Menstimulasi Anak Suka Membaca

Institut Ibu Profesional, Kelas Bunda Sayang,

Materi ke #5

Mari  kita mulai dengan bermain peran terlebih dahulu. Bayangkan kita adalah seorang dewasa dengan bahasa yang kita gunakan sehari-hari adalah bahasa Indonesia,   belum pernah mengetahui bahasa mandarin  kemudian tiba-tiba kita diberi Koran berbahasa mandarin dengan tulisan mandarin semua. Apa yang kebayang di benak kita semua?

Pusing?

Tidak tahu maksudnya?

Lalu kita hanya melihat-lihat gambarnya saja?

Hal tersebut akan sama halnya dengan anak-anak yang belum dibiasakan mendengarkan berbagai dialog bahasa ibunya, belum belajar berbicara bahasa ibunya dengan baik, tiba-tiba dihadapkan dengan berbagai cara belajar membaca bahasa ibunya tersebut yang berisi dengan deretan-deretan huruf yang masih asing di benak anak, diminta untuk mengulang-ngulangnya terus menerus dengan harapan anak bisa cepat membaca.
🍒 KETRAMPILAN BERBAHASA 
Sebelum lebih jauh membahas tentang teknik menstimulasi anak membaca kita perlu memahami terlebih dahulu tahapan-tahapan yang perlu dilalui anak-anak dalam meningkatkan ketrampilan berbahasanya.
Tahapan tersebut adalah sebagai berikut :
a. Keterampilan mendengarkan ( listening skills )
b. Ketrampilan Berbicara ( speaking skills )
c. Ketrampilan Membaca ( reading skills )
d. Ketrampilan Menulis ( writing skills )

