Star Crossed

A/N: Lagi tergila-gila (kembali) dengan Assassin’s Creed. Makanya cerita kali ini bersetting dunia AC. Gak perlu repot-repot nyari siapa karakter utama di cerita kali ini, karena cerita ini murni dari pemikiran saya dan gak ngambil tokoh AC dari Installment manapun. Yah, walau konsep Star Crossed AssassinxTemplar ngambil contoh dari AC Unity. Cerita bersambung… mungkin… tau deh. Sekalian untuk memenuhi challenge Spanish Challenge! dari IOCWP. Silahkan dinikmati.


(Part 1)

Spain, 1589

Seorang sosok bertudung dan berjubah gelap berdiri tenang di atap salah satu sisi istana. Matanya waspada menatap suasana di bawahnya. Misi yang dijalankan kali ini memang tidak begitu sulit, akan tetapi menyelinap masuk ke dalam wilayah musuh juga bukan perkara mudah. Apalagi wilayah milik Templar, musuh bebuyutan kelompok Assassin.

Angin malam bertiup dingin, sesekali bunyi jubah yang dikibas angin terdengar. Tidak masalah, wilayah misi kali ini adalah istana yang dipasang panji-panji dan bendera di sana-sini. Bunyi jubah bisa tersamar.

Sosok itu melompat turun, menyusuri dinding dan akhirnya menyelinap ke sebuh balkon istana. Sedikit berkutat dengan kunci pintu dan tak lama kemudian ia masuk ke dalam. Ia menyusuri lorong istana dengan sangat mudah, seakan hapal seluk beluk istana itu. Tidak butuh waktu lama hingga ia menemukan ruangan yang ia cari.

Matanya yang sudah menyesuaikan diri dalam kegelapan bisa langsung mengenali seluk beluk ruangan. Tanpa membuang waktu ia langsung menghampiri meja tulis yang mewah, mencari apapun yang berguna sebagai informasi. Masih belum puas, sosok itumeraba laci meja yang terkunci. Tidak heran. Sosok itu melakukan sebuah trik pada kunci laci dan voila, laci meja pun terbuka. Ia segera mencari berkas apapun yang berguna.

Ia tidak bisa berlama-lama di ruangan itu. Setelah kira-kira menemukan informasi yang dicarinya, ia mendekati jendela dan membaca kertas itu di sana. Sinar bulan memang tidak terlalu terang, tapi itu lebih aman daripada dengan bodoh menyalakan lilin atau penerangan. Matanya membaca cepat berkas-berkas penting itu dan menghafalnya setelah itu mengembalikan semua berkas itu kembali ke tempatnya. Tak lupa ia menghapus jejak bahwa ia pernah ada di ruangan itu.

Sosok itu menempelkan telinga di pintu, mendengarkan langkah atau apapun yang menandakan keberadaan seseorang. Suasana hening. Setelah meyakinkan dirinya sosok itu keluar dari ruangan dan berlari cepat di antara lorong. Tapi nasib baik tidak berlangsung lama. Saat sosok itu membelok ia malah bertemu dengan dua orang tentara yang sedang berpatroli.

Asesino![1]”

Sosok itu mendecakkan lidah dan berlari menyambut dua tentara yang memergoki dirinya. Ia memukul kedua tentara itu hingga kedunya jatuh pingsan, tak berdaya. Akan tetapi kekacauan sudah terjadi. Teriakan itu memanggil semua tentara yang berpatroli. Ia bisa mendengar suara derap langkah tentara perlahan mendekati dirinya.

Sang assassin berlari dan membelok ke tikungan tikungan yang cukup gelap dan sempit. Untunglah jubahnya segelap malam sehingga para tentara sama sekali tidak memperhatikan dirinya yang bersembunyi d isana dan terus berlari melewati dirinya. Setelah dirasa aman sang assassin berlari kearah yang berlawanan. Akan tetapi sial, ia malah bertemu dengan orang lain.

Bukan pria. Dan juga bukan tentara.

Akan tetapi seorang gadis. Matanya membulat dan napasnya tertahan saat sang assassin tiba-tiba saja berlari ke arahnya.

Maldito![2]” decak sang Assassin.

Tanpa ada pilihan lain sang assassin langsung menindih tubuh sang gadis ke dinding, membekap mulutnya dan menempelkan blade miliknya ke leher sang gadis. Gadis itu sangat terkejut hingga ia menjatuhkan lilin yang ia pegang. Berita baiknya, lilin itu terjatuh dan apinya padam. Berita buruknya, tempat lilin itu jatuh berdentang yang membuat para tentara kembali ke tempat mereka berada.

Sang assassin sedang berpikir keras untuk keluar dari situasi terjepit ini saat ia merasakan gadis tersebut menyentuh lengannya dengan lembut. Sang assassin menatap gadis itu yang menatapnya balik dengan tenang. Ia mengisyaratkan sesuatu dengan jarinya dan menunjuk suatu arah. Sang assassin masih belum paham saat tiba-tiba saja sang gadis menarik lengannya dan berlari ke arah yang tadi ditunjuknya sambil menarik dirinya. Lehernya yang tadi ditempeli blade tergores dan mengeluarkan sedikit darah. Akan tetapi gadis itu tidak peduli dan membawa sang assassin lari.

Mereka tiba ke suatu lorong yang agak sepi dan di sana ada pintu yang agak besar. Tanpa ragu sang gadis langsung masuk ke dalam. Sang assassin tidak tahu apa yang diingankan gadis ini, sebagai tindak waspada saat mereka telah masuk ruangan ia kembali menahan gadis itu dari belakang, membekap mulutnya dan kembali menempelkan bladenya.

“Gadis ini sangat aneh.” Pikir sang assassin. “Ia terlalu tenang. Bahkan anggota senior Templar sekalipun emosinya akan naik bila berhadapan dengan assassin.”

Sang gadis kembali memegang lengan yang menahannya dengan lembut. Tangannya mengisyaratkan agar sang assassin menoleh ke belakang. Saat ia menoleh, ia melihat sebuah jendela yang cukup besar dengan sebuah balkon. Sebuah jalan keluar.

