Di Luar Dugaan

Ini adalah kelanjutan Story Blog Tour OWOP II Romance-Angst. Tapi kayaknya genrenya amburadul hancur deh :v

Buat yang mau baca dari awal silahkan baca disini

Chapter 1 : Luka Elisa (Nifa)

Chapter 2 : Self Harm (Asti)

Chapter 3 : Friendzone (Ara)

Chapter 4 : Dua Sisis Koin (Nana)

Chapter 5 : Teman Baru (Zu)

Chapter 6 : Permulaan (Ruru)

Untuk chapter kali ini silahkan membaca~…


Alya memandang bagian dalam rumah Tezar dengan perasaan tertarik. Setelah sekian lama tidak berkunjung masuk ke dalam rumah Tezar, tak disangka kesempatan itu akhirnya tiba juga. Meskipun dengan alasan Alya sudah berteman dengan Elisa, tapi tak masalah. All fair in love and war. Kalau ia harus memanfaatkan Elisa agar bisa lebih dekat dengan pemuda itu, Alya rela akan memanfaatkan apapun.

“Sini aja Ya. Duduk disini,” Tezar mempersilahkan Alya duduk di meja pantry yang menghadap ke arah dapur.

Alya memperhatikan dengan kagum bagian rumah itu. Meskipun Tezar hidup sendiri tapi pemuda itu merawat baik-baik rumahnya.

Alya mendudukkan diri di kursi tinggi pantry, mencoba menyamankan diri sambil memandang Tezar yang sedang membuka kulkas. Alya menghela napas dengan bangga. Akhirnya setelah sekian lama ia bisa kembali masuk ke rumah Tezar.

.

.

.

Elisa mendesah napas, menutup layar halaman Young Blood. Awalnya gadis itu cuma ingin berbagi pengalaman dengan mereka yang juga satu penderitaan dengan dirinya. Tapi lama kelamaan website itu agak menyeramkan, Elisa buru-buru menutup halaman itu.

Elisa membuka nomor kontak di handphonenya dan menatap nomor telepon yang terpampang dilayar, nomor Alya. Perasaan gadis itu campur aduk, antara gugup dan bingung. Mereka saling bertukar nomor telepon kemarin di toilet, sejak saat itu Alya masih bingung apa yang harus dilakukan dengan nomor telepon itu.

Tentu saja jawabannya jelas, Elisa ingin menelepon Alya. Mereka berteman kan? Kemarin Alya sendiri yang bilang kalau ia ingin berteman dengan Elisa. Elisa sendiri sejak lama juga ingin berteman dengan Alya. Alya juga teman sejak kecil Tezar. Jadi mereka boleh berteman kan?

Tapi lagi-lagi perasaan minder menyergap dirinya. Alya yang begitu bersinar, ramah dan cantik. Apa Elisa bisa berteman dengan dirinya? Walaupun Alya sendiri yang ingin berteman dengan Elisa, tapi Elisa benar-benar merasa tidak layak berteman dengan orang sehebat Alya.

Prang Bruk Prang

Elisa kembali mendengar suara ribut-ribut. Kali ini entah apalagi yang dibanting dan dipecahkan. Tapi Elisa yakin pasti orang tuanya bertengkar lagi.

“Mana? Mana anak sial itu?”

Suara pintu dibanting terbuka keras, Elisa langsung menatap pintu kamarnya yang dibanting. Papa menatap Elisa dengan tatapan yang ganas sementara Mama menyusul di belakang Papa. Elisa gemetar ketakutan dibawah tatapan ganas Papanya.

“Kau! Kalau saja kau tidak ada!”

Papa langsung menampar Elisa, Mama menjerit dan langsung menangkap Elisa. Elisa masih kaget dan menatap Papa dengan tatapan sedih dan terluka. Elisa sudah sering mendengar Papa dan Mamanya saling berteriak, tapi baru kali ini Elisa melihat Papa membentaknya bahkan menampar pipinya.

“Semua ini salahmu! Kau cuma kesalahan saja tapi berani mengganggu hidupku seperti ini!”

