Star Crossed

A/N: Lagi tergila-gila (kembali) dengan Assassin’s Creed. Makanya cerita kali ini bersetting dunia AC. Gak perlu repot-repot nyari siapa karakter utama di cerita kali ini, karena cerita ini murni dari pemikiran saya dan gak ngambil tokoh AC dari Installment manapun. Yah, walau konsep Star Crossed AssassinxTemplar ngambil contoh dari AC Unity. Cerita bersambung… mungkin… tau deh. Sekalian untuk memenuhi challenge Spanish Challenge! dari IOCWP. Silahkan dinikmati.


(Part 1)

Spain, 1589

Seorang sosok bertudung dan berjubah gelap berdiri tenang di atap salah satu sisi istana. Matanya waspada menatap suasana di bawahnya. Misi yang dijalankan kali ini memang tidak begitu sulit, akan tetapi menyelinap masuk ke dalam wilayah musuh juga bukan perkara mudah. Apalagi wilayah milik Templar, musuh bebuyutan kelompok Assassin.

Angin malam bertiup dingin, sesekali bunyi jubah yang dikibas angin terdengar. Tidak masalah, wilayah misi kali ini adalah istana yang dipasang panji-panji dan bendera di sana-sini. Bunyi jubah bisa tersamar.

Sosok itu melompat turun, menyusuri dinding dan akhirnya menyelinap ke sebuh balkon istana. Sedikit berkutat dengan kunci pintu dan tak lama kemudian ia masuk ke dalam. Ia menyusuri lorong istana dengan sangat mudah, seakan hapal seluk beluk istana itu. Tidak butuh waktu lama hingga ia menemukan ruangan yang ia cari.

Matanya yang sudah menyesuaikan diri dalam kegelapan bisa langsung mengenali seluk beluk ruangan. Tanpa membuang waktu ia langsung menghampiri meja tulis yang mewah, mencari apapun yang berguna sebagai informasi. Masih belum puas, sosok itumeraba laci meja yang terkunci. Tidak heran. Sosok itu melakukan sebuah trik pada kunci laci dan voila, laci meja pun terbuka. Ia segera mencari berkas apapun yang berguna.

Ia tidak bisa berlama-lama di ruangan itu. Setelah kira-kira menemukan informasi yang dicarinya, ia mendekati jendela dan membaca kertas itu di sana. Sinar bulan memang tidak terlalu terang, tapi itu lebih aman daripada dengan bodoh menyalakan lilin atau penerangan. Matanya membaca cepat berkas-berkas penting itu dan menghafalnya setelah itu mengembalikan semua berkas itu kembali ke tempatnya. Tak lupa ia menghapus jejak bahwa ia pernah ada di ruangan itu.

Sosok itu menempelkan telinga di pintu, mendengarkan langkah atau apapun yang menandakan keberadaan seseorang. Suasana hening. Setelah meyakinkan dirinya sosok itu keluar dari ruangan dan berlari cepat di antara lorong. Tapi nasib baik tidak berlangsung lama. Saat sosok itu membelok ia malah bertemu dengan dua orang tentara yang sedang berpatroli.

Asesino![1]”

Sosok itu mendecakkan lidah dan berlari menyambut dua tentara yang memergoki dirinya. Ia memukul kedua tentara itu hingga kedunya jatuh pingsan, tak berdaya. Akan tetapi kekacauan sudah terjadi. Teriakan itu memanggil semua tentara yang berpatroli. Ia bisa mendengar suara derap langkah tentara perlahan mendekati dirinya.

Sang assassin berlari dan membelok ke tikungan tikungan yang cukup gelap dan sempit. Untunglah jubahnya segelap malam sehingga para tentara sama sekali tidak memperhatikan dirinya yang bersembunyi d isana dan terus berlari melewati dirinya. Setelah dirasa aman sang assassin berlari kearah yang berlawanan. Akan tetapi sial, ia malah bertemu dengan orang lain.

Bukan pria. Dan juga bukan tentara.

Akan tetapi seorang gadis. Matanya membulat dan napasnya tertahan saat sang assassin tiba-tiba saja berlari ke arahnya.

Maldito![2]” decak sang Assassin.

Tanpa ada pilihan lain sang assassin langsung menindih tubuh sang gadis ke dinding, membekap mulutnya dan menempelkan blade miliknya ke leher sang gadis. Gadis itu sangat terkejut hingga ia menjatuhkan lilin yang ia pegang. Berita baiknya, lilin itu terjatuh dan apinya padam. Berita buruknya, tempat lilin itu jatuh berdentang yang membuat para tentara kembali ke tempat mereka berada.

Sang assassin sedang berpikir keras untuk keluar dari situasi terjepit ini saat ia merasakan gadis tersebut menyentuh lengannya dengan lembut. Sang assassin menatap gadis itu yang menatapnya balik dengan tenang. Ia mengisyaratkan sesuatu dengan jarinya dan menunjuk suatu arah. Sang assassin masih belum paham saat tiba-tiba saja sang gadis menarik lengannya dan berlari ke arah yang tadi ditunjuknya sambil menarik dirinya. Lehernya yang tadi ditempeli blade tergores dan mengeluarkan sedikit darah. Akan tetapi gadis itu tidak peduli dan membawa sang assassin lari.

Mereka tiba ke suatu lorong yang agak sepi dan di sana ada pintu yang agak besar. Tanpa ragu sang gadis langsung masuk ke dalam. Sang assassin tidak tahu apa yang diingankan gadis ini, sebagai tindak waspada saat mereka telah masuk ruangan ia kembali menahan gadis itu dari belakang, membekap mulutnya dan kembali menempelkan bladenya.

“Gadis ini sangat aneh.” Pikir sang assassin. “Ia terlalu tenang. Bahkan anggota senior Templar sekalipun emosinya akan naik bila berhadapan dengan assassin.”

Sang gadis kembali memegang lengan yang menahannya dengan lembut. Tangannya mengisyaratkan agar sang assassin menoleh ke belakang. Saat ia menoleh, ia melihat sebuah jendela yang cukup besar dengan sebuah balkon. Sebuah jalan keluar.

Ia tidak paham dengan gadis ini, tapi ini bukan waktu yang tepat untuk memikirkan hal itu. Prioritas utamanya adalah keluar dari area ini dan melaporkan hasil misinya. Hidung sang assassin menghirup wangi yang lembut dari rambut sang gadis. Matanya menatap luka gores yang ada di lehernya, sedikit merasa bersalah.

Ia memasukkan kembali blade miliknya, akan tetapi tetap bertahan untuk membekap mulut sang gadis. Sang gadis masih berdiri dengan tenang seakan ia tahu bahwa dirinya tidak akan mengalami bahaya apapun. Sang assassin memasukkan tangan ke sakunya dan menarik sebuah saputangan. Dengan lembut ia menempelkan saputangan itu ke luka sang gadis dan meninggalkan sapu tangan itu di sana.

Perlahan bekapan di mulutnya juga terlepas dan sang gadis bisa merasakan sosok itu semakin lama semakin menjauh dari tubuhnya. Saat ia menoleh ke belakang jendela kamarnya telah terbuka lebar, tirainya tertiup angin.

Gadis itu berlari ke arah balkon dan menatap ke bawah, tidak ada siapapun kecuali para tentara yang masih berlari kesana kemari, mencari sosok assassin tersebut. Saat sang gadis menatap ke atas ia juga tidak bisa melihat apapun.

Sang gadis menghela napas kecewa. Ia menatap angkasa untuk terakhir kalinya dan masuk ruangan. Tangannya menggenggam erat saputangan dari assassin tersebut.

“Padahal aku ingin sekali mengobrol dengannya.” Keluh sang gadis kecewa. Kapan lagi kau bisa bertemu dengan assassin dari dekat tanpa saling membunuh. Apalagi kalau kau adalah anggota Templar.

.

.

.

Sang assassin berdiri di atap istana di sisi lain. Matanya menatap tajam saat ia melihat sang gadis kembali masuk ke kamarnya. Ia mengangkat tangannya, mengeluarkan blade miliknya, menatapnya sesaat dan memasukkannya lagi. Ia menggeleng pelan dan berlari menyusuri atap istana.

Saatnya untuk melaporkan hasil misinya.

#To Be Continued


[1] Assassin. Sebenarnya artinya bisa pembunuh. Cuma karena ini pakai setting dunia Assassin’s Creed lebih enak pakai arti Assassin

[2] Sial. Atau ungkapan makian kasar apapun

Advertisements

Everything is Permitted

Tak ada satupun yang berani berteriak, semua orang yang ada di lapangan hanya berani berbisik-bisik. Wajah mereka pucat dan pandangan mata mereka cemas. Di hadapan mereka semua terdapat lima orang berdiri di panggung kayu, tepatnya empat orang pria dengan satu orang remaja. Di leher mereka terlilit tali tambang yang cukup tebal. Di depan panggung kayu itu berbaris tentara berseragam angkuh, memasang barikade dengan menggunakan tombak mereka.

Seorang pria tua dengan rambut dan janggut memutih menatap pemandangan itu dengan angkuh dari sebuah balkon. Satu tangannya mengangkat, semua orang mengarahkan atensi mereka ke tangan itu. Lima orang berdiri menggigil, tubuh mereka bergetar keras. Jari itu menjentik, menjadi sebuah pertanda. Seorang pria menarik sebuah tuas-

Jreggg!

-semua orang menarik napas, tercekat. Dalam sekejap lantai kayu itu menjeblak terbuka ke bawah dan lima orang itu tergantung dengan tambang terlilit di leher mereka. Mereka meronta sesaat dan akhirnya mati. Kematian yang lambat dan menyiksa.

Semua orang yang ada di sana terdiam. Tak berani berbisik-bisik, hanya mampun menggeram dalam hati. Mereka semua tahu, satu saja suara protes terdengar maka giliran leher merekalah yang akan terlilit tali tambang.

.

.

.

“Lihat, kan putriku? Begitulah caranya menghukum mereka yang menentang kita.” Pria tua itu menatap putrinya dengan tatapan tajam.

Sang gadis menutup matanya, wajahnya pucat. Perutnya mual dan kepalanya pusing. Ia tidak sanggup melihat eksekusi barusan.

“Apa kau paham?” kali ini sang ayah bertanya dengan suara yang berbahaya. Tak ada pilihan lain, sang gadis membuka matanya perlahan an menatap ayahnya dengan tatapan mata sedih. Mulutnya membuka dan menutup beberapa kali, tidak yakin harus berkata apa.

Semua itu salah! Ayahnya salah!

Para rakyatnya tidak bersalah. Apakah sebuah kesalahan kalau rakyat menuntut sesuatu dari Rajanya? Bukankah tugas seorang Raja adalah memastikan kebutuhan Rakyatnya terpenuhi? Lalu mengapa mereka berlima harus dibungkam selamanya hanya karena mereka mempertanyakan kepemerintahan sang Raja?

Sang putri menatap ayahnya dengan tatapan berkaca-kaca. Mata ayahnya berkilat tajam. Satu kata saja yang salah maka sang putri akan menemukan dirinya sendiri dengan tambang terlilit di lehernya. Dengan berat sang putri mengangguk.

Sang Raja menepuk pundak putrinya dengan lembut, “Suatu saat tahta ini akan menjadi milikmu, putriku. Ratu Fauziah. Tidakkah itu kedengaran bagus?”