Ia tidak paham dengan gadis ini, tapi ini bukan waktu yang tepat untuk memikirkan hal itu. Prioritas utamanya adalah keluar dari area ini dan melaporkan hasil misinya. Hidung sang assassin menghirup wangi yang lembut dari rambut sang gadis. Matanya menatap luka gores yang ada di lehernya, sedikit merasa bersalah.

Ia memasukkan kembali blade miliknya, akan tetapi tetap bertahan untuk membekap mulut sang gadis. Sang gadis masih berdiri dengan tenang seakan ia tahu bahwa dirinya tidak akan mengalami bahaya apapun. Sang assassin memasukkan tangan ke sakunya dan menarik sebuah saputangan. Dengan lembut ia menempelkan saputangan itu ke luka sang gadis dan meninggalkan sapu tangan itu di sana.

Perlahan bekapan di mulutnya juga terlepas dan sang gadis bisa merasakan sosok itu semakin lama semakin menjauh dari tubuhnya. Saat ia menoleh ke belakang jendela kamarnya telah terbuka lebar, tirainya tertiup angin.

Gadis itu berlari ke arah balkon dan menatap ke bawah, tidak ada siapapun kecuali para tentara yang masih berlari kesana kemari, mencari sosok assassin tersebut. Saat sang gadis menatap ke atas ia juga tidak bisa melihat apapun.

Sang gadis menghela napas kecewa. Ia menatap angkasa untuk terakhir kalinya dan masuk ruangan. Tangannya menggenggam erat saputangan dari assassin tersebut.

“Padahal aku ingin sekali mengobrol dengannya.” Keluh sang gadis kecewa. Kapan lagi kau bisa bertemu dengan assassin dari dekat tanpa saling membunuh. Apalagi kalau kau adalah anggota Templar.

.

.

.

Sang assassin berdiri di atap istana di sisi lain. Matanya menatap tajam saat ia melihat sang gadis kembali masuk ke kamarnya. Ia mengangkat tangannya, mengeluarkan blade miliknya, menatapnya sesaat dan memasukkannya lagi. Ia menggeleng pelan dan berlari menyusuri atap istana.

Saatnya untuk melaporkan hasil misinya.

#To Be Continued


[1] Assassin. Sebenarnya artinya bisa pembunuh. Cuma karena ini pakai setting dunia Assassin’s Creed lebih enak pakai arti Assassin

[2] Sial. Atau ungkapan makian kasar apapun

Advertisements

Everything is Permitted

Tak ada satupun yang berani berteriak, semua orang yang ada di lapangan hanya berani berbisik-bisik. Wajah mereka pucat dan pandangan mata mereka cemas. Di hadapan mereka semua terdapat lima orang berdiri di panggung kayu, tepatnya empat orang pria dengan satu orang remaja. Di leher mereka terlilit tali tambang yang cukup tebal. Di depan panggung kayu itu berbaris tentara berseragam angkuh, memasang barikade dengan menggunakan tombak mereka.

Seorang pria tua dengan rambut dan janggut memutih menatap pemandangan itu dengan angkuh dari sebuah balkon. Satu tangannya mengangkat, semua orang mengarahkan atensi mereka ke tangan itu. Lima orang berdiri menggigil, tubuh mereka bergetar keras. Jari itu menjentik, menjadi sebuah pertanda. Seorang pria menarik sebuah tuas-

Jreggg!

-semua orang menarik napas, tercekat. Dalam sekejap lantai kayu itu menjeblak terbuka ke bawah dan lima orang itu tergantung dengan tambang terlilit di leher mereka. Mereka meronta sesaat dan akhirnya mati. Kematian yang lambat dan menyiksa.

Semua orang yang ada di sana terdiam. Tak berani berbisik-bisik, hanya mampun menggeram dalam hati. Mereka semua tahu, satu saja suara protes terdengar maka giliran leher merekalah yang akan terlilit tali tambang.

.

.

.

“Lihat, kan putriku? Begitulah caranya menghukum mereka yang menentang kita.” Pria tua itu menatap putrinya dengan tatapan tajam.

Sang gadis menutup matanya, wajahnya pucat. Perutnya mual dan kepalanya pusing. Ia tidak sanggup melihat eksekusi barusan.

“Apa kau paham?” kali ini sang ayah bertanya dengan suara yang berbahaya. Tak ada pilihan lain, sang gadis membuka matanya perlahan an menatap ayahnya dengan tatapan mata sedih. Mulutnya membuka dan menutup beberapa kali, tidak yakin harus berkata apa.

Semua itu salah! Ayahnya salah!

Para rakyatnya tidak bersalah. Apakah sebuah kesalahan kalau rakyat menuntut sesuatu dari Rajanya? Bukankah tugas seorang Raja adalah memastikan kebutuhan Rakyatnya terpenuhi? Lalu mengapa mereka berlima harus dibungkam selamanya hanya karena mereka mempertanyakan kepemerintahan sang Raja?

Sang putri menatap ayahnya dengan tatapan berkaca-kaca. Mata ayahnya berkilat tajam. Satu kata saja yang salah maka sang putri akan menemukan dirinya sendiri dengan tambang terlilit di lehernya. Dengan berat sang putri mengangguk.

Sang Raja menepuk pundak putrinya dengan lembut, “Suatu saat tahta ini akan menjadi milikmu, putriku. Ratu Fauziah. Tidakkah itu kedengaran bagus?”

Sang putri – yang bernama Fauziah hanya bisa mengangguk lemas. Napasnya sesak. Ayahnya, Sang Raja berlalu dengan wajah puas sementara Fauziah berbelok ke arah lain. Edward, pengawal pribadinya mengikuti dirinya dari jarak tertentu. Fauziah merasakan napasnya sesak dan langsung berlari menuju kamarnya. Air matanya tumpah.

Pintu kamarnya menjeblak terbuka, mengagetkan semua dayang yang ada di kamarnya.

“Tuan putri, ada a-”

“Keluar.”

“Tapi tuan putri, a-”

“Aku bilang keluar.”