Elisa masih belum paham maksud Papa, akan tetapi Mama menjerit balik pada Papa.

“Harusnya kau tidak usah lahir! Keberadaanmu menyusahkan aku saja!”

Dan saat itu Elisa merasakan dunianya gelap.

Mama meregkuh Elisa dan kembali meneriakkan entah kalimat apa. Elisa sudah tidak mendengar apapun. Selama ini Elisa pikir Papa dan Mama bertengkar karena masalah diantara mereka. Tapi saat Papa mengatakan kata-kata yang kejam itu Elisa menjadi semakin terpuruk. Apakah selama ini Papa dan Mama bertengkar gara-gara Elisa.

“Dengar kau anak sial! Kalau saja kau tidak lahir semua masalah ini tidak akan terjadi!”

Elisa langsung menangis keras. Frustasi. Mama berusaha menenangkan Elisa tapi tidak berhasil. Papa langsung keluar kamar Elisa, tidak peduli sedikitpun. Mama berusaha membisikkan kata-kata yang menenagkan tapi Elisa sudah tak peduli.

“Keluar!” Elisa menggumam parau. Mama menatap cemas Elisa.

“Keluar! Keluar! Keluar!” Elisa berteriak frustasi dan mendorong Mama keluar dari kamar. Dengan segera Elisa mengunci pintu kamarnya, menolak siapapun masuk ke kamarnya. Mama menggedor pintu kamar Elisa tapi gadis itu tak peduli.

“Aku capek! Kenapa aku lahir di dunia ini?!” Elisa berteriak frustasi. Air mata bercucuran deras di pipinya.

.

.

.

Ponsel Tezar berbunyi nyaring, menghentikan Tezar dan Alya yang sedang menyuapkan puding ke mulut mereka. Tezar berusaha meraih handphonenya yang tergeletak agak jauh, akan tetapi deringan itu malah terhenti. Tezar menatap heran handphone yang berhasil diraihnya itu.

Alya melemparkan tatapan bertanya kepada Tezar. “Nomornya Alya tapi kenapa-“

Tezar belum selesai berbicara saat kali ini handpbhone Alya yang bergetar. Alya buru-buru meraih handphonenya dan melihat kontak yang terpampang di layar handphonenya, Elisa memanggil. Alya mengerutkan kening dan memandang Tezar. Tezar memberi isyarat untuk mengangkat telepon itu.

“Halo Elisa! Numben nelepon?” Alya mengeluarkan nada yang ramah. Akan tetapi tak ada jawaban dari sebelah sana. Hanya ada suara bising samar-samar.

“Halo Elisa? Elisa?”

Alya menatap heran kepada Tezar yang langsung merebut handphone Alya. Tezar berteriak di handphone Alya, berusaha mendapat jawaban dari Elisa. Akan tetapi tak ada jawaban apapun. Wajah Tezar terlihat panik dan semakin panik saat mendengar suara ribut-ribut dari sambungan disana.

“Gue ke tempat Elisa dulu ya! Gue ngerasa gak enak!”

Alya tidak suka! Elisa mengganggu suasana saja! Tapi Alya berusaha memanfaatkan kesempatan ini untuk tampil baik di depan Tezar.

“Gue juga ikut! Gue juga khawatir kalau elo sampe panik gitu!”

Tezar menggeleng, “Gak perlu! Biar gue aja yang kesana.”

“Tapi Elisa nelepon gue! Dan gue temannya! Dia gak bakal nelepon gue kalau dia gak anggap gue temennya!”

Tezar tidak mau Alya ikut karena tidak ingin Alya mengetahui kondisi Elisa yang rapuh. Tapi tak ada waktu lagi untuk berdebat. Dengan berat hati Tezar mengangguk dan mengambil motor, berdua mereka menuju rumah Elisa.

.

.

.

Tezar dan Alya sampai di rumah Elisa. Jarak antara rumah Tezar dan Elisa sebenarnya tidak terlalu jauh, hanya saja Rumah Elisa terletak di pusat kota. Jika biasanya hanya memakan waktu 20 menit, kini butuh waktu 45 menit untuk sampai di rumah Elisa. Alya akan menatap kagum rumah besar itu kalau saja tidak terdengar suara ribut-ribut dan barang pecah belah dibanting disana sini.

