Status

Hanya Sebuah Prolog

Dan kau akan mengatakan bahwa semua yang kita pelajari dan kita alami bersama adalah sebuah cerita yang indah dan mengesankan. Tapi bagiku semua itu tak lebih dari sekedar pembuka cerita yang mengarahkan perjalanan kita. Engkau baru saja akan memulai dan menulis sendiri bab-bab yang indah dalam kehidupanmu. Dimana setiap bab kehidupan jauh lebih menyenangkan dan penuh petualangan dibandingkan bab sebelumnya.

#IIP Alir Rasa

#IIP Bekasi-Karawang Batch 3


Yup, semua materi IIP itu menyenangkan dan membuat kita bersemangat untuk menjadi lebih baik bagi keluarga dan masyarakat. Tapi jangan lupa, semua materi itu gak bakal OK kalau enggak sekalian diaplikasiin di masyarakat. Teori beda dengan praktik dan ekspektasi berbeda dengan realita. Makanya diatas kutulis semua materi IIP itu hanyalah sebuah prolog. Karena bab-bab yang menyenangkan dan menantang baru akan kita jalani, yaitu praktik melakukan materi itu.

Advertisements

Review NHW#9 – Berubah Atau Kalah

Barang siapa hari ini LEBIH BAIK dari hari kemarin, dialah tergolong orang yang BERUNTUNG. Barang siapa yang hari ini SAMA DENGAN hari kemarin dialah termasuk golongan orang yang MERUGI. Dan Barang siapa yang hari ini LEBIH BURUK dari hari kemarin dialah tergolong orang yang CELAKA– HR Hakim

Berubah adalah sebuah keniscayaan bagi kita semua, karena kalau anda tidak pernah berubah, maka sejatinya kita sudah mati. Maka dengan membaca Nice Homework #9 ini, kami bangga dengan banyaknya ide-ide perubahan yang sudah teman-teman tuangkan dalam tulisan. Kebayang tidak, andaikata dari seluruh peserta matrikulasi Ibu Profesional ini menjalankan langkah pertama perubahan yang sudah dituangkan dalam ide-ide di NHW#9, akan muncul berbagai perubahan-perubahan kecil dari setiap lini kehidupan.

Andaikata hanya 10 % saja yang berhasil menjadikan ide perubahan ini menjadi sebuah gerakan nyata, maka sudah ada sekitar 100 lebih perubahan –perubahan kecil menjadi sebuah gerakan-gerakan positif baru yang memicu munculnya perubahan besar.

Untuk itu kita perlu mencari yang namanya Tipping point agar perubahan-perubahan yang kita lakukan bisa memberikan impact perubahan yang besar.

IMG-20170327-WA0002

The Tipping point : the point at which a series of small changes or incidents becomes significant enough to cause a larger, more important change –Malcolm Gladwell

Tipping point adalah titik di mana usaha-usaha kecil yang dilakukan berakumulasi menjadi satu hal besar yang cukup signifikan untuk dianggap sebagai perubahan. Istilah tipping point sudah lama digunakan dalam bidang sosiologi, tapi baru populer setelah dibahas secara mendalam oleh Malcolm Gladwell dalam bukunya yang berjudul The Tipping Point: How Little Things Can Make a Big Difference

IMG-20170327-WA0003

Tidak perlu orang banyak untuk menyukseskan gerakan yang akan anda lakukan. Kalau bisa dengan suami dan anak-anak sebagai satu team, itu sudah cukup. Namun apabila tidak memungkinkan, maka temukan beberapa orang yang satu visi dengan anda, meski dengan misi yang berbeda-beda, pasti akan bertemu.

Dalam ekonomi, ada Pareto Rule yang menyatakan bahwa 80% dari pekerjaan yang ada sebenarnya diselesaikan hanya oleh 20% orang, yang berarti gerakan kita harus punya 20% orang spesial ini untuk bisa mencapai tipping point. Di bukunya, Gladwell mengupas tentang tiga jenis orang yang menentukan kesuksesan adopsi sebuah ide atau gerakan.