Semua pelayan menunduk patuh dengan pandangan bertanya. Fauziah melemparkan diri ke tempat tidur bersamaan dengan dayang terakhir keluar dari kamarnya. Ia membenamkan wajahnya di bantal dan berteriak sekencangnya, menangis sekuat-kuatnya.

Ia merasa dirinya lemah. Ayahnya telah berbuat sewenang-wenang,  padahal ayahnya bukanlah seorang Raja. Pewaris tahta sesungguhnya adalah dirinya setelah ibunya meninggal. Akan tetapi ayahnya sengaja merebut tahta itu dengan alasan dirinya belum cukup umur untuk memerintah kerajaan sendiri. Oh, Fauziah kali ini benar-benar berharap ibunya tidak pernah meninggal. Atau umurnya sudah cukup untuk memerintah sendiri sesuai hukum yang berlaku.

“Kau masih menangis.”

Fauziah tidak perlu menengok untuk tahu siapa yang berbicara. “Aku merasa lemah.” Fauziah meringkuk di tempat tidurnya.

Edward mendekat dan berlutut di sisi tempat tidur, “Anda tidak lemah.”

Fauziah menggeleng, “Aku tidak bisa menghentikan ayahku. Aku tidak bisa menolong rakyatku sendiri. Aku tidak pantas menjadi seorang ratu.”

“Anda pantas menjadi seorang ratu.” Edward menatap Fauziah dengan serius. “Masalahnya adalah apakah anda mau mengotori tangan anda sendiri untuk menghentikan ayah anda?”

Fauziah mengubah posisinya menjadi duduk di atas kasurnya, matanya menatap Edward. “Apa maksudmu?”

“Menjadi seorang ratu tidak selalu menggunakan jalan yang lurus dan jujur.”

Fauziah terdiam sejenak, ia bukanlah gadis naif yang tidak tahu makna tersembunyi di balik perkataan Edward.

“Masalahnya adalah apakah anda bersedia mengotori tangan anda?”

Edward menatap Fauziah dengan tatapan yang tajam, seakan memastikan sesuatu. Fauziah terdiam beberapa lama akan tetapi Edward masih setia menunggu jawaban Fauziah.

Nothing is true-

-and Everything is permitted.[*]

Fauziah menatap Edward dengan pandangan cemas. “Tapi kupikir, ayahku-”

“Kami adalah sebuah ideologi. Dan ideologi tak akan pernah hancur meskipun semua orang yang menggenggamnya telah mati.”

Fauziah menatap Edward dengan tatapan yang tak bisa diartikan.

“Kami bersumpah untuk selalu setia pada ratu kerajaan ini, baik Ibu anda maupun anda sendiri.”

Angin bertiup lembut menerbangkan tirai kamar yang tipis.

“Pertanyaannya adalah apakah anda mau mengotori tangan anda?”

.

.

.

Sebuah pesta yang megah sedang berlangsung. Gelas-gelas tinggi berisi anggur dan berbagai minuman mahal lainnya terus diisi berulang kali. Para bangsawan tertawa-tawa dan saling menjilat, memastikan keamanan posisi diri.

Fauziah menatap semua itu dengan muak. Di saat rakyatnya sedang tercekik karena mereka tidak bisa makan, di sini para bangsawan bermewah-mewah dan seenaknya menghamburkan makanan. Mereka makan, memuntahkannya dan kemudian makan lagi. Memuakkan.

Fauziah menatap ayahnya yang bangkit dari kursinya, mengangkat gelas anggur.

“Malam ini mari kita makan dan minum sepuasnya.” Para bangsawan bertepuk tangan meriah.

Sang Raja mengangkat tangannya, “Lupakan semua yang ada di luar istana ini. Semoga kerajaan kita akan bertahan selama-lamanya!”

Fauziah ingin sekali memutar matanya. Kalau ayahnya terus memerintah dengan tangan besi seperti ini justru Fauziah akan heran kalau kerajaan ini masih akan bertahan setidaknya untuk satu tahun kedepan.

“Demi kerajaan kita.” Raja mengangkat gelasnya dan diikuti semua bangsawan, “Demi kerajaan kita.”

Sebelum mereka semua minum lampu mendadak mati. Suasana menjadi gelap gulita. Akan tetapi lampu padam hanya sesaat dan berikutnya ruang aula kembali terang benderang.

Akan tetapi pemandangan menjadi sangat mengerikan. Sang Raja terkapar di lantai dengan darah yang masih mengalir deras. Matanya terbuka dan ekspresi wajahnya terlihat ketakutan.

Suara teriakan terdengar dan para bangsawan mulai berlari keluar ruangan. Fauziah hanya terpaku menatap ayahnya, mengambil napas dan menghampiri jasad ayahnya yang tak bergerak lagi. Sang putri menatap sesaat ayahnya, menutup matanya sebelum akhirnya dipaksa ditarik oleh para pengawal istana untuk kembali ke kamarnya.

Di dalam kamarnya Fauziah berdiri merenung. Pengawal di tempatkan di depan kamar dan di bawah balkon kamarnya. Lagi pula kamarnya berada di lantai tiga, jadi seharusnya tidak ada yang bisa masuk ke kamarnya kan?

Akan tetapi sesosok yang tegap menyelinap masuk ke kamarnya tanpa terlihat oleh para pengawal yang ramai berjaga. Tubuhnya terbalut jubah berwarna gelap dan wajahnya ditutupi tudung. Ia muncul tanpa suara di belakang sang putri. Fauziah mengangkat wajahnya dan menatap sosok itu.

“Kau kah yang membunuh ayahku?”

Sosok itu membuka tudungnya dan menampilkan wajah Edward, pengawal sang putri. Ia berlutut di hadapan Fauziah. “Bukan aku yang melakukannya,” Edward menjawab dengan suara yang serak, “tapi kami.”

Tanpa dikomando muncul sosok-sosok lain berjubah gelap dan wajah ditutupi oleh tudung. Mereka melingkari Fauziah dan berlutut hormat, satu tangan di depan dada dan tangan lain diletakkan di belakang punggung.

“Kami bersumpah untuk selalu setia pada anda, Ratu Fauziah. Ratu kerajaan yang sah di kerajaan ini.”

