Akan Lebih Baik

Edward Phillip Arsene Louis.

Jujur saja, Primrose belum pernah mendengar nama itu. Akan tetapi nama itu adalah nama terakhir dari para pemuda yang memaksa ingin bertemu dengannya – mendadak perut Primrose terasa sakit. Setelah pertemuan pertama – yang Primrose tidak ingat lagi siapa nama pemuda itu- dan pertemuan kedua dengan Mr. Medusa, Primrose sekali lagi ingin membenturkan dahinya ke meja kayu.

Sayang, kali ini ayahnya sudah memerintahkan agar semua meja kayu di mansion dilapisi setidaknya lima lembar taplak meja yang tebal, sehingga percuma saja membenturkan kepalanya yang sudah cukup stress itu.

Meskipun perut gadis itu terasa sakit melilit karena pertemuan yang tiada berkesudahan, gadis itu cukup penasaran juga dengan pemuda yang terakhir ini. Pasalnya, nama pemuda ini belum pernah didengar sebelumnya.

Ayahnya, Mr. Kirkland memastikan bahwa pemuda itu berasal dari keluarga bangsawan yang cukup terkemuka, akan tetapi pemuda ini memiliki sedikit cacat. Ibu dari pemuda itu bukanlah istri yang sah, melainkan istri kedua yang berlatar belakang seorang pelayan. Kalau bukan karena latar keluarga bangsawan itu yang cukup terkenal, tentu Mr. Kirkland sudah menolak keras pemuda itu menemui putrinya.

Dan disinilah Primrose, kembali duduk di tempat yang sama seperti sebelumnya. Primrose sedang melamunkan hal-hal yang tidak penting saat sesosok pemuda menghampirinya. Gadis itu berdiri dan mengangguk angun. Saat matanya menatap wajah pemuda itu mata Primrose membelalak dan ia hampir berteriak. Untunglah pemuda itu memberi isyarat diam hingga Primrose tidak berteriak karena terkejut.

“Selamat siang Milady Primrose. Maafkan kedatangan saya yang terlambat ini,” ujar pemuda itu ramah.

Ekspresi Primrose berubah-ubah: terkejut, bingung, penasaran, hingga akhirnya ia harus disadarkan dengan batuk kecil dari pelayannya. Primrose mengangguk hormat kepada pemuda itu, mengulurkan tangannya yang disambut dan dikecup di bagian punggung tangan.

Primrose kembali duduk yang diikuti oleh pemuda itu. Mata gadis itu menatap menyelidik. Pasalnya pemuda di hadapannya itu…

“Perkenalkan, nama saya adalah Edward Phillip Arsene Louis. Anda bisa memanggil saya Phillip saja.”

… adalah Gentleman Thief.

Primrose hanya mampu menatap pemuda itu dalam diam. Tiba-tiba saja ia tersentak dan mulai merapikan tatanan rambutnya yang mungkin berantakan, dahinya yang masih sedikit membengkak dan gaunnya yang sedikit kusut. Pelayan gadis itu kembali berdehem sementara Phillip tersenyum geli.

“Mereka bilang anda adalah gadis yang sangat cantik dan saya mengakui kecantikan anda memang luar biasa,” Phillip tersenyum geli, akan tetapi terlintas senyum sinis.

Primrose dapat melihat senyum sinis itu dan memasang wajah cembut. Sungguh Unlady-like!

Kalau memang Gentlemen Thief ini ingin bermain, Primrose akan melayani permainannya, pikir Primrose.

“Terima kasih atas pujian anda, meskipun saya yakin semua itu hanya berita yang dibesar-besarkan,” Primrose melempar senyum manisnya.

Phillip melihat gelagat bahwa gadis itu mulai mengikuti alur permainannya. Pemuda itu tersenyum sesaat.

“Kita belum pernah bertemu sebelumnya bukan, Lady Primrose?”

“Tidak Lord Phillip, kita belum pernah bertemu sebelumnya.”

Primrose menuangkan secangkir teh dan mempersilahkan Phillip untuk mencicipi kue yang ada. Untuk sesaat suasana menjadi hening. Primrose ingin sekali berbicara banyak dengan pemuda di depannya ini, akan tetapi merasa tidak bebas karena pelayannya.

Sir Phillip, apakah anda mau berkeliling taman? Saya bisa menunjukkan beberapa koleksi bunga mansion ini kepada anda,” Primrose sudah bangkit dari duduknya, pertanda tidak menerima penolakan.

Sang pelayan membelalakkan mata. Baru kali ini nonanya berinisiatif melakukan sesuatu. Phillip menatap selidik gadis itu sesaat dan melemparkan senyumnya. “Saya merasa senang,” ujar pemuda itu. Phillip bangkit dan mengulurkan lengannya, Primrose melingkarkan lengannya ke sekeliling lengan pemuda itu.

Sang pelayan meski penasaran tetap menghormati Ladynya itu. Karena itu sang pelayan berdiri agak menjauh, memberi ruang bagi Primrose untuk berbicara tanpa terdengar oleh sang pelayan.

Sir Gentleman Thief?”

Phillip tersenyum kecil. “Milady, rupanya kabar burung yang mengatakan anda akan dijodohkan itu memang benar?”

Primrose merengut.

“Tahukah anda, orang-orang di kota saling bertaruh satu sama lain mengenai siapa pemuda beruntung yang akan mendapatkan anda?”

“Aku bukan barang,” Primrose membalas ketus.

“Hmm, dengan ini saya memenangkan taruhan. Kurasa aku akan menagih uangku yang mengatakan anda terlalu keras kepala untuk menikah dengan salah satu diantara para pemuda ini,” Phillip atau Gentleman Thief melanjutkan tanpa jeda.

“Kau bertaruh mengenaiku?!” Primrose menghentikan langkahnya dan menatap Phillip dengan pandangan marah.

“Aku anggap itu sebagai jawaban yang tepat, bukan?” Phillip tersenyum kecil. Primrose masih menatap marah.

“Siapa kau sebenarnya? Apakah kau memang Edward Phillip Arsene Louis?”

Phillip tersenyum kecil. “Edward Phillip adalah sahabat baikku, milady. Ia meyakinkanku bahwa ia tidak suka dipaksa menikah dengan anda. Mengejutkan sebenarnya, karena sahabatku itu begitu bodoh menolak gadis secantik anda. Dengan ramainya desas-desus perjodohan anda, tentu saya menawarkan diri untuk mengetahui di sisi mana dewi fortuna akan tersenyum. Dan yang seperti anda lihat, sepertinya saya memenangkan taruhan itu,”

Primrose menatap tak percaya pada pemuda di hadapannya itu. Phillip menangkap anak rambut Primrose yang tidak tertata rapi dan menyelipkannya di belakang telinga gadis itu. “Sekarang saya bisa melihat sisi lain dari di anda, milady. Dibalik pribadi anda yang anggun dan gemulai, anda hanyalah seorang gadis pemberontak yang mendambakan kebebasan,”

Primrose menampik tangan Phillip dengan kasar. “Bukankah anda sudah mengetahuinya sejak saya diculik pada saat lalu?”

“Dan karena hal itulah lady, saya sangat mengagumi topeng anda,”

Primrose tertegun. “Bukankah kita sama-sama menggunakan topeng, Sir Thief?”

Phillip mendecak tidak setuju. “Inilah pribadi saya yang sebenarnya milady. Tentu pribadi saya ini tak akan mampu ditolerir oleh gadis sekelas anda bukan?”

Primrose menangkap nada sindiran disana. “Apa maksud anda?” Nada bicara Primrose telah berubah berbahaya.

Phillip mendekatkan bibirnyake telinga Primrose. “Menurut anda, mengapa saya menolak untuk membawa anda pada saat itu?”

Dan Primrose bisa merasakan hatinya terasa sakit. Ia tidak tahu mengapa terasa sakit, tiba-tiba saja air mata telah menetes ke pipinya. Akan tetapi Phillip malah tersenyum. Seolah bangga mampu membuat Primrose menangis dengan kata-katanya yang menusuk.

