Tulip Putih dan Hyacinth Ungu

“Heee, halaman rumah kalian luas sekali!”

Ariani hanya tersenyum sambil memandangi hamparan bunga yang ditanam di halaman yang luas.

“Almarhumah Bunda sangat menyukai bunga. Setelah menikah dengan Ayahku, untuk membuat Bunda senang, Ayah sengaja membangun taman bunga ini untuk Bunda,” jelas Ariani.

Aku sedikit kikuk mendengarnya. Hal yang wajar sepertinya, karena baru-baru ini Ayah Ariani menikah lagi dengan Ibuku.

“Mau berkeliling?” Ariani melirik kepadaku.

Aku mengangguk. Mungkin inilah salah satu cara Ariani untuk membuatku dan Ibuku merasa nyaman di rumah besar ini. Bukan, rumah sepertinya bukan kata yang tepat. Kastil atau Istana mungkin istilah yang tepat untuk menggambarkan betapa besar dan elegannya tempat ini.

Baru tiga hari yang lalu Ibuku dan Ayah Ariani menyelenggarakan pernikahan yang megah. Yah, sejujurnya aku merasa kaget. Ariani dalam kehidupan sehari-hari di kampus tidak pernah menunjukkan bahwa ia adalah orang kaya. Ralat, anak orang ultra super kaya yang mungkin bisa mengarah kearah bangsawan dalam buku cerita. Walaupun mungkin perilakunya selalu santun dan ramah, tidak pernah ada ciri-ciri yang menyatakan bahwa ia orang kaya. Bahkan gadis ini kerap makan nasi bungkus di warteg pinggir jalan sebelum memulai kelas perkuliahan kami.

Jadi, wajar saja kan kalau aku merasa kikuk dan kaget dengan status sosialnya yang kelewat bangsawan?

Bukan.

Aku mengernyit.

Bukan karena Ariani adalah orang kaya makanya aku kaget. Tapi ini karena-

“Kakak?”

Aku tersentak, Ariani memandangku dengan heran.

“Tidak enak badan? Bagaimana kalau-”

“Gak, gak perlu. Cuma kaget aja, bunganya banyak banget ya,” aku tertawa garing.

Ariani memandangku heran sebelum akhirnya ikut tersenyum. Aku memalingkan wajahku, kuharap wajahku tidak memerah.

“Jadi, bunga apa aja yang ada disini?” aku berusaha mengganti topik.

“Lumayan banyak. Sebenarnya Bunda menyukai bunga yang biasa saja, tapi terkadang Ayah memang keterlaluan. Ayah sering sekali membeli jenis bunga yang mewah hingga akhirnya Bunda selalu marah kepada Ayah,” Ariani terkikik geli. Mungkin ia kembali membayangkan adegan lucu antara Ibu dan Ayahnya.

Aku tersenyum. Ah, wajahnya memang… eits, apa sih yang kupikirkan? Tidak boleh, tidak boleh! Ariani kan-

“Kakak?”

“Gak ada apa-apa kok,”

Adikku.

“Lalu, bunga apa kesukaanmu?”

Ariani memandang angkasa, tetapi wajahnya bingung. Mungkin pertanyaanku terlalu sulit?

“Saya menyukai semua jenis bunga. Jadi agak sulit untuk memilih bunga yang paling saya suka,”

Aku mengangguk paham.

“Kakak sendiri? Sebagai laki-laki, apakah ada bunga yang kakak suka?”

Aku mengedarkan pandanganku ke taman bunga yang luas sebelum sudut mataku menangkap suatu bangunan yang aneh.

“Apa itu?”

Ariani memandang arah yang kutunjuk.

“Ah, itu rumah kaca. Tempat untuk merawat aneka bunga mewah yang Ayah belikan untuk Bunda,”

Aku mengangguk pelan. Ariani menarik tanganku dan kami berdua berjalan menghampiri rumah kaca tersebut. Bangunan kaca itu lumayan luas dan aku bisa melihat setidaknya ada dua orang tukang kebun yang sedang merawat bunga dan tanaman di rumah kaca tersebut. Para tukang kebun tersebut menyadari kehadiran kami, mengucap salam hormat dan meneruskan kembali pekerjaan mereka. Aku hanya tersenyum kikuk sementara Ariani membalas salam mereka dengan santai.

Aku memandang kagum. Rumah kaca itu menyimpan bunga-bunga indah yang mewah dan langka. Aku melihat Tulip, Aster dan jenis bunga lain yang bahkan aku tak tahu namanya. Walaupun aku bukan ahli bunga yang tahu nama bunga, tapi setidaknya aku tahu bahwa harga bunga-bunga itu memang mahal.

Tampaknya Ayah Ariani memang sangat mencintai mendiang Istrinya.