Edward menatap Fauziah dengan serius, “Akan tetapi camkanlah! Jika anda mengkhianati kepercayaan kami dan rakyat, maka kami tidak akan segan membunuh anda.”

Fauziah menghela napas lelah. Para sosok berjubah gelap itu bangkit dan keluar satu persatu melalui balkon kamar sang putri. Bagaimana para prajurit yang seharusnya berjaga tidak menyadari kehadiran para sosok itu Fauziah tidak mengerti. Saat ini di kamar hanya ada Edward dan dirinya.

“Kalian telah membunuh ayahku, setelah ini kalian akan kemana?”

Edward memakai kembali tudungnya, menyembunyikan wajahnya. “Kami akan terus berlari.”

Fauziah mengerutkan alisnya.

Berlari. Berlari. Berlari. Selama malam masih ada aku akan terus berlari.”

Edward melooncat ke pegangan balkon dan menatap Fauziah. “Jaga dirimu, ratuku.”

Fauziah menangkap tangan Edward, “Apakah kau akan kembali padaku?”

Edward menatap Fauziah dengan lekat. “Saat matahari bersinar aku akan berada di sisimu, Ratuku.”

Fauziah melepaskan pegangannya pada Edward yang sudah berlari ke satu arah. Para prajurit mulai menyadari keberadaan mereka dan mulai saling berteriak dan mengejar. Fauziah menatap sosok yang berlari di atap-atap. Angin dingin bertiup lembut.

.

.

.

Edward menatap sang putri yang masih berdiri di balkon. Ia merapatkan jubahnya dan membenahi tudungnya.

“Dan saat malam tiba, aku akan kembali berlari. Karena kami adalah assassin.”

#END


Note:

[*] Ideologi yang dianut para anggota Assassin’s Creed yang juga diambil dari novel berjudul Alamut karangan Vladimir Bartol. Ideologi ini jadi dasar dalam dunia Assassin’s Creed.

A/N: Hadiah ulang tahun yang udah lewat buat Ratu Fauziah, member IOCWP. Selamat ulang tahun Ziah sekaligus nih cerita buat kadomu untuk lulus sidang dan sekalian ngelunasin utang challenge. Duh nih cerita sekalian-sekalian semua 😛 gak modal banget ya ngasih kado sekaligus semuanya :”)

Code Name: Devil

Gue lagi tergila-gila sama Assassin Creed series. Jadi maafin yaa.. 😛

Melayang. Melayang. Melayang.

Heh, tak kusangka barang ini bagus juga. Pantas harganya lumayan. Emang benar, harga gak pernah bohong!

Heh! Dan sekarang aku bisa melihat…er, apa itu? Hantu? Pakai baju putih-putih?

Hahaha, lucu juga. Hantunya cantik juga. Kira-kira bisa dibayar berapa?

Dan berikutnya aku melihat kegelapan.

.

.

.

Aku bergelung… entah dimana ini. Badanku rasanya lelah dan tempat yang kutiduri saat ini benar-benar empuk. Tanganku asal memeluk apapun yang ada di sampingku, menghirup wangi yang memabukkan. Entah apa itu rasanya begitu hangat dan harum.

Brak!

“Bangun. Sarapan sudah siap.”

Sebuah suara yang sangat tenang dan cuek. Perlahan aku membuka mataku, rasanya pusing.

“Kamu rupanya,” keluhku kembali menutup mata. Seorang gadis berjilbab memandang kearahku dengan tatapan datar. Adik tiriku, Shafira.  Hmm, dia tidak melihat kearahku tapi kearah di sampingku?

Aku mengangkat kepala dengan malas, apa sih yang dia lihat?

Dan…seorang perempuan tertidur di sampingku. Baiklah, siapa wanita ini? Aku melempar pandangan heran ke Shafira. Kali ini dia melipat kedua tangannya dan bersender di pintu kamarku. “Ini bukan pertama kalinya kamu pulang ke rumah bawa perempuan, jadi jangan pasang wajah heran begitu di depanku.” Ujarnya datar.

“Ayah tadi telepon. Lima belas menit lagi dia akan menelepon lagi. Lebih baik kamu bersiap-siap.”

Aku masih bengong dan memandang wanita yang tertidur lelap disampingku. Baiklah, saatnya mengusir wanita ini.

.

.

.

Aku turun ke ruang makan, pipiku sakit dan perih. Sial! Wanita jalang itu malah menamparku. Memangnya dia siapa? Tahu namanya saja tidak!

Aku menghampiri Shafira yang sedang mengoles mentega di selainya.

“Pipiku sakit ditampar.”

Adik tiriku hanya terdiam, aku mengernyit tidak senang. “Hei! Aku bilang aku ditampar.”

“Lalu? Cowok sepertimu memang pantas untuk ditampar.” Shafira terus mengoleskan mentega di rotinya tanpa menoleh padaku. Aku langsung menghampiri sisi Shafira, menarik tangannya dan mencengkram dagunya, memaksanya untuk melihatku.

“Kau terlalu dingin padaku.” Keluhku kesal, tapi adik tiriku itu hanya kembali menatapku dengan dingin.

“Jangan lupa-“ aku mengelus pipinya dengan lembut, tapi dia malah menatapku semakin dingin. Heh, aku suka itu.”-kau hanyalah anak pungut di sini.”

“Lalu?”

Aku mengangkat alisku, ia menantang. “Kau harus dengar semua perkataanku.” Aku megelus jilbabnya yang hari ini berwarna abu gelap. “Bagaimana kalau kau mulai dari melepas kain lap ini? Dan menghabiskan malam di kamarku?”

Alisnya mengernyit tapi aku tak peduli. Jemariku sibuk menjelajah pipi dan rahangnya dengan lembut. Jemariku mulai akan menyapu bibirnya saat tangan Shafira menahan tanganku dan melemparnya dengan keras.

“Aku tidak harus mendengarkan kata-katamu.” Shafira berjalan menjauh.

“Aku kakakmu,” aku menyeringai.

“Kalau begitu bersikaplah sebagai seorang kakak.”

