Pembelajar Mandiri

Cemilan Rabu ke 4
Rabu, 27 September 2017

Menyiapkan anak agar mampu menjadi pembelajar mandiri atau otodidak adalah menyelaraskan diri dengan tuntutan zaman.

Menurut Alvin Toffler, seorang futurolog, mengatakan ” Yang disebut dengan buta huruf pada abad ke-21 bukanlah orang yang tidak bisa membaca dan menulis, tetapi orang yang tidak bisa belajar, melepaskan yang diketahuinya dan belajar ulang

Salah satu kemampuan yang dibutuhkan untuk dapat survive adalah memiliki keterampilan beradaptasi, menjadi seorang pembelajar mandiri yang sigap belajar pengetahuan baru.

Seperti apakah anak yang menjadi pembelajar mandiri??

Ciri Pembelajar Mandiri

🍩 Memiliki motif internal

Ia akan aktif dan berinisiatif, dia bukan “orang suruhan” yang baru belajar bila disuruh, tetapi memiliki motivasi dari dirinya sendiri untuk belajar

🍩 Berorientasi Tujuan

Ia tau apa yang ingin diraihnya.

🍩Terampil mencari bahan belajar

Dia tahu dimana dan bagaimana proses belajar yang dibutuhkannya.

🍩Pandai mengelola diri

Dia tahu kapan harus bekerja keras dan kapan harus beristirahat.

Apa yang perlu dilakukan untuk menyiapkan anak menjadi pembelajaran mandiri?

🥕Sediakan lingkungan dan kultur yang kondusif

Kembangkan budaya keluarga yang menghargai inisiatif dan keaktifan anak. Berikan tanggung jawab sesuai perkembangan usianya.

🥕Bangun kebiasaan hidup terencana

Diskusikan dengan anak mengenai mimpi dan rencana-rencana mereka. Bantu mereka untuk merealisasikan yang direncanakan menjadi kenyataan.

🥕 Latih Keterampilan belajar

Ajari anak menggunakan mesin pencari, menggunakan kamus, keterampilan bertanya dan
mencari informasi, mengikuti tutorial, peta dan keterampilan hidup lainnya.

Mari menyiapkan generasi pembelajar mandiri

Salam Ibu Profesional,

/Tim Fasilitator Kelas Bunda Sayang/

 

📚Sumber bacaan:
(Apa Itu Homeschooling, Sumardiono, 2014)

Advertisements

Keajaiban Gaya Belajar

Cemilan Rabu ke 2,

materi ke 4,

13 September 2017

Gaya belajar adalah cara manusia mulai berkonsentrasi, menyerap, memproses dan menampung informasi yang sulit. Hal yang perlu diingat adalah:

🍃 Kita semua punya gaya belajar yang sama uniknya dengan sidik jari.

🍃 Kita masing- masing menerima informasi, menyimpan pengetahuan dan mengambilnya kembali dengan cara yang berbeda- beda

Apabila orang dibiarkan belajar dengan gaya mereka sendiri dan menemukan lingkungan yang sesuai dengan kegiatan- kegiatan mereka maka tidak ada batasan untuk pencapaian manusia. Mereka biasanya menjadi sangat bergairah menyelesaikan tugas- tugas belajar dan menjadi benar- benar suka belajar seumur hidup.

Hampir semua murid berprestasi rendah  adalah anak- anak yang gaya belajarnya tidak cocok dengan kebanyakan gaya mengajar di sekolah.

Banyak anak yang dikeluarkan dari sekolah itu menjadi tokoh termasyhur di dunia:

🏵 Winston Churchil mendapat nilai buruk dalam tugas- tugasnya di sekolah. Dia juga gagap kalau berbicara

🏵 Albert Einstein suka melamun dan gagal dalam pelajaran matematika di awal SMA.

🏵 Thomas Alva Edison dianggap gurunya “suka bingung” karena bertanya terlalu banyak.

🏵 Beethoven tidak bisa mengalikan dan membagi.

Semua orang- orang itu mempunyai persamaan yaitu mempunyai gaya belajar yang tidak cocok dengan gaya ketika mereka mendapat pengajaran. Untungnya masing- masing tampaknya punya dorongan untuk mencapai keberhasilannya sendiri atau dengan bantuan orang lain yang mengerti mereka.