Aku mendekati petak bunga Tulip berwarna-warni. Ini pertama kalinya aku melihatnya secara langsung. Walaupun aku tahu bunga Tulip punya berbagai jenis warna, tapi baru kali ini aku benar-benar melihatnya. Aku berjongkok dan mengelus mahkota bunga Tulip dengan lembut. Ariani berdiri disampingku.

“Kakak suka bunga Tulip?” gumam Ariani.

Tanpa sadar aku mengulurkan tanganku ke arah petak bunga Tulip berwarna putih dan memetiknya sebatang. Aku berdiri sejajar dengannya, memandang wajahnya. Ariani menatap wajahku dengan bingung.

“Aku menyukai Tulip putih,” kuulurkan Tulip putih yang kupetik kearahnya. Dapat kulihat, mata Ariani membulat dan wajahnya menjadi kaku. Matanya memandang berganti-ganti ke wajahku dan kepada bunga yang kuulurkan kepadanya.

Ini seharusnya tidak boleh! Tidak boleh! Tidak boleh!

Ariani hanya mampu memandangku. Bibirnya seakan ingin mengucapkan sesuatu tapi tidak mampu. Aku mengabaikannya.

“Apakah kau…”

Sadarlah! Gadis ini adalah-

Wajah Ariani memucat.

“… suka Tulip putih?”

-adikmu

.

.

.

Ariani bukan gadis yang bodoh.

Ada maksud yang tersembunyi dibalik pertanyaan yang diajukan oleh Bowo tadi. Sungguh aneh jika tiba-tiba saja Bowo mengatakan bahwa ia menyukai Tulip putih. Terlalu spesik dan tidak sederhana, apalagi bunga Tulip putih bukanlah bunga yang umum ditemui di negara ini.

Untunglah tadi sore pelayannya menjemput dan mengiring mereka semua untuk kembali ke kediaman. Kalau tidak? Ariani tidak yakin harus memasang ekspresi wajah seperti apa kepada Bowo.

Ariani menghela napas, memandang setangkai Tulip putih yang dipetik oleh Bowo untuk dirinya.

Hal ini tidak boleh terjadi terlalu lama.

Ariani meraih bunga Tulip putih tersebut, mencoba mencium wanginya, tetapi sia-sia.

Karena kami adalah-

Ariani mencabik kelopak Tulip putih itu dengan giginya.

-kakak beradik.

Kelopak tulip itu jatuh ke lantai.

.

.

.

“Pagi-pagi begini sudah jalan-jalan ke taman bunga?”

Aku menegur Ariani yang sedang membungkuk dan memetik beberapa bunga. Wajahnya memandang kearahku dan tersenyum lembut, memberi isyarat agar aku berdiri di sisinya.

“Bunga-bunga akan terlihat segar jika dipetik di pagi hari seperti ini,”

Aku hanya mengangguk pelan. Kulihat Ariani membawa sekeranjang bunga segar yang baru dipetik.

“Banyak sekali, untuk apa?”

“Hanya untuk menghias kediaman saja. Beberapa akan kuserahkan kepada Ibu kita sebelum sarapan pagi,”

Aku kembali mengangguk. Ariani meraih keranjangnya dan mengambil seikat bunga yang sepertinya dirangkai sendiri oleh Ariani.

Bunga Hyacinthus.

Hatiku mencelos.

Hyacinthus berwarna ungu.

Ariani mengulurkan rangkaian bunga Hyacinthus ungu itu kepadaku. Wajahnya tersenyum lembut. “Bunga ini mempunyai wangi yang harum. Jika kering, kami biasa menggunakannya sebagai pewangi kain, laci dan juga almari,”

Aku menerima rangkaian bunga itu dengan perasaan yang tidak menentu.

Kami adalah kakak beradik. Memang inilah yang seharusnya terjadi.

“Ah, Bunga ini beracun jika dimakan. Karena itu, hati-hati ya, Kak.”

Hatiku bagaikan ditusuk benda tajam. Inikah jawabanmu?


A/N: Untung melunasi hutang malan narasi OWOP jaman dulu kala. Saya nge-post hutangan OWOP mulu ya? Yang ini untuk malam narasi yang gambarnya ada cewek dan cowok duduk di sofa tapi saling membelakangi begitu. Untuk cerita ini saya membuat bahwa cinta mereka forbidden gitu deh~ ah, saya paling suka tema yang kayak begini.

