ketika Mars menghadap Solar

Image result for vocaloid gumi gumiya

Pemuda di hadapannya memang luar biasa. Ah, tidak. Semua planet yang ada di kerajaannya sangat luar biasa.

Alhamdulillah… Allah SWT menganugerahkan penduduk yang sangat berbakat di kerajaan tata suryanya. Ada Merkurius yang handal dalam bagian pemerintahan dan administrasi. Jupiter yang selalu bekerja keras dan Saturnus yang merupakan seorang dokter jenius. Ah, jangan lupakan putri kesayangan yang sayangnya belum pernah ia lihat, Gaia. Walaupun kerajaan ini masih baru dan belum stabil tapi Alhamdulillah mereka tidak kekurangan bahan pangan. Putrinya yang satu itu memang luar biasa.

Yah, sebenarnya Gaia bukan putrinya yang sebenarnya. Tapi Solar sudah menganggap semua planet, asteroid dan satelit yang ada dalam kerajaannya sebagai putra-putrinya. Dengan begitu ia bisa lebih giat berusaha untuk memimpin kerajaan ini.

Dan sekarang, putra di hadapannya ini bernama Mars. Awalnya Solar sangat bingung, planet di hadapannya ini mempunyai bakat apa? Dia tidak sekekar Jupiter dan tidak secekat Pluto. Bahkan bisa dikatakan dia tidak memiliki sumber daya apapun.

Solar sangat percaya bahwa setiap planet memiliki bakat dan keterampilannya masing-masing. Makanya ia tidak terlalu mempermasalahkan Mars yang kelihatannya biasa-biasa saja. Apalagi setelah melihat pemuda itu seorang pekerja keras.

Karena itulah ia sangat kaget sekaligus bangga, ternyata anaknya yang satu ini memiliki keteguhan yang tidak terkira dan merupakan seorang pejuang yang hebat. Karena itulah Solar memberikan tanggung jawab menjaga keamanan kerajaan tata suryanya kepada Mars.

Dan harapan itu terpenuhi, ternyata Mars memang sangat berbakat – bahkan jenius – di bidang militer.

Ah, rasanya Solar ingin menangis bangga melihat putranya yang satu ini.

Dan sekarang Solar sedang duduk bersantai di kursi taman istananya. Salah satu asteroid menyuguhkan teh yang mengepul panas disertai sepiring cemilan yang sesuai. Ah, wangi teh di hadapannya sangat menarik indera penciumannya.

“Silahkan Mars.” Solar mengeluarkan gesture sopan, menjamu Mars. “Ini adalah daun teh yang dikirimkan Gaia kepadaku. Katanya ini bisa membuat rileks dan menenangkan pikiran. Hahaha…anakku yang satu itu tahu saja aku sedang susah tidur.” Solar tidak canggung kelepasan curhat kepada Mars.

Mendengar Solar menyebutkan nama Gaia, Mars menunjukkan ketertarikannya kepada teh di hadapannya. Ia mengangkat cangkir dan meminum cairan yang ada di dalamnya.

Benar saja, rasanya tubuh Mars menjadi sedikit lebih rileks.

Mereka berdua meletakkan cangkir teh mereka. Solar mengambil satu biskuit dan mengulurkan piring berisi cemilan itu kepada Mars.

“Baiklah, Mars. Sambil mengobrol santai seperti ini aku ingin sekali mengapresiasi kerja kerasmu. Kau memang jenius di bidang militer.” Solar melemparkan senyumnya yang penuh kebanggan. Entah kenapa Mars merasa silau melihat senyum itu.

“Sebagai hadiah, aku akan mengabulkan permintaanmu.”

Mars mengangkat wajahnya. “Apapun permintaan saya?”

Solar mengangguk, “Asalkan tidak bertentangan dengan syariat agama.”

Ujung jari Mars mengusap bibir cangkir, ia terdiam beberapa lama. Kaisar Solar pun tidak memaksa. Ia lebih ke arah penasaran. Memangnya apa keinginan pemuda ini? Apa sebegitu besar dan berat?

“Saya mohon izin kaisar untuk mengijinkan saya menikahi Gaia.”

Solar langsung menyemburkan teh yang sedang diminumnya. Semburan yang luar biasa karena cairan itu membasahi rambut, wajah dan seragam yang dipakai oleh Mars. Buru-buru Solar menyerahkan serbet kepada Mars dan mengabil tisu untuk menyeka bibirnya sendiri.

“Bisa tolong diulangi?”