“Mereka bertengkar lagi,” gumam Tezar.

Tezar dan Alya membuka pintu pagar dan memencet bel rumah. Agak lama mereka harus menunggu sampai akhirnya ada seseorang yang membuka pintu untuk mereka. Akan tetapi yang membuka pintu adalah seorang pria berwajah kasar dengan tatapan yang ganas, Papanya Elisa.

“Mau apa kalian kemari?” sembur Papa Elisa.

“Mohon maaf Pak. Kami ingin bertemu dengan Elisa,” Alya berusaha bersikap sopan. Tezar menatap Papa Elisa dengan tidak suka secara terang-terangan.

“Tidak ada yang namanya kalian cari!”

Papanya Elisa hendak membanting pitnu akan tetapi ditahan oleh Tezar.

“Mohon maaf Pak. Kami hanya ingin bertemu dengan Elisa. Kami teman sekolahnya.” Tezar ngotot.

“Sudah kubilang! Tak ada-“

“ELISA SAYANG! BUKA PINTUNYA! MAMA MOHON!”

Suara teriakan wanita menggelegar di seisi rumah. Tezar dengan sigap langsung berlari menuju kamar Elisa, takut terjadi sesuatu. Alya menatap Papanya Elisa sesaat dan mengikuti Tezar. Dalam hati Alya merasa heran kenapa Tezar seperti tahu isi rumah ini dan dalam hati bertekad untuk mencari tahu.

Alya dan Tezar sampai di bagian belakang rumah berlantai satu, di sebuah pintu kamar yang besar. Tezar dan Alya melihat Mama Elisa dan Bibi bertampang pucat dan cemas, mencoba menggedor pintu kamar tersebut.

“ELISA BUKA PINTUNYA SAYANG! JANGAN BIKIN MAMA TAKUT!”

Mama masih berteriak ketakutan, Tezar segera mengambil alih dan berusaha mendobrak pintu kamar tersebut. Mama Elisa dan Bibi hanya menatap pasrah, tidak melarang Tezar untuk mendobrak pintu kamar. Alya masih menatap Tezar, Mama Elisa dan Bibi, mencoba memahami situasi.

Pintu kamar berhasil didobrak, Mama dan Bibi langsung berlari masuk ke dalam. Tezar juga masuk diikuti Alya. Tezar dan Alya memandang sekeliling kamar, tidak ada tanda-tanda keberadaan Elisa.

Suara jeritan terdengar disusul suara seorang wanita memanggil-manggil Elisa. Tanpa ragu Tezar dan Alya menuju sumber suara. Tezar dan Alya sudah diambang pintu kamar mandi saat mata mereka menangkap pemandangan yang mengerikan.

Elisa berendam dalam bak mandi berisi air berwarna merah darah. Seorang Mama Elisa berteriak-teriak berusaha menyadarkan Elisa sementara Bibi tampak pingsan dan bersender di pintu kamar mandi.

Tezar segera menghampiri Elisa, mengguncang-guncang tubuh Elisa, memaksa gadis itu untuk bangun. Akan tetapi Elisa tidak terbangun sama sekali.

“Panggil ambulans!”

Alya masih terlalu kaget untuk mendengar apapun.

“Alya! Panggil ambulans!” Alya tersentak dan langsung merogoh handphonenya. Nomornya langsung menghubungi kontak darurat, meminta sebuah mobil ambulans dikirim ke alamat rumah itu.

Mama Elisa terengah lemas menatap putrinya sementara Tezar berusaha membalut pergelangan tangan Elisa yang berdarah. Alya menatap semua itu dengan cemas. Ini semua diluar rencananya!

to be continued…


Cerita selanjutnya akan dilanjutkan oleh Depi, silahka dicek disini Stay tune terus yaa~

Para Artemis dan Orion Mereka

Ini adalah tantangan membuat Script Movie Blog Tour, nama saya Nadita. Untuk memahami jalan ceritanya silahkan membuka link dibawah ini

Episode 1 : Terkuncinya Para Pengunci

Episode 2 : Permainan (akan) Dimulai

Episode 3 : Detik Detik Kematian Radian


 

Cerita sebelumnya:

Dru, Ar, Jan dan Wid berpacu dengan waktu jika tidak ingin Rad mati. Dru berusaha menghubungi adiknya untuk memecahkan kode chipertext untuk menyelamatkan nyawa mereka semua.