Keempat tahapan tersebut di atas harus dilalui terlebih dahulu secara matang oleh anak. Sehingga anak yang BISA MENDENGARKAN (Menyimak) komunikasi orang dewasa di sekitarnya dengan baik, pasti BISA BERBICARA dengan baik, selama organ pendengaran dan organ pengecapnya berfungsi dengan baik.
Mendengarkan dan berbicara adalah tahap yang sering dilewatkan orangtua dalam menstimulasi anak-anaknya agar suka membaca. Sehingga hal ini mengakibatkan anak yang BISA MEMBACA, belum tentu terampil  mendengarkan dan berbicara dengan baik dalam kehidupan sehari-harinya. Padahal dua hal ketrampilan di atas sangatlah penting.
Banyak orang dewasa yang menggegas anaknya untuk bisa cepat-cepat membaca, padahal Anak yang BISA BERBICARA dengan baik, pasti akan BISA MEMBACA dengan baik, tetapi banyak yang mengesampingkan 2 tahap sebelumnya.
Pertanyaan selanjutnya mengapa banyak anak bisa membaca tetapi sangat sedikit yang menghasilkan karya dalam bentuk tulisan, bahkan diantara kita orang dewasapun sangat susah menuangkan gagasan-gagasan kita, apa yang kita  baca, kita pelajari dalam bentuk tulisan?
Padahal  kalau melihat tahapan di atas anak yang BISA MEMBACA dengan baik pasti akan dengan baik.
Mengapa? Karena selama ini anak-anak kita hanya distimulus untuk BISA membaca tidak SUKA MEMBACA. Sehingga banyak diantara kita BISA MENULIS huruf ( melek huruf) tetapi tidak bisa menghasilkan karya dalam bentuk tulisan (MENULIS KARYA)
Terbukti  berdasarkan survey UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia baru 0,001 persen. Artinya dalam seribu masayarakat hanya ada satu masayarakat yang memiliki minat baca. Berdasarkan studi Most Littered Nation In the World yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca.
Padahal  program membaca  ini tidak hanya digencarkan oleh pemerintah dalam program literasinya, melainkan juga sudah diperintahkan di dalam salah satu kitab suci agama yang sebagaian besar dianut oleh bangsa Indonesia. Disana tertulis IQRA’ (bacalah), perintah membaca adalah perintah pertama sebelum perintah yang lain turun.
Mengapa kita perlu membaca? Biasanya jawabannya klise yang muncul adalah agar kita bisa menambah wawasan kita, bisa membuka cakrawala dunia dll. Jawaban di atas baik, tapi ada yang kita lupakan tentang tujuan  membaca ini yang jauh lebih penting, yaitu agar anak-anak kita lebih mengenal pencipta nya, karena membaca akan lebih membuat anak-anak  mengenal siapakah dirinya, maka disitulah dia mengenal siapa Tuhannya.
MENSTIMULASI ANAK SUKA MEMBACA
Sekarang kita akan belajar bagaimana tahapan-tahapan agar anak-anak kita SUKA MEMBACA tidak hanya sekedar BISA. Agar ke depannya mereka SUKA MENULIS.
Kita akan memulai dengan berbagai tahap ketrampilan Berbahasa.
🍒 TAHAP MENDENGARKAN 
a. Sering-seringlah berkomunikasi dengan anak, baik saat mereka di dalam kandungan, saat mereka belum bisa berbicara dan saat mereka sudah mulai mengeluarkan kata-kata dari mulut kecilnya.
b. Buatlah berbagai forum keluarga untuk memperbanyak kesempatan anak mendengarkan berbagai ragam komunikasi orang dewasa di sekitarnya.
c. Setelkan berbagai lagu anak, cerita anak yang bisa melatih ketrampilan mendengar mereka.
d. Bacakan buku-buku anak dengan suara yang keras agar anak – anak bisa melihat gambar dan telinganya bekerja untuk mendengarkan maksud gambar tersebut.
e. Sering-seringlah mendongeng/membacakan buku sebelum anak-anak tidur. Jangan pernah capek, meski anak meminta kita mendongeng/membaca buku yang sama sampai puluhan kali. Begitulah cara menyimak.
🍒 TAHAP BERBICARA
a. Di tahap ini anak belajar berbicara, kita sebagai orang dewasa belajar mendengarkan. Investasikan waktu kita sebanyak mungkin untuk mendengarkan SUARA ANAK
b. Jadilah pendengar yang baik, disaat anak-anak ingin membacakan buku untuk kita, dengan cara mengarang cerita berdasarkan gambar, apresiasi mereka.
c. Jadilah murid yang baik, disaat anak-anak kita ingin menjadi guru bagi kita, dengan cara membuat simulasi kelas, dan dia menjadi guru kecil di depan.
d. Ajaklah anak-anak bersilaturahim sesering mungkin, bertemu teman sebayanya dan orang lain yang di atas usianya bahkan di bawah usianya untuk mengasah ketrampilan mendengar dan berbicaranya.
🍒 TAHAP MEMBACA
a. Tempelkan tulisan-tulisan dan gambar-gambar yang jelas dan besar di sekitar rumah, terutama tempat-tempat yang sering di singgahi anak-anak
b. Tempelkan tulisan/kata pada benda-benda yang ada, misalnya, tempelkan kata- televisi pada pesawat televisi
c. Buatlah acara membaca bersama yang seru, misalnya perpustakaan di bawah meja makan
d. Sekali waktu, ajaklah anak-anak ke pangkalan buku-buku bekas, pameran buku dan toko buku
e. Siapkan alat perekam dan rekamlah suara anak kita yang sedang membaca buku
f. Biasakanlah surat-menyurat dengan anak di rumah. Misalnya, dengan menempelkan pesan-pesan di kulkas atau buatlah parsi (papan ekspresi) di rumah
g. Dorong dan ajak anak kita untuk membaca apapun label-label pada kemasan makanan, papan reklame dan masih banyak lagi
h. Berikan buku-buku berilustrasi tanpa teks.  Warna mencolok dan menarik akan merangsang minat untuk membaca, sekaligus membangkitkan rasa ingiin tahunya. Selanjutnya berikan buku full teks dengan ukuran huruf yang besar-besar.
i. Komik juga menarik sebagai pemancing rasa ingin tahu dan gairah membaca anak (tentunya perlu selektif dalam memilih komik yang tepat)
j. Ajaklah anak bertemu dengan pengarang buku, ilustrator, komikus, penjual buku, bahkan penerbit buku
k. Dukung hobi anak kita dan sangkut pautkan dengan buku. Misalnya, buku tentang perangko untuk anak yang hobi mengkoleksi perangko, buku cerita tentang boneka untuk anak yang suka boneka dan sebagainya
l. Budaya baca bisa ditumbuhkan dari ruang keluarga yang serba ada. Ada buku-buku yang mudah diambil anak,  ada mainan anak,  ada karya-karya anak dalam satu ruangan tersebut.
m. Ajaklah anak untuk memilih bukunya sendiri, tapi tentunya dibawah bimbingan kita agar tidak salah pilih
n. Contohkan kebiasaan membaca dan mengkoleksi buku dengan sungguh-sungguh dan konsisten
o. Buatlah pohon literasi keluarga, dengan cara masing-masing anggota keluarga memiliki pohon dengan gambar batang dan ranting, tempelkan di dinding. Siapkanlah daun-daunan dari kertas sebanyak mungkin, setiap kali anak-anak selesai membaca, tuliskan judul buku dan pengarangnya di daun tersebut, kemudian tempelkan di pohon dengan nama anak tersebut. Cara ini bisa untuk melihat seberapa besar minat baca masing-masing anggota keluarga kita, hanya dengan melihat seberapa rimbun daun-daunan di pohon masing-masing.
🍒 TAHAP MENULIS
a. Siapkan satu bidang tembok di rumah kita, tempelkan kertas flipchart besar disana dan ijinkan anak-anak untuk menuangkan gagasannya dalam bentuk tulisan atau coretan.
b. Berilah kesempatan dan dorong anak kita untuk menulis  apapun yang dia lihat, dengar, pegang dan lain-lain
c. Siapkan buku diary keluarga, masing-masing anggota keluarga boleh menuliskan perasaaannya di buku diary tersebut, sehingga akan membentuk rangkaian cerita keluarga yang kadang nggak nyambung tapi seru untuk dibaca bersama.
d. Buat buku jurnal/ buku rasa ingin tahu anak dari kertas bekas,   ijinkan setiap hari anak menuliskan apa yang dia alami apa yang memunculkan rasa ingin tahunya di dalam buku tersebut.
e. Hiraukanlah tanda baca, huruf besar, huruf kecil dll, saat anak-anak mulai belajar menulis. Biarkanlah anak merdeka menuangkan isi pikirannya, hasil bacaannya, tanpa terhenti berbagai kaedah –kaedah menulis yang harus mereka pahami. Setelah anak-anak lancar menulis baru setahap demi setahap ajarkanlah berbagai macam kaedah ini.
Salam Ibu Profesional,
/Tim Fasilitator Bunda Sayang /