Ada 4 indera yang paling mempengaruhi proses penyerapan informasi dan proses belajar yaitu : melihat, mendengar, menyentuh dan merasa.

Anak- anak untuk pertama kalinya mulai belajar dengan mengalaminya secara langsung secara kinestetik yang artinya butuh melibatkan seluruh tubuh/ indera. Modalitas kedua yang  berkembang adalah taktil, itulah sebabnya anak- anak kecil harus menyentuh semua yang menarik minatnya. Mereka belajar dengan cara menggarap dan berinteraksi dengan orang atau benda. Sekitar usia 8 tahun sebagian anak mulai mengembangkan preferensi visual yang kuat yang memungkinkan mereka menyerap informasi dengan cara mengamati dan melihat apa yang terjadi di sekitar. Melihat menjadi alat belajar yang sangat penting. Kira- kira usia 11 tahun banyak yang mulai lebih bersifat auditory artinya mereka mulai bisa belajar dengan baik terutama dengan mendengar. Akan tetapi mayoritas anak usia sekolah tetap bersifat kinestetik atau taktil selama bertahun- tahun di sekolah dasar.

 

Salam ibu profesional

Tim Buku Fasil Bunda Sayang bath 2

 

Sumber: Buku “The Power of Learning Style” oleh Barbara Prashing

Semua Anak Itu Pintar!

🌟 Cemilan Rabu ke-1 🌟
6 September 2017

Apa yang membuat orang dikatakan “pintar”?
Apakah itu karena dia bisa belajar keterampilan baru dengan mudah atau bisa memunculkan ide-ide baru?
Apakah kecerdasan itu sesuatu yang sifatnya “warisan” atau sesuatu yang dapat kita kembangkan?

Mengamati Kecerdasan Anak dari Perilakunya Sehari-hari
Kita bisa menemukan kecerdasan pada anak kita dengan mengamati karakteristik-karakteristik seperti berikut:

1. Kemampuan Bahasa Lisan
🖊 Kosakata yang canggih
🖊 Gaya bicaranya penuh warna
🖊 Kreatif jika disuruh mendongeng
🖊 Pintar melontarkan lelucon dan permainan kata-kata

Dengan mengamati karakteristik di atas kita bisa mencari kreativitas yang tidak biasa atau pengembangan bahasa yang lebih maju dalam percakapan anak kita sehari-hari.

2. Kemampuan Pembelajaran
🖊 Memiliki kemampuan mempelajari informasi baru dengan cepat
🖊 Memiliki pengetahuan yang luar biasa tentang berbagai topik
🖊 Memiliki kemampuan untuk menemukan hubungan di antara ide-ide yang beragam
🖊 Memiliki daya ingat (memori) yang baik

Selanjutnya kita bisa membuat catatan dari situasi di mana anak belajar dan memahami materi baru dengan lebih cepat daripada teman-temannya. Dalam hal ini, kita harus pandai-pandai menemukan analogi dan interkoneksi kreatif yang ditampilkan anak.

3. Kemampuan Pemecahan Masalah
🖊 Memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah yang menantang
🖊 Fleksibel dalam menerapkan strategi yang telah dia pelajari sebelumnya dalam memecahkan masalah yang baru
🖊 Memiliki kemampuan untuk berimprovisasi dengan benda-benda dan mateeial yang ada di sekitarnya

Dengan memberikan tugas dan problem yang tidak biasa di mana anak tidak memeliki strategi yang siap pakai.

4. Strategi Kognitif dan Metakognitif
🖊 Menggunakan strategi pembelajaran yang canggih
🖊 Berkeinginan untuk bisa memahami bukan menghapal
🖊 Mudah paham dan mengerti serta efektif dalam memerhatikan sesuatu

Kita bisa meminta anak untuk menjelaskan bagaimana mereka menciptakan cara untuk hal-hal yang ingin mereka pelajari atau yang ingin mereka mudah untuk mengingatnya.

