Angkasa

images (1) (1)

Wanita itu memandang langit. Rambutnya yang hitam lebat tergerai bebas, sesekali angin mempermainkan rambut indahnya itu. Menambah kecantikan sang wanita bagi siapa saja yang memandangnya.

Sayangnya tak ada siapapun di tempat itu. Hanya sebuah padang rumput yang luas dengan angkasa biru yang juga sama luasnya. Sesekali gumpalan awan putih menutupi birunya langit, tapi itu tak masalah.

Wanita itu menatap langit dengan penuh kerinduan juga campuran rasa lega. Senyum puas tersungging di bibirnya. Ada beberapa rasa sesal dan berat tapi ia berusaha menepis rasa itu.

Srak. Srak.

Bunyi langkah kaki terburu, menginjak rerumputan kering, sesekali ditingkahi suara rengekan bayi perempuan yang semakin jelas. Wanita itu berusaha menulikan telinganya tapi percuma.

Oh, ingin sekali ia kembali dan memeluk putrinya itu. Tapi tidak! Ia tidak boleh lemah! Terutama saat ini.

“Nawangwulan!”

Suara penuh arogansi bercampur bentakan keras. Sengaja wanita bernama Nawangwulan itu menunggu sesaat sebelum akhirnya menoleh ke arah sumber suara, yaitu suaminya.

“Apa-apaan kau memakai pakaian itu!” bentak pria itu. Ah, pria itu adalah suaminya, Jaka Tarub.

“Kembali sekarang juga ke rumah sebelum aku memaksamu!”

Arogan sekali. Nawangwulan mengernyitkan dahinya. Ah ya, suaminya Jaka Tarub memang seorang yang pemaksa. Buktinya ia berhasil memaksa dirinya untuk menjadi istri dari pria angkuh itu.

“Kembali. Sekarang. Juga!” Jaka tarub mendesis berbahaya. Nawangwulan tersenyum meremehkan.

“Atau apa? Kau mau memaksaku kembali?”

Sebuah selendang berwarna lembut membelit tubuh Nawangwulan. Jaka Tarub melotot tak percaya.

“Tapi….tapi…”

“Sudah cukup Tarub. Sudah waktunya aku kembali ke Kahyangan.”

Jaka Tarub berlari menghampiri istrinya, hendak merampas selendang itu. Akan tetapi sebelum sampai pria itu terhempas dengan keras. Jaka Tarub memeluk putrinya yang masih bayi, berusaha tidak lepas dari pelukannya.

“Bagaimana…selendang itu…,”

Angin kencang bertiup, menerbangkan beberapa helai rumput kering. Nawangsari, putri mereka berdua menangis keras. Seakan menyadari inilah waktu perpisahan dengan ibunya yang seorang bidadari.

Nawangwulan melayang beberapa senti dari tanah, matanya menatap sendu kepada putrinya.

“Tunggu! Kau tidak boleh pergi!” Tarub berusaha mendekati istrinya tapi dinding pelindung memisahkan jarak antara dirinya dan istrinya.

“Kau istriku! Aku melarangmu untuk pergi!”

“Kau telah mencuri selendangku.” Nawangwulan menjawab dengan dingin. “Dan sudah saatnya aku kembali.”

Tarub bisa merasakan kakinya melemah sementara putrinya masih menangis keras.

“Setidaknya untuk Nawangsari. Tetaplah tinggal disini,” Tarub mengiba.

Nawangwulan mengangkat alisnya, ternyata pria angkuh sepertinya bisa mengiba juga. Tapi tidak! Nawangwulan harus kembali.

“Jaga Nawangsari baik-baik.”

Angin kencang bertiup memaksa Tarub menutup matanya. Setelah keadaan tenang Tarub menoleh kesana kemari, berusaha mencari keberadaan istrinya tapi nihil. Nawangwulan sudah kembali ke kahyangan.

Jaka Tarub duduk lemas sementara Nawangsari masih di dalam pelukannya, menangis keras.

“Nawangwulan, kembalilah.” bisik Tarub. Tapi sang bidadari tak pernah kembali.

.
.
.

Nawangsari, gadis remaja berumur 16 tahun sedang berdiri di padang rumput yang luas. Tempat yang sama ketika ibunya kembali ke kahyangan 16 tahun silam.

“Nawangsari, apa yang sedang kau lakukan?”

Gadis itu menoleh, ayahnya, Jaka Tarub menatapnya dengan cemas.

“Aku mendengar sesuatu dari angkasa.”

“Itu cuma perasaanmu.”

Nawangsari menggeleng.

Gadis itu kembali menatap langit dengan pandangan sendu sementara Jaka Tarub menatap putrinya dengan rasa ngeri. Tubuh Nawangsari dililit sebuah selendang berwarna lembut.

Selendang yang sama yang membawa Nawangwulan kembali ke kahyangan.

“Mereka memanggilku untuk kembali, Ayah.”

#end

A Queen With A Broken Heart

Chapter 4

“Tuan puteri,”

Snow White menoleh dan melihat seorang pengawal yang memanggilnya barusan.

“Yang Mulia Ratu meminta anda untuk menemuinya di kamarnya,”

Snow White mengangguk paham.

“Perlukah saya menemani anda hingga-“

“Tidak perlu, aku segera menemui Ratu,” Snow White menolak cepat. Pengawal hanya mengangguk paham dan pergi dari sana.

Snow White menghembuskan napas, langkahnya terasa berat, tapi ia harus menemui Ratu. Entah apa yang diinginkan Ratu dari dirinya. Apa ia harus membersihkan kamar lain lagi? Atau mungkin tambahan tugas menyetrika seluruh koleksi gaun milik sang ratu? Snow White tidak berani membayangkan.

Dan disinilah gadis itu berada, di depan pintu kamar pribadi mendiang ayahnya dan ibunya, yang sekarang menjadi kamar pribadi Grunhilde. Snow White mengetuk pelan pintu kamar tersebut dan terdengar seruan masuk dari Ratu. Sang puteri masuk dengan perlahan.

“Snow White puteriku, kau tampak lelah,” Grunhilde menyambut Snow White dan memeluk gadis itu. Snow White membalas pelukan Ratu dengan kaku.

“Kau tampak kurus,” Ratu tersenyum sedih. “Aku baik-baik saja, terima kasih atas perhatian Ratu.” Snow White mencoba tersenyum, tapi entah mengapa senyumnya terasa kaku. Ratu mempersilahkan Snow White untuk duduk di kursi kecil dengan meja yang telah tersedia teh hangat dan penganan kecil.

“Aku memanggilmu kesini karena ada hal yang ingin kukatakan,” Grunhilde menuangkan teh hangat ke cangkir dan menyerahkan cangkir itu kepada Snow White. Snow White menghirup aroma teh tersebut sebelum akhirnya meminum pelan.

“Kau pasti kenal dengan Pangeran James bukan? Yang baru saja meninggalkan istana kita,”

Snow White hanya mengangguk kaku.

“Kemarin malam Pangeran James meminta izin kepadaku untuk membiarkan ia membawamu pergi bersamanya.”

Snow White mendadak kaku, akan tetapi Grunhilde melanjutkan dan mengabaikan sikap kaku Snow White. “Aku katakan pada Pangeran James, tentu saja, bahwa kaulah yang harus memberi jawaban. Apapun jawabanmu aku akan menerimanya. Tapi…”

Grunhilde menatap dalam kepada Snow White.

“… mengapa kau menolak untuk pergi bersamanya?”

Gadis itu terdiam, akan tetapi Grunhilde terus menunggu.

“Aku hanya…”

Grunhilde masih menunggu.

“Aku hanya… tidak mau pergi dari rumahku ini,” ujar Snow White kaku.

“Puteriku, aku tahu kau masih bersedih dengan kepergian ayahmu. Tapi kita harus melanjutkan hidup.”

Snow White memilih untuk menghirup tehnya dalam diam. Merasa tidak nyaman.

“Kesedihan telah mengakibatkan kau begitu kurus, puteriku. Dan aku tahu, aku terlalu keras kepadamu. Bekerja sebagai pelayan dan hidup sederhana. Kau tentu merasa menderita dan membenciku, bukan?” Grunhilde memasang wajah sedih dan terluka.

Snow White menggeleng pelan, “Bukan seperti itu. Aku sangat senang anda menyuruhku melakukan semua tugas ini. Aku jadi menyadari betapa aku terlalu dimanja oleh ayaku dan tidak bisa memahami penderitaan rakyatku yang miskin.”

Grunhilde mendesah, “Terima kasih sayangku. Tapi aku bisa melihat kau sangat kurus sekarang,”

“Aku tahu! Mungkin berlibur sejenak dari tugasmu akan membuatmu baikan. Tidakkah kau pikir begitu?” Grunhilde berseru semangat sementara Snow White hanya terdiam, tidak yakin harus menjawab apa.

“Apa kau pernah mendengar rumor mengenai pohon apel di hutan bagian barat?” Grunhilde kembali melanjutkan, mengacuhkan sikap dian Snow White.

Snow White mengangguk, ia pernah mendengar rumor yang mengatakan di bagian barat hutan terdapat sebatang pohon apel yang menghasilkan buah apel yang ranum dan harum. Konon apel itu sangat manis bagaikan madu dan memiliki khasiat membuat wajah cerah bagi para wanita. Tentu saja apel-apel ini adalah incaran favorit para gadis-gadis dan para wanita. Sayangnya karena sangat sulit menemukan pohonnya akhirnya buah apel tersebut juga sangat mahal.

“Bagaimana kalau kau berjalan-jalan ke hutan barat itu? Sekedar untuk beristirahat, beruntung kalau kau bisa menemukan buah apel itu,” Grunhilde mengusulkan dengan bersemangat.

“Tidak…Ratu… kurasa…”

“Tidak, tidak. Kau perlu beristirahat dan menghirup udara segar! Kau sangat kurus puteriku, mengerikan sekali. Berjalan-jalan tentu akan membuatmu lebih sehat.” Grunhilde tidak menanggapi keberatan Snow White.

“Akan kusuruh seorang pengawal menemanimu ke hutan barat. Ini pasti akan jadi perjalanan yang menyenangkan.” Grunhilde terus mengoceh, sementara Snow White tidak bisa mengucapkan apapun.

.

.

.

Disinilah Snow White berada, menggunakan gaun sederhana dengan jubah bertudung miliknya, tak lupa tas kecil berisi minuman dan sedikit bekal makanan selama perjalanan. Seorang pengawal pria bertubuh tegap dan kaku setia menemani Snow White. Mereka sedang berjalan di hutan barat. Sebenarnya hutan barat tidak terlalu jauh dari istana, hanya saja hutan itu sangat luas sehingga jika tidak terlalu penting para penduduk desa enggan mengunjungi hutan barat. Kecuali, tentu saja, kalau yang ingin mereka cari adalah apel berkhasiat itu.

Snow White melirik pengawal yang menemaninya. “Kau membawa terlalu banyak senjata,”

Pengawal tersebut menoleh kepada Snow White dan memandang sejata miliknya. “Hanya berjaga-jaga dari bahaya. Anda tahu kan Nona, hutan barat sangat luas.” Pengawal itu menyentuh kedua pedangnya dengan sekejap.

“Kau tampak tidak nyaman?” Snow White menatap pengawal itu yang merasa gelisah dengan baju zirahnya.

“Saya kepanasan,” pengawal itu menjawab sekenanya.

Snow White menghentikan langkahnya, mengambil dua potong kue dari dalam tasnya dan menawarkan satu kepada pengawal tersebut. Sang pengawal menggeleng, “Tidak, terima kasih.”