Sumber  Bacaan :
Kontributor Anatalogi Bunda Sayang, Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang, Gaza Press, 2014
Pengalaman Bunda Septi dalam mengembangkan ketrampilan berbahasa di keluarganya, Wawancara, Kelas Bunda Sayang, Institut Ibu Profesional, 2017
Andi Yudha Asfandiyar. Creative Parenting Today : Cara praktis memicu dan memacu kreatifitas anak melalui pola asuh kreatif. Bandung: Kaifa. 2012
http://www.supernanny.co.uk/Advice/-/Learning-and-Education/-/4-to-13-years/Help.-My-child-doesn’t-like-reading.aspx

Advertisements

Pembelajar Mandiri

Cemilan Rabu ke 4
Rabu, 27 September 2017

Menyiapkan anak agar mampu menjadi pembelajar mandiri atau otodidak adalah menyelaraskan diri dengan tuntutan zaman.

Menurut Alvin Toffler, seorang futurolog, mengatakan ” Yang disebut dengan buta huruf pada abad ke-21 bukanlah orang yang tidak bisa membaca dan menulis, tetapi orang yang tidak bisa belajar, melepaskan yang diketahuinya dan belajar ulang

Salah satu kemampuan yang dibutuhkan untuk dapat survive adalah memiliki keterampilan beradaptasi, menjadi seorang pembelajar mandiri yang sigap belajar pengetahuan baru.

Seperti apakah anak yang menjadi pembelajar mandiri??

Ciri Pembelajar Mandiri

🍩 Memiliki motif internal

Ia akan aktif dan berinisiatif, dia bukan “orang suruhan” yang baru belajar bila disuruh, tetapi memiliki motivasi dari dirinya sendiri untuk belajar

🍩 Berorientasi Tujuan

Ia tau apa yang ingin diraihnya.

🍩Terampil mencari bahan belajar

Dia tahu dimana dan bagaimana proses belajar yang dibutuhkannya.

🍩Pandai mengelola diri

Dia tahu kapan harus bekerja keras dan kapan harus beristirahat.

Apa yang perlu dilakukan untuk menyiapkan anak menjadi pembelajaran mandiri?

🥕Sediakan lingkungan dan kultur yang kondusif

Kembangkan budaya keluarga yang menghargai inisiatif dan keaktifan anak. Berikan tanggung jawab sesuai perkembangan usianya.

🥕Bangun kebiasaan hidup terencana

Diskusikan dengan anak mengenai mimpi dan rencana-rencana mereka. Bantu mereka untuk merealisasikan yang direncanakan menjadi kenyataan.

🥕 Latih Keterampilan belajar

Ajari anak menggunakan mesin pencari, menggunakan kamus, keterampilan bertanya dan
mencari informasi, mengikuti tutorial, peta dan keterampilan hidup lainnya.

