Teman Main

“Kena tuh! Karetnya goyang!”

“Enggak kena kok!”

“Baju kamu yang ngenain, tuh, karetnya goyang!”

Nanda bersungut dan mendekati Nila yang menyerahkan pegangan karetnya, tersenyum senang. Semua orang yang ada di sana tertawa.

“Makanya pegang dulu jilbab sama rokmu itu sebelum loncat.” seru yang lain yang ada di sana. Mereka tertawa gembira riang, ada sekitar enam orang yang sedang bermain lompat karet.

“Iya, aku lupa. Udah lama sih, jadinya agak lupa sama peraturannya.” Nanda memegang ujung tali karetnya setinggi dada.

“Dasar orang kota!” seru yang lain.

“Gak ada hubungan!” Nanda balas teriak. Dan mereka semua tertawa gembira. Meloncat dan sesekali bersalto. Bermain tali karet, mengenang masa dulu.

.

.

.

Sekumpulan anak kecil sedang duduk bergerombol di panggung rumah, menghadap halaman rumah tempat permainan karet sedang berlangsung.

“Itu ibu-ibu kita lagi pada ngapain sih?” Andi mengangkat matanya sesaat dari layar androidnya.

Hasnah mengangkat bahu, “Tahu tuh.”

“Kok, gak tahu? Kan kamu anak perempuan juga?” Bayu, sepupunya ikut mengomentari. Matanya tidak lepas dari gadget.

“Kalau aku bilang gak tahu, ya gak tahu! Daripada begitu konsen deh ke mobile kamu. Musuh dari tadi mau nyerang aku mulu tahu!” Hasnah balik ngomel. Bayu langsung kembali fokus.

“Itu ibu-ibu kita apa pada gak inget umur ya? Masih jaman main-main loncat gitu.”

Dan percakapan pun terhenti, mereka semua fokus pada gadget mereka masing-masing.

Enemies has been slayed

Sementara tawa riang gembira yang sesekali ditingkahi obrolan dan gosip-gosip ala ibu pedesaan terdengar riang dari halaman rumah.

The End

Advertisements

You, And Only You

Untuk challenge Unusual Pet Challenge, IOC Writing Project

High Quality Twilight Princess Zelda and wolf link Blank Meme Template

 

Pada zaman dahulu kala,

Seekor serigala terbangun dari tidurnya, telinganya bergerak-gerak. Ia membuka matanya dan mendapati bahwa malam ini sangat gelap. Padahal sebelum ia tertidur ia yakin bahwa bulan sedang purnama.

Saat sang serigala menatap ke langit, ia melihat seekor raksasa sedang melahap rembulan.

Serigala itu bangun dan melolong, menggeram pada raksasa. Serigala ini bukan serigala biasa: matanya berwarna biru langit, tubuhnya sebesar gunung, bulunya berwarna cokelat gelap dengan bulu putih di dahinya yang membentuk tanda yang aneh. Suara geramannya sangat keras, bagaikan halilintar menyambar.

Raksasa itu terkejut dan rembulan memanfaatkan itu untuk lari dari genggaman sang raksasa. Sang serigala terus menggeram, melolong kepada raksasa hingga akhirnya ia pun lari dari tempat itu.

Setelah raksasa pergi, rembulan turun ke hadapan serigala. Sang rembulan berubah menjadi sosok gadis yang cantik. Tidak pernah serigala melihat gadis secantik rembulan.

“Terima kasih karena telah menolongku dari raksasa. Sebagai tanda terima kasih aku akan melakukan apapun.” Ujar putri rembulan.

Sang serigala menutup matanya dan ia berubah wujud menjadi seorang pemuda yang gagah. Sang putri rembulan belum pernah melihat pemuda yang lebih rupawan dari pemuda serigala itu.

“Aku tidak butuh apa-apa. Aku hanya berusaha membantu.” Pemuda serigala menolak tawaran si gadis.

Lalu sang putri pun bercerita bahwa pada waktu tertentu sang raksasa selalu datang dan mencari dirinya. Sang raksasa akan memakan cahaya rembulan dan menjadikan rembulan menjadi gelap. Itulah yang kita kenal sebagai gerhana bulan.

Sang pemuda pun bersumpah, bahwa setiap raksasa datang ia akan melolong, menggeram kepada raksasa. Dengan begitu gerhana bulan bisa cepat selesai dan bulan bisa kembali bersinar.

Itulah sebabnya, di Kerajaan Ioer ini jika terjadi gerhana bulan kita bisa mendengar serigala melolong. Karena para serigala bersumpah untuk membantu sang putri rembulan untuk lari dari kejaran raksasa.

Selesai.

.

.

.

“Putri Amaris, apa itu sebabnya bendera kerajaan kita bergambar serigala yang memandang bulan?”

Amaris meletakkan bukunya dan menatap bocah lelaki berumur sepuluh tahun di hadapannya. “Begitulah. Mereka bilang pemuda serigala itu tinggal di sini supaya bisa menolong putri rembulan. Mereka akhirnya membentuk kerajaan yang disebut Kerajaan Ioer. Logo bendera kita diambil dari cerita ini.”

“Hah? Berarti kita juga bisa berubah jadi serigala, dong?”

“Hah? Masa sih?”

Suasana langsung ricuh, Amaris tertawa lepas. Beberapa anak menahan napas hingga wajah mereka menjadi merah. Seakan dengan begitu mereka bisa berubah wujud.

“Ini cuma cerita, jangan dibawa serius ya.”

Beberapa anak mendesah kecewa. Wajah mereka sangat imut. Amaris tersenyum lembut, “Nah, sudah sore. Ayo pulang. Ibu kalian pasti sudah mencari kalian.”

Anak -anak yang ada di sana langsung meloncat-loncat, melangkah pergi tidak lupa sambil melambaikan tangan. Memaksa Amaris berjanji untuk besok kembali membaca dongeng yang dengan antusias Amaris setujui.

Amaris tinggal sebentar untuk membereskan beberapa buku yang berserakan dan menumpukkannya di meja perpustakaan. Ia meraih tasnya, melambaikan tangan kepada petugas dan keluar dari perpustakaan.