5. Memiliki Rasa Ingin Tahu
🖊 Haus akan ilmu pengetahuan
🖊 Cenderung banyak mengajukan pertanyaan
🖊 Adanya motivasi intrinsik untuk menguasai materi pelajaran yang menantang

Bagaimana caranya kita mematik rasa keingintahuan anak-anak, salah satunya adalah dengan mencari tahu apa yang ingin anak-anak lakukan di waktu luang mereka. Dari situ kita bisa membantunya dengan melempar pertanyaan (5W+1H) sehingga dari situ anak-anak akan mulai mencari tahu sebanyak-banyaknya.

6. Kemampuan Kepemimpinan dan Jiwa Sosial
🖊 Memiliki kemampuan untuk membujuk dan memotivasi orang lain
🖊 Memiliki kepekaan yang luar biasa terhadap perasaan ada bahasa tubuh orang lain
🖊 Memiliki kemampuan untuk menengahi perbedaan pendapat dan membantu orang lain untuk bisa mencapai kesepakatan

Coba perhatikan bagaimana cara anak-anak kita berinteraksi dengan teman-teman mereka di lingkungan permainan, kelompok belajar, dan aktivitas lainnya. Apakah anak-anak kita sering tampil sebagai pemimpin ataukah seringnya menjadi follower saja ataukah memiliki jiwa sosial yang tinggi terhadap siapapun ataukah lebih cuek dan cenderung tidak perduli dengan sekitarnya.

 

Salam Ibu Profesional

/Tim Fasilitator Bunda Sayang 2 /

📚 Sumber:

📔 Priyatna, Andri (2013). Pahami Gaya Belajar Anak. Jakarta, Kompas Gramedia.

Ragam Kegiatan Penstimulus Kecerdasan Anak

Cemilan Rabu ke-4,

30 Agustus 2017

Anak-anak tumbuh dengan cepat dan belajar banyak hal daripada yang bisa kita lihat. Anak-anak, terutama di bawah usia 5 tahun, belajar dari hal yang dekat dengannya, dan dari kebiasaan sehari-hari yang sederhana.

Menurut Tony Buzan, dalam bukunya Buku Pintar Mind Map (2006), anak berusia 0-5 tahun lebih banyak belajar serta lebih banyak mengetahui hal-hal baru daripada seorang mahasiswa yang kuliah dan menyelesaikan gelar sarjananya. Usia 0-5 tahun ini kita kenal dengan the golden years.

Ketika anak dalam masa pertumbuhan dan perkembangan, orang tua hendaknya memberikan aktivitas sehari-hari yang dapat menstimulus kecerdasan, kreativitas, dan kepercayaan diri anak. Beragam aktivitas ini tentu disesuaikan dengan usia dan tahap tumbuh kembangnya.

1. Mengekspresikan wajah di depan cermin
Ketika bercermin anak mulai mengembangkan kesadaran siapa dirinya, belajar mengontrol dan mengenali ekspresi, dan membantu rasa percaya dirinya dengan pengetahuan akan dirinya. Kegiatan ini bisa dilakukan sejak anak masih bayi.

2. Bermain bola
Bermain bola membantu perkembangan koordinasi mata dan tangan serta kemampuan motorik kasar secara keseluruhan.

3. Bermain Puzzle
Permainan ini mampu merangsang perkembangan otak belahan kiri dan kanan anak sekaligus. Saat bermain puzzle, kecerdasan spasial anak dilatih, dengan membongkar dan memasang ulang dalam kesesuaian bentuk, pola atau warna.

4. Menggambar, melukis, atau mewarnai
Kegiatan ini dapat mengasah motorik halus, melatih fokus, emosional, kreativitas dan menjaga keseimbangan otak belahan kanan dan kiri anak.
Menurut Asri Nugroho, seorang pelukis dan pengajar, usia yang paling ideal bagi anak untuk diajarkan mengambar adalah 4 tahun.

5. Berenang
Ada ungkapan bahwa olah raga terbaik adalah berenang. Dengan berenang seluruh bagian tubuh digerakkan dan mendapat manfaat yang sama, baik organ luar maupun organ dalam tubuh.
Sebuah penelitian di Melbourne menyebutkan bahwa gerakan anggota badan anak ketika berada dalam air dapat merangsang pertumbuhan saraf otaknya sehingga IQ-nya tumbuh lebih cepat dan lebih baik.

