Star Crossed

A/N: Lagi tergila-gila (kembali) dengan Assassin’s Creed. Makanya cerita kali ini bersetting dunia AC. Gak perlu repot-repot nyari siapa karakter utama di cerita kali ini, karena cerita ini murni dari pemikiran saya dan gak ngambil tokoh AC dari Installment manapun. Yah, walau konsep Star Crossed AssassinxTemplar ngambil contoh dari AC Unity. Cerita bersambung… mungkin… tau deh. Sekalian untuk memenuhi challenge Spanish Challenge! dari IOCWP. Silahkan dinikmati.


(Part 1)

Spain, 1589

Seorang sosok bertudung dan berjubah gelap berdiri tenang di atap salah satu sisi istana. Matanya waspada menatap suasana di bawahnya. Misi yang dijalankan kali ini memang tidak begitu sulit, akan tetapi menyelinap masuk ke dalam wilayah musuh juga bukan perkara mudah. Apalagi wilayah milik Templar, musuh bebuyutan kelompok Assassin.

Angin malam bertiup dingin, sesekali bunyi jubah yang dikibas angin terdengar. Tidak masalah, wilayah misi kali ini adalah istana yang dipasang panji-panji dan bendera di sana-sini. Bunyi jubah bisa tersamar.

Sosok itu melompat turun, menyusuri dinding dan akhirnya menyelinap ke sebuh balkon istana. Sedikit berkutat dengan kunci pintu dan tak lama kemudian ia masuk ke dalam. Ia menyusuri lorong istana dengan sangat mudah, seakan hapal seluk beluk istana itu. Tidak butuh waktu lama hingga ia menemukan ruangan yang ia cari.

Matanya yang sudah menyesuaikan diri dalam kegelapan bisa langsung mengenali seluk beluk ruangan. Tanpa membuang waktu ia langsung menghampiri meja tulis yang mewah, mencari apapun yang berguna sebagai informasi. Masih belum puas, sosok itumeraba laci meja yang terkunci. Tidak heran. Sosok itu melakukan sebuah trik pada kunci laci dan voila, laci meja pun terbuka. Ia segera mencari berkas apapun yang berguna.

Ia tidak bisa berlama-lama di ruangan itu. Setelah kira-kira menemukan informasi yang dicarinya, ia mendekati jendela dan membaca kertas itu di sana. Sinar bulan memang tidak terlalu terang, tapi itu lebih aman daripada dengan bodoh menyalakan lilin atau penerangan. Matanya membaca cepat berkas-berkas penting itu dan menghafalnya setelah itu mengembalikan semua berkas itu kembali ke tempatnya. Tak lupa ia menghapus jejak bahwa ia pernah ada di ruangan itu.

Sosok itu menempelkan telinga di pintu, mendengarkan langkah atau apapun yang menandakan keberadaan seseorang. Suasana hening. Setelah meyakinkan dirinya sosok itu keluar dari ruangan dan berlari cepat di antara lorong. Tapi nasib baik tidak berlangsung lama. Saat sosok itu membelok ia malah bertemu dengan dua orang tentara yang sedang berpatroli.

Asesino![1]”

Sosok itu mendecakkan lidah dan berlari menyambut dua tentara yang memergoki dirinya. Ia memukul kedua tentara itu hingga kedunya jatuh pingsan, tak berdaya. Akan tetapi kekacauan sudah terjadi. Teriakan itu memanggil semua tentara yang berpatroli. Ia bisa mendengar suara derap langkah tentara perlahan mendekati dirinya.

Sang assassin berlari dan membelok ke tikungan tikungan yang cukup gelap dan sempit. Untunglah jubahnya segelap malam sehingga para tentara sama sekali tidak memperhatikan dirinya yang bersembunyi d isana dan terus berlari melewati dirinya. Setelah dirasa aman sang assassin berlari kearah yang berlawanan. Akan tetapi sial, ia malah bertemu dengan orang lain.

Bukan pria. Dan juga bukan tentara.

Akan tetapi seorang gadis. Matanya membulat dan napasnya tertahan saat sang assassin tiba-tiba saja berlari ke arahnya.

Maldito![2]” decak sang Assassin.

Tanpa ada pilihan lain sang assassin langsung menindih tubuh sang gadis ke dinding, membekap mulutnya dan menempelkan blade miliknya ke leher sang gadis. Gadis itu sangat terkejut hingga ia menjatuhkan lilin yang ia pegang. Berita baiknya, lilin itu terjatuh dan apinya padam. Berita buruknya, tempat lilin itu jatuh berdentang yang membuat para tentara kembali ke tempat mereka berada.