Snow White menggigit kue miliknya dan memasukkan potongan yang lain ke dalam tasnya, memandang pengawal itu dengan terperinci, atas dan bawah. “Kau bukan pengawal kerajaan, kan?”

“Kenapa kau berpikir begitu?”

“Semua pengawal kerajaan selalu berbicara dengan hormat padaku. Mereka selalu memanggilku Tuan Puteri,”

“Kalau begitu maafkan saya, Tuan Puteri. Hamba adalah orang baru,”

“Dan itu yang membuatmu semakin aneh. Semua pengawal baru akan diajarkan bagaimana menggunakan baju zirah secara nyaman dan akan diajarkan untuk hormat kepadaku dan Yang Mulia Ratu,” Snow White beranalisis.

“Kesimpulan anda?”

“Kau bukanlah pengawal kerajaan.”

Suasana hening. Sang pengawal menatap Snow White tajam, begitu pula sebaliknya.

“Apa yang kau inginkan?” Akhirnya pertanyaan itu dilontarkan.

Pengawal itu hanya mendesah, “Kau tentu tahu kan?”

“Kau berusaha membunuhku!”

Snow White bertindak cepat. Gadis itu mengambil batang pohon terdekat yang ada di tanah dan memukulkannya kepada pengawal itu. Pengawal tersebut terjatuh, merasa kesakitan tapi tidak sampai pingsan. Snow White memanfaatkan kesempatan itu untuk kabur dari sana.

Pengawal itu berusaha mengumpulkan tenaganya terlebih dahulu dan kemudian berlari untuk mengejar Snow White. Akan tetapi alangkah terkejutnya pengawal itu, Snow White tidak berlari menjauh darinya tetapi ia sedang menulis surat dengan santai.

“Apa yang kau lakukan?”

“Kau lihat sendiri kan? Aku sedang menulis surat untuk Ratu,”

“Kau tahu kan siapa yang memerintahkanku untuk membunuhmu?” ejek sang pengawal.

“Aku tahu,” Snow White masih terus menulis suratnya. “Tapi kupikir lebih baik aku tetap menulis surat untuknya. Meminta maaf atas semua kesalahanku.”

“Kau membawa alat tulis ke tengah hutan ini?” ejek sang pengawal yang sudah menarik pisau kecil miliknya.

“Aku sudah curiga sejak ia menyuruhku berjalan-jalan ke hutan.” gumam Snow White.

“Kau sudah tahu? Dan kau masih mau pergi ke hutan bersamaku?”

Snow White tidak menjawab dan terus menulis. Gadis itu mengakhiri goresan pena bulu miliknya, melipat surat itu dan menyerahkannya kepada si pembunuh. Pria itu melirik Snow White sekilas, menyentakkan surat itu hingga terbuka dan membacanya sekejap. Tak lama ia mendengus meremehkan.

“Kau serius menulis surat ini?”

“Berikan saja kepada Yang Mulia Ratu,” Snow White memasang wajah cemberut.

“Aku harus membawa jantungmu,”

Snow White mengangguk maklum, “Lakukan apa yang harus kau lakukan,”

Gadis itu memandang sekelilingnya dan menutup matanya secara pasrah. Sang pembunuh mencabut pisau miliknya, bersiap untuk menusuk jantung Snow White.

Pisau itu pun mengayun cepat.

Snow White mendengarkan bunyi pisau yang diayunkan, akan tetapi ia tidak merasa sakit. Gadis itu membuka matanya dan menatap heran, pembunuh itu malah menebas rumput dan bukan dirinya.

“Apa yang-“

“Bawa ini bersamamu, kalau kau kesulitan dalam hutan ini tiuplah batang rumput ini. Bunyinya akan memanggil kawan-kawanku dan mereka akan membantumu,” Pembunuh itu malah mengulurkan batang rumput yang cukup besar yang dilubangi di beberapa tempat.

“Aku tak paham, kupikir kau-“

“Pergi!”

Tanpa banyak bicara Snow White berlari dari tempat itu, menggenggam batang rumput yang diberikan kepadanya. Gadis itu berusaha menjauh dari istana dan tidak menengok ke belakang.

.

.

.

Grunhilde terduduk di singgasananya, menunggu dengan angkuh pembunuh yang menyamar menjadi pengawal kerajaan. Pembunuh itu memegang sebuah kotak kayu yang berukuran sedang dengan hati-hati.

“Kau telah melaksanakan tugasmu dengan baik?”

Pembunuh itu hanya diam, mengulurkan kotak kayu itu kepada Grunhilde. Grunhilde membuka kotak kayu itu, menatap jantung yang terletak di dalamnya.

“Aku telah melaksanakan tugas darimu. Sekarang ijinkan aku pergi.”

“Buru-buru sekali. Tidakkah kau mengiginkan emas bayaranmu?”

Sang pembunuh merasa tidak nyaman, “Membunuh seorang gadis, terutama seorang putri ternyata tidak semenarik yang aku duga.” Sang pembunuh membalikkan punggungnya dan bersiap pergi.

“Apakah kau benar-benar yakin ini adalah Jantung Snow White?”

Grunhilde bangkit dari singgasananya, suaranya menggelegar marah, matanya menatap tajam. Sang pembunuh berusaha tenang.

“Itu jantung miliknya.“

“Bodoh!” Kotak kayu itu menghantam dinding batu tepat di belakang sang pembunuh. Rupanya Grunhilde melemparnya karena yang terlihat di lantai batu sekarang hanyalah serpihan kotak kayu yang rusak dan sebuah jantung.

“Kau pikir kau bisa mengelabuiku? Grunhilde ini?” Grunhilde berjalan mendekati si pembunuh, sementara pembunuh itu hanya mampu menempelkan punggungnya di dinding batu. Ada aura yang gelap dan mencekam yang keluar dari diri Ratu sehingga sang pembunuh tak mampu bergerak apalagi mencabut senjatanya.

Grunhilde mencengkram rahang si pembunuh dengan kasar, “Dimana kau meninggalkan gadis itu?”

“Aku tak tahu maksudmu!”

“Dimana. Gadis. Itu?” Suaranya Grunhilde rendah, tatapan matanya berbahaya.

“Sudah kubilang-“

Ucapan sang pembunuh terhenti. Grunhilde menggunakan kekuatan sihir miliknya untuk memojokkan si pria pembunuh. Seakarang pria itu tercekik dan sangat sulit untuk bernapas.

“Aku tak akan mengulangi pertanyaanku lagi. Jawab!”

Wajah si pembunuh memutih, mulutnya komat-kamit, “Di… hutan… barat…,”

Grunhilde menembuskan tangannya ke dada pembunuh itu, si pembunuh hanya bisa melotot kaget. Dengan cepat Grunhulde menarik jantung si pembunuh. Ia tidak sempat merasakan apapun selain rasa kaget, berikutnya pandangannya menggelap dan tubuhnya merosot jatuh. Ia sudah tak bernyawa.

“Dasar bodoh!”

“Sekarang, apa yang akan kulakukan?”

Grunhilde berjalan diantara rak buku di kamarnya, menatap judul buku tersebut, meraihnya kemudian meletakkannya kembali ke tempatnya.

“PuterikKau telah melakukan hal yang tercela, puteriku! Membunuh seseorang yang tak ada hubungannya!”

Grunhilde tertawa lebar, “Kata-kata itu juga berlaku untukmu, Ibuku sayang!”

“Kau sudah memiliki kekuasaan penuh akan kerajaan. Apalagi yang kau cari?”

“Persis, itulah yang kucari. Pembalasan dendam, Ibuku tersayang. Aku mencari hal itu.”

“Apa gunanya membalaskan dendammu pada seorang gadis kecil?”

“Kau tidak akan pernah tahu bagaimana perasaanku Ibuku tersayang. Bukankah saat kau membunuh kekasihku kau ada disana? Menatap Edwardku tersayang dengan sinis meregang nyawa sementara aku memohon padamu untuk tidak membunuhnya? Ah ini dia!“

Grunhilde menemukan apa yang dicarinya, sebuah buku tebal berwarna hitam dengan bercak-bercak merah. Tidak ada judul di sampul buku itu akan tetapi kertas buku itu sudah kuning dan saling melekat, Grunhilde membukanya dengan hati-hati.

“Baiklah, jadi apa yang akan kugunakan? Oh, kutukan dalam buku ini sangat mengerikan!” Grunhilde memasang wajah semangat.

“Tentu saja, gadis seumurannya biasanya sangat menyukai pita yang cantik. Bagaimana menurutmu, Ibuku tersayang?” Akan tetapi sosok dalam cermin itu hanya terisak.

“Kuanggap kau setuju.”

Grunhilde mendekati perapiannya, kuali menggelegak menyala. Sang Ratu memasukkan bahan-bahan yang misterius, menghasilkan gelegak kuali yang menyala dan asap kuali berwarna abu menyeramkan. Tak lama kemudian cairan dalam kuali itu semakin lama semakin menyusut, meninggalkan sebuah pita cantik berwarna hijau daun di dasar kuali. Pita itu berkelap-kelip indah merayu gadis manapun untuk menggunakannya di kepala mereka.

“Sempurna,” bisik Grunhilde senang.

.

.

.

Keesokan paginya Grunhilde keluar dari istananya. Ia menyamar menjadi seorang nenek berwajah ramah, berjalan pelan-pelan menuju hutan barat dimana Snow White tinggal bersama pra kurcaci. Bukan hal yang sulit baginya untuk menemukan keberadaan gadis itu dengan kemampuan sihir miliknya. Di tangannya terdapat keranjang kecil berisi berbagai macam pita berwarna cantik, akan tetapi pita terkutuk itu diletakkannya di tumpukan paling atas.

Hari baru masuk siang ketika Grunhilde sampai di sebuah pondok kayu kecil dalam hutan. Dengan pelan Grunhilde mengetuk pintu pondok itu.

“Pita yang cantik, apakah ada yang mau membeli pita yang cantik?” Grunhilde berusaha mengeluarkan suara ramah yang menyenangkan. Cukup sulit juga mengingat selama ini ia selalu berbicara dengan nada datar yang dingin.

Tak ada jawaban. Grunhilde bermaksud mengetuk kembali pintu tersebut akan tetapi pintu itu membuka sedikit. Snow White mengintip dari dalam, matanya menatap penuh selidik.

“Ada perlu apa, Nek?”

“Hamba hanyalah seorang nenek tua yang mencari nafkah. Barangkali nona cantik bersedia membeli barang satu atau dua pita cantik milik hamba ini?”

Snow White melangkah keluar dan mengintip sekeranjang penuh pita cantik milik Grunhilde. Tatapan mata gadis itu kepingin, akan tetapi wajahnya sedih.

“Aduh sayang sekali, saya tidak memiliki uang.” Snow White bergumam getir.

“Begitu.” Grunhilde berpura-pura sedih. “Kalau begitu, setidaknya nona cantik ambillah satu pita milik hamba ini. Sebagai penyemangat oleh hamba bahwa pita hamba laku walau hanya satu.”

Snow White menolak, akan tetapi Grunhilde memaksa dan memelas karena itu Snow White terpaksa menerima pita tersebut. Gadis itu menerima pita yang dikatakan sebagai pita paling cantik dari semua pita milik nenek tersebut. Saat Snow White memasang pita itu di kepalanya, gadis itu merasa pusing,mendadak pandangannya menggelap dan napasnya terhenti.

Grunhilde tertawa keji, “Selamat tidur untuk selamanya, Snow White.”

.

.

.

PRANGG!