Mars sedang menekankan serbet itu ke wajah dan pakaiannya. Seorang pelayan asteroid menawarkan handuk kecil untuk mengeringkan rambut Mars. Pemuda itu menatap Solar dengan penuh keteguhan.

“Saya meminta anda untuk mengizinkan saya menikah dengan Gaia.”

Rahang bawah Solar langsung jatuh ke bawah, wajahnya terlihat bodoh. Tadi dia memang bilang kalau permintaan apapaun asalkan tidak melanggar syariat akan ia penuhi. Tapi izin menikah?

Solar berusaha keras memasang wibawanya yang baru saja jatuh. Ia batuk satu kali. “Apakah kau pernah bertemu dengan Gaia sebelumnya?”

Mars mengangguk, “Pertama dan terakhir kalinya saya bertemu dengannya adalah 10.000 tahun yang lalu.”

Perlu kalian ingat wahai sobat pembaca, umur planet itu saaaannnggggaaaatttt lama. Jadi kita maklumi saja.

Solar menganga. Sepuluh ribu tahun yang lalu? Ia mengingat dirinya sendiri 10.000 tahun yang lalu sebagai pemuda yang tampan dan dikagumi oleh semua bintang dan galaksi. Tidak…tidak… 10.000 tahun yang lalu bukankah itu berarti Mars dan Gaia masih sangat muda?

“Apa kau yakin?” Solar bertanya sangsi. “Bagaimana kau bisa ingin menikah dengan Gaia?”

“Jatuh cinta pada pandangan pertama.”

Ah, jawaban yang sangat singkat. Kalau begini Solar tidak bisa kepo lebih dalam lagi.

“Bagaimana kalau misalnya Gaia sudah berubah? Misalnya kau sudah tidak mencintainya lagi? Atau mungkin dia sudah punya kekasih?” di sini Mars mengerutkan keningnya, “atau Gaia ternyata punya bau badan? Atau saat tidur ternyata dia mengorok? Atau ternyata wajahnya berjerawat dimana-mana?”

Hei..hei…ini menjatuhkan reputasi atau gimana sih?

Mars menatap Solar dalam diam. Kaisar itu berkeringat dingin ditatap sedemikian kejam oleh Mars. Ah, sepertinya ia sudah keterlaluan menggoda anak ini.

“Saya meminta izin anda untuk menikahi Gaia.”

Yang entah bagaimana Solar malah mendengarnya seperti ‘jika ada yang mau mendekati Gaia kau tidak bisa lolos dariku.’

Ah, apakah ini penggunaan kekuasaan militer untuk kepentingan pribadi? Haruskah Solar menghukumnya?

Dengan kaku Solar mengangguk, dikalahkan oleh anaknya sendiri. “Jika Gaia bersedia aku tidak keberatan,” yang maksud artinya adalah ‘PDKTmu akan sangat berat kalau hanya mengandalkan pertemuan pertama 10.000 tahun yang lalu’. Mars mengangguk paham dan kembali meminum tehnya yang baru saja diganti.

Hei…hei…apakah itu sorot puas yang Solar lihat di mata pemuda itu? Anak satu ini! Benar-benar!

.

.

.

Saat ini adalah bulan keenam dari waktu dua tahun yang ditetapkan oleh Solar – sebenarnya dengan memaksa – sebagai waktu istirahat Gaia. Akan tetapi gadis itu memang sangat terlalu peduli dengan panennya sehingga mau tidak mau Solar mengizinkan gadis itu untuk kembali ke tanah Gaia dan  memantau perkebunannya setiap sebulan sekali. Tentu saja Mars harus menemaninya, berjaga-jaga untuk menarik kembali Gaia ke ibukota Matahari kalau gadis itu sudah lupa waktu dengan perkebunannya.

Meskipun ibukota lebih panas dibandingkan tanah Gaia, tapi kehadiran gadis itu entah mengapa malah membuat bunga-bunga di ibukota terlihat lebih hijau. Kalau dulu sebelumnya ibukota terlihat cokelat dengan pasir dimana-mana, sekarang banyak pohon kurma, kaktus dan tanaman ekstrim gurun lainnya menjadi penghijau ibukota.

Mungkin inilah bakat tersembunyi Gaia.

“Bagaimana kabar PDKTmu?”

Solar menghirup jus buah dari gelas tingginya, matanya melirik Mars yang sedang duduk menemaninya sambil membaca buku. Meskipun begitu Solar yakin sudut mata anak ini selalu mengawasi Gaia.