Connector

Connector adalah mereka dengan kemampuan bersosialisasi luar biasa yang bisa menghubungkan orang dari berbagai bidang. Sepanjang yang kami tahu, suatu gerakan bisa jadi besar kalau bisa merangkul banyak orang untuk berkolaborasi. Inilah mengapa kita perlu tipe-tipe connector di komunitas atau gerakan apapun. Mereka adalah jenis orang yang secara natural selalu percaya diri untuk lebur dan bersosialisasi.

Tidak hanya sekedar gaul dan kenal banyak orang,  Connector juga harus punya sensitivitas untuk bertanya: Siapa ya yang saya kenal yang bisa membantu gerakan ini? atau Bagaimana cara menghubungkan si A dari bidang ini dan si B dari bidang itu untuk berkolaborasi?

Maven

Maven adalah mereka dengan pengetahuan sangat luas yang senang mengakumulasi informasi dan membagikannya. Bisa dibilang maven adalah orang-orang yang sangat senang belajar. Tidak hanya jadi nerd yang menyimpan semua ilmunya sendiri, maven senang membagikan temuan-temuan barunya kepada orang lain. Orang-orang seperti maven yang punya antusiasme dalam berbagi hal bisa menarik orang-orang ke sebuah gerakan, melalui api mereka dalam menyebarkan insight bermanfaat.

Salesman

Salesman, tentu, adalah mereka yang punya kemampuan persuasi luar biasa. Salesmen tentu saja dibutuhkan untuk menjual apa sebenarnya misi yang dibawa, dengan kemampuan persuasi yang sangat hebat. Tanpa berniat menjual pun, orang-orang yang gifted sebagai salesman selalu bisa bikin orang tertarik dengan apapun yang dibicarakannya.

Kebanyakan dari sebuah gerakan memiliki kemampuan salesman, tapi tidak punya connector dan maven untuk mengimbangi. Maka sejatinya kita perlu 3 orang saja di awal membangun sebuah gerakan perubahan di sekitar kita, ada salesman yang bisa menjual gagasan kita ke pihak lain,  ada connector yang berpikir strategis untuk menghubungkan pihak A dan B, serta maven yang pinter dan senang berbagi.

Setiap orang punya tipping point. Titik dimana persepsi, kebiasaan, bahkan hidup seseorang berubah secara mendadak, dan efeknya cukup dahsyat terhadap kehidupan kita semua. Oleh sebab itu, tipping point bukan titik balik, tetapi titik perubahan. Ia merupakan titik kritis dari kondisi A ke kondisi B.

Selamat berkolaborasi untuk menemukan tipping point teman-teman semua dengan ide-ide perubahan yang sudah dituangkan dalam bentuk NHW#9

Lihatlah potensi kekuatan di keluarga kita terlebih dahulu,  baru merambah ke luar.

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/


Sumber bacaan:

Malcolm Gladwel, Tipping Point: How Little Things Can Make a Big Difference , 2000

Materi Matrikulasi sesi #9, Ibu Sebagai Agen Perubahan, 2017

Hasil Nice Homework #9 para peserta matrikulasi Ibu Profesional batch #3, 2017

NHW#9 – Ibu Sebagai Agen Perubahan

Tugas kali ini masih berhubungan dengan NHW yang sebelumnya, tepatnya NHW 7 dan NHW 8. Gak kerasa udah NHW 9 dan Insyaa Allah ini adalah NHW terakhir di pekan ini sebelum ketahuan apakah aku lulus atau enggak dalam kelas matrikulasi 😛

Gak banyak yang mau ditulis juga karena tugas kali ini adalah menghubungkan antara minat dan passion kita kearah isu sosial. Kenapa berhubungan dengan passion kita? Yah, karena kegiatan awalnya aja menulis dan membaca, kegiatan yang emang saya suka dan saya bisa. Jadinya kalau kegiatan ini emang sesuai di passion kita diharapkan kita juga bisa membantu permasalahan sosial yang ada di bidang kegiatan tersebut.

Sebenarnya enggak banyak permasalahan sosial dalam bidang membaca dan menulis, malahan bisa dibilang permasalahan klasik. Dari sejak jaman saya masih bocah ingusan baru kenal yang namanya buku sampai sekarang yang saya udah hobi banget baca dan hunting buku keren permasalahannya masih aja sama. Untuk membaca permasalahannya minat baca buku di masyarakat masih rendah. Sementara untuk menulis bisa dibilang masyarakat Indonesia masih aja kaku untuk masalah nulis. Nulis disini maksudnya adalah menghasilkan tulisan ya, bukannya nulis pakai pensil atau pena walau boleh pakai apapun sih sebagai media nulisnya termasuk laptop.

