Code Name: Devil

Gue lagi tergila-gila sama Assassin Creed series. Jadi maafin yaa.. 😛

Melayang. Melayang. Melayang.

Heh, tak kusangka barang ini bagus juga. Pantas harganya lumayan. Emang benar, harga gak pernah bohong!

Heh! Dan sekarang aku bisa melihat…er, apa itu? Hantu? Pakai baju putih-putih?

Hahaha, lucu juga. Hantunya cantik juga. Kira-kira bisa dibayar berapa?

Dan berikutnya aku melihat kegelapan.

.

.

.

Aku bergelung… entah dimana ini. Badanku rasanya lelah dan tempat yang kutiduri saat ini benar-benar empuk. Tanganku asal memeluk apapun yang ada di sampingku, menghirup wangi yang memabukkan. Entah apa itu rasanya begitu hangat dan harum.

Brak!

“Bangun. Sarapan sudah siap.”

Sebuah suara yang sangat tenang dan cuek. Perlahan aku membuka mataku, rasanya pusing.

“Kamu rupanya,” keluhku kembali menutup mata. Seorang gadis berjilbab memandang kearahku dengan tatapan datar. Adik tiriku, Shafira.  Hmm, dia tidak melihat kearahku tapi kearah di sampingku?

Aku mengangkat kepala dengan malas, apa sih yang dia lihat?

Dan…seorang perempuan tertidur di sampingku. Baiklah, siapa wanita ini? Aku melempar pandangan heran ke Shafira. Kali ini dia melipat kedua tangannya dan bersender di pintu kamarku. “Ini bukan pertama kalinya kamu pulang ke rumah bawa perempuan, jadi jangan pasang wajah heran begitu di depanku.” Ujarnya datar.

“Ayah tadi telepon. Lima belas menit lagi dia akan menelepon lagi. Lebih baik kamu bersiap-siap.”

Aku masih bengong dan memandang wanita yang tertidur lelap disampingku. Baiklah, saatnya mengusir wanita ini.

.

.

.

Aku turun ke ruang makan, pipiku sakit dan perih. Sial! Wanita jalang itu malah menamparku. Memangnya dia siapa? Tahu namanya saja tidak!

Aku menghampiri Shafira yang sedang mengoles mentega di selainya.

“Pipiku sakit ditampar.”

Adik tiriku hanya terdiam, aku mengernyit tidak senang. “Hei! Aku bilang aku ditampar.”

“Lalu? Cowok sepertimu memang pantas untuk ditampar.” Shafira terus mengoleskan mentega di rotinya tanpa menoleh padaku. Aku langsung menghampiri sisi Shafira, menarik tangannya dan mencengkram dagunya, memaksanya untuk melihatku.

“Kau terlalu dingin padaku.” Keluhku kesal, tapi adik tiriku itu hanya kembali menatapku dengan dingin.

“Jangan lupa-“ aku mengelus pipinya dengan lembut, tapi dia malah menatapku semakin dingin. Heh, aku suka itu.”-kau hanyalah anak pungut di sini.”

“Lalu?”

Aku mengangkat alisku, ia menantang. “Kau harus dengar semua perkataanku.” Aku megelus jilbabnya yang hari ini berwarna abu gelap. “Bagaimana kalau kau mulai dari melepas kain lap ini? Dan menghabiskan malam di kamarku?”

Alisnya mengernyit tapi aku tak peduli. Jemariku sibuk menjelajah pipi dan rahangnya dengan lembut. Jemariku mulai akan menyapu bibirnya saat tangan Shafira menahan tanganku dan melemparnya dengan keras.

“Aku tidak harus mendengarkan kata-katamu.” Shafira berjalan menjauh.

“Aku kakakmu,” aku menyeringai.

“Kalau begitu bersikaplah sebagai seorang kakak.”

Aku tertawa terbahak. “Katakan, berapa ayahku membayarmu?”

Dia berhenti tapi masih belum menoleh padaku.

“Aku bisa membayarmu dua kali lipat dari ayahku.”

Shafira menarik napas dan membuangnya, lalu menatapku. “Kau pikir aku tidur dengan ayahmu? Asal kau tahu, ayahmu itu adalah ayah angkatku.”

Aku mengangkat bahu, “Apapun bisa dibeli dengan uang.” Aku menarik keluar plastik kecil dari saku jinsku dan melambaikannya dengan santai. “Plastik kecil ini bahkan cukup untuk membayarmu menemaniku beberapa malam.”

Shafira mengangkat alisnya, ia kembali melangkah menaiki tangga. Aku tertawa terbahak, “Kamarku tidak dikunci kalau kau mau.” Tawaku kembali menggema.

.

.

.

“Jadi bagaimana?”

“Kurang baik, bos! Polisi cepet banget nangkap barang baru kita. Beberapa anak kroco kita udah ditangkap. Posisi kita masih aman tapi kalau begini terus bisa gawat.”

Aku menendang tempat sampah kaleng. Sial! Barang baru begini kenapa bisa cepat tercium polisi? Aku menggaruk kepalaku dengan frustasi! Tidak salah lagi.

“Diantara kita ada pengkhianat!”

Semua orang menahan napas.

“Lihat aja! Kalau sampai aku tahu-“

Tok Tok Tok

Semua orang memandang arah pintu yang saat ini sedang tertutup, beberapa saling menatap dengan resah. Anak buahku yang paling dekat dengan pintu ruangan kami menatapku dengan ragu. Aku mengangguk sedikit dan ia langsung membuka pintu.

