Tantangan #10 BunSay: Hari 3

Karena saya adalah guru PAUD, maka di moment challenge ini saya akan menuliskan cerita atau dongeng yang saya ceritakan ke anak-anak di saat sekolah. Cerita atau dongeng ini saya sesuaikan temanya dengan apa yang sedang mereka pelajari. Rentang usia murid-murid saya adalah 3-4 tahun.

Image result for hadist sholat tiang agama

Pada zaman dulu kala, ada seorang anak bernama Galen. Galen sangat senang bermain. Ia senang bermain lari, loncat-loncat dan kejar-kejaran. Pokoknya, Galen tidak bisa diam!

Pada suatu hari, Ummi sedang mengajarkan sholat kepada anak-anak. Tapi Galen tidak mau sholat! Dia cuma mau bermain-main.

Galen mengganggu anak-anak yang sedang sholat. Dan juga berteriak-teriak saat yang lain sedang sholat.

Lalu Ummi memanggil Galen. “Galen, ayo kemari.”

“Kenapa Ummi?” kata Galen.

Lalu Ummi tanya sama Galen. “Galen mau jadi anak sholeh, gak?”

Galen menjawab mau.

Lalu Ummi bertanya lagi, “Galen, Tuhannya Galen siapa namanya?”

Galen langsung menjawab, “Allah!”

Ummi bertanya lagi, “Galen agamanya apa?”

Galen menjawab, “Islam!”

Ummi bertanya lagi, “Galen, musuh orang Islam itu siapa sih?”

Galen menjawab, “Setan!”

Ummi bertanya lagi, “Setan tempatnya dimana?”

Galen menjawab, “Di neraka.”

“Galen mau masuk ke neraka, gak?” Ummi bertanya lagi. Galen pun menjawab, “Tidak mau!”

“Galen maunya masuk ke mana?” Ummi bertanya lagi.

“Ke surga.” jawab Galen.

“Nah, kalau mau masuk ke surga, Galen harus rajin sholat. Tadi Galen katanya mau jadi anak sholeh kan? Emangnya ada anak sholeh yang males sholat?” Ummi bertanya pada Galen. Galen menggeleng.

“Kalau Galen sholat, In Shaa Allah nanti bisa masuk ke surga. Jadi Galen harus rajin sholat ya.” Ummi menjelaskan, Galen mengangguk paham.

“Setan masuk neraka karena enggak sholat ya Ummi?” Galen balik bertanya ke Ummi.

“Iya, setan enggak sholat. Makanya dia masuk neraka. Ayo, siapa yang mau jadi temannya setan?”

Galen langsung menjawab tidak mau menjadi teman setan. Sejak saat itu Galen selalu rajin sholat, karena Galen mau masuk ke surga dan tidak mau menjadi temannya setan.

#Tantangan10Hari

#Level10

#KuliahBunSayIIP

#GrabYourImagination

Advertisements

Tantangan #10 BunSay: Hari 2

Karena saya adalah guru PAUD, maka di moment challenge ini saya akan menuliskan cerita atau dongeng yang saya ceritakan ke anak-anak di saat sekolah. Cerita atau dongeng ini saya sesuaikan temanya dengan apa yang sedang mereka pelajari. Rentang usia murid-murid saya adalah 3-4 tahun.

Image result for hadits larangan makan sambil berdiri

Jadi pada zaman dulu kala, ada seorang anak, namanya Kanaya. Kanaya ini sangat suka sekali jajan. Kanaya suka makan kue, suka makan jajanan. Pokoknya suka sekali makan.

Tapi, Kanaya punya kebiasaan jelek. Kanaya suka makan sambil jalan!

Suatu hari Ummi melihat Kanaya makan sambil jalan. Jadi ummi bilang ke Kanaya, “Kanaya, tidak boleh makan sambil jalan!”

Coba anak-anak, bagaimana Hadis larangan makan dan minum sambil berdiri?

Nah, Kanaya sudah tahu hadis itu. Tapi Kanaya bandel! Kanaya tetap makan sambil jalan.

Pada suatu hari, Kanaya makan sambil berjalan, tahu-tahu Kanaya batuk-batuk (uhuk-uhuk). Kanaya batuk-batuk (uhuk-uhuk).

Kanaya datang ke Ummi dan bilang, “Ummi, Kanaya batuk (uhuk-uhuk).”