Mari menyiapkan generasi pembelajar mandiri

Salam Ibu Profesional,

/Tim Fasilitator Kelas Bunda Sayang/

 

📚Sumber bacaan:
(Apa Itu Homeschooling, Sumardiono, 2014)

Mendampingi Anak Untuk Mencapai Tujuan

Cemilan Rabu ke 3
Materi ke 4, 20 September 2017

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂

Ibarat pertandingan lari antara kelinci dan kura-kura, ada anak yang termasuk si pelari cepat ( fast starter) dalam berprestasi. Anak ini sangat hebat di kelas, cepat menangkap pelajaran. Namun ada anak yang (slow starter) berprestasi. Anak ini biasa-biasa saja, tidak peduli atau iri terhadap prestasi anak lain.

Tugas kita sebagai orang tua adalah membantu anak-anak ini belajar tanpa dihantui stres berkepanjangan supaya mampu mencapai “garis finish” kehidupannya dengan selamat dan sukses.

Ada orang yang dizaman sekolah biasa-biasa saja, tetapi ternyata sukses sebagai dokter, pengusaha. Sebaliknya ada lagi yang dianggap berprestasi di sekolah, ternyata “tenggelam” sebagai pecundang. Oleh karena itu coba rileks dan biarkan anak berkembang sesuai jadwal yang ditentukan Sang Pencipta.

Anak perlu bermain-main dan bersenang-senang
Otak anak belum dapat dibebani oleh hal-hal berat. Tak heran akibatnya jadi banyak anak mengalami stres. Berikan pembelajaran sesuai usia anak.

Waspadai gairah belajar anak
Waspadailah bila gairah belajar anak menurun, sulit berkonsentrasi, sering sakit, dan sebagainya, ada kemungkinan ia mengalami depresi belajar. Ini pertanda anda butuh pertolongan tenaga profesional.

Agar kita sebagai orangtua bisa mendampingi belajar mereka :

Kenali gaya belajar anak
Gaya belajar seseorang ada tiga macam, auditori, visual, kinestetik. Segera ketahui gaya belajar anak agar tidak salah dalam mengarahkannya

Asahlah rasa ingin tahu anak
Semua anak secara alamiah mempunyai rasa ingin tahu. Cara orang tua merespon pertanyaan-pertanyaan mereka akan menentukan, apakah rasa ingin tahu ini akan berkembang atau mati. Untuk mengembangkan rasa ingin tahu anak :
1. Beri banyak pengalaman kepada anak yang membuatnya mengajukan pertanyaan dan mengeksplorasi dunia.

2. Biarkan anak mencari atau mencoba sesuatu, “Apakah anak ingin tahu apa yang terjadi jika tepung dicampur air? Berikan tepung kepadanya untuk mencoba dan menemukan jawabannya“.

Tujuan sebenarnya sebagai orang tua adalah membantu membesarkan anak menjadi dewasa yang BAHAGIA dan PRODUKTIF. Memaksa anak menjadi sesuatu yang bukan mereka sebenarnya berarti merusak tujuan sebagai orangtua.

Salam Ibu Profesional.

Tim Fasil Bunda Sayang Batch 2

Sumber :
1. Buku ” Mendampingi Anak Belajar” oleh Femi Olivia
2. Buku Membantu Anak punya Ingatan Super oleh Femi Olivia

IMG-20170920-WA0002

 

Keajaiban Gaya Belajar

Cemilan Rabu ke 2,

materi ke 4,

13 September 2017

Gaya belajar adalah cara manusia mulai berkonsentrasi, menyerap, memproses dan menampung informasi yang sulit. Hal yang perlu diingat adalah:

🍃 Kita semua punya gaya belajar yang sama uniknya dengan sidik jari.

🍃 Kita masing- masing menerima informasi, menyimpan pengetahuan dan mengambilnya kembali dengan cara yang berbeda- beda

Apabila orang dibiarkan belajar dengan gaya mereka sendiri dan menemukan lingkungan yang sesuai dengan kegiatan- kegiatan mereka maka tidak ada batasan untuk pencapaian manusia. Mereka biasanya menjadi sangat bergairah menyelesaikan tugas- tugas belajar dan menjadi benar- benar suka belajar seumur hidup.

Hampir semua murid berprestasi rendah  adalah anak- anak yang gaya belajarnya tidak cocok dengan kebanyakan gaya mengajar di sekolah.

Banyak anak yang dikeluarkan dari sekolah itu menjadi tokoh termasyhur di dunia:

🏵 Winston Churchil mendapat nilai buruk dalam tugas- tugasnya di sekolah. Dia juga gagap kalau berbicara

🏵 Albert Einstein suka melamun dan gagal dalam pelajaran matematika di awal SMA.

🏵 Thomas Alva Edison dianggap gurunya “suka bingung” karena bertanya terlalu banyak.

🏵 Beethoven tidak bisa mengalikan dan membagi.