“Yang Mulia, aku tidak tahu apa yang anda bicarakan.”

Yang entah bagaimana Solar malah mendengarnya sebagai ‘jangan ganggu urusanku dan enyahlah’. Solar menatap prihatin Gaia yang sedang asyik melihat berbagai macam koleksi kaktus di Istana. “Mereka bilang cowok yang suka marah tidak akan disukai perempuan.”

Mars mengangkat wajahnya dari buku dan menatap Solar dengan tenang. Benar-benar tenang sehingga terasa mengerikan. Tanpa sadar Solar sudah meminta ampun kepada Mars.

Hei…kaisar macam apa ini?

Gaia berlari menuju tempat mereka duduk. “Yang Mulia, aku mencoba menanam bunga ini di istana dan ternyata mereka mekar dengan cantik. Ini untuk anda.” Gaia tersenyum cantik sambil memberikan sekuntuk bunga matahari yang terlihat ceria. Solar menerima pemberian Gaia dengan tersenyum, walaupun punggungnya terasa dingin karena ditatap tajam oleh Mars.

Gaia menoleh kearah Mars dan mengulurkan sekuntum bunga mawar yang tidak berduri. “Ini untuk anda, Mars.”

Tanpa sadar Mars tersenyum saat menerima bunga itu dan menggumamkan terima kasih. Gaia terlihat sangat senang, tersenyum balik dan akhirnya kembali bermain ke taman istana. Solar menatap Mars yang masih terpana dengan bunga itu – bahkan menurutnya, Mars memuja bunga yang diberikan oleh Gaia.

Solar menatap bunga matahari yang diberikan kepadanya dan bunga mawar tanpa duri di tangan Mars. Ia tersenyum misterius. “Lumayan juga PDKTmu.”

Mars seakan tersadar dan memasang wajah normal, “Saya tidak paham maksud anda.”

Solar terkekeh kecil. “Yah, tidak apa-apa.”

Sepertinya Mars tidak tahu. Dan ia juga tidak mau memberitahu. Akan lebih baik baginya menonton saja bagaimana Mars PDKT dengan Gaia.

Yah, padahal jawabannya sudah jelas kan?

Bunga mawar tanpa duri memiliki arti cinta pada pandangan pertama.

#End


A/N: Hanya sebuah cerita sampingan dari cerita ketika Mars bertemu Gaia boleh coba dibaca dan dikasih komen. Dibikin tapi gak cek ricek typo karena udah ngantuk. Jadi bodo amat lah XD dan untuk arti bunga matahari adalah kasih sayang, kesetiaan dan umur panjang. Yah, jadi Gaia ceritanya mengikrarkan kesetiaan kepada Solar sementara dia confession ke Mars. Alhamdulillah gak jadi bertepuk sebelah tangan.

Advertisements

ketika Mars bertemu Gaia

Image result for vocaloid gumi gumiya

Seorang planet berlari, napasnya terengah-engah. Rambut panjangnya yang berwarna biru (dengan sedikit highlight hijau muda dan perak putih) tergerai di belakangnya. Sang pemilik rambut itu bernama Gaia dan ia sedang berlari kencang demi menyelamatkan nyawanya.

Sosok galak yang ada di belakanganya juga berlari kencang mengejarnya, akan tetapi kali ini dengan sumpah serapah dan teriakan yang kita tidak perlu tahu artinya. Sesekali tangannya berusaha menggapai rambut si gadis, tapi untunglah, Gaia sangat sigap meraup rambutnya. Sambil berlari kencang ia mencoba mengepang rambutnya. Tidak perlu rapi tidak mengapa, yang penting rambutnya tidak menjadi sasaran jambakan.

Kaki si planet berlari dengan tangkas, meliuk ke sana kemari, masuk keluar celah tertentu, membelok kanan dan ke kiri, memasuki labirin gudang yang hanya ia yang tahu bagaimana tata letaknya. Perlahan ia bisa mendengar pengejarnya mulai kehilangan arah. Akan tetapi demi hidupnya yang masih sangat muda, ia terus meliuk masuk ke berbagai celah sisi gudang. Di ujung celah ia bisa melihat lapangan luas yang ditanami bunga. Dari lapangan itu ia bisa-

GUBRAK!

Ia terjatuh.

Tidak sakit, tapi ia ingin sekali meringis. Suara erangan terdengar dari bawahnya. Tunggu, suara erangan?