Sang putri – yang bernama Fauziah hanya bisa mengangguk lemas. Napasnya sesak. Ayahnya, Sang Raja berlalu dengan wajah puas sementara Fauziah berbelok ke arah lain. Edward, pengawal pribadinya mengikuti dirinya dari jarak tertentu. Fauziah merasakan napasnya sesak dan langsung berlari menuju kamarnya. Air matanya tumpah.

Pintu kamarnya menjeblak terbuka, mengagetkan semua dayang yang ada di kamarnya.

“Tuan putri, ada a-”

“Keluar.”

“Tapi tuan putri, a-”

“Aku bilang keluar.”

Semua pelayan menunduk patuh dengan pandangan bertanya. Fauziah melemparkan diri ke tempat tidur bersamaan dengan dayang terakhir keluar dari kamarnya. Ia membenamkan wajahnya di bantal dan berteriak sekencangnya, menangis sekuat-kuatnya.

Ia merasa dirinya lemah. Ayahnya telah berbuat sewenang-wenang,  padahal ayahnya bukanlah seorang Raja. Pewaris tahta sesungguhnya adalah dirinya setelah ibunya meninggal. Akan tetapi ayahnya sengaja merebut tahta itu dengan alasan dirinya belum cukup umur untuk memerintah kerajaan sendiri. Oh, Fauziah kali ini benar-benar berharap ibunya tidak pernah meninggal. Atau umurnya sudah cukup untuk memerintah sendiri sesuai hukum yang berlaku.

“Kau masih menangis.”

Fauziah tidak perlu menengok untuk tahu siapa yang berbicara. “Aku merasa lemah.” Fauziah meringkuk di tempat tidurnya.

Edward mendekat dan berlutut di sisi tempat tidur, “Anda tidak lemah.”

Fauziah menggeleng, “Aku tidak bisa menghentikan ayahku. Aku tidak bisa menolong rakyatku sendiri. Aku tidak pantas menjadi seorang ratu.”

“Anda pantas menjadi seorang ratu.” Edward menatap Fauziah dengan serius. “Masalahnya adalah apakah anda mau mengotori tangan anda sendiri untuk menghentikan ayah anda?”

Fauziah mengubah posisinya menjadi duduk di atas kasurnya, matanya menatap Edward. “Apa maksudmu?”

“Menjadi seorang ratu tidak selalu menggunakan jalan yang lurus dan jujur.”

Fauziah terdiam sejenak, ia bukanlah gadis naif yang tidak tahu makna tersembunyi di balik perkataan Edward.

“Masalahnya adalah apakah anda bersedia mengotori tangan anda?”

Edward menatap Fauziah dengan tatapan yang tajam, seakan memastikan sesuatu. Fauziah terdiam beberapa lama akan tetapi Edward masih setia menunggu jawaban Fauziah.

Nothing is true-

-and Everything is permitted.[*]

Fauziah menatap Edward dengan pandangan cemas. “Tapi kupikir, ayahku-”

“Kami adalah sebuah ideologi. Dan ideologi tak akan pernah hancur meskipun semua orang yang menggenggamnya telah mati.”

Fauziah menatap Edward dengan tatapan yang tak bisa diartikan.

“Kami bersumpah untuk selalu setia pada ratu kerajaan ini, baik Ibu anda maupun anda sendiri.”

Angin bertiup lembut menerbangkan tirai kamar yang tipis.

“Pertanyaannya adalah apakah anda mau mengotori tangan anda?”

.

.

.

Sebuah pesta yang megah sedang berlangsung. Gelas-gelas tinggi berisi anggur dan berbagai minuman mahal lainnya terus diisi berulang kali. Para bangsawan tertawa-tawa dan saling menjilat, memastikan keamanan posisi diri.

Fauziah menatap semua itu dengan muak. Di saat rakyatnya sedang tercekik karena mereka tidak bisa makan, di sini para bangsawan bermewah-mewah dan seenaknya menghamburkan makanan. Mereka makan, memuntahkannya dan kemudian makan lagi. Memuakkan.

Fauziah menatap ayahnya yang bangkit dari kursinya, mengangkat gelas anggur.

“Malam ini mari kita makan dan minum sepuasnya.” Para bangsawan bertepuk tangan meriah.

Sang Raja mengangkat tangannya, “Lupakan semua yang ada di luar istana ini. Semoga kerajaan kita akan bertahan selama-lamanya!”

Fauziah ingin sekali memutar matanya. Kalau ayahnya terus memerintah dengan tangan besi seperti ini justru Fauziah akan heran kalau kerajaan ini masih akan bertahan setidaknya untuk satu tahun kedepan.

“Demi kerajaan kita.” Raja mengangkat gelasnya dan diikuti semua bangsawan, “Demi kerajaan kita.”

Sebelum mereka semua minum lampu mendadak mati. Suasana menjadi gelap gulita. Akan tetapi lampu padam hanya sesaat dan berikutnya ruang aula kembali terang benderang.

Akan tetapi pemandangan menjadi sangat mengerikan. Sang Raja terkapar di lantai dengan darah yang masih mengalir deras. Matanya terbuka dan ekspresi wajahnya terlihat ketakutan.

Suara teriakan terdengar dan para bangsawan mulai berlari keluar ruangan. Fauziah hanya terpaku menatap ayahnya, mengambil napas dan menghampiri jasad ayahnya yang tak bergerak lagi. Sang putri menatap sesaat ayahnya, menutup matanya sebelum akhirnya dipaksa ditarik oleh para pengawal istana untuk kembali ke kamarnya.

Di dalam kamarnya Fauziah berdiri merenung. Pengawal di tempatkan di depan kamar dan di bawah balkon kamarnya. Lagi pula kamarnya berada di lantai tiga, jadi seharusnya tidak ada yang bisa masuk ke kamarnya kan?

Akan tetapi sesosok yang tegap menyelinap masuk ke kamarnya tanpa terlihat oleh para pengawal yang ramai berjaga. Tubuhnya terbalut jubah berwarna gelap dan wajahnya ditutupi tudung. Ia muncul tanpa suara di belakang sang putri. Fauziah mengangkat wajahnya dan menatap sosok itu.

“Kau kah yang membunuh ayahku?”

Sosok itu membuka tudungnya dan menampilkan wajah Edward, pengawal sang putri. Ia berlutut di hadapan Fauziah. “Bukan aku yang melakukannya,” Edward menjawab dengan suara yang serak, “tapi kami.”

Tanpa dikomando muncul sosok-sosok lain berjubah gelap dan wajah ditutupi oleh tudung. Mereka melingkari Fauziah dan berlutut hormat, satu tangan di depan dada dan tangan lain diletakkan di belakang punggung.

“Kami bersumpah untuk selalu setia pada anda, Ratu Fauziah. Ratu kerajaan yang sah di kerajaan ini.”

Edward menatap Fauziah dengan serius, “Akan tetapi camkanlah! Jika anda mengkhianati kepercayaan kami dan rakyat, maka kami tidak akan segan membunuh anda.”

Fauziah menghela napas lelah. Para sosok berjubah gelap itu bangkit dan keluar satu persatu melalui balkon kamar sang putri. Bagaimana para prajurit yang seharusnya berjaga tidak menyadari kehadiran para sosok itu Fauziah tidak mengerti. Saat ini di kamar hanya ada Edward dan dirinya.

“Kalian telah membunuh ayahku, setelah ini kalian akan kemana?”

Edward memakai kembali tudungnya, menyembunyikan wajahnya. “Kami akan terus berlari.”

Fauziah mengerutkan alisnya.

Berlari. Berlari. Berlari. Selama malam masih ada aku akan terus berlari.”

Edward melooncat ke pegangan balkon dan menatap Fauziah. “Jaga dirimu, ratuku.”

Fauziah menangkap tangan Edward, “Apakah kau akan kembali padaku?”

Edward menatap Fauziah dengan lekat. “Saat matahari bersinar aku akan berada di sisimu, Ratuku.”

Fauziah melepaskan pegangannya pada Edward yang sudah berlari ke satu arah. Para prajurit mulai menyadari keberadaan mereka dan mulai saling berteriak dan mengejar. Fauziah menatap sosok yang berlari di atap-atap. Angin dingin bertiup lembut.

.

.

.

Edward menatap sang putri yang masih berdiri di balkon. Ia merapatkan jubahnya dan membenahi tudungnya.

“Dan saat malam tiba, aku akan kembali berlari. Karena kami adalah assassin.”

#END


Note:

[*] Ideologi yang dianut para anggota Assassin’s Creed yang juga diambil dari novel berjudul Alamut karangan Vladimir Bartol. Ideologi ini jadi dasar dalam dunia Assassin’s Creed.

A/N: Hadiah ulang tahun yang udah lewat buat Ratu Fauziah, member IOCWP. Selamat ulang tahun Ziah sekaligus nih cerita buat kadomu untuk lulus sidang dan sekalian ngelunasin utang challenge. Duh nih cerita sekalian-sekalian semua 😛 gak modal banget ya ngasih kado sekaligus semuanya :”)

Quote Challenge – Begitu Indah

Terang saja aku menantinya

Terang saja aku mendambanya

Terang saja aku merindunya

karena dia begitu indah

(Padi – Begitu Indah)

POV Lutung Kasarung

Awalnya aku mengerut, cemberut dan tak mengerti. Kenapa pria ini membawaku masuk jauh ke dalam hutan? Memang sih aku sudah membuat kekacauan di istana keraton dan merusak di sana sini, tapi kupikir itu bukanlah alasan pria ini harus repot-repot mengantarku jauh ke dalam hutan. Kalau mereka ingin membuangku, dia cukup membawaku ke dalam hutan dan langsung pergi menghilang. Selesai, kan?

Alih-alih melakukan itu, pria ini masuk ke dalam hutan seakan tahu kemana ia harus berjalan. Sesekali pria sepuh ini berhenti, memastikan aku mengikutinya dan mengangguk puas. Saat aku sudah bosan dan berpikir apakah sebaiknya aku kabur, pria sepuh itu akhirnya berhenti.

Sebuah gubuk berdiri di tengah-tengah hutan. Aku memandang gubuk yang terbuat dari bambu itu, pintu kayunya terbuka lebar dan di depan gubuk itu terdapat kursi panjang. Di atas kursi itu ada semacam kain dan peralatan menjahit. Aku memandang sekeliling, terdapat kebun sayuran. Tidak luas tapi cukup untuk menghidupi entah siapa yang tinggal dalam gubuk reot ini.

“Den Ayu Purbasari.”

Suara sesuatu jatuh yang disusul dengan suara jatuh lain.

Normalnya saat seseorang memanggil pintu rumah akan dibuka lebar. Tapi kali ini pintu rumah yang tadinya terbuka lebar justru buru-buru ditutup, meninggalkan sedikit celah untuk seseorang ini mengintip kami.

“Den Ayu, jangan takut. Ini hamba, Patih Uwak Batara Lengser.”

Pintu yang tadinya hampir tertutup perlahan mulai membuka, akan tetapi orang yang bernama Purbasari belum terlihat.

“Uwak, ada apa tiba-tiba datang hari ini?”

Pria yang dipanggil Uwak itu menengok kearahku, mengisyaratkan agar aku mendekati pintu gubuk. Aku mengikuti keinginan pria sepuh itu. Ia berjongkok sehingga matanya menatapku. “Mulai saat ini tinggallah di sini dan jagalah Den Ayu Purbasari untukku. Kau bisa melakukannya, kan?”