Sang assassin sedang berpikir keras untuk keluar dari situasi terjepit ini saat ia merasakan gadis tersebut menyentuh lengannya dengan lembut. Sang assassin menatap gadis itu yang menatapnya balik dengan tenang. Ia mengisyaratkan sesuatu dengan jarinya dan menunjuk suatu arah. Sang assassin masih belum paham saat tiba-tiba saja sang gadis menarik lengannya dan berlari ke arah yang tadi ditunjuknya sambil menarik dirinya. Lehernya yang tadi ditempeli blade tergores dan mengeluarkan sedikit darah. Akan tetapi gadis itu tidak peduli dan membawa sang assassin lari.

Mereka tiba ke suatu lorong yang agak sepi dan di sana ada pintu yang agak besar. Tanpa ragu sang gadis langsung masuk ke dalam. Sang assassin tidak tahu apa yang diingankan gadis ini, sebagai tindak waspada saat mereka telah masuk ruangan ia kembali menahan gadis itu dari belakang, membekap mulutnya dan kembali menempelkan bladenya.

“Gadis ini sangat aneh.” Pikir sang assassin. “Ia terlalu tenang. Bahkan anggota senior Templar sekalipun emosinya akan naik bila berhadapan dengan assassin.”

Sang gadis kembali memegang lengan yang menahannya dengan lembut. Tangannya mengisyaratkan agar sang assassin menoleh ke belakang. Saat ia menoleh, ia melihat sebuah jendela yang cukup besar dengan sebuah balkon. Sebuah jalan keluar.

Ia tidak paham dengan gadis ini, tapi ini bukan waktu yang tepat untuk memikirkan hal itu. Prioritas utamanya adalah keluar dari area ini dan melaporkan hasil misinya. Hidung sang assassin menghirup wangi yang lembut dari rambut sang gadis. Matanya menatap luka gores yang ada di lehernya, sedikit merasa bersalah.

Ia memasukkan kembali blade miliknya, akan tetapi tetap bertahan untuk membekap mulut sang gadis. Sang gadis masih berdiri dengan tenang seakan ia tahu bahwa dirinya tidak akan mengalami bahaya apapun. Sang assassin memasukkan tangan ke sakunya dan menarik sebuah saputangan. Dengan lembut ia menempelkan saputangan itu ke luka sang gadis dan meninggalkan sapu tangan itu di sana.

Perlahan bekapan di mulutnya juga terlepas dan sang gadis bisa merasakan sosok itu semakin lama semakin menjauh dari tubuhnya. Saat ia menoleh ke belakang jendela kamarnya telah terbuka lebar, tirainya tertiup angin.

Gadis itu berlari ke arah balkon dan menatap ke bawah, tidak ada siapapun kecuali para tentara yang masih berlari kesana kemari, mencari sosok assassin tersebut. Saat sang gadis menatap ke atas ia juga tidak bisa melihat apapun.

Sang gadis menghela napas kecewa. Ia menatap angkasa untuk terakhir kalinya dan masuk ruangan. Tangannya menggenggam erat saputangan dari assassin tersebut.

“Padahal aku ingin sekali mengobrol dengannya.” Keluh sang gadis kecewa. Kapan lagi kau bisa bertemu dengan assassin dari dekat tanpa saling membunuh. Apalagi kalau kau adalah anggota Templar.

.

.

.

Sang assassin berdiri di atap istana di sisi lain. Matanya menatap tajam saat ia melihat sang gadis kembali masuk ke kamarnya. Ia mengangkat tangannya, mengeluarkan blade miliknya, menatapnya sesaat dan memasukkannya lagi. Ia menggeleng pelan dan berlari menyusuri atap istana.

Saatnya untuk melaporkan hasil misinya.

#To Be Continued


[1] Assassin. Sebenarnya artinya bisa pembunuh. Cuma karena ini pakai setting dunia Assassin’s Creed lebih enak pakai arti Assassin

[2] Sial. Atau ungkapan makian kasar apapun

Advertisements

Tulip Putih dan Hyacinth Ungu

“Heee, halaman rumah kalian luas sekali!”

Ariani hanya tersenyum sambil memandangi hamparan bunga yang ditanam di halaman yang luas.

“Almarhumah Bunda sangat menyukai bunga. Setelah menikah dengan Ayahku, untuk membuat Bunda senang, Ayah sengaja membangun taman bunga ini untuk Bunda,” jelas Ariani.

Aku sedikit kikuk mendengarnya. Hal yang wajar sepertinya, karena baru-baru ini Ayah Ariani menikah lagi dengan Ibuku.