Dan saat itulah ia bisa melihat dirinya jatuh menimpa seseorang. Seorang pemuda yang tampan sebetulnya. Warna rambutnya merah gelap dan warna matanya cokelat keemasan. Tapi si gadis tidak melihat semua itu dan lebih fokus menatap seragam militer yang ada di depan matanya.

Ia bergidik.

Baru saja ia dikejar-kejar oleh Phobos dan sekarang ia tertangkap oleh seorang pemuda militer yang tidak ia ketahui namanya. Apa hari ini takdirnya sedang berkaitan dengan para pria militer?

“Apa kau tidak apa-apa?”

Belum sempat Gaia menjawab tiba-tiba di belakanganya kembali terdengar suara sumpah serapah Phobos. Tanpa babibu gadis itu langsung berlari meninggalkan korban tabrakan yang baru saja terjadi. Si pemuda hanya bisa terdiam bingung. Saat ia masih berusaha memahami situasi tiba-tiba saja Phobos tiba di sana. Ia berhenti dan memberi hormat.

“Salam hormat, Jendral Besar Mars!”

Pemuda bernama Mars itu masih terduduk di tanah, akan tetapi dengan santai ia tetap diam duduk di tanah dan dengan ogah-ogahan membalas salam hormat Phobos.

“Apa yang sedang kau lakukan?” Mars berdiri dan menepukkan celananya dari debu.

“Saya sedang mengejar Gaia.”

“Gaia?”

“Planet yang bertanggung jawab untuk persediaan pangan kerajaan Tata Surya. Gadis berambut biru kusam dengan hijau dan putih yang aneh lalu-“

“Ah, baiklah cukup.” Mars memotong narasi Phobos yang tidak penting. Dan ia menyadari gadis yang menabraknya tadi adalah Gaia. Tiba-tiba saja sepotong roti kecil menggelinding entah dari mana. Dahi Mars berkerut sementara Phobos terlihat gugup.

“Kenapa kau mengejar gadis itu?”

Kali ini suasana tenang. Mars hanya memasang senyum yang mengintimidasi, menunggu jawaban.

“Ah, eh… gadis itu…. Mencuri roti…,”

Mars berjongkok dan memungut roti yang menggelinding, “Maksudmu roti ini?” Tanya Mars masih dengan senyumnya yang dingin.

Phobos kali ini kikuk. Mati kutu.

Mars masih tersenyum, kali ini dengan sangat dingin yang bahkan bisa menggigilkan tulang. “Kalau tak salah Yang Mulia Kaisar Solar mengatakan, karena Gaia sudah sangat berprestasi beberapa kali memastikan pangan yang cukup bagi kerajaan ia harus diperlakukan dengan sangat istimewa.”

Phobos berkeringat dingin, merasa ajalnya akan datang.

“Untunglah aku datang di saat yang tepat ya.” Mars tersenyum dengan sangat kalem.

.

.

.

Gaia, yang menjadi penyebab Phobos dihukum dengan sangat sangat sangat berat sedang bersembunyi di ladang bunga Lavender. Jantungnya masih berdegup kencang. Ia sudah tidak kuat lagi berlari tapi sepertinya ia sudah tidak dikejar lagi oleh Phobos maupun korban tabrak larinya itu.

Benar-benar deh, kenapa hari ini ia harus berurusan dengan orang militer. Bahkan sebanyak dua kali?

Kruyuuuk

Gaia memeluk dirinya sendiri. Rasanya lapar sekali. Inilah penyebabnya kenapa ia dikejar-kejar oleh Phobos. Jatah makannya hanya dua kali sehari, setiap pukul 10 pagi dan 4 sore. Padahal ia bekerja sejak pukul 6 pagi hingga 8 malam. Jangankan untuk mandi (Gaia merasa tubuhnya gerah sekali, mungkin lebih baik ia ke sungai terdekat) untuk makan saja ia kesulitan. Phobos hanya memberinya jatah makan dua potong roti, satu keju kecil dan segelas susu.

Bukan maksudnya Gaia serakah sih. Tapi ayolah, Gaia bekerja seharian di ladang memastikan kebutuhan pangan kerajaan Tata Surya tercukupi. Tapi kenapa dirinya yang bertanggung jawab atas pangan justru harus merasa kelaparan?