Primrose sadar diri. Ia telah ditolak sebelum sempat menyatakan perasaanya. Gadis itu mundur beberapa langkah menjauh dari Phillip, mengangguk hormat dan melangkah pergi. Langkah gadis itu terhenti sesaat dan menoleh sebentar.

“Akan lebih baik jika anda adalah Edward Phillip Arsene Louis,”

Primrose berjalan menjauh dan disambut oleh pelayannya. Phillip hanya mampu mendesah memandang kepergian Primrose.

“Yah, aku harap aku bisa menjadi Edward Phillip, milady.

Pasangan Kedua

Sang pelayan tidak melepaskan pandangan matanya sedikitpun dari Lady Primrose. Matanya menatap waspada akan setiap gerakan terkecil dari Ladynya itu. Yang ditatap hanya duduk dengan pandangan kosong, meski saat ini jelas Primrose ingin sekali membenturkan kepalanya ke meja di hadapannya.

Sang pelayan masih menatap waspada, merasa khawatir dengan keadaan dahi Lady Primrose. Sebelum pertemuan ini sang Lady telah membenturkan kepalanya berkali-kali ke meja kayu saking stress dan frustasinya. Ayahnya, Sang Lord Arthur Kirkland tentu saja langsung panik, dan sebenarnya memang itu tujuan Primrose. Membuat ayahnya panik agar pertemuannya dengan pria yang lain bisa dibatalkan. Pertemuan dengan pria pertama saja sungguh sangat mengerikan, Primrose tidak berani membayangkan mengenai pertemuan kedua.

Sialnya, meski dahi Primrose kelihatan memar dan ia yakin mempengaruhi kecantikannya- meski ayahnya bersikukuh ia tetap cantik, pertemuan itu tidak dibatalkan. Hell! Memang ayahnya disuap apa hingga beliau benar-benar keras kepala untuk mempertahankan pertemuan kali ini?

Jadi disinilah Primrose berada. Terjebak di pertemuan yang membosankan, diawasi oleh pelayannya dengan dahinya yang berdenyut memar. Primrose mendesah bosan. Sepuluh menit telah berlalu sejak dimulainya pertemuan dengan Duke William akan tetapi pemuda itu tidak mengucapkan sepatah katapun. Sisi positifnya, pemuda dihadapannya tidak banyak bicara, tidak seperti pemuda sebelumnya yang Primrose bahkan sudah lupa siapa namanya.

Sisi negatifnya, Duke William terus menatap dirinya dengan tatapan yang tajam, nyaris setajam pisau. Primrose bergidik, pasalnya kali ini Duke William menatapnya tajam dari balik cangkir teh yang sedang dihirupnya.

“Terima kasih atas pertemuan kali ini, Lady Primrose,” Duke William meletakkan cangkirnya ke tatakan dengan sangat elegan. Membuat Primrose bertanya bagaimana pemuda ini bisa terlihat lebih elegan dibanding dirinya yang seorang wanita.

Deheman sang pelayan menyadarkan Primrose dari pikirannya yang asal, gadis itu melemparkan seulas senyum manis, berharap senyum itu cukup sebagai balasan.

“Kita memang belum pernah bertemu sebelumnya. Akan tetapi nama anda sangat terkenal di kota ini milady,” Duke William menopangkan dahunya ke tangannya.

“Sesuai kabar burung yang beredar, anda memang sangat cantik. Tak heran Gentleman Thief menjadikan anda sebagai targetnya,” lanjut Duke William.

Primrose tidak yakin apa yang ia harus lakukan, gadis itu memilih kembali tersenyum.

Duke William mengedarkan pandangannya ke sekeliling taman. Ya saat ini mereka berdua sedang minum teh di taman mansion Kirkland. Pemandangan bunga warna-warni cukup membuat mata terpukau kagum, memberikan kesempatan bagi Primrose untuk terbebas dari tatapan tajam pemuda di hadapannya.

Milady Primrose. Tentu anda tahu mengenai tujuan kedatangan saya ini bukan?”

Primrose ragu sejenak, akan tetapi ia memilih pura-pura tak tahu. “Saya tidak mengerti maksud anda, Duke William.”

Duke William kembali menatap Primrose dengan tajam, kini Primrose benar-benar merasa kaku. Mungkin ditatap oleh Medusa akan jauh lebih baik dibanding tatapan Duke William, pikir Primrose asal.

Duke William menatap matanya dan tersenyum, ia bersender di punggung kursinya. “Saya mengajukan tawaran pernikahan kepada anda.”

Jantung Primrose mencelos, sesaat menyesal tidak sedang menghirup tehnya. Ada kemungkinan saat Primrose meminum tehnya dan Duke William menyatakan tujuannya, gadis itu bisa berpura-pura menyembur tehnya ke wajah tuan muda itu dengan alasan terkejut. Sayang, semua itu hanya dalam bayangannya saja.

“Tentu pernikahan kita tidak akan terjadi sekarang. Tetapi saya ingin anda memikirkannya,”

Primrose hanya mampu terdiam, tangannya memegang cangkir di hadapannya sementara tatapan matanya terarah ke meja di hadapannya. Primrose berusaha menyembunyikan perasaan hatinya, akan tetapi kegelisahan gadis itu dapat ditangkap baik oleh William.

William bangkit dari duduknya dan menggunakan topi tingginya yang selama ini diletakkan di meja. “Anda tidak perlu terburu-buru. Akan tetapi saya harap anda mempertimbangkan tawaran saya,”

Duke William mengangguk sopan sebelum akhirnya undur diri dari sana. Primrose hanya duduk terdiam, tidak menatap kepergian William apalagi memberi salam perpisahan. Gadis itu malah menghembuskan napas secara berat, menyenderkan punggungnya ke kursi dan menatap langit yang berwarna biru.

Milady! Kelakuan anda sungguh tak pantas!”

Primrose menghiraukan serentetan teguran dari pelayannya. Kepalanya benar-benar pusing kali ini. Siapapun, tolong bantu ia kabur dari sini!

Kandidat Pertama

Rules Gentleman No 3

You have two ears and one mouth for a reason


“Mengerikan… sungguh mengerikan.”

Primrose berusaha keras untuk tidak memutar bola matanya dan mengernyitkan alis. Bahkan gadis itu berusaha sangat keras untuk tidak menghembuskan napas bosan.

“Nah Lady Primrose, saya mendapat kehormatan besar diperbolehkan untuk bertemu dengan anda. Sudah sejak lama saya ingin bertemu dengan Anda. Tapi mengingat, ah, kasus mengerikan itu saya rasa saya tidak boleh egois bukan?”

Primrose MASIH berusaha tidak memutar bola matanya. Duh Tuan Muda, memangnya anda tidak merasa pertemuan ini berkat keegoisan anda? Kurang lebih begitulah jerit hati Primrose.

Duke Arthur William Percival Harford. Salah satu dari tiga bangsawan muda yang memaksa untuk bertemu dengan Primrose.

Secara fisik sebenarnya Duke William bisa dikatakan lumayan tampan. Apalagi dari segi harta dan jabatan, tentu tidak perlu ditanyakan lagi. Hanya saja Primrose punya alasan kuat untuk tidak menyukai Duke muda satu itu. Dan alasannya adalah-

“Mengerikan… sungguh mengerikan bukan?”

Ingin sekali Primrose lari ke dinding terdekat dan menjedutkan kepalanya berulang kali. Kalau kau hanya tertarik pada penampilan luar yang menarik, mungkin Duke William bisa masuk dalam pertimbangan. Tapi untuk menjadi teman berbincang? Well, sebaiknya anda pikir-pikir terlebih dahulu.

Batuk kecil terdengar, menyadarkan imaginasi Primrose- yang berimaginasi menjedutkan kepalanya di dinding. Sang Kepala Pelayan memberi isyarat agar Primrose mendengarkan dengan penuh perhatian apa yang diceritakan oleh Sang Duke muda.