“Percuma Uwak. Tidak hanya manusia, hewan juga lari ketakutan saat melihatku. Apa bedanya Lutung ini dengan hewan lain?” Purbasari menyela dengan suara sedih. Sosoknya masih belum terlihat.

Patih menoleh memandang suara Purbasari berada, “Ini bukan Lutung biasa, Den Ayu. Hamba bisa merasakannya.”

Purbasari terdiam, Patih kembali memandangku. “Kau bisa melakukannya, kan?” desaknya lagi.

Aku tak bisa bicara, karena saat ini aku dalam sosok seorang Lutung. Karena itulah aku menganggukkan kepalaku, menyanggupi permintaan pria sepuh ini. Sang patih tersenyum dan mengangguk puas. Ia kemudian berdiri dan mensedekapkan tangannya di depan dada.

“Hamba mohon pamit, Den Ayu Purbasari,” Patih membungkuk hormat.

“dan kau tetaplah tinggal disini. Jagalah Den Ayu Purbasari.” ulang sang patih. Aku mengangguk menyanggupi.

Pria sepuh itu meninggalkan diriku dan tak lama kemudian menghilang dari pandangan. Aku menatap pintu gubuk yang masih bercelah. Memang tidak terlihat tapi aku bisa merasakan gadis bernama Purbasari itu masih ada di belakang pintu.

Suasana hening. Aku saat ini dalam sosok seekor Lutung dan Lutung tidak bisa bicara, kan?

Suaran helaan napas terdengar, “Kau bisa pergi sekarang kalau kau mau.”

Aku memiringkan kepalaku, sekali lagi aku masih dalam sosok Lutung.

“Aku akan keluar sekarang. Tapi kuingatkan saat ini sosokku benar-benar mengerikan,” Purbasari memperingatkan.

Pintu perlahan membuka dan perlahan sesosok gadis keluar perlahan. Aku melotot, tubuh gadis itu dipenuhi penyakit kulit yang mengerikan. Bekas luka, tanda hitam dan entah apalagi. Pemandangan yang mengerikan. Tapi yang membuatku kaget bukanlah luka dan penyakit itu, akan tetapi kutukan yang diderita oleh gadis ini. Ini bukan kutukan biasa akan tetapi guna-guna ilmu hitam yang sangat hebat. Sesaat aku merasa geram, orang jahat mana yang tega mengguna-guna seseorang dengan ilmu hitam sehebat ini, apalagi mengguna-guna seorang gadis?

Kuperhatikan wajah Purbasari, matanya tertutup dan terlihat pasrah. Kutukan di tubuhnya memang sangat mengerikan, tidak mungkin tidak ada yang kabur setelah melihat gadis ini. Perlahan aku berjalan mendekatinya dan memegang tangannya. Purbasari membuka matanya dan terkejut melihatku yang berani mendekatinya, apalagi menyentuh tangannya.

“Jangan! Aku..” Purbasari berusaha melepaskan tanganku dari tangannya tapi aku keras kepala.

“Kau… tidak takut padaku?”

Aku menggeleng.

“Semua orang takut setelah melihatku,” gumamnya lagi tapi aku tetap menggeleng.

“kalau kau mau pergi dari sini aku tidak apa-apa. Aku tahu, aku sangat mengerikan.” Lanjut gadis itu tapi aku tetap menggeleng.

Perlahan wajah Purbasari berubah, sorot matanya masih sedih tapi bibirnya menunjukkan seulas senyum, “Kau Lutung yang aneh.”

Aku cuma bisa menyengir. Aku masih dalam sosok seekor Lutung, ingat?

.

.

.

Sudah beberapa waktu aku tinggal bersama Purbasari, perlahan wajahnya semakin sering tersenyum walau sorot matanya masih sedih. Karena itulah aku memanggil kawan-kawan hewan kera. Awalnya mereka ketakutan saat melihat Purbasari, tapi perlahan-lahan mereka mulai mau mendekati gadis itu. Beberapa anak kera bahkan berani duduk di pangkuannya dan menggelayut manja di leher gadis itu. Para kera setiap hari membawakan buah-buahan dan makanan dari dalam hutan. Purbasari menerima semua makanan itu dengan senang hati. Perlahan ia mulai tersenyum dengan tulus dan matanya bersinar penuh kebahagiaan.

Sementara aku masih berusaha untuk menghilangkan guna-guna dari tubuh Purbasari. Gadis ini sudah lama tinggal di hutan seorang diri, jadi usaha untuk menjauhkan diri dari sumber guna-guna tidak menemui hambatan. Ilmu hitam akan melemah jika yang diguna-guna berada jauh dari si pengguna-guna. Di hutan ini bisa kukatakan Purbasari dalam keadaan yang aman.

Selain itu selama ini Purbasari juga memakan makanan yang alami dari hutan. Jangan salah, para kawan kera memang sengaja kusuruh untuk membawa makanan dari hutan untuk alasan ini. Terkadang makanan yang dimasak berlebihan apalagi bermewah-mewah seperti masakan keraton istana tidak selalu baik untuk kesehatan. Apalagi kalau tujuannya untuk membuang racun dan kutukan yang ada didalam tubuh gadis itu. Akan lebih baik untuk Purbasari memakan makanan alami untuk saat ini.

Sekarang semua persiapan sudah beres, aku pun duduk di sebuah batu besar dan mulai bertapa. Malam ini adalah malam purnama, meski dalam sosok seekor Lutung tapi kekuatanku berada dalam keadaan yang kuat. Bisa kurasakan jiwaku melesat ke Kahyangan, langsung berhadapan dengan ibuku, Kanjeng Ratu Kahyangan.

“Guruminda?” Ibuku berseru kaget, “Kupikir kau baru akan pulang setelah bertemu dengan gadis pilihanmu,”

Aku menghatur hormat untuk ibuku tapi beliau malah mengisyaratkan agar aku duduk di sampingnya. “apa kau sudah menemukan gadis pilihanmu?” lanjut Ibuku.

“Aku belum menemukannya. Tapi aku ingin minta tolong kepada Kanjeng Ibu.”

“Katakanlah.”

“Saat hamba menitis di dunia, ada seorang gadis yang telah memperlakukan hamba dengan sangat baik meskipun hamba bersosok seekor Lutung. Gadis ini menderita guna-guna ilmu hitam yang hebat. Hamba harap Kanjeng Ibu memperkenankan hamba untuk membangun pemandian untuk menghilangkan guna-guna itu.”

Ibuku mengangguk-angguk, “Ambillah apapun yang kau butuhkan.”

Aku mengangguk hormat kepada Ibuku, “Kalau begitu hamba izin pamit.”

“Pergilah anakku, restuku menyertaimu.”

Aku kembali merasakan jiwaku kembali ke dalam ragaku. Saat aku membuka mataku kulihat para abdi pria istana kahyangan telah siap di depanku, menunggu perintah.

“Buatkan bagiku kolam pemandian yang indah untuk Purbasari.”

Tanpa banyak cakap para abdi itu bekerja sesuai perintahku. Mereka menggali, menyusun batu dan membentuk kolam pemandian dengan cepat. Tak lama kemudian para bidadari kahyangan berdatangan sambil membawa kendi berisi air sungai kahyangan dan memenuhi kolam dengan air yang mereka bawa. Beberapa bidadari membawa pakaian bidadari kahyangan yang berserat halus dan bersinar indah. Sementara bidadari yang lain menata pemandangan sekitar kolam sehingga pemandian itu dikelilingi pemandangan yang indah. Aku mengangguk puas.

“Kami sudah selesai melaksanakan perintah Raden. Kami mohon pamit,” ujar para abdi. Aku mengangguk memberi izin. Ini benar-benar kolam pemandian yang indah.

.

.

.

“Kanda Lutung, anda mau membawaku kemana?”

Aku memberi isyarat pada Purbasari agar mengikutiku, untuk saat ini dia patuh saja mengikutiku.

“Kanda Lutung, aku perlu mandi. Kenapa justru anda membawaku ke dalam hutan?” Purbasari terengah. Aku tak peduli dan masih menunggu Purbasari menyusulku, wajahnya agak cemberut. Jujur saja walau wajahnya juga dipenuhi kutukan yang mengerikan tapi aku bisa melihat wajah cemberutnya itu agak lucu.

Purbasari tidak banyak bicara, ia masih mengikutiku. Setelah beberapa lama akhirnya kami sampai di pemandian yang kubangun malam sebelumnya. Purbasari ternganga menatap pemandian di hadapannya. Bunyi gemericik air beserta pemandangan yang indah membuat siapapun yang menatap pemandian ini akan lupa bernapas.

“Aku tidak tahu kalau ada pemandian seindah ini didalam hutan.”

Aku memberi isyarat kepada Purbasari untuk mandi di kolam itu. “Kanda memintaku untuk mandi disini?” Purbasari mengernyit, aku mengangguk membenarkan.

“Tapi…”

Aku mendesak Purbasari untuk mandi di pemandian itu, Purbasari menggeleng ragu. “Pemandian ini begitu indah. Kalau aku mandi disini…,”

Aku mengenggam tangan Purbasari dan menatap matanya, berusaha membesarkan hatinya. Purbasari menatapku lama.

“Apa aku benar-benar boleh mandi disini?” ia kembali memastikan. Aku mengangguk.

“Baiklah.” Purbasari tersenyum bahagia. Aku menggenggam tangan Purbasari sedikit erat sebelum akhirnya keluar dari area pemandian itu. Yah, biarpun sosokku seekor Lutung tapi aku ini seorang pria. Aku harus menghormati privasi Purbasari, kan?

.

.

.

Purbasari cukup menikmati waktunya di pemandian. Sambil menunggu Purbasari selesai dengan urusannya, aku berjaga-jaga. Tidak jauh dari area pemandian tapi juga tidak cukup dekat untuk menghormati Purbasari. Aku juga sudah memerintahkan kawan-kawan kera untuk mengumpulkan makanan. Biarlah, hari ini aku ingin Purbasari bersantai-santai. Masalah air minum dan makanan sudah beres oleh kawan-kawan kera. Aku harap setelah selesai mandi Purbasari bisa langsung makan dan beristirahat. Aku tidak yakin tapi ada kemungkinan setelah guna-guna itu hilang Purbasari akan merasa kelelahan.

Terdengar suara langkah dari area pemandian, itu pasti Purbasari. Aku duduk di tanah menunggu kedatangannya. Akan tetapi yang datang bukanlah Purbasari yang kukenal, melainkan seorang gadis berparas jelita dan ayu. Aku mengernyitkan alis, bingung.

“Kanda Lutung,” sapa gadis itu. Aku mengernyit bingung.

“apa aku berubah menjadi begitu berbeda? Ini aku, Purbasari.” Purbasari memperkenalkan diri dengan malu-malu. Wajahnya merona indah. Rambut hitamnya yang biasa disanggul terurai dengan indah. Sesaat aku menahan napasku.

Purbasari, dia begitu indah.

#End

Angkasa

images (1) (1)

Wanita itu memandang langit. Rambutnya yang hitam lebat tergerai bebas, sesekali angin mempermainkan rambut indahnya itu. Menambah kecantikan sang wanita bagi siapa saja yang memandangnya.