Hari sudah gelap, Amaris tidak sadar ternyata membereskan buku memakan waktu yang lumayan. Angin malam bertiup dingin, tanpa sadar Amaris menggigil. Istana kerajaan hanya berjarak sepuluh menit dari perpustakaan, tak terasa ia sudah sampai.

Amaris berjalan cepat-cepat, disapa oleh berbagai pelayan dan penjaga istana. Tak lama kemudian ia sudah sampai di kamarnya. Saat ia membuka kamarnya seekor serigala berbulu cokelat sedang berbaring di karpet kamarnya.

“Aku pulang.” Amaris menyapa serigala itu. Ia berjalan mendekat dan langsung memeluk serigala. Sang serigala hanya diam, mengendus dan menggerak-gerakkan telinganya.

Sang serigala menggeram, Amaris menatap sesaat. “Apa kamu tidak suka aku peluk?”

Serigala itu mengendus-endus udara dan langsung berlari ke balkon kamar, Amaris mengikuti. Ia menatap langit. “Ah, sebentar lagi mau gerhana bulan ya?”

Amaris menatap serigalanya. Tapi alih-alih serigala Amaris malah menatap seorang pemuda yang rupawan. Auranya memancarkan angkuh dan keras kepala. Sirat matanya seperti bertanya sesuatu, Amaris tersenyum.

“Karena setiap akan gerhana bulan kamu pasti langsung gelisah dan menjauh dariku.”

Wajah pemuda itu gelap untuk sesaat.

“Meski begitu, kamu tidak bisa benar-benar menjauh dariku. Kau selalu ada di dekatku tapi seakan takut bahkan untuk satu ruangan denganku.”

Suasana hening.

“Maaf.”

Hanya ada satu kata itu saja. Amaris tersenyum.

“Sudah kubilang. Kamu tidak perlu minta maaf, kan?”

Pemuda itu menatap Amaris dengan serius, “Kalau saja aku lebih cepat. Kalu saja aku punya kekuatan yang cukup, aku bisa-”

Ucapan itu terputus, Amaris telah memeluk pemuda itu. “Sudah cukup. Kamu tidak perlu menyesali apapun.” bisik Amaris.

Amaris menahan wajah pemuda itu, mereka saling berpandangan. “Lagipula kehidupan seperti ini juga sangat menyenangkan. Aku tidak perlu takut dengan raksasa apapun. Dan aku tidak perlu kesepian.”

Angin malam berhembus.

“Karena kamu akan selalu berada di sisiku, kan?” Amaris tersenyum lembut menatap si pemuda.

Sang pemuda menggenggam tangan Amaris dan berlutut, “Aku, Ulv, dewa dan pemimpin para serigala di dunia ini. Bersumpah untuk selalu berada di sisi sang rembulan.”

Ulv memandang Amaris, “Tak peduli berapa kalipun kau terlahir di dunia ini. Aku akan terus mencarimu dan menemanimu untuk menghadapi gerhana rembulan bersama dirimu.”

Amaris tersenyum dan menggenggam tangan Ulv. Matanya menatap langit. Sebentar lagi gerhana rembulan merah akan terjadi.

.

.

.

Raksasa tidak suka serigala mengganggunya saat ia memakan cahaya rembulan. Karena itulah sang raksasa berpikir dan menemukan suatu cara.

Ia menangkap rembulan pada siang hari, ketika rembulan sedang tertidur. Sulit untuk menatap rembulan pada siang hari, tapi akhirnya raksasa bisa menangkapnya. Ia memakan cahya rembulan. Tidak hanya itu, ia bahkan memakan daging dan meminum darah sang rembulan.

Saat malam tiba, rembulan tidak bersinar putih cemerlang seperti biasanya. Akan tetapi berwarna merah. Sang raksasa tertawa. Sang serigala meraung dan melolong. Darah rembulan menetes ke Bumi, dari tetesan darah itu lahirlah seorang gadis yang sangat mirip dengan putri rembulan.

Sang serigala melindungi sang gadis. Akan tetapi raksasa masih terus mengejar sang gadis untuk memakan cahaya rembulan yang tersisa. Karena sang gadis tidak punya kekuatan apapun, ia mudah tertangkap oleh raksasa. Rembulan kembali berwarna merah.

Dan setiap sang gadis tertangkap, sang serigala akan melolong sedih.

Sang gadis akan lahir setiap gerhana bulan merah.

Dan akan mati setiap gerhana bulan merah.

Dongeng yang sedih, ya?

END


A/N: Ya, seperti yang ditulis diatas. Ini buat challenge di IOCWP. Dan lagi-lagi entah cerita apa yang saya buat setengah hati karena terlalu males. Jadi sebenernya mau nulis kalau serigalanya itu seperti hewan peliharaan buat Amaris. Tapi kok rada gak enak ya, soalnya si Ulv itu kan selain serigala dia juga dewa. Jadi kalo dia sumpah untuk jadi hewan peliharaan Amaris supaya barengan terus…err… kayaknya nganu banget. Jadilah saya nulis biar si Ulv barengan sama Amaris aja, gak perlu nulis jadi hewan peliharaan 😛

Tapi Amaris hebat amat ya…hewan peliharannya dewa serigala 😀

Aside

Related image

Nggg~ Nnn~ Ngg~ Nnn~

Aku memandang ke atas. Aula gedung ini memiliki atap yang terbuka, membuat semua orang yang ada di dalamnya bisa memandang ke atas, atau permukaan perairan. Segerombolan paus sedang berenang di kejauhan atas sana. Mereka berenang beriringan. Sesekali cahaya rembulan bergoyang menyelinap menembus sela-sela paus, menghujam dasar laut. Ah, sungguh pemandangan yang indah sekaligus misterius.

Teknologi sudah semakin maju, karena itu manusia bisa menjelajah dan menempati berbagai pelosok dunia. Misalnya, di bawah laut ini. Dengan teknologi rekayasa genetika manusia dan kemajuan teknologi mesin lainnya, kami bisa tinggal di bawah laut tanpa takut tenggelam atau tidak bisa bernapas. Malahan kami bisa bernapas di dasar laut ini sama baiknya dengan mereka yang tinggal di daratan atas.