Aku tertawa terbahak. “Katakan, berapa ayahku membayarmu?”

Dia berhenti tapi masih belum menoleh padaku.

“Aku bisa membayarmu dua kali lipat dari ayahku.”

Shafira menarik napas dan membuangnya, lalu menatapku. “Kau pikir aku tidur dengan ayahmu? Asal kau tahu, ayahmu itu adalah ayah angkatku.”

Aku mengangkat bahu, “Apapun bisa dibeli dengan uang.” Aku menarik keluar plastik kecil dari saku jinsku dan melambaikannya dengan santai. “Plastik kecil ini bahkan cukup untuk membayarmu menemaniku beberapa malam.”

Shafira mengangkat alisnya, ia kembali melangkah menaiki tangga. Aku tertawa terbahak, “Kamarku tidak dikunci kalau kau mau.” Tawaku kembali menggema.

.

.

.

“Jadi bagaimana?”

“Kurang baik, bos! Polisi cepet banget nangkap barang baru kita. Beberapa anak kroco kita udah ditangkap. Posisi kita masih aman tapi kalau begini terus bisa gawat.”

Aku menendang tempat sampah kaleng. Sial! Barang baru begini kenapa bisa cepat tercium polisi? Aku menggaruk kepalaku dengan frustasi! Tidak salah lagi.

“Diantara kita ada pengkhianat!”

Semua orang menahan napas.

“Lihat aja! Kalau sampai aku tahu-“

Tok Tok Tok

Semua orang memandang arah pintu yang saat ini sedang tertutup, beberapa saling menatap dengan resah. Anak buahku yang paling dekat dengan pintu ruangan kami menatapku dengan ragu. Aku mengangguk sedikit dan ia langsung membuka pintu.

Pintu dibuka sedikit dan ia mengintip, agak lama dan kembali menoleh kearahku. “Bos, adikmu.“

Aku mengangkat alis. Adikku? Maksudnya Shafira?

“Buka pintunya.” Dan pintu langsung dibuka. Menampilkan Shafira dengan jilbab lebar dan pakaian atasan berwarna hitam. Rok yang kali ini ia kenakan adalah rok celana. Aku mengangkat alisku, heran dengan penampilannya kali ini.

“Ada apa? Kalau kau mau menemaniku malam ini-“

“Sayang sekali.” Shafira memotong ucapanku, “Tapi tidak akan ada malam ini.”

Aku mengangkat alisku dan tiba-tiba terdengar suara raungan sirene. Dengan panik aku langsung mengintip keluar jendela. Ada banyak polisi. Dan bukan cuma satu atau dua. Tapi ada sepasukan atau malah lebih polisi huru hara. Aku menoleh dengan marah kearah Shafira.

“Kau! Kau pengkhianatnya!”

Aku belum sempat melakukan apapun dan tiba-tiba saja sepasukan polisi bersenjata lengkap telah muncul dengan rapi di belakang Shafira. Tidak hanya itu, leser bidikan telah membidik satu per satu semua orang yang ada di ruangan ini termasuk aku. Kami benar-benar tertangkap! Tidak ada jalan keluar.

Shafira tersenyum lembut. Aku merasakan darahku mendidih, baru kali ini aku melihat dia tersenyum sejak datang ke rumah kami lima tahun yang lalu, dan dia malah tersenyum di situasi seperti ini!

Gadis itu menyender santai di pintu. Menatapku dengan menantang. “Tangkap mereka semua!”

Semua polisi itu mematuhi perintah gadis itu. Tanpa banyak perlawanan akhirnya kami diringkus dan dibawa keluar.

“Ayahku sudah mengambilmu dari jalanan!” desisku.

“Memang itulah misiku.” Shafira tersenyum mengejek.

“Kalau kita bertemu lagi-“

“Pertemuan kita selanjutnya adalah acara eksekusi kematianmu. Dan kematian ayahmu.”

Polisi yang menahanku langsung membawaku keluar. Aku berteriak meraung-raung, memaki gadis sial itu! Akan tetapi raunganku terpaksa berhenti karena seorang polisi lain memukulku dengan tongkat mereka. Tanpa babibu mereka melemparku ke truk berjeruji.

“Nasibmu sial karena memaki Jenderal. Kami semua disini adalah penggemar Jenderal Shafira.”

Aku membulatkan mataku. Jenderal? Gadis sial itu seorang Jenderal polisi? Aku tertawa lemah.

“Jendralmu itu benar-benar iblis.”

Polisi itu malah tertawa, “Memang itu kode namanya.”

Dan pintu truk pun dibanting tertutup.


A/N: Gak jelas… beneran ini gak jelas banget. Apalah challengenya tema Anak Jalanan kenapa jadi begini? Maunya sih ada pecandu sekaligus bos narkoba gituloh…dia agak brengsek dan ternyata seseorang bisa lebih jahat daripada dia. Er…tapi kayaknya ini aneh ya? Tau ah…bodo amat. Maafkan bahasany agak kasar dan rate M.

Aside

Langit Suram dan Bunga Melankolis

Aku cuma bisa menahan napas, saat kau duduk di hadapanku. Jelas uap kopi masih mengepul, tapi kurasakan suasana dingin tak menentu.

Kau bilang, kita sudahi saja semua. Dingin dan meyakinkan. Padahal di depanmu aku baru saja menyodorkan kotak itu, beledu merah dengan cincin emas di dalamnya.

Kau memandang tanpa minat. Dan mendorong kotak itu kembali ke sisiku. Dengan tergesa kau bangkit dan membisikkan jangan pernah hubungi kau lagi.

Dan disitulah mataku membulat. Wajahmu tersenyum sumringah. Pada seseorang yang berdiri di sana. Tanpa malu-malu kau lingkarkan lenganmu pada pria tidak jelas siapa itu. Disitulah aku merutuk diri sendiri, betapa bodoh dan naifnya diriku.

Sekarang aku berjalan di sini, entah dimana aku tak peduli. Menubruk orang kesana kemari, memikirkan semua yang terjadi.

Dan saat kuangkat kepalaku, mataku menatap pemandangan itu. Langit sore yang suram, dengan ladang bunga berwarna melankolis. Dan kemudian aku berteriak. Berteriak dan terus berteriak.

