Code Name: Devil

Gue lagi tergila-gila sama Assassin Creed series. Jadi maafin yaa.. 😛

Melayang. Melayang. Melayang.

Heh, tak kusangka barang ini bagus juga. Pantas harganya lumayan. Emang benar, harga gak pernah bohong!

Heh! Dan sekarang aku bisa melihat…er, apa itu? Hantu? Pakai baju putih-putih?

Hahaha, lucu juga. Hantunya cantik juga. Kira-kira bisa dibayar berapa?

Dan berikutnya aku melihat kegelapan.

.

.

.

Aku bergelung… entah dimana ini. Badanku rasanya lelah dan tempat yang kutiduri saat ini benar-benar empuk. Tanganku asal memeluk apapun yang ada di sampingku, menghirup wangi yang memabukkan. Entah apa itu rasanya begitu hangat dan harum.

Brak!

“Bangun. Sarapan sudah siap.”

Sebuah suara yang sangat tenang dan cuek. Perlahan aku membuka mataku, rasanya pusing.

“Kamu rupanya,” keluhku kembali menutup mata. Seorang gadis berjilbab memandang kearahku dengan tatapan datar. Adik tiriku, Shafira.  Hmm, dia tidak melihat kearahku tapi kearah di sampingku?

Aku mengangkat kepala dengan malas, apa sih yang dia lihat?

Dan…seorang perempuan tertidur di sampingku. Baiklah, siapa wanita ini? Aku melempar pandangan heran ke Shafira. Kali ini dia melipat kedua tangannya dan bersender di pintu kamarku. “Ini bukan pertama kalinya kamu pulang ke rumah bawa perempuan, jadi jangan pasang wajah heran begitu di depanku.” Ujarnya datar.

“Ayah tadi telepon. Lima belas menit lagi dia akan menelepon lagi. Lebih baik kamu bersiap-siap.”

Aku masih bengong dan memandang wanita yang tertidur lelap disampingku. Baiklah, saatnya mengusir wanita ini.

.

.

.

Aku turun ke ruang makan, pipiku sakit dan perih. Sial! Wanita jalang itu malah menamparku. Memangnya dia siapa? Tahu namanya saja tidak!

Aku menghampiri Shafira yang sedang mengoles mentega di selainya.

“Pipiku sakit ditampar.”

Adik tiriku hanya terdiam, aku mengernyit tidak senang. “Hei! Aku bilang aku ditampar.”

“Lalu? Cowok sepertimu memang pantas untuk ditampar.” Shafira terus mengoleskan mentega di rotinya tanpa menoleh padaku. Aku langsung menghampiri sisi Shafira, menarik tangannya dan mencengkram dagunya, memaksanya untuk melihatku.

“Kau terlalu dingin padaku.” Keluhku kesal, tapi adik tiriku itu hanya kembali menatapku dengan dingin.

“Jangan lupa-“ aku mengelus pipinya dengan lembut, tapi dia malah menatapku semakin dingin. Heh, aku suka itu.”-kau hanyalah anak pungut di sini.”

“Lalu?”

Aku mengangkat alisku, ia menantang. “Kau harus dengar semua perkataanku.” Aku megelus jilbabnya yang hari ini berwarna abu gelap. “Bagaimana kalau kau mulai dari melepas kain lap ini? Dan menghabiskan malam di kamarku?”

Alisnya mengernyit tapi aku tak peduli. Jemariku sibuk menjelajah pipi dan rahangnya dengan lembut. Jemariku mulai akan menyapu bibirnya saat tangan Shafira menahan tanganku dan melemparnya dengan keras.

“Aku tidak harus mendengarkan kata-katamu.” Shafira berjalan menjauh.

“Aku kakakmu,” aku menyeringai.

“Kalau begitu bersikaplah sebagai seorang kakak.”

Aku tertawa terbahak. “Katakan, berapa ayahku membayarmu?”

Dia berhenti tapi masih belum menoleh padaku.

“Aku bisa membayarmu dua kali lipat dari ayahku.”

Shafira menarik napas dan membuangnya, lalu menatapku. “Kau pikir aku tidur dengan ayahmu? Asal kau tahu, ayahmu itu adalah ayah angkatku.”

Aku mengangkat bahu, “Apapun bisa dibeli dengan uang.” Aku menarik keluar plastik kecil dari saku jinsku dan melambaikannya dengan santai. “Plastik kecil ini bahkan cukup untuk membayarmu menemaniku beberapa malam.”

Shafira mengangkat alisnya, ia kembali melangkah menaiki tangga. Aku tertawa terbahak, “Kamarku tidak dikunci kalau kau mau.” Tawaku kembali menggema.

.

.

.

“Jadi bagaimana?”

“Kurang baik, bos! Polisi cepet banget nangkap barang baru kita. Beberapa anak kroco kita udah ditangkap. Posisi kita masih aman tapi kalau begini terus bisa gawat.”

Aku menendang tempat sampah kaleng. Sial! Barang baru begini kenapa bisa cepat tercium polisi? Aku menggaruk kepalaku dengan frustasi! Tidak salah lagi.

“Diantara kita ada pengkhianat!”

Semua orang menahan napas.

“Lihat aja! Kalau sampai aku tahu-“

Tok Tok Tok

Semua orang memandang arah pintu yang saat ini sedang tertutup, beberapa saling menatap dengan resah. Anak buahku yang paling dekat dengan pintu ruangan kami menatapku dengan ragu. Aku mengangguk sedikit dan ia langsung membuka pintu.

Pintu dibuka sedikit dan ia mengintip, agak lama dan kembali menoleh kearahku. “Bos, adikmu.“

Aku mengangkat alis. Adikku? Maksudnya Shafira?

“Buka pintunya.” Dan pintu langsung dibuka. Menampilkan Shafira dengan jilbab lebar dan pakaian atasan berwarna hitam. Rok yang kali ini ia kenakan adalah rok celana. Aku mengangkat alisku, heran dengan penampilannya kali ini.

