Cemilan Rabu BunSay

Cemilan Rabu 3
14 Juni 2017

Ratna dan Galih bersiap untuk pergi ke resepsi pernikahan sahabat Ratna. Ratna telah membeli gaun baru dan ingin tampil sempurna. Dia memegang dua pasang sepatu, yang pertama berwarna biru, dan yang kedua berwarna keemasan. Kemudian Ratna mengajukan pertanyaan pada Galih, pertanyaan yang paling ditakuti para pria, “Sayang, sepatu yang mana yang cocok untuk gaun ini?”

Rasa dingin menjalari punggung Galih. Ia tahu ia dalam kesulitan. “Ahh … umm … yang mana saja yang kamu suka, sayang,” jawabnya dengan tergagap.

“Ayolah, mas,” desak istrinya dengan tidak sabar. “Yang mana yang lebih bagus … Yang biru atau yang keemasan?

“Keemasan!” sahut Galih gugup.

“Emangnya apa yang salah dengan sepatu biru ini?” tanya Ratna. “Kamu memang ngga suka kan aku beli sepatu ini, Mas!”

Bahu Galih melorot. “Kalau kami ngga terima pendapatku, jangan bertanya dong!” katanya. Galih pikir istrinya bertanya untuk menyelesaikan “masalah”, tetapi ketika ia memberikan jawaban, istrinya sama sekali tidak berterima kasih.

🔅🔅🔅🔅🔅

Apakah Bunda pernah mengalami hal serupa di atas? 😊

Jika YA, sampaikan tips ini pada suami Bunda ya. Bantulah suami memahami kebutuhan dan keinginan Bunda dengan cara yang positif.

💡 TIPS MENGATASI SEPATU BIRU ATAU MERAH 👠

Apa yang harus dilakukan pria jika mendapatkan pertanyaan “sepatu biru atau merah”?

❎ Tidak “terjebak” memilih
✅ Balik bertanya ➡ “Kamu sudah memilihkan, sayang?”
✅ Puji apapun pilihan akhir wanita

OTAK DAN BICARA

Dr. Tonmoy Sharma, kepala pengajar psikofarmakologi di Institut Psikiatri, London, pada tahun 1999 melakukan scan otak MRI. Hasilnya, pria memiliki sedikit titik penting dalam otak untuk fungsi bicara, yaitu seluruh belahan otak kiri aktif, namun MRI tidak dapat menemukan banyak pusat bicara.

Sedangkan pada wanita, keterampilan berbicara berada dibelahan otak kiri depan, dan masih ditambah di area yang lebih kecil dibelahan kanan.

Karena memiliki area berbicara di kedua belahan, selain membuat wanita pandai berkomunikasi, hal ini membuat wanita menikmati berbicara dan banyak melakukannya. Hal ini memungkinkan wanita dapat mengerjakan pekerjaan lain sambil terus bicara ( multi tasking ).

WANITA BUTUH BICARA

Otak pria terbagi-bagi dan memiliki kemampuan untuk memisahkan dan menyimpan informasi. Pada akhir hari yang penuh masalah, otak pria yang mono-tracking dapat menyimpan semua masalah tersebut.

Berbeda dengan otak wanita, masalah wanita terus berputar di dalam kepalanya. Satu-satunya cara wanita melepaskan masalah dari kepalanya adalah membicarakan masalah tersebut untuk mengungkapkannya. Karena itu, saat seorang wanita bicara diakhir harinya, tujuannya adalah untuk melepaskan ganjalan hatinya, bukan untuk mendapatkan kesimpulan atau solusi.

BERPIKIR

Apa yang dilakukan oleh pria jika mendapatkan tantangan?

Jawaban populer : “Serahkan padaku” atau “Akan Aku pikirkan”.

Pria berpikir dalam diam, curhat tanpa suara dengan diri sendiri, dengan wajah nyaris tanpa ekspresi.

Kelemahan :
Wanita salah sangka menganggap pria tersebut pendiam, murung dan tidak ingin bersamanya.

Apa yang dilakukan wanita ketika berpikir?

Berpikir keras-keras = berbicara secara acak sekaligus mendaftar segala kemungkinan dan pilihan solusi.

Kelemahan :
Pria salah paham menganggap wanita “memberinya” sederet masalah dan mengharapkan solusi. Hal ini membuat pria cemas, marah, atau mencoba memberikan solusi. dalam dunia kerja, pria menilai wanita yang berpikir keras-keras sebagai wanita yang tidak disiplin dan tidak cerdas.