Primrose mengeluh dalam hati. Ayolah, saat ini gadis itu benar-benar merasa bosan. Ia butuh teman bicara yang menyenangkan, bukan seorang Duke yang membosankan!

“Mengerikan… sungguh mengerikan. Kasus penculikan itu sangat mengerikan. Untunglah anda tidak terluka Milady.”

Primrose hanya bisa mengangguk pasrah. Yah, memangnya apalagi yang bisa dia lakukan?

“Mungkin anda bisa menceritakan pengalaman anda saat diculik oleh pencuri itu Lady?”

Primrose baru saja membuka mulut, hendak membantah bahwa Gentlemen Thief yang menculiknya.

“-ah tidak…. tidak. Itu mengerikan, sangat mengerikan. Walau tentu saja saya sangat penasaran dengan cerita anda.”

Primrose benar-benar merasa malas sekarang. Ia ingin pertemuan ini berakhir secepatnya.

“Tapi tentu saja. Bagaimana kalau kita bertemu lagi lain waktu? Dan anda bisa menceritakan pengalaman anda.”

Primrose membelalakkan matanya, bertemu lagi dengan Duke William? Pasti akan sangat mengerikan. Memikirkannya saja Primrose sudah bergidik ketakutan.

“Baiklah, saya rasa saya akan pamit sekarang. Tidak baik bagi saya untuk mengambil waktu anda terlalu banyak bukan? Sampai jumpa lagi Milady Primrose.”

Duke William mengecup punggung tangan Primrose dan kemudian menghilang dari pandangan. Primrose memastikan Duke William sudah tidak terlihat lagi dan akhirnya mengelap tangannya yang dikecup Duke William ke bagian belakang gaunnya.

“Jadi bagaimana kesan anda terhadap Duke William, Lady Primrose?” Pertanyaan konyol sebenarnya, tetapi Kepala Pelayan merasa harus menanyakannya.

Primrose menggeleng-geleng, “Mengerikan… sungguh mengerikan.”

#I Must Write Something

A/N: Yahh…… mengerikan… sungguh mengerikan XD

Sejarah Terulang

“Brusssh!”

Dan sejarah kembali terulang. Cairan berwarna karat-yang terkenal dengan nama Teh itu tersembur telak ke muka. Sang pelayan boleh bernapas lega, karena korban semburan teh itu bukan dirinya, melainkan Mr. Kirkland. Yang mengejutkan, pelaku semburan itu tak lain adalah Lady Primrose, putri Mr. Kirkland.

Sang Butler mengernyitkan alisnya. Berjanji pada diri sendiri untuk mengatur jadwal temu antara Dokter Gigi dengan keluarga Kirkland- yang entah kenapa akhir-akhir ini gemar sekali menyemburkan teh. Mungkin ada masalah pada engsel rahang mereka, Sang Butler sok berspekulasi dalam hati.

“Bisa ayah ulangi?”

-dan mungkin sekalian Dokter THT, sang Butler menambahkan dalam hati.

“Kukatakan tadi ada tiga bangsawan muda yang hendak bertemu denganmu, sayangku. Apa perlu kuulangi?” Mr. Kirkland mengelap wajah dan kemejanya dengan serbet. Menyayangkan basahan teh yang akan meninggalkan noda bercak di kemeja putihnya.

“Ti- tidak perlu. Tapi kenapa tiba-tiba sekali?” Primrose tergagap.

“Sayangku, kau tahu aku juga tak mau melepasmu selain kepada pria yang pantas. Tetapi tiga pemuda ini sangat memaksa, padahal aku sudah menakut-nakuti mereka. Tetapi mereka sangat mendesak.”

Primrose menyenderkan punggungnya, mendesahkan napas berat. Tangannya memijit pelipisnya, wajahnya terlihat stress berat. Tak dipedulikannya suara ocehan ayahnya yang bagaikan suara sumbang pianika dalam orkestra yang teratur.

“… dan Duke William sangat memaksa untuk bertemu-“

“Duke William?!” Primrose tersadar dari lamunannya. Mr. Kirkland tergagap melihat kekagetan putrinya.

“Tapi ayah, kau tahu kan? Duke William itu sangat…. Sangat…” Primrose berusaha menemukan kata yang pantas untuk menyelesaikan kalimatnya.

“Mengerikan?” Pancing Mr. Kirkland.

“Mengerikan.” Primrose menyetujui pilihan kata ayahnya. “Tunggu! Ayah setuju kalau Duke William mengerikan tapi Ayah masih menerimanya?!”

“Sayangku, kau tahu dia sangat pemaksa.”

“Dan aku memaksa Ayah untuk membatalkan semua pertemuan itu!” Primrose menatap tajam Ayahnya, yang ditatap hanya bisa duduk gelisah.

Primrose menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi, Kepala Pelayan mendengus tidak setuju tetapi Primrose tidak peduli. Duduk bersender pada punggung kursi merupakan hal yang tidak sopan bagi seorang Lady, tapi Primrose terlalu stress untuk memikirkan hal itu.

Ahh…aroma teh yang hangat mulai memenuhi indera penciuman Primrose, menciptakan suasana rileks dan tenang. Tak didengarkan ocehan Ayahnya yang tiada berakhir. Primrose mendekatkan cangkir teh miliknya, mencecap cairan hangat itu.

“… lagipula tidak terlalu mengerikan kukira. Mereka hanya akan mengajukan proposal pernikahan-“

“Brusssh!”

Detik berikutnya, Sang Butler berjanji dalam hati akan mendatangkan Dokter Gigi sore ini ke kediaman Kirkland.


A/N: Well, harusnya sih cerita ini settingannya sebelum cerita yang judulnya #Lagi?! tapi waktu itu belom kepikiran. Jadi, kenapa Primrose kabur dari rumah itu ya karena ini… karena mau dijodohin :v

#Lagi?!

“Lady Primrose hilang!”

Dan sejarah kembali terulang. Mr. Kirkland yang hendak menyeruput tehnya terpaksa menyemburkan cairan itu secara telak ke wajah pelayan.

Meraih serbet, berlari sambil menyeka mulutnya secara tergesa, ayah malang itu tiba di kamar putrinya. Pintu kamar putrinya dipadati para pelayan yang langsung memberi jalan. Seorang pelayan muda berwajah panik ditemani seorang pelayan wanita setengah baya – Kepala pelayan yang berusaha menenangkan. Saat Mr. Kirkland memasuki kamar suasana langsung terasa tegang, khusus untuk pelayan muda tampak ketakutan.

Sang pelayan muda tergagap. “Mr. Kirkland… saya tidak paham…saya-“

Kepala Pelayan langsung mengangsurkan sehelai kertas yang diterima secara bingung oleh Mr. Kirkland. Hanya tertulis sebaris pesan.

‘Salahkan Phantom Thief.’

“Lagi?!”

###

Lady Primrose Kirkland berdiri menggigil, uap putih keluar dari mulutnya. Sesekali gadis itu menggosokkan kedua tangan dan meniupnya, berusaha mendapatkan kehangatan.

Langit sangat jernih malam ini, menyisakan dingin yang menggigit, serpihan salju turun perlahan. Primrose memandang langit, bintang bersinar indah malam ini. Sayang tidak ada rembulan, akan tetapi tidak mengurangi indahnya malam.

Perlahan Primrose mulai menyesali keputusannya untuk datang kesini. Sendiri. Gadis itu merapatkan mantelnya, mulai berpikir apa yang harus ia lakukan.

Milady, bukankah sudah cukup semua permainan ini?”

Suara lembut yang lama ditunggu. Primrose memutar tubuhnya dan mendapati sesosok pria yang telah lama ia tunggu. Gentleman Thief dengan setelan tuksedo hitamnya, menyentuh tepi topi tinggi miliknya, membungkuk hormat kepada Primrose.

Primrose tersenyum, akhirnya yang ditunggu tiba juga.

“Kita akan pulang, Milady.” Gentleman Thief mengulurkan tangannya yang tanpa ragu disambut oleh Primrose. Kedua muda mudi itu saling berpandangan.