Tabel isu sosial

Kenapa minat baca di Indonesia rendah itu karena indikator penilaiannya berdasarkan jumlah judul buku yang dijual per tahunnya di toko buku offline. Jadi kalau misalnya kita cuma baca buku bentuk digital atau sekedar minjem buku udah dipastikan itu gak masuk dalam indikator penilaian. Selain itu harga buku di Indonesia yang makin lama makin mahal membuat kita sebagai customer buku mikir-mikir untuk beli buku, kecuali kalau lagi diskonan buku, baru deh tuh diborong semua.

Selain itu pendidikan di Indonesia tidak mewajibkan siswanya untuk membaca, terutama membaca sastra klasik Indonesia. Karena dari awal para siswa tidak dilatih untuk membiasakan membaca jadinya minat baca masyarakat di Indonesia juga gak tinggi-tinggi amat.

Mengenai minat menulis kasusnya hampir sama dengan membaca. Karena kegiatan menulis itu sinkron dengan membaca, kalau dari awal enggak dibiasain membaca maka untuk menulis juga rada susah. Padahal biasanya orang yang mau menulis awalnya harus membaca sumbernya, kan? Misal dia mau nulis cerpen atau novel pasti dia baca dulu cerpen-cerpen atau novel yang bagus dan mencontoh tulisannya. Karena dari awal enggak dibiasain membaca, akhirnya minat menulis juga rendah. Apalagi kalau tiba-tiba harus disuruh cari ide buat menulis pastinya langsung bingung dan kaku untuk menulis.

Sebenarnya awalnya enggak susah, asalkan dari awal memang punya niat dan suka dengan kegiatan membaca dan menulis maka kemampuan dua kegiatan itu bisa diasah. Misalkan dalam kasus saya, untuk membaca setidaknya biasakan untuk membaca minimal satu paragraf, lama-kelamaan jumlah minimal baca bisa ditingkatkan dari satu paragraf menjadi satu halaman hingga menyelesaikan satu buku dalam waktu singkat. Begitu juga dalam hal menulis, biasakan menulis dalam jumlah kata yang sedikit lama-kelamaan akan terbiasa menulis panjang. Kedua hal itu adalah permasalahan paling umum dan klasik yang terjadi di Indonesia, tapi penyelesaiannya sebenarnya sederhana. Masalahnya adalah apakah kita memang mau berubah dan berusaha ambil bagian untuk mengubah lingkungan? Itu hanya bisa dijawab oleh masing-masing orang.

Materi 9 – Bunda Sebagai Agen Perubahan

Perempuan khususnya seorang ibu adalah instrumen utama yang sangat berperan sebagai agen perubahan. Dari sisi individu untuk menjadi agen perubahan adalah hak semua orang tidak berbatas gender. Karena semua memiliki potensi dasar yang sama berupa akal, naluri dan kebutuhan fisik. Sedangkan dalam konteks masyarakat, keberadaan ibu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan keluarga, dimana keduanya memiliki porsi prioritas yang sama.

Keberadaan Ibu di masyarakat akan meningkatkan kualitas pendidikan keluarga di rumah, demikian juga pendidikan keluarga di rumah akan memberikan imbas positif pada peningkatan kualitas masyarakat.

Maka berkali-kali di Ibu Profesional kita selalu mengatakan betapa pentingnya mendidik seorang perempuan itu. Karena mendidik 1 perempuan sama dengan mendidik 1 generasi.

Maka apabila ada 1 ibu membuat perubahan maka akan terbentuk perubahan 1 generasi yaitu generasi anak-anak kita. Luar biasa kan impactnya.

Darimanakah mulainya?

Kembali lagi, kita harus memulai perubahan di ranah aktivitas yang mungkin menjadi

MISI SPESIFIK HIDUP KITA

Kita harus paham JALAN HIDUP kita ada dimana. Setelah itu baru menggunakan berbagai CARA MENUJU SUKSES.