Pintu dibuka sedikit dan ia mengintip, agak lama dan kembali menoleh kearahku. “Bos, adikmu.“

Aku mengangkat alis. Adikku? Maksudnya Shafira?

“Buka pintunya.” Dan pintu langsung dibuka. Menampilkan Shafira dengan jilbab lebar dan pakaian atasan berwarna hitam. Rok yang kali ini ia kenakan adalah rok celana. Aku mengangkat alisku, heran dengan penampilannya kali ini.

“Ada apa? Kalau kau mau menemaniku malam ini-“

“Sayang sekali.” Shafira memotong ucapanku, “Tapi tidak akan ada malam ini.”

Aku mengangkat alisku dan tiba-tiba terdengar suara raungan sirene. Dengan panik aku langsung mengintip keluar jendela. Ada banyak polisi. Dan bukan cuma satu atau dua. Tapi ada sepasukan atau malah lebih polisi huru hara. Aku menoleh dengan marah kearah Shafira.

“Kau! Kau pengkhianatnya!”

Aku belum sempat melakukan apapun dan tiba-tiba saja sepasukan polisi bersenjata lengkap telah muncul dengan rapi di belakang Shafira. Tidak hanya itu, leser bidikan telah membidik satu per satu semua orang yang ada di ruangan ini termasuk aku. Kami benar-benar tertangkap! Tidak ada jalan keluar.

Shafira tersenyum lembut. Aku merasakan darahku mendidih, baru kali ini aku melihat dia tersenyum sejak datang ke rumah kami lima tahun yang lalu, dan dia malah tersenyum di situasi seperti ini!

Gadis itu menyender santai di pintu. Menatapku dengan menantang. “Tangkap mereka semua!”

Semua polisi itu mematuhi perintah gadis itu. Tanpa banyak perlawanan akhirnya kami diringkus dan dibawa keluar.

“Ayahku sudah mengambilmu dari jalanan!” desisku.

“Memang itulah misiku.” Shafira tersenyum mengejek.

“Kalau kita bertemu lagi-“

“Pertemuan kita selanjutnya adalah acara eksekusi kematianmu. Dan kematian ayahmu.”

Polisi yang menahanku langsung membawaku keluar. Aku berteriak meraung-raung, memaki gadis sial itu! Akan tetapi raunganku terpaksa berhenti karena seorang polisi lain memukulku dengan tongkat mereka. Tanpa babibu mereka melemparku ke truk berjeruji.

“Nasibmu sial karena memaki Jenderal. Kami semua disini adalah penggemar Jenderal Shafira.”

Aku membulatkan mataku. Jenderal? Gadis sial itu seorang Jenderal polisi? Aku tertawa lemah.

“Jendralmu itu benar-benar iblis.”

Polisi itu malah tertawa, “Memang itu kode namanya.”

Dan pintu truk pun dibanting tertutup.


A/N: Gak jelas… beneran ini gak jelas banget. Apalah challengenya tema Anak Jalanan kenapa jadi begini? Maunya sih ada pecandu sekaligus bos narkoba gituloh…dia agak brengsek dan ternyata seseorang bisa lebih jahat daripada dia. Er…tapi kayaknya ini aneh ya? Tau ah…bodo amat. Maafkan bahasany agak kasar dan rate M.

Advertisements

Ronda Malam

“Huaahmmm,”

Tok Tok Tok Tok

Aku mengetuk kentonganku malas-malasan. Hari ini giliranku ronda malam dan suasana seperti biasa, gelap, tidak ada maling dan nyamuk ganas berkeliaran.

“Huaahhmmm,”

Tadi sih pas aku ningggalin pos ronda sekitar jam 3 pagi. Mungkin sekarang hampir jam setengah 4 pagi, kali ya? Kalau tahu tadi bakal nguap terus-terusan begini harusnya aku minum dulu kopi yang disiapin Mbok Silmi. Lagian aku sok-sok an juga sih nolak minum kopi. Kupikir jalan ngeronda bakal bikin ngantukku berkurang, tahunya hawa dingin malah jadi bikin tambah ngantuk.

“Huaaahh-“

Dor Dor Dor Dor Dor

Aku langsung berhenti menguap. Sumpah itu bukan bunyi kentonganku! Itu bunyi suara tembakan! Iya! Itu suara tembakan! Tapi asalnya-

Dor Dor Dor Dor

Ya ampun! Dari arah rumah Pak Pandjaitan! Ada apakah?

Tanpa babibu aku langsung berlari, kadang terseok juga dengan sarung yang kupakai. Akhirnya aku mengalungkan sarungku dan berlari membawa kentonganku. Sempat berpikir untuk mengetok alat itu tapi penasaran juga. Suara tembakan itu begitu keras kenapa tak ada satupun warga yang keluar rumah?

Aku hampir sampai di tikungan rumah Pak Pandjaitan tapi langsung sembunyi lagi. Ada mobil yang berhenti di depan rumah bapak Panglima. Aku menghela napas lega tapi penasaran, kenapa yang datang bukan tentara yang biasa datang ke rumah Pak Pandjaitan?

Aku bersembunyi di sudut dinding yang gelap, memperhatikan mereka semua. Tentara yang datang kali ini agak galak, mereka berteriak-teriak mencari Pak Pandjaitan. Mereka sepertinya memang bukan tentara yang biasa datang ke rumah ini. Semua orang di daerah sini dan tentara yang datang ke rumah Bapak tidak ada yang sampai teriak-teriak mencari Bapak. Jadi siapa-

Dor Dor Dor Dor Dor

Astaghfirullah! Mereka bawa senapan? Apa-apaan ini?