🔅🔅🔅🔅🔅

Dalam sehari, wanita memiliki 21.000 kata yang harus dikeluarkannya. Bandingkan dengan pria yang hanya memiliki ⅓-nya yaitu 7.000 kata. Perbedaan ini menjadi jelas dipenghujung hari ketika pria dan wanita bertemu setelah aktivitas harian masing-masing. Pria yang telah menghabiskan 7.000 katanya di tempat kerja tidak berkeinginan berbicara lagi. Sementara wanita tergantung aktifitasnya hari itu. Jika ia menghabiskan hari dengan berbicara dengan orang lain, mungkin ia telah menggunakan jatah katanya hari tersebut dan hanya sedikit berkeinginan berbicara lagi dengan pria pasangannya (berbicara bagi wanita adalah membangun hubungan). Jika wanita itu di rumah saja bersama anak-anaknya yang masih kecil-kecil, wanita itu akan beruntung jika dia sudah menggunakan 2.000 – 3.000 katanya. Ia masih memiliki sekitar 15.000 kata lagi yang bisa diucapkannya!

Proses wanita berbicara pada pasangan di penghujung hari dengan sisa kata yang ada sering disalah artikan oleh pasangannya sebagai cerewet dan omelan. Hal ini karena pria yang telah kehabisan kata tersebut menginginkan kedamaian dan ketenangan. Masalah muncul ketika wanita mulai kesal karena merasa tidak ditanggapi dan diabaikan.

Ketika pria tidak berkata apa-apa (diam), serta merta wanita merasa dirinya tidak dicintai.

Tujuan wanita berbicara adalah bicara.

Tetapi, menurut pria, ketika wanita menceritakan masalahnya tanpa henti maka itu adalah sebuah kode permohonan untuk mendapatkan solusi. Dengan otak analitisnya, pria akan memotong pembicaraan pasangannya dan memberikan solusi.

Kabar baik bagi pria :

Ketika seorang wanita berbicara untuk mengeluarkan kata-kata yang belum sempat diucapkannya hari itu, dia tidak ingin disela dengan solusi untuk masalahnya. WANITA HANYA INGIN DIDENGARKAN.

Ketika seorang wanita telah selesai berbicara dia akan merasa lega dan bahagia. Wanita akan menilai pasangannya sebagai pasangan yang hebat karena mau menyimak.

Dengan membicarakan masalah sehari-hari, wanita modern mengatasi rasa tertekannya. Mereka menilai percakapan yang terjalin antara mereka sebagai sebuah hubungan dan dukungan.

74% wanita bekerja dan 98% wanita yang tidak bekerja, menyebutkan kegagalan terbesar pasangan mereka adalah mereka enggan berbicara, terutama di penghujung hari sepulang dari aktivitas.

Generasi wanita sebelumnya tidak pernah mengalami ini karena mereka selalu mempunyai begitu banyak anak dan wanita-wanita lainnya yang dapat diajak bicara dan saling mendukung. Sekarang, para ibu yang tinggal di rumah sepertinya tampak kesepian karena ketiadaan teman bicara. Akan tetapi, dengan kemampuan otak yang luar biasa, wanita dapat belajar keterampilan baru yang dibutuhkan untuk bertahan.

MEMBUAT PRIA MENDENGARKAN/MENYIMAK

✅Tentukan waktu
✅Tegaskan bahwa Anda butuh/tidak butuh solusi

“Sayang, Aku ingin ngobrol denganmu tentang pengalamanku hari ini. Setelah makan malam ya. Aku tidak perlu solusi darimu, Aku hanya ingin Kamu mendengarkanku.”

Kebanyakan pria akan memenuhi permintaan seperti ini karena jelas waktunya dan tujuannya ➡ sesuai dengan otak pria.

Sebaliknya, jika Anda membutuhkan solusi/masukan, perhatikan :

✅Choose the right time
✅Penuhi kebutuhannya
✅Tegaskan kebutuhan Anda akan solusi

“Sayang, Aku ingin ngobrol denganmu tentang perkembangan belajar Arya. Setelah Arya tidur ya. Aku butuh masukanmu sayang.”

