Hamba Terakhir: Chapter 1

Dengar putriku, ini ialah kisah lama yang tak akan lekang dimakan waktu. Diceritakan oleh ibuku kepada anak perempuannya, yaitu aku. Ibuku mendengar cerita ini dari ibunya, yaitu nenek buyutmu. Dan suatu saat nanti, putriku, aku berharap kau akan menceritakan kisah ini kepada putrimu.

Pada saat itu dunia masih bertasbih memuji Tuhan-Nya.

Apa itu bertasbih?

Sayang sekali, kisah ini tidak menjelaskan apa itu bertasbih. Tak ada seorangpun di dunia ini yang akan mengetahui arti dari bertasbih.

Tidak… jangan tanya kepada ayahmu. Ia akan sangat marah dan menghukummu dengan hukuman yang keras.

Aku akan lanjutkan.

Dikatakan saat itu dunia masih mengenal Tuhan Yang Sebenarnya.

Tidak… bukan Tuhan yang kita kenal sekarang. Bukan Tuhan yang saat ini bisa kita lihat dan sentuh.

Tuhan Yang Sebenarnya ialah Tuhan yang tak kasat mata.

DIA-lah Tuhan yang mengangkat matahari di kanan-NYA dan rembulan di kiri-NYA.

DIA-lah Tuhan Yang Maha Agung dan Perkasa.

Pada saat itu banyak yang menyebut namaNYA dan bersujud pada-NYA. Akan tetapi pada suatu saat manusia tiba-tiba lupa bagaimana cara bersujud kepada-NYA.

Bahkan manusia pun lupa nama Tuhan kita yang sebenarnya.

Tidak perlu takut putriku. Aku akan ajarkan cara bersujud kepada-NYA.

Dan suatu saat nanti, ajarkanlah kepada putrimu sendiri cara bersujud kepada Tuhan kita yang sebenarnya.

Tuhan Yang Maha Agung dan Maha Perkasa.

.

.

.

BRAAKKK!

Pintu terbanting dengan keras, menunjukkan sosok pria yang berwajah garang dengan muka merah padam, menahan amarah. Di belakangnya berdiri seorang anak lelaki kecil, umurnya tidak lebih dari sepuluh tahun, wajahnya menyeringai licik.

“Sudah kukatakan jangan mengajari putriku hal-hal yang gila!” Pria itu menjambak rambut panjang ibunya dan menyeretnya keluar kamar.

“Ibu! Ibu! Ibu!”

Ia terus berteriak tetapi kakaknya menahannya untuk diam di tempat. Belum pernah ia melihat ayahnya semarah itu dan menarik paksa ibunya keluar kamar. Sementara sang Ibu yang ditarik paksa memandangnya dengan lembut dan tersenyum.

“IBUUUU!!”

Dan pintu yang terbuka kembali terbanting tertutup, meninggalkan dirinya sendirian dalam suatu ruangan gelap  dan gema tawa kakak dan ayahnya yang terdengar keji.

.

Eva membuka matanya, napasnya memburu dan peluh membanjiri tubuhnya. Gadis itu bangkit dan memandang setelan AC yang terpasang di kamarnya, setelan menunjukkan angka 20 derajat Celcius. Cukup dingin sebenarnya tapi entah kenapa tubuhnya berkeringat deras.

“Mimpi buruk rupanya,” gumam Eva.

Eva bangkit dari tempat tidurnya dan mendekati jendela kamarnya yang terletak di lantai tiga rumahnya. Langit masih gelap dan pemandangan lampu perkotaan masih jelas terlihat. Rumahnya- tidak tepatnya istana ini terletak di puncak bukit, memberikan akses bagi istana untuk mendapat pemandangan kota yang indah yang terletak di kaki bukit.

Eva memandang jam yang terpasang di dinding kamarnya, sekarang pukul lima pagi kurang sepuluh menit. Tanpa membuang waktu Eva melangkah ke kamar mandinya untuk mandi dan bersiap-siap. Terlalu pagi untuk bersiap sebenarnya karena semua jadwal kegiatannya dimulai pukul delapan pagi, tapi Eva selalu terbangun pukul lima pagi.

Air di pagi hari tidak terasa dingin karena setelan air tanah istana telah menggunakan sistem pemanas air, membuatmu bisa menggunakan air dalam keadaan hangat tak peduli di musim dingin sekalipun. Setelah beres mandi dan memilih pakaain untuk pagi ini – blus lengan panjang berwarna pink dan rok panjang semata kaki berwarna hitam – Eva menata rambutnya. Semua beres.

Eva melirik jamnya yang menunjukkan pukul lima lewat lima belas. Buru-buru Eva memastikan pintu kamarnya terkunci, menyambar taplak meja yang terlipat rapi dan membentangkan taplak meja yang lain ke suatu arah. Kali ini Eva mengarahkan taplak meja itu ke arah jendela. Buru-buru gadis itu menutupi rambutnya dengan taplak meja yang lumayan lebar, memastikan semua rambutnya tertutup dan mulai berdiri menghadap jendela dalam diam.