Setelah menemukan jalan hidup, segera lihat lingkaran 1 anda, yaitu keluarga. Perubahan-perubahan apa saja yang bisa kita lakukan untuk membuat keluarga kita menjadi CHANGEMAKER FAMILY.

Mulailah dengan perubahan-perubahan kecil yang selalu konsisten dijalankan. Hal ini untuk melatih keistiqomahan kita terhadap sebuah perubahan. Maka gunakan pola kaizen( Kai = perubahan , Zen = baik) Kaizen adalah suatu filosofi dari Jepang yang memfokuskan diri pada pengembangan dan penyempurnaan secara terus menerus dan berkesinambungan.

Setelah terjadi perubahan-perubahan di keluarga kita, mulailah masuk lingkaran 2 yaitu masyarakat /komunitas sekitar kita. Lihatlah sekeliling kita, pasti ada misi spesifik Allah menempatkan kita di RT ini, di Kecamatan ini, di kota ini atau di negara ini. Lihatlah kemampuan anda, mampu di level mana. Maka jalankan perubahan-perubahan tersebut, dari hal  kecil yang kita bisa.

START FROM THE EMPHATY

Inilah kuncinya. Mulailah perubahan di masyarakat dengan membesarkan skala perubahan yang sudah kita lakukan di keluarga. Sehingga aktivitas kita di masyarakat tidak akan bertabrakan dengan kepentingan keluarga. Bahkan akan saling mendukung dan melengkapi. Setelah EMPHATY maka tambahkan PASSION  , hal ini akan membuat kita menemukan banyak sekali SOLUSI di masayarakat.

KELUARGA tetap no 1, ketika bunda aktif di masyarakat dan suami protes , maka itu warning lampu kuning untuk aktivitas kita, berarti ada yang tidak seimbang. Apabila anak yang sudah protes, maka itu warning keras, LAMPU MERAH. Artinya anda harus menata ulang tujuan utama kita aktif di masyarkat.

Inilah indikator bunda shalehah, yaitu bunda yang keberadaannya bermanfaat bagi dirinya, keluarganya dan lingkungan sekitarnya. Sehingga sebagai makhluk ciptaan Allah, kita bisa berkontribusi kebermanfaatan peran kita di dunia ini dengan Rasa TENTRAM.

Salam

/Tim Matrikulasi IIP/


Sumber Bacaan :

Masaaki Ima, Kaizen Method, Jakarta , 2012

Ashoka Foundation, Be a Changemaker: Start from the Emphaty,  2010

Materi-materi hasil diskusi keluarga bersama Bapak Dodik Mariyanto, Padepokan Margosari,  2016

 

Review NHW#8 – Misi Hidup dan Produktivitas

Terima kasih untuk teman-teman yang sudah mengerjakan NHW#7 dengan bersungguh-sungguh. Perbedaan dari orang yang sama-sama belajar itu adalah dari kesungguhannya. Ada yang hanya sekedar menggugurkan kewajiban yang penting sudah mengumpulkan PR dan ada yang memang bersungguh-sungguh mengerjakan untuk menjadikannya ROAD MAP dalam kuliah kehidupannya. Maka di NHW #8 ini kita akan melihat bagaimana produktivitas seorang bunda bisa erat berkaitan dengan misi spesifik hidupnya.

Pola BE-DO-HAVE yang kita gunakan ini akan membuka mindset kita terlebih dahulu akan sebuah makna produktif, kemudian mengerjakan sesuai dengan jalan hidupnya, dan akhirnya mendapatkan hasil dan pencapaian yang cocok antara kehendak kita dan kehendak Allah. Hal ini akan membuat bunda lebih mantap melangkah, apalagi kalau dihubungkan dengan pertanyaan NHW#8

Pertanyaan di NHW #8 itu saling berkaitan, mari kita simulasikan berrsama, kemudian aplikasikan sesuai dengan diri bunda masing-masing.

a. Ambil satu saja dari  aktivitas yang anda SUKA dan BISA

Misal : Memasak

b. Anda ingin menjadi apa? ( Be)

Misal : ingin menjadi ahli memasak untuk makanan ” gluten free”

c.Apa yang ingin anda lakukan? (DO)

misal : saya akan mulai bereksperimen tentang makanan gluten free dan mengedukasi masyarakat tentang makanan gluten free.

d. Apa yang ingin anda miliki? (Have)

(bisa secara materiil maupun immateriil bebas anda pilih, boleh salah satu atau dua-duanya)

contoh : 
Materiil : Saya ingin memiliki rumah  “healthy food”

Immateriil : saya ingin memiliki legacy dalam hidup saya tentang makanan “gluten free” ini sehingga anak Indonesia akan tumbuh dengan sehat tanpa bergantung dengan gandum.

