Orion dan Artemis – Sebuah Kasus (Bagian 1)

“Hmm… Hmmm…”

“Baiklah Kak Adryan yang terhormat, kakak kelasku yang baik. Katakan alasanmu mengapa kau membawaku kemari?”

Seorang gadis menunjukkan wajah jutek, menekankan nama kakak kelasnya itu dengan nada mengejek dan sebal. Demi Allah ini malam minggu! Kenapa pula kakak kelasnya yang sok akrab itu tiba-tiba membawa dirinya dari rumah dan menganggu acaranya! Ke museum pula! Padahal ada banyak yang bisa dilakukannya, membantu ayahnya melakukan autopsi mayat, misalnya!

Adryan Ahmad Fauzan, pemuda yang dari tadi sibuk menggumam dan menatap lukisan di depannya menoleh ceria. Ah, adik kelas SMAnya ini memang selalu jutek dan justru itu Adryan senang mengganggunya.

“Ayolah! Kau tidak punya rencana apa-apa kan? Lebih baik kau bersamaku disini!”

“Aku sudah punya rencana-“

“Ayolah, Ayahmu bahkan bersemangat sekali aku mengajakmu keluar malam ini. Kau tahu? Selalu berurusan dengan mayat itu bukan hal yang sehat tahu!”

Gadis itu merengut.

“Ayolah Latifah! Anggap saja ini kencan!”

“Lebih baik aku berkencan dengan mayat dibandingkan makhluk hidup. Apalagi kalau makhluk hidup itu adalah kau!” ujar gadis bernama Latifah itu sadis. Lengkapnya, Latifah Hawa Nirmala.

“Ouch! Sadis sekali!”

“Lagian, kenapa sih dari tadi menggumam tidak jelas di depan lukisan Artemis itu?”

Adryan menoleh ke Latifah, merasa tertarik. “Artemis?”

“Kau tidak tahu? Kau yang mengajakku ke sini dan bahkan kau tidak tahu lukisan apa yang sedang kau pandang?”

Adryan menatap lekat-lekat lukisan yang ada di hadapannya, seorang gadis dengan tanduk rusa bertelinga runcing sedang menutup matanya sambil memainkan alat musik Lira. Dedaunan kering dan batang pepohonan yang disaput tipis menjadi latar belakangnya.

“Heran, kupikir Artemis adalah dewi bulan dalam mitologi Yunani?”

“Tanduk rusa yang digambarkan itu mengisyaratkan rusa, hewan yang selalu dianalogikan dengan Artemis.”

Adryan menatap kagum Latifah. “Hebat sekali! Kupikir kau cuma tertarik mengenai mayat saja!”

“Semuanya dijelaskan dalam katalog museum ini,” Latifah menunjukkan katalog itu sementara Adryan bengong. Sia-sia sudah pemuda itu sempat terkagum pada adik kelasnya.

“Aku mau pulang, tidak ada alasan bagiku untuk pergi ke museum di malam hari. Apalagi bersamamu.”

“Tunggu… tunggu! Sebenarnya memang ada alasan kenapa aku mengajakmu kencan di malam hari di museum!” Adryan panik, pokoknya adik kelasnya ini tidak boleh pulang ke rumah. Setidaknya malam ini. Ambigu memang tapi itu kenyataannya. Latifah hanya bisa memutar bola matanya mendengar kata kencan.

“Sebenarnya-“

“Sebenarnya malam ini salah satu karya museum ini akan dicuri,”

Adryan lagi-lagi merasa sebal, ayahnya berdiri di belakangnya dan membeberkan alasan kencannya pada Latifah. Latifah membulatkan matanya mendengar informasi itu dan mengangguk sopan pada Tuan Heriyanto, ayah dari Adryan.

“Maafkan anakku yang bodoh ini Nak Latifah. Dia memaksa mengajakmu untuk mengawasi karya tersebut,” Tuan Heriyanto mengacak-acak rambut Adryan, sementara pemuda itu mengerang lemah.

“Apa maksud anda dengan mencuri?”

Tuan Heriyanto mengajak Latifah ke arah lain ruangan. “Aku memegang saham terbesar dalam museum ini, jadi ini memang urusanku juga. Beberapa hari yang lalu kami mendapatkan surat ancaman yang mengatakan bahwa salah satu karya museum ini akan dicuri pada hari ini tepat pukul sebelas malam,”

Tuan Heriyanto dan Latifah berdiri pada salah satu karya yang dipamerkan di museum, sebuah karya foto. Karya itu berupa sebuah foto konstelasi bintang yang dicetak pada lembar kertas yang tipis. Nama Orion tertulis sebagai judul karya tersebut. Sebuah karya foto yang indah, bagaikan dicetak sendiri dari angkasa.
IMG-20160720-WA0001

“Rasi bintang Orion,” gumam Latifah.