Sayangnya tak ada siapapun di tempat itu. Hanya sebuah padang rumput yang luas dengan angkasa biru yang juga sama luasnya. Sesekali gumpalan awan putih menutupi birunya langit, tapi itu tak masalah.

Wanita itu menatap langit dengan penuh kerinduan juga campuran rasa lega. Senyum puas tersungging di bibirnya. Ada beberapa rasa sesal dan berat tapi ia berusaha menepis rasa itu.

Srak. Srak.

Bunyi langkah kaki terburu, menginjak rerumputan kering, sesekali ditingkahi suara rengekan bayi perempuan yang semakin jelas. Wanita itu berusaha menulikan telinganya tapi percuma.

Oh, ingin sekali ia kembali dan memeluk putrinya itu. Tapi tidak! Ia tidak boleh lemah! Terutama saat ini.

“Nawangwulan!”

Suara penuh arogansi bercampur bentakan keras. Sengaja wanita bernama Nawangwulan itu menunggu sesaat sebelum akhirnya menoleh ke arah sumber suara, yaitu suaminya.

“Apa-apaan kau memakai pakaian itu!” bentak pria itu. Ah, pria itu adalah suaminya, Jaka Tarub.

“Kembali sekarang juga ke rumah sebelum aku memaksamu!”

Arogan sekali. Nawangwulan mengernyitkan dahinya. Ah ya, suaminya Jaka Tarub memang seorang yang pemaksa. Buktinya ia berhasil memaksa dirinya untuk menjadi istri dari pria angkuh itu.

“Kembali. Sekarang. Juga!” Jaka tarub mendesis berbahaya. Nawangwulan tersenyum meremehkan.

“Atau apa? Kau mau memaksaku kembali?”

Sebuah selendang berwarna lembut membelit tubuh Nawangwulan. Jaka Tarub melotot tak percaya.

“Tapi….tapi…”

“Sudah cukup Tarub. Sudah waktunya aku kembali ke Kahyangan.”

Jaka Tarub berlari menghampiri istrinya, hendak merampas selendang itu. Akan tetapi sebelum sampai pria itu terhempas dengan keras. Jaka Tarub memeluk putrinya yang masih bayi, berusaha tidak lepas dari pelukannya.

“Bagaimana…selendang itu…,”

Angin kencang bertiup, menerbangkan beberapa helai rumput kering. Nawangsari, putri mereka berdua menangis keras. Seakan menyadari inilah waktu perpisahan dengan ibunya yang seorang bidadari.

Nawangwulan melayang beberapa senti dari tanah, matanya menatap sendu kepada putrinya.

“Tunggu! Kau tidak boleh pergi!” Tarub berusaha mendekati istrinya tapi dinding pelindung memisahkan jarak antara dirinya dan istrinya.

“Kau istriku! Aku melarangmu untuk pergi!”

“Kau telah mencuri selendangku.” Nawangwulan menjawab dengan dingin. “Dan sudah saatnya aku kembali.”

Tarub bisa merasakan kakinya melemah sementara putrinya masih menangis keras.

“Setidaknya untuk Nawangsari. Tetaplah tinggal disini,” Tarub mengiba.

Nawangwulan mengangkat alisnya, ternyata pria angkuh sepertinya bisa mengiba juga. Tapi tidak! Nawangwulan harus kembali.

“Jaga Nawangsari baik-baik.”

Angin kencang bertiup memaksa Tarub menutup matanya. Setelah keadaan tenang Tarub menoleh kesana kemari, berusaha mencari keberadaan istrinya tapi nihil. Nawangwulan sudah kembali ke kahyangan.

Jaka Tarub duduk lemas sementara Nawangsari masih di dalam pelukannya, menangis keras.

“Nawangwulan, kembalilah.” bisik Tarub. Tapi sang bidadari tak pernah kembali.

.
.
.

Nawangsari, gadis remaja berumur 16 tahun sedang berdiri di padang rumput yang luas. Tempat yang sama ketika ibunya kembali ke kahyangan 16 tahun silam.

“Nawangsari, apa yang sedang kau lakukan?”

Gadis itu menoleh, ayahnya, Jaka Tarub menatapnya dengan cemas.

“Aku mendengar sesuatu dari angkasa.”

“Itu cuma perasaanmu.”

Nawangsari menggeleng.

Gadis itu kembali menatap langit dengan pandangan sendu sementara Jaka Tarub menatap putrinya dengan rasa ngeri. Tubuh Nawangsari dililit sebuah selendang berwarna lembut.

Selendang yang sama yang membawa Nawangwulan kembali ke kahyangan.

“Mereka memanggilku untuk kembali, Ayah.”

#end

A Queen With A Broken Heart

Chapter 4

“Tuan puteri,”

Snow White menoleh dan melihat seorang pengawal yang memanggilnya barusan.

“Yang Mulia Ratu meminta anda untuk menemuinya di kamarnya,”

Snow White mengangguk paham.

“Perlukah saya menemani anda hingga-“

“Tidak perlu, aku segera menemui Ratu,” Snow White menolak cepat. Pengawal hanya mengangguk paham dan pergi dari sana.

Snow White menghembuskan napas, langkahnya terasa berat, tapi ia harus menemui Ratu. Entah apa yang diinginkan Ratu dari dirinya. Apa ia harus membersihkan kamar lain lagi? Atau mungkin tambahan tugas menyetrika seluruh koleksi gaun milik sang ratu? Snow White tidak berani membayangkan.

Dan disinilah gadis itu berada, di depan pintu kamar pribadi mendiang ayahnya dan ibunya, yang sekarang menjadi kamar pribadi Grunhilde. Snow White mengetuk pelan pintu kamar tersebut dan terdengar seruan masuk dari Ratu. Sang puteri masuk dengan perlahan.

“Snow White puteriku, kau tampak lelah,” Grunhilde menyambut Snow White dan memeluk gadis itu. Snow White membalas pelukan Ratu dengan kaku.

“Kau tampak kurus,” Ratu tersenyum sedih. “Aku baik-baik saja, terima kasih atas perhatian Ratu.” Snow White mencoba tersenyum, tapi entah mengapa senyumnya terasa kaku. Ratu mempersilahkan Snow White untuk duduk di kursi kecil dengan meja yang telah tersedia teh hangat dan penganan kecil.

“Aku memanggilmu kesini karena ada hal yang ingin kukatakan,” Grunhilde menuangkan teh hangat ke cangkir dan menyerahkan cangkir itu kepada Snow White. Snow White menghirup aroma teh tersebut sebelum akhirnya meminum pelan.

“Kau pasti kenal dengan Pangeran James bukan? Yang baru saja meninggalkan istana kita,”

Snow White hanya mengangguk kaku.

“Kemarin malam Pangeran James meminta izin kepadaku untuk membiarkan ia membawamu pergi bersamanya.”

Snow White mendadak kaku, akan tetapi Grunhilde melanjutkan dan mengabaikan sikap kaku Snow White. “Aku katakan pada Pangeran James, tentu saja, bahwa kaulah yang harus memberi jawaban. Apapun jawabanmu aku akan menerimanya. Tapi…”

Grunhilde menatap dalam kepada Snow White.

“… mengapa kau menolak untuk pergi bersamanya?”

Gadis itu terdiam, akan tetapi Grunhilde terus menunggu.

“Aku hanya…”

Grunhilde masih menunggu.

“Aku hanya… tidak mau pergi dari rumahku ini,” ujar Snow White kaku.

“Puteriku, aku tahu kau masih bersedih dengan kepergian ayahmu. Tapi kita harus melanjutkan hidup.”

Snow White memilih untuk menghirup tehnya dalam diam. Merasa tidak nyaman.

“Kesedihan telah mengakibatkan kau begitu kurus, puteriku. Dan aku tahu, aku terlalu keras kepadamu. Bekerja sebagai pelayan dan hidup sederhana. Kau tentu merasa menderita dan membenciku, bukan?” Grunhilde memasang wajah sedih dan terluka.

Snow White menggeleng pelan, “Bukan seperti itu. Aku sangat senang anda menyuruhku melakukan semua tugas ini. Aku jadi menyadari betapa aku terlalu dimanja oleh ayaku dan tidak bisa memahami penderitaan rakyatku yang miskin.”

Grunhilde mendesah, “Terima kasih sayangku. Tapi aku bisa melihat kau sangat kurus sekarang,”

“Aku tahu! Mungkin berlibur sejenak dari tugasmu akan membuatmu baikan. Tidakkah kau pikir begitu?” Grunhilde berseru semangat sementara Snow White hanya terdiam, tidak yakin harus menjawab apa.

“Apa kau pernah mendengar rumor mengenai pohon apel di hutan bagian barat?” Grunhilde kembali melanjutkan, mengacuhkan sikap dian Snow White.

Snow White mengangguk, ia pernah mendengar rumor yang mengatakan di bagian barat hutan terdapat sebatang pohon apel yang menghasilkan buah apel yang ranum dan harum. Konon apel itu sangat manis bagaikan madu dan memiliki khasiat membuat wajah cerah bagi para wanita. Tentu saja apel-apel ini adalah incaran favorit para gadis-gadis dan para wanita. Sayangnya karena sangat sulit menemukan pohonnya akhirnya buah apel tersebut juga sangat mahal.

“Bagaimana kalau kau berjalan-jalan ke hutan barat itu? Sekedar untuk beristirahat, beruntung kalau kau bisa menemukan buah apel itu,” Grunhilde mengusulkan dengan bersemangat.

“Tidak…Ratu… kurasa…”

“Tidak, tidak. Kau perlu beristirahat dan menghirup udara segar! Kau sangat kurus puteriku, mengerikan sekali. Berjalan-jalan tentu akan membuatmu lebih sehat.” Grunhilde tidak menanggapi keberatan Snow White.

“Akan kusuruh seorang pengawal menemanimu ke hutan barat. Ini pasti akan jadi perjalanan yang menyenangkan.” Grunhilde terus mengoceh, sementara Snow White tidak bisa mengucapkan apapun.

.

.

.

Disinilah Snow White berada, menggunakan gaun sederhana dengan jubah bertudung miliknya, tak lupa tas kecil berisi minuman dan sedikit bekal makanan selama perjalanan. Seorang pengawal pria bertubuh tegap dan kaku setia menemani Snow White. Mereka sedang berjalan di hutan barat. Sebenarnya hutan barat tidak terlalu jauh dari istana, hanya saja hutan itu sangat luas sehingga jika tidak terlalu penting para penduduk desa enggan mengunjungi hutan barat. Kecuali, tentu saja, kalau yang ingin mereka cari adalah apel berkhasiat itu.

Snow White melirik pengawal yang menemaninya. “Kau membawa terlalu banyak senjata,”

Pengawal tersebut menoleh kepada Snow White dan memandang sejata miliknya. “Hanya berjaga-jaga dari bahaya. Anda tahu kan Nona, hutan barat sangat luas.” Pengawal itu menyentuh kedua pedangnya dengan sekejap.

“Kau tampak tidak nyaman?” Snow White menatap pengawal itu yang merasa gelisah dengan baju zirahnya.

“Saya kepanasan,” pengawal itu menjawab sekenanya.

Snow White menghentikan langkahnya, mengambil dua potong kue dari dalam tasnya dan menawarkan satu kepada pengawal tersebut. Sang pengawal menggeleng, “Tidak, terima kasih.”