Dengan kikuk – Eva tidak yakin walau sudah bertahun-tahun ia melakukan ini – Eva meletakkan kedua tangannya di atas dada. Mulutnya menggumamkan sesuatu yang terpatah-patah. Tak lama kemudian ia merentangkan tangannya dan merendahkan tubuhnya dengan bertumpu di kedua lutut. Ia kembali tegak dan bersujud menghadap jendela. Gadis itu kembali duduk dan kembali bersujud sebelum akhirnya berdiri tegap kembali. Semua rangkaian kegiatan itu dilakukan oleh Eva sebanyak dua putaran dan diakhiri dengan menoleh ke kiri dan kanan bahu gadis itu.

Eva buru-buru bangkit dan kembali melipat dua taplak meja besar yang ia gunakan sebelumnya. Jujur saja bagi Eva semua gerakan yang ia lakukan itu tidak beda dengan kegiatan senam yang pernah dilakukan di sekolahnya dulu. Akan tetapi Eva ingat jelas Ibunya mengatakan rangkaian gerakan itu adalah cara bersujud kepada Tuhan Yang Sebenarnya. Sampai saat ini Eva tidak paham apa yang dimaksud Tuhan Yang Sebenarnya, akan tetapi melakukan semua rangkaian gerak yang ibunya bilang sebagai sujud selalu menentramkan hatinya. Karena itulah Eva selalu melakukannya walau harus sembunyi-sembunyi.

Eva tidak yakin kenapa ia harus menyembunyikan serangkaian gerakan sujud ini, padahal gerakan ini sangat mirip dengan gerakan senam dari sekolahnya. Akan tetapi hati kecil Eva mengatakan untuk merahasiakan semua gerakan sujud ini. Lagipula masih terbayang di benaknya bagaimana ibunya diseret paksa oleh ayahnya saat ia kecil dulu, karena itulah Eva merasa lebih baik tidak perlu ada yang tahu apa yang dilakukannya.

Cahaya mentari menembus jendela kamar. Eva mematikan AC kamarnya dan membuka pintu jendela kaca miliknya, membiarkan udara pagi hari memenuhi kamarnya. Rasanya begitu segar dan menentramkan. Mungkin membaca buku hingga waktu sarapan bukan ide yang buruk.

.

.

.

“Kau terlambat!”

Eva bergidik kaku dan menatap dua sosok yang saat ini duduk di kursi kayu yang digosok mengilap. Seorang pria tua berumur lima puluhan. Meskipun rambutnya memutih disana-sini akan tetapi tubuh pria itu masih tegap dan tanpak prima. Ia adalah Raja kerajaan Alta, pemilik istana gemerlap yang ditinggali oleh Eva saat ini. Tuhan yang disembah oleh rakyat kerajaan Alta sekaligus ayah dari Eva, Raja Airis.

Eva berusaha membuang rasa takutnya dan melupakan mimpinya semalam, ia tersenyum selembut mungkin. Dengan langkah yang ringan ia menghampiri dan mengecup kanan kiri pipi ayahnya. Sesaat ada kerutan diantara dua alis Raja Airis, akan tetapi semua hilang dan digantikan senyum lembut dan puas.

“Kalian tahu aku tidak suka kalau ada yang terlambat untuk sarapan,” ujar Raja Airis.

Eva tersenyum memohon maaf, “Aku terlalu asyik baca buku.”

“Kebangun lagi di jam lima pagi?” Kali ini Alex, kakak dari Eva menyahut sambil mengoleskan mentega di roti bakarnya. Eva mengangkat bahu dan duduk di kursi yang telah ditarik oleh pelayan.

“Insomniamu belum sembuh? Apa perlu kita memanggil dokter yang lain?” Raja Airis menatap putrinya dengan khawatir. Boleh saja ia menjadi Raja yang tegas dan kejam. Tuhan yang disembah oleh semua rakyat kerajaannya. Akan tetapi dihadapan putri kesayangnnya, Eva, ia tetaplah seorang ayah yang penyayang.

“Tidak perlu, sekarang sudah terbiasa.”

Raja Airis hendak memprotes tapi Eva buru-buru melanjutkan, “Lagipula membaca buku di pagi hari lumayan menyegarkan untuk otak.”

Raja Airis hanya terdiam sementara Alex mengangkat bahu tidak peduli. Eva adalah gadis yang keras kepala. Kalau ia sudah menetapkan satu pilihan maka ia akan terus melakukannya. Lagi pula berdebat di pagi hari dengan Eva yang keras kepala bukanlah keputusan yang bijak, makanya Raja Airis dan Alex tidak mempermasalahkan lagi hal itu.

Raja Airis kembali berusaha mencairkan suasana, “Jadi, apa kegiatan kalian hari ini?”

Dan ruang makan sudah dipenuhi ocehan rangkaian kegiatan yang harus dilakukan oleh tiga orang anggota kerajaan itu. Pagi yang berjalan damai seperti biasanya.

.

.

.

Saat itu Allah SWT berfirman

“Jadilah!”

Maka semua terjadi atas kehendak-NYA.

Malaikat itu membuka matanya dan bertasbih

Bersujud mensucikan Sang Pencipta

Atas perintah Sang Rabb Yang Agung

Menurunlah sang malaikat ke Bumi

Atas kehendak Sang Rabb pula

Sang Malaikat diserupakan dengan manusia

Untuk menjadi kawan

Dan penyampai kabar gembira

Bagi Hamba Allah yang berada di Bumi

Hamba Allah yang terakhir

.