Semua orang- orang itu mempunyai persamaan yaitu mempunyai gaya belajar yang tidak cocok dengan gaya ketika mereka mendapat pengajaran. Untungnya masing- masing tampaknya punya dorongan untuk mencapai keberhasilannya sendiri atau dengan bantuan orang lain yang mengerti mereka.

Ada 4 indera yang paling mempengaruhi proses penyerapan informasi dan proses belajar yaitu : melihat, mendengar, menyentuh dan merasa.

Anak- anak untuk pertama kalinya mulai belajar dengan mengalaminya secara langsung secara kinestetik yang artinya butuh melibatkan seluruh tubuh/ indera. Modalitas kedua yang  berkembang adalah taktil, itulah sebabnya anak- anak kecil harus menyentuh semua yang menarik minatnya. Mereka belajar dengan cara menggarap dan berinteraksi dengan orang atau benda. Sekitar usia 8 tahun sebagian anak mulai mengembangkan preferensi visual yang kuat yang memungkinkan mereka menyerap informasi dengan cara mengamati dan melihat apa yang terjadi di sekitar. Melihat menjadi alat belajar yang sangat penting. Kira- kira usia 11 tahun banyak yang mulai lebih bersifat auditory artinya mereka mulai bisa belajar dengan baik terutama dengan mendengar. Akan tetapi mayoritas anak usia sekolah tetap bersifat kinestetik atau taktil selama bertahun- tahun di sekolah dasar.

 

Salam ibu profesional

Tim Buku Fasil Bunda Sayang bath 2

 

Sumber: Buku “The Power of Learning Style” oleh Barbara Prashing

Semua Anak Itu Pintar!

🌟 Cemilan Rabu ke-1 🌟
6 September 2017

Apa yang membuat orang dikatakan “pintar”?
Apakah itu karena dia bisa belajar keterampilan baru dengan mudah atau bisa memunculkan ide-ide baru?
Apakah kecerdasan itu sesuatu yang sifatnya “warisan” atau sesuatu yang dapat kita kembangkan?

Mengamati Kecerdasan Anak dari Perilakunya Sehari-hari
Kita bisa menemukan kecerdasan pada anak kita dengan mengamati karakteristik-karakteristik seperti berikut:

1. Kemampuan Bahasa Lisan
🖊 Kosakata yang canggih
🖊 Gaya bicaranya penuh warna
🖊 Kreatif jika disuruh mendongeng
🖊 Pintar melontarkan lelucon dan permainan kata-kata

Dengan mengamati karakteristik di atas kita bisa mencari kreativitas yang tidak biasa atau pengembangan bahasa yang lebih maju dalam percakapan anak kita sehari-hari.

2. Kemampuan Pembelajaran
🖊 Memiliki kemampuan mempelajari informasi baru dengan cepat
🖊 Memiliki pengetahuan yang luar biasa tentang berbagai topik
🖊 Memiliki kemampuan untuk menemukan hubungan di antara ide-ide yang beragam
🖊 Memiliki daya ingat (memori) yang baik

Selanjutnya kita bisa membuat catatan dari situasi di mana anak belajar dan memahami materi baru dengan lebih cepat daripada teman-temannya. Dalam hal ini, kita harus pandai-pandai menemukan analogi dan interkoneksi kreatif yang ditampilkan anak.

3. Kemampuan Pemecahan Masalah
🖊 Memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah yang menantang
🖊 Fleksibel dalam menerapkan strategi yang telah dia pelajari sebelumnya dalam memecahkan masalah yang baru
🖊 Memiliki kemampuan untuk berimprovisasi dengan benda-benda dan mateeial yang ada di sekitarnya

Dengan memberikan tugas dan problem yang tidak biasa di mana anak tidak memeliki strategi yang siap pakai.

4. Strategi Kognitif dan Metakognitif
🖊 Menggunakan strategi pembelajaran yang canggih
🖊 Berkeinginan untuk bisa memahami bukan menghapal
🖊 Mudah paham dan mengerti serta efektif dalam memerhatikan sesuatu

Kita bisa meminta anak untuk menjelaskan bagaimana mereka menciptakan cara untuk hal-hal yang ingin mereka pelajari atau yang ingin mereka mudah untuk mengingatnya.

5. Memiliki Rasa Ingin Tahu
🖊 Haus akan ilmu pengetahuan
🖊 Cenderung banyak mengajukan pertanyaan
🖊 Adanya motivasi intrinsik untuk menguasai materi pelajaran yang menantang

Bagaimana caranya kita mematik rasa keingintahuan anak-anak, salah satunya adalah dengan mencari tahu apa yang ingin anak-anak lakukan di waktu luang mereka. Dari situ kita bisa membantunya dengan melempar pertanyaan (5W+1H) sehingga dari situ anak-anak akan mulai mencari tahu sebanyak-banyaknya.