6. Memperkenalkan peta pada anak
Memperkenalkan peta pada anak berarti mendorong mereka untuk memahami tentang ruang dan bagaimana berpikir global tentang dunia di alam semesta dilihat dari sudut pandang yang lebih besar. Hal ini akan memperluas wawasan anak tentang dunia tempatnya tinggal.

7. Bersepeda
Bersepeda merupakan kegiatan yang dapat merangsang kemampuan dan kecerdasan anak. Ketika bersepeda, berbagai kemampuan anak dilatih sekaligus, seperti kemampuan motorik kasar dan halus, kemampuan keseimbangan, kemampuan membaca ruang, serta kemampuan berkonsentrasi.

8. Berkebun
Anak-anak yang diajari berkebun sejak dini akan terlatih untuk merawat dan mencintai lingkungan. Mereka akan belajar tentang kebersihan, keteraturan, dan keindahan.

9. Memasak
Melibatkan anak memasak memberikan banyak manfaat bagi rangsangan kecerdasan anak.
▶ mengajarkan disiplin
Anak akan tahu memasak membutuhkan tahapan dan proses. Ada urutan langkah dalam proses memasak yang perlu dipatuhi agar masakan menjadi lezat.
▶ melatih motorik
Ketika memasak motorik anak akan dilatih saat melakukan kagiatan mangaduk, menuang, memotong dan menumbuk
▶ Belajar matematika sederhana.
Ketika anak menakar, mencampur bahan dan bumbu masakan, maka saat itu ia belajar tentang perbandingan. Melalui perbandingan itu anak belajar berhitung dan mengasah kecerdasan otaknya.
▶ Melatih konsentrasi
Memasak tidak boleh ditinggal begitu saja, tetapi perlu dipantau dan dijaga. Ini akan melatih anak untuk berkonsentrasi.

Salam ibu profesional

/Tim Fasilitator Bunda Sayang 2 /

 

📚 Sumber:
📔 Astuti Yuli, Cara mudah asah otak anak; 2016.
📔 Pramono Octavia, Temukan sedini mungkin keajaiban potensi anak anda; 2015

Enam Tahun Pertama Yang Berarti

✨Cemilan Rabu ke-3✨
 23 Agustus 2017

💐Bunda yang berbahagia, sebuah pernyataan oleh Collin Rose seorang praktisi bidang Accelerated Learning sungguh mengejutkan. Dia mengatakan bahwa anak mulai usia nol sampai enam tahun mempelajari dan menguasai lebih banyak daripada orang dewasa yang bersekolah hingga mencapai gelar doktor.

💐Berdasarkan hasil penelitian Neuro Science atau ilmu yang meneliti tentang cara kerja otak manusia, ditemukan bahwa otak manusia mirip sebuah prosesor komputer, pada saat bayi baru lahir masih kosong dan belum terisi program kerja. Saat itu, sebagian besar kerja otak masih diatur oleh otak kecil yang masih primitif, yang hanya terbatas untuk mengatur fungsi- fungsi dasar kehidupan, seperti fungsi pernapasan, detak jantung, suhu tubuh, dan sejenisnya.

💐Namun demikian, secara alami Tuhan telah meng- Install atau meletakkan program (software) yang dikenal dengan the instinct of learning. Software itu merupakan naluri belajar alami yang biasanya ditunjukkan melalui rasa ingin tahu yang luar biasa terhadap berbagai hal.

💐Pada balita, the instinct of learning masih bekerja secara penuh atau in full capacity. Melalui rasa ingin  tahu yang luar biasa inilah otak anak akan terus diisi oleh hal – hal baru, yang diibaratkan sebagai program- program kehidupan. Dia selalu ingin tahu apa yang dipegang orang tuanya, apa yang dibaca, bagaimana membuka ini dan itu, sepanjang hari sejak terbangun dari tidurnya.

💐Sesungguhnya fase balita ini adalah fase paling kritis ketika otak harus diisi dengan program- program pembelajaran. Tuhan juga melengkapi di dalam otak anak kita sebuah energi yang besar, yakni energi untuk memaksa dan pantang menyerah untuk mendapatkan apa yang diinginkannya agar otak dapat terus terisi.