.

.

HAMBA TERAKHIR

By: Latifun Kanurilkomari

.

.

.

to be continued…


A/N: Akhirnya selesai chapter pertama…walau keseok-seok dulu dan nyasar haha hihi gegara udah lama gak nulis. Sesekali pingin banget nulis fiksi tapi based on AlQuran dan jejeng… jadilah cerita ini. Kayaknya kaku gegara saya kan gak bisa sembarangan bikin dialog Tuhan…makanya maapkeun kalau kaku banget nulisnya yaaa… tapi semua ini pure cuma fiksi doang

Razia Dompet Kempes

Perhatian!

Sedang dilaksanakan Operasi Dompet Kempes!

Terima kasih atas perhatian Anda.

Ttd, Skuadron Semut

.

.

Hari ini tanggal tua. Atau dengan kata lain akhir bulan. Atau dengan kata lain, hari gajian!

Tapi sayangnya gaji yang ditunggu-tunggu belum datang. Hanya Allah SWT dan para atasan saja yang tahu alasan kenapa gaji kami datang terlambat. Meski begitu kami tetap sabar. Malahan saking sabarnya kami berusaha jajan dengan makan mi goreng sambil mengajukan proposal yang Subhanallahsuper sekali.

“Operasi dompet kempes?” Komandan kami, Andre, membeo.

Ridwan, yang diangkat jadi ustad angkatan dan juru bicara dadakan menganggukkan kepalanya dengan mantap. Di belakangnya ada Rizki, Abdul dan kawan-kawan lain yang mendukung dilaksanakannya operasi tersebut.

“Bisa dijelaskan maksud dari operasi ini?” Andre menatap tajam kepada semua khalayak. Maksudnya sih bukan mau kelihatan sinis, tapi memang sejak lahir si komanda ditakdirkan punya mata yang tajam kayak aktor ganteng di film Ada Apa Dengan Cinta. Jadilah komandan Andre ini selalu kayak kelihatan sinis.

“Gak ada maksud tertentu sih ‘ndan. Cuma mau berbagi aja atau istilah kerennya sedekah. Kan kalau lagi banyak uang kita sebaiknya memberi bantuan kepada yang tidak mampu. Nah, apalagi di masa sekarang ini-“ yang maksud Ridwan masa-masa mereka belum juga turun gajinya “-kalau kita berbagi dengan orang lain In Shaa Allah rejekinya lebih dimudahkan.”

Para pengikut yang ada di belakang Ridwan diam-diam mengamini ceramah Ridwan. Semoga operasi ini akan memudahkan turunnya gaji mereka untuk bulan ini, bulan seterusnya, bulan seterusnya dan bulan seterusnya lagi. Bahkan Komandan Andre juga diam-diam mengamini ceramah Ridwan. Amin.

Sang komandan mengangguk-angguk mendengar penjelasan Ridwan. Tapi apalah daya, sang komandan tidak bisa langsung men-goal-kan proposal mereka. Karena itu dengan kalimat ampuh, “Akan saya usulkan kepada para atasan.” Maka dimulailah masa PHP yang begitu panjang.

Sebenarnya tidak begitu panjang, karena yang sebenarnya mereka hanya menunggu selama satu minggu. Ridwan dkk dipanggil kembali untuk menghadap komandan. Saat mereka menghadap Komandan Andre, mereka tahu proposal mereka kemungkinan akan diterima. Hanya saja melihat wajah sang komandan yang agak cembrut dibanding biasanya Ridwan dkk paham, walau proposal dilanjut tapi ada S&K (baca: syarat dan ketentuan) yang berlaku.

“Kami sudah putuskan…,” Si komandan bisaan aja ambil jeda segala, penonton jadi deg-degan.

“…untuk meluluskan proposal kalian.”

Yes! Alhamdulillah.

“Kabar buruknya adalah kita tidak punya dana untuk mendukung kegiatan kalian jadi kalian harus mencari dana sendiri.”

Olala~

“Gak apa-apa Komandan. Kami sudah siap kok.” Ridwan menghapus segala ragu yang menyelimuti Abdul, Rizki bahkan sang komandan sendiri. Tak lupa ustad angkatan itu memberikan senyum yang teduh dan menawan. Orang alim mah begitu, auranya beda~

.

.

.

“Mohon maaf Pak. Anda terkena operasi razia dompet kempes. Silahkan ikut saya,” Abdul menarik salah satu tukang becak yang cengegesan dan memang sengaja minta ditangkap untuk diperiksa di razia ini.

Si bapak tukang becak sudah siap sedia memberikan dompetnya untuk diperiksa, sementara Abdul mulai memeriksa isi dompet si bapak itu. Ternyata benar, isinya hanya sekumpulan uang dua ribuan yang totalnya hanya mencapai dua puluh ribuan. Abdul mengarahkan si bapak ke antrian yang dipimpin oleh Ridwan dan Rizki yang langsung diikuti dengan semangat oleh si bapak.