“Mr. Gentleman Thief, saya tidak mau pulang.”

Primrose menatap Gentleman Thief secara serius. Lebih serius dibandingkan saat pertama kali mereka bertemu.

“Bawalah aku pergi.”

Gentleman Thief mendesahkan napas dengan elegan.

“Lagi?!”

###

#IOC Writing Challenge

A/N: Setelah sekian lama akhirnya nulis lagi mengenai Gentleman Thief. Kangen juga sama karakter ini. XD

Égoïste du Gentleman le Voleur

 

Yang terhormat Tuan Kirkland,

Malam ini saya akan datang ke kediaman anda. Rumor mengatakan bahwa putri anda yang menawan memiliki batu permata yang juga sangat menawan. Malam ini saya akan datang untuk memastikan kecantikan putri anda dan mengambil batu permata yang menawan itu.

Hormat saya,
Gentleman Thief


Seorang pria berumur baya meremas secarik kertas bertulis surat tersebut. Wajahnya geram.

“Apakah kau yakin bahwa pencuri itu tak akan bisa mencuri permataku?!”

“Kami akan mengusahakan yang terbaik. Tapi anda tahu sendiri Mr. Kirkland, Gentleman Thief itu pencuri cerdik yang selalu bisa lolos dari polisi,” Inspektur polisi menjelaskan dengan terbata.

“Tentu saja kalian tak bisa menangkap pencuri itu. Penampilan kalian saja tak meyakinkan,” ujar Mr.Kirkland meremehkan. Matanya menatap rendah sepasukan polisi pengawal.

“Terutama kamu!” Mr. Kirkland tiba-tiba saja menunjuk seorang polisi muda berkacamata.

“Disenggol sedikit aku yakin kamu langsung jatuh,” Mr. Kirkland masih mencela. Sang polisi muda cuma mampu tersenyum hambar.

“Sudah… sudah Mr. Kirkland. Sudah hampir tengah malam, lebih baik kita langsung mulai berjaga,” sang Inspektur menengahi.

Mr. Kirkland masih belum puas tetapi tidak membantah. Para polisi menyebar ke seluruh penjuru rumah, menempati pos mereka masing-masing. Tidak ada hal yang aneh.

.
.
.

Polisi muda berkacamata itu berjalan menyusuri lorong rumah yang sepi. Mungkin Dewi Fortuna memang sedang tersenyum padanya, dirinya ditugaskan untuk berjaga tepat di depan kamar putri Mr. Kirkland. Kepalanya menoleh ke kanan kiri sebelum akhirnya mengetuk pintu kamar milik putri Mr. Kirkland.

Tok tok tok

“Silahkan masuk,”

Polisi muda tersebut masuk ke dalam kamar tersebut. Kamar itu gelap, lampunya dimatikan. Akan tetapi pintu balkon kamar tersebut terbuka lebar, angin malam memasuki kamar tersebut. Seorang gadis berdiri dengan anggun dilatar belakangi oleh pintu balkon dan pemandangan langit malam.

“Nona, saya bertugas untuk melindungi anda dan batu permata milik anda,” ujar polisi muda itu sambil menyentuh tepi topi polisi miliknya.

Sang gadis hanya terdiam.

“Hampir tengah malam. Jika anda menyerahkan batu permata itu kepada saya, akan saya pastikan Gentleman Thief tidak akan pernah melukai anda,”

Sang gadis tersenyum. “Gentleman Thief tidak akan melukai saya,”

“Bagaimana anda bisa yakin?”

“Karena ia sudah datang dan menemuiku,”

Sang polisi muda terkejut. “Nona, sebaiknya anda serahkan batu permata itu dan-“

Ucapan polisi muda itu terpotong. Sang gadis berjalan mendekati sang polisi dan mendekatkan wajahnya ke wajah polisi tersebut.

“Mr. Gentleman Thief, saya yakin anda adalah orang tersebut. Jadi anda tidak perlu menyamar menjadi polisi lagi,”

Polisi muda tersebut awalnya terkejut tapi langsung menguasai diri dan tersenyum tenang.

“Bagaimana anda tahu bahwa saya adalah Gentleman Thief?”

“Saat anda pertama kali melihat saya, mata anda menunjukkan rasa tertarik dan memandang penuh selidik pada wajah saya dan permata ini,” jelas sang gadis sambil menyentuh permata yang disematkan di bagian depan gaunnya.

Sang polisi muda atau tepatnya sang Gentleman Thief hanya bersiul kagum.

“Saya akan menyerahkan batu permata ini kepada anda. Tanpa anda perlu merasa bersusah payah,” ujar sang gadis jelas.

Mr. Gentleman Thief menaikkan salah satu alisnya. Merasa tertarik.

“Dengan syarat, anda juga harus membawa saya pergi dari sini,” gumam sang Gadis.

Gentleman Thief sesaat terkejut, kedua matanya membulat sempurna, tetapi pemuda itu mampu menguasai dirinya. Bibirnya kembali menunjukkan seulas senyum percaya diri, matanya memancarkan binar licik.

“Sebutkan satu alasan mengapa saya harus membawa anda pergi dari kediaman ini, milady?” Thief menekankan suarnya pada kata Milady dengan nada suara mengejek. Sang Nona Bangsawan menyadari hal itu, tetapi ini bukan saatnya untuk mempermasalahkan nada suara yang kurang ajar itu.

Sang gadis menjauhkan wajahnya dari wajah Gentleman Thief dan mundur beberapa langkah. Gentleman Thief sedikit menyesali tindakan sang Nona bangsawan, hilang sudah kesempatannya untuk menikmati wajah menawan itu dari dekat. Tapi biarlah, toh tubuh gadis itu masih dalam jarak dekat dari dirinya, setidaknya Gentleman Thief masih bisa menikmati wajah rupawan itu walau tidak sedekat sebelumnya.

“Aku akan berikan tiga alasan bagus mengapa anda harus membawaku keluar dari sini.”

“Dan alasan apa sajakah itu? Lady-?”

“Primrose. Namaku adalah Primrose Kirkland.”

“Baiklah Lady Primrose, tergantung dari jawaban anda mungkin saya akan berkenan membawa anda pergi dari sini,” Thief  membungkuk sedikit dengan sikap meremehkan dan seringai merendahkan.

“Alasan pertama, jika kau membawaku, ayahku akan melakukan apapun untuk kembali mendapatkan diriku, dan kau bisa meminta uang yang banyak dari ayahku,”

Thief tidak merasa tertarik.

“Alasan kedua, kau adalah Gentleman Thief, pencuri yang khusus mencuri batu permata. Jika kau membawaku, aku bisa memberimu banyak informasi mengenai permata langka yang indah. Err… setidaknya untuk di daerah ini,” Primrose sebenarnya merasa tidak yakin, tapi ia berusaha bersikap meyakinkan. Sayangnya binar matanya tidak begitu meyakinkan dan Thief menyadari hal itu.

Akan tetapi Thief tidak peduli. Ia terkekeh kecil, menikmati wajah sang Lady yang sama sekali tidak polos dan lebih berkesan seperti anak kecil yang tertangkap basah mengambil kue.

“Dan alasan ketiga?” kali ini Thief memancing sang Lady.

Primrose menunjukkan wajah keengganan, ia terdiam sesaat dan menatap wajah Thief dengan ragu. Thief menunggu.

“Alasan ketiga…,”

Thief masih menunggu.

“… Saya tekurung di rumah ini sejak Ibu saya meninggal karena kecelakaan. Saya tahu Ayah hanya merasa khawatir pada saya, tapi…” Primrose tidak pernah menyelesaikan kalimat itu dan Thief tidak pula mendesaknya.

“Saya mohon Sir Gentleman Thief, tolong bawa saya keluar dari rumah ini!” Primrose menunjukkan wajahnya yang penuh harap.

“Dan, jika saya tidak memenuhi keinganan anda, apa yang akan anda lakukan? Milady?”