WANITA DAN SUARA
Penelitian menunjukkan, dalam dunia kerja, seorang wanita yang bersuara lebih dalam dianggap lebih cerdas, berwibawa dan dapat dipercaya. Untuk mendapatkan suara yang lebih dalam, Anda dapat berlatih merendahkan dagu, berbicara lebih lambat dan monoton.

Di lapangan, untuk mendapatkan kewibawaan, banyak wanita yang menaikkan suaranya, padahal hal tersebut justru memberi kesan agresif dan kontraproduktif.

/Tim Fasilitator Bunda Sayang 2/

IMG-20170614-WA0001


📚 Sumber Bacaan :

Why Men Don’t Listen and Women Can’t Read Maps Mengungkap Perbedaan Pikiran Pria dan Wanita Agar Sukses Membina Hubungan, Allan + Barbara Pease

Status

Game Kelas BunSay: Level 1

Hari 10

Hari Kesepuluh

Sebenernya hari kesepuluh itu harusnya jatuh di hari Ahad kemarin. Tapi karena enggak ada yang bisa diceritain – atau mungkin tepatnya semua komunikasi yang terjadi di hari kemarin itu adalah kegagalan – makanya agak malas untuk diceritain.

Tapi mari kita berpikir jernih. Mungkin lebih baiknya ditulis aja biar jadi bahan perenungan dan telaah di masa mendatang. Lagipula setelah melakukan fault celebration jiwa rasanya jadi agak enakan dan enggak senyesek kemarin-kemarin. Jadi mari kita tulis saja.

Jai sehari setelah tragedy kejadian itu, saya langsung nunjukkin gejala stress yang biasa: nafsu makan berkurang, komunikasi enggak kooperatif dan gejala ngantuk yang berlebihan. Selama beberapa hari nafsu makan berkurang. Ini sih enggak masalah karena lagi puasa Ramadhan jadinya enggak terlalu mengganggu kegiatan sehari-hari.

Mengenai mengantuk berlebihan juga bukan masalah, saya bablas tidur setidurnya. Walau suami juga jadi curiga karena kegiatan saya enggak berjalan selancar biasanya dan lebih banyak diganggu sama ngantuk. Tapi suami belum ada komentar apapun mengenai ini.

Yang paling seru adalah masalah komunikasi. Saya langsung berubah banget masalah komunikasi. Kalau biasanya ketika suami pulang saya langsung tanya kabar hari ini dan macem-macem lainnya, hari ini saya diam aja dan cuek. Kalau misalnya saya ngajak suami untuk dibantuin masak buat buka puasa, saya juga cuek aja dan masak sendiri. Pokoknya saya bener-bener diam aja, enggak ada komunikasi apapun bahkan sekedar untuk menanggapi komentar suami.

Nah disini suami langsung curiga dan mencoba memancing saya untuk komunikasi, atau seenggaknya memberi respon yang sesuai dari setiap komunikasi yang diberikan suami. Tapi saya tetep malas aja rasanya dan komentar yang saya berikan tidak lebih dari “Iya”, “Enggak” atau enggak “Hmm”.

Malahan sikap tubuh dan ekspresi wajah jua menunjukkan saya terlalu malas untuk ngobrol sampai akhirnya suami ngediamin saya untuk beberapa saat. Tapi suami juga bukan tipe yang bisa ngediamin orang lain kalau dia enggak tahu masalahnya akhirnya dia mencoba klarifikasi ke saya.

“Say, kamu lagi ada masalah?”

“Hmmm.”

“Masalahnya apa?”

“Hmmm.”

“…”

“…”

“…”

“…”

“Kamu lagi malas ngomong?”

“Hmm.”

Kan? Ngeselin banget reaksi komunikasi saya? Akhirnya setelah itu suami ngebiarin saya dulu dan enggak ngajak ngobrol untuk beberapa lama. Sementara saya asyik baca buku aja karena saking malasnya ngobrol.

Sebenernya sih saya enggak marah sama suami. Udah biasa dan emang tahu sih suami kadang suka motong ucapan saya jadinya udah lebih ke arah capek daripada sakit hati. Dan imbas dari capeknya itu adalah saya males banget ngomong makanya jadilah seperti contoh di atas.

Jadi kesimpulannya? Semua pon komunikasi gagal! Yes!

Eh…enggak deh, seenggaknya poin kaidah 7-38-55 mungkin berhasil menunjukkan ke suami kalau saya lagi malas komunikasi. Sisanya? Gagal! Horeee! Mari fault celebration!