Aku berusaha mengintip supaya bisa melihat lebih jelas. Ah, ada yang keluar. Tapi itu kan Bapak? Bapak Pandjaitan! Beliau keluar sambil berseragam lengkap. Berarti semua orang yang dari tadi berisik ini benar-benar tentara?

Tapi, loh! Kok Bapak diam saja? Seperti berdoa. Apa Bapak mau dikirim tugas ke tempat yang jauh? Tapi kenapa istri dan anak-anak bapak tidak ada yang mengantar bapak seperti biasanya?

Aku sedang memperhatikan tentara yang lalu lalang di belakang bapak sambil mengokang senapan. Dan tau-tau saja-

DOR!

Astagfirullah! Aku langsung jatuh duduk di tempat. Bapak Pandjaitan ditembak! Tega sekali! Siapa mereka?

“Kamu lihat semuanya, kan?”

DEG! Suara yang dingin dan sesuatu yang keras menekan bagian belakang kepalaku. Belum sempat aku menoleh-

BUAGH!

-semuanya gelap.

#End#


A/N: Dibuat untuk sekedar melatih menulis, sekaligus momennya pas sama G30S/PKI biarlah jadi pengingat kita semua. Kebetulan diantara semua sejarah yang dipelajarin waktu sekolah saya paling suka belajar tema sejarah yang ini. Kalau ditanya kenapa jawabnya sih miris aja gituloh nyawa manusia kayaknya murah banget demi mendapatkan kekuasaan. Sengaja ambil setting Panglima D.I. Pandjaitan karena ya gitulah..berdoa dulu sebelum diterabas sama PKI kesannya agamis banget, beda banget sama PKI yang notabene namanya komunis.

Karena ini fiksi based on history tolong jangan marahin saya kalau faktanya enggak lengkap :”(  dah apalah saya cuma nulis ini based on wikipedia doang. Sekedar jadi pengingat doang jangan sampai PKI muncul lagi di tanah Indonesia.

 

Quote Challenge – O Cursed Spite

“Dan demikianlah pada setiap negeri Kami jadikan pembesar-pembesar yang jahat agar melakukan tipu daya di negeri itu. Tapi mereka hanya menipu diri sendiri tanpa menyadarinya” (Q.S Al-An’am : 123)

.

.

Aku mengangkat mataku dari halaman Al-Quran yang ditunjukkan oleh Elda. Tapi gadis itu hanya menatap es coklat yang ada di hadapannya, memainkan es dengan sedotan miliknya.

Aku menghela napas, “Jadi maksudmu setiap negara itu istilahnya punya penjahat besar yang tugasnya merampok negara?”

“Setiap kebaikan pasti ada kejahatan. Itu hukum alam.” Elda menjawab tidak langsung.

Aku mengerutkan alisku. “Kalau misalnya emang ditulis ada orang jahat di setiap negeri nanti semua orang jahat itu tinggal bilang gue kan cuma ngikutin apa kata Tuhan.

Elda tersenyum, “Tapi mereka hanya menipu diri sendiri tanpa menyadarinya.”

Aku kembali membaca ayat Al-Quran yang dimaksud. Aku mendesah, “Mana ada penjahat mau ngaku kalau dia itu sebenernya penjahat.”

Elda mengangguk setuju, “Itu sesuai dengan Al-Baqarah ayat sebelas dan dua belas.”

Aku membalik halaman Al-Quran dan mencari surat yang dimaksud, “Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Janganlah berbuat kerusakan di bumi!’ Mereka menjawab, ‘Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan.’ Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, tapi mereka tidak menyadari.”

Aku memelototi Elda dan meletakkan Al-Quran itu perlahan di atas meja. “Kewajiban kita sebagai muslim berat banget,” desahku.

Elda menggeleng pelan, “Justru kita termasuk orang yang merugi kalau kita tidak saling menasihati dalam kebaikan dan kesabaran.”

Aku meluruskan punggungku, duduk tegak di kursi, “Yah, kamu benar.”

Elda menatap keluar, matanya menerawang. “The time is out of joint*.” Aku mengangkat alisku, tersenyum dan melanjutkan, “O Cursed spite. That ever I was born to set it right!*”

Elda menatapku dengan pandangan yang tak bisa diartikan. Aku mengangkat bahu, “Rasanya kutipan itu cocok.” Elda menatap gelasnya, memainkan sedotan miliknya, “Justru sejak kita lahir sebagai muslim memang itu kewajiban kita, menasihati dalam kebaikan dan kesabaran.”

Aku meletakkan telunjukku didepan bibirku, “Tapi itu rahasia untuk kita berdua saja.”

Aku dan Elda saling tersenyum, menyimpan rahasia yang hanya kami berdua saja yang tahu.

#End

Catatan: * adalah quote dalam karya William Shakespeare, Hamlet: Act 1, Scene 5, Page 8

Hamba Terakhir: Chapter 1

Dengar putriku, ini ialah kisah lama yang tak akan lekang dimakan waktu. Diceritakan oleh ibuku kepada anak perempuannya, yaitu aku. Ibuku mendengar cerita ini dari ibunya, yaitu nenek buyutmu. Dan suatu saat nanti, putriku, aku berharap kau akan menceritakan kisah ini kepada putrimu.

Pada saat itu dunia masih bertasbih memuji Tuhan-Nya.

Apa itu bertasbih?