Sementara Rizki dan Ridwan sibuk sana-sini, memberikan amplop berisi uang Rp 50.000 sebagai bentuk sedekah dan bantuan kepada pihak-pihak yang memang telah dikonfirmasi memiliki dompet kempes. Untungnya antrian berjalan lancar dan tertib karena para teman angkatan yang lain membantu mengarahkan dan mengkonfirmasi, jadinya Rizki dan Ridwan gak perlu capek apalagi pasang wajah sangar sekedar untuk menertibkan antrian.

Operasi razia berlangsung khidmat dan lancar. Masyarakat kagum, yang menerima bantuan juga senang. Sementara para skuadron semut? Entah kenapa rasanya hati jadi lapang dan tenang. Melihat semua orang tersenyum senang mereka juga ikutan sumringah.

“Semoga operasi kali ini diridhoi oleh Allah swt. Amin.” Para skuadron semut ikut mengamini.

“Sayang, gaji kita juga belum turun,” cengenges salah satu rekan tapi ia langsung menutup mulut karena dipelototi secara ganas oleh yang lainnya. Yang lain ada yang mesem-mesem atau tertawa geli.

“Yuk deh semuanya, kita ke kantin. Kemarin sempet ngumpulin sedikit uang buat beli mi goreng sekardus. Sekarang Ibu kantin lagi masak buat kita semua.” Ridwan mengajak teman seangkatannya sambil berjalan ke kantin. Yang lain juga langsung mengikuti. Makan gratis siapa yang enggak mau? Yah, enggak apa-apa deh walau makan gratisnya mi goreng.

.

.

.

Mereka semua sedang asyik makan mi goreng saat Andi, salah satu anggota skuadron semut berlari tergopoh ke kantin.

“Gaes! Gaji kita udah turun!”

Sontak semua langsung berujar, “Alhamdulillah!”

“Bulan depan kita adain operasi dompet kempes lagi yuk?” ujar Ridwan dengan kalem yang langsung disetujui oleh semua angkatan.

Target: Cemceman Hati

Senapan?

Kondisi baik.

Bidikan?

Kondisi baik.

Hari ini Abdul sedang pemeriksaan dua pekanan senapan laras panjang miliknya. Biasalah, Cuma sekedar memastikan agar senjatanya siap siaga digunakan kalau tiba-tiba harus menjalani misi dadakan, ke Zimbabwe, misalnya. Jangan sampai pas mau digunakan tetiba senapannya mendadak macet gegara karatan atau apa. Ok, senapannya gak mungkin karatan! Karena selain dirinya pastinya kesatuan militernya selalu mengadakan cek rutinan senapan tiap hari. Jadi gak mungkin ada cerita senapan mendadak macet gegara karatan. Tapi karena senapan ini punya Abdul, eh ralat, tanggung jawab milik Abdul, jadi otomatis senapan ini harus dirawat dan disayang. Tidak lupa harus dicintai, sebesar rasa cintaku padamu~

Dan karena hari ini hari Jumat, Abdul punya banyak waktu senggang untuk cek senapan miliknya dengan rasa sayang.

Sebenernya bohong banget sih dibilang Abdul gak punya kegiatan apapun. Paling tepat adalah Abdul sengaja meluangkan waktu Jumat pagi, tepatnya pukul 7 sampai 9 pagi supaya dia gak punya kegiatan apapun.

Abdul sedang berada di gudang angkatan militer berlantai lima. Tepatnya sekarang ia ada di lantai tiga. Wajahnya serius dan tampak waspada. Senapan laras panjang miliknya itu siaga di tangannya. Sebenernya dalam senapan itu enggak ada peluru apapun, jadinya enggak terlalu bahaya. Cuma karena Abdul pasang wajah sangar sambil nenteng senapan otomatis jin -yang kabarnya suka diem di ruangan itu- jadi keliatan kurang serem dan minggat dari ruangan itu sambil kisruh misruh. Maklum, kalah sangar dibanding Abdul.

Abdul meletakkan teropong bidikan senapan di depan matanya. Matanya menelusuri satu sosok target yang nun ada di sebelah sana. Yah, Abdul menaksir seenggaknya jarak antara target dan dirinya sekitar 100 meter di seberang jalan.

Saat Abdul memperhatikan tingkah laku sang target dari balik bidikan teropongnya, si target justru gak sadar apa-apa dan menjalankan kegiatannya seperti biasa. Bahkan sang target masih bisa tersenyum dengan indahnya, membuat hati Abdul jadi ter-enyuh.

Status target?

Hari ini target masih kelihatan cantik seperti biasanya.

CANTIK???

Ya, itu dia! Kalau anda semua melihat melalui bidikan yang sedang diarahkan, yang dibidik adalah seorang gadis cantik guru TK tetangga seberang jalan! Cantik sih, manis pula. Apalagi pakai jilbab panjang yang berkibar plus digandeng kesana kemari sama anak-anak krucil kayak bola. Cowok mana sih yang gak bakal ter-enyuh sama pemandangan kayak gitu. Tipe cewek idaman pas untuk istri ideal!

Abdul mengatur fokus bidikannya agar bisa mengawasi lingkungan targetnya lebih luas lagi. Tapi ternyata tidak ada pemandangan apapun selalin lebih banyak anak-anak krucil kelebihan semangat yang menarik-narik guru yang lain agar bergabung bermain bersama mereka. Entah itu main lompat tali karet, main bola atau entah main lainnya. Yang jelas sang target juga ikut bermain bersama anak-anak. Sungguh pemandangan yang indah untuk jombloers seperti dirinya.