#level1

#day10

#tantangan10hari

#komunikasiproduktif

#kuliahbunsayiip

Status

Game Kelas BunSay: Level 1

Hari 9

Hari Kesembilan

Hari ini komunikasinya gagal!

Awalnya sih biasa aja, gak ada apa-apa. Semua berjalan normal seperti biasa.

Di sore hari pas suami udah pulang kerja dan lagi-lagi saya sibuk buat masak buka puasa. Seperti biasa suami inisiatif ngebantuin masak dan saya juga gak masalah dalam hal bantu-membantu masak.

Dan seperti biasa juga sambil masak kita ngobrolin apa aja yang perlu diobrolin atau pingin diceritain. Misalnya ada kegiatan apa aja hari ini, ada kabar apa di kantor. Yah, hal-hal sejenis itulah, cuma untuk sekedar tahu kabar kegiatan masing-masing aja.

Nah, inti cerita terjadi saat saya bertanya sama suami kira-kira apakah tanggal 15 nanti suami bisa nganterin saya buka puasa bersama pengajian. Dan saat itu suami menyanggupi untuk nganterin saya. Dan setelah itu saya ingat seenggaknya sehari sebelumnya tolong anterin saya ke toko kelontong depan kompleks rumah, maksudnya buat beli nata de coco karena rencananya saya mau bawa agar buat buka puasa itu. Suami juga nyanggupin buat nganter beli nata de coco. Berikutnya saya mau nanya sesuatu lagi yang kayaknya berhubungan sama buka puasa bersama itu (udah lupa 😛 ) tiba-tiba aja suami motong pertanyaan saya dan bertanya dengan nada keras dan membentak kalau saya udah hitung zakat atau belum.

Spontan saya langsung diem. Bukan jenis pertanyaan saya udah hitung zakat atau belum, tapi nada ngebentaknya dan cara suami motong pertanyaan saya itu yang bikin saya kaget.

Jujur aja, saya paling sakit hati kalau lagi bicara tiba-tiba ucapan saya itu dipotong secara kasar. Apalagi pakai nada bentak segala.

Waktu saya mau negejelasin kenapa belum bisa hitung zakat suami motong lagi penjelasan saya masih dengan nada keras dan ngebentak.

Spontan saya langsung diem, terlalu capek sama sedih buat ngelanjutin penjelasan. Emang sih mungkin saya salah karena belum ada hitung-hitungan zakat, tapi kan gak perlu sambil ngebentak begitu apalagi sampai motong omongan orang lain.

Akhirnya setelah itu saya sama suami masak sambil diem.

Sambil diem saya coba menelaah di bagian poin BunSay komunikasi yang mana yang gagal?’

  1. Clear and clarify

Kalau yang ini sih emang gagal banget. Wong sebelum sempet ngejelasin dan klarifikasi kesalahan semua ucapan saya langsung dipotong kok sama suami. Tapi kayaknya poin ini bukan poin yang pertama-tama salah sehingga menimbulkan kegalauan komunikasi yang melanda. Jadi poin ini emang gagal, tapi bukan kegagalan yang pertama.

  1. Choose the right time

Hmm…kalau ini kayaknya baik-baik saja. Toh awalnya kami masih ngobrol seperti biasa. Secara general sih harusnya di poin ini enggak gagal. Soalnya saya gak bisa nangkep apa hubungannya antara topik buka puasa bersama yang akhirnya berakibat suami jadi motong omongan saya.

  1. Kaidah 7-38-55

Awalnya sih sikap dan gerak tubuh kita biasa aja. Dan juga enggak ada sikap atau gerak tubuh saya yang bisa jadi penyebab suami motong ucapan saya. Lah secara saya sama suami lagi masak jadi kegiatan gerak tubuhnya berhubungan sama masak-memasak itu aja kan? Hmm…jadi bisa dibilang, enggak gagal?

  1. Intensity of eye contact

Kalau ini kita emang enggak ada eye contact sama sekali. Pertama kita lagi masak jadi yakali saling hadap-hadapan. Kedua setelah terjadi drama itu saya enggak berani bahkan buat sekedar coba untuk menatap mata suami. Jadi… gagal?