 

INT. Ruangan Kamar Rei

SFX. Ting. Tanda pesan masuk.

Rei: YES! Rekor tertinggi! Yuuuuhuu! Ok, next game!

SFX. Ting. Tanda pesan masuk.

SFX. Bunyi game permainan mendominasi ruangan.

Dru: Dammit, Rei! Berhentilah memainkan game sialmu itu dan lihat facebookmu!

Rei tidak mendengar maupun tidak melihat Dru.

SFX. Ting. Tanda pesan masuk.

Dru: Dammit! Rei-

 

CUT BACK TO

INT. Ruang gelap penuh tabung

Dru terbangun dengan kaget. Tubuhnya tersengat listrik bertegangan tinggi. Dru berteriak kesakitan

Al: Sudah terbangun dari tidur cantikmu itu? (menyeringai)

Dru: Bangsat kau Al! Kenapa kau bangunkan aku? (terengah kesakitan)

Al: Karena kau sudah tidur lebih dari delapan jam, sayang.

Wid: Bangsat kau Al! Maksudmu kami juga tidak boleh tidur? Apa pedulimu kalau kami tidur lebih dari delapan jam dalam tabung sialan ini? Kau mengharapkan kami melakukan apa? (memukul tabung)

Al: Ck ck ck sayangku~ aku perhatikan bahasa kalian semakin kasar. Tolong gunakan bahasa yang baik~

Wid: Persetan dengan bahasa! Keluarkan kami sekarang!

Al: (tertawa sinis) Tentu aku akan mengeluarkanmu sayang~ segera setelah adik dan anak kalian memecahkan sandi itu (berjalan keluar ruangan)

Al: Dan kuingatkan pada kalian, kalian hanya bisa tidur selama delapan jam dalam satu hari. Lebih dari itu… (nada menggantung lalu tertawa sambil keluar ruangan).

Dru, Ar, Jan dan Wid saling berpandangan dari dalam tabung.

Dru: Berapa lama aku tertidur?

Ar: Kau bertanya pada kami? (nada sinis)

Wid: Lupakan itu. Bagaimana? Kau berhasil menghubungi adikmu?

Dru: Anak payah itu sama sekali tidak menanggapi pesan yang kutinggalkan!

Wid: Apa maksudmu?

Dru: (menghela napas) Aku gagal.

 

INT. Ruangan Kamar Rei

Rei: (meregangkan tubuh) Ya ampuun~ capek banget. Kurasa besok saja-(ucapan terpotong)

OS. Suara gedoran pintu keras

Rei keluar dari kamarnya, membuka pintu untuk tamu.

Tamu 1: Anda yang bernama Rei?

Rei: (mengernyit) Bisa dibantu?

Tamu 2: Apakah anda yang bernama Rei? Adik dari Nona Drupadi?

Rei: (bersender ke pintu sambil menyilangkan dada) Kalau dia masih menganggapku adik masih bisa dibilang begitu.

Tamu 1 dan Tamu 2 berpandangan sesaat.

Tamu 1: Kami perlu membawa anda ke tempat yang aman.

Rei: (memutar mata) kali ini apalagi yang sudah dilakukan oleh kakakku yang pintar itu?

Tamu 2: Nona Drupadi menghilang sejak satu bulan yang lalu dan kami tidak bisa menghubunginya. Anda adalah salah satu orang yang bisa menolong Nona Drupadi.

Rei: (tertawa keras) Kakakku yang hebat itu memangnya terlibat masalah apa? Terlalu sulit hingga akhirnya dia memohon bantuan dariku?

Tamu 1: Jika anda tidak ikut kami dengan sukarela- (ucapan terpotong).