Biarlah semua orang menganggap aku gila. Karena inilah yang namanya patah hati. Sekarang biarkan aku menggila dan meresap semua ini. Agar besok aku bisa kembali pulih.

Angin bertiup lembut, membawa kelopak bunga berwarna melankolis. Biarlah aku tak menangis. Karena langit suram dan bunga melankolis telah menggantikanku untuk menangis.


A/N: err… rasanya aneh ya. Pingin sekali-sekali bikin tulisan pakai “kau” begitu. Atau enggak POV dua tapi masih belum bisa. Perlu belajar lebih banyak lagi. Terus rimanya aneh banget. Ini bukan puisi pastinya. Apa bisa masuk prosa ya? Tau deh… buat challenge IOC Writing #Release Your Stress.

Ronda Malam

“Huaahmmm,”

Tok Tok Tok Tok

Aku mengetuk kentonganku malas-malasan. Hari ini giliranku ronda malam dan suasana seperti biasa, gelap, tidak ada maling dan nyamuk ganas berkeliaran.

“Huaahhmmm,”

Tadi sih pas aku ningggalin pos ronda sekitar jam 3 pagi. Mungkin sekarang hampir jam setengah 4 pagi, kali ya? Kalau tahu tadi bakal nguap terus-terusan begini harusnya aku minum dulu kopi yang disiapin Mbok Silmi. Lagian aku sok-sok an juga sih nolak minum kopi. Kupikir jalan ngeronda bakal bikin ngantukku berkurang, tahunya hawa dingin malah jadi bikin tambah ngantuk.

“Huaaahh-“

Dor Dor Dor Dor Dor

Aku langsung berhenti menguap. Sumpah itu bukan bunyi kentonganku! Itu bunyi suara tembakan! Iya! Itu suara tembakan! Tapi asalnya-

Dor Dor Dor Dor

Ya ampun! Dari arah rumah Pak Pandjaitan! Ada apakah?

Tanpa babibu aku langsung berlari, kadang terseok juga dengan sarung yang kupakai. Akhirnya aku mengalungkan sarungku dan berlari membawa kentonganku. Sempat berpikir untuk mengetok alat itu tapi penasaran juga. Suara tembakan itu begitu keras kenapa tak ada satupun warga yang keluar rumah?

Aku hampir sampai di tikungan rumah Pak Pandjaitan tapi langsung sembunyi lagi. Ada mobil yang berhenti di depan rumah bapak Panglima. Aku menghela napas lega tapi penasaran, kenapa yang datang bukan tentara yang biasa datang ke rumah Pak Pandjaitan?

Aku bersembunyi di sudut dinding yang gelap, memperhatikan mereka semua. Tentara yang datang kali ini agak galak, mereka berteriak-teriak mencari Pak Pandjaitan. Mereka sepertinya memang bukan tentara yang biasa datang ke rumah ini. Semua orang di daerah sini dan tentara yang datang ke rumah Bapak tidak ada yang sampai teriak-teriak mencari Bapak. Jadi siapa-

Dor Dor Dor Dor Dor

Astaghfirullah! Mereka bawa senapan? Apa-apaan ini?

Aku berusaha mengintip supaya bisa melihat lebih jelas. Ah, ada yang keluar. Tapi itu kan Bapak? Bapak Pandjaitan! Beliau keluar sambil berseragam lengkap. Berarti semua orang yang dari tadi berisik ini benar-benar tentara?

Tapi, loh! Kok Bapak diam saja? Seperti berdoa. Apa Bapak mau dikirim tugas ke tempat yang jauh? Tapi kenapa istri dan anak-anak bapak tidak ada yang mengantar bapak seperti biasanya?

Aku sedang memperhatikan tentara yang lalu lalang di belakang bapak sambil mengokang senapan. Dan tau-tau saja-

DOR!

Astagfirullah! Aku langsung jatuh duduk di tempat. Bapak Pandjaitan ditembak! Tega sekali! Siapa mereka?

“Kamu lihat semuanya, kan?”

DEG! Suara yang dingin dan sesuatu yang keras menekan bagian belakang kepalaku. Belum sempat aku menoleh-

BUAGH!

-semuanya gelap.

#End#


A/N: Dibuat untuk sekedar melatih menulis, sekaligus momennya pas sama G30S/PKI biarlah jadi pengingat kita semua. Kebetulan diantara semua sejarah yang dipelajarin waktu sekolah saya paling suka belajar tema sejarah yang ini. Kalau ditanya kenapa jawabnya sih miris aja gituloh nyawa manusia kayaknya murah banget demi mendapatkan kekuasaan. Sengaja ambil setting Panglima D.I. Pandjaitan karena ya gitulah..berdoa dulu sebelum diterabas sama PKI kesannya agamis banget, beda banget sama PKI yang notabene namanya komunis.

Karena ini fiksi based on history tolong jangan marahin saya kalau faktanya enggak lengkap :”(  dah apalah saya cuma nulis ini based on wikipedia doang. Sekedar jadi pengingat doang jangan sampai PKI muncul lagi di tanah Indonesia.

 

Asal Mula Nama Pulau Irian

Rewritten by: Latifun Kanurilkomari

Pada zaman dulu kala, ada seorang pria yang bernama Mananamakrdi. Doi adalah anak bungsu dari keluarga yang tinggal di Kampung Sopen, Biak Barat.

Sebelum kamu mikir Mananamakrdi – duh, susah juga nulisnya, mulai sekarang kita panggil Manana aja ya. Nah seperti yang dibilang tadi, jangan ngebayangin Manana ini sebagai cowok ganteng, kaya, gagah dan semua ala-ala gary sue tadi. Mungkin cowok kayak gitu ada, tapi bukan di cerita ini. Di cerita ini Manana adalah pemuda yang malang banget. Nasibnya buntung, kulitnya kudisan, baunya gak sedap lagi. Duh, kebalikan banget kan sama bayang-bayang gary sue di awal?