  1. I’m responsible for my result communication

Gak ada hal apapun yang bisa dipertanggung jawabkan setelah tragedi dapur yang telah terjadi 😛 malahan saya cuma bisa diem aja karena terlalu kaget dan sedih.

Jadi… gagal komunikasinya di bagian apa ya awalnya? Hmmm, jadi bingung. Masih gagal paham.

Tapi intinya adalah saya paling gak bisa lagi ngomong tau-tau aja dipotong ucapannya bahkan sambil dibentak. Rasanya capek banget dan gejala stress mulai keluar semua, dari reaksi gak nafsu makan, malas komunikasi dan reaksi ngantuk yang berlebihan.

Yah, mendingan saya coba tidur sambil introspeksi diri deh mengenai kegagalan komunikasi kali ini.

#level1

#day9

#tantangan10hari

#komunikasiproduktif

#kuliahbunsayiip

Status

Game Kelas BunSay: Level 1

Hari 8

Hari Kedelapan

Pas banget di sore hari, suami udah pulang kerja dan dia lagi ngebantuin saya masak buat buka puasa. Suami emang hobi masak sih jadi kadang dia suka ngebantuin atau enggak dia suka masak sendiri.

Jadi bisa dikatakan kalau sore ini adalah hari yang tenang. Yah setidaknya waktu yang tepatlah untuk cerita. Suami tiba-tiba wajahnya serius dan badannya kelihatan gugup, “Kalau misalnya aku mau jualan, boleh enggak?”

Saya yang lagi motong sayur langsung ngelihat suami. Jarang-jarang minta izin mau jualan. Biasanya kalau minta izin palingan izin mau masak sesuatu atau mau bikin kue. Makanya permintaan izin kali ini agak mengejutkan.

“Emang mau jualan apa?” Saya nanya suami sambil ngelihatin suami yang lagi serius ngaduk masakan.

Nah, mulailah suami cerita jujur. Jadi kakak perempuan suami (kaka ipar saya) kerja di sebuah pabrik cokelat. Karena bulan ini adalah bulan Ramadhan, pabriknya juga ikut ngejual produk cokelat mereka untuk pasar bukan industry. Dengan kata lain orang luar bisa beli dengan jumlah minimal. Karena pas banget kaka ipar dapet infonya dia akhirnya ngasih info itu ke suami. Suami tertarik mau ikut jualan juga, walhasil dia nanya saya dulu, kira-kira boleh atau enggak ikut jualan.

Yah, awalnya sih saya tanya-tanya dulu, numben mau ikut jualan. Suami cerita kalau dia pingin coba aja jualan. Disini saya klarifikasi lagi, yang mau jualan siapa? Suami atau suami cuma ngemodalin terus saya yang disuruh jualan sendiri?

Iya dong harus ditanya. Saya kan gak punya minat apa-apa sama jualan. Jangan sampai cuma gegara kakak ipar punya banyak stok cokelat malah saya yang dilimpahin, padahal yang semangat mau jualan awalnya siapa? Yah, bukan berarti saya enggak mau bantu-bantu juga tapi kan harus diperjelas dari awal. Jangan sampai ada salah paham atau miskomunikasi begitu.

Nah, pas setelah semuanya jelas saya akhirnya ngasih tanda ya udah kalau mau jualan boleh.Tentu saja In shaa Allah saya juga ikut bantu jualan.

Yaudah deh, akhirnya In Shaa Allah kami jadi jualan produk cokelat. Tapi baru bisa habis lebaran 😛 jadi yang baca blog ini dan mau pesan cokelat silahkan hubungi lagi pas sehabis lebaran ya~

Semoga komunikasi kami lumayan efektif untuk selanjutnya. Amin.

#level1

#day8

#tantangan10hari

#komunikasiproduktif

#kuliahbunsayiip

Status

Game Kelas BunSay: Level 1

Hari 7

Hari Ketujuh

Hari ini suami pulang dari kantor dengan jam biasanya.

Karena selama bulan Ramadhan kantor suami bubar lebih awal dari biasanya, yaitu jam tiga sore makanya sekitar jam empat biasanya suami udah di rumah. Goler-goler sambil main hape. Dan karena ini bulan puasa, maka jam segitu biasanya adalah waktu saya untuk masak makanan untuk buka puasa.