“Ada apa? Kalau kau mau menemaniku malam ini-“

“Sayang sekali.” Shafira memotong ucapanku, “Tapi tidak akan ada malam ini.”

Aku mengangkat alisku dan tiba-tiba terdengar suara raungan sirene. Dengan panik aku langsung mengintip keluar jendela. Ada banyak polisi. Dan bukan cuma satu atau dua. Tapi ada sepasukan atau malah lebih polisi huru hara. Aku menoleh dengan marah kearah Shafira.

“Kau! Kau pengkhianatnya!”

Aku belum sempat melakukan apapun dan tiba-tiba saja sepasukan polisi bersenjata lengkap telah muncul dengan rapi di belakang Shafira. Tidak hanya itu, leser bidikan telah membidik satu per satu semua orang yang ada di ruangan ini termasuk aku. Kami benar-benar tertangkap! Tidak ada jalan keluar.

Shafira tersenyum lembut. Aku merasakan darahku mendidih, baru kali ini aku melihat dia tersenyum sejak datang ke rumah kami lima tahun yang lalu, dan dia malah tersenyum di situasi seperti ini!

Gadis itu menyender santai di pintu. Menatapku dengan menantang. “Tangkap mereka semua!”

Semua polisi itu mematuhi perintah gadis itu. Tanpa banyak perlawanan akhirnya kami diringkus dan dibawa keluar.

“Ayahku sudah mengambilmu dari jalanan!” desisku.

“Memang itulah misiku.” Shafira tersenyum mengejek.

“Kalau kita bertemu lagi-“

“Pertemuan kita selanjutnya adalah acara eksekusi kematianmu. Dan kematian ayahmu.”

Polisi yang menahanku langsung membawaku keluar. Aku berteriak meraung-raung, memaki gadis sial itu! Akan tetapi raunganku terpaksa berhenti karena seorang polisi lain memukulku dengan tongkat mereka. Tanpa babibu mereka melemparku ke truk berjeruji.

“Nasibmu sial karena memaki Jenderal. Kami semua disini adalah penggemar Jenderal Shafira.”

Aku membulatkan mataku. Jenderal? Gadis sial itu seorang Jenderal polisi? Aku tertawa lemah.

“Jendralmu itu benar-benar iblis.”

Polisi itu malah tertawa, “Memang itu kode namanya.”

Dan pintu truk pun dibanting tertutup.


A/N: Gak jelas… beneran ini gak jelas banget. Apalah challengenya tema Anak Jalanan kenapa jadi begini? Maunya sih ada pecandu sekaligus bos narkoba gituloh…dia agak brengsek dan ternyata seseorang bisa lebih jahat daripada dia. Er…tapi kayaknya ini aneh ya? Tau ah…bodo amat. Maafkan bahasany agak kasar dan rate M.

Advertisements
Aside

Langit Suram dan Bunga Melankolis

Aku cuma bisa menahan napas, saat kau duduk di hadapanku. Jelas uap kopi masih mengepul, tapi kurasakan suasana dingin tak menentu.

Kau bilang, kita sudahi saja semua. Dingin dan meyakinkan. Padahal di depanmu aku baru saja menyodorkan kotak itu, beledu merah dengan cincin emas di dalamnya.

Kau memandang tanpa minat. Dan mendorong kotak itu kembali ke sisiku. Dengan tergesa kau bangkit dan membisikkan jangan pernah hubungi kau lagi.

Dan disitulah mataku membulat. Wajahmu tersenyum sumringah. Pada seseorang yang berdiri di sana. Tanpa malu-malu kau lingkarkan lenganmu pada pria tidak jelas siapa itu. Disitulah aku merutuk diri sendiri, betapa bodoh dan naifnya diriku.

Sekarang aku berjalan di sini, entah dimana aku tak peduli. Menubruk orang kesana kemari, memikirkan semua yang terjadi.

Dan saat kuangkat kepalaku, mataku menatap pemandangan itu. Langit sore yang suram, dengan ladang bunga berwarna melankolis. Dan kemudian aku berteriak. Berteriak dan terus berteriak.

Biarlah semua orang menganggap aku gila. Karena inilah yang namanya patah hati. Sekarang biarkan aku menggila dan meresap semua ini. Agar besok aku bisa kembali pulih.

Angin bertiup lembut, membawa kelopak bunga berwarna melankolis. Biarlah aku tak menangis. Karena langit suram dan bunga melankolis telah menggantikanku untuk menangis.


A/N: err… rasanya aneh ya. Pingin sekali-sekali bikin tulisan pakai “kau” begitu. Atau enggak POV dua tapi masih belum bisa. Perlu belajar lebih banyak lagi. Terus rimanya aneh banget. Ini bukan puisi pastinya. Apa bisa masuk prosa ya? Tau deh… buat challenge IOC Writing #Release Your Stress.

Ronda Malam

“Huaahmmm,”

Tok Tok Tok Tok

Aku mengetuk kentonganku malas-malasan. Hari ini giliranku ronda malam dan suasana seperti biasa, gelap, tidak ada maling dan nyamuk ganas berkeliaran.

“Huaahhmmm,”

Tadi sih pas aku ningggalin pos ronda sekitar jam 3 pagi. Mungkin sekarang hampir jam setengah 4 pagi, kali ya? Kalau tahu tadi bakal nguap terus-terusan begini harusnya aku minum dulu kopi yang disiapin Mbok Silmi. Lagian aku sok-sok an juga sih nolak minum kopi. Kupikir jalan ngeronda bakal bikin ngantukku berkurang, tahunya hawa dingin malah jadi bikin tambah ngantuk.