Sayang sekali, kisah ini tidak menjelaskan apa itu bertasbih. Tak ada seorangpun di dunia ini yang akan mengetahui arti dari bertasbih.

Tidak… jangan tanya kepada ayahmu. Ia akan sangat marah dan menghukummu dengan hukuman yang keras.

Aku akan lanjutkan.

Dikatakan saat itu dunia masih mengenal Tuhan Yang Sebenarnya.

Tidak… bukan Tuhan yang kita kenal sekarang. Bukan Tuhan yang saat ini bisa kita lihat dan sentuh.

Tuhan Yang Sebenarnya ialah Tuhan yang tak kasat mata.

DIA-lah Tuhan yang mengangkat matahari di kanan-NYA dan rembulan di kiri-NYA.

DIA-lah Tuhan Yang Maha Agung dan Perkasa.

Pada saat itu banyak yang menyebut namaNYA dan bersujud pada-NYA. Akan tetapi pada suatu saat manusia tiba-tiba lupa bagaimana cara bersujud kepada-NYA.

Bahkan manusia pun lupa nama Tuhan kita yang sebenarnya.

Tidak perlu takut putriku. Aku akan ajarkan cara bersujud kepada-NYA.

Dan suatu saat nanti, ajarkanlah kepada putrimu sendiri cara bersujud kepada Tuhan kita yang sebenarnya.

Tuhan Yang Maha Agung dan Maha Perkasa.

.

.

.

BRAAKKK!

Pintu terbanting dengan keras, menunjukkan sosok pria yang berwajah garang dengan muka merah padam, menahan amarah. Di belakangnya berdiri seorang anak lelaki kecil, umurnya tidak lebih dari sepuluh tahun, wajahnya menyeringai licik.

“Sudah kukatakan jangan mengajari putriku hal-hal yang gila!” Pria itu menjambak rambut panjang ibunya dan menyeretnya keluar kamar.

“Ibu! Ibu! Ibu!”

Ia terus berteriak tetapi kakaknya menahannya untuk diam di tempat. Belum pernah ia melihat ayahnya semarah itu dan menarik paksa ibunya keluar kamar. Sementara sang Ibu yang ditarik paksa memandangnya dengan lembut dan tersenyum.

“IBUUUU!!”

Dan pintu yang terbuka kembali terbanting tertutup, meninggalkan dirinya sendirian dalam suatu ruangan gelap  dan gema tawa kakak dan ayahnya yang terdengar keji.

.

Eva membuka matanya, napasnya memburu dan peluh membanjiri tubuhnya. Gadis itu bangkit dan memandang setelan AC yang terpasang di kamarnya, setelan menunjukkan angka 20 derajat Celcius. Cukup dingin sebenarnya tapi entah kenapa tubuhnya berkeringat deras.

“Mimpi buruk rupanya,” gumam Eva.

Eva bangkit dari tempat tidurnya dan mendekati jendela kamarnya yang terletak di lantai tiga rumahnya. Langit masih gelap dan pemandangan lampu perkotaan masih jelas terlihat. Rumahnya- tidak tepatnya istana ini terletak di puncak bukit, memberikan akses bagi istana untuk mendapat pemandangan kota yang indah yang terletak di kaki bukit.

Eva memandang jam yang terpasang di dinding kamarnya, sekarang pukul lima pagi kurang sepuluh menit. Tanpa membuang waktu Eva melangkah ke kamar mandinya untuk mandi dan bersiap-siap. Terlalu pagi untuk bersiap sebenarnya karena semua jadwal kegiatannya dimulai pukul delapan pagi, tapi Eva selalu terbangun pukul lima pagi.

Air di pagi hari tidak terasa dingin karena setelan air tanah istana telah menggunakan sistem pemanas air, membuatmu bisa menggunakan air dalam keadaan hangat tak peduli di musim dingin sekalipun. Setelah beres mandi dan memilih pakaain untuk pagi ini – blus lengan panjang berwarna pink dan rok panjang semata kaki berwarna hitam – Eva menata rambutnya. Semua beres.

Eva melirik jamnya yang menunjukkan pukul lima lewat lima belas. Buru-buru Eva memastikan pintu kamarnya terkunci, menyambar taplak meja yang terlipat rapi dan membentangkan taplak meja yang lain ke suatu arah. Kali ini Eva mengarahkan taplak meja itu ke arah jendela. Buru-buru gadis itu menutupi rambutnya dengan taplak meja yang lumayan lebar, memastikan semua rambutnya tertutup dan mulai berdiri menghadap jendela dalam diam.

Dengan kikuk – Eva tidak yakin walau sudah bertahun-tahun ia melakukan ini – Eva meletakkan kedua tangannya di atas dada. Mulutnya menggumamkan sesuatu yang terpatah-patah. Tak lama kemudian ia merentangkan tangannya dan merendahkan tubuhnya dengan bertumpu di kedua lutut. Ia kembali tegak dan bersujud menghadap jendela. Gadis itu kembali duduk dan kembali bersujud sebelum akhirnya berdiri tegap kembali. Semua rangkaian kegiatan itu dilakukan oleh Eva sebanyak dua putaran dan diakhiri dengan menoleh ke kiri dan kanan bahu gadis itu.