Grunhilde terengah, kamarnya berantakan sementara semua pajangan perak dan emasnya pecah berkeping-keping. Sang Ratu telah melepaskan samarannya dan bermaksud melihat keadaan Snow White dari bola kristal miliknya. Akan tetapi alangkah terkejutnya ia bahwa Snow White telah kembali hidup. Kutukannya telah gagal.

“Gadis tolol itu! Bagaimana mungkin ia bisa selamat?!”

“Sudah kukatakan Grunhilde. Jangan melakukan hal yang sia-sia!”

“Diam ibuku tersayang! Diam!”

“Meyerahlah.”

“Tidak! Aku tidak akan menyerah! Pasti ada caranya! Pasti!”

Grunhilde meraih kembali buku berisi kutukannya, meneliti dan membalik lembar buku tersebut. Matanya menelusuri isi buku itu dengan cepat dan berhenti di halaman yang dirasanya cocok. Tubuhnya langsung mengarah ke kuali yang menggelegak, melemparkan beberapa bahan ramuan secara kasar akan tetapi dengan urutan tertentu. Kuali ramuan tersebut memendarkan warna hijau tua yang menyilaukan, asapnya membumbung tinggi. Perlahan ramuan tersebut makin menyusut, meninggalkan sebuah benda di dasar kuali. Sebuah sisir rambut yang indah. Grunhilde memungut sisir itu.
“Kita akan lihat, apakah gadis itu mampu menghindar dari kutukan ini?”

.

.

.

Grunhilde frustasi. Amarahnya meledak. Saat ini kamarnya telah hancur berantakan. Halaman buku terlepas dari sampul bukunya, peralatan perak dan emas pecah berkeping, menyisakan pecahannya yang tajam di lantai batu yang dingin. Satu hal bisa dipastikan, kutukan sisir itu kembali gagal.

“Gadis itu! Aku akan membunuhnya! Pasti akan kubunuh! Aku hanya perlu mencari caranya saja!” gumam Grunhilde berkali-kali. Tak dipedulikan rambutnya yang kusut masai beserta gaunnya yang sudah berantakan.

Sebuah ketukan pelan terdengar dari pintu kamarnya.

“Sudah kukatakan aku tak mau diganggu!” sembur Grunhilde.

“Ma-maafkan saya Yang Mulia. Akan tetapi ada seseorang yang ingin menemui anda. Pangeran yang kemarin-” cicit sang pelayan malang itu.

Grunhilde menatap tajam pelayan itu. “Usir dia!”

“Ta..tapi…”

“Kubilang usir-“ saat itu Grunhilde seakan tersadar, bagaikan air dingin yang langsung menyiram kepalanya. “Apakah pangeran itu bertanya sesuatu mengenai Snow White?” Grunhilde menyambar pelayan itu, mengguncang tubuhnya.

“Be-benar Yang Mulia. Pangeran itu juga bertanya apakah ia bisa bertemu dengan Tuan Puteri Snow White.”

Grunhilde melepaskan genggamannya dari pegangan sang Ratu. Tubuhnya gemetar ketakutan dan bersender ke dinding batu. Grunhilde tampak berpikir keras sebelum akhirnya tertawa keras.

“Tentu saja! Aku bisa memanfaatkan situasi ini!”

Grunhilde menatap kembali pelayan tersebut, yang ditatap hanya bisa gemetar ketakutan. “Katakan kepada pangeran itu, aku menerimanya di aula istanaku.”

Sang pelayan mengangguk paham, hendak pergi dengan segera dari sana akan tetapi Ratu memanggilnya kembali. “Siapkan makanan yang lezat untuk pangeran kita itu. Kita tak bisa membiarkannya kelaparan, bukan?”

Grunhilde tersenyum. Senyum yang licik.


A/N: Yaaa…..apdet lagi ceritanya. Sorry ya kalau kesannya buru-buru, soalnya bulan puasa ini lagi banyak banget target yang dikejar. Tentu aja selain target amaliyah punya target menulis yang lain buat dikejar. Beberapa hari ini masih agak rempong ngatur waktunya…tapi seiring jalan moga-moga bisa jalan antara target amalan dan target nulis. Amin.

A Queen With A Broken Heart

Chapter 3

James hanya mampu membulatkan matanya, merasa kaget. Snow White sudah berdiri menunggunya tetapi bukan itu yang membuat James kaget. Sore itu penampilan Snow White agak berbeda dibanding biasanya. Ehm… lebih cantik, mungkin?

“Kau terlambat!”

Yah, ucapan sinisnya tidak berubah rupanya.

“Maafkan aku milady-“

“Ayo” Snow White melangkah pergi, tidak berminat mendengarkan alasan James. James terburu mengejar Snow White.

“Jadi, apa yang ingin kau lihat di luar istana ini?”

“Entahlah,” James mengangkat bahu sementara Snow White memutar matanya. “Mungkin kau bisa membawaku ke toko pita berkualitas tinggi?”

Seriously? Toko pita? Pangeran sepertimu tidak bisa mendapatkan pita di kerajaanmu sendiri?” Snow White mencemooh.

James menyeringai, “Bukankah kerajaan ini terkenal dengan produksi kain berkualitas tinggi?”

Snow White mendengus dan langsung berjalan ke satu arah, terlalu malas untuk meladeni percakapan Sang Pangeran. James hanya menatap Snow White yang melangkah cepat di depannya, gadis itu berhenti sesaat dan menoleh kearahnya, “Cepat Charming! Hari keburu gelap kalau kau berjalan lambat seperti itu!”

James menghela napas berat. Sepertinya sulit sekali memenangkan hati gadis ini.

.

.

.

Mereka berdua berdiri di depan sebuah toko yang lumayan rapi. Toko itu terbuat dari kayu, bukan dari batu ataupun bata seperti toko-toko yang ada di sekelilingnya. Akan tetapi toko itu memiliki jendela cukup besar yang memajang pita-pita berkilau dan kain-kain yang indah. James memandang Snow White dengan penasaran.

“Percayalah, toko ini menjual pita dengan kualitas tinggi dan merupakan favorit para gadis-gadis di kota ini.”

James mengangguk sementara Snow White melangkah masuk ke toko. Saat pintu dibuka suara bel pintu terdengar, menandakan kepada penjaga toko bahwa ada pelanggan yang masuk ke tokonya. Benar saja, sedetik kemudian seorang wanita berwajah ramah muncul dari belakang.

“Selamat datang! Ah, tuan puteri Snow White rupanya. Mari silahkan masuk!” ujar wanita itu ramah. Snow White membalas senyum wanita itu dengan senyum yang cantik, James melongo melihat senyum Snow White. Baru kali ini pemuda itu melihat senyum gadis itu. Sayang senyum itu bukan ditujukan untuk dirinya melainkan untuk penjaga toko ini.

“Dia ingin membeli pita dari toko ini, nyonya.” Snow White memberi isyarat dengan dagunya. James tersadar dari lamunannya tepat pada waktunya.

Nyonya penjaga toko memandang James. “Ah ya tentu saja. Untuk seseorang yang spesial kukira?”

“Begitulah.” James membalas santai.

Pemilik toko membawa James dan Snow White ke arah pita-pita berkualitas tinggi. Gulungan-gulungan pita yang demikian banyaknya dengan beraneka macam warna dipasang memenuhi sisi dinding.

“Silahkan pilih warna apapun yang anda inginkan,” ujar si pemilik toko.

James mengerutkan dahinya. Pita di toko ini sangat banyak dan punya berbagai macam warna pula. Bagaimana ia harus memilih pita yang sesuai?

“Ho ho, baru pertama kali membeli pita rupanya.” kekeh sang pemilik toko. Snow White juga ikut tertawa kecil.

“Yah, mohon maaf. Aku tidak ahli dalam hal beginian,” James menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Pemilik toko mengangguk paham.

“Kalau boleh aku tahu, apa warna rambut dan warna mata gadis yang akan kau berikan pita ini, Tuan?”

James berpikir sejenak, “Warna rambutnya bagaikan sinar matahari dengan warna bola matanya bagaikan warna langit yang cerah.”

Pemilik toko dan Snow White melihat ke arah jejeran pita yang dipajang dan meraih warna pita yang sesuai. Pemilik toko memilih pita berwarna biru muda seperti biru langit sementara Snow White memilih pita berwarna biru yang sedikit lebih tua dibanding yang sebelumnya.

“Mungkin warna pita yang sewarna dengan bola matanya akan sesuai jika dipasang di rambutnya,” ujar Snow White. Pemilik toko mengangguk setuju.

James memandang serius dua pita yang ditawarkan dan memilih pita yang dipilih oleh penjaga toko. “Kurasa warna matanya sewarna dengan warna pita ini,”

Pemilik toko mengangguk dan menarik pita itu hingga panjang tertentu dan mengguntingnya. “Ada lagi yang anda inginkan?”

“Yah, aku perlu satu pita lagi dengan warna yang sama.”

Pemilik toko kembali menarik pita itu dan mengguntingnya. James mengarahkan matanya melihat-lihat pita yang tersisa. “Silahkan jika anda menginginkan pita berwarna lain?” ujar pemilik toko.

Snow White berjalan ke arah yang lain dan memandang deretan kain berkualitas tinggi yang berjejer. Tangannya mengusap halus kain tersebut, merindukan kehalusan sutra dan kain berkualitas tinggi. Dulu saat ayahnya masih hidup kain berkualitas tinggi bukanlah hal yang langka karena semua gaunnya pastilah terbuat dari kain berkualitas tinggi dan halus. Sekarang setelah ia menggunakan gaun katun biasa Snow White jadi sadar betapa mewahnya kehidupannya yang dulu. Jujur ia merindukan semua kemewahan itu, tapi sekarang Snow White sadar. Rakyatnya tidak menggunakan sutra dan mereka masih mampu bertahan hidup, sebagai seorang putri kerajaan Snow White harus mencontoh rakyatnya. Well hukuman dari Ratu bukanlah hal yang buruk sebenarnya. Ia bisa mencoba lebih memahami rakyatnya.

“Ayo! Aku sudah selesai.”

Snow White tersadar dari lamunannya, James menenteng kantung kertas berisi pita yang baru dibelinya. Penjaga toko melemparkan senyum yang terlalu girang. Snow White jadi merasa aneh.

“Terima kasih! Silahkan mampir lagi tuan puteri!” ujar pemilik toko. Snow White melempar senyum terima kasih.

“Semoga sukses!” ujar pemilik toko lagi yang kali ini dijawab dengan acungan jempol dari James. Snow White merasa penasaran tapi memilih tidak bertanya.

“Baiklah, jadi apa lagi?” Snow White memandang James. Mereka berdua sudah di luar toko.

“Kau puterinya,” James memberi isyarat terserah pada Snow White. Jadilah mereka berdua berjalan-jalan mengelingi kota itu.

Kota ini sangat ramah, setidaknya begitulah pikir James. Para penduduk kota yang mengenal puteri kerajaan mereka menyapa ramah, beberapa bahkan memberikan buah gratis atau penganan kecil lainnya. Tak lupa Snow White membalas senyum ramah pada mereka semua. James entah mengapa merasa senang setiap kali gadis itu tersenyum.

Mereka berdua mampir ke berbagai toko, berbincang dengan pemilik toko atau sekedar berhenti dan menanggapi sapaan rakyat. Beberapa anak kecil bahkan tidak sungkan menarik tangan Snow White ke berbagai arah, meminta gadis itu bermain atau sekedar mencicipi kue yang dibuat untuk teman minum teh.

Saat ini James dan Snow White sedang duduk di pinggir alun-alun kota, menyantap roti hangat yang diberikan secara gratis oleh tukang roti. Roti tersebut gurih dan nikmat, enak sekali dimakan hangat-hangat.

“Kapan Anda pulang?”