6. Kemampuan Kepemimpinan dan Jiwa Sosial
🖊 Memiliki kemampuan untuk membujuk dan memotivasi orang lain
🖊 Memiliki kepekaan yang luar biasa terhadap perasaan ada bahasa tubuh orang lain
🖊 Memiliki kemampuan untuk menengahi perbedaan pendapat dan membantu orang lain untuk bisa mencapai kesepakatan

Coba perhatikan bagaimana cara anak-anak kita berinteraksi dengan teman-teman mereka di lingkungan permainan, kelompok belajar, dan aktivitas lainnya. Apakah anak-anak kita sering tampil sebagai pemimpin ataukah seringnya menjadi follower saja ataukah memiliki jiwa sosial yang tinggi terhadap siapapun ataukah lebih cuek dan cenderung tidak perduli dengan sekitarnya.

 

Salam Ibu Profesional

/Tim Fasilitator Bunda Sayang 2 /

📚 Sumber:

📔 Priyatna, Andri (2013). Pahami Gaya Belajar Anak. Jakarta, Kompas Gramedia.

Memahami Gaya Belajar Anak, Mendampingi Dengan Benar

Institut Ibu Profesional
Kelas Bunda Sayang

Materi #4

Dulu kita adalah anak/murid yang selalu menerima apa saja yang diberikan orangtua/guru kita,
apabila ada hal-hal yang belum kita pahami, lebih cenderung diam, tidak berani untuk
menanyakan kembali. Karena paradigma yang muncul saat itu, banyak bertanya dianggap
bodoh atau mengganggu proses pembelajaran.
Itu baru tingkat pemahaman, guru/orangtua kita sangat sedikit yang mau memahami
bagaimana cara kita bisa belajar dengan baik, yang ada kita harus menerima gaya
orangtua/guru kita mengajar.
Sehingga anak yang gaya belajarnya tidak sesuai dengan gaya mengajar guru/orangtuanya,
akan masuk kategori siswa dengan tingkat pemahaman rendah dan kadang mendapat label
bodoh.

Jaman berubah, dan terus akan berubah. Sudah saatnya kita harus mengubah paradigma baru
di dunia pendidikan.
Dari sisi orangtua/pendidik :
Apabila anak tidak bisa belajar dengan cara/gaya kita mengajar, maka kita harus belajar
mengajar dengan cara mereka BISA belajar
Dari sisi anak/siswa:
Setiap anak/siswa PASTI BISA belajar dengan baik, setiap anak akan belajar dengan CARA
yang BERBEDA.

Sudah saatnya kita belajar memahami gaya belajar anak-anak (Learning Styles) dan
memahami gaya mengajar kita sebagai pendidik (Teaching Styles) karena kedua hal tersebut
di atas akan berpengaruh pada gaya bekerja kita dan anak-anak (Working Styles).
Karena kalau tidak, kita dan anak-anak akan masuk kategori masyarakat buta huruf abad 20,
yang didefinisikan Alvin Toffler sebagai berikut :

Mereka yang dikategorikan buta huruf di abad 20 bukanlah individu yang tidak bisa membaca dan menulis, melainkan orang yang tidak mampu belajar, tidak mau belajar dan tidak kembali
belajar.

Sebelum kita membahas lebih lanjut tentang gaya belajar ada baiknya kita memahami terlebih
dahulu untuk apa anak-anak ini harus belajar.

Ada 4 hal penting yang menjadi tujuan anak-anak belajar yaitu :
a.Meningkatkan Rasa Ingin Tahu anak ( Intellectual Curiosity)
b. Meningkatkan Daya Kreasi dan Imajinasinya ( Creative Imagination)
c. Mengasah seni / cara anak agar selalu bergairah untuk menemukan sesuatu ( Art of
Discovery and Invention)
d.Meningkatkan akhlak mulia anak-anak ( Noble Attitude)

Fokuslah kepada 4 hal tersebut selama mendampingi anak-anak belajar. Buatlah pengamatan
secara periodik, apakah rasa ingin tahunya naik bersama kita/selama di sekolah?
Apakah kreasi dan imajinasinya berkembang dengan bagus selama bersama kita/selama di sekolah?
Apakah anak-anak suka menemukan hal baru dan keluar Aha! (Moment teriakan “Aha! Aku
tahu sekarang” atau ekspresi lain yang menunjukkan kebinaran matanya) selama belajar?
Apakah dengan semakin banyaknya ilmu yang anak-anak dapatkan di rumah/di sekolah
semakin meningkatkan akhlak mulianya?
Setelah memahami tujuan anak-anak belajar baru kita memasuki tahapan-tahapan memahami
berbagai gaya belajar anak-anak.Gaya belajar dapat menentukan prestasi belajar anak. Jika diberikan strategi yang sesuai dengan gaya belajarnya, anak dapat berkembang dengan lebih
baik.
Gaya belajar otomatis tergantung dari orang yang belajar. Artinya, setiap orang mempunyai
gaya belajar yang berbeda-beda.
Modalitas belajar adalah cara informasi masuk ke dalam otak melalui indra yang kita miliki.