“Mau berkeliling?” Ariani melirik kepadaku.

Aku mengangguk. Mungkin inilah salah satu cara Ariani untuk membuatku dan Ibuku merasa nyaman di rumah besar ini. Bukan, rumah sepertinya bukan kata yang tepat. Kastil atau Istana mungkin istilah yang tepat untuk menggambarkan betapa besar dan elegannya tempat ini.

Baru tiga hari yang lalu Ibuku dan Ayah Ariani menyelenggarakan pernikahan yang megah. Yah, sejujurnya aku merasa kaget. Ariani dalam kehidupan sehari-hari di kampus tidak pernah menunjukkan bahwa ia adalah orang kaya. Ralat, anak orang ultra super kaya yang mungkin bisa mengarah kearah bangsawan dalam buku cerita. Walaupun mungkin perilakunya selalu santun dan ramah, tidak pernah ada ciri-ciri yang menyatakan bahwa ia orang kaya. Bahkan gadis ini kerap makan nasi bungkus di warteg pinggir jalan sebelum memulai kelas perkuliahan kami.

Jadi, wajar saja kan kalau aku merasa kikuk dan kaget dengan status sosialnya yang kelewat bangsawan?

Bukan.

Aku mengernyit.

Bukan karena Ariani adalah orang kaya makanya aku kaget. Tapi ini karena-

“Kakak?”

Aku tersentak, Ariani memandangku dengan heran.

“Tidak enak badan? Bagaimana kalau-”

“Gak, gak perlu. Cuma kaget aja, bunganya banyak banget ya,” aku tertawa garing.

Ariani memandangku heran sebelum akhirnya ikut tersenyum. Aku memalingkan wajahku, kuharap wajahku tidak memerah.

“Jadi, bunga apa aja yang ada disini?” aku berusaha mengganti topik.

“Lumayan banyak. Sebenarnya Bunda menyukai bunga yang biasa saja, tapi terkadang Ayah memang keterlaluan. Ayah sering sekali membeli jenis bunga yang mewah hingga akhirnya Bunda selalu marah kepada Ayah,” Ariani terkikik geli. Mungkin ia kembali membayangkan adegan lucu antara Ibu dan Ayahnya.

Aku tersenyum. Ah, wajahnya memang… eits, apa sih yang kupikirkan? Tidak boleh, tidak boleh! Ariani kan-

“Kakak?”

“Gak ada apa-apa kok,”

Adikku.

“Lalu, bunga apa kesukaanmu?”

Ariani memandang angkasa, tetapi wajahnya bingung. Mungkin pertanyaanku terlalu sulit?

“Saya menyukai semua jenis bunga. Jadi agak sulit untuk memilih bunga yang paling saya suka,”

Aku mengangguk paham.

“Kakak sendiri? Sebagai laki-laki, apakah ada bunga yang kakak suka?”

Aku mengedarkan pandanganku ke taman bunga yang luas sebelum sudut mataku menangkap suatu bangunan yang aneh.

“Apa itu?”

Ariani memandang arah yang kutunjuk.

“Ah, itu rumah kaca. Tempat untuk merawat aneka bunga mewah yang Ayah belikan untuk Bunda,”

Aku mengangguk pelan. Ariani menarik tanganku dan kami berdua berjalan menghampiri rumah kaca tersebut. Bangunan kaca itu lumayan luas dan aku bisa melihat setidaknya ada dua orang tukang kebun yang sedang merawat bunga dan tanaman di rumah kaca tersebut. Para tukang kebun tersebut menyadari kehadiran kami, mengucap salam hormat dan meneruskan kembali pekerjaan mereka. Aku hanya tersenyum kikuk sementara Ariani membalas salam mereka dengan santai.

Aku memandang kagum. Rumah kaca itu menyimpan bunga-bunga indah yang mewah dan langka. Aku melihat Tulip, Aster dan jenis bunga lain yang bahkan aku tak tahu namanya. Walaupun aku bukan ahli bunga yang tahu nama bunga, tapi setidaknya aku tahu bahwa harga bunga-bunga itu memang mahal.

Tampaknya Ayah Ariani memang sangat mencintai mendiang Istrinya.

Aku mendekati petak bunga Tulip berwarna-warni. Ini pertama kalinya aku melihatnya secara langsung. Walaupun aku tahu bunga Tulip punya berbagai jenis warna, tapi baru kali ini aku benar-benar melihatnya. Aku berjongkok dan mengelus mahkota bunga Tulip dengan lembut. Ariani berdiri disampingku.