“Huaaahh-“

Dor Dor Dor Dor Dor

Aku langsung berhenti menguap. Sumpah itu bukan bunyi kentonganku! Itu bunyi suara tembakan! Iya! Itu suara tembakan! Tapi asalnya-

Dor Dor Dor Dor

Ya ampun! Dari arah rumah Pak Pandjaitan! Ada apakah?

Tanpa babibu aku langsung berlari, kadang terseok juga dengan sarung yang kupakai. Akhirnya aku mengalungkan sarungku dan berlari membawa kentonganku. Sempat berpikir untuk mengetok alat itu tapi penasaran juga. Suara tembakan itu begitu keras kenapa tak ada satupun warga yang keluar rumah?

Aku hampir sampai di tikungan rumah Pak Pandjaitan tapi langsung sembunyi lagi. Ada mobil yang berhenti di depan rumah bapak Panglima. Aku menghela napas lega tapi penasaran, kenapa yang datang bukan tentara yang biasa datang ke rumah Pak Pandjaitan?

Aku bersembunyi di sudut dinding yang gelap, memperhatikan mereka semua. Tentara yang datang kali ini agak galak, mereka berteriak-teriak mencari Pak Pandjaitan. Mereka sepertinya memang bukan tentara yang biasa datang ke rumah ini. Semua orang di daerah sini dan tentara yang datang ke rumah Bapak tidak ada yang sampai teriak-teriak mencari Bapak. Jadi siapa-

Dor Dor Dor Dor Dor

Astaghfirullah! Mereka bawa senapan? Apa-apaan ini?

Aku berusaha mengintip supaya bisa melihat lebih jelas. Ah, ada yang keluar. Tapi itu kan Bapak? Bapak Pandjaitan! Beliau keluar sambil berseragam lengkap. Berarti semua orang yang dari tadi berisik ini benar-benar tentara?

Tapi, loh! Kok Bapak diam saja? Seperti berdoa. Apa Bapak mau dikirim tugas ke tempat yang jauh? Tapi kenapa istri dan anak-anak bapak tidak ada yang mengantar bapak seperti biasanya?

Aku sedang memperhatikan tentara yang lalu lalang di belakang bapak sambil mengokang senapan. Dan tau-tau saja-

DOR!

Astagfirullah! Aku langsung jatuh duduk di tempat. Bapak Pandjaitan ditembak! Tega sekali! Siapa mereka?

“Kamu lihat semuanya, kan?”

DEG! Suara yang dingin dan sesuatu yang keras menekan bagian belakang kepalaku. Belum sempat aku menoleh-

BUAGH!

-semuanya gelap.

#End#


A/N: Dibuat untuk sekedar melatih menulis, sekaligus momennya pas sama G30S/PKI biarlah jadi pengingat kita semua. Kebetulan diantara semua sejarah yang dipelajarin waktu sekolah saya paling suka belajar tema sejarah yang ini. Kalau ditanya kenapa jawabnya sih miris aja gituloh nyawa manusia kayaknya murah banget demi mendapatkan kekuasaan. Sengaja ambil setting Panglima D.I. Pandjaitan karena ya gitulah..berdoa dulu sebelum diterabas sama PKI kesannya agamis banget, beda banget sama PKI yang notabene namanya komunis.

Karena ini fiksi based on history tolong jangan marahin saya kalau faktanya enggak lengkap :”(  dah apalah saya cuma nulis ini based on wikipedia doang. Sekedar jadi pengingat doang jangan sampai PKI muncul lagi di tanah Indonesia.

 

Asal Mula Nama Pulau Irian

Rewritten by: Latifun Kanurilkomari

Pada zaman dulu kala, ada seorang pria yang bernama Mananamakrdi. Doi adalah anak bungsu dari keluarga yang tinggal di Kampung Sopen, Biak Barat.

Sebelum kamu mikir Mananamakrdi – duh, susah juga nulisnya, mulai sekarang kita panggil Manana aja ya. Nah seperti yang dibilang tadi, jangan ngebayangin Manana ini sebagai cowok ganteng, kaya, gagah dan semua ala-ala gary sue tadi. Mungkin cowok kayak gitu ada, tapi bukan di cerita ini. Di cerita ini Manana adalah pemuda yang malang banget. Nasibnya buntung, kulitnya kudisan, baunya gak sedap lagi. Duh, kebalikan banget kan sama bayang-bayang gary sue di awal?

Nah, karena nasib si Manana ini sial banget, dan dia anak bungsu dari entah berapa saudara, walhasil Manana ini selalu dibully sama saudara-saudaranya. Orang tuanya juga gak bisa ngebelain, secara kalah jumlah bo! Dua orang ngelawan saudara-saudara Manana yang banyaknya enggak tahu berapa, mana sanggup. Iya kan?

Dan hasilnya bisa ditebak, Manana cuma bisa berdoa apa salahku, apa dosaku. Saudara-saudara yang kejam itu terus ngebully Manana sampai akhirnya Manana diusir dari rumah. Manana sih cuma bisa pasrah, akhirnya doi minggat dari rumah. Keluar dari tingkah kejam saudara kandungnya.

Manana lalu berjalan ke arah timur, lari ke hutan lalu belok ke pantai. Kemudian Manana teriak-teriak, lalu pecahkan gelas- wait ini kayaknya puisi dari film sebelah. Maksudnya, akhirnya Manana tiba di suatu pantai gitu loh, terus dia menatap lautan. Kebetulan di pantai itu ada perahu yang sedang menambat.

“Anak muda! Kenapa diam saja di sana! Kalau mau ikut ayo segera naik ke perahu!” ajak Bapak Tua pengayuh perahu.

“Kemana perahu ini akan mengarah, Pak?”

“Pulau Miokbudi, di Biak Timur.”