Nah, Ummi nyuruh Kanaya minum, tapi batuknya enggak hilang. Ummi juga ngelus-ngelus punggung Kanaya tapi batuknya juga enggak hilang.

Akhirnya Ummi nanya, “Kanaya, tadi makannya sambil berdiri ya?” terus Kanaya bilang, “Iya ummi.”

Nah, ketahuan deh. Kanaya enggak mendengarkan kata Ummi. Jadinya batuk-batuk. Akhirnya Ummi menyuruh Kanaya duduk terus minum air putih. Kanaya masih batuk-batuk, tapi akhirnya batuknya hilang.

Terus ummi bilang, “Lain kali jangan makan dan minum sambil jalan ya.”

Kanaya bilang, “Iya Ummi, maaf. Kanaya enggak mau makan dan minum sambil jalan lagi.”

Nah, sejak saat itu Kanaya tidak pernah makan dan minum sambil berjalan lagi.

#Tantangan10Hari

#Level10

#KuliahBunSayIIP

#GrabYourImagination

 

 

Tantangan #10 Bunsay: Hari 1

Karena saya adalah guru PAUD, maka di moment challenge ini saya akan menuliskan cerita atau dongeng yang saya ceritakan ke anak-anak di saat sekolah. Cerita atau dongeng ini saya sesuaikan temanya dengan apa yang sedang mereka pelajari. Rentang usia murid-murid saya adalah 3-4 tahun.

 

Image result for burung garuda pancasila

Tema: Tanah Air

Kegiatan: Mewarnai Burung Garuda Pancasila

Jadi, pada zaman duuuuuuluuuuu kalaaa negara kita dijajah. Dijajah sama siapa? Sama orang asing.

Eh, ada yang tahu gak? Dijajah itu maksudnya bagaimana?

Dijajah itu maksudnya gini: Jadi ada orang yang nyuruh kita untuk ambil sesuatu. Kita enggak mau, tapi kita dipaksa harus ambil. Soalnya kalau enggak, nanti kita dihukum. Dihukumnya kayak gimana? Kayak begini! (sambil kelitik anak-anak).

Kita bangsa Indonesia dipaksa terus untuk ngelakuin sesuatu. Tapi kita enggak mau. Akhirnya kita dihukum (kelitik) dan dihukum terus (kelitik lagi).

Nah, suatu hari, kita bangsa Indonesia udah bosen dihukum terus. Akhirnya apa? Kita melawan!

Melawan siapa? Melawan penjajah!

Caranya bagaimana?

Jadi begini, kalau kita disuruh untuk ngelakuin sesuatu. Kita bilang TIDAK MAU! Nah, orang asing itu bakal marah kan? Terus mereka akan menghukum kita.

Tapi kita langsung lari dari situ. Jadi kita enggak kena hukuman. Atau saat mereka mau mukul kita, kita menghindar (syaaat syaaat) jadinya enggak kena pukul deh.

Nah, karena saat penjajah menyuruh kita enggak mau. Dan saat mereka mau menghukum kita tapi enggak kena ke kita. Makanya penjajah jadinya nyerah. Enggak mau menjajah kita lagi.

Nah, karena penjajah enggak mau menjajah kita lagi. Kita bangsa Indonesia jadi semangat! Untuk apa? Untuk menyuruh mereka pulang ke rumah mereka masing-masing.

Nah, burung Garuda Pancasila ini adalah burung yang menggambarkan kita semangat! Kita tidak mau dijajah lagi! Karena itu kita harus semangat! Harus bangga sama burung Garuda Pancasila.

#Tantangan10Hari

#Level10

#KuliahBunSayIIP

#GrabYourImagination

Cerdas Finansial Ibu Berpengaruh Pada Anak

Institut Ibu Profesional
Review Materi Sesi 8

Bunda, terima kasih sudah menyelesaikan tantangan di kelas bunda sayang yang ke #8 kali ini. Kita sudah melewati 2/3 perjalanan kita. Sejatinya di materi kali ini kita ditantang untuk menjadi cerdas finansial dengan cara memandu anak-anak (Learning by Teaching).

Maka langkah yang kita ambil adalah memahamkan diri kita terlebih dahulu bahwa uang adalah bagian kecil dari rezeki. Selanjutnya belajar mengelola uang, membaginya kepada yang berhak, membedakan keinginan serta kebutuhan.