James melirik Snow White, “Wow, terang-terangan sekali anda mengusirku?”

“Hanya mau tahu saja,” gumam gadis itu. James memilih tidak menjawab.

“Ada satu hal yang membuatku penasaran,”

Snow White melirik James dan kembali memakan roti miliknya, “Apapun pertanyaan itu akan lebih baik kalau kau tidak pernah menanyakannya.”

James tampak tidak puas akan tetapi Snow White keburu memotong, tampaknya sudah tahu hal yang ingin ditanyakan oleh James. “Apapun itu semua yang kulakukan ada alasannya.”

“Dan alasan itu adalah?” James mengejar.

Snow White terdiam sesaat, “Untuk menebus dosaku,” gumamnya enggan.

James mampu melihat bahwa Snow White berpura-pura bersikap seperti biasa, akan tetapi gadis itu memiliki beban yang lebih berat daripada yang terlihat.

Snow White bangkit dari duduknya secara tergesa, “Tak ada hubungannya denganmu. Lebih baik kita pulang sekarang sebelum hari tambah gelap,”

James memandang punggung Snow White yang semakin menjauh. Sebenarnya ada apa dengan gadis itu?

.

.

.

Snow White melangkah tidak tentu arah, pikirannya tidak fokus. Pikiran gadis itu berkelabat memikirkan Ibunya, Ayahnya dan Grunhilde- ibu tirinya.

Langkah Snow White terhenti, wajahnya menengadah menatap langit. Terlihat olehnya bintang dan dirinya baru sadar kalau hari telah gelap. Snow White mendesah dan terduduk di bangku kayu. Sepertinya posisinya sekarang berada di sisi lain kota yang jauh dari istana tetapi Snow White merasa malas untuk pulang ke Istana.

Entah berapa lama gadis itu terduduk di sana hingga akhirnya ia merasakan sebuah tangan menepuk pundaknya. Snow White menoleh dan mendapatkan James dengan napas terburu dan pucat.

“Kemana saja kau! Pergi begitu saja sampai gelap begini dan belum kembali ke istana!”

Snow White memandang heran.

“Kau tidak sadar? Sekarang sudah malam! Jalanan sudah sepi dan saat aku kembali ke istana para pelayan bilang kau belum kembali!”

Snow White baru tersadar, pantas saja langit terlihat sangat gelap. Gadis itu malah menyenderkan punggungnya ke senderan bangku kayu yang panjang. James mendudukkan diri di sebelahnya.

“Bagaimana kau bisa menemukanku?”

“Entahlah,” James mengangkat bahu. “Katakan saja aku pasti bisa menemukanmu kalau aku mau,” ujarnya sambil memandang Snow White dengan serius. Gadis itu memandang heran kepada James, sementara pemuda itu tampak tersipu malu mendengar kata-katanya sendiri.

“Yah, terima kasih sudah menemukanku.” Snow White melangkah pergi.

“Hei! Mau kemana?”

“Pulang ke istana.”

“Hei! Kau ini benar-benar tidak manis sama sekali!” James berteriak kesal tapi Snow White pura-pura tak mendengar.

.

.

.

Pasangan muda-mudi itu akhirnya sampai di istana. James menahan Snow White ketika gadis itu pergi menjauh untuk kembali ke kamarnya. Snow White menunggu James berbicara.

“Besok aku akan pulang ke kerajaanku,”

Snow White hanya mengangguk pelan.

“Apa kau tidak mau pergi denganku?” Ajakan yang berani dari James, wajah pemuda itu memerah sementara Snow White hanya memandang datar.

“Aku tidak bisa pergi dari sini,”

“Kau tidak perlu menjadi pelayan disini,” James berkeras.

“Aku punya alasanku sendiri, karena itu jangan memaksaku.” Snow White memandang tanah dengan sedih.

“Alasan apa?” James mengejar tapi gadis itu hanya terdiam. Melihat itu James menunduk, tidak tega untuk mendesak Snow White.

Gadis itu memandang lurus kepada James. “Semoga perjalanan anda besok menyenangkan, Prince Charming,”

Snow White melangkah cepat sementara James memandang gadis itu. Pemuda itu berkacak pinggang, “Aku punya nama Puteri, dan namaku James!”

James terlihat sangat jengkel tapi dalam hatinya pemuda itu mengakui kalau ia tidak keberatan dipanggil Prince Charming oleh Snow White.

.

.

.

Esok paginya, James benar-benar pergi dari sana. Setelah selesai sarapan, James berkemas dan berpamitan, tak lupa mengucapkan selamat tinggal kepada Snow White.

“Yakin kau tak mau ikut denganku?” James memastikan, akan tetapi Snow White tetap bergeming untuk tinggal disana.

“Kalau kau mau pergi dari sini, kau bisa datang kepadaku.”

Snow White mendengus, “Dan bagaimana caranya aku menemukanmu yang sedang berkeliling di dunia luar sana?”

“Kau tak perlu mencariku, akulah yang akan menemukanmu,” James menatap dalam Snow White. Dan baru kali ini Snow White menyadari mata pemuda itu yang berwarna abu, bagaikan menghipnotis gadis itu.

“Dimanapun kau berada, aku pasti akan menemukanmu,” dengan berani James meraih rambut Snow White dan menyelipkan rambut itu ke bagian belakang telinganya. “Pasti!” bisiknya meyakinkan. Snow White hanya mampu menunduk, wajahnya memerah dan entah mengapa terasa panas.

“Jangan menggodaku!” Snow White mendesis walau wajahnya memerah.

“Aku memang sedang menggodamu.” James mengaku.

Snow White melotot, “Kau pikir kau bisa menggodaku? Dasar playboy! Aku jadi kasihan dengan gadis yang kau belikan pita itu!”

James terbengong mendengar makian Snow White sebelum akhirnya teringat sesuatu dan tertawa keras.

“A-apa yang kau tertawakan?!”

James menyeka matanya yang berair karena terlalu banyak tertawa. Setelah menguasai diri ia kembali melontarkan godaannya, “Kau cemburu?”

Snow White merasakan wajahnya memanas, “A-aku tidak cemburu!”

“Kau cemburu!”

“Tidak!”

“Iya!”

“Tidak!”

“Iya!”

“Tidak!”

“Tidak!”

“Iya!”

Snow White terpaku sementara James menyeringai usil. Ingin sekali gadis itu menampar pangeran kurang ajar yang ada di hadapannya.

“Pulang sana!” sembur Snow White sementara James masih tertawa keras.

“Maaf, maaf. Tapi kau lucu sekali sih!”

Snow White memasang wajah tidak suka, James memasang cengirannya yang biasa. “Pita-pita itu kubeli untuk ibuku dan adik perempuanku yang sebentar lagi akan menikah. Jadi wajar kan kalau mereka adalah wanita yang spesial untukku?”

Snow White masih memasang wajah cemberut, tapi entah kenapa hatinya terasa lega. Kenapa, ya?

“Tapi aku memang membeli sesuatu untuk gadis yang kuanggap spesial,”

DEG!

Tiba-tiba hati Snow White terasa berat mendengar hal itu. Saat Snow White masih terdiam karena tidak tahu harus mengatakan apa tiba-tiba saja James telah memasangkan sebuah pita ke rambut Snow White.

“Kurasa pita yang spesial cukup untuk seorang gadis yang spesial,” ujar James lembut. Snow White memandang James yang tersenyum. Biasanya pemuda itu selalu memberikan cengirannya yang menyebalkan, tapi kali ini sang pangeran memberikan senyum yang benar-benar lembut untuk sang putri.

Tangan Snow White hendak meraih pita yang baru saja dipasangkan oleh James tapi sang pangeran menahan tangan gadis itu. “Jangan dilepas. Kurasa warna itu cocok untuk rambutmu yang berwarna hitam,” puji James. Snow White bertambah penasaran, memangnya apa warna pita yang James pasangkan di kepalanya?

James meraih tali kekang kuda miliknya dan memanjat naik. Ia memandang Snow White dari atas kudanya, “Ingat! Pita itu harus selalu bersamamu. Suatu saat aku akan datang lagi dan meminta kembali pita itu.”

Snow White cemberut, “Kalau begitu bawa saja pita ini! Kenapa malah jadi dititipkan kepadaku?”

James membuang muka dari Snow White, wajahnya memerah. “Bukankah harusnya kau yang lebih tau?!”

Snow White bertambah penasaran. Pemuda ini kenapa sih?

James mengulurkan telapak tangannya ke arah sang putri, secara refleks Snow White meletakkan tangannya di telapak tangan James. Sang pangeran mencium telapak tangan Snow White secara cepat dan kembali tegak di atas kudanya. Snow White hanya bisa terkejut.

“Jangan lupa. Aku pasti akan menemukanmu tak peduli di mana kau berada.” Setelah mengatakan itu James langsung memacu kudanya yang diikuti oleh pelayannya. Snow White terus menatap kepulan debu yang diakibatkan oleh kuda yang ditunggangi kedua orang itu hingga akhirnya hilang dari pandangan.

Snow White meraih pita yang dipasangkan James di kepalanya, pita itu terbuat dari bahan sutra berkualitas tinggi. Akan tetapi bukan itu masalahnya. Masalahnya warna pita itu adalah warna merah bagaikan warna darah.

Wajah Snow White memerah.

Dalam budaya kerajaannya, jika seorang pemuda memberikan sebuah pita berwarna merah dari bahan sutra kepada seorang gadis itu berarti adalah sebuah lamaran.

Snow White kembali memandang arah James pergi. Masa iya prince charming itu melamar dirinya?

to be continued


A/N: Ternyata ada yang baca cerita ini….kaget banget pas sohib kentalku komen dan nanyain lanjutan cerita ini. Yowiss… sudah ku apdet ya cerita lanjutannya. Lanjutannya In Shaa Allah dalam waktu dekat. Kalau lagi senggang dari target kejaran akhirat di bulan Ramadhan yaaa 😀

Snow White Fanfic: A Queen with A Broken Heart

Chapter 2

Karena Raja tidak memiliki saudara lain, sementara Snow White masih terlalu muda untuk menjadi seorang Ratu, maka Grunhilde dinobatkan sebagai seorang Ratu. Grunhilde menerima tanggung jawab yang berat itu. Setelah Grunhilde menjadi seorang Ratu, ia memerintahkan agar Snow White mengganti gaun kerajaannya menjadi gaun pelayan dan menempati kamar pelayan. Hal ini bertujuan untuk mendidik Snow White agar memahami kehidupan rakyat biasa, kilah Sang Ratu. Jika Snow White tidak mampu memahami kehidupan rakyat biasa, bagaimana mungkin Ia bisa menjadi ratu yang baik? Begitulah alasan Grunhilde.

Para pegawai Istana setuju dengan alasan Grunhilde, sementara Snow White tidak mampu membantah. Akan tetapi semakin lama semakin terlihat bahwa Ratu mulai bertindak semena-mena kepada Snow White. Sang puteri kecil itu diharuskan melaksanakan tugas pelayan yang berat dan hanya diberi makan ala kadarnya. Para pelayan berbisik-bisik bahwa Ratu yang kejam itu menindas Snow White dan menaruh kasihan. Terkadang mereka menggantikan tugas pelayan yang diberikan kepada Snow White, akan tetapi setelah Ratu mengetahuinya para pelayan itu dihukum dengan kejam. Karena itulah para pelayan tidak berani lagi menggantikan tugas Snow White. Snow White juga paham bahwa hukuman Ratu bisa sangat kejam hingga akhirnya ia tidak memperbolehkan para pelayan untuk menggantikan tugasnya.

.

.

.