Manana langsung meloncat ke dalam perahu. Lagian dia juga sudah diusir dari rumah, jadi enggak masalah kalau sekalian pergi ke tempat yang jauh, kan? Setelah sampai di Pulau Miokbudi, Manana membangun gubuk kecil untuk dirinya sendiri dan menaman sagu dan tuak untuk bahan makanan sehari-hari. Setiap hari Manana masak sendiri, makan sendiri, cuci baju sendiri, tidur pun sendiri- ups, keterusan nyanyi nanti.

Akhirnya Manana pun hidup dengan bahagia, sejahtera dan sentosa di Pulau Miokbudi. Maunya sih begitu, tapi sayangnya enggak begitu. Semuanya berubah saat lagi-lagi kesialan mampir ke hidup Manana. Persediaan air nira yang disadap Manana buat bikin tuak tiba-tiba raib, hilang tak berbekas. Jelas Manana jengkel. Hidup sepi dan sendiri, ngapa-ngapain dilakukan sendiri eh air nira persediannya malah raib. Kan sebel.

“Pasti ada pencuri nih,” Manana cuma bisa gigit jari. Akhirnya dia memutuskan untuk begadang buat menangkap pencuri yang tidak sopan itu. Begadang asal ada tujuannya gak apa-apa toh?

Manana sembunyi tidak jauh dari tempat persediaan air nira miliknya. Inilah deritanya hidup sendiri, digigit nyamuk juga sendirian. Coba ada teman, kan bisa begadang sama-sama sambil nungguin pencurinya muncul – main gaplek misalnya. Sayang Manana gak punya teman, jadinya harus puas digigit nyamuk yang sadis tanpa kehangatan sendirian. Saat hari hampir Subuh tiba-tiba datanglah seekor makhluk yang meminum habis persediaan air nira. Tanpa babibu makhluk itu langsung ditangkap.

“Hei! Kamu ya yang seenaknya minum persediaan air nira punyaku?”

Yang ditangkap malah meronta-ronta, berusaha kabur. “Lepas! Lepaskan aku!”

“Enak aja minta lepas! Gak lihat persediaanku habis semua?”

Makhluk itu berhenti meronta dan memandang Manana yang masih kesal. “Aku adalah si Bintang Pagi. Biasanya orang memanggilku Sampan. Tolong lepaskan aku.”

Manana masih kesal, jadi ia tetap tidak mau melepas si Bintang Pagi.

“Baiklah, kalau begitu aku akan mengabulkan permintaanmu.”

Mamana mulai berpikir, enaknya minta apa ya?

“Sembuhkan sakit kudisku dan berikan aku istri yang cantik,”

Si Bintang Pagi sih mau banget teriak maruk amat sih lo. Tapi kalau kayak begitu nanti enggak sesuai sama dongengnya. Jadilah ia menjawab, “Pergilah ke pantai, nanti ada pohon Bitanggur. Panjatlah pohon itu dan kalau kamu melihat seorang gadis sedang mandi lemparlah gadis itu dengan sebiji Bitanggur. Nanti gadis itu jadi istrimu.” Fantastis, solusi untuk para jones adalah cukup melempar biji Bitanggur!

Awalanya Manana sangsi, masa sih ngelempar biji Bitanggur bisa dapet istri? Tapi ya sudahlah, dengan patuh ia mengikuti nasihat si Bintang Pagi. Sejak saat itu Manana punya hobi baru, manjat pohon Bitanggur sambil memandang pantai. Syukur-syukur ketemu cewek cantik yang bisa dijadiin istri.

Ternyata hobi baru itu tidak bertahan lama, cewek cantik yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Kayaknya sih cantik, karena begitu Manana manjat pohon melihat ada cewek yang mandi langsung aja deh dilempar pakai biji bitanggur. Lagian ceweknya mandi jauh banget kok dari pohon Bitanggur, jadinya Manana enggak bisa lihat wajah si cewek. Tapi walau posisi si cewek jauh dari pohon, tetap aja si cewek kena lemparan biji Bitanggur dari Manana.

Kebetulan, cewek yang sedang mandi itu namanya Insoraki, putri kepala suku dari kampung Meokbundi. Awalnya sih dia enggak merasa terganggu dengan biji Bitanggur. Tapi lama-kelamaan kalau lagi asyik-asyiknya mandi diganggu jengkel juga, akhirnya Insoraki memutuskan untuk cuek aja. Setelah selesai mandi, Insoraki kembali ke kampungnya.

Nah, mulai dari sini tiba-tiba ada gosip beredar kalau Insoraki sedang hamil. Seluruh penduduk kampung Meokbundi pun geger, apalagi Insoraki. Jelaslah, pulang tamasya dari pantai tahu-tahu malah berbadan dua, cewek mana yang enggak kaget? Para penduduk pingin tahu banget, siapakah kiranya yang menghamili Insoraki. Tapi sayang, Insoraki tidak menjawab. Karena memang si doi juga enggak tahu.

Setelah sembilan bulan akhirnya Insoraki melahirkan seorang putra yang diberi nama Konori. Sesuai adat yang berlaku akhirnya digelar upacara peresmian nama, kebetulan Manana datang karena diundang. Saat Manana datang ke kampung, Konori berteriak sambil menunjuk Manana dengan sebutan Ayah. Nah, disinilah baru ketahuan siapa ayah Konori. Akhirnya penduduk kampung menikahkan Insoraki dengan Manana.

Tapi, seperti yang kamu semua tahu tapi mungkin lupa, Manana punya penyakit kudis yang bau banget. Saking bau dan jijiknya, semua penduduk sepakat buat pindah dari kampung. Walhasil di kampung yang luas itu cuma tersisa Manana dengan istri dan anaknya saja. Manana merasa sedih karena istri dan anaknya dihina dan ditinggalkan seluruh rakyat kampung gara-gara dia. Manana sedih banget, saking sedihnya sampai frustrasi hingga akhirnya ia mengumpulkan kayu bakar dan menyulut api. Tanpa prolog apalagi kata pembuka, Manana langsung melemparkan diri ke dalam kobaran api.