Tiga macam modalitas belajar anak:
☘Auditory : modalitas ini mengakses segala macam bunyi, suara, musik, nada, irama, cerita,
dialog, dan pemahaman materi pelajaran dengan menjawab atau mendengarkan lagu, syair,
dan hal-hal lain yang terkait.

☘ Visual : modalitas ini mengakses citra visual, warna, gambar, catatan, tabel diagram, grafik,
serta peta pikiran, dan hal-hal lain yang terkait.
☘ Kinestetik: modalitas ini mengakses segala jenis gerak, aktifitas tubuh, emosi, koordinasi, dan hal-hal lain yang terkait.

Mari kita pahami gaya belajar tersebut secara detil, kita pahami ciri-cirinya dan bagaimana
strategi kita untuk mendampingi anak-anak dengan gaya belajarnya masing-masing.

🌸GAYA BELAJAR VISUAL ( Belajar dengan cara melihat)

Lirikan ke atas bila berbicara, berbicara dengan cepat. Bagi anak yang bergaya belajar visual,
mata / penglihatan (visual) memegang peranan penting dalam belajar, dalam hal ini metode
pengajaran yang digunakan ibu/guru sebaiknya lebih banyak / dititikberatkan pada peragaan /
media, ajak mereka ke obyek-obyek yang berkaitan dengan pelajaran tersebut, atau dengan
cara menunjukkan alat peraganya langsung pada siswa atau menggambarkannya di papan
tulis.
Anak yang mempunyai gaya belajar visual harus melihat bahasa tubuh dan ekspresi muka
gurunya/ibunya untuk mengerti materi pelajaran. Mereka cenderung untuk duduk di depan agar dapat melihat dengan jelas. Mereka berpikir menggunakan gambar-gambar di otak mereka dan belajar lebih cepat dengan menggunakan tampilan-tampilan visual, seperti diagram, buku
pelajaran bergambar, dan video.

Ciri-ciri gaya belajar visual :
🔹Bicara agak cepat
🔹Mementingkan penampilan dalam berpakaian/presentasi
🔹Tidak mudah terganggu oleh keributan
🔹Mengingat yang dilihat, dari pada yang didengar
🔹Lebih suka membaca dari pada dibacakan
🔹Pembaca cepat dan tekun
🔹Seringkali mengetahui apa yang harus dikatakan, tapi tidak pandai memilih kata-kata
🔹Lebih suka melakukan demonstrasi dari pada pidato
🔹Lebih suka musik
🔹Mempunyai masalah untuk mengingat instruksi verbal kecuali jika ditulis, dan seringkali minta
bantuan orang untuk mengulanginya.

Strategi untuk mempermudah proses belajar anak visual :
🔹Gunakan materi visual seperti, gambar-gambar, diagram dan peta.
🔹Gunakan warna untuk menegaskan hal-hal penting.
🔹Ajak anak untuk membaca buku-buku berilustrasi.
Gunakan multi-media (contohnya: komputer dan video).
🔹Ajak anak untuk mencoba mengilustrasikan ide-idenya ke dalam gambar.

🌸GAYA BELAJAR AUDITORI (belajar dengan cara mendengar)

Lirikan ke kiri/ke kanan mendatar bila berbicara. Anak yang bertipe auditori mengandalkan
kesuksesan belajarnya melalui telinga ( alat pendengarannya ), untuk itu maka ibu/ guru
sebaiknya harus memperhatikan siswa/anaknya hingga ke alat pendengarannya. Anak yang
mempunyai gaya belajar auditori dapat belajar lebih cepat dengan menggunakan diskusi verbal
dan mendengarkan apa yang guru/ibu katakan.
Anak auditori dapat mencerna makna yang disampaikan melalui tone suara, pitch (tinggi
rendahnya), kecepatan berbicara dan hal-hal auditori lainnya. Informasi tertulis terkadang
mempunyai makna yang minim bagi anak auditori dibandngkan dengan mendengarkannya.
Anak-anak seperi ini biasanya dapat menghafal lebih cepat dengan membaca teks dengan
keras dan mendengarkan kaset.