Eva buru-buru bangkit dan kembali melipat dua taplak meja besar yang ia gunakan sebelumnya. Jujur saja bagi Eva semua gerakan yang ia lakukan itu tidak beda dengan kegiatan senam yang pernah dilakukan di sekolahnya dulu. Akan tetapi Eva ingat jelas Ibunya mengatakan rangkaian gerakan itu adalah cara bersujud kepada Tuhan Yang Sebenarnya. Sampai saat ini Eva tidak paham apa yang dimaksud Tuhan Yang Sebenarnya, akan tetapi melakukan semua rangkaian gerak yang ibunya bilang sebagai sujud selalu menentramkan hatinya. Karena itulah Eva selalu melakukannya walau harus sembunyi-sembunyi.

Eva tidak yakin kenapa ia harus menyembunyikan serangkaian gerakan sujud ini, padahal gerakan ini sangat mirip dengan gerakan senam dari sekolahnya. Akan tetapi hati kecil Eva mengatakan untuk merahasiakan semua gerakan sujud ini. Lagipula masih terbayang di benaknya bagaimana ibunya diseret paksa oleh ayahnya saat ia kecil dulu, karena itulah Eva merasa lebih baik tidak perlu ada yang tahu apa yang dilakukannya.

Cahaya mentari menembus jendela kamar. Eva mematikan AC kamarnya dan membuka pintu jendela kaca miliknya, membiarkan udara pagi hari memenuhi kamarnya. Rasanya begitu segar dan menentramkan. Mungkin membaca buku hingga waktu sarapan bukan ide yang buruk.

.

.

.

“Kau terlambat!”

Eva bergidik kaku dan menatap dua sosok yang saat ini duduk di kursi kayu yang digosok mengilap. Seorang pria tua berumur lima puluhan. Meskipun rambutnya memutih disana-sini akan tetapi tubuh pria itu masih tegap dan tanpak prima. Ia adalah Raja kerajaan Alta, pemilik istana gemerlap yang ditinggali oleh Eva saat ini. Tuhan yang disembah oleh rakyat kerajaan Alta sekaligus ayah dari Eva, Raja Airis.

Eva berusaha membuang rasa takutnya dan melupakan mimpinya semalam, ia tersenyum selembut mungkin. Dengan langkah yang ringan ia menghampiri dan mengecup kanan kiri pipi ayahnya. Sesaat ada kerutan diantara dua alis Raja Airis, akan tetapi semua hilang dan digantikan senyum lembut dan puas.

“Kalian tahu aku tidak suka kalau ada yang terlambat untuk sarapan,” ujar Raja Airis.

Eva tersenyum memohon maaf, “Aku terlalu asyik baca buku.”

“Kebangun lagi di jam lima pagi?” Kali ini Alex, kakak dari Eva menyahut sambil mengoleskan mentega di roti bakarnya. Eva mengangkat bahu dan duduk di kursi yang telah ditarik oleh pelayan.

“Insomniamu belum sembuh? Apa perlu kita memanggil dokter yang lain?” Raja Airis menatap putrinya dengan khawatir. Boleh saja ia menjadi Raja yang tegas dan kejam. Tuhan yang disembah oleh semua rakyat kerajaannya. Akan tetapi dihadapan putri kesayangnnya, Eva, ia tetaplah seorang ayah yang penyayang.

“Tidak perlu, sekarang sudah terbiasa.”

Raja Airis hendak memprotes tapi Eva buru-buru melanjutkan, “Lagipula membaca buku di pagi hari lumayan menyegarkan untuk otak.”

Raja Airis hanya terdiam sementara Alex mengangkat bahu tidak peduli. Eva adalah gadis yang keras kepala. Kalau ia sudah menetapkan satu pilihan maka ia akan terus melakukannya. Lagi pula berdebat di pagi hari dengan Eva yang keras kepala bukanlah keputusan yang bijak, makanya Raja Airis dan Alex tidak mempermasalahkan lagi hal itu.

Raja Airis kembali berusaha mencairkan suasana, “Jadi, apa kegiatan kalian hari ini?”

Dan ruang makan sudah dipenuhi ocehan rangkaian kegiatan yang harus dilakukan oleh tiga orang anggota kerajaan itu. Pagi yang berjalan damai seperti biasanya.

.

.

.

Saat itu Allah SWT berfirman

“Jadilah!”

Maka semua terjadi atas kehendak-NYA.

Malaikat itu membuka matanya dan bertasbih

Bersujud mensucikan Sang Pencipta

Atas perintah Sang Rabb Yang Agung

Menurunlah sang malaikat ke Bumi

Atas kehendak Sang Rabb pula

Sang Malaikat diserupakan dengan manusia

Untuk menjadi kawan

Dan penyampai kabar gembira

Bagi Hamba Allah yang berada di Bumi

Hamba Allah yang terakhir

.

.

.

HAMBA TERAKHIR

By: Latifun Kanurilkomari

.

.

.

to be continued…


A/N: Akhirnya selesai chapter pertama…walau keseok-seok dulu dan nyasar haha hihi gegara udah lama gak nulis. Sesekali pingin banget nulis fiksi tapi based on AlQuran dan jejeng… jadilah cerita ini. Kayaknya kaku gegara saya kan gak bisa sembarangan bikin dialog Tuhan…makanya maapkeun kalau kaku banget nulisnya yaaa… tapi semua ini pure cuma fiksi doang

Razia Dompet Kempes

Perhatian!

Sedang dilaksanakan Operasi Dompet Kempes!

Terima kasih atas perhatian Anda.

Ttd, Skuadron Semut

.

.

Hari ini tanggal tua. Atau dengan kata lain akhir bulan. Atau dengan kata lain, hari gajian!