Insoraki jelas kaget. Anak masih kecil, apalagi mereka sendirian di kampung. Insoraki belum siap jadi janda. Tidaaakkk!

Tapi tenang, dongeng ini berakhir happy ending kok.

Dari balik jilatan api, tiba-tiba muncullah pemuda yang gagah dan tampan. Wajahnya juga mulus tanpa bopeng apalagi kudis. Itulah Manana atau yang nama aslinya Mananamakrdi. Manana senang banget, akhirnya penyakitnya hilang. Insoraki jelas lebih senang lagi. Suaminya jadi ala-ala karakter gary sue. Ditambah lagi dia enggak jadi janda. Alhamdulillah sesuatu banget. Saking senangnya Manana mengubah namanya menjadi Masren Koreri yang artinya pria yang suci.

Setelah mereka semua berbahagia sejahtera dan sentosa, Manana mengajak istri dan anaknya untuk hijrah dari kampung itu. Sekeluarga itu pun akhirnya pergi berjalan ke hutan lalu belok ke pantai. Kebetulan saat itu sedang berkabut. Ketika matahari semakin lama semakin meninggi akhirnya kabut itu pun lenyap. Tampak oleh mereka pemandangan bukit yang hijau dengan latar belakang langit yang biru.

“Irian… Irian (artinya panas),” teriak Konori sambil menunjuk-nunjuk pemandangan yang mereka saksikan.

“Apa maksudmu Nak? Itu tanah asal nenek moyangmu loh!” Manana heran mendengar ucapan anaknya.

Insoraki tersenyum lembut, “Maksud Konori, saat matahari mulai panas tiba-tiba muncul pemandangan yang indah di hadapan kita.” Insoraki berbaik hati menjadi penerjemah. Manana cuma mengangguk paham, terkesima dengan kemampuan translate Insoraki.

Sejak saat itu, wilayah itu dinamai Irian. Atau sekarang yang kita kenal juga dengan Provinsi Papua.

Sumber: dongengceritarakyat.com

Quote Challenge – O Cursed Spite

“Dan demikianlah pada setiap negeri Kami jadikan pembesar-pembesar yang jahat agar melakukan tipu daya di negeri itu. Tapi mereka hanya menipu diri sendiri tanpa menyadarinya” (Q.S Al-An’am : 123)

.

.

Aku mengangkat mataku dari halaman Al-Quran yang ditunjukkan oleh Elda. Tapi gadis itu hanya menatap es coklat yang ada di hadapannya, memainkan es dengan sedotan miliknya.

Aku menghela napas, “Jadi maksudmu setiap negara itu istilahnya punya penjahat besar yang tugasnya merampok negara?”

“Setiap kebaikan pasti ada kejahatan. Itu hukum alam.” Elda menjawab tidak langsung.

Aku mengerutkan alisku. “Kalau misalnya emang ditulis ada orang jahat di setiap negeri nanti semua orang jahat itu tinggal bilang gue kan cuma ngikutin apa kata Tuhan.

Elda tersenyum, “Tapi mereka hanya menipu diri sendiri tanpa menyadarinya.”

Aku kembali membaca ayat Al-Quran yang dimaksud. Aku mendesah, “Mana ada penjahat mau ngaku kalau dia itu sebenernya penjahat.”

Elda mengangguk setuju, “Itu sesuai dengan Al-Baqarah ayat sebelas dan dua belas.”

Aku membalik halaman Al-Quran dan mencari surat yang dimaksud, “Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Janganlah berbuat kerusakan di bumi!’ Mereka menjawab, ‘Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan.’ Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, tapi mereka tidak menyadari.”

Aku memelototi Elda dan meletakkan Al-Quran itu perlahan di atas meja. “Kewajiban kita sebagai muslim berat banget,” desahku.

Elda menggeleng pelan, “Justru kita termasuk orang yang merugi kalau kita tidak saling menasihati dalam kebaikan dan kesabaran.”

Aku meluruskan punggungku, duduk tegak di kursi, “Yah, kamu benar.”

Elda menatap keluar, matanya menerawang. “The time is out of joint*.” Aku mengangkat alisku, tersenyum dan melanjutkan, “O Cursed spite. That ever I was born to set it right!*”

Elda menatapku dengan pandangan yang tak bisa diartikan. Aku mengangkat bahu, “Rasanya kutipan itu cocok.” Elda menatap gelasnya, memainkan sedotan miliknya, “Justru sejak kita lahir sebagai muslim memang itu kewajiban kita, menasihati dalam kebaikan dan kesabaran.”

Aku meletakkan telunjukku didepan bibirku, “Tapi itu rahasia untuk kita berdua saja.”

Aku dan Elda saling tersenyum, menyimpan rahasia yang hanya kami berdua saja yang tahu.

#End

Catatan: * adalah quote dalam karya William Shakespeare, Hamlet: Act 1, Scene 5, Page 8

Quote Challenge – Begitu Indah

Terang saja aku menantinya

Terang saja aku mendambanya

Terang saja aku merindunya

karena dia begitu indah

(Padi – Begitu Indah)

POV Lutung Kasarung

Awalnya aku mengerut, cemberut dan tak mengerti. Kenapa pria ini membawaku masuk jauh ke dalam hutan? Memang sih aku sudah membuat kekacauan di istana keraton dan merusak di sana sini, tapi kupikir itu bukanlah alasan pria ini harus repot-repot mengantarku jauh ke dalam hutan. Kalau mereka ingin membuangku, dia cukup membawaku ke dalam hutan dan langsung pergi menghilang. Selesai, kan?

Alih-alih melakukan itu, pria ini masuk ke dalam hutan seakan tahu kemana ia harus berjalan. Sesekali pria sepuh ini berhenti, memastikan aku mengikutinya dan mengangguk puas. Saat aku sudah bosan dan berpikir apakah sebaiknya aku kabur, pria sepuh itu akhirnya berhenti.