“Lumayan cakep juga target elo.”

“Iyalah, standar gue cewek itu harus-“ Abdul berhenti ngoceh dan tersadar, harusnya ia sendirian saja di ruangan ini.

Kepalanya menoleh dan melihat sosok Rizki yang sudah berdiri di sampingnya, tepat di depan jendela. Matanya menatap melalui teropong ke arah yang sama yang baru saja diintip oleh Abdul. Ia langsung mendorong teropong itu dari dekat mata Rizki.

“Jangan ngintip! Itu target gue!”

“Aelah mas bro! Di TK seberang seenggaknya ada lima orang guru TK berjenis kelamin perempuan. Iya kali lima-limanya target elo semua!” Rizki masih berusaha mengintip melalui teropongnya tapi tangan Abdul masih menahan.

“Iya, tapi siapa tau aja yang lagi elo intip itu target gue!” Tangan Abdul masih mencoba menahan teropong Rizki yang masih membandel.

“Makanya elo bilang ciri-ciri target elo.”

Abdul dan Rizki masih berkutat satu sama lain sampai akhirnya usaha Abdul jelas gagal dan Rizki kembali mengintip lewat teropongnya. Abdul jelas-jelas ngedumel karena Rizki sudah menganggu waktu senggangnya yang berharga.

“Eh mas bro, jangan bilang target elo yang pakai jilbab biru.”

“Emang kenapa?”

“Karena kalau itu target elo, sekarang lagi ada cowok yang kayaknya pedekate sama si target.”

Abdul buru-buru mengintip lewat bidikannya dan ternyata benar, saat ini target pujaan hatinya sedang ngobrol dengan seorang cowok yang kayaknya kalau dilihat dari baju yang dipakainya, sesama pekerja di TK seberang jalan. Mereka mengobrol dengan akrab, bahkan sesekali sang target idaman hati memberikan senyum manisnya. Dan Abdul benar-benar tidak suka itu!

“Musuh terdeteksi. Dari sini gue dapet jelas sasaran musuh.”

“Eh, yang bener aja! Elo sehat?!” Rizki kaget dan menjitak kepala Abdul. Yang dijitak kepalanya cuma kisruh misruh sambil ngusep-ngusep kepala.

“Ah, ganggu aja!”

“Ada juga elo yang salah. Elo masih sehat kan mas bro?”

“Jelas masih sehat makanya gue mau bidik tuh lawan gue.”

“Bagus deh, supaya tambah sehat kalian lari keliling lapangan tembak 50 putaran ya.”

Suara yang dingin yang terdengar dari belakang leher Abdul dan Rizki, mampu menegakkan bulu kuduk mereka. Dan saat mereka melirik sosok tersebut ternyata komandan mereka, Andre sudah berdiri di belakang mereka. Wajahnya tidak kalah sangar.

“Eh komandan,” Rizki senyum-senyum gugup.

“Hehe, sehat ‘ndan?” Abdul gak kalah cengar-cengir.

“Satu… dua…,” Andre mulai perlahan menghitung sementara Abdul dan Rizki buru-buru langsung kabur dari ruangan itu. Sambil berlari Abdul menatap jengkel pada Rizki yang sekarang masih cengengesan sambil melempar tanda peace dari jarinya. Berantakan sudah rencananya untuk mengintip kegiatan sang target hari ini. Dan semua itu salah Rizki!

Bersin

HACHIMM!

Semua orang atau tepatnya semua serdadu yang sedang berlatih menembak langsung berhenti dan melihat ke satu arah. Ke arah si pelaku yang baru saja bersin dengan kerasnya.

Rizki, nama serdadu itu mengelap hidungnya sambil bergumam minta maaf.

Rizki kembali berusaha berkonsentrasi, matanya menatap melalui teropong senapannya dan berusaha membidik papan sasaran yang terpasang nun jauh disana. Tapi entah kenapa matanya rasanya berat sekali, telinga berdengin dan tiba-tiba saja-

HACHIMM!

DOR!

-jarinya tidak sengaja menekan pelatuk senapan. Untung saja latihan menembak kali ini menggunakan peluru karet, walau kalau kena ke badan tetap saja bisa mengakibatkan luka yang fatal. Tapi yang jadi fokus saat ini bukan peluru karet ataupun Rizki yang tidak sengaja menembak atau apapun. Melainkan peluru yang tidak sengaja ditembak itu berhasil menembus pusat papan sasaran.

“Wow, hebat Ki! Udah jago elo sekarang!”

Rizki, pelaku penembakan tidak sengaja itu cuma pasrah. “Suer deh gue gak sengaja. Itu tadi ketekan pelatuknya.” Rizki kembali memasang posisi siap untuk menembak. Tapi masih sama seperti tadi matanya terasa berat, hidungnya terasa gatal hingga-

HACHIMM!

DOR!

-lagi-lagi peluru karet menembus papan sasaran.

“Ah gila lo! Udah jago sekarang.” Abdul teman satu angkatan Rizki meninju pelan pundak Rizki.

“Kagak! Beneran suer deh! Elo kagak liat gue-gue- HACHIMM!”