Primrose terkejut sesaat, tangannya langsung menutupi erat-erat permata yang tersemat di bagian depan gaunnya. Kakinya mundur beberapa langkah. “Jika memang begitu, saya tidak akan membiarkan anda membawa permata ini!”

Thief terkekeh.

Teng Teng Teng

Lonceng tengah malam berbunyi dari menara jam terdekat. Primrose terkesiap sesaat. Gentleman Thief berdiri tegap di depan sang gadis. Semuanya terjadi begitu cepat, bahkan Primrose tidak sadar apa yang terjadi. Tapi satu-satunya yang ia sadari adalah tiba-tiba saja Gentleman Thief telah mengecup bibirnya. Saat Primrose masih bingung, Gentleman Thief telah berdiri di sandaran balkon kamarnya, pakaiannya pun telah berubah – setelan tuksedo berjubah warna hitam, topi tinggi dari sutra hitam dengan sedikit aksen merah, dan sepatu kulit hitam mengilat. Tangan Thief yang menggunakan kaus tangan putih menggenggam permata besar berwarna merah gelap. Primrose langsung memeriksa bagian depan gaunnya dan mendapati bahwa permata miliknya telah menghilang. Saat Primrose kembali memandang Gentleman Thief, pemuda itu mengecup permata miliknya dengan sikap arogan yang terlihat jelas.

“Maafkan saya Lady Primrose, tapi saya tidak tertarik dengan semua alasan anda,”

Suara riuh mulai terdengar, para polisi yang berjaga di bawah balkon kamar Primrose tampaknya sudah menyadari keberadaan Gentleman Thief di kamarnya. Langkah kaki berlari dalam jumlah banyak terdengar mendekati kamarnya.

“Terima kasih untuk permata ini dan kecupan anda.”

Pintu kamar Primrose terbanting terbuka, inspektur polisi Lestrade muncul dengan wajah memerah marah.

“Kali ini kau akan kutangkap Thief!”

Gentleman Thief hanya tertawa angkuh dan meloncat ke atap kediaman Mr. Kirkland. Inspektur Lestrade hanya mampu mengejar Thief sampai ke balkon dan meneriakkan sumpah serapah. Ia segera memerintahkan para polisi untuk mengejar pencuri itu sebelum akhirnya ikut berlari keluar kamar Primrose.

Mr. Kirkland langsung memeluk Primrose, meracaukan apakah Primrose terluka ataukah Thief telah melakukan sesuatu kepadanya. Primrose hanya terdiam dan menggeleng pelan, menjawab semua racauan ayahnya yang telah hilang akal dan memastikan bahwa dirinya dalam keadaan yang baik.

Yah, sedikit baik. Karena pada kenyataannya, Gentleman Thief dengan sangat kurang ajar telah mencuri ciuman pertamanya. Wajah Primrose memerah. Ah, dan jangan lupakan fakta bahwa permata miliknya juga sudah dicuri oleh Thief. Tapi Primrose dan Mr. Kirkland dari awal tidak begitu peduli dengan hal itu. Primrose hanya merasa bahwa ini kesempatannya untuk keluar kediaman dengan memanfaatkan Gentleman Thief, walaupun usaha itu gagal. Sementara Mr. Kirkland dengan angkuh menyatakan bahwa ia masih memiliki banyak permata yang langka dan menawan sehingga kehilangan satu permata bukanlah hal yang penting. Jadi, dari awal Nothing to lose untuk Mr. Kirkland selama Primrosenya baik-baik saja.

Mr. Kirkland masih terus memeluk Primrose saat Inspektur Lestrade kembali ke kamar Primrose.

“Maafkan saya Mr. Kirkland, lagi-lagi Thief sialan itu berhasil lolos,” wajah Lestrade memerah malu.

“Sudah kukatakan, kalian memang tidak berguna dan tidak bisa diharapkan. Untunglah Primroseku baik-baik saja,”

“Apakah anda terluka, Lady Primrose?” Inspektur Lestrade dengan enggan menoleh kepada Primrose. Gadis itu hanya menggeleng pelan.

“Apakah-“

“Primroseku baik-baik saja dan ia lelah. Semua kekacauan ini membuatnya lelah. Kau dan aku akan kembali ke ruang kerjaku. Primrose, istirahatlah!” Mr. Kirkland memotong ucapan Lestrade yang kelihatan jelas sekali inspektur itu merasa berterima kasih. Ia tidak pernah bisa berurusan dengan perempuan, apalagi seorang Lady kelas atas.

Primrose mengangguk kecil sementara Mr. Kirkland mendorong Lestrade dan keluar dari kamar Primrose. Kegelapan kembali menyelimuti kamar itu, meskipun suara bising polisi dan derap lari mereka masih sayup terdengar. Primrose melangkah ke balkon, berdiam dan memandangi langit malam berbintang itu. Tidak ada bulan, situasi malam yang cocok untuk Gentleman Thief melarikan diri.

Primrose menggosok bibirnya dengan keras, wajahnya terlihat kesal meski tak dipungkiri juga merona merah.

“Gentleman Thief bodoh,” gumamnya.

Primrose masih berdiri di balkon itu, tenggelam dalam kesunyian angin malam. Ia memutuskan untuk terus berdiri disana, mengenang Gentleman Thief sebelum akhirnya-

Primrose hendak menjerit, mulut dan hidungnya ditutup oleh saputangan yang memiliki bau yang aneh. Semakin Primrose berusaha bernapas, semakin gadis itu merasa pusing.

-semua menjadi gelap.

 


 

Pagi yang tenang menurut Mr. Kirkland. Pria itu menghirup aroma teh Earl Grey kesukaannya yang selalu membuatnya tenang di pagi hari, terutama setelah melalui malam yang merepotkan.

Sungguh sialan Gentleman Thief dan Lestrade, rutuk Mr. Kirkland dalam hati. Malam yang seharusnya sempurna, dengan ia merencanakan dirinya dan Primrose menonton pertunjukan opera di gedung terdekat harus batal karena surat peringatan Thief dan Lestrade yang tidak becus.

Untunglah aku berhasil mengusir mereka semua kemarin malam, pikirnya lagi dengan bangga hati. Dalam hati memantapkan diri untuk menjalankan semua rencana kerjanya hari ini dan sesekali menghabiskan waktu dengan Primrose. Walaupun ia seorang Earl yang sibuk tapi ia tidak ingin Primrose merasa kesepian.

Tapi, dimana gadis itu? Biasanya pagi seperti ini ia sudah menemani sang Earl menyantap English Breakfast miliknya. Sang Earl sedang mencecap teh miliknya saat seorang pelayan berlari tergesa kearahnya. Napasnya tersengal dan keringat mengalir di dahinya, tetapi pelayan wanita itu tidak mempedulikannya.

“Tuanku, hal yang gawat!”

Sang Earl hanya menatap bingung, akan tetapi aroma teh miliknya begitu menggoda. Memang tidak sopan, tetapi sang Earl memutuskan untuk meminum tehnya sambil mendengarkan entah laporan apa itu.

“Lady Primrose diculik! Penculiknya meninggalkan surat!”

Detik berikutnya, kalimat sang pelayan sudah terpotong paksa oleh semburan teh yang telak di muka.


 

Primrose membuka matanya akan tetapi pandangannya terasa gelap, kepalanya juga merasa pusing. Primrose menuntup matanya sekali lagi dan membukanya, berusaha melihat apapun. Suasananya memang sudah tidak segelap yang pertama akan tetapi Primrose masih merasa pusing. Primrose berusaha memahami keadaannya, tangan dan kakinya bergerak bebas. Dirinya sedang duduk di lantai semen yang dingin, bersandar pada dinding batu yang juga dingin. Primrose berusaha meraba daerah sekelilingnya, sekitar lima meter di depannya terdapat jeruji besi yang menghalangi langkahnya untuk jauh ke depan. Sepertinya Primrose terjebak dalam penjara, pantas saja dirinya tidak diikat.