Aku masih menatap ke atas, memandang sosok paus yang berenang semakin lama semakin menjauh. Nyanyian paus tidak selalu terdengar di dasar laut, bahkan untuk kami sekalipun yang seumur hidup selalu tinggal di bawah air. Paus adalah makhluk yang pemalu, karena itu mendengarkan nyanyian paus sama seperti mendapatkan keberuntungan.

Aku memandang sekeliling, semua orang masih membicarakan nyanyian paus tadi. Tapi sedetik kemudian musik dansa mulai dimainkan dan mereka kembali berdansa. Aku memandang ke satu sudut yang sepi, seorang pemuda sedang berdiri sambil memandangku. Ah, akhirnya ketemu juga. Aku tersenyum padanya.

Sepertinya ia menyadari kalau aku memergokinya yang sedang memandangku, makanya ia langsung membuang muka. Aku tertawa kecil dan terus menatapnya. Ia sama persis dengan pemuda yang kulihat dalam mimpiku. Seorang pemuda yang terlihat canggung, tapi penuh dengan tekad. Ia akan terus berjuang meski dihadapkan dengan tantangan yang berat demi mencapai tujuannya. Sesaat hatiku sedikit sakit tapi buru-buru kutepis rasa itu.

Tak lama kemudian ia kembali menatapku lagi tapi terburu-buru membuang muka. Aku tersenyum dan mendatanginya. Ia tampak salah tingkah.

“Berdansalah denganku!” ajakku tiba-tiba.

Ia tampak terkejut tapi tidak berkata apa-apa. Aku tertawa kecil. “Biar kutebak. Kamu tidak mau berdansa denganku karena aku tidak cukup cantik?”

Dia tertawa. “Aku tidak bisa dansa.”

Aku memandang pakaiannya, seragam militer kerajaan Pacifista. “Tentara sepertimu tidak diajari berdansa? Lalu untuk apa kau datang ke pesta ini?”

Ia kembali tertawa kecil. “Aku hanya menjalankan tugas.”

“Humph. Sayang sekali, pemuda tampan sepertimu malah tidak bisa berdansa.”

“Ajak saja orang lain.” Ia berusaha memberi solusi.

“Tidak mau. Kau lebih tampan dari mereka semua.” Dan lagi alasanku yang utama adalah ingin ngobrol dengan pemuda yang muncul dalam mimpiku itu. Yang ditakdirkan untukku.

“Bagaimana kalau kita mengobrol saja?” ia memberi tawaran.

Aku pura-pura berpikir, “Tidak buruk juga mengobrol dengan orang tampan.” Ia menunjukkan senyumnya.

“Ngomong-ngomong, namaku Alex.” Ia memperkenalkan diri.

“Aku adalah Moirai.” Bukan nama yang asli sih tapi mungkin tidak apa-apa.

“Nama yang aneh.” komentarnya. Aku tertawa. Mau bagaimana lagi, itu kan bukan namaku yang sebenarnya?

“Jadi, untuk apa kau di sini?” Aku mulai berbasa-basi.

“Menjalankan tugas.” sahutnya singkat. “Kau sendiri?”

“Mencari pria tampan untuk diajak berdansa.” selorohku. Ia tertawa kecil. Yah, sebenarnya aku ingin mengobrol dengan pemuda ini sih. Tapi kalau aku bilang begitu semua alasanku dari awal harus diceritakan. Itu merepotkan.

“Jadi, bagaimana menurutmu acara tanda tangan ini?” Aku kembali ke topik.

Alex mengangkat alisnya, “Aku tidak menyangka gadis seumuranmu tertarik dengan politik? Kutebak umurmu , hmmm, 17 tahun?”

Aku tertawa, “Sebenarnya 18 tahun. Tapi kuanggap itu pujian.”

“Hanya salah satu tahun.” gumam Alex.

“Giliranku,” Aku memandang Alex yang balik menatapku. Bisa kulihat ia meiliki warna mata cokelat gelap. “Hmm, umurmu sekitar 25 tahun?”

Giliran Alex yang tertawa, “Sebenarnya umurku 23 tahun.”

“Hee, kau muda sekali untuk ukuran orang yang diundang ke acara penting seperti ini.”

“Kurasa kau yang lebih muda untuk bisa bergabung dalam acara formal ini. Apa kau seorang bangsawan atau tokoh penting lainnya?”

Aku menggigit lidahku, sepertinya aku sudah salah bicara. Seorang pelayan melintas dan menawari kue, aku mengambil satu.

“Lupakan saja. Aku tidak tertarik mendengarnya.” Alex menambahkan. Aku menghembuskan napas lega, tidak sadar kalau dari tadi aku terus menahannya.

“Kita mengobrol yang lain saja.” Alex setuju dengan ajakanku.

“Jadi menurutmu bagaimana acara tanda tangan ini?” Aku mengulang pertanyaanku.

“Kupikir kita mau mengobrol hal lain selain politik?” Alex tersenyum padaku.

“Sudahlah, jawab saja.”

Alex terdiam, tampak memikirkan sesuatu. Sebenarnya aku paham dengan maksudnya yang terdiam itu. Hanya saja aku ingin menanyakannya pendapatnya.

“Biar kutebak. Kau merasa tidak yakin dengan perjanjian kerja sama ini.”

Alex membulatkan matanya tapi ia berusaha tenang. Aku tersenyum misterius. Dari pandangan matanya aku tahu Alex bertanya-tanya mengapa aku seakan bisa membaca pikirannya.

“Tidak perlu berpikir terlalu keras untuk mengambil kesimpulan ini.” Mataku menatap para duta utusan yang saat ini sedang berbincang. “Dan yang pasti, banyak negara lain yang tidak setuju dengan keputusan ini.”