Abdul mundur dua langkah. “Dua kali bersin dan elo selalu pas kena pusat papan sasaran. Ajarin gue lah,”

Rizki baru saja mau memprotes sebelum akhirnya ia kembali bersin, berkali-kali dan berturut-turut. Setalah bersin wajah Rizki malah semakin gak keruan, mata merah dengan hidung bengkak. Benar-benar bukan wajah yang sedap dipandang.

“Gak kuat gue. Gue ngizin dulu deh sama pelatih,” Rizki males menanggapin Abdul yang masih penasaran dengan keberuntungannya. Kakinya melangkah mendekati si pelatih untuk izin latihan.

“Yaudah deh. Nanti kalau udah sembuh ajarin gue ya!” Abdul berujar dengan ngotot. Sayang Rizki tidak mendengarkan dan semakin melangkah menjauh dari sana.

.

.

.

Sepekan kemudian

Rizki sedang memasang pose untuk berlatih menembak, jarinya telunjuknya sudah siap di pelatuk senapan sementara matanya awas menatap sasaran.

“Udah sembuh Ki? Ajarin gue nembak ya?” Abdul datang entah dari mana. Tapi Rizki Cuma memasang pose serius dan menekan pelatuk senapan-

DOR!

-yang menunjukkan Rizki gagal mencapai sasaran.

“Yah, kok gagal sih? Coba lagi gih,”

Tanpa perlu disuruh Rizki sudah menembak lagi, tapi sayang pusat sasaran masih kinclong sementara peluru kedua Rizki menembus tepi sasaran. Abdul melempar tatapan tidak percaya.

“Kok bisa sih? Pekan lalu elo jago banget.”

Rizki bangkit dari posisinya, “Kan gue udah bilang itu semua kebetulan doang.” Wajah Rizki benar-benar jengkel sekarang.

“Kayaknya elo lebih bagus bersin aja terus biar semua tembakan elo kena sasaran,”

Rizki melotot, “Gak sopan!”

Skuadron Semut dan Mi Goreng

Kami adalah Skuadron  Semut.

Nama yang imut, kami tahu. Tapi itulah dia, para atasan bilang walau nama kami imut tapi mereka harap kami bisa sama galaknya seperti semut merah yang menyengat.

.

.

 “Hei, jadi kan?”

“Jadi dong. Ini lagi siap-siap. Kan mulai jam 9 malam.”

“Duh, gue belom siap!”

“Gimana sih?! Ngantri tuh!”

“Plis mak! Jangan tatap kami dengan prihatin gitu!”

“Makanya cepetan nikah! Kalau mau curhat ada yang dengerin!”

.

.

Kami adalah angkatan militer yang baru saja diangkat dan dilatih untuk jadi Kopassus. Kau tahu jadi Kopassus itu lumayan membuat kepala kami migren, stress dan baper.

.

.

“Yak! Semua kumpul di tempat yang telah disediakan!”

Semua orang duduk di kursi masing-masing, mengelilingi meja panjang yang disatukan di ruang kantin asrama militer.

.

.

Saat orang lain mencoba bebas dari stress dengan cara jalan-jalan atau main game, kami malah-

.

.

Pemimpin acara memandang sekeliling. Beberapa peserta ada yang gugup dan tegang. Beberapa tidak bisa menyembunyikan kebaperannya. Yang lain menatap penuh minat pada piring yang terletak di depan mereka masing-masing.

“Kita akan buka acara pekan ini dengan evaluasi porsi mi goreng di piring masing-masing peserta,”

-makan mi goreng.

.

.

Setiap dua pekan sekali, kami angkatan skuadron semut akan mengadakan acara alir rasa, atau bahasa kerennya curhat sambil makan mi goreng. Kau tahu beban berat, stress berat dengan latihan yang luar binasa, makanya acara curhat ini adalah acara yang paling kami tunggu-tunggu tiap dua pekan. Hei, kami Kopassus juga manusia biasa tau!

Kenapa dua pekan sekali?

Yah, tadinya sih pernah diadain seminggu sekali. Tapi rasanya gimana gitu loh, kok kayaknya lembek amat. Padahal jadi Kopassus itu harus bermental permata! Iya bener permata! Permata kan benda yang paling keras di dunia.

Cukup ngaconya, kita lanjut.  Karena seminggu sekali cukup menguras kantong akhirnya kami pindah acaranya jadi sebulan sekali. Tapi setelah dilakuin sebulan sekali ternyata yang curhat terlalu lama karena ada terlalu banyak kejadian yang harus dicurhatin dalam kegiatan satu bulan itu. Akhirnya kami ubah lagi jadi tiap dua pekan sekali.

Nah, pas tiap dua pekan sekali diadain barulah terasa enaknya buat kami semua. Hati plong karena udah curhat dan dompet juga gak pekak gegara tiap minggu harus jajan mi goreng.

.

.

“Hati gue lagi nyes banget. Bener-bener nyes. Pacar gue mutusin gue secara sepihak. Jadinya gue masak 3 porsi mi goreng yang kayaknya sesuai buat tingkat stress gue!” curhat salah satu peserta.