Rei: Maaf ya, apapun urusan kakakku yang hebat itu aku tidak mau turut campur.

Tamu 1 dan Tamu2 berpandangan sesaat. Membekap Rei, menyeretnya ke dalam mobil berwarna gelap.

 

INT. Ruang bercahaya sedang dengan meja panjang dikelilingi banyak kursi. Di depannya terdapat layar monitor raksasa

Beberapa petugas dengan baju preman membawa tiga orang dengan kain hitam menutupi kepala memasuki ruangan. Mendudukan tiga orang ke kursi, melepas kain kepala.

Cynthia (Cyn): (terbatuk, menatap sekeliling ruangan dengan liar, wajah ketakutan)

Joe: Hei! Apa-apaan ini?! Lepaskan kami!

Rei: (duduk bersender di kursi, tangannya terlipat di dada, menatap sekeliling ruangan dengan tenang.

Wijaya (Wij): Diam! Kami membawa kalian kesini karena kami tak punya pilihan lain!

Rei: (mendengus, memutar mata bosan)

Cyn: (terisak)

Joe: Apa yang kalian inginkan?

Wij: (menekan tombol remote)

Monitor Raksasa menampilkan sebuah video. Pria setelan putih dan topeng tampil di video.

Pria Bertopeng: Selamat malam para Pengunci. Hmm, haruskah kusapa kalian dengan sebutan Hera, Ratu para Dewa Olympeus yang sangat angkuh? Dan aku yakin, kalian pasti akan mengumpulkan mereka semua yang mendapatkan kode untuk membebaskan teman kalian. Hmm, ini memalukan tapi aku tak tahu nama mereka semua, mungkin aku akan menyapa kalian dengan nama Artemis.

SFX. Gebrakan meja 

Joe: (berdiri dari kursi) Apa-apaan ini?

Wij: Diam dan tonton saja!

Joe: (duduk, wajah merengut)

Pria Topeng: Aku yakin kalian para Artemis dibawa ke suatu tempat secara paksa tanpa dijelaskan apapun (tertawa sinis). Perkenankan aku menjelaskannya pada kalian. Saya adalah salah seorang dari pihak Penggagas, sementara kalian para Artemis berada di area milik Sang Pengunci.

Joe, Rei dan Cyn saling memandang bingung.

Pria Topeng: Biar aku jelaskan kepada kalian para Artemis, bahwa kami telah menyekap para Kakak dan Orang tua kalian di tempat kami (video menampilkan Ar, Dru, Wid, Jan dan Rad dalam tabung tanpa suara).

Rei: (mengernyit)

Joe: (mulutnya menganga)

Cyn: (memekik)

Pria Topeng: (mengangguk) Mungkin kalian penasaran, mengapa famili kalian yang notabene orang biasa harus dikunci seperti ini. Sayangnya, mereka semua bukanlah orang biasa, Artemisku tersayang.

Joe: A-( terpotong, menoleh ke Wij)

Wij: (menatap tajam video)

Pria Topeng: Begini sayangku, mereka (menunjuk Ar, Dru, Wid, Jan dan Rad) adalah apa yang disebut Pengunci. Mereka adalah agen rahasia dunia yang dilatih dan ditugaskan untuk menyembunyikan kebenaran sejarah dunia yang tidak menguntungkan pihak pemerintah.

Rei, Joe, Cyn terpaku menatap video.

Pria Topeng: (mengangguk puas) Mengejutkan bukan? Masalahnya adalah, para pengunci ini sangat bodoh. Mereka bersedia menyembunyikan kebenaran sejarah daripada membukanya dan menyebarkannya pada dunia. Bayangkan jika kebenaran itu terungkap, dunia mungkin akan menjadi lebih baik. Akan ada kekacauan, tetapi pihak-pihak tertentu akan mengalami kejayaan, sebut saja negara tertentu atau mungkin… agama tertentu? (senyum licik)

Pria Topeng: Sayangnya, orang-orang ini (melihat Ar, Dru, Wid, Jan dan Rad) berusaha menghalangiku. Apa boleh buat, terpaksa aku menangkap mereka semua. Tapi… aku berpikir, jika kalian para Artemis ingin menolong mereka semua, aku sudah menyediakan petunjuk keberadaan mereka.