“Ya, rasi bintang Orion. Indah bukan?” Tuan Heriyanto menggumamkan pendapatnya yang disetujui oleh Latifah.

“Masalahnya adalah mengapa seseorang mau mencuri karya ini?”

Latifah menatap Adryan, mengernyitkan alisnya tak mengerti. “Maksudku, ini bukanlah karya yang berarti jika dibandingkan dengan karya lukisan atau apalah yang ada di museum ini. Rasi bintang Orion juga bukanlah hal yang sulit kalau kau memang mau lukisan fotonya, bahkan di internet juga banyak foto bintang ini. Karena itu, apa alasannya?”

Latifah kembali mengamati foto yang ada di hadapannya. Memang kalau diperhatikan tak ada yang spesial dari karya ini.

“Tapi tidakkah kalian merasa aneh?” Latifah berjalan mendekati foto tersebut, tangannya menjulur hendak menyentuhnya. “Foto ini terasa-“

“APA YANG KAU LAKUKAN?!”

Latifah, Adryan dan Tuan Heriyanto terlonjak kaget.

“JANGAN PEGANG-PEGANG KARYA MUSEUM SEMBARANGAN!”

Seorang wanita berpotongan rambut pendek dan berwajah tegas melangkah tergesa dan memukul tangan Latifah yang terjulur. Wanita itu berdiri di depan Latifah, sangat jelas mencoba menghalangi gadis itu.

“Ah, Nona Lisana. Saya mohon maaf,” Tuan Heriyanto mencoba mengambil alih, akan tetapi wanita bernama Lisana itu menunjukkan wajah yang semakin mengerikan.

“Tuan Heriyanto! Apa anda serius? Foto ini akan dicuri dan Anda malah main-main dan mengajak anak-anak kemari?”

“Ah maafkan saya-“

“Lisana kau terlalu serius,”

Seorang pria yang ramah mendekati mereka semua, bibirnya tersenyum ramah. “Aku tidak keberatan kok kalau ada yang mau melihat karya fotoku. Lagipula itu-“

“Tuan Fajar! Karya ini adalah karya museum yang berharga! Tanpa seizin yang berwenang saya tak akan memperbolehkan kalian semua menyentuhnya!”

Pria yang bernama Fajar itu hanya mampu menghela napas.

“Sekarang kalian keluar! Keluar!” Lisana mendorong Fajar dan Latifah. Adryan dan Tuan Heriyanto mau tak mau mengikuti. Saat mereka semua keluar Lisana langsung membanting pintu yang memisahkan antara ruang galeri dan lorong.

“Tetap sama seperti dulu,”

Lisana kembali membuka pintu galeri dan keluar dari ruangan itu. Dua orang penjaga museum tiba dan langsung berdiri di sisi kiri dan kanan pintu. Kedua penjaga tersebut berwajah galak. Lisana berbicara singkat dengan kedua penjaga itu dan pergi ke arah lain lorong.

“Hufft, galak sekali sih mbak itu,”

Fajar tertawa tergelak. “Dari dulu dia memang begitu,”

Tuan Heriyanto mengangkat alis, Adryan langsung berceletuk “Anda mengenal mbak-mbak itu?”

Fajar tertawa, “Kami teman sekelas waktu SMA. Satu kuliah juga walau beda jurusan,”

Fajar mengecek jam tangannya, “Tiga puluh menit lagi sampai pukul sebelas malam,” serentak Tuan Heriyanto dan Adryan mengecek jam tangan mereka masing-masing. “Kupikir aku akan mengunjungi karyaku satu lagi,”

“Boleh kami ikut dengan anda?” Adryan mengusulkan sambil menarik lengan jaket Latifah. Gadis itu hanya bisa memandang jutek. Fajar mengangguk setuju.

“Kalau begitu saya pamit ke kantor museum dulu. Kalau ada apa-apa hubungi lewat handphone ya, Adryan, Latifah.” Tuan Heriyanto pamit dan berjalan kearah lain. Latifah mendesah napas, menerima nasib tidak akan bisa pulang ke rumah sebelum jam sebelas malam.

“Anda punya karya lain di museum ini?”

Fajar mengangguk, “Bukan hal yang spesial, cuma lukisan iseng saja. Kalau kalian perhatikan karyaku ditempatkan di galeri bagian pendatang baru. Kalau mau dibandingkan dengan karya museum yang lain karyaku bukan apa-apa,”

“Apa anda punya bayangan kenapa karya anda mau dicuri?”