Nah, karena nasib si Manana ini sial banget, dan dia anak bungsu dari entah berapa saudara, walhasil Manana ini selalu dibully sama saudara-saudaranya. Orang tuanya juga gak bisa ngebelain, secara kalah jumlah bo! Dua orang ngelawan saudara-saudara Manana yang banyaknya enggak tahu berapa, mana sanggup. Iya kan?

Dan hasilnya bisa ditebak, Manana cuma bisa berdoa apa salahku, apa dosaku. Saudara-saudara yang kejam itu terus ngebully Manana sampai akhirnya Manana diusir dari rumah. Manana sih cuma bisa pasrah, akhirnya doi minggat dari rumah. Keluar dari tingkah kejam saudara kandungnya.

Manana lalu berjalan ke arah timur, lari ke hutan lalu belok ke pantai. Kemudian Manana teriak-teriak, lalu pecahkan gelas- wait ini kayaknya puisi dari film sebelah. Maksudnya, akhirnya Manana tiba di suatu pantai gitu loh, terus dia menatap lautan. Kebetulan di pantai itu ada perahu yang sedang menambat.

“Anak muda! Kenapa diam saja di sana! Kalau mau ikut ayo segera naik ke perahu!” ajak Bapak Tua pengayuh perahu.

“Kemana perahu ini akan mengarah, Pak?”

“Pulau Miokbudi, di Biak Timur.”

Manana langsung meloncat ke dalam perahu. Lagian dia juga sudah diusir dari rumah, jadi enggak masalah kalau sekalian pergi ke tempat yang jauh, kan? Setelah sampai di Pulau Miokbudi, Manana membangun gubuk kecil untuk dirinya sendiri dan menaman sagu dan tuak untuk bahan makanan sehari-hari. Setiap hari Manana masak sendiri, makan sendiri, cuci baju sendiri, tidur pun sendiri- ups, keterusan nyanyi nanti.

Akhirnya Manana pun hidup dengan bahagia, sejahtera dan sentosa di Pulau Miokbudi. Maunya sih begitu, tapi sayangnya enggak begitu. Semuanya berubah saat lagi-lagi kesialan mampir ke hidup Manana. Persediaan air nira yang disadap Manana buat bikin tuak tiba-tiba raib, hilang tak berbekas. Jelas Manana jengkel. Hidup sepi dan sendiri, ngapa-ngapain dilakukan sendiri eh air nira persediannya malah raib. Kan sebel.

“Pasti ada pencuri nih,” Manana cuma bisa gigit jari. Akhirnya dia memutuskan untuk begadang buat menangkap pencuri yang tidak sopan itu. Begadang asal ada tujuannya gak apa-apa toh?

Manana sembunyi tidak jauh dari tempat persediaan air nira miliknya. Inilah deritanya hidup sendiri, digigit nyamuk juga sendirian. Coba ada teman, kan bisa begadang sama-sama sambil nungguin pencurinya muncul – main gaplek misalnya. Sayang Manana gak punya teman, jadinya harus puas digigit nyamuk yang sadis tanpa kehangatan sendirian. Saat hari hampir Subuh tiba-tiba datanglah seekor makhluk yang meminum habis persediaan air nira. Tanpa babibu makhluk itu langsung ditangkap.

“Hei! Kamu ya yang seenaknya minum persediaan air nira punyaku?”

Yang ditangkap malah meronta-ronta, berusaha kabur. “Lepas! Lepaskan aku!”

“Enak aja minta lepas! Gak lihat persediaanku habis semua?”

Makhluk itu berhenti meronta dan memandang Manana yang masih kesal. “Aku adalah si Bintang Pagi. Biasanya orang memanggilku Sampan. Tolong lepaskan aku.”

Manana masih kesal, jadi ia tetap tidak mau melepas si Bintang Pagi.

“Baiklah, kalau begitu aku akan mengabulkan permintaanmu.”

Mamana mulai berpikir, enaknya minta apa ya?

“Sembuhkan sakit kudisku dan berikan aku istri yang cantik,”

Si Bintang Pagi sih mau banget teriak maruk amat sih lo. Tapi kalau kayak begitu nanti enggak sesuai sama dongengnya. Jadilah ia menjawab, “Pergilah ke pantai, nanti ada pohon Bitanggur. Panjatlah pohon itu dan kalau kamu melihat seorang gadis sedang mandi lemparlah gadis itu dengan sebiji Bitanggur. Nanti gadis itu jadi istrimu.” Fantastis, solusi untuk para jones adalah cukup melempar biji Bitanggur!

Awalanya Manana sangsi, masa sih ngelempar biji Bitanggur bisa dapet istri? Tapi ya sudahlah, dengan patuh ia mengikuti nasihat si Bintang Pagi. Sejak saat itu Manana punya hobi baru, manjat pohon Bitanggur sambil memandang pantai. Syukur-syukur ketemu cewek cantik yang bisa dijadiin istri.

Ternyata hobi baru itu tidak bertahan lama, cewek cantik yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Kayaknya sih cantik, karena begitu Manana manjat pohon melihat ada cewek yang mandi langsung aja deh dilempar pakai biji bitanggur. Lagian ceweknya mandi jauh banget kok dari pohon Bitanggur, jadinya Manana enggak bisa lihat wajah si cewek. Tapi walau posisi si cewek jauh dari pohon, tetap aja si cewek kena lemparan biji Bitanggur dari Manana.

Kebetulan, cewek yang sedang mandi itu namanya Insoraki, putri kepala suku dari kampung Meokbundi. Awalnya sih dia enggak merasa terganggu dengan biji Bitanggur. Tapi lama-kelamaan kalau lagi asyik-asyiknya mandi diganggu jengkel juga, akhirnya Insoraki memutuskan untuk cuek aja. Setelah selesai mandi, Insoraki kembali ke kampungnya.

Nah, mulai dari sini tiba-tiba ada gosip beredar kalau Insoraki sedang hamil. Seluruh penduduk kampung Meokbundi pun geger, apalagi Insoraki. Jelaslah, pulang tamasya dari pantai tahu-tahu malah berbadan dua, cewek mana yang enggak kaget? Para penduduk pingin tahu banget, siapakah kiranya yang menghamili Insoraki. Tapi sayang, Insoraki tidak menjawab. Karena memang si doi juga enggak tahu.