Snow White sedang menimba sumur. Gadis berumur enam belas tahun itu sebenarnya sedang dalam perjalanan pulang dari belanja di kota. Akan tetapi di tengah jalan gadis itu merasa haus sehingga ia terpaksa mampir di sumur milik desa. Snow White tidak terlalu suka menimba air dari sumur, karena ia tidak begitu kuat menimba ember kayu yang berat. Akan tetapi rasa haus menderanya, terpaksa ia menimba air. Lengannya sakit dan rasa haus membuatnya pusing, ember kayu hampir mencapai atas bibir sumur. Rasa haus tak tertahan lagi saat tarikan tali sumur melemah, menyebabkan ember merosot kembali ke dasar sumur.

Ember kayu tidak jadi meluncur ke dasar sumur, seseorang telah menahan tali sumur tersebut. Snow White tidak mampu melihat orang yang menolongnya, kepalanya pusing sementara pandangannya menggelap. Seseorang itu menarik ember kayu, menyendok air dan mendekatkannya ke bibir Snow White. Snow White meminum dengan rakus. Ia tidak peduli sopan santun, rasa haus yang mendera benar-benar membunuhnya.

“Wow sabar, kau seperti tidak minum berhari-hari saja,” suara itu berusaha bercanda tetapi Snow White tidak peduli. Gadis itu terus meminum airnya hingga setengah air di ember kayu habis diminumnya.

“Wow, kau benar-benar haus.” ujar suara itu lagi.

Saat itulah Snow White baru bisa melihat jelas siapa yang menolongnya. Seorang pemuda berpakaian pengelana, akan tetapi entah kenapa pedang panjang terselip di pinggangnya. Tak jauh dibelakang pemuda itu juga terdapat seseorang yang sedang menahan dua kuda dan menatap bergantian antara dirinya dan pemuda di depannya. Sadar karena mungkin ia telah mempermalukan dirinya sendiri, Snow White mengibaskan pakaiannya dan meraih belanjaannya.

“Terima kasih telah membantu saya. Saya mohon pamit,” Snow White buru-buru pergi.

“Hei, hei, bagaimana kalau kuantar? Kau kelihatan… tidak terlalu sehat,” Pemuda itu menatap Snow White dengan tidak yakin. Wajar saja, wajah Snow White benar-benar pucat.

“Tidak perlu, terima kasih atas bantuan anda.” Snow White mempercepat langkahnya. Tak baik dirinya pergi belanja terlalu lama, apalagi menerima tawaran orang asing untuk mengantarkan dirinya kembali ke Istana.

.

.

.

Dan seperti yang sudah diduga, Ratu menghukumnya karena ia terlambat kembali ke Istana. Kali ini hukumannya adalah membersihkan kamar tamu Istana. Snowa White tidak paham mengapa ia harus membersihkan kamar tamu. Tapi bisik-bisik pelayan mengatakan bahwa istana mereka akan kedatangan tamu penting sore ini.

Tamu yang ditunggu tiba, tapi Snow White tidak tahu, gadis malang itu masih sibuk membersihkan tiap sudut kamar tamu. Benar-benar melelahkan, pikir gadis itu. Mungkin setelah semua tugasnya selesai ia akan pergi makan, mandi dan langsung tidur.

Pintu kamar terbuka, Snow White kaget dan menoleh ke arah pintu. Disana ia melihat pemuda yang menolongnya tadi siang. Pemuda itu juga tampak kaget melihat Snow White.

“Jadi kau pelayan di istana ini? Pantas saja kau tampak lelah setengah mati tadi siang,” sang pemuda langsung berjalan menghampiri Snow White. Sementara gadis itu hanya terdiam dan merapat ke dinding, tidak yakin harus bicara apa.

“Halo~ kau bengong, nona?“ pemuda itu melambaikan tangannya tepat di depan mata Snow White.

Snow White tidak yakin harus berbicara apa, karena itulah Snow White hanya bisa diam sambil mengamati sosok pemuda di hadapannya itu.

Pemuda itu berkacak pinggang, “Ada apa Nona? Belum pernah bertemu pria setampan diriku?”

Wajah pemuda itu dipenuhi seringai jahil. Tata krama istana mengajarkan bahwa memutar bola mata merupakan sikap yang sangat tidak sopan, karena itulah Snow White tidak memutar bola matanya karena kenarsisan pemuda itu. Akan tetapi Snow White mendengus kecil.

“Yah, wajar saja. Pelayan istana seperti dirimu pastinya jarang bertemu dengan pria tampan. Apalagi yang setampan diriku ini.” Pemuda itu merentangkan lengannya seakan mempertegas pernyatannya.

“Karena itu, silahkan pandangi wajah tampanku ini selama yang kau mau,” pemuda itu tersenyum memikat.

Snow White mengakui, jika dalam situasi biasa bisa saja dirinya jatuh cinta pada pemuda ini. Jujur wajahnya memang tampan. Tapi demi apa, kenapa pemuda ini narsis sekali?

“Jadi, apa kau sebegitu inginnya bertemu denganku sampai menungguku di kamar ini?” Pemuda itu memandang sekeliling.

“Aku sedang membersihkan kamar ini!” ketus Snow White dengan jengkel.

“Ah sayang sekali. Tapi kau sudah selesai membersihkannya?”

“Aku tinggal mengepelnya,” Snow White masih menjawab dengan ketus.

Pemuda itu memandang Snow White, “Tidak perlu dipel, aku mau langsung tidur saja. Lagipula kau hampir pingsan tadi siang jadi langsung saja beristirahat,”

“Aku tak bisa-“ Snow White hendak menyanggah, kelihatan sekali tidak setuju dengan ide itu.

“Nanti kalau ada yang bertanya padaku akan kujawab kau melaksanakan tugasmu dengan baik.”

Snow White cemberut. “Hei, aku sudah berbaik hati padamu, jadi sana. Sana.” pemuda itu mengibaskan tangannya bagaikan mengusir lalat. Snow White benar-benar cemberut.

“Kalau itu keinginan anda,” Snow White meraih peralatan bersih-bersihnya.

“Hei! Setidaknya bilang terima kasih padaku!”

Snow White mendelik sebal, “Terima kasih,” gumamnya ketus sebelum akhirnya keluar dari kamar. Pemuda itu menggeleng kepalanya, “Heran, gadis itu kasar sekali.”

“Tapi lumayan cantik,” gumamnya tak lama kemudian.

.

.

.

Snow White tiba di kamar makan pelayan dengan terhuyung, perutnya lapar dan tubuhnya lelah. Belum lagi tingkah si tamu yang narsis sekali, benar-benar lelah mental dan fisik. Tanpa banyak omong Snow White meraih makanannya dan meneguk air sepuasnya.

“Tuan Puteri, apa kau tadi bertemu dengan tamu itu?” seorang pelayan tua menghampiri Snow White yang hanya dijawab dengan anggukan lemah.

“Putriku, ternyata ia adalah seorang pangeran dari negeri sebelah. Tadi hamba mendengarnya saat Ratu berbicara padanya,”

Tak ada jawaban dari Snow White, ia hanya berusaha menghabiskan makan malamnya. Lagipula ia tidak mau mengingat betapa tinggi tingkat narsis pangeran itu.

“Sungguh terlalu Yang Mulia Ratu! Bahkan disaat ada tamu seperti ini ia tidak memperkenalkan Anda dengan pangeran itu!”

“Bibi…” Snow White memanggil lirih. Yang ia butuhkan saat ini adalah tempat tidur yang nyaman. Tidak perlu ditambah dengan gosip yang aneh-aneh terutama tentang pangeran itu.

“Aduh Tuan Puteri, Anda terlihat lelah sekali. Sebaiknya anda segera istirahat.”

Snow White menyuapkan sendok terakhir, meneguk air miliknya untuk kemudian langsung ke kamarnya. Tak lupa ia mengucapkan selamat malam kepada semua pelayan yang ada disana. Snow White langsung rebah ke tempat tidur, melupakan mandi yang seharusnya dilakukannya.

.

.

.

Snow White menimba air lagi, wajahnya kecut sementara peluh berulir dari dahinya. Gadis itu benar-benar benci menimba air, tapi karena pagi ini gadis itu kebagian tugas untuk mencuci baju mau tidak mau Snow White harus menimba air. Cucian bajunya tidak begitu banyak, karena para pelayan diharuskan mencuci baju mereka masing-masing, tapi tetap saja Snow White harus menimba air. Andai saja air bisa langsung memancar dari bawah tanah yang sayangnya baru bisa terjadi entah berapa ratus tahun lagi.

“Jadi kau ada disini?”

Snow White mengalihkan pandangannya ke sumber suara akan tetapi tangannya terus mencuci baju. Pangeran yang kemarin memandangnya tak jauh dari tempat Snow White mencuci baju.

“Mau apa anda disini?”

“Hanya penasaran dengan sosok puteri kerajaan ini,”

Snow White mendelik, “Anda mengejekku?” jelas sekali nada jengkel. Karena saat ini Snow White benar-benar berantakan, busa cucian dan keringat menempel pada pakaian dan rambutnya. Benar-benar tidak kelihatan anggun sama sekali.

“Apa sekian lama menjadi pelayan istana membuat anda melupakan tata krama kerajaan?”

Snow White mendelik tajam tapi berusaha mengabaikan sindiran itu. Dengan sembarangan gadis itu menyelesaikan kegiatan mencuci pakaiannya dan cepat-cepat pergi dari sana.

“Tunggu… tunggu, aku cuma bercanda.” pangeran itu mengejar dan menghalangi jalan Snow White. Snow White tidak menggubris dan berusaha melangkah ke depan. Akan tetapi setiap Snow White berusaha melangkah Pangeran itu selalu menghalangi langkah Snow White.

“Baiklah pangeran tampan, aku punya banyak pekerjaan.” Snow White mendesis dibagian tampan sementara pangeran itu menyeringai.

“Pergilah dari sini sebelum aku memanggil pengawal untuk mengusirmu,” lanjut Snow White.

Pangeran itu hanya terkekeh. “Aku punya nama, Anda tahu. Namaku James-“

“Tak peduli! Charming sesuai untukmu.” Snow White langsung memotong, James mengangkat kedua alisnya, terkekeh pelan. “Sekarang, jangan ganggu aku, Charming!

James terkekeh, “Bukan begitu caranya memperlakukan seorang pangeran,”

“Oh, lalu apa ini caramu untuk mendapatkan perhatian seorang gadis?”

James menatap Snow White. “Kau pandai berbicara,”

“Luar istana mengajarkan banyak hal padaku,” Snow White hendak pergi dari sana tapi buru-buru dicegah kembali oleh James.

“Aku butuh seseorang untuk mengantarkanku berkeliling luar istana,”

Snow White mengangkat alisnya. “Dan alasan apa yang membuat anda memilih saya?”

“Karena kau puteri kerajaan ini,”

“Dan siapa yang mengatakan kalau akulah puteri kerajaan ini?” Snow White menyipit curiga.

James mengangkat bahunya, “Beberapa koin emas cukup membuat pelayan dan pengawal istana berbicara.”

Snow White membelalakkan matanya. Astaga, ternyata pelayan istana dan pengawalnya mudah sekali disuap dengan koin emas.

“Ayolah, gosip menarik beredar ke negeri tetangga. Puteri Snow White yang cantik dengan kulit seputih salju-“ James memandang lekat wajah Snow White yang walau pucat tetap saja menguarkan aura kecantikan tersendiri.

“- rambut sehitam eboni-“ James memandang rambut hitam Snow White yang berkilau.