Snow White menggigit kue miliknya dan memasukkan potongan yang lain ke dalam tasnya, memandang pengawal itu dengan terperinci, atas dan bawah. “Kau bukan pengawal kerajaan, kan?”

“Kenapa kau berpikir begitu?”

“Semua pengawal kerajaan selalu berbicara dengan hormat padaku. Mereka selalu memanggilku Tuan Puteri,”

“Kalau begitu maafkan saya, Tuan Puteri. Hamba adalah orang baru,”

“Dan itu yang membuatmu semakin aneh. Semua pengawal baru akan diajarkan bagaimana menggunakan baju zirah secara nyaman dan akan diajarkan untuk hormat kepadaku dan Yang Mulia Ratu,” Snow White beranalisis.

“Kesimpulan anda?”

“Kau bukanlah pengawal kerajaan.”

Suasana hening. Sang pengawal menatap Snow White tajam, begitu pula sebaliknya.

“Apa yang kau inginkan?” Akhirnya pertanyaan itu dilontarkan.

Pengawal itu hanya mendesah, “Kau tentu tahu kan?”

“Kau berusaha membunuhku!”

Snow White bertindak cepat. Gadis itu mengambil batang pohon terdekat yang ada di tanah dan memukulkannya kepada pengawal itu. Pengawal tersebut terjatuh, merasa kesakitan tapi tidak sampai pingsan. Snow White memanfaatkan kesempatan itu untuk kabur dari sana.

Pengawal itu berusaha mengumpulkan tenaganya terlebih dahulu dan kemudian berlari untuk mengejar Snow White. Akan tetapi alangkah terkejutnya pengawal itu, Snow White tidak berlari menjauh darinya tetapi ia sedang menulis surat dengan santai.

“Apa yang kau lakukan?”

“Kau lihat sendiri kan? Aku sedang menulis surat untuk Ratu,”

“Kau tahu kan siapa yang memerintahkanku untuk membunuhmu?” ejek sang pengawal.

“Aku tahu,” Snow White masih terus menulis suratnya. “Tapi kupikir lebih baik aku tetap menulis surat untuknya. Meminta maaf atas semua kesalahanku.”

“Kau membawa alat tulis ke tengah hutan ini?” ejek sang pengawal yang sudah menarik pisau kecil miliknya.

“Aku sudah curiga sejak ia menyuruhku berjalan-jalan ke hutan.” gumam Snow White.

“Kau sudah tahu? Dan kau masih mau pergi ke hutan bersamaku?”

Snow White tidak menjawab dan terus menulis. Gadis itu mengakhiri goresan pena bulu miliknya, melipat surat itu dan menyerahkannya kepada si pembunuh. Pria itu melirik Snow White sekilas, menyentakkan surat itu hingga terbuka dan membacanya sekejap. Tak lama ia mendengus meremehkan.

“Kau serius menulis surat ini?”

“Berikan saja kepada Yang Mulia Ratu,” Snow White memasang wajah cemberut.

“Aku harus membawa jantungmu,”

Snow White mengangguk maklum, “Lakukan apa yang harus kau lakukan,”

Gadis itu memandang sekelilingnya dan menutup matanya secara pasrah. Sang pembunuh mencabut pisau miliknya, bersiap untuk menusuk jantung Snow White.

Pisau itu pun mengayun cepat.

Snow White mendengarkan bunyi pisau yang diayunkan, akan tetapi ia tidak merasa sakit. Gadis itu membuka matanya dan menatap heran, pembunuh itu malah menebas rumput dan bukan dirinya.

“Apa yang-“

“Bawa ini bersamamu, kalau kau kesulitan dalam hutan ini tiuplah batang rumput ini. Bunyinya akan memanggil kawan-kawanku dan mereka akan membantumu,” Pembunuh itu malah mengulurkan batang rumput yang cukup besar yang dilubangi di beberapa tempat.

“Aku tak paham, kupikir kau-“

“Pergi!”

Tanpa banyak bicara Snow White berlari dari tempat itu, menggenggam batang rumput yang diberikan kepadanya. Gadis itu berusaha menjauh dari istana dan tidak menengok ke belakang.

.

.

.

Grunhilde terduduk di singgasananya, menunggu dengan angkuh pembunuh yang menyamar menjadi pengawal kerajaan. Pembunuh itu memegang sebuah kotak kayu yang berukuran sedang dengan hati-hati.

“Kau telah melaksanakan tugasmu dengan baik?”

Pembunuh itu hanya diam, mengulurkan kotak kayu itu kepada Grunhilde. Grunhilde membuka kotak kayu itu, menatap jantung yang terletak di dalamnya.

“Aku telah melaksanakan tugas darimu. Sekarang ijinkan aku pergi.”

“Buru-buru sekali. Tidakkah kau mengiginkan emas bayaranmu?”

Sang pembunuh merasa tidak nyaman, “Membunuh seorang gadis, terutama seorang putri ternyata tidak semenarik yang aku duga.” Sang pembunuh membalikkan punggungnya dan bersiap pergi.

“Apakah kau benar-benar yakin ini adalah Jantung Snow White?”

Grunhilde bangkit dari singgasananya, suaranya menggelegar marah, matanya menatap tajam. Sang pembunuh berusaha tenang.

“Itu jantung miliknya.“

“Bodoh!” Kotak kayu itu menghantam dinding batu tepat di belakang sang pembunuh. Rupanya Grunhilde melemparnya karena yang terlihat di lantai batu sekarang hanyalah serpihan kotak kayu yang rusak dan sebuah jantung.

“Kau pikir kau bisa mengelabuiku? Grunhilde ini?” Grunhilde berjalan mendekati si pembunuh, sementara pembunuh itu hanya mampu menempelkan punggungnya di dinding batu. Ada aura yang gelap dan mencekam yang keluar dari diri Ratu sehingga sang pembunuh tak mampu bergerak apalagi mencabut senjatanya.

Grunhilde mencengkram rahang si pembunuh dengan kasar, “Dimana kau meninggalkan gadis itu?”

“Aku tak tahu maksudmu!”

“Dimana. Gadis. Itu?” Suaranya Grunhilde rendah, tatapan matanya berbahaya.

“Sudah kubilang-“

Ucapan sang pembunuh terhenti. Grunhilde menggunakan kekuatan sihir miliknya untuk memojokkan si pria pembunuh. Seakarang pria itu tercekik dan sangat sulit untuk bernapas.

“Aku tak akan mengulangi pertanyaanku lagi. Jawab!”

Wajah si pembunuh memutih, mulutnya komat-kamit, “Di… hutan… barat…,”

Grunhilde menembuskan tangannya ke dada pembunuh itu, si pembunuh hanya bisa melotot kaget. Dengan cepat Grunhulde menarik jantung si pembunuh. Ia tidak sempat merasakan apapun selain rasa kaget, berikutnya pandangannya menggelap dan tubuhnya merosot jatuh. Ia sudah tak bernyawa.

“Dasar bodoh!”

“Sekarang, apa yang akan kulakukan?”

Grunhilde berjalan diantara rak buku di kamarnya, menatap judul buku tersebut, meraihnya kemudian meletakkannya kembali ke tempatnya.

“PuterikKau telah melakukan hal yang tercela, puteriku! Membunuh seseorang yang tak ada hubungannya!”

Grunhilde tertawa lebar, “Kata-kata itu juga berlaku untukmu, Ibuku sayang!”

“Kau sudah memiliki kekuasaan penuh akan kerajaan. Apalagi yang kau cari?”

“Persis, itulah yang kucari. Pembalasan dendam, Ibuku tersayang. Aku mencari hal itu.”

“Apa gunanya membalaskan dendammu pada seorang gadis kecil?”

“Kau tidak akan pernah tahu bagaimana perasaanku Ibuku tersayang. Bukankah saat kau membunuh kekasihku kau ada disana? Menatap Edwardku tersayang dengan sinis meregang nyawa sementara aku memohon padamu untuk tidak membunuhnya? Ah ini dia!“

Grunhilde menemukan apa yang dicarinya, sebuah buku tebal berwarna hitam dengan bercak-bercak merah. Tidak ada judul di sampul buku itu akan tetapi kertas buku itu sudah kuning dan saling melekat, Grunhilde membukanya dengan hati-hati.

“Baiklah, jadi apa yang akan kugunakan? Oh, kutukan dalam buku ini sangat mengerikan!” Grunhilde memasang wajah semangat.

“Tentu saja, gadis seumurannya biasanya sangat menyukai pita yang cantik. Bagaimana menurutmu, Ibuku tersayang?” Akan tetapi sosok dalam cermin itu hanya terisak.

“Kuanggap kau setuju.”

Grunhilde mendekati perapiannya, kuali menggelegak menyala. Sang Ratu memasukkan bahan-bahan yang misterius, menghasilkan gelegak kuali yang menyala dan asap kuali berwarna abu menyeramkan. Tak lama kemudian cairan dalam kuali itu semakin lama semakin menyusut, meninggalkan sebuah pita cantik berwarna hijau daun di dasar kuali. Pita itu berkelap-kelip indah merayu gadis manapun untuk menggunakannya di kepala mereka.

“Sempurna,” bisik Grunhilde senang.

.

.

.

Keesokan paginya Grunhilde keluar dari istananya. Ia menyamar menjadi seorang nenek berwajah ramah, berjalan pelan-pelan menuju hutan barat dimana Snow White tinggal bersama pra kurcaci. Bukan hal yang sulit baginya untuk menemukan keberadaan gadis itu dengan kemampuan sihir miliknya. Di tangannya terdapat keranjang kecil berisi berbagai macam pita berwarna cantik, akan tetapi pita terkutuk itu diletakkannya di tumpukan paling atas.

Hari baru masuk siang ketika Grunhilde sampai di sebuah pondok kayu kecil dalam hutan. Dengan pelan Grunhilde mengetuk pintu pondok itu.

“Pita yang cantik, apakah ada yang mau membeli pita yang cantik?” Grunhilde berusaha mengeluarkan suara ramah yang menyenangkan. Cukup sulit juga mengingat selama ini ia selalu berbicara dengan nada datar yang dingin.

Tak ada jawaban. Grunhilde bermaksud mengetuk kembali pintu tersebut akan tetapi pintu itu membuka sedikit. Snow White mengintip dari dalam, matanya menatap penuh selidik.

“Ada perlu apa, Nek?”

“Hamba hanyalah seorang nenek tua yang mencari nafkah. Barangkali nona cantik bersedia membeli barang satu atau dua pita cantik milik hamba ini?”

Snow White melangkah keluar dan mengintip sekeranjang penuh pita cantik milik Grunhilde. Tatapan mata gadis itu kepingin, akan tetapi wajahnya sedih.

“Aduh sayang sekali, saya tidak memiliki uang.” Snow White bergumam getir.

“Begitu.” Grunhilde berpura-pura sedih. “Kalau begitu, setidaknya nona cantik ambillah satu pita milik hamba ini. Sebagai penyemangat oleh hamba bahwa pita hamba laku walau hanya satu.”

Snow White menolak, akan tetapi Grunhilde memaksa dan memelas karena itu Snow White terpaksa menerima pita tersebut. Gadis itu menerima pita yang dikatakan sebagai pita paling cantik dari semua pita milik nenek tersebut. Saat Snow White memasang pita itu di kepalanya, gadis itu merasa pusing,mendadak pandangannya menggelap dan napasnya terhenti.

Grunhilde tertawa keji, “Selamat tidur untuk selamanya, Snow White.”