Tapi sayangnya gaji yang ditunggu-tunggu belum datang. Hanya Allah SWT dan para atasan saja yang tahu alasan kenapa gaji kami datang terlambat. Meski begitu kami tetap sabar. Malahan saking sabarnya kami berusaha jajan dengan makan mi goreng sambil mengajukan proposal yang Subhanallahsuper sekali.

“Operasi dompet kempes?” Komandan kami, Andre, membeo.

Ridwan, yang diangkat jadi ustad angkatan dan juru bicara dadakan menganggukkan kepalanya dengan mantap. Di belakangnya ada Rizki, Abdul dan kawan-kawan lain yang mendukung dilaksanakannya operasi tersebut.

“Bisa dijelaskan maksud dari operasi ini?” Andre menatap tajam kepada semua khalayak. Maksudnya sih bukan mau kelihatan sinis, tapi memang sejak lahir si komanda ditakdirkan punya mata yang tajam kayak aktor ganteng di film Ada Apa Dengan Cinta. Jadilah komandan Andre ini selalu kayak kelihatan sinis.

“Gak ada maksud tertentu sih ‘ndan. Cuma mau berbagi aja atau istilah kerennya sedekah. Kan kalau lagi banyak uang kita sebaiknya memberi bantuan kepada yang tidak mampu. Nah, apalagi di masa sekarang ini-“ yang maksud Ridwan masa-masa mereka belum juga turun gajinya “-kalau kita berbagi dengan orang lain In Shaa Allah rejekinya lebih dimudahkan.”

Para pengikut yang ada di belakang Ridwan diam-diam mengamini ceramah Ridwan. Semoga operasi ini akan memudahkan turunnya gaji mereka untuk bulan ini, bulan seterusnya, bulan seterusnya dan bulan seterusnya lagi. Bahkan Komandan Andre juga diam-diam mengamini ceramah Ridwan. Amin.

Sang komandan mengangguk-angguk mendengar penjelasan Ridwan. Tapi apalah daya, sang komandan tidak bisa langsung men-goal-kan proposal mereka. Karena itu dengan kalimat ampuh, “Akan saya usulkan kepada para atasan.” Maka dimulailah masa PHP yang begitu panjang.

Sebenarnya tidak begitu panjang, karena yang sebenarnya mereka hanya menunggu selama satu minggu. Ridwan dkk dipanggil kembali untuk menghadap komandan. Saat mereka menghadap Komandan Andre, mereka tahu proposal mereka kemungkinan akan diterima. Hanya saja melihat wajah sang komandan yang agak cembrut dibanding biasanya Ridwan dkk paham, walau proposal dilanjut tapi ada S&K (baca: syarat dan ketentuan) yang berlaku.

“Kami sudah putuskan…,” Si komandan bisaan aja ambil jeda segala, penonton jadi deg-degan.

“…untuk meluluskan proposal kalian.”

Yes! Alhamdulillah.

“Kabar buruknya adalah kita tidak punya dana untuk mendukung kegiatan kalian jadi kalian harus mencari dana sendiri.”

Olala~

“Gak apa-apa Komandan. Kami sudah siap kok.” Ridwan menghapus segala ragu yang menyelimuti Abdul, Rizki bahkan sang komandan sendiri. Tak lupa ustad angkatan itu memberikan senyum yang teduh dan menawan. Orang alim mah begitu, auranya beda~

.

.

.

“Mohon maaf Pak. Anda terkena operasi razia dompet kempes. Silahkan ikut saya,” Abdul menarik salah satu tukang becak yang cengegesan dan memang sengaja minta ditangkap untuk diperiksa di razia ini.

Si bapak tukang becak sudah siap sedia memberikan dompetnya untuk diperiksa, sementara Abdul mulai memeriksa isi dompet si bapak itu. Ternyata benar, isinya hanya sekumpulan uang dua ribuan yang totalnya hanya mencapai dua puluh ribuan. Abdul mengarahkan si bapak ke antrian yang dipimpin oleh Ridwan dan Rizki yang langsung diikuti dengan semangat oleh si bapak.

Sementara Rizki dan Ridwan sibuk sana-sini, memberikan amplop berisi uang Rp 50.000 sebagai bentuk sedekah dan bantuan kepada pihak-pihak yang memang telah dikonfirmasi memiliki dompet kempes. Untungnya antrian berjalan lancar dan tertib karena para teman angkatan yang lain membantu mengarahkan dan mengkonfirmasi, jadinya Rizki dan Ridwan gak perlu capek apalagi pasang wajah sangar sekedar untuk menertibkan antrian.

Operasi razia berlangsung khidmat dan lancar. Masyarakat kagum, yang menerima bantuan juga senang. Sementara para skuadron semut? Entah kenapa rasanya hati jadi lapang dan tenang. Melihat semua orang tersenyum senang mereka juga ikutan sumringah.

“Semoga operasi kali ini diridhoi oleh Allah swt. Amin.” Para skuadron semut ikut mengamini.

“Sayang, gaji kita juga belum turun,” cengenges salah satu rekan tapi ia langsung menutup mulut karena dipelototi secara ganas oleh yang lainnya. Yang lain ada yang mesem-mesem atau tertawa geli.

“Yuk deh semuanya, kita ke kantin. Kemarin sempet ngumpulin sedikit uang buat beli mi goreng sekardus. Sekarang Ibu kantin lagi masak buat kita semua.” Ridwan mengajak teman seangkatannya sambil berjalan ke kantin. Yang lain juga langsung mengikuti. Makan gratis siapa yang enggak mau? Yah, enggak apa-apa deh walau makan gratisnya mi goreng.

.

.

.