Gaia berhenti melangkah, akhirnya ia sampai di sungai terdekat. Hari sudah gelap dan biasanya Phobos tidak mau bersusah payah keluar untuk memerintahkan tugas macam-macam kepada Gaia. Karena itu gadis itu sangat yakin malam ini ia bisa sedikit bersantai, atau tepatnya mandi. Ia melepaskan pakaiannya dan kemudian masuk ke dalam sungai, sengaja mencelupkan seluruh tubuhnya agar kulit kepalanya terasa segar. Di telapak tangannya ada lembaran kelopak bunga lavender. Perlahan ia meremas kelopak itu dan mengusapkannya ke kulit kepalanya. Meskipun Gaia hidup serba kekurangan tapi sebagai gadis bukan berarti ia tidak peduli dengan hal-hal manis seperti ini.

Wangi lavender yang berefek aroma terapi ditambah suasana malam yang tenang dan bunyi air mengalir membuat Gaia kehilangan sedikit kesadarannya. Ia mencuci mukanya dan hendak menyelesaikan mandinya saat tanpa sengaja matanya menangkap sosok yang tidak asing.

Korban tabrak larinya tadi siang!

Dan ia berdiri bengong di tepi sungai!

Gaia mematut dirinya yang meskipun tubuhnya tersembunyi di bawah gelapnya air, tapi tetap saja…

KYAAA!

.

.

.

“Maafkan saya. Tapi percayalah, saya tidak bermaksud mengintip anda ataupun menakuti anda.”

Mars basah kuyup, memohon maaf sambil membelakangi Gaia yang saat ini terburu-buru memakai bajunya.

“Ah, tidak. Saya justru harus minta maaf karena sudah menyiram anda sampai basah kuyup.” Gaia meminta maaf ogah-ogahan. Iyalah, di sini dia adalah pihak yang dirugikan. Setelah ini dia tidak bisa jadi pengantin lagi, pikir Gaia lebay. Walaupun Mars tidak melihatnya benar-benar telanjang tapi tetap saja. Gaia bergidik mengingatnya.

Mars tersentak dan menoleh, “Ah, tidak. Saya justru-“

“Jangan lihat!” Gaia menahan kepala pemuda itu agar tidak memutar dan melihat dirinya.

Mars tergagap meminta maaf sementara Gaia cepat-cepat menyelesaikan simpul terakhir dari pakaiannya.

“Kau sudah boleh melihat.”

“Ah, baiklah.”

“Jadi, ada apa anda datang malam-malam begini?” Kali ini Gaia mengurus rambutnya yang masih meneteskan air, memelintirnya hingga dirasa airnya cepat turun dari rambutnya dan mengibaskannya dengan lembut.

Mars menatap Gaia dengan tatapan kosong.

“Tuan?” Gaia memasang wajah jengkel. Jengkel karena diganggu mandinya, jengkel karena diintip dan jengkel karena lapar.

“Ah..uh… saya minta maaf karena sudah mengintip.”

Gaia terdiam dengan wajah agak sulit, kan tadi pemuda ini sudah minta maaf jadi kenapa minta maaf lagi?

Mars juga tidak tahu kenapa ia meminta maaf lagi, padahal sepanjang 10 menit terakhir sejak ia tidak sengaja melihat Gaia yang sedang mandi ia sudah menggumamkan maafkan saya berkali-kali. Tapi tadi saat ia melihat Gaia yang sedang mengeringkan rambutnya entah kenapa terasa desir aneh dalam tubuhnya. Rasanya pemandangan di depannya begitu cantik dan privasi dan tanpa sadar ia sudah meminta maaf.

“Anda tidak datang ke sini hanya untuk meminta maaf karena sudah mengintip saya, kan?”

“Ah, tidak. Saya…”

“Bagaimana kalau kita lanjutkan percakapan anda di rumah saya.” Gaia berjalan terlebih dahulu dan Mars hanya bisa mengikuti dalam diam. Aneh, kenapa sekarang rasanya dia jadi gugup begini.

Tak lama akhirnya mereka sampai di rumah Gaia. Saat pertama kali Mars melihat rumah gadis itu, Mars hanya mampu terdiam. Tidak percaya. Pasalnya, rumah yang disebut Gaia hanyalah sebuah gubuk berdinding dan beratap kayu dengan ukuran yang sangat minimalis.

Phobos, kupikir-pikir aku harus memberi hukuman yang lebih berat lagi untukmu, pikir Mars tersenyum dingin.

“Silahkan duduk.” Gaia mempersilahkan Mars duduk di satu-satunya meja dan kursi yang ada di ruangan itu. Gubuk itu hanya berisi perabotan yang sederhana. Sebuah tempat tidur untuk satu orang, meja dan kursi untuk dua orang serta dapur yang sangat sangat sangat sederhana.