Tapi kali ini suami pulang enggak seperti biasanya, dia agak lemas. Wajah sama bahasa tubuhnya udah cukup buat saya ngambil kesimpulan kayak begitu. Makanya saya tunggu aja dia santai-santai dulu, sambil sekalian saya juga sambil sibuk masak. Toh rumah kami masih ngontrak jadinya jarak anatara ruang keluarga sama dapur enggak jauh, cuma selangkah aja.

Saya nyamperin suami dan duduk dekat dia, lalu dengan tenang “Kok kayaknya lagi lemes? Ada berita apa di kantor?”

Dan suami masih megang hape, berarti dia emang lemes banget, berarti poin intensity of eye contact enggak dapet. Tapi enggak apa-apa deh, toh saya pakai kaidah 7-38-55 dengan bahasa tubuh siap mendengarkan plus ngelus-ngelus kepala suami biar dia agak rileks.

Nah, barulah suami cerita kalau salah satu atasan di kantornya sedang cuekin suami dan enggak ngajak ngobrol sama sekali. Hmm, saya jadi tahu penyebabnya. Pasalnya emang suami bukan cuma sekali dua kali aja nyeritain atasannya yang seorang perempuan dan super baper dalam pekerjaan. Masalah pribadi dibawa-bawa ke pekerjaan otomatis suami dan anak buahnya yang lain merasa enggak nyaman dengan situasi kerja yang seperti itu. Udah beberapa kali suami minta mengajukan pindah bidang atau enggak mencoba mencari pekerjaan baru, tapi sayangnya belum rejeki.

Yah, mau bagaimana lagi. Saya cuma bisa ngedengerin aja suami curhat sambil tetep kepalanya saya elus-elus biar suami merasa tenang. Terkadang saya juga kasih respon dan komentar-komentar singkat. Yah, sebisa mungkin enggak bikin kepala suami makin pusing sama masalah.

Duh, suamiku kasihan amat. Tapi tetep semangat ya! Kalau ada apa-apa bisa cerita kok. Kita hadapi semua ini bersama. Amin.

#level1

#day7

#tantangan10hari

#komunikasiproduktif

#kuliahbunsayiip

Family Forum

Cemilan Rabu 2
7 Juni 2017

🍇Apa sih family forum itu?

➡Family forum adalah kegiatan ngobrol bersama keluarga inti,  yang dibangun untuk saling mengalirkan rasa,  mengetahui hobi anak-anak, aktivitas harian mereka, trend pengetahuan dan berita yang ada saat ini, kebutuhan seluruh anggota keluarga dan masalah atau tantangan-tantangan apa saja yang dihadapi oleh seluruh anggota keluarga serta harapan dan cita-cita dari masing-masing anggota keluarga. Family forum merupakan salah satu sarana pendukung terjadinya komunikasi produktif di dalam keluarga.

🍌Siapa saja yang terlibat dalam Family Forum?

➡Keluarga inti: Ayah,  ibu,  dan anak-anak.

🍊Kenapa kita perlu mengadakan family forum?

-Sebagai sarana untuk mengalirkan rasa
-Menyamakan Frame of Experience dan Frame of Reference
-Melancarkan komunikasi diantara anggota keluarga
– Sarana belajar bagi anggota keluarga untuk dapat berbicara dan mendengar dengan baik.
– Menggagas ide,  menyamakan visi misi keluarga, merencanakan dan menetapkan cita-cita bersama

🍰Kapan, dimana dan bagaimana kita bisa melaksanakan family forum?

➡ Boleh kapan dan dimana saja. Bentuknya pun beragam, seperti di meja makan dengan sebutan “meja peradaban”, bisa juga selepas jamaah maghrib menjadi ” maghrib time”, ngeteh bersama “tea time”, ngopi bersama “coffee break”, ngegame bersama “play on”, ngemil bersama “snack time”, bahkan bisa dilakukan jarak jauh dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi saat ini, dll.

Ketika anggota keluarga sedang berkumpul semua, maupun saat salah satu anggota keluarga berada dalam kondisi berjauhan, masih tetap bisa dilakukan kegiatan family forum.

Sebagai sarana pendukung komunikasi produktif dalam keluarga, perbanyaklah membuat forum keluarga saat sore ngeteh bersama, atau sepekan sekali saat akhir pekan.