.

.

.

PRANGG!

Grunhilde terengah, kamarnya berantakan sementara semua pajangan perak dan emasnya pecah berkeping-keping. Sang Ratu telah melepaskan samarannya dan bermaksud melihat keadaan Snow White dari bola kristal miliknya. Akan tetapi alangkah terkejutnya ia bahwa Snow White telah kembali hidup. Kutukannya telah gagal.

“Gadis tolol itu! Bagaimana mungkin ia bisa selamat?!”

“Sudah kukatakan Grunhilde. Jangan melakukan hal yang sia-sia!”

“Diam ibuku tersayang! Diam!”

“Meyerahlah.”

“Tidak! Aku tidak akan menyerah! Pasti ada caranya! Pasti!”

Grunhilde meraih kembali buku berisi kutukannya, meneliti dan membalik lembar buku tersebut. Matanya menelusuri isi buku itu dengan cepat dan berhenti di halaman yang dirasanya cocok. Tubuhnya langsung mengarah ke kuali yang menggelegak, melemparkan beberapa bahan ramuan secara kasar akan tetapi dengan urutan tertentu. Kuali ramuan tersebut memendarkan warna hijau tua yang menyilaukan, asapnya membumbung tinggi. Perlahan ramuan tersebut makin menyusut, meninggalkan sebuah benda di dasar kuali. Sebuah sisir rambut yang indah. Grunhilde memungut sisir itu.
“Kita akan lihat, apakah gadis itu mampu menghindar dari kutukan ini?”

.

.

.

Grunhilde frustasi. Amarahnya meledak. Saat ini kamarnya telah hancur berantakan. Halaman buku terlepas dari sampul bukunya, peralatan perak dan emas pecah berkeping, menyisakan pecahannya yang tajam di lantai batu yang dingin. Satu hal bisa dipastikan, kutukan sisir itu kembali gagal.

“Gadis itu! Aku akan membunuhnya! Pasti akan kubunuh! Aku hanya perlu mencari caranya saja!” gumam Grunhilde berkali-kali. Tak dipedulikan rambutnya yang kusut masai beserta gaunnya yang sudah berantakan.

Sebuah ketukan pelan terdengar dari pintu kamarnya.

“Sudah kukatakan aku tak mau diganggu!” sembur Grunhilde.

“Ma-maafkan saya Yang Mulia. Akan tetapi ada seseorang yang ingin menemui anda. Pangeran yang kemarin-” cicit sang pelayan malang itu.

Grunhilde menatap tajam pelayan itu. “Usir dia!”

“Ta..tapi…”

“Kubilang usir-“ saat itu Grunhilde seakan tersadar, bagaikan air dingin yang langsung menyiram kepalanya. “Apakah pangeran itu bertanya sesuatu mengenai Snow White?” Grunhilde menyambar pelayan itu, mengguncang tubuhnya.

“Be-benar Yang Mulia. Pangeran itu juga bertanya apakah ia bisa bertemu dengan Tuan Puteri Snow White.”

Grunhilde melepaskan genggamannya dari pegangan sang Ratu. Tubuhnya gemetar ketakutan dan bersender ke dinding batu. Grunhilde tampak berpikir keras sebelum akhirnya tertawa keras.

“Tentu saja! Aku bisa memanfaatkan situasi ini!”

Grunhilde menatap kembali pelayan tersebut, yang ditatap hanya bisa gemetar ketakutan. “Katakan kepada pangeran itu, aku menerimanya di aula istanaku.”

Sang pelayan mengangguk paham, hendak pergi dengan segera dari sana akan tetapi Ratu memanggilnya kembali. “Siapkan makanan yang lezat untuk pangeran kita itu. Kita tak bisa membiarkannya kelaparan, bukan?”

Grunhilde tersenyum. Senyum yang licik.


A/N: Yaaa…..apdet lagi ceritanya. Sorry ya kalau kesannya buru-buru, soalnya bulan puasa ini lagi banyak banget target yang dikejar. Tentu aja selain target amaliyah punya target menulis yang lain buat dikejar. Beberapa hari ini masih agak rempong ngatur waktunya…tapi seiring jalan moga-moga bisa jalan antara target amalan dan target nulis. Amin.

A Queen With A Broken Heart

Chapter 3

James hanya mampu membulatkan matanya, merasa kaget. Snow White sudah berdiri menunggunya tetapi bukan itu yang membuat James kaget. Sore itu penampilan Snow White agak berbeda dibanding biasanya. Ehm… lebih cantik, mungkin?

“Kau terlambat!”

Yah, ucapan sinisnya tidak berubah rupanya.

“Maafkan aku milady-“

“Ayo” Snow White melangkah pergi, tidak berminat mendengarkan alasan James. James terburu mengejar Snow White.

“Jadi, apa yang ingin kau lihat di luar istana ini?”

“Entahlah,” James mengangkat bahu sementara Snow White memutar matanya. “Mungkin kau bisa membawaku ke toko pita berkualitas tinggi?”

Seriously? Toko pita? Pangeran sepertimu tidak bisa mendapatkan pita di kerajaanmu sendiri?” Snow White mencemooh.

James menyeringai, “Bukankah kerajaan ini terkenal dengan produksi kain berkualitas tinggi?”

Snow White mendengus dan langsung berjalan ke satu arah, terlalu malas untuk meladeni percakapan Sang Pangeran. James hanya menatap Snow White yang melangkah cepat di depannya, gadis itu berhenti sesaat dan menoleh kearahnya, “Cepat Charming! Hari keburu gelap kalau kau berjalan lambat seperti itu!”

James menghela napas berat. Sepertinya sulit sekali memenangkan hati gadis ini.

.

.

.

Mereka berdua berdiri di depan sebuah toko yang lumayan rapi. Toko itu terbuat dari kayu, bukan dari batu ataupun bata seperti toko-toko yang ada di sekelilingnya. Akan tetapi toko itu memiliki jendela cukup besar yang memajang pita-pita berkilau dan kain-kain yang indah. James memandang Snow White dengan penasaran.

“Percayalah, toko ini menjual pita dengan kualitas tinggi dan merupakan favorit para gadis-gadis di kota ini.”

James mengangguk sementara Snow White melangkah masuk ke toko. Saat pintu dibuka suara bel pintu terdengar, menandakan kepada penjaga toko bahwa ada pelanggan yang masuk ke tokonya. Benar saja, sedetik kemudian seorang wanita berwajah ramah muncul dari belakang.

“Selamat datang! Ah, tuan puteri Snow White rupanya. Mari silahkan masuk!” ujar wanita itu ramah. Snow White membalas senyum wanita itu dengan senyum yang cantik, James melongo melihat senyum Snow White. Baru kali ini pemuda itu melihat senyum gadis itu. Sayang senyum itu bukan ditujukan untuk dirinya melainkan untuk penjaga toko ini.

“Dia ingin membeli pita dari toko ini, nyonya.” Snow White memberi isyarat dengan dagunya. James tersadar dari lamunannya tepat pada waktunya.

Nyonya penjaga toko memandang James. “Ah ya tentu saja. Untuk seseorang yang spesial kukira?”

“Begitulah.” James membalas santai.

Pemilik toko membawa James dan Snow White ke arah pita-pita berkualitas tinggi. Gulungan-gulungan pita yang demikian banyaknya dengan beraneka macam warna dipasang memenuhi sisi dinding.

“Silahkan pilih warna apapun yang anda inginkan,” ujar si pemilik toko.

James mengerutkan dahinya. Pita di toko ini sangat banyak dan punya berbagai macam warna pula. Bagaimana ia harus memilih pita yang sesuai?

“Ho ho, baru pertama kali membeli pita rupanya.” kekeh sang pemilik toko. Snow White juga ikut tertawa kecil.

“Yah, mohon maaf. Aku tidak ahli dalam hal beginian,” James menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Pemilik toko mengangguk paham.

“Kalau boleh aku tahu, apa warna rambut dan warna mata gadis yang akan kau berikan pita ini, Tuan?”

James berpikir sejenak, “Warna rambutnya bagaikan sinar matahari dengan warna bola matanya bagaikan warna langit yang cerah.”

Pemilik toko dan Snow White melihat ke arah jejeran pita yang dipajang dan meraih warna pita yang sesuai. Pemilik toko memilih pita berwarna biru muda seperti biru langit sementara Snow White memilih pita berwarna biru yang sedikit lebih tua dibanding yang sebelumnya.

“Mungkin warna pita yang sewarna dengan bola matanya akan sesuai jika dipasang di rambutnya,” ujar Snow White. Pemilik toko mengangguk setuju.

James memandang serius dua pita yang ditawarkan dan memilih pita yang dipilih oleh penjaga toko. “Kurasa warna matanya sewarna dengan warna pita ini,”

Pemilik toko mengangguk dan menarik pita itu hingga panjang tertentu dan mengguntingnya. “Ada lagi yang anda inginkan?”

“Yah, aku perlu satu pita lagi dengan warna yang sama.”

Pemilik toko kembali menarik pita itu dan mengguntingnya. James mengarahkan matanya melihat-lihat pita yang tersisa. “Silahkan jika anda menginginkan pita berwarna lain?” ujar pemilik toko.

Snow White berjalan ke arah yang lain dan memandang deretan kain berkualitas tinggi yang berjejer. Tangannya mengusap halus kain tersebut, merindukan kehalusan sutra dan kain berkualitas tinggi. Dulu saat ayahnya masih hidup kain berkualitas tinggi bukanlah hal yang langka karena semua gaunnya pastilah terbuat dari kain berkualitas tinggi dan halus. Sekarang setelah ia menggunakan gaun katun biasa Snow White jadi sadar betapa mewahnya kehidupannya yang dulu. Jujur ia merindukan semua kemewahan itu, tapi sekarang Snow White sadar. Rakyatnya tidak menggunakan sutra dan mereka masih mampu bertahan hidup, sebagai seorang putri kerajaan Snow White harus mencontoh rakyatnya. Well hukuman dari Ratu bukanlah hal yang buruk sebenarnya. Ia bisa mencoba lebih memahami rakyatnya.

“Ayo! Aku sudah selesai.”

Snow White tersadar dari lamunannya, James menenteng kantung kertas berisi pita yang baru dibelinya. Penjaga toko melemparkan senyum yang terlalu girang. Snow White jadi merasa aneh.

“Terima kasih! Silahkan mampir lagi tuan puteri!” ujar pemilik toko. Snow White melempar senyum terima kasih.

“Semoga sukses!” ujar pemilik toko lagi yang kali ini dijawab dengan acungan jempol dari James. Snow White merasa penasaran tapi memilih tidak bertanya.

“Baiklah, jadi apa lagi?” Snow White memandang James. Mereka berdua sudah di luar toko.

“Kau puterinya,” James memberi isyarat terserah pada Snow White. Jadilah mereka berdua berjalan-jalan mengelingi kota itu.

Kota ini sangat ramah, setidaknya begitulah pikir James. Para penduduk kota yang mengenal puteri kerajaan mereka menyapa ramah, beberapa bahkan memberikan buah gratis atau penganan kecil lainnya. Tak lupa Snow White membalas senyum ramah pada mereka semua. James entah mengapa merasa senang setiap kali gadis itu tersenyum.