“- dan bibir semerah darah. Siapapun juga akan langsung tahu jika melihatmu.” Yak, James mulai terpikat dengan kecantikan Snow White. Gosip yang beredar memang tidak salah. Malahan Tuan Putri yang ada di hadapannya ini jauh lebih menawan dibanding gosip yang didengarnya.

Snow White masih terdiam, seakan menimbang apakah pemuda yang ada di hadapannya ini pantas untuk dipercaya.

“Apakah ini berarti kau menerima ajakanku?” James memutuskan dengan sepihak.

“Aku punya banyak kerjaan yang lebih penting.”

“Ayolah~ ini juga tugas penting karena terkait misi diplomatik dua kerajaan.” James mulai berkilah. Apapun yang terjadi James harus berhasil mengajak gadis ini jalan-jalan ke luar istana. Tak peduli harus menggunkan cara licik sekalipun.

Snow White masih diam dan kali ini menatap curiga kepada James.

“Atau haruskah aku laporkan pada Ratu bahwa Puteri Snow White berusaha menggagalkan misi diplomatik kerajaan?”

Snow White melotot kepada James, “Kau mengancamku?”

“Jika itu bisa membuat Anda mau jalan denganku,” James mengangkat bahu dan terkekeh, kentara sekali menyeringai puas. Snow White memandang sebal.

“Jadi?” James mendesak.

“Hanya karena untuk misi diplomatik,” Snow White menjawab dengan sebal.

James tersenyum puas.

“Sore hari kutunggu di depan gerbang Istana. Dan aku benci orang yang terlambat!” Snow White menoleh sekilas dan melanjutkan langkahnya. James tak lagi menyembunyikan seringai lebarnya dan malah mulai berjingkrak senang.

.

.

.

Grunhilde melihat semua itu dari jendela kamarnya di istana atas, matanya menatap dingin pada Snow White dan Pangeran James.

“Kau tidak bisa lagi menyembunyikan kecantikan gadis kecil itu.”

Grunhilde tidak mempedulikan ucapan tersebut, akan tetapi matanya memancarkan sinar yang dingin.

“Aku tidak tertarik dengan kecantikan gadis itu,” Grunhilde memutar tubuhnya, menatap cermin besar yang aneh.

“Lalu apa yang kauinginkan?” Suara itu muncul dari dalam cermin, menampilkan sesosok wajah pucat bagaikan topeng.

“Oh Ibuku tersayang, kau pikir apa alasan aku mengutuk dirimu menjadi cermin seperti ini?” Grunhilde tersenyum, “Dikutuk selamanya untuk menjadi cermin yang tak mampu berbuat apapun.”

Grunhilde berputar dalam kamarnya. “Tak menyangka bahwa anakmu, yang mewarisi kekuatan sihirmu akan tega menggunakan kekuatannya untuk mengutuk ibunya sendiri.” Grunhilde tertawa terkekeh.

“Grunhilde, kau tahu aku hanya ingin membuatmu bahagia!”

“Diam!” Grunhilde melemparkan gelas kaca ke cermin tersebut akan tetapi hanya gelas itu yang pecah berkeping sementara cermin tersebut tidak rusak sama sekali.

“Kau ingin aku bahagia? Memaksaku menikah dengan Raja? Bekerja sama dengan pria terkutuk itu dan membunuh kekasihku?!”

“Grunhilde, Raja sangat mencintaimu-“

“Dia bukan cinta sejatiku!” jerit Grunhilde, rambutnya berantakan sementara napasnya terengah.

“Hanya Edward… hanya dia… cinta sejatiku…” Grunhilde terduduk di lantai. Air mata mengalir di pipi ratu muda itu, napasnya terisak.

“Dan Snow White tolol itu merasa dewasa dan ikut campur urusanku. Harusnya dulu aku membunuhnya…. yah, harusnya aku membunuhnya. Gadis tolol itu membuka mulut terlalu lebar hingga akhirnya Raja dan kau membunuh Edwardku!”

“Grunhilde, kau tahu aku sangat mencintaimu.”

Grunhilde menatap tajam cermin tersebut. “Kau tidak mencintaiku Ibuku tersayang. Kau terlalu mencintai kekuasaan.”

“Grunhilde, kumohon jangan terus menambah dosamu,” sosok di cermin tersebut mulai terisak.

“Semua sumber kebencianku harus kulenyapkan. Raja bodoh itu sudah mati dan Ibuku tersayang, kau sudah tak berdaya. Sisanya, tinggal gadis tolol itu.”


A/N: Hai…hai…sekarang entah kenapa lagi seneng nulis cerita fanfic ini. Sebenernya ide cerita ini ada yang sedikit kuambil dari drama tv Once Upon A Time dari ABC TVs sih…cuma karena belom pernah nonton filmnya secara full dan cuma nonton per part jadinya saya juga gak tau apakah cerita yang sekarang ini ditulis bakal sama banget sama filmnya atau enggak. Kalau sama banget maap deh…itu semua unsur ketidak sengajaan kok 😛 yang penting saya udah tulis disclaimernya kalau emang mirip banget.

Snow White Fanfic: A Queen With a Broken Heart

Chapter 1

Empat bulan telah berjalan sejak kematian Ratu Baik Hati.

Sebagai seorang anak, Snow White cukup dewasa dan bijak bila dibandingkan dengan anak sebayanya. Tentu saja gadis kecil itu hanyalah seorang gadis kecil berumur empat belas tahun, tapi ketajaman mata dan kebaikan hatinya terkadang membuat sang Raja lupa, bahwa Snow White masihlah seorang gadis kecil yang membutuhkan kasih sayang seorang Ibu. Bila bukan karena Perdana Menteri yang mengingatkan, bahwa Snow White hanyalah gadis kecil yang masih membutuhkan permainan, tentu Sang Raja lupa bahwa gadis kecil itu masihlah anak-anak.

“Perdana Menteri, bagaimana pendapatmu mengenai putriku, Snow White?”

Saat itu adalah senja yang indah, sinar senja jatuh ke atap Istana, membuat semburat senja semakin terasa indah. Sang Raja yang sedang berjalan santai dengan Perdana Menteri mengawasi Snow White yang sedang membaca buku di halaman bawah Istana.

“Di masa depan nanti, tak akan diragukan lagi Ia akan menjadi Ratu yang baik dan bijaksana bagi rakyatnya.” Perdana Menteri memandang Snow White dengan sayang. Bagi Perdana Menteri yang telah udzur itu, Snow White bagaikan cucu kandungnya sendiri.

“Benar.” settitik rasa bangga terselip dalam jawaban Sang Raja.

“Dan ingatlah Yang Mulia, tak peduli sebijaksana apapun Sang Putri, ia tetaplah seorang gadis kecil yang kesepian.”

Sang Raja mengangguk pelan, pertanda setuju. “Apa saranmu, Perdana Menteri?”

Perdana Menteri adalah orang yang pintar. Ia tahu bahwa Raja hanya bertanya berbasa-basi saja. “Yang Mulia lebih memahami kebutuhan gadis kecil itu,”

Sang Raja kembali mengangguk. Hening menyelimuti mereka berdua. Matahari semakin tenggelam, menyapukan kuas merah di langit yang biru. Snow White sudah tidak terlihat lagi di halaman bawah, sementara para pelayan dan pengawal sibuk menyalakan penerangan obor dan lilin.

“Aku akan menikah lagi.” Sang Raja bergumam lambat.

.

.

.
Pengumuman pun disebar. Bagaikan api merambat pada jerami kering, seluruh Negeri sudah mengetahuinya, Sang Raja sedang mencari Istri.

Rakyat bergairah mengikuti berita ini, menjadikan setiap sudut bar penuh hanya dengan masalah Raja yang mencari Istri baru. Para Bangsawan sangat bersemangat, merupakan kesempatan emas untuk menjadi bagian keluarga Raja. Para rakyat biasapun tidak ketinggalan bergairah, menerka dan bertaruh siapa yang akan beruntung menjadi istri Raja.

Snow White tidak terkejut mendengar berita ini. Beberapa hari sebelumnya, Sang Raja telah meminta izin kepada dirinya untuk mengangkat permaisuri baru. Bagi Snow White pun hal ini pasti akan terjadi, jauh sebelum Raja meminta izin pada dirinya. Snow White memahami, Ayahnya masih muda dan belia tentu memerlukan seorang pendamping yang sesuai untuk dirinya. Selain itu, tidak lengkap rasanya bila seorang Raja bertahta tanpa seorang Ratu, menandakan kecacatan negara dan tidak becusnya Raja tersebut.

Karena itulah, dengan senyum pengertian ia mengabulkan permohonan Raja.

Pemilihan calon Ratu digelar. Berminggu-minggu dan berbulan-bulan yang melelahkan, akhirnya tersisa tiga putri bangsawan yang jelita dan anggun. Masing-masing memiliki kelebihan sehingga sulit untuk memutuskan yang mana. Untuk mengatasi hal ini, Raja beserta Snow White memutuskan untuk mengunjungi masing-masing putri di kastil mereka.

Rencana perjalanan sudah diatur. Bagi Snow White yang lama tidak keluar Istana sejak kematian ibunya, Sang Ratu Baik Hati, tentu ini akan menjadi pengalaman yang menyenangkan. Sang Raja pun merasa puas melihat putrinya dalam keadaan senang. Setelah satu hari perjalanan, rombongan itu akhirnya tiba di kastil pertama, dimana calon Ratu bernama Putri Grunhilde. Kedatangan rombongan Raja itu tentu saja disambut dengan meriah oleh penghuni kastil, tak terkecuali Putri Grunhilde sendiri. Akan tetapi Snow White mampu melihatnya, Putri Grunhilde tidak tersenyum tulus melainkan hanya tersenyum karena suatu kewajban saja. Meskipun begitu Snow White tidak mengatakan apapun dan bertekad untuk terus memperhatikan salah satu calon ibunya yang baru itu.

.

.

.

Makan malam digelar dengan mewah dan Snow White beserta Raja dijamu dengan baik. Kecantikan Grunhilde dan kepiawaiannya dalam bermusik dan bersajak menarik perhatian Raja. Apalagi Grunhilde Grunhilde merupakan wanita yang paham mengenai topik politik dan seni berperang, menjadikan Raja memberi perhatian lebih kepada Grunhilde.

Snow White justru menangkap hal yang sebaliknya, memang benar Grunhilde memiliki perilaku dan pengetahuan yang sesuai untuk menjadi seorang Ratu, akan tetapi Snow White menangkap perasaan tak berminat dibalik sikap ramah Grunhilde. Dan hal ini baru diketahui oleh Snow White, malam sebelum kepulangannya dari kastil itu.

Malam itu begitu gelap, rembulan bersembunyi di balik awan. Angin berhembus kencang, memastikan setiap manusia akan terlelap nyaman di permbaringan mereka. Akan tetapi Snow White tidak mampu memicingkan matanya walau hanya sekejap. Karena itulah ia memutuskan untuk berjalan-jalan sejenak. Dan disanalah Snow White mengetahuinya, kenyataan sikap dingin dibalik perilaku ramah Grunhilde.

Dibalik semak dan pepohonan, Grunhilde berpelukan erat dengan seorang pria. Snow White tidak mampu melihat jelas akan tetapi sepertinya pria itu salah seorang dari pengawal kastil. Snow White berusaha mengendap pergi dari tempat itu, berusaha tidak menimbulkan bunyi berisik. Saat Snow White kembali menengok untuk melihat terakhir kalinya, Grunhilde berciuman mesra dengan pengawal itu. Snow White berlari cepat menuju kamarnya.

Akhirnya, terjawab sudah sikap dingin Grunhilde kepada ayahnya.

.

.

