkan dengan aktif
Jadilah cermin ketika anak bercerita tentang masalahnya. Tunggu dan eksplore perasaannya hingga tuntas, dan berikan respons yang sesuai seperti, “Oooh.. Begitu ya?” “Terus?” “Kamu kesal sekali ya?”. Sediakan ruang bagi emosinya. Jika emosinya sudah mengalir, maka korteks otaknya siap bekerja. Selanjutnya, anak akan lebih mudah menerima informasi dan pesan dari kita.

9. Hindari 12 gaya populer (parenthogenic)

Tanpa kita sadari, secara turun temurun 12 gaya komunikasi ini sering kita gunakan dalam percakapan sehari-hari. Ketika anak sedang atau tidak bermasalah pun, jika kita sering meresponnya dengan menggunakan 12 gaya populer ini, anak akan merasa TIDAK percaya dengan emosi atau perasaannya sendiri.

Berikut ialah contoh-contoh 12 gaya populer:

1⃣Memerintah,
contoh: “Mama tidak mau dengar alasan kamu, sekarang masuk kamar dan bereskan kamarmu!”

2⃣Menyalahkan,
contoh: Ketika anak tidak bisa mengerjakan soal PRnya, ayah berkata, “Tuh kan. Itulah akibatnya kalau kamu tidak mendengarkan Ayah dan malas belajar”

3⃣Meremehkan,
contoh: “Masak pakai sepatu sendiri saja tidak bisa, bisanya apa dong Kak?”

4⃣Membandingkan,
contoh: “Kok kamu diminta naik ke panggung saja tidak mau sih Kak, tuh lihat Andi saja mau”

5⃣Memberi cap,
contoh:”Dasar anak bodoh, disuruh beli ini saja salah!”

6⃣Mengancam,
contoh: “Kalau kamu tidak mau makan lagi, kamu tidak akan dapat uang jajan selama seminggu!”

7⃣Menasehati,
contoh: “Makanya, kalau mau makan cuci tangannya dulu, nak… Tangan kan kotor banyak kumannya…”

8⃣Membohongi,
contoh: “Disuntik tidak sakit kok nak, seperti digigit semut aja kok”

9⃣Menghibur,
contoh: Ketika adik menemukan bahwa es krim nya dimakan oleh kakaknya tanpa sepengetahuannya, bunda berkata, “Sudah ya sayang, besok bunda belikan lagi es krimnya, lebih enak dari yang dimakan kakak tadi”

🔟Mengeritik,
contoh: “Lihat tuh! Masak mengepel masih kotor dimana-mana begitu. Mengepelnya yang benar dong!”

1⃣1⃣Menyindir,
contoh: “Hmmm… Pintar ya? Sudah mandi, sekarang main tanah dan pasir lagi”

1⃣2⃣Menganalisa,
contoh: “Kalau begitu, yang mengambil bukumu bukan temanmu, mungkin kamu tinggalkan di tempat lain…”

Aha! makin banyak yang harus kita perbaiki ya, ayo lanjutkan tantangan 10 hari teman-teman, dengan kualitas komunikasi yang semakin bagus.

10. Gunakan “Pesan Saya”
Jika kita yang memiliki masalah terhadap anak, gunakanlah “pesan saya” atau “i-message” yaitu dengan:

“Ayah/Ibu merasa …. (isi perasaan kita) Kalau kamu …. (isi perilaku anak) Karena… (isi konsekuensi terhadap diri sendiri/orangtua/orang lain”

Contoh: “Ayah merasa marah kalau kamu tidak mendengarkan ayah bicara karena itu membuat ayah merasa tidak berharga“.

Pesan saya memisahkan antara masalah dengan diri anak. Bedakan dengan pesan kamu. Pesan kamu menggunakan kamu (yaitu anak) sebagai subjek masalah misalnya, “Kamu tidak pernah mendengarkan ayah!“. Dalam “pesan kamu”, anak tidak bisa membedakan mana masalahnya dan mana dirinya. Hal tersebut jika terus menerus dapat melemahkan konsep diri anak.

/Tim Fasilitator Bunda Sayang 2/


Sumber Informasi:
Catatan Seminar Elly Risman, artikel
Cemilan Rabu Bunda Sayang Batch #1