Untuk yang bingung, cerita ini berdasarkan bahasa bunga. Jadi tiap bunga itu punya maknanya masing-masing. Bunga Tulip itu berarti Perfect Lover (bingung kalau ke Bahasa Indonesia, jadi tetap English aja ya 😛 ) sementara Tulip Putih itu artinya Forgiveness. Jadi maksudnya si Bowo adalah “Maafkan saya, tapi saya mencintaimu” makanya pucetlah wajahnya Ariani. Wong mereka kakak adek walaupun gak punya hubungan darah sama sekali. Sementara Hyacinthus ungu artinya I am Sorry; Please Forgive me; Sorrow. Artinya, perasaan Bowo ditolak~

Huhuhu… Bowo yang sabar ya Nak :’)

Cerita ini berhubungan dengan Begitu Indah . Cerita yang pernah saya post di blog ini juga. Dilihat ya~

Advertisements

Begitu Indah

Disclaimer: Dari saya~ Nadita 😀

Warning: Lagi-lagi plotless galau~


Pluk.

Aku memandang Ariani yang jatuh tertidur di pundakku. Napasnya teratur dan tidak terganggu sedikitpun. Sepertinya kelelahan. Hal yang wajar karena saat ini kegiatan belajar kampus kami sedang gila-gilaan. Apalagi saat ini kami berada di tingkat akhir tiga. Hal yang wajar kalau kami harus belajar sampai menangis darah.

“Adikmu tidur?”

Aku hanya mengisyaratkan kawanku agar diam, tidak menganggu tidurnya. Dengan susah payah aku menyelimuti adikku dengan jaketku yang untungnya sedang kulepas. Cukup sulit mengingat aku hanya bisa menggunakan satu tanganku dan berusaha tidak membangunkannya.

Aku tersenyum memandang wajahnya yang tertidur pulas.

Ehem!

Baru kusadari dari tadi kawanku ini terus memperhatikanku. Melupakan fakta bahwa wajahku memerah dan terasa panas, aku berusaha berkonsentrasi mengerjakan kembali tugas kami. Kubiarkan Ariani, adikku itu tertidur. Biarlah nanti akan aku ajarkan atau dia boleh mencontek tugasku nanti.

“Bagaimana perasaanmu? Punya adik tiri yang hanya berbeda umur 6 bulan?”

“Biasa saja,” jawabku dengan nada datar, berusaha berkonsentrasi dengan tugasku.

“Ah~ kalau begitu biar kuubah pertanyaannya,”

Aku masih berusaha mengerjakan tugasku.

“Bagaimana perasaanmu, gadis sekelas yang kau sukai sejak tingkat dua tiba-tiba menjadi adik tirimu?”

Penaku langsung merobek kertas, Ariani merosot sedikit dari pundakku, buru-buru aku memperbaiki posisi kepalanya. Setelah memastikan adikku itu nyaman aku langsung menatap tajam kawanku itu.

“Bercandamu tidak lucu!”

“Hei, aku tidak sedang bercanda,”

Aku kembali meraih penaku dan kembali mengerjakan soal, tak kupedulikan tatapan penasaran kawanku. Sepertinya kawanku itu menyerah karena selanjutnya ia kembali menulis.

“Jangan lupa, kalian adalah kakak beradik. Meskipun kalian tidak sedarah,”

Aku menatap hampa buku tugasku. Mataku kualihkan ke wajah adikku yang sedang tertidur.

“Tak perlu kau jelaskan, aku sudah tahu itu.”

.
.
.

Ariani mengerutkan keningnya sebelum akhirnya membuka matanya.

“Ayo pulang,” gumamku pelan sambil menunggu adikku ini benar-benar tersadar dan tersentak kaget.

“Tugas kelompok kita?” gumamnya bingung sambil menoleh kanan kiri. Kawanku sudah pulang duluan sehingga hanya tersisa kami berdua di lorong kampus ini.

“Sudah selesai,” ujarku sambil membereskan buku milik kami berdua. Wajahnya langsung cemberut.

“Nanti aku ajarin di rumah,” tambahku buru-buru. Wajahnya langsung lega dan tersenyum.

“Janji ya?” tuntutnya.

Aku mengusap kepalanya lembut. “Ayo pulang,”

Dan ia langsung membereskan buku-bukunya. Berlari menyusulku yang sudah berjalan beberapa langkah. Senyum manis menghiasi wajahnya.

.
.
.

Empat bulan lalu, aku tak pernah bermimpi untuk mendapatkan senyummu. Apalagi menyentuh dirimu.

Hanya satu hasrat, semoga aku dan kau ditakdirkan dalam satu ikatan yang sah. Hingga aku mampu menyentuh dan mendapatkan senyummu dengan cara yang sepantasnya.

Tapi sayangnya, bukan aku dan kau yang diikat. Akan tetapi orang tua kita.

Dirimu begitu indah.

Indah tetapi menyakitkan.

Begitu indah, begitu menyakitkan dan begitu menyedihkan.


A/N: Cerita ini berhubungan dengan post cerita saya yang lain Tulip Putih dan Hyacinth Ungu . Silahkan dibaca ya~ 😀