“Mohon maaf, saya tidak punya apapun kecuali air putih.”

“Ah, tidak masalah.”

“Maaf, saya juga tidak bisa menjamu apapun untuk anda.” Gaia membelakangi Mars. Mars hanya menggumam paham.

Phobos, setelah ini kamu benar-benar tamat.

Gaia meletakkan gelas – yang Mars berusaha tidak memperhatikannya karena gelasnya retak – dan duduk di hadapan Mars. “Ada keperluan apa anda ingin bicara dengan saya? Apa anda ingin protes kepada saya yang tidak sengaja menabrak jatuh anda tadi siang?”

Gaia langsung to the point. Lebih baik langsung ke intinya toh pemuda di hadapannya ini sudah menangkap basah dirinya.

Mars meletakkan topi militernya yang tidak sengaja masih ia pakai. “Yah, memang berkaitan dengan yang tadi siang tapi bukan itu masalahnya.”

“Saya minta maaf karena tidak sengaja menabrak anda hingga jatuh.”

Mars tersenyum lembut, “Tidak masalah. Anak buah saya juga sudah menceritakan semuanya.”

Di sini Gaia merasa kaku, apakah dirinya akan ditangkap karena telah mencuri sepotong kecil roti milik Phobos?

“Maafkan perlakuan anak buah saya yang sudah semena-mena kepada anda.”

Huh? Ini diluar perkiraan Gaia. Pemuda ini meminta maaf lagi kepadanya? Dengan perlahan Gaia menatap pemuda di hadapannya.

“Ah, iya. Saya belum memperkenalkan diri. Nama saya adalah Mars, planet yang bertanggung jawab untuk keamanan dan militer di seluruh kerajaan Tata Surya ini.”

Gaia tersedak ludahnya sendiri. Mars? Pemuda yang kelihatannya tidak beda jauh umurnya dengan dirinya ini adalah Mars? Seorang jenderal militer yang terkenal itu? Yang katanya prestasinya begitu hebat hingga Yang Mulia Kaisar Solar mempercayakan keamanan dan kedamaian kerajaan ini pada Planet Mars?

Pemuda ini?

Mati aku mati aku mati aku mati aku mati aku mati aku mati aku mati aku.

Gaia benar-benar tidak fokus saat Mars menjelaskan berbagai prestasi yang telah ia capai demi membangkitkan pangan bagi kerajaan Tata Surya. Ia juga tidak mendengarkan saat Mars menyatakan bahwa Kaisar Solar menawarkan hadiah apapun yang ia inginkan untuk prestasinya itu dan lebih tidak konsentrasi lagi saat Mars menanyakan kira-kira apa yang ia inginkan sebagai hadiah.

“Nona Gaia? Apa anda mendengar saya?”

Mars menatap Gaia dengan cermat, wajah gadis itu pucat dan berkeringat dalam jumlah banyak. Apa gadis ini sakit? Pikirnya.

“Nona Gaia?”

“Apa anda akan menghukum saya karena saya mencuri roti tadi siang?”

Di sini Mars bengong. Hah?

“Maaf. Saya terpaksa karena saya benar-benar lapar. Saya berjanji tidak akan mencuri lagi sebagai gantinya tolong bebaskan saya dan saya pastikan hasil pangan meningkat baik untuk kali ini.”

Hah?

Mars bingung. Kenapa tahu-tahu gadis ini minta maaf. Bahkan mengaku mencuri roti? Tapi tadi dia sudah meminta maaf untuk kelakuan Phobos.

“Tunggu Nona Gaia, anda salah paham.”

Gaia sudah tidak mendengarkan lagi karena tiba-tiba saja semuanya terlihat gelap.

.

.

.

Mars sedang berdiri dengan tangan terlipat, senyumnya dingin bahkan Deimos bisa melihat air di gelas yang ia bawa telah berubah menjadi es. Mars sedang berdiri sambil melipat tangannya, wajahnya tersenyum akan tetapi auranya memancarkan hawa dingin yang mengerikan. Di hadapannya Phobos sedang duduk berlutut dengan kepala yang benar-benar tertunduk, keringat dingin membanjiri tubuhnya.

“Kurang makan, bekerja terlalu berat dan stress hampir depresi. Dokter Saturnus benar-benar dokter yang hebat ya?” Mars berbicara ringan seakan mereka sedang membicarakan cuaca.