.
Kastil sedang sangat sibuk pagi ini. Selepas sarapan, Raja dan Snow White akan meninggalkan kastil ini menuju kastil calon permaisuri lainnya. Akan tetapi diwaktu sesibuk itu, Snow White mampu menemukan Grunhilde.

“Putri Grunhilde,” Snow White membungkuk hormat.

“Ah, Tuan Puteri Snow White. Sungguh kehormatan bertemu Tuan Puteri di waktu sesibuk ini,” Grunhilde tersenyum ramah. Benar-benar ramah di mata Snow White.

“Begitulah. Apakah Anda tidak keberatan jika kita berjalan sebentar?”

Grunhilde menaikkan alisnya, akan tetapi mengikuti keinginan Snow White. Mereka berjalan santai mengelilingi taman kastil, menuju kebun mawar yang rupanya belum berbunga subur.

“Sayang sekali, tapi memang saat ini belum waktunya bunga mawar ini mekar dengan indah.” Grunhilde menjelaskan. Snow White hanya tersenyum pilu.

“Apakah ada hal yang ingin anda katakan kepada saya?” Grunhilde memancing Snow White.

Snow White memandang lekat Grunhilde, sebelum akhirnya memberanikan diri untuk bertanya. “Menurut Anda, bagaimana Ayah saya?”

Grunhilde menatap kebun mawar, tetai pikirannya mengembara ke tempat lain. “Sebagai seorang Raja, beliau adalah Raja yang luar biasa untuk rakyatnya.”

“Sebagai seorang Pria?”

Grunhilde menatap dalam kepada Snow White, berusaha memilih kalimat. “Beliau adalah pria yang baik.”

Snow White kembali menatap kebun mawar. “Apakah anda mencintai ayahku?”

Hening. Grunhilde tidak mampu menjawab.

“Kau mencintai orang lain.”

Grunhilde menatap Snow White, aura dewasa dan kebijaksanaan menguar dari pribadi Snow White.

“Tidak masalah bagiku. Cinta tidak bisa dipaksa. Jika anda tidak mau menikah dengan ayahku karena ada pria lain yang lebih anda cintai, itu tidak masalah.”

Grunhilde memandang Snow White tidak percaya. “Anda bercanda!” tuduh Grunhilde.

Snow White tertawa, “Aku serius.” Grunhilde hendak menyanggah akan tetapi seorang pelayan menginterupsi pembicaraan mereka dan meminta agar mereka berdua menuju ruang makan. Snow White dan Grunhilde mengikuti pelayan tersebut, akan tetapi Grunhilde tidak mampu menyembunyikan kegelisahan hatinya.

.

.

.
Snow White dan Sang Raja bersiap menaiki kereta kuda, mereka dilepas oleh Putri Grunhilde dan bangsawan lainnya. Grunhilde terus memandang Snow White sementara yang ditatap hanya tersenyum lembut. Sang Raja juga terus menatap Grunhilde dan tidak mendengarkan apapun.

Kereta kuda sudah tiba, para bangsawan memberi hormat kepada Raja dan Snow White yang dibalas anggukan kecil. Raja mengecup punggung tangan Grunhilde yang dibalas dengan senyum yang malas-malasan. Grunhilde mencuri kesempatan untuk berbisik kepada Snow White, “Tolong rahasiakan semua pembicaraan kita,” Snow White memandang Grunhilde dan mengangguk pelan.

Kereta Kuda semakin menjauh, akan tetapi Grunhilde terus memandang rombongan tersebut. Hatinya merasa gundah akan tetapi dirinya memaksa untuk percaya bahwa Snow White akan memegang janjinya.

.

.

.

Snow White dan Sang Raja telah kembali ke Istana, telah menyelesaikan perjalanan mereka untuk menemui calon Permaisuri lainnya. Perjalanan yang sia-sia, pikir Sang Raja, karena hatinya telah tertambat erat pada Grunhilde. Saat ini Raja sedang duduk di meja makan, menunggu Snow White yang sedang bersiap-siap untuk bergabung dengannya. Tak lama kemudian Snow White memasuki ruangan dan duduk berdekatan dengan Raja.

Para pelayan kerajaan membawakan hidangan makan malam yang mewah, disajikan dalam piring perak dan emas yang cantik. Sang Raja memutuskan untuk menceritakan keputusannya kepada putrinya.

“Snow White, menurutmu bagaimana para calon Permaisuri yang telah kita temui?”

Snow White memandang ayahnya dan mencoba memilih kata dengan tepat. “Mereka bertiga memang calon permaisuri yang cukup cakap untuk menjadi istri Ayahanda sekaligus pendamping seorang Raja negeri ini.”

“Lalu, kau menyukai siapa dari mereka bertiga?”

Snow White merenung, dahinya berkerut. “Putri Kedua, putri Ariana.”

Wajah Raja tampak kecewa. “Begitukah? Tapi kulihat kau sangat akrab dengan Putri Grunhilde.”

Snow White menghentikan gerak pisau dan garpunya, “Kami hanya berbincang sebentar.”

“Lalu, bagaimana menurutmu kemampuan Grunhilde untuk sebagai seorang Ratu?” Raja terus mengejar, jelas sekali tertarik dengan Grunhilde dan tidak mengindahkan pendapat Snow White.

“Putri Grunhilde memang mempunyai kecerdasan yang baik sebagai seorang Ratu, tapi saya pikir ia tidak akan sesuai untuk menjadi isteri ayahanda,”

Raja meletakkan pialanya dengan suara keras, nada bicaranya setingkat lebih meninggi. “Menurutmu apakah aku tidak pantas untuk Grunhilde?”

Jantung Snow White berdetak dengan kencang, sepertinya Ia telah salah langkah. Akan tetapi gadis kecil itu berusaha meneruskan, “Apakah Ayahanda tega memisahkan cinta sejati?”

Dan saat itu Sang Raja tersadar, putrinya mengetahui sesuatu yang tidak ia ketahui. “Apa maksudmu?”

Snow White tidak menjawab pertanyaan ayahnya dan memilih berkonsentrasi pada makanannya. Sebenarnya ia mendengar pertanyaan ayahnya, tapi Snow White telah bersumpah untuk tidak menceritakan mengenai Grunhilde kepada siapapun, termasuk kepada ayahnya sendiri.

Sang Raja menatap tajam ke arah putrinya yang masih keras kepala dan diam. Raja meneguk minuman dari pialanya, bertekad untuk mencari tahu apa maksud putrinya.

.

.

.

Tiga bulan berlalu, Grunhilde datang ke Istana beserta iringan pengawal kerajaan. Kedatangannya disambut dengan wajah sumringah Raja dan Snow White yang kebingungan. Bertanya-tanya mengapa Grunhilde bersedia datang ke Istana untuk menikah dengan ayahnya.

Grunhilde keluar dari kereta kerajaan, disambut oleh uluran tangan Raja dan tak lupa kecupan di punggung tangannya. Sementara Snow White membungkuk hormat, karena wanita itu akan menjadi seorang Ratu. Raja tampak jelas sangat bahagia dan menawarkan diri untuk mengantar Grunhilde berkeliling Istana, menampik tawaran pelayan Istana untuk menunjukkan dalam Istana kepada putri yang baru tiba itu.

Hari baru saja memasuki malam ketika akhirnya Snow White diperintahkan untuk mengantarkan Grunhilde ke kamarnya. Besok adalah waktunya pernikahan, Raja tidak ingin Grunhilde terlalu lelah untuk pernikahan besok.

“Putri Grunhilde, mengapa anda mau menikah dengan ayahku? Bukankah…” Snow White tidak mampu lagi membendung rasa penasarannya, tetapi gadis itu juga tidak mampu menyelesaikan kalimatnya.

Grunhilde menatap Snow White serius sebelum akhirnya tersenyum, “Tidak masalah, Ia telah meninggalkanku.”

Snow White tidak menyembunyikan keterkejutannya, “Mengapa?”

“Kurasa… ia tidak mampu untuk terus berada di sisiku.”

Snow White memandang Grunhilde, mengharapkan penjelasan akan tetapi tidak ada kata apapun yang terucap dari Grunhilde.

“Nah Putri Kecil, terima kasih telah mengantarkanku sampai ke kamar. Kurasa bukan hanya aku saja yang perlu beristirahat, tapi kita berdua memerlukannya.”

Grunhilde mngusirnya secara halus.

“Saya mohon pamit,” Snow White undur diri. Grunhilde membalas dengan tersenyum, memasuki kamarnya.
.

.

.

Pernikahan antara Raja dan Grunhilde diselenggarakan secara besar-besaran. Siapa yang bisa melupakan pernikahan antara seorang Raja yang gagah dengan Permaisurinya yang jelita? Semua itu adalah kebahagiaan yang sangat besar. Bukan hanya untuk keluarga kerajaan tetapi juga untuk seluruh rakyat.

Akan tetapi saat yang membahagiakan itu harus berakhir.

Sang Raja jatuh sakit. Entah apa penyebabnya bahkan dokter seluruh penjuru kerajaan tak mampu menemukan penyebabnya. Akhirnya dapat diduga, setelah sebulan jatuh sakit akhirnya Raja menghembuskan napas terakhirnya. Meninggalkan Snow White yang berumur lima belas tahun dan Grunhilde yang baru satu tahun dinikahi.

Seluruh kerajaan berduka, akan tetapi Snow White dan Grunhilde jauh lebih bersedih. Pemakaman baru saja digelar, Snow White dan Grunhilde belum melepaskan gaun pemakaman mereka.

“Sekarang hanya ada kita berdua,” Grunhilde berucap lirih. Air mata masih mengalir pelan dari pipi Snow White. Grunhilde menggenggam tangan Snow White, “Kita akan melewati semua ini,” ujar Grunhilde yakin. Snow White memandang Grunhilde, memandang sepasang mata yang teguh, gadis kecil itu mengangguk pelan. Mereka berdua saling berpelukan.

.

.

to be continued


A/N: Yak, dateng lagi cerita baru dengan settingan dongeng pilihan Snow White. Dibuat dalam rangka Challenge IOC Writing: Reason behind the villain sama hutang OWOP: POV Antagonis. Sementara Chapter 1 dulu dan deadline sampai akhir bulan Mei. Jadi yaa In Shaa Allah bulan ini beres kok. Tunggu aja lanjutannya…

Razia Dompet Kempes

Perhatian!

Sedang dilaksanakan Operasi Dompet Kempes!

Terima kasih atas perhatian Anda.

Ttd, Skuadron Semut

.

.

Hari ini tanggal tua. Atau dengan kata lain akhir bulan. Atau dengan kata lain, hari gajian!

Tapi sayangnya gaji yang ditunggu-tunggu belum datang. Hanya Allah SWT dan para atasan saja yang tahu alasan kenapa gaji kami datang terlambat. Meski begitu kami tetap sabar. Malahan saking sabarnya kami berusaha jajan dengan makan mi goreng sambil mengajukan proposal yang Subhanallahsuper sekali.

“Operasi dompet kempes?” Komandan kami, Andre, membeo.

Ridwan, yang diangkat jadi ustad angkatan dan juru bicara dadakan menganggukkan kepalanya dengan mantap. Di belakangnya ada Rizki, Abdul dan kawan-kawan lain yang mendukung dilaksanakannya operasi tersebut.

“Bisa dijelaskan maksud dari operasi ini?” Andre menatap tajam kepada semua khalayak. Maksudnya sih bukan mau kelihatan sinis, tapi memang sejak lahir si komanda ditakdirkan punya mata yang tajam kayak aktor ganteng di film Ada Apa Dengan Cinta. Jadilah komandan Andre ini selalu kayak kelihatan sinis.