“Kakak suka bunga Tulip?” gumam Ariani.

Tanpa sadar aku mengulurkan tanganku ke arah petak bunga Tulip berwarna putih dan memetiknya sebatang. Aku berdiri sejajar dengannya, memandang wajahnya. Ariani menatap wajahku dengan bingung.

“Aku menyukai Tulip putih,” kuulurkan Tulip putih yang kupetik kearahnya. Dapat kulihat, mata Ariani membulat dan wajahnya menjadi kaku. Matanya memandang berganti-ganti ke wajahku dan kepada bunga yang kuulurkan kepadanya.

Ini seharusnya tidak boleh! Tidak boleh! Tidak boleh!

Ariani hanya mampu memandangku. Bibirnya seakan ingin mengucapkan sesuatu tapi tidak mampu. Aku mengabaikannya.

“Apakah kau…”

Sadarlah! Gadis ini adalah-

Wajah Ariani memucat.

“… suka Tulip putih?”

-adikmu

.

.

.

Ariani bukan gadis yang bodoh.

Ada maksud yang tersembunyi dibalik pertanyaan yang diajukan oleh Bowo tadi. Sungguh aneh jika tiba-tiba saja Bowo mengatakan bahwa ia menyukai Tulip putih. Terlalu spesik dan tidak sederhana, apalagi bunga Tulip putih bukanlah bunga yang umum ditemui di negara ini.

Untunglah tadi sore pelayannya menjemput dan mengiring mereka semua untuk kembali ke kediaman. Kalau tidak? Ariani tidak yakin harus memasang ekspresi wajah seperti apa kepada Bowo.

Ariani menghela napas, memandang setangkai Tulip putih yang dipetik oleh Bowo untuk dirinya.

Hal ini tidak boleh terjadi terlalu lama.

Ariani meraih bunga Tulip putih tersebut, mencoba mencium wanginya, tetapi sia-sia.

Karena kami adalah-

Ariani mencabik kelopak Tulip putih itu dengan giginya.

-kakak beradik.

Kelopak tulip itu jatuh ke lantai.

.

.

.

“Pagi-pagi begini sudah jalan-jalan ke taman bunga?”

Aku menegur Ariani yang sedang membungkuk dan memetik beberapa bunga. Wajahnya memandang kearahku dan tersenyum lembut, memberi isyarat agar aku berdiri di sisinya.

“Bunga-bunga akan terlihat segar jika dipetik di pagi hari seperti ini,”

Aku hanya mengangguk pelan. Kulihat Ariani membawa sekeranjang bunga segar yang baru dipetik.

“Banyak sekali, untuk apa?”

“Hanya untuk menghias kediaman saja. Beberapa akan kuserahkan kepada Ibu kita sebelum sarapan pagi,”

Aku kembali mengangguk. Ariani meraih keranjangnya dan mengambil seikat bunga yang sepertinya dirangkai sendiri oleh Ariani.

Bunga Hyacinthus.

Hatiku mencelos.

Hyacinthus berwarna ungu.

Ariani mengulurkan rangkaian bunga Hyacinthus ungu itu kepadaku. Wajahnya tersenyum lembut. “Bunga ini mempunyai wangi yang harum. Jika kering, kami biasa menggunakannya sebagai pewangi kain, laci dan juga almari,”

Aku menerima rangkaian bunga itu dengan perasaan yang tidak menentu.

Kami adalah kakak beradik. Memang inilah yang seharusnya terjadi.

“Ah, Bunga ini beracun jika dimakan. Karena itu, hati-hati ya, Kak.”

Hatiku bagaikan ditusuk benda tajam. Inikah jawabanmu?


A/N: Untung melunasi hutang malan narasi OWOP jaman dulu kala. Saya nge-post hutangan OWOP mulu ya? Yang ini untuk malam narasi yang gambarnya ada cewek dan cowok duduk di sofa tapi saling membelakangi begitu. Untuk cerita ini saya membuat bahwa cinta mereka forbidden gitu deh~ ah, saya paling suka tema yang kayak begini.

Untuk yang bingung, cerita ini berdasarkan bahasa bunga. Jadi tiap bunga itu punya maknanya masing-masing. Bunga Tulip itu berarti Perfect Lover (bingung kalau ke Bahasa Indonesia, jadi tetap English aja ya 😛 ) sementara Tulip Putih itu artinya Forgiveness. Jadi maksudnya si Bowo adalah “Maafkan saya, tapi saya mencintaimu” makanya pucetlah wajahnya Ariani. Wong mereka kakak adek walaupun gak punya hubungan darah sama sekali. Sementara Hyacinthus ungu artinya I am Sorry; Please Forgive me; Sorrow. Artinya, perasaan Bowo ditolak~

Huhuhu… Bowo yang sabar ya Nak :’)

Cerita ini berhubungan dengan Begitu Indah . Cerita yang pernah saya post di blog ini juga. Dilihat ya~

Begitu Indah

Disclaimer: Dari saya~ Nadita 😀

Warning: Lagi-lagi plotless galau~


Pluk.