Sebuah gubuk berdiri di tengah-tengah hutan. Aku memandang gubuk yang terbuat dari bambu itu, pintu kayunya terbuka lebar dan di depan gubuk itu terdapat kursi panjang. Di atas kursi itu ada semacam kain dan peralatan menjahit. Aku memandang sekeliling, terdapat kebun sayuran. Tidak luas tapi cukup untuk menghidupi entah siapa yang tinggal dalam gubuk reot ini.

“Den Ayu Purbasari.”

Suara sesuatu jatuh yang disusul dengan suara jatuh lain.

Normalnya saat seseorang memanggil pintu rumah akan dibuka lebar. Tapi kali ini pintu rumah yang tadinya terbuka lebar justru buru-buru ditutup, meninggalkan sedikit celah untuk seseorang ini mengintip kami.

“Den Ayu, jangan takut. Ini hamba, Patih Uwak Batara Lengser.”

Pintu yang tadinya hampir tertutup perlahan mulai membuka, akan tetapi orang yang bernama Purbasari belum terlihat.

“Uwak, ada apa tiba-tiba datang hari ini?”

Pria yang dipanggil Uwak itu menengok kearahku, mengisyaratkan agar aku mendekati pintu gubuk. Aku mengikuti keinginan pria sepuh itu. Ia berjongkok sehingga matanya menatapku. “Mulai saat ini tinggallah di sini dan jagalah Den Ayu Purbasari untukku. Kau bisa melakukannya, kan?”

“Percuma Uwak. Tidak hanya manusia, hewan juga lari ketakutan saat melihatku. Apa bedanya Lutung ini dengan hewan lain?” Purbasari menyela dengan suara sedih. Sosoknya masih belum terlihat.

Patih menoleh memandang suara Purbasari berada, “Ini bukan Lutung biasa, Den Ayu. Hamba bisa merasakannya.”

Purbasari terdiam, Patih kembali memandangku. “Kau bisa melakukannya, kan?” desaknya lagi.

Aku tak bisa bicara, karena saat ini aku dalam sosok seorang Lutung. Karena itulah aku menganggukkan kepalaku, menyanggupi permintaan pria sepuh ini. Sang patih tersenyum dan mengangguk puas. Ia kemudian berdiri dan mensedekapkan tangannya di depan dada.

“Hamba mohon pamit, Den Ayu Purbasari,” Patih membungkuk hormat.

“dan kau tetaplah tinggal disini. Jagalah Den Ayu Purbasari.” ulang sang patih. Aku mengangguk menyanggupi.

Pria sepuh itu meninggalkan diriku dan tak lama kemudian menghilang dari pandangan. Aku menatap pintu gubuk yang masih bercelah. Memang tidak terlihat tapi aku bisa merasakan gadis bernama Purbasari itu masih ada di belakang pintu.

Suasana hening. Aku saat ini dalam sosok seekor Lutung dan Lutung tidak bisa bicara, kan?

Suaran helaan napas terdengar, “Kau bisa pergi sekarang kalau kau mau.”

Aku memiringkan kepalaku, sekali lagi aku masih dalam sosok Lutung.

“Aku akan keluar sekarang. Tapi kuingatkan saat ini sosokku benar-benar mengerikan,” Purbasari memperingatkan.

Pintu perlahan membuka dan perlahan sesosok gadis keluar perlahan. Aku melotot, tubuh gadis itu dipenuhi penyakit kulit yang mengerikan. Bekas luka, tanda hitam dan entah apalagi. Pemandangan yang mengerikan. Tapi yang membuatku kaget bukanlah luka dan penyakit itu, akan tetapi kutukan yang diderita oleh gadis ini. Ini bukan kutukan biasa akan tetapi guna-guna ilmu hitam yang sangat hebat. Sesaat aku merasa geram, orang jahat mana yang tega mengguna-guna seseorang dengan ilmu hitam sehebat ini, apalagi mengguna-guna seorang gadis?

Kuperhatikan wajah Purbasari, matanya tertutup dan terlihat pasrah. Kutukan di tubuhnya memang sangat mengerikan, tidak mungkin tidak ada yang kabur setelah melihat gadis ini. Perlahan aku berjalan mendekatinya dan memegang tangannya. Purbasari membuka matanya dan terkejut melihatku yang berani mendekatinya, apalagi menyentuh tangannya.

“Jangan! Aku..” Purbasari berusaha melepaskan tanganku dari tangannya tapi aku keras kepala.

“Kau… tidak takut padaku?”

Aku menggeleng.

“Semua orang takut setelah melihatku,” gumamnya lagi tapi aku tetap menggeleng.

“kalau kau mau pergi dari sini aku tidak apa-apa. Aku tahu, aku sangat mengerikan.” Lanjut gadis itu tapi aku tetap menggeleng.

Perlahan wajah Purbasari berubah, sorot matanya masih sedih tapi bibirnya menunjukkan seulas senyum, “Kau Lutung yang aneh.”

Aku cuma bisa menyengir. Aku masih dalam sosok seekor Lutung, ingat?

.

.

.

Sudah beberapa waktu aku tinggal bersama Purbasari, perlahan wajahnya semakin sering tersenyum walau sorot matanya masih sedih. Karena itulah aku memanggil kawan-kawan hewan kera. Awalnya mereka ketakutan saat melihat Purbasari, tapi perlahan-lahan mereka mulai mau mendekati gadis itu. Beberapa anak kera bahkan berani duduk di pangkuannya dan menggelayut manja di leher gadis itu. Para kera setiap hari membawakan buah-buahan dan makanan dari dalam hutan. Purbasari menerima semua makanan itu dengan senang hati. Perlahan ia mulai tersenyum dengan tulus dan matanya bersinar penuh kebahagiaan.