“Gak ada maksud tertentu sih ‘ndan. Cuma mau berbagi aja atau istilah kerennya sedekah. Kan kalau lagi banyak uang kita sebaiknya memberi bantuan kepada yang tidak mampu. Nah, apalagi di masa sekarang ini-“ yang maksud Ridwan masa-masa mereka belum juga turun gajinya “-kalau kita berbagi dengan orang lain In Shaa Allah rejekinya lebih dimudahkan.”

Para pengikut yang ada di belakang Ridwan diam-diam mengamini ceramah Ridwan. Semoga operasi ini akan memudahkan turunnya gaji mereka untuk bulan ini, bulan seterusnya, bulan seterusnya dan bulan seterusnya lagi. Bahkan Komandan Andre juga diam-diam mengamini ceramah Ridwan. Amin.

Sang komandan mengangguk-angguk mendengar penjelasan Ridwan. Tapi apalah daya, sang komandan tidak bisa langsung men-goal-kan proposal mereka. Karena itu dengan kalimat ampuh, “Akan saya usulkan kepada para atasan.” Maka dimulailah masa PHP yang begitu panjang.

Sebenarnya tidak begitu panjang, karena yang sebenarnya mereka hanya menunggu selama satu minggu. Ridwan dkk dipanggil kembali untuk menghadap komandan. Saat mereka menghadap Komandan Andre, mereka tahu proposal mereka kemungkinan akan diterima. Hanya saja melihat wajah sang komandan yang agak cembrut dibanding biasanya Ridwan dkk paham, walau proposal dilanjut tapi ada S&K (baca: syarat dan ketentuan) yang berlaku.

“Kami sudah putuskan…,” Si komandan bisaan aja ambil jeda segala, penonton jadi deg-degan.

“…untuk meluluskan proposal kalian.”

Yes! Alhamdulillah.

“Kabar buruknya adalah kita tidak punya dana untuk mendukung kegiatan kalian jadi kalian harus mencari dana sendiri.”

Olala~

“Gak apa-apa Komandan. Kami sudah siap kok.” Ridwan menghapus segala ragu yang menyelimuti Abdul, Rizki bahkan sang komandan sendiri. Tak lupa ustad angkatan itu memberikan senyum yang teduh dan menawan. Orang alim mah begitu, auranya beda~

.

.

.

“Mohon maaf Pak. Anda terkena operasi razia dompet kempes. Silahkan ikut saya,” Abdul menarik salah satu tukang becak yang cengegesan dan memang sengaja minta ditangkap untuk diperiksa di razia ini.

Si bapak tukang becak sudah siap sedia memberikan dompetnya untuk diperiksa, sementara Abdul mulai memeriksa isi dompet si bapak itu. Ternyata benar, isinya hanya sekumpulan uang dua ribuan yang totalnya hanya mencapai dua puluh ribuan. Abdul mengarahkan si bapak ke antrian yang dipimpin oleh Ridwan dan Rizki yang langsung diikuti dengan semangat oleh si bapak.

Sementara Rizki dan Ridwan sibuk sana-sini, memberikan amplop berisi uang Rp 50.000 sebagai bentuk sedekah dan bantuan kepada pihak-pihak yang memang telah dikonfirmasi memiliki dompet kempes. Untungnya antrian berjalan lancar dan tertib karena para teman angkatan yang lain membantu mengarahkan dan mengkonfirmasi, jadinya Rizki dan Ridwan gak perlu capek apalagi pasang wajah sangar sekedar untuk menertibkan antrian.

Operasi razia berlangsung khidmat dan lancar. Masyarakat kagum, yang menerima bantuan juga senang. Sementara para skuadron semut? Entah kenapa rasanya hati jadi lapang dan tenang. Melihat semua orang tersenyum senang mereka juga ikutan sumringah.

“Semoga operasi kali ini diridhoi oleh Allah swt. Amin.” Para skuadron semut ikut mengamini.

“Sayang, gaji kita juga belum turun,” cengenges salah satu rekan tapi ia langsung menutup mulut karena dipelototi secara ganas oleh yang lainnya. Yang lain ada yang mesem-mesem atau tertawa geli.

“Yuk deh semuanya, kita ke kantin. Kemarin sempet ngumpulin sedikit uang buat beli mi goreng sekardus. Sekarang Ibu kantin lagi masak buat kita semua.” Ridwan mengajak teman seangkatannya sambil berjalan ke kantin. Yang lain juga langsung mengikuti. Makan gratis siapa yang enggak mau? Yah, enggak apa-apa deh walau makan gratisnya mi goreng.

.

.

.

Mereka semua sedang asyik makan mi goreng saat Andi, salah satu anggota skuadron semut berlari tergopoh ke kantin.

“Gaes! Gaji kita udah turun!”

Sontak semua langsung berujar, “Alhamdulillah!”

“Bulan depan kita adain operasi dompet kempes lagi yuk?” ujar Ridwan dengan kalem yang langsung disetujui oleh semua angkatan.

Target: Cemceman Hati

Senapan?

Kondisi baik.

Bidikan?

Kondisi baik.

Hari ini Abdul sedang pemeriksaan dua pekanan senapan laras panjang miliknya. Biasalah, Cuma sekedar memastikan agar senjatanya siap siaga digunakan kalau tiba-tiba harus menjalani misi dadakan, ke Zimbabwe, misalnya. Jangan sampai pas mau digunakan tetiba senapannya mendadak macet gegara karatan atau apa. Ok, senapannya gak mungkin karatan! Karena selain dirinya pastinya kesatuan militernya selalu mengadakan cek rutinan senapan tiap hari. Jadi gak mungkin ada cerita senapan mendadak macet gegara karatan. Tapi karena senapan ini punya Abdul, eh ralat, tanggung jawab milik Abdul, jadi otomatis senapan ini harus dirawat dan disayang. Tidak lupa harus dicintai, sebesar rasa cintaku padamu~

Dan karena hari ini hari Jumat, Abdul punya banyak waktu senggang untuk cek senapan miliknya dengan rasa sayang.

Sebenernya bohong banget sih dibilang Abdul gak punya kegiatan apapun. Paling tepat adalah Abdul sengaja meluangkan waktu Jumat pagi, tepatnya pukul 7 sampai 9 pagi supaya dia gak punya kegiatan apapun.

Abdul sedang berada di gudang angkatan militer berlantai lima. Tepatnya sekarang ia ada di lantai tiga. Wajahnya serius dan tampak waspada. Senapan laras panjang miliknya itu siaga di tangannya. Sebenernya dalam senapan itu enggak ada peluru apapun, jadinya enggak terlalu bahaya. Cuma karena Abdul pasang wajah sangar sambil nenteng senapan otomatis jin -yang kabarnya suka diem di ruangan itu- jadi keliatan kurang serem dan minggat dari ruangan itu sambil kisruh misruh. Maklum, kalah sangar dibanding Abdul.

Abdul meletakkan teropong bidikan senapan di depan matanya. Matanya menelusuri satu sosok target yang nun ada di sebelah sana. Yah, Abdul menaksir seenggaknya jarak antara target dan dirinya sekitar 100 meter di seberang jalan.

Saat Abdul memperhatikan tingkah laku sang target dari balik bidikan teropongnya, si target justru gak sadar apa-apa dan menjalankan kegiatannya seperti biasa. Bahkan sang target masih bisa tersenyum dengan indahnya, membuat hati Abdul jadi ter-enyuh.

Status target?

Hari ini target masih kelihatan cantik seperti biasanya.

CANTIK???

Ya, itu dia! Kalau anda semua melihat melalui bidikan yang sedang diarahkan, yang dibidik adalah seorang gadis cantik guru TK tetangga seberang jalan! Cantik sih, manis pula. Apalagi pakai jilbab panjang yang berkibar plus digandeng kesana kemari sama anak-anak krucil kayak bola. Cowok mana sih yang gak bakal ter-enyuh sama pemandangan kayak gitu. Tipe cewek idaman pas untuk istri ideal!

Abdul mengatur fokus bidikannya agar bisa mengawasi lingkungan targetnya lebih luas lagi. Tapi ternyata tidak ada pemandangan apapun selalin lebih banyak anak-anak krucil kelebihan semangat yang menarik-narik guru yang lain agar bergabung bermain bersama mereka. Entah itu main lompat tali karet, main bola atau entah main lainnya. Yang jelas sang target juga ikut bermain bersama anak-anak. Sungguh pemandangan yang indah untuk jombloers seperti dirinya.

“Lumayan cakep juga target elo.”

“Iyalah, standar gue cewek itu harus-“ Abdul berhenti ngoceh dan tersadar, harusnya ia sendirian saja di ruangan ini.

Kepalanya menoleh dan melihat sosok Rizki yang sudah berdiri di sampingnya, tepat di depan jendela. Matanya menatap melalui teropong ke arah yang sama yang baru saja diintip oleh Abdul. Ia langsung mendorong teropong itu dari dekat mata Rizki.

“Jangan ngintip! Itu target gue!”

“Aelah mas bro! Di TK seberang seenggaknya ada lima orang guru TK berjenis kelamin perempuan. Iya kali lima-limanya target elo semua!” Rizki masih berusaha mengintip melalui teropongnya tapi tangan Abdul masih menahan.

“Iya, tapi siapa tau aja yang lagi elo intip itu target gue!” Tangan Abdul masih mencoba menahan teropong Rizki yang masih membandel.

“Makanya elo bilang ciri-ciri target elo.”

Abdul dan Rizki masih berkutat satu sama lain sampai akhirnya usaha Abdul jelas gagal dan Rizki kembali mengintip lewat teropongnya. Abdul jelas-jelas ngedumel karena Rizki sudah menganggu waktu senggangnya yang berharga.

“Eh mas bro, jangan bilang target elo yang pakai jilbab biru.”

“Emang kenapa?”

“Karena kalau itu target elo, sekarang lagi ada cowok yang kayaknya pedekate sama si target.”

Abdul buru-buru mengintip lewat bidikannya dan ternyata benar, saat ini target pujaan hatinya sedang ngobrol dengan seorang cowok yang kayaknya kalau dilihat dari baju yang dipakainya, sesama pekerja di TK seberang jalan. Mereka mengobrol dengan akrab, bahkan sesekali sang target idaman hati memberikan senyum manisnya. Dan Abdul benar-benar tidak suka itu!

“Musuh terdeteksi. Dari sini gue dapet jelas sasaran musuh.”

“Eh, yang bener aja! Elo sehat?!” Rizki kaget dan menjitak kepala Abdul. Yang dijitak kepalanya cuma kisruh misruh sambil ngusep-ngusep kepala.

“Ah, ganggu aja!”

“Ada juga elo yang salah. Elo masih sehat kan mas bro?”

“Jelas masih sehat makanya gue mau bidik tuh lawan gue.”

“Bagus deh, supaya tambah sehat kalian lari keliling lapangan tembak 50 putaran ya.”

Suara yang dingin yang terdengar dari belakang leher Abdul dan Rizki, mampu menegakkan bulu kuduk mereka. Dan saat mereka melirik sosok tersebut ternyata komandan mereka, Andre sudah berdiri di belakang mereka. Wajahnya tidak kalah sangar.

“Eh komandan,” Rizki senyum-senyum gugup.

“Hehe, sehat ‘ndan?” Abdul gak kalah cengar-cengir.

“Satu… dua…,” Andre mulai perlahan menghitung sementara Abdul dan Rizki buru-buru langsung kabur dari ruangan itu. Sambil berlari Abdul menatap jengkel pada Rizki yang sekarang masih cengengesan sambil melempar tanda peace dari jarinya. Berantakan sudah rencananya untuk mengintip kegiatan sang target hari ini. Dan semua itu salah Rizki!