💐Energi inilah yang sering kali diterjemahkan oleh orang tua sebagai sikap keras kepala dan susah diatur. Sesungguhnya dia hanya menjalankan program yang sudah diletakkan Tuhan dalam dirinya untuk kebaikan perkembangan otaknya. Ini juga yang disebut oleh Collin Rose sebagai proses belajar yang sesungguhnya, yakni memenuhi rasa ingin tahu yang terus menerus sehingga pada akhirnya anak akan menguasai satu persatu apa yang dipelajarinya itu.

💐Namun sayangnya, menurut hasil penelitian The Instinct of Learning pada anak akan mengalami penurunan. 🌹Penurunan ini disebabkan oleh tiga hal besar :

🌷disebabkan oleh orangtua dan guru yang terlalu banyak melarang anak untuk memenuhi rasa ingin tahunya. Misal di sekolah dinyatakan dengan “jangan berisik “ dan “ duduk di tempat yang rapi

🌷disebabkan oleh orangtua dan guru yang sering merendahkan harga diri anak, baik mentertawakan maupun melecehkan anak yang sedang berusaha mempelajari sesuatu. Misalnya “begitu saja kamu ga bisa “ atau “tampang seperti kamu sampai kapan juga tidak mungkin bisa

🌷disebabkan oleh sistem sekolah yang hanya membatasi anak untuk mempelajari hal – hal yang diwajibkan oleh kurikulum dan bukan mempelajari hal- hal yang menarik minatnya.

💐Dari ketiga hal diatas, yang paling dahsyat menurunkan The Instinct of Learning atau kemampuan belajar alami anak adalah poin ketiga. Sekolah umumnya hanya berorientasi pada soal ujian dan kemampuan menjawab soal, bukan untuk mengembangkan kemampuan berpikir anak.

💐Ya, penurunan kemampuan belajar alami anak dimulai sejak usia 7 tahun, yakni sejak anak-anak mulai mengikuti pendidikan formal yang diselenggarakan institusi resmi pendidikan. Coba kita perhatikan, sejak anak sekolah dia hanya mau belajar jika ditugaskan gurunya. Dia hanya mempelajari hal- hal yang ada di buku wajibnya, tidak pernah lagi mempelajari hal- hal yang menarik minatnya dan sejak itu rasa ingin tahunya akan segala hal perlahan memudar.

💐Bunda yang berbahagia, coba ingat- ingat lagi pengalaman kita dulu bersekolah. Apakah kita lebih banyak membaca buku wajib atau lebih banyak membaca buku yang menarik keinginan kita? Jika dahulu bunda lebih banyak membaca dan mengerjakan sesuatu yang menarik minat bunda, beruntunglah bahwa The Instinct of Learning bunda masih terpelihara. Pada umumnya, orang- orang inilah yang cenderung lebih sukses dalam kehidupan nyata.

Salam ibu profesional

/Tim Fasilitator Bunda Sayang 2 /

📚 “Ayah Edy Punya Cerita/Penulis, Ayah Edy ; Penyunting, Laura Ariestiyanty_Jakarta:Noura Books, 2013

Mengelola Kecerdasan Emosional

Cemilan Rabu ke-2
16 Agustus 2017

Kecerdasan emosional atau emotional quotient (EQ) adalah kemampuan seseorang untuk menerima, menilai, mengelola, serta mengontrol emosi dirinya dan orang lain di sekitarnya.

Menurut Howard Gardner (1983) terdapat lima pokok utama dari kecerdasan emosional seseorang, yakni mampu menyadari dan mengelola emosi diri sendiri, memiliki kepekaan terhadap emosi orang lain, mampu merespon dan bernegosiasi dengan orang lain secara emosional, serta dapat menggunakan emosi sebagai alat untuk memotivasi diri.

Stimulasi EQ pada anak
🦋 Kenalkan jenis emosi pada anak.
🦋 Minta anak untuk menggambarkan apa yang ia rasakan.
🦋 Minta anak menyampaikan apa yang diinginkan.
🦋 Hormati fase egosentris anak.
🦋 Beri teladan dari orangtua dalam pengelolaan emosi, terutama saat menghadapi anak.
🦋 Beri kesempatan dan motivasi untuk belajar hal baru.
🦋 Beri kesempatan anak untuk mandiri dan bertanggungjawab.
🦋 Memberi pujian atas pencapain anak.
🦋 Ajak anak bersosialisasi dengan lingkungan.
🦋 Libatkan anak dalam aktivitas.