Mereka semua sedang asyik makan mi goreng saat Andi, salah satu anggota skuadron semut berlari tergopoh ke kantin.

“Gaes! Gaji kita udah turun!”

Sontak semua langsung berujar, “Alhamdulillah!”

“Bulan depan kita adain operasi dompet kempes lagi yuk?” ujar Ridwan dengan kalem yang langsung disetujui oleh semua angkatan.

Target: Cemceman Hati

Senapan?

Kondisi baik.

Bidikan?

Kondisi baik.

Hari ini Abdul sedang pemeriksaan dua pekanan senapan laras panjang miliknya. Biasalah, Cuma sekedar memastikan agar senjatanya siap siaga digunakan kalau tiba-tiba harus menjalani misi dadakan, ke Zimbabwe, misalnya. Jangan sampai pas mau digunakan tetiba senapannya mendadak macet gegara karatan atau apa. Ok, senapannya gak mungkin karatan! Karena selain dirinya pastinya kesatuan militernya selalu mengadakan cek rutinan senapan tiap hari. Jadi gak mungkin ada cerita senapan mendadak macet gegara karatan. Tapi karena senapan ini punya Abdul, eh ralat, tanggung jawab milik Abdul, jadi otomatis senapan ini harus dirawat dan disayang. Tidak lupa harus dicintai, sebesar rasa cintaku padamu~

Dan karena hari ini hari Jumat, Abdul punya banyak waktu senggang untuk cek senapan miliknya dengan rasa sayang.

Sebenernya bohong banget sih dibilang Abdul gak punya kegiatan apapun. Paling tepat adalah Abdul sengaja meluangkan waktu Jumat pagi, tepatnya pukul 7 sampai 9 pagi supaya dia gak punya kegiatan apapun.

Abdul sedang berada di gudang angkatan militer berlantai lima. Tepatnya sekarang ia ada di lantai tiga. Wajahnya serius dan tampak waspada. Senapan laras panjang miliknya itu siaga di tangannya. Sebenernya dalam senapan itu enggak ada peluru apapun, jadinya enggak terlalu bahaya. Cuma karena Abdul pasang wajah sangar sambil nenteng senapan otomatis jin -yang kabarnya suka diem di ruangan itu- jadi keliatan kurang serem dan minggat dari ruangan itu sambil kisruh misruh. Maklum, kalah sangar dibanding Abdul.

Abdul meletakkan teropong bidikan senapan di depan matanya. Matanya menelusuri satu sosok target yang nun ada di sebelah sana. Yah, Abdul menaksir seenggaknya jarak antara target dan dirinya sekitar 100 meter di seberang jalan.

Saat Abdul memperhatikan tingkah laku sang target dari balik bidikan teropongnya, si target justru gak sadar apa-apa dan menjalankan kegiatannya seperti biasa. Bahkan sang target masih bisa tersenyum dengan indahnya, membuat hati Abdul jadi ter-enyuh.

Status target?

Hari ini target masih kelihatan cantik seperti biasanya.

CANTIK???

Ya, itu dia! Kalau anda semua melihat melalui bidikan yang sedang diarahkan, yang dibidik adalah seorang gadis cantik guru TK tetangga seberang jalan! Cantik sih, manis pula. Apalagi pakai jilbab panjang yang berkibar plus digandeng kesana kemari sama anak-anak krucil kayak bola. Cowok mana sih yang gak bakal ter-enyuh sama pemandangan kayak gitu. Tipe cewek idaman pas untuk istri ideal!

Abdul mengatur fokus bidikannya agar bisa mengawasi lingkungan targetnya lebih luas lagi. Tapi ternyata tidak ada pemandangan apapun selalin lebih banyak anak-anak krucil kelebihan semangat yang menarik-narik guru yang lain agar bergabung bermain bersama mereka. Entah itu main lompat tali karet, main bola atau entah main lainnya. Yang jelas sang target juga ikut bermain bersama anak-anak. Sungguh pemandangan yang indah untuk jombloers seperti dirinya.

“Lumayan cakep juga target elo.”

“Iyalah, standar gue cewek itu harus-“ Abdul berhenti ngoceh dan tersadar, harusnya ia sendirian saja di ruangan ini.

Kepalanya menoleh dan melihat sosok Rizki yang sudah berdiri di sampingnya, tepat di depan jendela. Matanya menatap melalui teropong ke arah yang sama yang baru saja diintip oleh Abdul. Ia langsung mendorong teropong itu dari dekat mata Rizki.

“Jangan ngintip! Itu target gue!”

“Aelah mas bro! Di TK seberang seenggaknya ada lima orang guru TK berjenis kelamin perempuan. Iya kali lima-limanya target elo semua!” Rizki masih berusaha mengintip melalui teropongnya tapi tangan Abdul masih menahan.

“Iya, tapi siapa tau aja yang lagi elo intip itu target gue!” Tangan Abdul masih mencoba menahan teropong Rizki yang masih membandel.

“Makanya elo bilang ciri-ciri target elo.”

Abdul dan Rizki masih berkutat satu sama lain sampai akhirnya usaha Abdul jelas gagal dan Rizki kembali mengintip lewat teropongnya. Abdul jelas-jelas ngedumel karena Rizki sudah menganggu waktu senggangnya yang berharga.

“Eh mas bro, jangan bilang target elo yang pakai jilbab biru.”

“Emang kenapa?”

“Karena kalau itu target elo, sekarang lagi ada cowok yang kayaknya pedekate sama si target.”