Mereka berdua mampir ke berbagai toko, berbincang dengan pemilik toko atau sekedar berhenti dan menanggapi sapaan rakyat. Beberapa anak kecil bahkan tidak sungkan menarik tangan Snow White ke berbagai arah, meminta gadis itu bermain atau sekedar mencicipi kue yang dibuat untuk teman minum teh.

Saat ini James dan Snow White sedang duduk di pinggir alun-alun kota, menyantap roti hangat yang diberikan secara gratis oleh tukang roti. Roti tersebut gurih dan nikmat, enak sekali dimakan hangat-hangat.

“Kapan Anda pulang?”

James melirik Snow White, “Wow, terang-terangan sekali anda mengusirku?”

“Hanya mau tahu saja,” gumam gadis itu. James memilih tidak menjawab.

“Ada satu hal yang membuatku penasaran,”

Snow White melirik James dan kembali memakan roti miliknya, “Apapun pertanyaan itu akan lebih baik kalau kau tidak pernah menanyakannya.”

James tampak tidak puas akan tetapi Snow White keburu memotong, tampaknya sudah tahu hal yang ingin ditanyakan oleh James. “Apapun itu semua yang kulakukan ada alasannya.”

“Dan alasan itu adalah?” James mengejar.

Snow White terdiam sesaat, “Untuk menebus dosaku,” gumamnya enggan.

James mampu melihat bahwa Snow White berpura-pura bersikap seperti biasa, akan tetapi gadis itu memiliki beban yang lebih berat daripada yang terlihat.

Snow White bangkit dari duduknya secara tergesa, “Tak ada hubungannya denganmu. Lebih baik kita pulang sekarang sebelum hari tambah gelap,”

James memandang punggung Snow White yang semakin menjauh. Sebenarnya ada apa dengan gadis itu?

.

.

.

Snow White melangkah tidak tentu arah, pikirannya tidak fokus. Pikiran gadis itu berkelabat memikirkan Ibunya, Ayahnya dan Grunhilde- ibu tirinya.

Langkah Snow White terhenti, wajahnya menengadah menatap langit. Terlihat olehnya bintang dan dirinya baru sadar kalau hari telah gelap. Snow White mendesah dan terduduk di bangku kayu. Sepertinya posisinya sekarang berada di sisi lain kota yang jauh dari istana tetapi Snow White merasa malas untuk pulang ke Istana.

Entah berapa lama gadis itu terduduk di sana hingga akhirnya ia merasakan sebuah tangan menepuk pundaknya. Snow White menoleh dan mendapatkan James dengan napas terburu dan pucat.

“Kemana saja kau! Pergi begitu saja sampai gelap begini dan belum kembali ke istana!”

Snow White memandang heran.

“Kau tidak sadar? Sekarang sudah malam! Jalanan sudah sepi dan saat aku kembali ke istana para pelayan bilang kau belum kembali!”

Snow White baru tersadar, pantas saja langit terlihat sangat gelap. Gadis itu malah menyenderkan punggungnya ke senderan bangku kayu yang panjang. James mendudukkan diri di sebelahnya.

“Bagaimana kau bisa menemukanku?”

“Entahlah,” James mengangkat bahu. “Katakan saja aku pasti bisa menemukanmu kalau aku mau,” ujarnya sambil memandang Snow White dengan serius. Gadis itu memandang heran kepada James, sementara pemuda itu tampak tersipu malu mendengar kata-katanya sendiri.

“Yah, terima kasih sudah menemukanku.” Snow White melangkah pergi.

“Hei! Mau kemana?”

“Pulang ke istana.”

“Hei! Kau ini benar-benar tidak manis sama sekali!” James berteriak kesal tapi Snow White pura-pura tak mendengar.

.

.

.

Pasangan muda-mudi itu akhirnya sampai di istana. James menahan Snow White ketika gadis itu pergi menjauh untuk kembali ke kamarnya. Snow White menunggu James berbicara.

“Besok aku akan pulang ke kerajaanku,”

Snow White hanya mengangguk pelan.

“Apa kau tidak mau pergi denganku?” Ajakan yang berani dari James, wajah pemuda itu memerah sementara Snow White hanya memandang datar.

“Aku tidak bisa pergi dari sini,”

“Kau tidak perlu menjadi pelayan disini,” James berkeras.

“Aku punya alasanku sendiri, karena itu jangan memaksaku.” Snow White memandang tanah dengan sedih.

“Alasan apa?” James mengejar tapi gadis itu hanya terdiam. Melihat itu James menunduk, tidak tega untuk mendesak Snow White.

Gadis itu memandang lurus kepada James. “Semoga perjalanan anda besok menyenangkan, Prince Charming,”

Snow White melangkah cepat sementara James memandang gadis itu. Pemuda itu berkacak pinggang, “Aku punya nama Puteri, dan namaku James!”

James terlihat sangat jengkel tapi dalam hatinya pemuda itu mengakui kalau ia tidak keberatan dipanggil Prince Charming oleh Snow White.

.

.

.

Esok paginya, James benar-benar pergi dari sana. Setelah selesai sarapan, James berkemas dan berpamitan, tak lupa mengucapkan selamat tinggal kepada Snow White.

“Yakin kau tak mau ikut denganku?” James memastikan, akan tetapi Snow White tetap bergeming untuk tinggal disana.

“Kalau kau mau pergi dari sini, kau bisa datang kepadaku.”

Snow White mendengus, “Dan bagaimana caranya aku menemukanmu yang sedang berkeliling di dunia luar sana?”

“Kau tak perlu mencariku, akulah yang akan menemukanmu,” James menatap dalam Snow White. Dan baru kali ini Snow White menyadari mata pemuda itu yang berwarna abu, bagaikan menghipnotis gadis itu.

“Dimanapun kau berada, aku pasti akan menemukanmu,” dengan berani James meraih rambut Snow White dan menyelipkan rambut itu ke bagian belakang telinganya. “Pasti!” bisiknya meyakinkan. Snow White hanya mampu menunduk, wajahnya memerah dan entah mengapa terasa panas.

“Jangan menggodaku!” Snow White mendesis walau wajahnya memerah.

“Aku memang sedang menggodamu.” James mengaku.

Snow White melotot, “Kau pikir kau bisa menggodaku? Dasar playboy! Aku jadi kasihan dengan gadis yang kau belikan pita itu!”

James terbengong mendengar makian Snow White sebelum akhirnya teringat sesuatu dan tertawa keras.

“A-apa yang kau tertawakan?!”

James menyeka matanya yang berair karena terlalu banyak tertawa. Setelah menguasai diri ia kembali melontarkan godaannya, “Kau cemburu?”

Snow White merasakan wajahnya memanas, “A-aku tidak cemburu!”

“Kau cemburu!”

“Tidak!”

“Iya!”

“Tidak!”

“Iya!”

“Tidak!”

“Tidak!”

“Iya!”

Snow White terpaku sementara James menyeringai usil. Ingin sekali gadis itu menampar pangeran kurang ajar yang ada di hadapannya.

“Pulang sana!” sembur Snow White sementara James masih tertawa keras.

“Maaf, maaf. Tapi kau lucu sekali sih!”

Snow White memasang wajah tidak suka, James memasang cengirannya yang biasa. “Pita-pita itu kubeli untuk ibuku dan adik perempuanku yang sebentar lagi akan menikah. Jadi wajar kan kalau mereka adalah wanita yang spesial untukku?”

Snow White masih memasang wajah cemberut, tapi entah kenapa hatinya terasa lega. Kenapa, ya?

“Tapi aku memang membeli sesuatu untuk gadis yang kuanggap spesial,”

DEG!

Tiba-tiba hati Snow White terasa berat mendengar hal itu. Saat Snow White masih terdiam karena tidak tahu harus mengatakan apa tiba-tiba saja James telah memasangkan sebuah pita ke rambut Snow White.

“Kurasa pita yang spesial cukup untuk seorang gadis yang spesial,” ujar James lembut. Snow White memandang James yang tersenyum. Biasanya pemuda itu selalu memberikan cengirannya yang menyebalkan, tapi kali ini sang pangeran memberikan senyum yang benar-benar lembut untuk sang putri.

Tangan Snow White hendak meraih pita yang baru saja dipasangkan oleh James tapi sang pangeran menahan tangan gadis itu. “Jangan dilepas. Kurasa warna itu cocok untuk rambutmu yang berwarna hitam,” puji James. Snow White bertambah penasaran, memangnya apa warna pita yang James pasangkan di kepalanya?

James meraih tali kekang kuda miliknya dan memanjat naik. Ia memandang Snow White dari atas kudanya, “Ingat! Pita itu harus selalu bersamamu. Suatu saat aku akan datang lagi dan meminta kembali pita itu.”

Snow White cemberut, “Kalau begitu bawa saja pita ini! Kenapa malah jadi dititipkan kepadaku?”

James membuang muka dari Snow White, wajahnya memerah. “Bukankah harusnya kau yang lebih tau?!”

Snow White bertambah penasaran. Pemuda ini kenapa sih?

James mengulurkan telapak tangannya ke arah sang putri, secara refleks Snow White meletakkan tangannya di telapak tangan James. Sang pangeran mencium telapak tangan Snow White secara cepat dan kembali tegak di atas kudanya. Snow White hanya bisa terkejut.

“Jangan lupa. Aku pasti akan menemukanmu tak peduli di mana kau berada.” Setelah mengatakan itu James langsung memacu kudanya yang diikuti oleh pelayannya. Snow White terus menatap kepulan debu yang diakibatkan oleh kuda yang ditunggangi kedua orang itu hingga akhirnya hilang dari pandangan.

Snow White meraih pita yang dipasangkan James di kepalanya, pita itu terbuat dari bahan sutra berkualitas tinggi. Akan tetapi bukan itu masalahnya. Masalahnya warna pita itu adalah warna merah bagaikan warna darah.

Wajah Snow White memerah.

Dalam budaya kerajaannya, jika seorang pemuda memberikan sebuah pita berwarna merah dari bahan sutra kepada seorang gadis itu berarti adalah sebuah lamaran.

Snow White kembali memandang arah James pergi. Masa iya prince charming itu melamar dirinya?

to be continued


A/N: Ternyata ada yang baca cerita ini….kaget banget pas sohib kentalku komen dan nanyain lanjutan cerita ini. Yowiss… sudah ku apdet ya cerita lanjutannya. Lanjutannya In Shaa Allah dalam waktu dekat. Kalau lagi senggang dari target kejaran akhirat di bulan Ramadhan yaaa 😀

Snow White: Skill IRT

Snow White punya ibu tiri, dipanggilnya Ratu Jahat. Kenapa dipanggil gitu sih? Jujur si Ratu juga gak tau. Kalau di sinetron-sinetron gitu kan biasanya ibu tiri suka jahat gitu sama anaknya. Nah karena para rakyat kerajaan ini udah pada keracunan sinetron alay dengan jumlah episode ratusan ribu, jadilah si Ratu dipanggil Ratu Jahat.

Si Ratu cuma bisa sedih. Jujur. Apa yang kalian semua lakukan itu… jahad!

Ratu sebenernya sayang banget sama Snow White, walau dia cuma berstatus ibu tiri. Sebelum nikah sama si Raja, Ratu juga udah pernah nikah dan punya anak. Tapi suaminya itu suka banget judi dan ngegangguin istri orang. Alhasil talak pun berbicara. Si Ratu sempat punya anak perempuan, sayang meninggal karena sakit. Makanya Ratu sayang banget sama Snow White. Kalau anak perempuannya itu masih hidup pastinya sekarang seumuran dengan Snow White.