Setelah itu kita susun langkah-langkahnya :

a. Life time purpose

Saya ingin  memperjuangkan Indonesia Bebas Gandum, dengan mulai menghilangkan ketergantungan masyarakat terhadap gandum

b.Strategic Planning

Dalam waktu 5 tahun ke depan saya ingin dikenal sebagai ahli gluten free, sehingga saya konsisten mempelajari hal tersebut mulai dari sekarang.

c. New Year Resolution

Dalam kurun waktu 2017 – 2018 ini saya ingin menerapkan program “One Month One Recipe” sehingga akan muncul 12 resep baru gluten free dalam 1 tahun ini, dan mengajarkannya kepada anak-anak dan keluarga di sekitar saya.

Apabila sampai sekarang Anda masih galau belum menemukan apa sebenarnya yang akan anda lakukan, jangan khawatir. Mari kita kuatkan proses,arena Proses itu HAK kita, dan hasil itu HAK ALLAH.

Nah untuk lebih menguatkan proses, silakan buat list dan tempel di rumah, ada banyak contoh, salah satunya saya berikan sample di bawah ini. Ini contoh menguatkan BE-DO-HAVE mingguan sampai ketemu ranah produktivitas bunda.

Displaying IMG-20170320-WA0002.jpg

Tahapannya :

🍀ambil ranah yang anda SUKA dan BISA dulu,

🍀simulasikan di form BE-DO-HAVE

🍀Susun lifetime purpose, strategic plan dan new year resolution

🍀Turunkan secara mingguan aktivitas-aktivitas yang harus anda capai untuk bisa menjadi bunda produktif.

Demikian review NHW#8 silakan dicermati sekali lagi, karena ini akan menjadi pijakan untuk tahap berikutnya.

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/


Sumber bacaan:

David Y,  The “Be Do Have” Paradigm, Avenue South, 2013

Tim Matrikulasi IIP, Misi dan Produktivitas, 2016

Hasil Nice Homework #8, peserta matrikulasi IIP batch #3

NHW#8 – Misi Hidup dan Produktifitas

tabel 1

Ya, kita kembali lagi dengan kuadran kegiatan-kemampuan ini. Kali ini saya cuma mau ngejelasin salah satu kegiatan yang paling saya suka dan insyaa Allah paling saya bisa. Bisa dilihat di gambar pada kuadran satu kalau ada lima kegiatan yang saya suka dan saya paling bisa ngelakuin hal itu. Tapi diantara lima kegiatan itu kegiatan yang paling saya sukai adalah menulis dan membaca.

Kenapa saya bilang menulis dan membaca? Karena dua kegiatan itu buat saya gak bisa dipisahkan satu sama lain. Saya suka banget membaca fiksi dengan berbagai macam genre, makanya saya jadi suka menulis karena kadang suka gak puas dengan hasil akhir cerita buku itu atau enggak setelah baca buku itu malah punya ide buat nulis. Hal ini berlaku juga untuk sebaliknya.

Dari kegiatan ini muncullah pertanyaan untuk kasus ibu produktif,

  1. Mau jadi apa sih dengan kegiatan ini?

Kalau ini sebenarnya jawabannya sudah ketemu sejak jaman masih kuliah dulu. Saya mau jadi penulis fiksi islami yang keren di Indonesia. Dengan membaca bisa bikin imajinasi saya makin hidup, dengan menulis saya mau bikin karya yang keren yang dengan tulisan itu bisa membuat orang merenung bahwa islam itu enggak kaku dan bisa masuk kedalam ranah buku, terutama genre fiksi.

Nah, kalau digabung dengan semua materi yang saya dapatkan di IIP ini maka tugas saya jadi nambah satu. Saya mau jadi penulis fiksi islami keren yang didalamnya juga membahas psikologi keluarga islam. Saat semua orang membaca buku saya mereka bisa merenungi untuk diri mereka sendiri dan ilmu mengenai psikologi islam bisa diterima oleh semua kalangan, baik yang muda maupun yang tua.