“Entahlah, aku juga tidak tahu. Kalau boleh jujur, foto Orionku itu bukanlah hasil yang memuaskan.”

“Apa maksud anda?” Adryan masih mencecar sementara Latifah hanya mendengar dengan malas.

“Yah, boleh kukatakan. Waktu mengambil foto itu perasaanku sedang tak menentu, makanya aku tidak begitu puas dengan hasil foto itu. Tapi entahlah, mungkin pihak museum dan si pencuri melihat hal yang lain dari hasil foto itu,”

Mereka berhenti di depan sebuah lukisan seorang gadis bertanduk rusa yang sedang memainkan lira. “Jadi ini lukisan anda?” Adryan kembali menatap lukisan itu, Fajar membenarkan.

IMG-20160711-WA0005

“Hanya sebuah lukisan iseng. Sepertinya semua karyaku yang dibuat iseng atau tidak maksimal telah menarik minat museum dan pencuri,” Fajar tertawa ringan.

“Judul lukisan ini Artemis, bukan?” Latifah membuka suara, menatap lukisan itu lekat-lekat. Entah mengapa perasaannya terasa aneh memandangi lukisan itu.

“Mengapa anda menggambar Artemis seperti ini?” Adryan mencoba memuaskan rasa ingin tahunya. Fajar mengangkat alisnya.

“Artemis ini maksud anda dewi bulan dalam mitologi yunani kan? Mengapa anda menggambarnya dengan perwujudan seperti ini? Tanpa bulan.”

Fajar menatap lukisan itu, akan tetapi seakan pikirannya melayang. “Entahlah, dalam benakku memang seperti inilah sosok Artemis,” jawab Fajar setelah beberapa lama.

“Sepertinya saya sedang melantur,” Fajar tertawa lepas akan tetapi matanya terus memandang lukisan itu.

Adryan menatap lukisan itu dengan serius. “Hei, tidakkah kau pikir lukisan ini aneh?” bisiknya pada Latifah. Latifah memandang lukisan itu lekat-lekat, “Iya, aku juga merasa ada yang aneh, tapi entah kenapa…” Latifah sengaja menggantungkan kalimatnya, merasa tidak pasti.

Latifah menyipitkan matanya, “Rasanya ada yang aneh. Entah kenapa, Artemis ini terlihat aneh,” gumamnya. Adryan mengangguk membenarkan. Mereka menghabiskan waktu dengan menatap lukisan Artemis tersebut, menerka-nerka keanehannya dan berkeliling ruangan untuk menikmati karya lukisan yang lain.

“Sudah jam sebelas malam lewat. Lebih baik kita coba kembali ke ruang Orion itu,” gumam Adryan. Latifah menahan kuap kantuknya sementara Adryan mengajak Fajar kembali.

Mereka bertiga berjalan dalam diam hingga akhirnya tiba di ruangan Orion. Kedua penjaga itu masih dengan setia berdiri di samping kanan kiri pintu, akan tetapi saat mereka bertiga memasuki ruangan Lisana dan Tuan Heriyanto sudah ada di dalam. Foto bintang Orion masih terpajang di galeri.

“Sudah jam sebelas lewat sepuluh,” gumam Fajar.

“Sepertinya itu cuma surat bohongan saja. Benar-benar omong kosong,” ujar Lisana sambil memandang lukisan.

“Mungkin kita cukupkan sampai sini saja?”

“Untunglah hanya bohongan-“

Latifah menatap heran foto tersebut. Aneh, bukankah ini adalah foto bintang Orion? Kenapa-

“Bintangnya… bintangnya hilang satu!”

Sedetik kemudian Latifah mulai dibanjiri pandangan heran semua orang.

“Apa maksudmu? Bintangnya hilang satu?”

“Aduh Latifah, di langit kan ada banyak bintang. Mau hilang atau kebanyakan satu juga gak masalah kan?” ujar Adryan asal. Latifah melemparkan tatapan tajam, Adryan langsung diam. Sepertinya pemuda itu benar-benar ngantuk hingga pikirannya asal.

Latifah mendekati foto bintang tersebut, menunjuk satu titik gelap. Lisana sudah akan marah-marah akan tetapi Tuan Heriyanto menahannya.

“Disini, harusnya di titik ini ada satu bintang berwarna biru cerah. Tapi disini kosong,”

“Sepertinya apa kata gadis itu memang benar,”

Kali ini semua orang memandang Lisana yang sedang membaca sesuatu di selembar kartu. Wanita itu menunjukkan tulisan yang tercetak diatasnya.