Primrose berusaha mengingat penculiknya, tetapi tidak ada apapun yang ia ingat. Hal terakhir yang gadis itu ingat hanyalah ia sedang berdiri di balkon kamarnya dan tiba-tiba saja semuanya langsung gelap.

Gadis itu baru saja berusaha duduk kembali di lantai semen yang dingin saat seberkas cahaya tiba-tiba saja menyeruak diikuti suara bantingan yang keras. Seorang pria berwajah jelek dan kasar memegang nampan berisi makanan dan air minum, meletakkannya di lantai dan mendorongnya ke sela jeruji besi bagian bawah penjara. Primrose baru sadar ternyata jeruji besi itu tidak sampai ke lantai tetapi ada jarak sehingga makanan bisa didorong masuk melalui jarak tersebut.

“Makan!” geram pria tersebut.

Primrose gemetar ketakutan dan memandang isi piring tersebut. Isinya hanyalah roti selai  dan air putih.

“Makan!” gertak pria itu lagi. Primrose tidak punya pilihan lain selain memakan roti tersebut.

“Hei jangan galak begitu!” seru pria yang lain.

Primrose menatap pria lain tersebut sambil mengunyah rotinya, rasanya sungguh tidak enak. Pria yang baru ini juga tidak lebih baik dari pria yang pertama, wajahnya tidak sejelek dan sekasar pria sebelumnya, akan tetapi raut wajah licik dan perhitungannya jelas tergambar.

“Maafkan saya yang hanya mampu menyuguhkan roti dan air putih untuk Lady,” ujarnya dengan nada yang dibuat-buat. Primrose hanya mengerutkan kening.

“Nah nah, mungkin anda bertanya mengapa anda di tempat yang kumuh seperti ini,”

Primrose hanya terdiam, meski merasa takut ia berusaha menunjukkan raut wajah tenang.

“Tenang saja Lady Primrose, kami tidak akan menyakiti anda. Setidaknya belum,”

“Apa yang kalian inginkan dariku?” Primrose mulai angkat suara.

“Nah, itulah yang dinamakan semangat,” sang penculik mengangguk puas. “Oh, maafkan aku Lady, tapi kami tidak mengiginkan apapun dari anda, atau mungkin lebih tepatnya kami mengiginkan sesuatu dari ayah anda,”

“Dan itu adalah…,”

Well, kami berpikir apakah uang sebanyak 100 juta pounds cukup murah bagi ayah anda untuk memastikan anda kembali ke rumah dengan selamat?”

Primrose membulatkan matanya. 100 juta pounds? Mereka pasti bercanda!

“Nah, selama ayah anda menyiapkan uang itu. Dengan sangat terpaksa anda harus menginap di kamar yang mewah ini milady,” sang penculik memandang sekeliling ruangan dengan tawa meremehkan.

“Kami undur diri dulu. Jika anda membutuhkan sesuatu, pelayan kami siap melayani anda,” ujarnya sambil tertawa mengejek. Kedua pria itu keluar ruangan dan pintu kembali ditutup, Primrose kembali ditinggalkan dalam suasana gelap yang mencekam. Saat ini Primrose merasa takut dan cemas.


 

Mr. Kirkland yang terhormat,

Putri anda sungguh rupawan. Untuk saat ini saya akan mengambil putri anda. Akan tetapi jika anda mengiginkan putri tersayang anda kembali dalam keadaan utuh, mungkin uang sebanyak 100 juta Pounds akan sangat tidak berarti dimata anda.

Saya akan menghubungi anda lagi. Untuk saat ini, tolong siapkan uang anda atau saya tidak menjamin keselamatan putri anda.

.

.

“Gentleman Thief keparat! Ia mengambil Primroseku!” Mr. Kirkland meninju meja kerjanya, mengakibatkan pena dan kertas-kertas kerjanya jatuh berhamburan di lantai.
Tenanglah Mr. Kirkland, ini sungguh tidak masuk akal. Maksud saya Gentleman Thief hanya mencuri batu permata, kasus ini tidak sepertia pencuri itu yang biasanya,” Inspektur Lestrade berusaha menenangkan Mr. Kirkland, tetapi sia-sia.

“Kau benar-benar idiot! Surat peringatan kemarin juga mengatakan bahwa pencuri itu juga tertarik pada putriku!” Mr. Kirkland meraung.

“Tapi surat pemberitahuan ini sangat aneh-“

“Apanya yang aneh? Dan aku heran kalian masih disini! Cepat cari putriku!” Mr. Kirkland mulai hilang akal. Sang Butler tua yang berdiri disamping Mr. Kirkland berusaha menenangkannya.

“100 juta pounds! 100 juta pounds! Aku tak peduli, siapkan uang sebanyak itu!” Mr. Kirkland memerintahkan Butler tua itu, akan tetapi Butler itu hanya memasang raut wajah cemas.

“Mr. Kirkland, sadarlah! Kau bersedia memenuhi tuntutan penculik yang tidak jelas ini?!” Lestrade tidak percaya.

Mr. Kirkland merengut kasar kerah baju Inspektur Lesrade, sorot matanya mengancam. “Aku akan melakukan apapun agar Primroseku kembali, walau aku harus menjual jiwaku pada iblis! Dan sebaiknya kau melaksanakan tugasmu dengan baik! Karena saat aku menjadi iblis, kaulah yang pertama akan kuseret ke neraka!”

Inspektur Lestrade bergidik ngeri.


 

Seorang pemuda berjalan dengan santai sambil membawa tas kertas belanjaan miliknya, sepotong roti Baguette menyembul dari kantong kertas tersebut. Selintas pemuda itu terlihat normal di lingkungannya apalagi ia mengenakan pakaian yang normal, kemeja putih dipadu dengan celana coklat muda bersuspender dan dilengkapi dengan jaket berwarna senada. Tak lupa flat cap berwana gelap. Sempurna.

Pemuda itu baru saja berbelanja di toko terdekat dan dalam perjalanan pulang sebelum ia mendapati pemandangan yang tidak biasa. Dua orang polisi menempel pengumuman kertas dan berlalu dari tempat itu dengan tergesa. Polisi muncul di daerah ini sangat tidak biasa, apalagi menempel pengumuman kertas? Itu sangat tidak biasa.

Kondisi tidak biasa itu menarik para warga untuk melihat apa yang ditempelkan oleh para polisi. Tak terkecuali pemuda itu – Phillip, ia juga mendekati papan pengumuman. Tapi apa yang dilihatnya sangat mengejutkan. Tiga helai poster kertas dengan sketsa kasar wajah Gentleman Thief terpampang jelas di pengumuman tersebut.

Dicari karena menculik Lady Primrose Kirkland

Pengumuman bercetak tebal itu tertulis besar-besar di poster tersebut. Tidak hanya satu, tapi juga tiga! Phillip menarik topinya lebih dalam ke kepalanya, ia segera berlalu dari tempat itu. Wajahnya geram dalam hati berjanji akan membalas perbuatan konyol sang lady manja itu!


 

Phillip atau lebih dikenal dengan panggilan Gentleman Thief melakukan parkour dari satu atap ke atap lainnya. Malam ini ia tidak menggunakan kostum Gentleman Thiefnya akan tetapi menggunakan jubah berwarna senada dengan gelapnya malam. Pemuda itu tidak terlihat ragu-ragu jika harus meloncat ke gedung lain yang berjarak cukup jauh. Tubuhnya telah dilatih sejak kecil, terima kasih atas kerasnya hidup di jalanan. Hanya sekejap pemuda itu akhirnya tiba di kediaman Mr. Kirkland. Ia terduduk di atap kediaman tersebut, matanya menjelajah, mencari tempat yang memungkinkan baginya untuk mencari informasi.

Matanya menangkap pemandangan jendela kamar yang masih terang, padahal hari telah malam. Dengan lincah dan perlahan Phillip mendekati jendela kamar itu, memposisikan dirinya agar tidak terlihat dari dalam. Dewi Fortuna memang sangat menyayanginya, kamar itu sepertinya ruang kerja Mr. Kirkland.