2. Mau melakukan apa dengan kegiatan itu?

Yang pertama sih harus banyak baca, baik genre non fiksi terutama bagian psikologi keluarga islam dan genre fiksi yang lagi trend pada saat ini. Yang kedua terus mengasah kemampuan menulis. Yang ketiga selalu berpikir kritis agar ide menulis bisa datang dari manapun dan dalam bentuk apapun.

Nah untuk hal yang kedua dan ketiga insyaa Allah terdukunglah karena saya juga aktif ikut dua komunitas menulis yang ide menulisnya bisa-bisaan aja dan gak terlalu monoton, sisanya mah rajin-rajinnya saya aja. Kalau mau cepet bisa ya harus rajin menulis. Kalau untuk hal membaca untuk masalah membaca buku fiksi insyaa Allah gak masalah karena saya emang selalu semangat untuk baca hal beginian. Sisanya harus memaksakan diri untuk rajin baca buku non fiksi islami 😛

3.Dengan kegiatan itu, saya mau punya apa aja?

Duh, pertanyaan ini sebenarnya menohok hati banget sih. Kalau ditanya fasilitas yang diinginkan sebenarnya saya udah punya semua. Buku fiksi saya punya banyak. Buku non fiksi tema psikologi keluarga islam juga ada. Fasilitas menulis macemnya laptop atau aplikasi untuk menulis di smartphone juga ada.

Masalahnya tinggal niatnya aja yang kurang kuat, selalu malas untuk mulai menulis novel yang sudah saya rancang plot ceritanya. Niatnya udah males duluan apalagi kalau udah ketemu sama internet. Bawaanya mau aja searching hal lain yang sebenarnya enggak terlalu berhubungan dengan kegiatan menulis.

Ok Fix! Internet emang buruk banget buat saya mencapai cita-cita. Karena itu sejak sekarang saya mencoba kebiasaan baru, setiap mau menulis internet harus dimatikan dulu dan waktu pengerjaan saya untuk melakukan secret project ini adalah sekitar satu jam. Alhamdulillah terbukti kerjaan saya lebih fokus dan lebih bebas menuliskan ide-ide yang bertumpuk dalam kepala.

Semua yang saya suka udah coba diarahkan dengan tiga pertanyaan diatas. Tapi tetap aja, kalau enggak dilaksanain semua itu hanyalah mimpi dan angan-angan. Supaya lebih terarah mungkin ada baiknya saya bikin tabel perencanaan kegiatan yang berhubungan dengan kegiatan menulis dan membaca ini.

tabel 1

Tabel 2

Hmm, setelah melihat tabel kegiatan rencana jangka pendek dan panjang mungkin saya perlu beli kalender rencana kerja untuk satu tahun. Supaya perencanaan dan penargetan cita-cita saya bisa lebih mudah dikontrol aja sih.

Setelah melihat jadwal kegiatan baru sadar ternyata saya belum ada ngejalanin satupun rencana kegiatan tersebut, makanya jadwal kegiatannya saya sesuaikan dimulai di bulan Maret ini. Harus semangat untuk merubah kebiasaan di tahun ini supaya bisa meraih sukses dari cita-cita yang diinginkan. Karena kalau dari dalam diri gak ada niat mau berubah maka sampai kapanpun juga gak bakal bisa berubah.

Materi 8 -Misi Hidup dan Produktivitas

Bunda, perjalanan kita untuk menemukan misi hidup selaras dengan perjalanan produktivitas hidup kita. Maka materi menemukan misi hidup ini, akan menjadi materi pokok di kelas bunda produktif.

Sebelumnya kita sudah memahami bahwa Rejeki itu pasti, Kemuliaan yang harus dicari. Sehingga produktivitas hidup kita ini tidak akan selalu diukur dengan berapa rupiah yang akan kita terima , melainkan seberapa meningkat kemuliaan hidup kita dimata Allah dan seberapa manfaat hidup kita bagi alam semesta.