Sementara aku masih berusaha untuk menghilangkan guna-guna dari tubuh Purbasari. Gadis ini sudah lama tinggal di hutan seorang diri, jadi usaha untuk menjauhkan diri dari sumber guna-guna tidak menemui hambatan. Ilmu hitam akan melemah jika yang diguna-guna berada jauh dari si pengguna-guna. Di hutan ini bisa kukatakan Purbasari dalam keadaan yang aman.

Selain itu selama ini Purbasari juga memakan makanan yang alami dari hutan. Jangan salah, para kawan kera memang sengaja kusuruh untuk membawa makanan dari hutan untuk alasan ini. Terkadang makanan yang dimasak berlebihan apalagi bermewah-mewah seperti masakan keraton istana tidak selalu baik untuk kesehatan. Apalagi kalau tujuannya untuk membuang racun dan kutukan yang ada didalam tubuh gadis itu. Akan lebih baik untuk Purbasari memakan makanan alami untuk saat ini.

Sekarang semua persiapan sudah beres, aku pun duduk di sebuah batu besar dan mulai bertapa. Malam ini adalah malam purnama, meski dalam sosok seekor Lutung tapi kekuatanku berada dalam keadaan yang kuat. Bisa kurasakan jiwaku melesat ke Kahyangan, langsung berhadapan dengan ibuku, Kanjeng Ratu Kahyangan.

“Guruminda?” Ibuku berseru kaget, “Kupikir kau baru akan pulang setelah bertemu dengan gadis pilihanmu,”

Aku menghatur hormat untuk ibuku tapi beliau malah mengisyaratkan agar aku duduk di sampingnya. “apa kau sudah menemukan gadis pilihanmu?” lanjut Ibuku.

“Aku belum menemukannya. Tapi aku ingin minta tolong kepada Kanjeng Ibu.”

“Katakanlah.”

“Saat hamba menitis di dunia, ada seorang gadis yang telah memperlakukan hamba dengan sangat baik meskipun hamba bersosok seekor Lutung. Gadis ini menderita guna-guna ilmu hitam yang hebat. Hamba harap Kanjeng Ibu memperkenankan hamba untuk membangun pemandian untuk menghilangkan guna-guna itu.”

Ibuku mengangguk-angguk, “Ambillah apapun yang kau butuhkan.”

Aku mengangguk hormat kepada Ibuku, “Kalau begitu hamba izin pamit.”

“Pergilah anakku, restuku menyertaimu.”

Aku kembali merasakan jiwaku kembali ke dalam ragaku. Saat aku membuka mataku kulihat para abdi pria istana kahyangan telah siap di depanku, menunggu perintah.

“Buatkan bagiku kolam pemandian yang indah untuk Purbasari.”

Tanpa banyak cakap para abdi itu bekerja sesuai perintahku. Mereka menggali, menyusun batu dan membentuk kolam pemandian dengan cepat. Tak lama kemudian para bidadari kahyangan berdatangan sambil membawa kendi berisi air sungai kahyangan dan memenuhi kolam dengan air yang mereka bawa. Beberapa bidadari membawa pakaian bidadari kahyangan yang berserat halus dan bersinar indah. Sementara bidadari yang lain menata pemandangan sekitar kolam sehingga pemandian itu dikelilingi pemandangan yang indah. Aku mengangguk puas.

“Kami sudah selesai melaksanakan perintah Raden. Kami mohon pamit,” ujar para abdi. Aku mengangguk memberi izin. Ini benar-benar kolam pemandian yang indah.

.

.

.

“Kanda Lutung, anda mau membawaku kemana?”

Aku memberi isyarat pada Purbasari agar mengikutiku, untuk saat ini dia patuh saja mengikutiku.

“Kanda Lutung, aku perlu mandi. Kenapa justru anda membawaku ke dalam hutan?” Purbasari terengah. Aku tak peduli dan masih menunggu Purbasari menyusulku, wajahnya agak cemberut. Jujur saja walau wajahnya juga dipenuhi kutukan yang mengerikan tapi aku bisa melihat wajah cemberutnya itu agak lucu.

Purbasari tidak banyak bicara, ia masih mengikutiku. Setelah beberapa lama akhirnya kami sampai di pemandian yang kubangun malam sebelumnya. Purbasari ternganga menatap pemandian di hadapannya. Bunyi gemericik air beserta pemandangan yang indah membuat siapapun yang menatap pemandian ini akan lupa bernapas.

“Aku tidak tahu kalau ada pemandian seindah ini didalam hutan.”

Aku memberi isyarat kepada Purbasari untuk mandi di kolam itu. “Kanda memintaku untuk mandi disini?” Purbasari mengernyit, aku mengangguk membenarkan.

“Tapi…”

Aku mendesak Purbasari untuk mandi di pemandian itu, Purbasari menggeleng ragu. “Pemandian ini begitu indah. Kalau aku mandi disini…,”

Aku mengenggam tangan Purbasari dan menatap matanya, berusaha membesarkan hatinya. Purbasari menatapku lama.

“Apa aku benar-benar boleh mandi disini?” ia kembali memastikan. Aku mengangguk.

“Baiklah.” Purbasari tersenyum bahagia. Aku menggenggam tangan Purbasari sedikit erat sebelum akhirnya keluar dari area pemandian itu. Yah, biarpun sosokku seekor Lutung tapi aku ini seorang pria. Aku harus menghormati privasi Purbasari, kan?

.

.

.

Purbasari cukup menikmati waktunya di pemandian. Sambil menunggu Purbasari selesai dengan urusannya, aku berjaga-jaga. Tidak jauh dari area pemandian tapi juga tidak cukup dekat untuk menghormati Purbasari. Aku juga sudah memerintahkan kawan-kawan kera untuk mengumpulkan makanan. Biarlah, hari ini aku ingin Purbasari bersantai-santai. Masalah air minum dan makanan sudah beres oleh kawan-kawan kera. Aku harap setelah selesai mandi Purbasari bisa langsung makan dan beristirahat. Aku tidak yakin tapi ada kemungkinan setelah guna-guna itu hilang Purbasari akan merasa kelelahan.