Sebuah kembang air meledak di atas gedung, memercikkan warna-warni yang cantik. Yah, kemajuan teknologi lainnya. Sebuah kembang air yang memiliki fungsi yang sama seperti kembang api di daratan atas.

Segerombolan ikan kecil berenang dengan cepat, menghasilkan arus yang lumayan kencang bagaikan angin bertiup. Aku melemparkan remahan kue milikku, beberapa diantara mereka berhenti untuk memakannya.

“Karena itu, selagi masih bisa dinikmati, lebih baik menikmati perdamaian yang ada saat ini.” gumamku.

Alex memandangku dengan heran. “Apa maksudmu?”

Aku tersenyum, “Bukan apa-apa, kok.” Aku menepukkan tanganku. “Kurasa sudah waktunya aku pulang.”

Alex tidak membantahku, aku menatapnya sekali lagi. “Kau bisa mulai bersiap-siap.”

“Bersiap untuk apa?”

Sebuah ledakan keras terdengar, hawa panas menyembur dan gedung dansa bergetar sebelum akhirnya mulai runtuh. Bom Karbon. Sebuah bom yang efektif di dasar air. Efeknya seperti bom biasa di dataran atas, hanya saja minus api.

Alex sempat menyembunyikan diriku di belakangnya, berusaha melindungiku dari efek ledakan. Ia terbatuk sesaat dan belum sempat bereaksi apapun. Aku berjinjit, mendekatkan bibirku ke telinganya, “Aku adalah Moirai.”

Ia menoleh ke arahku.

“Ingatlah, suatu saat kau akan memerlukan nama itu.”

Aku langsung berlari dalam buih air yang tebal, hasil dari ledakan sebelumnya.

.

.

.

Aku memandang hiruk pikuk gedung itu, para petugas sudah mulai melakukan evakuasi. Inilah awal mula dari segalanya.

Datanglah padaku, wahai yang ditakdirkan untuk membunuhku.

Buih air terus naik ke permukaan. Dan dari jauh dapat ku dengar suara nyanyian paus. Mungkin sebenarnya nyanyian paus bukanlah pembawa keberuntungan.

#End


A/N: Tamat dengan gaje…apalah ini enggak banget jelasnya. Terus mana keindahan dasar lautnya? Ah, kepala saya error gegera minum obat. Jadinya pikiran ng fly mulu.

 

The Fated One To Kill Me

Everything is Permitted

Tak ada satupun yang berani berteriak, semua orang yang ada di lapangan hanya berani berbisik-bisik. Wajah mereka pucat dan pandangan mata mereka cemas. Di hadapan mereka semua terdapat lima orang berdiri di panggung kayu, tepatnya empat orang pria dengan satu orang remaja. Di leher mereka terlilit tali tambang yang cukup tebal. Di depan panggung kayu itu berbaris tentara berseragam angkuh, memasang barikade dengan menggunakan tombak mereka.

Seorang pria tua dengan rambut dan janggut memutih menatap pemandangan itu dengan angkuh dari sebuah balkon. Satu tangannya mengangkat, semua orang mengarahkan atensi mereka ke tangan itu. Lima orang berdiri menggigil, tubuh mereka bergetar keras. Jari itu menjentik, menjadi sebuah pertanda. Seorang pria menarik sebuah tuas-

Jreggg!

-semua orang menarik napas, tercekat. Dalam sekejap lantai kayu itu menjeblak terbuka ke bawah dan lima orang itu tergantung dengan tambang terlilit di leher mereka. Mereka meronta sesaat dan akhirnya mati. Kematian yang lambat dan menyiksa.

Semua orang yang ada di sana terdiam. Tak berani berbisik-bisik, hanya mampun menggeram dalam hati. Mereka semua tahu, satu saja suara protes terdengar maka giliran leher merekalah yang akan terlilit tali tambang.

.

.

.

“Lihat, kan putriku? Begitulah caranya menghukum mereka yang menentang kita.” Pria tua itu menatap putrinya dengan tatapan tajam.

Sang gadis menutup matanya, wajahnya pucat. Perutnya mual dan kepalanya pusing. Ia tidak sanggup melihat eksekusi barusan.

“Apa kau paham?” kali ini sang ayah bertanya dengan suara yang berbahaya. Tak ada pilihan lain, sang gadis membuka matanya perlahan an menatap ayahnya dengan tatapan mata sedih. Mulutnya membuka dan menutup beberapa kali, tidak yakin harus berkata apa.

Semua itu salah! Ayahnya salah!

Para rakyatnya tidak bersalah. Apakah sebuah kesalahan kalau rakyat menuntut sesuatu dari Rajanya? Bukankah tugas seorang Raja adalah memastikan kebutuhan Rakyatnya terpenuhi? Lalu mengapa mereka berlima harus dibungkam selamanya hanya karena mereka mempertanyakan kepemerintahan sang Raja?

Sang putri menatap ayahnya dengan tatapan berkaca-kaca. Mata ayahnya berkilat tajam. Satu kata saja yang salah maka sang putri akan menemukan dirinya sendiri dengan tambang terlilit di lehernya. Dengan berat sang putri mengangguk.

Sang Raja menepuk pundak putrinya dengan lembut, “Suatu saat tahta ini akan menjadi milikmu, putriku. Ratu Fauziah. Tidakkah itu kedengaran bagus?”

Sang putri – yang bernama Fauziah hanya bisa mengangguk lemas. Napasnya sesak. Ayahnya, Sang Raja berlalu dengan wajah puas sementara Fauziah berbelok ke arah lain. Edward, pengawal pribadinya mengikuti dirinya dari jarak tertentu. Fauziah merasakan napasnya sesak dan langsung berlari menuju kamarnya. Air matanya tumpah.

Pintu kamarnya menjeblak terbuka, mengagetkan semua dayang yang ada di kamarnya.

“Tuan putri, ada a-”

“Keluar.”

“Tapi tuan putri, a-”

“Aku bilang keluar.”

Semua pelayan menunduk patuh dengan pandangan bertanya. Fauziah melemparkan diri ke tempat tidur bersamaan dengan dayang terakhir keluar dari kamarnya. Ia membenamkan wajahnya di bantal dan berteriak sekencangnya, menangis sekuat-kuatnya.