Selamat membuat forum keluarga

/Tim Fasilitator Bunda Sayang 2/


Sumber Bacaan:

Hasil Belajar Kelas Bunda Sayang Koordinator Nasional dg Ibu Septi Peni Wulandani

Review 1 Game Level 3, Kelas Bunda Sayang 1

Pengalaman pribadi fasil Bunda Sayang 2

Status

Game Kelas BunSay: Level 1

Hari 6

Hari Keenam

Jarang-jarang saya sama suami gosipin artis. Bener-bener jarang banget.

Sebenarnya semua ini salah televisi yang pagi-pagi udah menyiarkan berita gossip yang enggak jelas. Heran deh, bulan puasa tapi televisi getol banget nyebarin berita gossip pagi-pagi. Jadi jangan salahkan saya kalau tiba-tiba suami enggak sengaja nonton salah satu berita gossip itu.

Jadi kebetulan pas di pagi hari tv lagi menyiarkan berita salah satu artis (katanya sih tapi saya enggak kenal artis itu) yang meninggal. Tragisnya si artis meninggal tidak dalam keadaan tenag, tapi orang tuanya bertengkar di depan jenazah anaknya. Pasalnya apa? Tiada lain karena orang tuanya beda agama sehingga mereka berebut bagaimana caranya menguburkan jenazah anak mereka.

Enggaakk…saya gak bakal ceritain gimana kelanjutan kasus itu. Secara pertama, ini bukan blog gossip selebriti. Dan kedua, ada banyak hal lain yang lebih penting untuk ditulis.

Jadi cerita uniknya adalah, jarang-jarang kami ngomentarin gossip receh begituan. Malahan sambil menerapkan poin komunikasi BunSay! Woww…emejing!

Pas habis dengerin gossip itu saya sama suami ngobrol, face to face sambil menerapkan intensity of eye contact. Enggak lupa didukung dengan kaidah 7-38-55 dengan badan tegap dan wajah serius.

“Kasihan ya,” komentar suami.

Karena saya emang enggak connect dengan berita gossip itu saya harus clear and clarify supaya enggak miskomunikasi, “Hah? Emang ceritanya apa sih?”

Akhirnya suami dengan sangat sabar menceritakan ulang berita gossip dari tv itu. Saya? Cuma bisa bengong. Jarang-jarang suami serius banget dengerin berita gossip.

Setelah selesai bercerita suami saya langsung menanyakan pendapat saya. Ah, disinilah saya paham kenapa bahasa tubuh suami mendadak serius. Kalau topik pembicaraan mengenai agama pasti suami bakal pasang sikap serius, sadar atau enggak.

Yah, disini saya gak bakal bahas bagaimana “hangatnya” diskusi kami. Tapi yang pasti poin penting komunikasi BunSay sungguh sangat bermanfaat dalam situasi ini.

Karena kami diskusi mengenai agama otomatis poin-poin clear and clarify, kaidah 7-38-55 dan intensity of eye contact berguna sekali untuk menjaga komunikasi kami dari gagal atau enggak connect. Mengenai choose at the right time? Hmm…mungkin sesuai karena pas banget kami diskusi di pagi hari setelah berita gossip itu di kabarkan. Dengan kata lain masih update untuk kami walaupun kata orang itu berita basi.

Nah, untuk poin I’m responsible for my communication result…hmmm… mikir-mikir dulu deh. Soalnya apanya yang mau dipertanggungjawabkan? Berita gosipnya? Lah, kami gak punya hubngan apa-apa sama si artis itu. Mengenai masalah diskusi agamanya? Alhamdulillah kok kami sama-sama muslim jadi harusnya enggak ada masalah. Palingan yang perlu diwaspadai kalau suatu saat kami punya anak didikannya harus benar-benar kuat agamanya biar enggak kejadian kayak kasus si artis itu. Nah, karena poin ini enggak terlalu yakin dalam diskusi agama jadinya saya pikir ini enggak masuk poin pencapaian hari ini.

But still semua yang terjadi itu selalu bisa dijadikan bahan renungan dan pelajaran. Meskipun kasus itu adalah gossip selebriti tapi sebagai manusia yang berakal kita harus selalu bisa menjadikan apapun sebagai bahan renungan kan?

Dan terutama untu kelas BunSay ini, bisa dijadikan topik pelajaran komunikasi yang efektif 😛

Semoga berikutnya komunikasi yang efektif masih terus berlanjut. Amin.

#level1

#day6

#tantangan10hari

#komunikasiproduktif

#kuliahbunsayiip