Aku memandang Ariani yang jatuh tertidur di pundakku. Napasnya teratur dan tidak terganggu sedikitpun. Sepertinya kelelahan. Hal yang wajar karena saat ini kegiatan belajar kampus kami sedang gila-gilaan. Apalagi saat ini kami berada di tingkat akhir tiga. Hal yang wajar kalau kami harus belajar sampai menangis darah.

“Adikmu tidur?”

Aku hanya mengisyaratkan kawanku agar diam, tidak menganggu tidurnya. Dengan susah payah aku menyelimuti adikku dengan jaketku yang untungnya sedang kulepas. Cukup sulit mengingat aku hanya bisa menggunakan satu tanganku dan berusaha tidak membangunkannya.

Aku tersenyum memandang wajahnya yang tertidur pulas.

Ehem!

Baru kusadari dari tadi kawanku ini terus memperhatikanku. Melupakan fakta bahwa wajahku memerah dan terasa panas, aku berusaha berkonsentrasi mengerjakan kembali tugas kami. Kubiarkan Ariani, adikku itu tertidur. Biarlah nanti akan aku ajarkan atau dia boleh mencontek tugasku nanti.

“Bagaimana perasaanmu? Punya adik tiri yang hanya berbeda umur 6 bulan?”

“Biasa saja,” jawabku dengan nada datar, berusaha berkonsentrasi dengan tugasku.

“Ah~ kalau begitu biar kuubah pertanyaannya,”

Aku masih berusaha mengerjakan tugasku.

“Bagaimana perasaanmu, gadis sekelas yang kau sukai sejak tingkat dua tiba-tiba menjadi adik tirimu?”

Penaku langsung merobek kertas, Ariani merosot sedikit dari pundakku, buru-buru aku memperbaiki posisi kepalanya. Setelah memastikan adikku itu nyaman aku langsung menatap tajam kawanku itu.

“Bercandamu tidak lucu!”

“Hei, aku tidak sedang bercanda,”

Aku kembali meraih penaku dan kembali mengerjakan soal, tak kupedulikan tatapan penasaran kawanku. Sepertinya kawanku itu menyerah karena selanjutnya ia kembali menulis.

“Jangan lupa, kalian adalah kakak beradik. Meskipun kalian tidak sedarah,”

Aku menatap hampa buku tugasku. Mataku kualihkan ke wajah adikku yang sedang tertidur.

“Tak perlu kau jelaskan, aku sudah tahu itu.”

.
.
.

Ariani mengerutkan keningnya sebelum akhirnya membuka matanya.

“Ayo pulang,” gumamku pelan sambil menunggu adikku ini benar-benar tersadar dan tersentak kaget.

“Tugas kelompok kita?” gumamnya bingung sambil menoleh kanan kiri. Kawanku sudah pulang duluan sehingga hanya tersisa kami berdua di lorong kampus ini.

“Sudah selesai,” ujarku sambil membereskan buku milik kami berdua. Wajahnya langsung cemberut.

“Nanti aku ajarin di rumah,” tambahku buru-buru. Wajahnya langsung lega dan tersenyum.

“Janji ya?” tuntutnya.

Aku mengusap kepalanya lembut. “Ayo pulang,”

Dan ia langsung membereskan buku-bukunya. Berlari menyusulku yang sudah berjalan beberapa langkah. Senyum manis menghiasi wajahnya.

.
.
.

Empat bulan lalu, aku tak pernah bermimpi untuk mendapatkan senyummu. Apalagi menyentuh dirimu.

Hanya satu hasrat, semoga aku dan kau ditakdirkan dalam satu ikatan yang sah. Hingga aku mampu menyentuh dan mendapatkan senyummu dengan cara yang sepantasnya.

Tapi sayangnya, bukan aku dan kau yang diikat. Akan tetapi orang tua kita.

Dirimu begitu indah.

Indah tetapi menyakitkan.

Begitu indah, begitu menyakitkan dan begitu menyedihkan.


A/N: Cerita ini berhubungan dengan post cerita saya yang lain Tulip Putih dan Hyacinth Ungu . Silahkan dibaca ya~ 😀