Kita sedang tumbuh bersama anak dengan menjadi teladan, sehingga anak ikut belajar mengelola uang dan bertanggung jawab terhadap bagian rezeki yang didapatkan di dalam kehidupan ini.

Maka kuncinya adalah mulai dari orangtuanya.

Salah satu peran kita sebagai Ibu bukanlah untuk mengkhawatirkan rizqi keluarga, melainkan menyiapkan sebuah jawaban Dari Mana dan Untuk Apa atas setiap karunia yang diberikan kepada anak dan keluarga kita.

Peran tersebut perlu ilmu.

Hargai dengan baik segala ikhtiar pekerjaan menjemput rejeki, baik yang kita lakukan maupun yang dilakukan pasangan kita. Hal ini membuat penghasilan yang akan diterima akan lebih berharga. Anak-anak harus paham, tidak ada pekerjaan yang hina di muka bumi ini selama untuk menjemput rejeki yang halal.

Habiskan uang di jalan yang benar

Kebiasaan lama kita adalah menyisakan uang agar bisa menabung, investasi dan lain-lain. Namanya menyisakan pasti kecil. Maka ubah dengan cara merencanakan dengan baik, dan habiskan uang di jalan yang benar.

Contoh :

Cashflow orang yang bermental miskin

Pendapatan 100

Pengeluaran:
Shopping 57,5
Cicilan hutang 30
Sosial 2,5
——————————–
Sisa 10 baru ditabung

Cashflow orang yang bermental kaya

Pendapatan 100

Pengeluaran :
Zakat, infaq, sedekah 2,5
Cicilan hutang 30
Investasi 10
Kebutuhan pribadi 57,5
—————————————
Sisa 0

Dua cashflow di atas angkanya sama tapi beda.

Di cashflow orang yang bermental miskin, pengeluaran pertama adalah untuk memenuhi hak diri sendiri dulu, baru hak orang lain ( cicilan hutang dsb), hak untuk Allah, apabila ingat, dan sisanya baru ditabung atau investasi.

Sedangkan cashflow orang yang bermental kaya, sudah siap menghabiskan pendapatannya di jalan yang benar, dengan prioritas sbb :
☘Hak Allah terlebih dahulu ditunaikan.
☘Menyelesaikan hak orang lain (mis :cicilan hutang)
☘Menganggarkan untuk investasi
☘Baru memenuhi kebutuhan kita sendiri

Habis tak bersisa.

Pertanyaannya sekarang,

Ingin memiliki anak-anak yang bermental kaya atau bermental miskin?

Mental ini akan menentukan gaya hidup seseorang. Orang yang bermental kaya selalu ingin berbagi, meninggikan kemuliaan dengan tangannya di atas meski pendapatan yang diterima kecil.

Sedangkan orang yang bermental miskin, selalu berharap menerima sesuatu, lebih merelakan tangan di bawah meski pendapatannya besar.

Orang yang bermental miskin membeli sesuatu sesuai “selera” dan membeli di saat “bisa”

Orang yang bermental kaya membeli sesuatu sesuai “fungsi” dan membeli di saat “perlu”.

Sebenarnya, Biaya hidup itu murah, yang mahal adalah gaya hidup

Selamat berproses, karena cerdas finansial, tidak hanya berkaitan dengan cashflow dan rupiah yang kita catat, tapi lebih dari itu, erat kaitannya dengan mendidik mental anak kita dan menanamkan pola gaya hidup yang benar.

Salam Ibu Profesional,

/Tim Fasilitator Bunda Sayang Nasional/

 

📚Sumber Bacaan :
Ahmad Ghozali, Habiskan Saja Gajimu, Jakarta, 2010

Institut Ibu Profesional, Bunda Produktif, 2015

Game Kelas BunSay#8: Hari 10

Mungkin kali ini mau menulis mengenai konsep sedekah kali ya. Hmm, sebenarnya saya paling malas nulis mengenai hal ini. Karena… yah, ini masalah privacy sih.

Tapi satu konsep yang selalu saya pegang untuk bersedakah adalah, selalu gunakan uang dengan pecahan paling besar yang ada di dompetmu.