Ia merasa dirinya lemah. Ayahnya telah berbuat sewenang-wenang,  padahal ayahnya bukanlah seorang Raja. Pewaris tahta sesungguhnya adalah dirinya setelah ibunya meninggal. Akan tetapi ayahnya sengaja merebut tahta itu dengan alasan dirinya belum cukup umur untuk memerintah kerajaan sendiri. Oh, Fauziah kali ini benar-benar berharap ibunya tidak pernah meninggal. Atau umurnya sudah cukup untuk memerintah sendiri sesuai hukum yang berlaku.

“Kau masih menangis.”

Fauziah tidak perlu menengok untuk tahu siapa yang berbicara. “Aku merasa lemah.” Fauziah meringkuk di tempat tidurnya.

Edward mendekat dan berlutut di sisi tempat tidur, “Anda tidak lemah.”

Fauziah menggeleng, “Aku tidak bisa menghentikan ayahku. Aku tidak bisa menolong rakyatku sendiri. Aku tidak pantas menjadi seorang ratu.”

“Anda pantas menjadi seorang ratu.” Edward menatap Fauziah dengan serius. “Masalahnya adalah apakah anda mau mengotori tangan anda sendiri untuk menghentikan ayah anda?”

Fauziah mengubah posisinya menjadi duduk di atas kasurnya, matanya menatap Edward. “Apa maksudmu?”

“Menjadi seorang ratu tidak selalu menggunakan jalan yang lurus dan jujur.”

Fauziah terdiam sejenak, ia bukanlah gadis naif yang tidak tahu makna tersembunyi di balik perkataan Edward.

“Masalahnya adalah apakah anda bersedia mengotori tangan anda?”

Edward menatap Fauziah dengan tatapan yang tajam, seakan memastikan sesuatu. Fauziah terdiam beberapa lama akan tetapi Edward masih setia menunggu jawaban Fauziah.

Nothing is true-

-and Everything is permitted.[*]

Fauziah menatap Edward dengan pandangan cemas. “Tapi kupikir, ayahku-”

“Kami adalah sebuah ideologi. Dan ideologi tak akan pernah hancur meskipun semua orang yang menggenggamnya telah mati.”

Fauziah menatap Edward dengan tatapan yang tak bisa diartikan.

“Kami bersumpah untuk selalu setia pada ratu kerajaan ini, baik Ibu anda maupun anda sendiri.”

Angin bertiup lembut menerbangkan tirai kamar yang tipis.

“Pertanyaannya adalah apakah anda mau mengotori tangan anda?”

.

.

.

Sebuah pesta yang megah sedang berlangsung. Gelas-gelas tinggi berisi anggur dan berbagai minuman mahal lainnya terus diisi berulang kali. Para bangsawan tertawa-tawa dan saling menjilat, memastikan keamanan posisi diri.

Fauziah menatap semua itu dengan muak. Di saat rakyatnya sedang tercekik karena mereka tidak bisa makan, di sini para bangsawan bermewah-mewah dan seenaknya menghamburkan makanan. Mereka makan, memuntahkannya dan kemudian makan lagi. Memuakkan.

Fauziah menatap ayahnya yang bangkit dari kursinya, mengangkat gelas anggur.

“Malam ini mari kita makan dan minum sepuasnya.” Para bangsawan bertepuk tangan meriah.

Sang Raja mengangkat tangannya, “Lupakan semua yang ada di luar istana ini. Semoga kerajaan kita akan bertahan selama-lamanya!”

Fauziah ingin sekali memutar matanya. Kalau ayahnya terus memerintah dengan tangan besi seperti ini justru Fauziah akan heran kalau kerajaan ini masih akan bertahan setidaknya untuk satu tahun kedepan.

“Demi kerajaan kita.” Raja mengangkat gelasnya dan diikuti semua bangsawan, “Demi kerajaan kita.”

Sebelum mereka semua minum lampu mendadak mati. Suasana menjadi gelap gulita. Akan tetapi lampu padam hanya sesaat dan berikutnya ruang aula kembali terang benderang.

Akan tetapi pemandangan menjadi sangat mengerikan. Sang Raja terkapar di lantai dengan darah yang masih mengalir deras. Matanya terbuka dan ekspresi wajahnya terlihat ketakutan.

Suara teriakan terdengar dan para bangsawan mulai berlari keluar ruangan. Fauziah hanya terpaku menatap ayahnya, mengambil napas dan menghampiri jasad ayahnya yang tak bergerak lagi. Sang putri menatap sesaat ayahnya, menutup matanya sebelum akhirnya dipaksa ditarik oleh para pengawal istana untuk kembali ke kamarnya.

Di dalam kamarnya Fauziah berdiri merenung. Pengawal di tempatkan di depan kamar dan di bawah balkon kamarnya. Lagi pula kamarnya berada di lantai tiga, jadi seharusnya tidak ada yang bisa masuk ke kamarnya kan?

Akan tetapi sesosok yang tegap menyelinap masuk ke kamarnya tanpa terlihat oleh para pengawal yang ramai berjaga. Tubuhnya terbalut jubah berwarna gelap dan wajahnya ditutupi tudung. Ia muncul tanpa suara di belakang sang putri. Fauziah mengangkat wajahnya dan menatap sosok itu.

“Kau kah yang membunuh ayahku?”

Sosok itu membuka tudungnya dan menampilkan wajah Edward, pengawal sang putri. Ia berlutut di hadapan Fauziah. “Bukan aku yang melakukannya,” Edward menjawab dengan suara yang serak, “tapi kami.”

Tanpa dikomando muncul sosok-sosok lain berjubah gelap dan wajah ditutupi oleh tudung. Mereka melingkari Fauziah dan berlutut hormat, satu tangan di depan dada dan tangan lain diletakkan di belakang punggung.

“Kami bersumpah untuk selalu setia pada anda, Ratu Fauziah. Ratu kerajaan yang sah di kerajaan ini.”