Be Professional, Rejeki will Follow

Tagline Ibu Profesional di atas menjadi semakin mudah dipahami ketika kita masuk ranah produktif ini. “Be Professional” diartikan sebagai bersungguh-sungguh menjalankan peran. Kesungguhan dan keistiqomahan seseorang dalam menjalankan peran hidupnya  akan meningkatkan kemuliaan dirinya di mata Allah dan kebermanfaatan untuk sesama.

Rejeki will follow bisa dimaknai bahwa  rejeki  setiap orang  itu sudah  pasti, yang membedakan adalah nilai kemanfaatan dan keberkahannya seiring dengan bersungguh-sungguh  tidaknya seseorang menjalankan apa yang dia BISA dan SUKA.

Uang akan mengikuti sebuah kesungguhan , bukan bersungguh-sungguh karena uang

Pada dasarnya menemukan misi hidup itu tidak ada hubungannya dengan usia seseorang. Semakin awal seseorang merasa galau kemana arah hidupnya, semakin risau untuk mencari sebuah jawaban mengapa Allah menciptakan dirinya di muka bumi ini? maka semakin cepat akan menemukan misi hidup.

Kalau di pendidikan berbasis fitrah, proses ini secara alamiah akan dialami oleh anak-anak pre aqil baligh akhir ( sekitar 10-13 th) dan memasuki taraf aqil baligh ( usia 14 th ke atas). Maka kalau sampai hari ini ternyata kita masih galau dengan misi hidup kita, maka bersyukurlah, karena kita jadi tahu kesalahan proses pendidikan kita sebelumnya, dan tidak perlu lagi mengalami hal tersebut di saat usia paruh baya yang secara umum dialami oleh sebagian manusia yang disebut sebagai (mid-life crisis).

Maka sekarang, jalankan saja yang anda BISA  dan SUKA tanpa pikir panjang,   karena Allah pasti punya maksud tertentu ketika memberikan kepada kita sebuah kemampuan. Apabila kita jalankan terus menerus, kemungkinan itulah misi hidup kita.

Seseorang yang sudah menemukan misi hidup tersebut apabila menjalankan aktivitas produktif akan lebih bermakna, karena keproduktivitasannya digunakan untuk mewujudkan misi-misi hidupnya. Sehingga selalu memiliki ciri-ciri :

a. Selalu bersemangat dengan mata berbinar-binar

b. energi positifnya selalu muncul, rasanya tidak pernah capek.

c. rasa ingin tahunya tinggi, membuat semangat belajar tinggi

d. Imunitas tubuh naik, sehingga jarang sakit, karena bahagia itu imunitas tubuh yang paling tinggi.

Ada 3 elemen yang harus kita ketahui berkaitan dengan misi hidup dan produktivitas :

a. Kita ingin menjadi apa (be)

b. Kita ingin melakukan apa (do)

c. kita ingin memiliki apa (have)

Dari aspek dimensi waktu ada 3 periode yang perlu kita perhatikan :

a. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu kehidupan kita (lifetime purpose)

b.Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu 5-10 tahun ke depan ( strategic plan)

c. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu satu tahun ( new year resolution)

Setelah mendapatkan jawaban-jawaban dari pertanyaan di atas, maka mulailah berkomitmen untuk BERUBAH dari kebiasaan-kebiasaan yang anda pikir memang harus diubah.

Berikutnya mulai susun langkah-langkah usaha apa saja yang bisa kita lakukan untuk menunjang sebuah produktivitas hidup kita.Mulailah dengan menetapkan target waktu dan jadwal kegiatan selama satu tahun, serta menentukan ukuran atau indikator keberhasilan dalam setiap kegiatan yang kita lakukan.  Buatlah prioritas dan pilih hal-hal yang memang kita perlukan. Hindari membuat daftar yang terlalu panjang, karena hal tersebut membuat kita gagal fokus.

Demikian sekilas tentang pentingnya misi hidup dengan produktivitas, silakan dibuka diskusi dan nanti kami  akan lebih detilkan materi ini secara real di nice homework #8 berbasis dari kekuatan diri teman-teman yang sudah dituliskan di Nice homework #7.

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi IIP/


Sumber bacaan:

Antologi para Ibu Profesional, BUNDA PRODUKTIF, 2014

Materi Matrikulasi IIP, Bunda Produktif, 2017

Materi kuliah rutin Ibu Profesional, kelas bunda produktif, Salatiga, 2015