Ada yang menatap prihatin tapi banyak yang menatap dingin seakan mengatakan yaelah-bro-cewe-bukan-cuma-satu-di-dunia.  Saking malesnya denger curhat gak bermutu itu para peserta ngambil jatah mi goreng pihak yang lagi curhat dari tiga porsi jadi dua porsi mi goreng. Harusnya sih ngambil lagi jadi kesisa satu porsi, cuma you knowlah mana puas makan mi goreng cuma satu porsi?

Pemimpin acara rasanya keki banget denger curhat baper itu, tapi disabar-sabarin. Untung aja curhatnya gak terlalu banyak jadinya dia bisa nunjuk orang lain untuk ngelanjutin acara curhat mereka.

“Hari ini gue latihan ngerangkak di lumpur,”

“Yaelah mas bro! Latihan gitu mah kurang greget!” peserta lain mencemooh curhatan peserta kedua.

Yang lagi curhat mengangkat tangannya, berusaha meredam cemoohan para peserta lain, “Yang bikin greget adalah gue ngerangkak di lumpur sambil dihujanin peluru bedil sebanyak tiga ratus peluru senapan, cuy!”

Hoo! Ini baru greget! Peserta yang lain langsung tepuk tangan.

Si curhat nomor 2 mengaku ia memasak empat porsi mie goreng yang kayaknya sesuai dengan tingkat stress dia. Awalnya pembawa acara mau nawarin siapa tau dia mau nambah porsi mi gorengnya jadi enam porsi. Tapi dasar rakus, yang ada para peserta lain bilang tingkat stress si greget ini cuma setara tiga setengah porsi.

Tiga setengah porsi! Bayangin!

Emang dasar rakus! Si pembawa acara cuma geleng-geleng kepala ngeliat temen seangkatannya yang rupanya dalam bidang mi goreng lumayan bersemangat. Bersemangat mengurangi jatah kawan buat ditambah ke jatah piring masing-masing.

“Komandan gue nyuruh gue push-up 500 kali dilanjut keliling lapangan rumput 25 kali.”

Bah! Curhat ini cuma setara dua porsi mi goreng, sama kayak curhat nomor satu.

“Gue gak sengaja matahin bedil gue!” Huwoo greget sekali. Setara dengan empat porsi mi goreng.

“Gue disuruh motongin rumput halaman latihan.” Ngeekk. Satu porsi mi goreng.

“Gue disuruh ngebedil tiga ratus peluru buat dia!” sambil nunjuk si curhat nomor 2. Lumayanlah, tiga porsi mi goreng cukup.

Dan seterusnya.

Dan seterusnya.

Dan sekian terima kasih.

.

.

.

Acara curhat dimulai jam sembilan malam dan berakhir jam dua belas malam. Pas banget kayak Cinderella. Bedanya semua peserta sudah punya hati yang plong dan perut yang kenyang. Terima kasih atas jasamu mi goreng. Kau memang teman setia dimana saja.

“Baiklah mari kita tutup acara curhat pekan ini dengan mencuci piring masing-masing,”

Sekejap semua peserta langsung ngacir ke tempat cuci piring. Ada yang khusus buat nyabunin piring sama sendok, ada yang khusus ngebilas doang, dan ada yang ngelapin piring dan sendok dengan baik dan benar lalu disimpan di tempat peralatan makan. Disini semua harus serba teratur dan rapi cuy. Kalau enggak kau akan merasakan neraka dunia yang kejam yang disebut kemarahan ibu kantin. Percayalah, itu bukan jenis neraka yang kau ingin alami. Setelah selesai ngeberesin peralatan makan semua peserta balik lagi ke kursi masing-masing.

“Kita berdoa semoga acara kali ini bermanfaat,” Langsung terdengar bisik-bisik dan gumaman doa dilanjut menyapu muka sehabis doa. Duh, soleh sekali. Good job.

“Dan berpelukan.”

Semua peserta langsung kumpul jadi satu, saling peluk satu sama lain. Mereka berpelukan sambil berseru dengan riang, “Berpelukaaan~,” duh jadi inget acara jaman masih bocah banget. So sweet~

“Baiklah selamat malam semua. Kami akan tunggu lagi kehadiran kalian dua minggu lagi,” pembawa acara resmi menutup acara.

Semua peserta membereskan kursi mereka masing-masing lalu berpelukan dan ber-dadah kepada semua kawan satu angkatan. Iyuuh~ co cuwit sekalee. Mereka keluar, bubar dengan hati yang tenang dan perut yang kenyang.

Yeah, Kopassus juga manusia biasa toh.


A/N: Ngawur sengawurnya… duh…kalo ada anggota Kopassus atau TNI yang baca cerita saya tolong jangan bedil saya :p

Image

IMG-20170327-WA0005 (1)

Meoww~

Kucing hitam itu lagi.

Tadinya aku mau pura-pura tidak mendengar, bahkan tidak mau melihat. Tapi-

meoww~

-kucing itu memanggilku. Matanya menatapku dengan penuh harap. Kasihan juga sih. Aku memandang sekeliling, tidak ada seorangpun. Kakiku pun kulangkahkan ke taman bermain, tepatnya ke kotak pasir.

Meoww~

Aku berjongkok disebelah kucing itu. “Percuma saja kamu menunggu disini. Majikanmu tidak akan pernah kesini lagi,” aku berbisik pelan ke kucing itu. Konyol memang bicara dengan kucing yang tidak akan mengerti apa yang kubicarakan. Tapi yang bisa kulihat sekarang kucing itu menunduk sedih.