Abdul buru-buru mengintip lewat bidikannya dan ternyata benar, saat ini target pujaan hatinya sedang ngobrol dengan seorang cowok yang kayaknya kalau dilihat dari baju yang dipakainya, sesama pekerja di TK seberang jalan. Mereka mengobrol dengan akrab, bahkan sesekali sang target idaman hati memberikan senyum manisnya. Dan Abdul benar-benar tidak suka itu!

“Musuh terdeteksi. Dari sini gue dapet jelas sasaran musuh.”

“Eh, yang bener aja! Elo sehat?!” Rizki kaget dan menjitak kepala Abdul. Yang dijitak kepalanya cuma kisruh misruh sambil ngusep-ngusep kepala.

“Ah, ganggu aja!”

“Ada juga elo yang salah. Elo masih sehat kan mas bro?”

“Jelas masih sehat makanya gue mau bidik tuh lawan gue.”

“Bagus deh, supaya tambah sehat kalian lari keliling lapangan tembak 50 putaran ya.”

Suara yang dingin yang terdengar dari belakang leher Abdul dan Rizki, mampu menegakkan bulu kuduk mereka. Dan saat mereka melirik sosok tersebut ternyata komandan mereka, Andre sudah berdiri di belakang mereka. Wajahnya tidak kalah sangar.

“Eh komandan,” Rizki senyum-senyum gugup.

“Hehe, sehat ‘ndan?” Abdul gak kalah cengar-cengir.

“Satu… dua…,” Andre mulai perlahan menghitung sementara Abdul dan Rizki buru-buru langsung kabur dari ruangan itu. Sambil berlari Abdul menatap jengkel pada Rizki yang sekarang masih cengengesan sambil melempar tanda peace dari jarinya. Berantakan sudah rencananya untuk mengintip kegiatan sang target hari ini. Dan semua itu salah Rizki!

Bersin

HACHIMM!

Semua orang atau tepatnya semua serdadu yang sedang berlatih menembak langsung berhenti dan melihat ke satu arah. Ke arah si pelaku yang baru saja bersin dengan kerasnya.

Rizki, nama serdadu itu mengelap hidungnya sambil bergumam minta maaf.

Rizki kembali berusaha berkonsentrasi, matanya menatap melalui teropong senapannya dan berusaha membidik papan sasaran yang terpasang nun jauh disana. Tapi entah kenapa matanya rasanya berat sekali, telinga berdengin dan tiba-tiba saja-

HACHIMM!

DOR!

-jarinya tidak sengaja menekan pelatuk senapan. Untung saja latihan menembak kali ini menggunakan peluru karet, walau kalau kena ke badan tetap saja bisa mengakibatkan luka yang fatal. Tapi yang jadi fokus saat ini bukan peluru karet ataupun Rizki yang tidak sengaja menembak atau apapun. Melainkan peluru yang tidak sengaja ditembak itu berhasil menembus pusat papan sasaran.

“Wow, hebat Ki! Udah jago elo sekarang!”

Rizki, pelaku penembakan tidak sengaja itu cuma pasrah. “Suer deh gue gak sengaja. Itu tadi ketekan pelatuknya.” Rizki kembali memasang posisi siap untuk menembak. Tapi masih sama seperti tadi matanya terasa berat, hidungnya terasa gatal hingga-

HACHIMM!

DOR!

-lagi-lagi peluru karet menembus papan sasaran.

“Ah gila lo! Udah jago sekarang.” Abdul teman satu angkatan Rizki meninju pelan pundak Rizki.

“Kagak! Beneran suer deh! Elo kagak liat gue-gue- HACHIMM!”

Abdul mundur dua langkah. “Dua kali bersin dan elo selalu pas kena pusat papan sasaran. Ajarin gue lah,”

Rizki baru saja mau memprotes sebelum akhirnya ia kembali bersin, berkali-kali dan berturut-turut. Setalah bersin wajah Rizki malah semakin gak keruan, mata merah dengan hidung bengkak. Benar-benar bukan wajah yang sedap dipandang.

“Gak kuat gue. Gue ngizin dulu deh sama pelatih,” Rizki males menanggapin Abdul yang masih penasaran dengan keberuntungannya. Kakinya melangkah mendekati si pelatih untuk izin latihan.

“Yaudah deh. Nanti kalau udah sembuh ajarin gue ya!” Abdul berujar dengan ngotot. Sayang Rizki tidak mendengarkan dan semakin melangkah menjauh dari sana.

.

.

.

Sepekan kemudian

Rizki sedang memasang pose untuk berlatih menembak, jarinya telunjuknya sudah siap di pelatuk senapan sementara matanya awas menatap sasaran.

“Udah sembuh Ki? Ajarin gue nembak ya?” Abdul datang entah dari mana. Tapi Rizki Cuma memasang pose serius dan menekan pelatuk senapan-

DOR!

-yang menunjukkan Rizki gagal mencapai sasaran.

“Yah, kok gagal sih? Coba lagi gih,”

Tanpa perlu disuruh Rizki sudah menembak lagi, tapi sayang pusat sasaran masih kinclong sementara peluru kedua Rizki menembus tepi sasaran. Abdul melempar tatapan tidak percaya.

“Kok bisa sih? Pekan lalu elo jago banget.”

Rizki bangkit dari posisinya, “Kan gue udah bilang itu semua kebetulan doang.” Wajah Rizki benar-benar jengkel sekarang.

“Kayaknya elo lebih bagus bersin aja terus biar semua tembakan elo kena sasaran,”

Rizki melotot, “Gak sopan!”