Edward menatap Fauziah dengan serius, “Akan tetapi camkanlah! Jika anda mengkhianati kepercayaan kami dan rakyat, maka kami tidak akan segan membunuh anda.”

Fauziah menghela napas lelah. Para sosok berjubah gelap itu bangkit dan keluar satu persatu melalui balkon kamar sang putri. Bagaimana para prajurit yang seharusnya berjaga tidak menyadari kehadiran para sosok itu Fauziah tidak mengerti. Saat ini di kamar hanya ada Edward dan dirinya.

“Kalian telah membunuh ayahku, setelah ini kalian akan kemana?”

Edward memakai kembali tudungnya, menyembunyikan wajahnya. “Kami akan terus berlari.”

Fauziah mengerutkan alisnya.

Berlari. Berlari. Berlari. Selama malam masih ada aku akan terus berlari.”

Edward melooncat ke pegangan balkon dan menatap Fauziah. “Jaga dirimu, ratuku.”

Fauziah menangkap tangan Edward, “Apakah kau akan kembali padaku?”

Edward menatap Fauziah dengan lekat. “Saat matahari bersinar aku akan berada di sisimu, Ratuku.”

Fauziah melepaskan pegangannya pada Edward yang sudah berlari ke satu arah. Para prajurit mulai menyadari keberadaan mereka dan mulai saling berteriak dan mengejar. Fauziah menatap sosok yang berlari di atap-atap. Angin dingin bertiup lembut.

.

.

.

Edward menatap sang putri yang masih berdiri di balkon. Ia merapatkan jubahnya dan membenahi tudungnya.

“Dan saat malam tiba, aku akan kembali berlari. Karena kami adalah assassin.”

#END


Note:

[*] Ideologi yang dianut para anggota Assassin’s Creed yang juga diambil dari novel berjudul Alamut karangan Vladimir Bartol. Ideologi ini jadi dasar dalam dunia Assassin’s Creed.

A/N: Hadiah ulang tahun yang udah lewat buat Ratu Fauziah, member IOCWP. Selamat ulang tahun Ziah sekaligus nih cerita buat kadomu untuk lulus sidang dan sekalian ngelunasin utang challenge. Duh nih cerita sekalian-sekalian semua 😛 gak modal banget ya ngasih kado sekaligus semuanya :”)

Code Name: Devil

Gue lagi tergila-gila sama Assassin Creed series. Jadi maafin yaa.. 😛

Melayang. Melayang. Melayang.

Heh, tak kusangka barang ini bagus juga. Pantas harganya lumayan. Emang benar, harga gak pernah bohong!

Heh! Dan sekarang aku bisa melihat…er, apa itu? Hantu? Pakai baju putih-putih?

Hahaha, lucu juga. Hantunya cantik juga. Kira-kira bisa dibayar berapa?

Dan berikutnya aku melihat kegelapan.

.

.

.

Aku bergelung… entah dimana ini. Badanku rasanya lelah dan tempat yang kutiduri saat ini benar-benar empuk. Tanganku asal memeluk apapun yang ada di sampingku, menghirup wangi yang memabukkan. Entah apa itu rasanya begitu hangat dan harum.

Brak!

“Bangun. Sarapan sudah siap.”

Sebuah suara yang sangat tenang dan cuek. Perlahan aku membuka mataku, rasanya pusing.

“Kamu rupanya,” keluhku kembali menutup mata. Seorang gadis berjilbab memandang kearahku dengan tatapan datar. Adik tiriku, Shafira.  Hmm, dia tidak melihat kearahku tapi kearah di sampingku?

Aku mengangkat kepala dengan malas, apa sih yang dia lihat?

Dan…seorang perempuan tertidur di sampingku. Baiklah, siapa wanita ini? Aku melempar pandangan heran ke Shafira. Kali ini dia melipat kedua tangannya dan bersender di pintu kamarku. “Ini bukan pertama kalinya kamu pulang ke rumah bawa perempuan, jadi jangan pasang wajah heran begitu di depanku.” Ujarnya datar.

“Ayah tadi telepon. Lima belas menit lagi dia akan menelepon lagi. Lebih baik kamu bersiap-siap.”

Aku masih bengong dan memandang wanita yang tertidur lelap disampingku. Baiklah, saatnya mengusir wanita ini.

.

.

.

Aku turun ke ruang makan, pipiku sakit dan perih. Sial! Wanita jalang itu malah menamparku. Memangnya dia siapa? Tahu namanya saja tidak!

Aku menghampiri Shafira yang sedang mengoles mentega di selainya.

“Pipiku sakit ditampar.”

Adik tiriku hanya terdiam, aku mengernyit tidak senang. “Hei! Aku bilang aku ditampar.”

“Lalu? Cowok sepertimu memang pantas untuk ditampar.” Shafira terus mengoleskan mentega di rotinya tanpa menoleh padaku. Aku langsung menghampiri sisi Shafira, menarik tangannya dan mencengkram dagunya, memaksanya untuk melihatku.

“Kau terlalu dingin padaku.” Keluhku kesal, tapi adik tiriku itu hanya kembali menatapku dengan dingin.

“Jangan lupa-“ aku mengelus pipinya dengan lembut, tapi dia malah menatapku semakin dingin. Heh, aku suka itu.”-kau hanyalah anak pungut di sini.”

“Lalu?”

Aku mengangkat alisku, ia menantang. “Kau harus dengar semua perkataanku.” Aku megelus jilbabnya yang hari ini berwarna abu gelap. “Bagaimana kalau kau mulai dari melepas kain lap ini? Dan menghabiskan malam di kamarku?”

Alisnya mengernyit tapi aku tak peduli. Jemariku sibuk menjelajah pipi dan rahangnya dengan lembut. Jemariku mulai akan menyapu bibirnya saat tangan Shafira menahan tanganku dan melemparnya dengan keras.

“Aku tidak harus mendengarkan kata-katamu.” Shafira berjalan menjauh.

“Aku kakakmu,” aku menyeringai.

“Kalau begitu bersikaplah sebagai seorang kakak.”