Terdengar suara langkah dari area pemandian, itu pasti Purbasari. Aku duduk di tanah menunggu kedatangannya. Akan tetapi yang datang bukanlah Purbasari yang kukenal, melainkan seorang gadis berparas jelita dan ayu. Aku mengernyitkan alis, bingung.

“Kanda Lutung,” sapa gadis itu. Aku mengernyit bingung.

“apa aku berubah menjadi begitu berbeda? Ini aku, Purbasari.” Purbasari memperkenalkan diri dengan malu-malu. Wajahnya merona indah. Rambut hitamnya yang biasa disanggul terurai dengan indah. Sesaat aku menahan napasku.

Purbasari, dia begitu indah.

#End

Angkasa

images (1) (1)

Wanita itu memandang langit. Rambutnya yang hitam lebat tergerai bebas, sesekali angin mempermainkan rambut indahnya itu. Menambah kecantikan sang wanita bagi siapa saja yang memandangnya.

Sayangnya tak ada siapapun di tempat itu. Hanya sebuah padang rumput yang luas dengan angkasa biru yang juga sama luasnya. Sesekali gumpalan awan putih menutupi birunya langit, tapi itu tak masalah.

Wanita itu menatap langit dengan penuh kerinduan juga campuran rasa lega. Senyum puas tersungging di bibirnya. Ada beberapa rasa sesal dan berat tapi ia berusaha menepis rasa itu.

Srak. Srak.

Bunyi langkah kaki terburu, menginjak rerumputan kering, sesekali ditingkahi suara rengekan bayi perempuan yang semakin jelas. Wanita itu berusaha menulikan telinganya tapi percuma.

Oh, ingin sekali ia kembali dan memeluk putrinya itu. Tapi tidak! Ia tidak boleh lemah! Terutama saat ini.

“Nawangwulan!”

Suara penuh arogansi bercampur bentakan keras. Sengaja wanita bernama Nawangwulan itu menunggu sesaat sebelum akhirnya menoleh ke arah sumber suara, yaitu suaminya.

“Apa-apaan kau memakai pakaian itu!” bentak pria itu. Ah, pria itu adalah suaminya, Jaka Tarub.

“Kembali sekarang juga ke rumah sebelum aku memaksamu!”

Arogan sekali. Nawangwulan mengernyitkan dahinya. Ah ya, suaminya Jaka Tarub memang seorang yang pemaksa. Buktinya ia berhasil memaksa dirinya untuk menjadi istri dari pria angkuh itu.

“Kembali. Sekarang. Juga!” Jaka tarub mendesis berbahaya. Nawangwulan tersenyum meremehkan.

“Atau apa? Kau mau memaksaku kembali?”

Sebuah selendang berwarna lembut membelit tubuh Nawangwulan. Jaka Tarub melotot tak percaya.

“Tapi….tapi…”

“Sudah cukup Tarub. Sudah waktunya aku kembali ke Kahyangan.”

Jaka Tarub berlari menghampiri istrinya, hendak merampas selendang itu. Akan tetapi sebelum sampai pria itu terhempas dengan keras. Jaka Tarub memeluk putrinya yang masih bayi, berusaha tidak lepas dari pelukannya.

“Bagaimana…selendang itu…,”

Angin kencang bertiup, menerbangkan beberapa helai rumput kering. Nawangsari, putri mereka berdua menangis keras. Seakan menyadari inilah waktu perpisahan dengan ibunya yang seorang bidadari.

Nawangwulan melayang beberapa senti dari tanah, matanya menatap sendu kepada putrinya.

“Tunggu! Kau tidak boleh pergi!” Tarub berusaha mendekati istrinya tapi dinding pelindung memisahkan jarak antara dirinya dan istrinya.

“Kau istriku! Aku melarangmu untuk pergi!”

“Kau telah mencuri selendangku.” Nawangwulan menjawab dengan dingin. “Dan sudah saatnya aku kembali.”

Tarub bisa merasakan kakinya melemah sementara putrinya masih menangis keras.

“Setidaknya untuk Nawangsari. Tetaplah tinggal disini,” Tarub mengiba.

Nawangwulan mengangkat alisnya, ternyata pria angkuh sepertinya bisa mengiba juga. Tapi tidak! Nawangwulan harus kembali.

“Jaga Nawangsari baik-baik.”

Angin kencang bertiup memaksa Tarub menutup matanya. Setelah keadaan tenang Tarub menoleh kesana kemari, berusaha mencari keberadaan istrinya tapi nihil. Nawangwulan sudah kembali ke kahyangan.

Jaka Tarub duduk lemas sementara Nawangsari masih di dalam pelukannya, menangis keras.

“Nawangwulan, kembalilah.” bisik Tarub. Tapi sang bidadari tak pernah kembali.

.
.
.

Nawangsari, gadis remaja berumur 16 tahun sedang berdiri di padang rumput yang luas. Tempat yang sama ketika ibunya kembali ke kahyangan 16 tahun silam.

“Nawangsari, apa yang sedang kau lakukan?”

Gadis itu menoleh, ayahnya, Jaka Tarub menatapnya dengan cemas.

“Aku mendengar sesuatu dari angkasa.”

“Itu cuma perasaanmu.”

Nawangsari menggeleng.

Gadis itu kembali menatap langit dengan pandangan sendu sementara Jaka Tarub menatap putrinya dengan rasa ngeri. Tubuh Nawangsari dililit sebuah selendang berwarna lembut.

Selendang yang sama yang membawa Nawangwulan kembali ke kahyangan.

“Mereka memanggilku untuk kembali, Ayah.”

#end