“Lebih baik kamu pergi sekarang juga,” gumamku lagi. Kucing hitam itu mengangkat wajahnya dan memandangku, “Tak ada gunanya kamu menunggu disini setiap hari.” dan menggangguku.

Kucing hitam itu kembali menatapku dengan bola matanya yang berwarna hitam gelap. Ia mengeong pelan dan meloncat ke pangkuanku, aku mendesah. Yah biarlah, mungkin sekali ini tidak apa-apa. Tanganku mengelus lembut tubuhnya.

“Pulanglah ke asalmu,” aku berbisik pelan. Kucing itu mengangkat wajahnya dan mengeong kembali. Ia menjilat jariku dengan lembut sebelum akhirnya perlahan tubuhnya menghilang.

Aku mendesah dan bangkit sambil menepuk rokku dari pasir yang menempel. Sudut mataku menangkap seorang anak yang menunjuk kearahku tapi ibunya berusaha menariknya dari tempat itu secepat mungkin.

Aku mendesah jengkel. Sepertinya gosip lain tentangku akan bertambah lagi.

.

.

.

“Mama! Masa kakak itu ngomong sendirian!”

“Hush! Jangan lihat!” sang ibu menarik anaknya dari tempat itu, berusaha menjauh dari sang gadis.

 

Mom&Kid: Kembaran

<POV Bunda>

“Assalamualaikum! Ayah pulang!”

Suara bantingan pintu depan rumah. Aku dan Latifah terkikik sebentar sebelum akhirnya pergi ke depan untuk menyambut Ayah – sebenarnya Latifah berlari. Duh, ada rasa takut-takut karena Latifah baru saja lancar berjalan dan sekarang anak itu sedang berlari. Bisa dibayangkan, kan?

“Ayah!”

Latifah langsung meloncat ke pelukan ayahnya yang disambut sang Ayah dengan riang. Ayah mengangkat Latifah ke atas, Latifah tertawa riang. Sementara aku merasa ngeri.

“Eh! Kok anak ayah kembaran sama bunda?!” Ayah tertawa riang melihat celemek memasak yang Latifah gunakan memiliki motif yang sama dengan celemek yang biasa kugunakan di dapur.

Latifah mengangguk semangat. “Hmm! Ayah ulang tahun!”

“Selamat ulang tahun ayah!” Aku juga langsung mengucapkan selamat ulang tahun pada suamiku. Suamiku memasang wajah gembira.

“Terima kasih!” balas suamiku riang.

Aku mencium pipi kiri suamiku sementara Latifah mencium pipi kanan. Setelah selesai mencium Latifah langsung terkiki geli karena pipinya yang gembil dicubit sayang oleh Ayahnya.

“Ayah! Kembar!” Latifah menunjuk celemek yang digunakannya dengan celemek yang masih kugunakan.

“Iya! Anak ayah manis!”

“Ayah makan! Makan!” Latifah menunjuk ke dapur, sementara suamiku menatap kebingungan. Aku langsung meraih tas kerja suamiku dan menariknya ke dapur.

Di meja makan terhidang enam potong kue pie yang masih mengepul hangat. Tiga diantaranya terlihat cantik sementara sisanya terlihat berantakan.

“Kue!  Ayah!” Latifah menunjuk tiga potong kue yang berantakan dilanjutkan menunjuk suamiku.

“Wah! Anak ayah hebat! Bisa masak kue kayak bunda!” Suamiku langsung buru-buru duduk di meja makan dan mengambil satu potong kue pie yang dibuat oleh Latifah, mengigitnya dalam satu gigitan besar. Sebentar saja wajah suamiku langsung berubah.

“Ayah! Enyak?” Latifah bergelayut manja di paha ayahnya sementara ayahnya gelagapan, salah tingkah.

“Enyak?” Latifah kembali bertanya dengan mata berbinar. Suamiku malah mengerling ke arahku, meminta bantuan.

Aku tersenyum geli dan ikut duduk di kursi makan yang ada. “Latifah udah capek-capek bikin buat ulang tahun ayah, loh!”

“Eh… iya, enak kok. Anak ayah pinter bikin kue. Kembaran jagonya kayak bunda.” Suamiku salah tingkah, mengelus lembut puncak kepala Latifah. Latifah mengabil dua potong kue pie yang tersisa.

“Habisin!”

Suamiku memasang wajah ngeri, tapi dengan senyum terpaksa ia mengambil juga dua kue pie itu. Memakannya dengan cepat dan menghabiskan air di gelas. Suamiku tersenyum kecut, Latifah tertawa senang, sementara aku tertawa geli.

“Nih, kue buat ayah. Yang ini buatan bunda,” Aku mengeluarkan kue pie yang masih hangat dan baru saja matang.

“Ini buat kita bertiga aja,”

Aku, Latifah dan suamiku mengambil jatah masing-masing dari kue pie hangat yang baru saja kubuat. Suamiku dan Latifah tampak puas dan menikmati kue pie buatanku. Sementara aku melihat mereka makan dengan semangat sudah membuatku senang.

“Enak?” Aku bertanya.

“Enak!”

“Enyak!”

Dan kami pun tertawa riang di dapur yang hangat.