“-hal yang bodoh! 100 juta pounds Mr. Kirkland! Pikirkan lagi!”

Phillip menyeringai, itu suara Inspektur bodoh Lestrade.

“Dan membiarkan Primroseku yang manis dalam bahaya? Sebelum itu terjadi aku akan membunuhmu terlebih dahulu!” Mr. Kirkland meraung geram.

Phillip menghela napas lelah. Tentu saja, Mr. Kirkland terlalu menyayangi putrinya, menjadikan putrinya sebagai sasaran empuk untuk semua kejahatan penculikan dan pemerasan. Phillip secara asal memandang sekeliling dan matanya tidak sengaja memandang sesuatu. Sesosok tubuh keluar menyelinap kediaman Mr. Kirkland dengan tingkah yang mencurigakan.

Phillip menatap tajam sosok mencurigakan tersebut, mendengar percakapan tidak penting antara Mr. Kirkland dan Lestrade dan memutuskan untuk mengikuti sosok tersebut. Tak ada salahnya kan? Mungkin saja sosok mencurigakan tersebut ada hubungannya dengan hilangnya Lady Primrose.

Phillip kembali ber-parkour antar atap. Ia memastikan sosok misterius itu masih dalam jarak pandangnya. Sesekali sosok misterius itu melirik sekeliling, memastikan tidak ada yang mengikutinya. Akan tetapi sepertinya sosok itu tidak menyangka bahwa yang mengikuti dirinya tidak berada di tanah melainkan ada di atas atap. Perilaku sosok aneh itu yang waspada menjadi perhatian Phillip. Ia tidak akan melepaskan pandangannya dari sosok tersebut.

Phillip tiba di pinggiran kota, sosok misterius itu memasuki gedung dua lantai yang terlantar tersebut. Phillip meneliti bagian luar gedung, tidak ada yang aneh meski penampilannya sangat mengerikan. Phillip meloncat keatap gedung tersebut dan menggelantung di sisi atap, membiarkan tubuhnya mengantung jatuh dengan hanya mengandalkan kedua tangannya yang menggenggam erat sisi atap. Perlahan tubuhnya menggeser sedikit demi sedikit, berusaha menjelajahi jendela yang berjejer di gedung tersebut.

Jendela kesatu, jendela kedua, tidak nampak sesuatu yang aneh kecuali puing-puing terlantar. Jendela kelima Phillip bisa melihatnya, Lady Primrose duduk bersender dibalik jeruji penjara. Punggung sang Lady menghadap kearah Phillip sehingga Primrose tidak menyadari keberadaan Phillip. Phillip menggeser tubuhnya dan tiba di jendela keenam. Disana Phillip melihat tiga sosok yang sedang berbincang satu sama lain, wajah mereka tampak tenang dan tertawa puas.

Phillip kembali mengangkat tubuhnya dan memanjat atap gedung. Dewi Fortuna sungguh sangat berbaik hati padanya. Pemuda itu melirik arlojinya, waktu menunjukkan pukul sepuluh malam. Benaknya berpikir cepat.

“Nah, bagaimana caraku memanfaatkan kebaikan hati Dewi Fortuna kali ini?” gumamnya pelan. Akan tetapi seringai licik terukir di bibirnya.


 

“100 juta pounds, kira-kira apa yang akan kulakukan dengan uang sebanyak itu?” Penculik berwajah licik mulai berandai-andai.

“Tentu saja aku akan pergi keliling dunia, minum-minum ditemani wanita cantik. Itu pasti menyenangkan!”

“Aku akan makan semua makanan paling enak di dunia!”

Para penculik itu tertawa puas sambal membayangkan apa yang akan mereka lakukan dengan uang tebusan 100 juta pounds. Primrose menatap para penculiknya dengan jengah akan tetapi terlalu takut untuk berbicara sesuatu.

“Sudah hampir tengah malam. Lebih baik aku kembali ke kediaman Kirkland untuk mencari informasi terbaru,” ujar salah satu penculik itu. Ia membuka pintunya sebelum akhirnya-

“Selamat malam tuan-tuan. Mungkin aku bisa bergabung dalam kegembiraan anda sekalian?”

Para penculik saking terkejutnya berdiri dari duduknya sementara Primrose menoleh kearah Gentlemen Thief. Di depan pintu Gentleman Thief menggunakan kostumnya yang biasa digunakan untuk beraksi dan berdiri dengan penuh rasa percaya diri, tak lupa ia memasang seringai di bibirnya.

“Selamat malam gentlemen,” Thief menyentuh tepi topi tingginya sesaat. “Saya mendengar kabar bahwa Lady Primrose Kirkland-“ Thief melirik sesaat kepada Primrose yang berada di balik jeruji “-diculik olehku, Gentleman Thief ini.”

“Jika memang begitu, mungkin sudi kiranya gentlemen mengembalikan Lady kepadaku?”

“Hanya dalam mimpi!” Penculik berwajah licik menggertak, detik kemudian suara tembakan terdengar menggema di seluruh gedung.

Primrose menjerit kaget. Gentleman Thief jatuh ke lantai dan tidak bergerak, warna merah mengalir keluar dari dada kirinya dan menetes membasahi lantai. Primrose menempel di jeruji besi, meneriakkan panggilan Phantom Thief.

“Cepat bawa gadis itu keluar! Kita harus pergi dari gedung ini secepat mungkin!” Penculik ketiga memutar kunci penjara dan langsung meraup tubuh Primrose. Primrose berusaha melawan akan tetapi penculik pertama berwajah jelek dan kasar langsung menggendong gadis itu di tubuh kekarnya. Usaha Primrose untuk melawan menjadi tidak berarti dihadapan pria bertubuh kasar itu.

“Cepat! Kita tidak tahu jika Thief itu menghubungi polisi! Siapa tahu saja polisi dalam perjalanan kesini!”

Primrose terus menjeritkan Gentleman Thief tapi tubuhnya dibawa kabur dengan cepat. Tubuh Gentleman Thief yang malang itu hanya berbaring diam di lantai hingga hilang dari pandangan Primrose. Para penculik dan Primrose sudah keluar dari gedung tersebut, mereka sedang berdiskusi serius mengenai arah pelarian mereka saat mereka mendengar tawa lantang yang puas.

Well gentlemen, usaha yang bagus tapi tidak cukup bagus.”

Gentleman Thief menatap para penculik dari atap gedung satu lantai di seberang gedung sebelumnya. Bibirnya melempar seulas senyum tetapi sorot matanya sangat dingin.

“Kau?! Bagaimana bisa? Ah itu tidak penting!” Penculik ketiga mencari-cari senjata dibalik pakaiannya tetapi ia terlalu terlambat. Tiba-tiba saja tubuhnya terasa lemas dan ia pun jatuh ke tanah dengan suara yang cukup keras. Bukan hanya satu, tapi kedua penculik lain pun masing-masing jatuh ke tanah. Primrose yang digendong oleh salah satu penculik langsung ikut jatuh ke tanah.

Primrose menatap tubuh para penculik tersebut, mereka tidak mati maupun pingsan karena mata mereka masih terbuka. Apapun itu sepertinya para penculik itu tidak mampu menggerakkan tubuh mereka. Gentleman Thief meloncat turun dan melangkah dengan santai.

“Obat bius, gentlemen. Dengan ini akan saya pastikan kalian akan membayar mahal kelakuan kalian- memanfaatkan namaku- dan berakhir dengan sangat elegan di penjara,” Gentleman Thief menyentuh tepi topinya dan tersenyum mengejek.

“Kau… beraninya!”

“Ups, tidak perlu berbicara tuan. Itu paling baik untuk anda saat ini,” Thief membungkukan tubuhnya sedikit.

Bunyi raungan sirene polisi terdengar sahut menyahut. “Jemputan anda sudah tiba, para gentlemen. Saya mohon pamit,” Thief melemparkan sehelai kertas kearah para penculik. Primrose hendak meraih kertas itu akan tetapi Gentleman Thief tiba-tiba saja telah menggendong tubuhnya layaknya pengantin baru disumpah.