Deimos menghela napas, sementara Phobos justru menahan napas. Karena selama ini Deimos hanya mengurus masalah administrasi keamanan pengangkutan pangan ke seluruh kerajaan, makanya ia tidak terlalu tahu keadaan Gaia yang sebenarnya. Bisa dikatakan kehidupan sehari-hari Gaia diatur oleh Phobos.

“Oh, dan hal yang menarik Phobos. Tadi aku berkunjung ke rumahnya Gaia loh. Benar-benar akomodasi yang menarik ya. Hahaha.” Mars tertawa dingin.

Deimos menghela napas. Phobos, kali ini kau benar-benar tamat.

.

.

.

Gaia membuka matanya dan ia menatap langit-langit yang tidak ia kenal. Sekelilingnya adalah bangunan yang dicat putih. Sebuah jendela dibuka, tidak terlalu lebar tetapi memungkinkan udara segar masuk. Dilihat dari kondisi sinar matahari sepertinya hari hampir sore.

“Anda sudah bangun. Syukurlah.”

Gaia memandang Mars yang memasang wajah lega. Suaranya terasa serak. Untunglah Mars menawari segelas air yang langsung ia minum habis.

“Kenapa aku disini?”

“Dokter bilang Nona terlalu kelelahan. Lebih baik beristirahat-“

“Apa aku pingsan? Berapa lama?” Gaia mulai panik. Gawat! Kalau dia pingsan bagaimana nasib tanaman dan kebunnya?

“Tiga hari, tapi-“

Gaia tidak mendengarkan perkataan Mars. Dengan segera ia berlari keluar kamar, berlari menyusuri lorong dan hendak keluar dari gedung yang tampaknya sangat mewah ini. Akan tetapi tubuhnya terasa berat dan lemah, juga begitu lelah. Mars menangkap Gaia agar ia tidak tumbang.

“Dokter bilang anda kelelahan. Lebih baik anda beristirahat.”

“Tapi… kebunku….panenku….tiga hari tanpa aku…” Gaia panik. Benar-benar panik.

“Anda tidak perlu khawatir mengenai hal itu.”

Mars mencoba menenangkan Gaia akan tetapi gadis itu masih belum bisa tenang. Pemuda itu akhirnya menghela napas, mengalah.

“Jika saya menunjukkannya kepada anda, apa anda janji akan beristirahat?”

Gaia langsung mengangguk setuju. Tanpa buang waktu Mars menggendong Gaia layaknya pengantin baru disumpah – yang tentu saja membuat Gaia protes setengah mati. Mars melangkah keluar, mengabaikan mulut menganga Deimos dan pelototan tak percaya Phobos. Keluar dari gedung pemerintahan, sinar matahari menyambut Gaia. Matanya menggelap sesaat karena beberapa hari tidak melihat matahari. Saat matanya mulai menyesuaikan keadaan saat itulah ia melihat kebun dan sawahnya baik-baik saja.

Malahan Gaia bisa merasakan ada banyak kebun yang mencapai panen lebih cepat dibanding seharusnya. Sepertinya istirahatnya justru malah membuat tanamannya tumbuh lebih subur. Dan di tengah-tengah kebun dan sawah terdapat banyak orang yang sedang memanen ataupun merawat tanaman pangan.

“Mereka…?”

“Tanda terima kasih dari Yang Mulia Kaisar Solar untuk anda yang sudah berusaha keras memastikan ketersediaan pangan kerajaan. Karena situasi kerajaan sudah stabil, Kaisar Solar memerintahkan setiap planet harus mengirim perwakilan satelit maupun asteroid untuk membantu anda mengelola pangan kerajaan.”

Gaia menatap pemandangan di hadapannya dengan tertegun. Ia menatap Mars yang masih menggendong dirinya, “Kenapa?”

“Kaisar Solar adalah raja yang bijak. Ia sadar tanpa anda kerajaan kita tak akan mungkin bertahan sampai saat ini. Beliau memohon maaf atas semua kesulitan yang telah anda alami. Karena itulah Yang Mulia memerintahkan saya untuk menyampaikan kabar ini dan mengundang anda untuk beristirahat di ibukota Matahari.”

Mars menurunkan Gaia dari pelukannya. Pemuda itu tersenyum lembut pada Gaia yang kebingungan.

“Bagaimana? Apa anda bersedia pergi ke ibukota?”

“Tapi kalau aku pergi… hasil panen-“

“Tidak masalah.” Mars memotong semua yang ingin diucapkan oleh Gaia. “Yang Mulia kaisar berkeras agar anda beristirahat dan tidak memikirkan hasil panen.”