Tips Mengelola Emosi untuk Orang Dewasa
🦋 Kenali perubahan emosi dan alarm tubuh.
🦋 Mengubah fokus pikiran negatif👉🏻positif
🦋 Berlibur sejenak dari aktivitas.
🦋 Berkata baik atau diam.
🦋 Ubah posisi menjadi lebih rendah. Berdiri👉🏻Duduk, Duduk👉🏻Berbaring
🦋 Atur nafas dan perhatikan postur tubuh. Dengan postur yang tepat Anda bisa mengubah emosi negatif menjadi emosi positif.

Salam, Ibu Profesional

/Tim Fasilitator Bunda Sayang 2/

📚Sumber bacaan:
Wikipedia, Kecerdasan Emosional.
Diskusi fasilitator Bunda Sayang #2
Ideo, Watiek. Aku Cerdas Mengelola Emosi
Kuliah WhatsApp tentang Neuro-linguistic programming

Cemilan Rabu BunSay #3

IMG-20170818-WA0015

Kata kata di atas adalah kutipan surat Kartini. Ini jadi mood booster saya beberapa pekan ke belakang untuk tetap semangat menjalani proses mencari ilmu pengasuhan anak.

Salah satu misi Komunitas Ibu Profesional adalah Meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak-anaknya, sehingga bisa menjadi guru utama dan pertama bagi anaknya.

Ibu adalah madrasah pertama anaknya. Apapun yang terjadi pada atau antara ibu & anak, akan berdampak pada tumbuh kembang anaknya.
Banyak penelitian yang menyatakan bahwa anak dari ibu yang menderita stres berat selama kehamilan akan mengalami gangguan tidur. Saat lahir, bayi juga akan berdampak buruk pada berat badannya. Bayi akan lahir dengan berat badan rendah. Bumil stres juga dapat mempengaruhi otak bayi secara kimiawi.

Saat anak besar, akibat bumil stres selama masa kehamilan, maka anak akan mengalami gangguan psikologi. Perilaku mereka akan terganggu menjadi murung atau nakal dan sulit diatur.

Pendapat ini pun sejalan dengan yang di sampaikan oleh ustadz Subhan Bawazier yang mengatakan ibu hamil dalam keadaan tenang, anaknya akan tumbuh menjadi anak yang tenang pula.

Hal ini berarti karakter anak sangat di pengaruhi oleh ibu. Anak kita belajar ‘merasa’ apa yang terjadi pada ibunya, sekolah pertamanya. Ibu yang stres saja berpengaruh besar pada anaknya, apalagi lebih dari itu.

Kartini pernah menulis “Dan siapakah yang lebih banyak dapat memajukan kecerdaskan budi itu. Dan Siapakah yang dapat membantu mempertinggi derajat budi manusia. Ialah perempuan, Ibu. Karena pada haribaan si ibu itulah manusia itu mendapat didikannya yang mula-mulanya sekali. Oleh karena di sanalah anak-anak itu belajar merasa, berpikir, berkata. Dan didikan yang pertama-tama sekali pastilah amat berpengaruh bagi penghidupan seseorang“.

Maka, ketika ibu adalah sekolah pertama anak anaknya. Tentu sekolah itu harusnya memiliki ilmu pengetahuan yang luas sehingga anak kita bisa mendapatkan ilmu pengetahuan dari sekolah yang berkualitas baik. Teko yang berisi akan mengeluarkan isinya. Tapi teko yang kosong tak akan mengeluarkan apapun. Maka dari itu, mau tidak mau kita sebagai ibu harus belajar, mencari ilmu agar menjadi sekolah pertama terbaik bagi anak kita.

Didikan yang pertama tama sangatlah berpengaruh, maka ibu adalah garda terdepan ya. Maka pastikan anak anak kita mendapat yang terbaik dari sekolah pertamanya ya bunda. Apa yang kita tanam saat anak kita kecil, akan kita petik saat ia dewasa kelak. Maka bersabarlah. Hasil tak akan mengkhianati proses. Jika kita hari ini harus belajar ilmu pengasuhan anak di sana sini, hasilnya akan kita petik nanti di masa depan, ketika anak anak kita dewasa. Maka bersabarlah dengan proses panjang ini.