Setelah sembilan bulan akhirnya Insoraki melahirkan seorang putra yang diberi nama Konori. Sesuai adat yang berlaku akhirnya digelar upacara peresmian nama, kebetulan Manana datang karena diundang. Saat Manana datang ke kampung, Konori berteriak sambil menunjuk Manana dengan sebutan Ayah. Nah, disinilah baru ketahuan siapa ayah Konori. Akhirnya penduduk kampung menikahkan Insoraki dengan Manana.

Tapi, seperti yang kamu semua tahu tapi mungkin lupa, Manana punya penyakit kudis yang bau banget. Saking bau dan jijiknya, semua penduduk sepakat buat pindah dari kampung. Walhasil di kampung yang luas itu cuma tersisa Manana dengan istri dan anaknya saja. Manana merasa sedih karena istri dan anaknya dihina dan ditinggalkan seluruh rakyat kampung gara-gara dia. Manana sedih banget, saking sedihnya sampai frustrasi hingga akhirnya ia mengumpulkan kayu bakar dan menyulut api. Tanpa prolog apalagi kata pembuka, Manana langsung melemparkan diri ke dalam kobaran api.

Insoraki jelas kaget. Anak masih kecil, apalagi mereka sendirian di kampung. Insoraki belum siap jadi janda. Tidaaakkk!

Tapi tenang, dongeng ini berakhir happy ending kok.

Dari balik jilatan api, tiba-tiba muncullah pemuda yang gagah dan tampan. Wajahnya juga mulus tanpa bopeng apalagi kudis. Itulah Manana atau yang nama aslinya Mananamakrdi. Manana senang banget, akhirnya penyakitnya hilang. Insoraki jelas lebih senang lagi. Suaminya jadi ala-ala karakter gary sue. Ditambah lagi dia enggak jadi janda. Alhamdulillah sesuatu banget. Saking senangnya Manana mengubah namanya menjadi Masren Koreri yang artinya pria yang suci.

Setelah mereka semua berbahagia sejahtera dan sentosa, Manana mengajak istri dan anaknya untuk hijrah dari kampung itu. Sekeluarga itu pun akhirnya pergi berjalan ke hutan lalu belok ke pantai. Kebetulan saat itu sedang berkabut. Ketika matahari semakin lama semakin meninggi akhirnya kabut itu pun lenyap. Tampak oleh mereka pemandangan bukit yang hijau dengan latar belakang langit yang biru.

“Irian… Irian (artinya panas),” teriak Konori sambil menunjuk-nunjuk pemandangan yang mereka saksikan.

“Apa maksudmu Nak? Itu tanah asal nenek moyangmu loh!” Manana heran mendengar ucapan anaknya.

Insoraki tersenyum lembut, “Maksud Konori, saat matahari mulai panas tiba-tiba muncul pemandangan yang indah di hadapan kita.” Insoraki berbaik hati menjadi penerjemah. Manana cuma mengangguk paham, terkesima dengan kemampuan translate Insoraki.

Sejak saat itu, wilayah itu dinamai Irian. Atau sekarang yang kita kenal juga dengan Provinsi Papua.

Sumber: dongengceritarakyat.com

Quote Challenge – O Cursed Spite

“Dan demikianlah pada setiap negeri Kami jadikan pembesar-pembesar yang jahat agar melakukan tipu daya di negeri itu. Tapi mereka hanya menipu diri sendiri tanpa menyadarinya” (Q.S Al-An’am : 123)

.

.

Aku mengangkat mataku dari halaman Al-Quran yang ditunjukkan oleh Elda. Tapi gadis itu hanya menatap es coklat yang ada di hadapannya, memainkan es dengan sedotan miliknya.

Aku menghela napas, “Jadi maksudmu setiap negara itu istilahnya punya penjahat besar yang tugasnya merampok negara?”

“Setiap kebaikan pasti ada kejahatan. Itu hukum alam.” Elda menjawab tidak langsung.

Aku mengerutkan alisku. “Kalau misalnya emang ditulis ada orang jahat di setiap negeri nanti semua orang jahat itu tinggal bilang gue kan cuma ngikutin apa kata Tuhan.

Elda tersenyum, “Tapi mereka hanya menipu diri sendiri tanpa menyadarinya.”

Aku kembali membaca ayat Al-Quran yang dimaksud. Aku mendesah, “Mana ada penjahat mau ngaku kalau dia itu sebenernya penjahat.”

Elda mengangguk setuju, “Itu sesuai dengan Al-Baqarah ayat sebelas dan dua belas.”

Aku membalik halaman Al-Quran dan mencari surat yang dimaksud, “Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Janganlah berbuat kerusakan di bumi!’ Mereka menjawab, ‘Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan.’ Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, tapi mereka tidak menyadari.”

Aku memelototi Elda dan meletakkan Al-Quran itu perlahan di atas meja. “Kewajiban kita sebagai muslim berat banget,” desahku.

Elda menggeleng pelan, “Justru kita termasuk orang yang merugi kalau kita tidak saling menasihati dalam kebaikan dan kesabaran.”

Aku meluruskan punggungku, duduk tegak di kursi, “Yah, kamu benar.”

Elda menatap keluar, matanya menerawang. “The time is out of joint*.” Aku mengangkat alisku, tersenyum dan melanjutkan, “O Cursed spite. That ever I was born to set it right!*”

Elda menatapku dengan pandangan yang tak bisa diartikan. Aku mengangkat bahu, “Rasanya kutipan itu cocok.” Elda menatap gelasnya, memainkan sedotan miliknya, “Justru sejak kita lahir sebagai muslim memang itu kewajiban kita, menasihati dalam kebaikan dan kesabaran.”

Aku meletakkan telunjukku didepan bibirku, “Tapi itu rahasia untuk kita berdua saja.”

Aku dan Elda saling tersenyum, menyimpan rahasia yang hanya kami berdua saja yang tahu.

#End

Catatan: * adalah quote dalam karya William Shakespeare, Hamlet: Act 1, Scene 5, Page 8