Jadi begini, kalau misalnya saya punya uang pecahan 5 ribu, 10 ribu dan 20 ribu dalam dompet saya, maka saya usahakan untuk mensedekahkan uang 20 ribu saya. Ini dengan asumsi kamu punya ongkos buat pulang atau gak ada keperluan untuk beli apapun loh ya. Hahahaha…

Tapi, gimana dong kalau di dompet ada uang 20 ribu, 50 ribu dan 100 ribu? Hmm, saya enggak munafik sih saya bakal kasih 20 ribu. Saya kasih 50 ribu tergantung situasi sih. Kalau misalnya ada yang membutuhkan dan dia memang layak untuk dikasih 50 ribu kenapa enggak. Tapi untuk 100 ribunya tetap di dompet. Hahaha…saya gak munafik.

Berat? Pasti.

Tapi percaya deh, In Shaa Allah pasti akan diberikan penggantinya oleh Allah SWT.

Misalnya?

Hmm, jualan buku saya jadi laku tuh pas kayaknya lagi butuh duit 😛

Intinya kalau sedekah jangan hitung-hitungan. Semakin besar pengorbananmu makan penggantinya juga akan lebih besar. Amin. In shaa Allah.

#KuliahBunsayIIP

#Tantangan10Hari

#Level8

#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari

#CerdasFinansial

Game Kelas BunSay#8: Hari 9

Padahal baru aja kemarin dibahas. Ternyata oh ternyata hari ini paket internet habis.

Jadi, kemarin saya meninggalkan ruter internet menyala. Soalnya suami masih main internet dan berhubung sudah waktunya tidur saya pergi tidurlah.

Keesokan harinya pas saya mau nyalain internet untuk mengerjakan tugas hari ini, eh ternyata tanpa angin dan hujan suami langsung minta maaf. Saya yang enggak ada pikiran apa-apa cuma bisa bengong. Hah? Minta maaf buat apa?

Eh, gak tahunya paket kuota internet habis. Sama suami 😛 Jadi dia minta maaf duluan. Maklum soalnya belum lama saya ngisi paketan bulan ini. Mungkin baru ada ngisi satu setengah minggu yang lalu. Makanya saya kaget cepet banget habisnya.

Tapi berhubung dia udah minta maaf duluan dan sekalian masak sayur sop buat saya yang lagi batuk saya cuma bisa huhu…so sweet. Jadinya gak bisa marah deh.

Eh, mengenai setoran kali ini?

Kebetulan kemarin ada yang beli buku dari akun toko online saya. Dan pembeliannya lumayan banyak jadi dengan terpaksa ditarik deh buat beli paketan internet. Hahaha…jadi beli dua kali deh dalam satu bulan. Ditarik dari amplop tabungan kecil 😛

Bulan ini lagi rada boros untuk pemakaian internet deh…

#KuliahBunsayIIP

#Tantangan10Hari

#Level8

#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari

#CerdasFinansial

Game Kelas BunSay#8: Hari 8

Belanja sayur untuk kebutuhan mingguan sebenarnya sudah dijatah per bulan. Rata-rata per minggu kami bisa menghabiskan 100ribu – 150ribu. Supaya bisa tetap terkontrol, kami harus list daftar menu yang akan dimasak minggu itu. Dari daftar menu kami bisa menentukan bahan-bahan apa saja yang harus dibeli, dikurangi maupun ditambah.

Ah, saat saya bilang kami itu maksudnya saya sama suami.

Karena suami suka banget masak di hari Sabtu dan Minggu, otomatis dialah yang menentukan bahan apa yang mau dipakai untuk dua hari itu. Terkadang juga dia suka masak sesuatu yang enggak ada dalam daftar, otomatis terkadang saya harus beli bahan tambahan di tukang sayur keliling. Dan terkadang itu juga harus ngambil dari amplop tabungan.

OK

Atau mungkin kami bisa belanja bahan-bahan sesuai dengan kebutuhan. Pas. Tidak lebih tapi ada sisa uang. Jadi saya bisa taruh sisa uang di amplop tabungan.

OK

Jadi intinya gali tutup lubang 😛

Tidak masalah. Asalkan bukan pakai uang tabungan besar saya mah gak apa-apa. :’)

#KuliahBunsayIIP

#Tantangan10Hari

#Level8

#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari

#CerdasFinansial