“Dan saya akan membawa Lady ini,” Thief tertawa puas.

Semuanya terjadi begitu cepat. Primrose yakin sedetik yang lalu ia masih digendong di tanah oleh Thief tapi sekarang Thief telah berdiri diatap gedung terlantar berlantai tiga. Sirene polisi meraung keras dan mobil-mobil polisi itu berhenti tepat dimana para penculik malang itu jatuh dan tidak mampu menggerakkan tubuh mereka. Thief berdiri sesaat, memastikan polisi menemukan para penculik tersebut dan akhirnya pergi dari tempat itu dengan melakukan parkour.

Primrose mengigil ketakutan. Tidak saja Thief melompat antar gedung, tetapi sesekali Thief melakukan hal-hal yang mengerikan. Tanpa sadar Primrose mengalungkan lengannya di leher Thief dan menutup matanya.

“Tenang saja milady, saya tidak akan membiarkan anda terluka meskipun hanya sehelai rambut anda.” Primrose menatap wajah Thief. Bibirnya mengulas senyum yang ramah dan sinar matanya menunjukkan binar mata yang lembut. Sangat berbeda dengan Thief yang pertama kali Primrose jumpai, arogan dan penuh dengan rasa percaya diri.

“Pandangilah langit diatas itu Lady,” Thief mengarahkan pandangannya ke angkasa, Primrose mengikuti. Sejuta bintang bertabur indah di langit, bagaikan permata yang berkelap kelip. Primrose terperangah, pemandangan itu adalah pemandangan terindah dalam hidupnya.

“Indah bukan?” Thief bagaikan mampu membaca pikiran Primrose. “Tapi semua itu belum berarti apapun, Nona. Masih banyak hal lain yang indah di dunia ini,” Thief melanjutkan.

“Hal seperti apakah itu?”

Thief berhenti dari aksi lompat melompatnya dan mengisyaratkan agar Primrose melihat kearah depan. Primrose mengikuti isyarat Thief dan matanya membulat. Dihadapan Thief dan Primrose saat ini terhampar pemandangan kerlap kerlip lampu daerah perkotaan. Pemandangan itu begitu indah, bagaikan pemandangan bintang yang berada di daratan.

“Indah sekali,” gumam Primrose. Thief hanya terdiam dan tersenyum.

“Anda tahu Sir Thief?” Thief memandang Primrose. “Ada sebuah ungkapan lama, saat seseorang melihat pemandangan yang indah ia akan mengatakan bahwa ia telah menumpahkan kotak perhiasan,” Primrose melemparkan senyumannya. Sesaat Thief terpana dengan senyuman itu, tapi ia berhasil menguasai dirinya dan kembali melompat antar gedung. “Hmm, menumpahkan kotak perhiasan. Masuk akal,”

Thief dan Primrose terdiam, menikmati suasana sepi ini. Primrose terlalu terpana dengan angkasa dan indahnya kerlip lampu perkotaan hingga ia tidak menyadari kemana Thief membawanya pergi.

“Err… Sir Thief, dimana  kita sekarang?” Primrose menoleh sekeliling, tidak yakin dimana sekarang ia berada. Thief hanya tersenyum, tidak menanggapi pertanyaan Primrose. Tiba-tiba saja Thief berhenti di sebuah atap rumah.

Lady Primrose, saat ini di kota tersebar berita bahwa aku –Gentleman Thief telah menculik Lady Primrose Kirkland,” Primrose membulatkan matanya.

“Sekarang anda sadar bukan? Itu berarti anda adalah milikku, dan aku berhak membawa anda kemanapun yang aku inginkan,” Primrose hanya bisa terdiam, Tiba-tiba saja jantungnya berdetak cepat, wajah dan telinganya terasa panas. Primrose yakin saat ini wajahnya memerah dan tidak bisa menyembunyikannya dari Gentleman Thief.

“Karena itu milady Primrose…,” Thief berbisik pelan tepat di telinga Primrose. Primrose hanya bisa menutup matanya dan merasakan dirinya melambung. Gadis itu masih menutup mata saat Thief menurunkan tubuhnya dari gendongannya dan memosisikan gadis itu untuk berdiri. Primrose membuka matanya dan menatap sekeliling, merasa tidak yakin tapi sepertinya gadis itu berada di kamarnya.

“… saya kembalikan diri anda kepada Mr. Kirkland.” lanjut Thief.

Primrose menatap heran wajah Thief. “Kenapa…?”

“Karena saya bebas melakukannya,”

Primrose menatap sedih kepada Thief, mencoba memohon tetapi Thief tidak mengubah pikirannya. Primrose memandang lantai dengan sedih, saat ini  entah kenapa menatap lantai jauh lebih menarik dibanding harus menatap Gentleman Thief. Sebuah tepukan lembut terasa di kepala Primrose, memaksa sang gadis kembali menatap Thief. Gadis itu sadar, Thief melepaskan topi tinggi miliknya dan memakaikannya kepada Primrose.

“Jangan bersedih milady, ini bukan untuk selamanya. Topi itu akan saya titipkan kepada anda dan suatu saat nanti saya akan mengambilnya kembali,”

Primrose melepaskan topi tinggi itu dan memandangnya dengan lekat, matanya kembali memandang Thief. “Hingga saat itu tiba, saya akan menyimpan permata ini,” Thief mengeluarkan permata Primrose yang ia ambil sehari sebelumnya dan mengecupnya tepat dihadapan Primrose. Gerakan mengecup itu entah kenapa membuat wajah Primrose merona.

Suara riuh polisi kembali terdengar, beberapa terdengar dari polisi yang berjaga di bawah balkon kamar Primrose. Para polisi saling menunjuk dan memperingatkan bahwa Gentleman Thief berada disana, tidak lupa suara gertakan inspektur Lestrade.

“Saya mohon pamit, milady” Thief meloncat ke sandaran balkon tetapi Primrose menahan jubah Thief.

“Kapan kita bisa bertemu lagi?” Primrose bertanya penuh harap.

Thief terdiam dan akhirnya tersenyum menggoda, “Saat anda mampu mencuri hati milikku ini, saat itulah aku akan kembali mengambil anda dari sini,”

Primrose kembali merona merah dan Gentleman Thief kembali ber-parkour keatap kediaman Mr. Kirkland dan menghilang dari pandangan. Inspektur Lestrade dan sepasukan polisi berlari dengan semangat mengejar Gentleman Thief sementara tawa pencuri tersebut terdengar keras di kediaman malam.

Pintu kamar Primrose terbanting terbuka, menampilkan ayahnya- Mr. Kirkland yang tersengal ditemani beberapa orang polisi. Tanpa ragu, Mr. Kirkland langsung memeluk Primrose dan meracau panik yang tidak jelas sehingga harus ditenangkan oleh butlernya.

Primrose mengenggam erat tepi topi tinggi milik Gentleman Thief dan melirik langit malam. “Semoga ia tidak akan pernah tertangkap,”


 

Phillip berdiri tegap di sebuah atap gereja yang tinggi. Disini pemuda itu mampu memandang atap kediaman Mr. Kirkland tanpa perlu merasa khawatir polisi akan mengejarnya kesini. Lagipula siapa sih yang mau memeriksa atap gereja yang tinggi?

Phillip tersenyum puas, matanya bergantian memandang atap kediaman Mr. Kirkland dan permata milik Primrose yang ada di tangannya. “Well, sejak awal ia sudah mencuri hatiku,”

Phillip mengecup permata itu dengan lembut.

 ~ La Fin ~


A/N: Akhirnya beres juga. Yang pernah baca Our Continued Stoy pasti tahu kan cerita ini? Well, ini versi cerita dari sudut pandang saya sendiri sih. Dan…karena saya juga yang nulis chapter satunya jadi suka-suka saya mau dibawa kemana cerita ini 😛

Boleh meninggalkan komentar dibawah ini?