Pria Topeng menghilang dari video. Deretan huruf tampil.

XINF QZCO RUEZ

Joe, Rei, Cyn mengamati deretan huruf itu dengan serius.

Pria Topeng kembali muncul dalam Video.

Pria Topeng: Itulah Artemisku. Jika kalian berhasil memecahkan kode itu, maka kalian akan menemukan petunjuk keberadaan mereka semua, Para Orion (nada sinis). Aku akan memberi kalian waktu sepuluh jam dimulai dari jam 10 malam.

Joe, Rei, Cyn melihat arloji mereka.

Pria Topeng: Hanya sepuluh jam sayangku, tidak lebih. Aku punya 17 orang Pengunci disini dan akan membunuh mereka satu persatu setiap 10 menit keterlambatan kalian.

Wij: Keparat!

Pria Topeng: Satu nasihat terakhir untuk kalian semua para Artemis. Jika kalian kesulitan untuk menemukan para Orion kalian, tataplah langit, semoga itu akan membantu (tawa keji, video mati).

Joe, Rei, Cyn saling pandang dan melihat Wij.

Wij: Apa yang kalian lihat? Segera tolong mereka semua! Pecahkan kode itu!

Rei: Aku menolak menolong Drupadi!

Joe dan Cyn memandang Rei.

Wij: Apa katamu? Kau tidak lihat video tadi? Dia akan membunuh semua orang, kakakmu mungkin juga akan dibunuh!

Rei: Kalian menculik, menyekap lalu memaksaku untuk memecahkan kode ini. Apa kalian gila? Apa yang terjadi pada Drupadi itu adalah resikonya sendiri. Kalau dia memang harus mati biarkan saja!

Wij: (mencengkram kerah Rei) Bangsat! Kau tak tahu apa yang kau katakan!

Rei: Aku tahu! Drupadi begitu, Drupadi begini! Merasa sombong karena dia sangat berbakat dan terus-terusan merendahkanku. Tidak salah kalau kukatakan kali ini dia mendapat karmanya!

SFX. Suara tonjokan keras.

Wij: Bedebah!

Rei (darah mengalir dari sudut bibir, terkekeh) Kenapa kau semarah ini? Kau jatuh cinta pada Drupadi?

Wij: (menoleh pada Joe dan Cyn) Kalian berdua! Katakan sesuatu pada bedebah ini! Apa kalian tidak mau menyelamatkan ayah kalian?

Joe: (melipat tangan di dada) Kenapa harus? Ayahku yang memutuskan untuk bekerja seperti ini kan? Inilah resikonya.

Cyn: (diam, wajahnya tidak nyaman) Aku bahkan sudah lupa seperti apa wajah ayahku.

Wij: Kalian, astaga ada apa dengan anak-anak ini?

Joe: (mendekati Rei, mengulurkan tangan) Kami memang bilang tidak mau menyelamatkan mereka, tapi kami tidak bilang kalau kami tidak akan memecahkan kode itu kan?

Wij: (wajah kaget)

Rei: (menyeka darah) Kami akan memecahkan kode itu, sisanya pekerjaan kalian. Deal?

Joe: (membenarkan letak kacamatanya)

Wij: Kalau begitu tunggu apa lagi? Pecahkan kodenya! Sebentar, akan kuputar ulang-(terpotong)

Cyn: (mengeja) XINF QZCO RUEZ

Joe, Rei, Wij memandang Cyn heran.

Cyn: Itu kodenya. XINF QZCO RUEZ.

Wij: Bagaimana?

Cyn: Aku memiliki ingatan fotografis. Apapun yang kulihat dan kudengar walau hanya selintas pasti akan terus terekam dalam memoriku.

Joe, Rei, Wij tersenyum puas.

Wij: (gumam) Mungkin mereka bisa diharapkan.

Rei: Ayo kita pecahkan kode itu!

Joe dan Cyn tersenyum dan mengangguk setuju.

 

to be continued…


 

Cerita selanjutnya akan dibawakan oleh Nana