Ciri-ciri gaya belajar auditori :
🔹Saat bekerja suka bicara kepada diri sendiri
Penampilan rapi.
🔹Mudah terganggu oleh keributan
🔹Belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan dari pada yang dilihat
🔹Senang membaca dengan keras dan mendengarkan
🔹Menggerakkan bibir mereka dan mengucapkan tulisan di buku ketika membaca
🔹Biasanya ia pembicara yang fasih, lebih pandai mengeja dengan keras daripada menuliskannya
🔹Lebih suka gurauan lisan daripada membaca komik
🔹Mempunyai masalah dengan pekerjaan-pekerjaan yang melibatkan Visual
🔹Berbicara dalam irama yang terpola
🔹Dapat mengulangi kembali dan menirukan nada, berirama dan warna suara

Strategi untuk mempermudah proses belajar anak auditori :
🔹Ajak anak untuk ikut berpartisipasi dalam diskusi baik di dalam kelas maupun di dalam
keluarga.
🔹Dorong anak untuk membaca materi pelajaran dengan keras.
🔹Gunakan musik untuk mengajarkan anak.
🔹Diskusikan ide dengan anak secara verbal.
🔹Biarkan anak merekam materi pelajarannya ke dalam kaset dan dorong dia untuk
mendengarkannya sebelum tidur.

🌸GAYA BELAJAR KINESTETIK (belajar dengan cara bergerak, bekerja dan menyentuh)
Lirikan kebawah bila berbicara, berbicara lebih lambat. Anak yang mempunyai gaya belajar
kinestetik belajar melalui bergerak, menyentuh, dan melakukan. Anak seperti ini sulit untuk duduk diam berjam-jam karena keinginan mereka untuk beraktifitas dan eksplorasi sangatlah kuat. Anak yang bergaya belajar ini belajarnya melalui gerak dan sentuhan.

Ciri-ciri gaya belajar kinestetik :
🔹Berbicara perlahan
🔹Penampilan rapi
🔹Tidak terlalu mudah terganggu dengan situasi keributan
🔹Belajar melalui memanipulasi dan praktek
🔹Menghafal dengan cara berjalan dan melihat
🔹Menggunakan jari sebagai petunjuk ketika membaca
🔹Merasa kesulitan untuk menulis tetapi hebat dalam bercerita
🔹Menyukai buku-buku dan mereka mencerminkan aksi dengan gerakan tubuh saat membaca
🔹Menyukai permainan yang menyibukkan
🔹Tidak dapat mengingat geografi, kecuali jika mereka memang pernah berada di tempat itu
🔹Menyentuh orang untuk mendapatkan perhatian mereka.
🔹Menggunakan kata-kata yang
mengandung aksi.

Strategi untuk mempermudah proses belajar anak kinestetik:
🔹Jangan paksakan anak untuk belajar sampai berjam-jam.
🔹Ajak anak untuk belajar sambil mengeksplorasi lingkungannya (contohnya: ajak dia baca
sambil bersepeda, gunakan obyek sesungguhnya untuk belajar konsep baru).
🔹Izinkan anak untuk mengunyah permen karet pada saat belajar.
🔹Gunakan warna terang untuk menegaskan hal-hal penting dalam bacaan.
🔹Izinkan anak untuk belajar sambil mendengarkan musik.

Ketika belajar memahami anak-anak, sejatinya kita sedang belajar memahami diri kita sendiri.
Apabila bunda semuanya bisa melihat gaya belajar anak-anak karena sering mengamati
perkembangan mereka, maka kitapun akan dengan mudah mengamati gaya belajar kita, gaya
mengajar kita dan gaya bekerja kita.
Hal ini akan lebih membuat kita bahagia menjalankan proses belajar. Dijamin proses belajar
juga tidak akan pernah berhenti dari buaian sampai ke liang lahat.
Anak-anak sangat menyukai bermain, karena energi yang dimunculkan ketika bermain tidak
akan pernah habis. Apabila kita bisa memaknai belajar dan bekerja selayaknya anak-anak
bermain, sudah dapat dibayangkan betapa asyiknya belajar dan bekerja dalam kehidupan ini.
Karena setiap saat anak-anak akan menemukan energi yang terbarukan dalam proses
belajarnya dan kita akan mendapatkan energi yang terbarukan dalam proses bekerja.

Don’t Teach me , I Love to Learn

Salam Ibu Profesional,
/Tim Fasilitator Bunda Sayang/

Sumber Bacaan:
Gordon Dryden and JeanetteVos, The Learning Revolution, ISBN-13: 978-1929284009
Barbara Prashing, The Power of Learning Styles, Kaifa, 2014
Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang : Memahami Gaya Belajar Anak, GazaMedia, 2016