Aku tertawa terbahak. “Katakan, berapa ayahku membayarmu?”

Dia berhenti tapi masih belum menoleh padaku.

“Aku bisa membayarmu dua kali lipat dari ayahku.”

Shafira menarik napas dan membuangnya, lalu menatapku. “Kau pikir aku tidur dengan ayahmu? Asal kau tahu, ayahmu itu adalah ayah angkatku.”

Aku mengangkat bahu, “Apapun bisa dibeli dengan uang.” Aku menarik keluar plastik kecil dari saku jinsku dan melambaikannya dengan santai. “Plastik kecil ini bahkan cukup untuk membayarmu menemaniku beberapa malam.”

Shafira mengangkat alisnya, ia kembali melangkah menaiki tangga. Aku tertawa terbahak, “Kamarku tidak dikunci kalau kau mau.” Tawaku kembali menggema.

.

.

.

“Jadi bagaimana?”

“Kurang baik, bos! Polisi cepet banget nangkap barang baru kita. Beberapa anak kroco kita udah ditangkap. Posisi kita masih aman tapi kalau begini terus bisa gawat.”

Aku menendang tempat sampah kaleng. Sial! Barang baru begini kenapa bisa cepat tercium polisi? Aku menggaruk kepalaku dengan frustasi! Tidak salah lagi.

“Diantara kita ada pengkhianat!”

Semua orang menahan napas.

“Lihat aja! Kalau sampai aku tahu-“

Tok Tok Tok

Semua orang memandang arah pintu yang saat ini sedang tertutup, beberapa saling menatap dengan resah. Anak buahku yang paling dekat dengan pintu ruangan kami menatapku dengan ragu. Aku mengangguk sedikit dan ia langsung membuka pintu.

Pintu dibuka sedikit dan ia mengintip, agak lama dan kembali menoleh kearahku. “Bos, adikmu.“

Aku mengangkat alis. Adikku? Maksudnya Shafira?

“Buka pintunya.” Dan pintu langsung dibuka. Menampilkan Shafira dengan jilbab lebar dan pakaian atasan berwarna hitam. Rok yang kali ini ia kenakan adalah rok celana. Aku mengangkat alisku, heran dengan penampilannya kali ini.

“Ada apa? Kalau kau mau menemaniku malam ini-“

“Sayang sekali.” Shafira memotong ucapanku, “Tapi tidak akan ada malam ini.”

Aku mengangkat alisku dan tiba-tiba terdengar suara raungan sirene. Dengan panik aku langsung mengintip keluar jendela. Ada banyak polisi. Dan bukan cuma satu atau dua. Tapi ada sepasukan atau malah lebih polisi huru hara. Aku menoleh dengan marah kearah Shafira.

“Kau! Kau pengkhianatnya!”

Aku belum sempat melakukan apapun dan tiba-tiba saja sepasukan polisi bersenjata lengkap telah muncul dengan rapi di belakang Shafira. Tidak hanya itu, leser bidikan telah membidik satu per satu semua orang yang ada di ruangan ini termasuk aku. Kami benar-benar tertangkap! Tidak ada jalan keluar.

Shafira tersenyum lembut. Aku merasakan darahku mendidih, baru kali ini aku melihat dia tersenyum sejak datang ke rumah kami lima tahun yang lalu, dan dia malah tersenyum di situasi seperti ini!

Gadis itu menyender santai di pintu. Menatapku dengan menantang. “Tangkap mereka semua!”

Semua polisi itu mematuhi perintah gadis itu. Tanpa banyak perlawanan akhirnya kami diringkus dan dibawa keluar.

“Ayahku sudah mengambilmu dari jalanan!” desisku.

“Memang itulah misiku.” Shafira tersenyum mengejek.

“Kalau kita bertemu lagi-“

“Pertemuan kita selanjutnya adalah acara eksekusi kematianmu. Dan kematian ayahmu.”

Polisi yang menahanku langsung membawaku keluar. Aku berteriak meraung-raung, memaki gadis sial itu! Akan tetapi raunganku terpaksa berhenti karena seorang polisi lain memukulku dengan tongkat mereka. Tanpa babibu mereka melemparku ke truk berjeruji.

“Nasibmu sial karena memaki Jenderal. Kami semua disini adalah penggemar Jenderal Shafira.”

Aku membulatkan mataku. Jenderal? Gadis sial itu seorang Jenderal polisi? Aku tertawa lemah.

“Jendralmu itu benar-benar iblis.”

Polisi itu malah tertawa, “Memang itu kode namanya.”

Dan pintu truk pun dibanting tertutup.


A/N: Gak jelas… beneran ini gak jelas banget. Apalah challengenya tema Anak Jalanan kenapa jadi begini? Maunya sih ada pecandu sekaligus bos narkoba gituloh…dia agak brengsek dan ternyata seseorang bisa lebih jahat daripada dia. Er…tapi kayaknya ini aneh ya? Tau ah…bodo amat. Maafkan bahasany agak kasar dan rate M.

Ronda Malam

“Huaahmmm,”

Tok Tok Tok Tok

Aku mengetuk kentonganku malas-malasan. Hari ini giliranku ronda malam dan suasana seperti biasa, gelap, tidak ada maling dan nyamuk ganas berkeliaran.

“Huaahhmmm,”

Tadi sih pas aku ningggalin pos ronda sekitar jam 3 pagi. Mungkin sekarang hampir jam setengah 4 pagi, kali ya? Kalau tahu tadi bakal nguap terus-terusan begini harusnya aku minum dulu kopi yang disiapin Mbok Silmi. Lagian aku sok-sok an juga sih nolak minum kopi. Kupikir jalan ngeronda bakal bikin ngantukku berkurang, tahunya hawa dingin malah jadi bikin tambah ngantuk.

“Huaaahh-“

Dor Dor Dor Dor Dor

Aku langsung berhenti menguap. Sumpah itu bukan bunyi kentonganku! Itu bunyi suara tembakan! Iya! Itu suara tembakan! Tapi asalnya-

Dor Dor Dor Dor

Ya ampun! Dari arah rumah Pak Pandjaitan! Ada apakah?