Masa lalu… biarlah masa lalu…

Sekarang ia sudah jadi Ratu, punya suami si Raja dan punya anak cantik namanya Snow White. Tapi cuma satu yang bikin Ratu geleng-geleng kepala, Snow White sungguh gak bisa diharapin!

Kasusnya sih sederhana, awal dulu mereka bertiga makan barengan, nah kebetulan aja tuh ada masakan demenan sang Ratu. Sambel Ijo Teri. Yups, gurih-gurih di lidah gitu loh. Ah, ngebayanginnya aja si author udah ngiler duluan.

Jadi ceritanya si Ratu mau nambah tuh sambel ijo. Dimakan barengan nasi putih panas. Ah, sedap nikmat. Eh betewe ini settingan dimana dah? Kagak usah dipikirin, deal with it!

Nah, si Ratu minta sama Snow White buat bawain mangkuk kecil isi sambel ijo itu ke Ratu. Maklum, sambel ijo ditaruh di sisi mana sementara Ratu duduk di mana. Walhasil Ratu gak nyampe toh tangannya buat ngeraih si sambel. Snow White nyanggupin dan ngambil tuh mangkok kecil isi sambel. Ratu mulai nyentong nasi panas, sembari nunggu sambel ijo. Tapi kemudian-

BRAAKK! KRUMPYANG! DAR! DUR! DER!

-dan sambel ijo itu jatuh ke lantai dengan tidak elitnya. Noooo!

Snow White cuma senyum doang, “Maaf yah Mam. Mangkuknya berat banget sih.”

Ratu syoook mode on. Demi apah mangkuk kecil gitu berat? Emang sekecil apa sih? Gini loh… bayangin kalian pergi makan ke warung tenda seafood yang ada di emper jalan. Biasanya kalian bakal dikasih mangkuk kecil isinya kecap pedes plus 1 cuil dari cabe rawit yang dipotong dua. Got it? Nah segitulah mangkuk yang dibilang sama Snow White berat.

Waktu Snow White ngalasan kayak gitu jelaslah Ratu kagak percaya. Plus jengkel dan kheki gegara sambel ijonya sekarang ludes di lantai dan lagi dipel sama pelayan. Huhu… good bye nasi panas plus sambel ijo. Aku tak akan melupakanmu!

Awalnya Ratu pikir Snow White punya kelainan keseimbangan gitu. Katanya kalau ada gangguan gitu biasanya megang apapun suka jatuh-jatuh gak jelas. Tapi selidik punya selidik kayaknya gak ada masalah keseimbangan. Buktinya Snow White bisa jalan sana-sini tanpa nabrak tembok atau apapun.

Kejadian kedua pas banget waktu Ratu ada perlu di kamar Snow White. Begitu Ratu masuk kamar ntuh anak, tiba-tiba Ratu terserang keraguan dia masuk kamar atau kapal pecah. Ah enggak, kapal pecah juga masih bagus. Hmmm, medan perang kali ya?

Segala barang bertebaran di lantai plus tempat tidur. Udah gak ketauan lagi mana lemari baju mana lantai. Bahkan buat jalan masuk ke kamar aja Ratu gak tau harus ngelangkah kemana. Otomatis Ratu cuma bisa diam bengong di ambang pintu. Dan di tengah kamar itu Snow White duduk di lantai, dikelilingi barang-barang bertebaran, entah itu baju, buku atau cemilan.

“Mam? Ada perlu apa?” Snow White santai banget nyapa si mamih, alias Ratu Jahat.

“Apa-apaan nih kamar? Beresin!” titah sang Ratu.

Snow White ogah-ogahan. Buat apa diberesin kalau nanti-nanti juga bakal berantakan lagi? Para pelayan buru-buru pada masuk ke kamar Snow White sambil beres-beres semua kekacauaan itu. Ratu udah nyuruh mereka berhenti, tapi pelayan ngalasan, katanya sejak jaman Snow White lahir emang udah kayak gitu sifatnya. Gak mau disuruh kerja atau keluar tenaga sedikitpun. Bahkan mandi dan ke kamar mandi juga ada yang ngurusin si doi.

Sang Ratu ngelus dada dan detik berikutnya dia langsung paham. Snow White itu bukannya sakit atau apa, tapi dia anti sama yang namanya kerja mengeluarkan tenaga. Atau bahasa singkatnya pemalas!

Ratu mencak-mencak dan langsung ngadu sama Raja betapa malasnya si putri tercinta. Tapi Raja nanggepinnya kalem aja, “Yah, Snow White kan putri kerajaan. Ngapain juga dia harus kerja? Yang begituan mah suruh aja pelayan yang kerja.”

Ratu kheki, iya kali urusan per kamar mandian juga harus dibantu pelayan. Tapi tetep Raja masih manjain putrinya. Kelewat manjain sebenernya.

Gak ada yang abadi, begitu juga sang Raja. Suatu saat doi koid, meninggalkan wasiat yang teramat berat. Ratu diharuskan nyari calon suami yang baik buat Snow White. Duh gusti berat amat wasiatnya. Di negara dimana cewe seenggaknya bisa masak rasanya impossibru banget Snow White bisa dapet suami yang baek dunia akhirat. But still, the show must go on. Ini juga demi kebaikan putri tiri tercintah. Akhirnya dimulailah masa-masa yang berat buat Snow White yang pemalas.

Good bye gaun indah. Good bye bobo-makan-bobo. Sekarang pakaian Snow White diganti sama gaun yang applicable buat nyapu, ngepel dan kawan-kawan. Sejak jam 5 pagi Snow White harus bangun plus nyuci bajunya sendiri. Doi juga harus nyapu, ngepel dan ngeberesin kamarnya sendiri. Dan gak ada pelayan yang bakal ngebantuin.

Para pelayan setia dengan perintah ibu tiri. Mereka juga miris sama Snow White. Gak elit lah yauw cakep-cakep tapi males buanget!

Semua ini terlalu berat bagi Snow White. Ia meratap dan mengiba-iba kepada sang Ratu. Semua cobaan dan perilaku ini terlalu berat.

Ratu mendengus. Puhlease deh. Nyuci baju tinggal masukin baju ke mesin cuci nanti tinggal jemur sendiri. Nyapu ngepel kamar juga apa susahnya sih, toh kamarnya cuma 5×5 meter. Gak usah dramaland deh! Tapi tetap aja Snow White ngeraung-raung gak kuat. Dan mulai memanggil ratu sebagai Ratu Jahat.

Sebagai puncaknya, Snow White pun kabur dari istana meninggalkan surat keterangan yang menyatakan ia tidak kuat menjalani semua siksaan ini. Ia juga menyatakan untuk jangan pernah mencari dirinya. Dan memang gak perlu dicari sebenarnya, karena Snow White ditemukan pingsan gak jauh dari istana. Tepatnya 750 m sebelah kiri istana. Menurut dokter Snow White pingsan karena terlalu kelelahan kabur dari istana.

Karena Snow White udah bilang jangan cari dia, makanya Ratu memerintahkan supaya Snow White dirawat di rumah sakit. Snow White dirawat oleh 7 perawat ganteng yang mencalonkan diri untuk merawat tuan puteri. Sayang seribu sayang Snow White masih aja pingsan. Karena khawatir kenapa-kenapa makanya Snow White juga diinfus.

Ratu cuma bisa ngelus dada ngeliat anak tirinya pemalas banget. Rasanya mendaki gunung, lewati lembah, susuri laut jauh lebih gampang dibanding nyari calon suami buat Snow White. Ratu juga udah pasrah banget, harus diapain ini anak. Yang tersisa cuma satu, berdoa sama Tuhan Maha Kuasa.

Biasanya doa para ibu itu cepet dijawab. Dan doa orang dizholimi pasti bakal dibales. Nah apalagi doa ibu yang dizholimin sama anaknya, gak usah ditanya deh.

Seorang pemuda mendobrak pintu kamar tempat Snow White dirawat. Terengah-engah dan peluh menghiasi wajahnya. Ratu baru aja mau ngebentak si cowok gak sopan ini sewaktu dengan dramatisnya dia langsung menghambur ke arah Snow White. Meracau gak jelas dan tau-tau aja langsung main kecup.

Muke gile! Saat Ratu mau teriak manggil perawat-perawat ganteng itu tapi Snow White langsung sadar dari pingsannya. Si cowok gak sopan itu langsung memeluk Snow White erat dan dibalas dengan pelukan erat dari putri tirinya. Ratu cuma bisa bengong gagal paham. Sepertinya mereka berdua sadar kalau Ratu masih disana sehingga mereka berhenti berpelukan.

“Ratu, biarkan saya menikah dengan Snow White!”

Hah?

“Tunggu dulu. Kamu siapa sih?” Ratu minta penjelasan.

“Saya pangeran dari negeri sebelah. Kami sudah ditunangkan sejak kami masih kecil.”

Err… kayaknya something wrong. Kalau udah punya tunangan terus ngapain Raja kasih amanat suruh cariin calon suami yang baik buat Snow White?

“Saya senang traveling. Dan memang beberapa tahun ini saya tidak pulang karena traveling ke berbagai tempat. Makanya orang-orang menyangka saya sudah mati.

“Tapi saya lihat di Twitter banyak yang bilang Snow White pingsan dan tidak sadarkan diri. Karena itu saya langsung pesan tiket pesawat secepatnya dan akhirnya sampai kesini.”

Ok. News travel fast. Ratu sungguh kagum dengan teknologi masa kini.

“Saya tidak mau lagi terpisahkan dari Snow White. Karena itu biarkan ia menikah dengan saya!”

Ratu menatap sang pangeran yang memaksa. Ia juga melihat Snow White dengan mata kepingin banget nikah dengan pangeran. Ratu cuma bisa menghela napas.

“Gini nak,” Ratu menepuk pundak pangeran, “Aku gak keberatan kalau kamu mau nikah sama Snow White.”

Yes!

Pangeran senang. Snow White juga bahagia. Seenggaknya dengan nikah dia bisa bebas dari perilaku kejam sang Ratu.

“Tapi saya harus tanya beberapa hal dulu dari kamu,”

Suasana hening. Semua saling menatap serius satu sama lain.

“Kalau kamu punya istri yang gak bisa masak dan gak bisa beres-beres rumah, apa gak papa?”

Jantung Snow White berdegup kencang. Plis pangerang bilang iya! Iya! Asalkan istrimu itu cantik walau dia gak bisa masak plus beberes itu gak masalah bagimu!

“Kalau itu-“

Snow White deg-degan. Ratu juga deg-degan.

“-enggaklah. Saya gak butuh istri cakep. Saya mau istri yang bisa masak plus beberes rumah.”

JEGERRR!!!

Jawaban pangeran bagaikan petir menggelegar. Sang Ratu cuma bisa menatap prihatin putri tirinya sementara Snow White langsung pingsan lagi.

“Loh Snow White? Kenapa pingsan lagi? Ayo bangun!” Pangeran panik bukan kepalang.

Ratu menatap prihatin pangeran dan menepuk pundaknya, “Kayaknya kamu baru bisa nikah dengan anak saya beberapa tahun lagi.”

Dan kini dimulailah masa-masa berat nan kejam bagi seorang Snow White. Belajar ngurus Rumah Tangga. Noooooooo!!!!