Foto Orion sudah kuambil. Terima kasih.

“Jadi foto yang dipajang ini?”

Lisana mengangguk, “Sepertinya palsu,” ujarnya.

“Tapi, bagaimana mungkin?”

“Ruangan ini dijaga terus, kan?”

Lisana bergerak cepat mendekati kedua penjaga, memastikan sesuatu dan kembali. Wanita itu menggeleng pelan. “Penjaga bilang tidak ada siapapun yang masuk ke ruangan ini setelah kita keluar,” gumamnya.

“Apakah kedua penjaga itu yakin?” Adryan memastikan yang diyakini oleh Lisana.

“Ini memang bukan foto Orion milikku,” jelas Fajar sambil melambaikan handphone miliknya. Layar handphone tersebut menampilkan foto Orion miliknya dalam bentuk digital.

“Seperti kata Latifah, memang bintangnya kurang satu di foto ini,” Tuan Heriyanto menambahkan. Latifah menatap Adrian dengan tatapan sudah-kubilang-kan.

“Apa tidak sebaiknya kita memanggil polisi?” Latifah mengusulkan akan tetapi Fajar menggeleng.

“Itu bukan karyaku yang berarti. Kalau pihak museum mau aku bisa mencetak kembali foto itu untuk dipajang,” Fajar menatap Tuan Heriyanto dan Lisana. “Bukan hal yang sulit sebenarnya,” tambah Fajar.

Tuan Heriyanto mengngguk setuju, “Kalau tidak merepotkan Tuan Fajar tolong dicetak lagi.” Fajar mengangguk.

“Kalau begitu foto ini akan saya turunkan,” Lisana hendak menyentuh foto tersebut. “Tidak perlu nona Lisana, biarkan saja dipajang seperti itu.” Tuan Heriyanto mencegah.

Lisana hendak protes, “Hanya kurang satu bintang, tidak akan ada pengunjung yang sadar akan bedanya. Nanti kalau Tuan Fajar sudah selesai mencetak fotonya baru akan kita ganti,” Tuan Heriyanto menjawab protes Lisana.

Lisana tidak banyak komentar.

“Saya agak khawatir dengan lukisan saya yang satu lagi. Lebih baik saya periksa dulu,” Fajar  meninggalkan ruangan.

Tuan Heriyanto dan Lisana mendiskusikan sesuatu. Adryan terdiam menatap foto Orion tersebut, wajahnya serius.

“Bagaimana menurutmu?” Latifah berbisik.

“Aku sedang mereka ulang semua kejadian yang terjadi.” gumamnya.

“Rasanya tak banyak yang terjadi. Saat kita masuk ke ruangan ini, itu memang foto Orion yang sebenarnya. Lalu kita semua keluar saat kedua penjaga itu mulai menjaga ruangan. Kedua penjaga itu memastikan bahwa tidak ada seorangpun yang keluar atau masuk ruangan ini sampai pukul sebelas lewat sepuluh saat kita semua berkumpul,” Latifah menjelaskan.

“ Mungkin memang begitu, tapi pasti terjadi sesuatu. Tidak mungkin foto yang asli tiba-tiba saja berubah jadi palsu. Pasti terjadi sesuatu,” yakin Adryan. Latifah baru saja akan menanggapi saat terdengar langkah kaki lari tergesa.

Mereka semua menoleh kearah Fajar yang terengah karena lari. “Lukisanku, lukisan Artemis…”

Mereka semua berlari menuju galeri lain. Bahkan petugas penjaga juga ikut berlari, ingin tahu apa yang terjadi. Saat mereka semua tiba di galeri mereka mendapati bahwa lukisan Artemis sudah tidak ada lagi. Hanya dinding galeri berbalut wallpaper saja yang tersisa di tempat dimana seharusnya lukisan itu dipasang.

“Mustahil! Bagaimana mungkin?!”

“Lukisan Artemisnya hilang!”

Adryan menatap dengan tertarik. Bukan saja Foto Orion telah diganti dengan yang palsu. Akan tetapi lukisan Artemis itupun telah menghilang.

“Aku yakin kalau kedua karyaku itu bukanlah karya yang spesial. Tapi apa sih yang pencuri itu pikirkan hingga ia mengambil kedua karyaku?” celetuk Fajar tidak paham.

To be continued


a/n: dibuat untuk memenuhi challenge dari bunda Grace dan Altair untuk challenge menulis di IOC Writing. Foto yang dipajang di cerita ini juga dari Bunda Grace (untuk Artemis) dan Altair (untuk Orion). Ini baru part satu. Berikutnya akan dibuat part dua. Ditunggu aja ya~