Tanpa babibu aku langsung berlari, kadang terseok juga dengan sarung yang kupakai. Akhirnya aku mengalungkan sarungku dan berlari membawa kentonganku. Sempat berpikir untuk mengetok alat itu tapi penasaran juga. Suara tembakan itu begitu keras kenapa tak ada satupun warga yang keluar rumah?

Aku hampir sampai di tikungan rumah Pak Pandjaitan tapi langsung sembunyi lagi. Ada mobil yang berhenti di depan rumah bapak Panglima. Aku menghela napas lega tapi penasaran, kenapa yang datang bukan tentara yang biasa datang ke rumah Pak Pandjaitan?

Aku bersembunyi di sudut dinding yang gelap, memperhatikan mereka semua. Tentara yang datang kali ini agak galak, mereka berteriak-teriak mencari Pak Pandjaitan. Mereka sepertinya memang bukan tentara yang biasa datang ke rumah ini. Semua orang di daerah sini dan tentara yang datang ke rumah Bapak tidak ada yang sampai teriak-teriak mencari Bapak. Jadi siapa-

Dor Dor Dor Dor Dor

Astaghfirullah! Mereka bawa senapan? Apa-apaan ini?

Aku berusaha mengintip supaya bisa melihat lebih jelas. Ah, ada yang keluar. Tapi itu kan Bapak? Bapak Pandjaitan! Beliau keluar sambil berseragam lengkap. Berarti semua orang yang dari tadi berisik ini benar-benar tentara?

Tapi, loh! Kok Bapak diam saja? Seperti berdoa. Apa Bapak mau dikirim tugas ke tempat yang jauh? Tapi kenapa istri dan anak-anak bapak tidak ada yang mengantar bapak seperti biasanya?

Aku sedang memperhatikan tentara yang lalu lalang di belakang bapak sambil mengokang senapan. Dan tau-tau saja-

DOR!

Astagfirullah! Aku langsung jatuh duduk di tempat. Bapak Pandjaitan ditembak! Tega sekali! Siapa mereka?

“Kamu lihat semuanya, kan?”

DEG! Suara yang dingin dan sesuatu yang keras menekan bagian belakang kepalaku. Belum sempat aku menoleh-

BUAGH!

-semuanya gelap.

#End#


A/N: Dibuat untuk sekedar melatih menulis, sekaligus momennya pas sama G30S/PKI biarlah jadi pengingat kita semua. Kebetulan diantara semua sejarah yang dipelajarin waktu sekolah saya paling suka belajar tema sejarah yang ini. Kalau ditanya kenapa jawabnya sih miris aja gituloh nyawa manusia kayaknya murah banget demi mendapatkan kekuasaan. Sengaja ambil setting Panglima D.I. Pandjaitan karena ya gitulah..berdoa dulu sebelum diterabas sama PKI kesannya agamis banget, beda banget sama PKI yang notabene namanya komunis.

Karena ini fiksi based on history tolong jangan marahin saya kalau faktanya enggak lengkap :”(  dah apalah saya cuma nulis ini based on wikipedia doang. Sekedar jadi pengingat doang jangan sampai PKI muncul lagi di tanah Indonesia.

 

Quote Challenge – O Cursed Spite

“Dan demikianlah pada setiap negeri Kami jadikan pembesar-pembesar yang jahat agar melakukan tipu daya di negeri itu. Tapi mereka hanya menipu diri sendiri tanpa menyadarinya” (Q.S Al-An’am : 123)

.

.

Aku mengangkat mataku dari halaman Al-Quran yang ditunjukkan oleh Elda. Tapi gadis itu hanya menatap es coklat yang ada di hadapannya, memainkan es dengan sedotan miliknya.

Aku menghela napas, “Jadi maksudmu setiap negara itu istilahnya punya penjahat besar yang tugasnya merampok negara?”

“Setiap kebaikan pasti ada kejahatan. Itu hukum alam.” Elda menjawab tidak langsung.

Aku mengerutkan alisku. “Kalau misalnya emang ditulis ada orang jahat di setiap negeri nanti semua orang jahat itu tinggal bilang gue kan cuma ngikutin apa kata Tuhan.

Elda tersenyum, “Tapi mereka hanya menipu diri sendiri tanpa menyadarinya.”

Aku kembali membaca ayat Al-Quran yang dimaksud. Aku mendesah, “Mana ada penjahat mau ngaku kalau dia itu sebenernya penjahat.”

Elda mengangguk setuju, “Itu sesuai dengan Al-Baqarah ayat sebelas dan dua belas.”

Aku membalik halaman Al-Quran dan mencari surat yang dimaksud, “Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Janganlah berbuat kerusakan di bumi!’ Mereka menjawab, ‘Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan.’ Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, tapi mereka tidak menyadari.”

Aku memelototi Elda dan meletakkan Al-Quran itu perlahan di atas meja. “Kewajiban kita sebagai muslim berat banget,” desahku.

Elda menggeleng pelan, “Justru kita termasuk orang yang merugi kalau kita tidak saling menasihati dalam kebaikan dan kesabaran.”

Aku meluruskan punggungku, duduk tegak di kursi, “Yah, kamu benar.”

Elda menatap keluar, matanya menerawang. “The time is out of joint*.” Aku mengangkat alisku, tersenyum dan melanjutkan, “O Cursed spite. That ever I was born to set it right!*”

Elda menatapku dengan pandangan yang tak bisa diartikan. Aku mengangkat bahu, “Rasanya kutipan itu cocok.” Elda menatap gelasnya, memainkan sedotan miliknya, “Justru sejak kita lahir sebagai muslim memang itu kewajiban kita, menasihati dalam kebaikan dan kesabaran.”

Aku meletakkan telunjukku didepan bibirku, “Tapi itu rahasia untuk kita berdua saja.”

Aku dan Elda saling tersenyum, menyimpan rahasia yang hanya kami berdua saja yang tahu.

#End

Catatan: * adalah quote dalam karya William Shakespeare, Hamlet: Act 1, Scene 5, Page 8