Gaia terdiam, ia mengalihkan pandangannya menuju semua tanamannya.

“Jadi… bagaimana?” Mars kembali memastikan. Gaia menatap Mars.

.

.

.

“Terima kasih atas undangan anda, Yang Mulia kaisar.”

Seorang pria berumur baya berjalan mendekati Gaia dan Mars yang mendampinginya. Ia berpakaian kemeja sederhana dengan kancing bagian atas terbuka dan lengan kemeja dilipat hingga ke siku. Celananya adalah celana bahan berwarna gelap dipadu dengan sepatu kerja biasa. Sekilas Gaia berpikir pria ini sangat esentrik…karena penampilannya tidak megah sebagaimana yang Gaia pikirkan. Sebaliknya, ada kesan ramah yang mengayomi serta mudah didekati. Gaia merasa ia bisa saja sewaktu-waktu kelepasan curhat tentang semua masalahnya kepada orang ini.

“Justru aku yang harus berterima kasih atas semua kerja kerasmu. Aku juga mohon maaf karena telah membuatmu kesusahan sendirian memikirkan pangan untuk kami semua.” Kaisar Solar meraih kedua tangan Gaia dan memegangnya dengan lembut. Nada suaranya lembut dan penuh penghargaan.

“Ah, tidak. Itu bukan apa-apa.”

“Mungkin. Tapi bagaimanapun aku tetap berterima kasih.”

Gaia bisa merasakan wajahnya memerah. Tidak pernah sebelumnya ada seseorang yang mengucapkan terima kasih kepadanya.

“Sekarang kerajaan sudah stabil. Karena itu aku sengaja mengundangmu ke ibukota untuk beristirahat.”

“Terima kasih atas tawaran anda. Saya akan menerim tawaran istirahat anda. Besok pagi saya akan kembali pulang.”

“Kenapa buru-buru sekali?” Kaisar Solar menatap heran.

“Saya khawatir jika terlalu lama target pangan tidak bisa melebih panen yang lalu.”

Kaisar Solar menatap Gaia dengan lama, Gaia jadi kikuk. “Baiklah, kuperintahkan kau beristirahat di istana ini selama 3 bulan.”

“Eh…eh…Yang Mulia, itu terlalu lama. Nanti…”

“Enam bulan.” Kaisar Solar menurunkan titahnya sambil tertawa.

“Eh… tapi Yang Mulia-“ Gaia masih berusaha protes.

Ok Fix! Satu tahun.” Kaisar Solar masih tertawa puas. Ia menatap Gaia dengan penuh sayang. “Putriku, kau sudah cukup berusaha keras selama ini. Karena itu, biarkan aku membalasmu dengan baik. Kau mau mengabulkan permohonanku ini, kan?”

Melihat Kaisar yang  menatapnya dengan penuh harap apalagi sambil memohon, Gaia menjadi luluh. Ia hanya menganggukkan kepala tanda setuju yang disambut gembira oleh Kaisar Solar.

“Baiklah, selama beristiahat di sini akan kupastikan kau menikmati semua hal yang menyenangkan.” Kaisar Solar menatap Mars penuh makna. Pemuda itu mengangguk setuju.

“Baiklah. Mari kita nikmati liburan dua tahun yang kuberikan untuk Gaia!”

“Eh… Yang Mulia! Kenapa jadi nambah lagi?” Gaia protes lagi. Kaisar Solar tertawa puas sementara Mars hanya menghela napas.

#End


IOC Writing Challenge: When Mars meet the Earth

Vow: The Sky That We Look That Day

Dulu kita bersumpah, dibawah langit biru ini. Kau akan terus berada di sisiku, melindungiku dan selalu mendukungku. Dan aku….

Heh, kurasa tidak aneh kalau sekarang kau melangar janjimu.

Karena ternyata, aku pun telah melanggar janjiku.

 

Image result for anime sky

 

Suara tetesan air di lantai batu yang dingin dan kusam. Kakiku yang tidak beralaskan apapun menggigil kedinginan. Hari pasti sudah lewat tengah malan, tapi aku tidak merasa mengantuk sedikitpun. Aku tidak mau tidur.

Ah, malahan mungkin aku tidak akan lagi membutuhkan tidur.

Suara api berderak membakar kayu bakar di sebuah wadah besi yang digantung. Berfungsi untuk memberi cahaya. Tapi tetap saja, sinarnya terasa redup.

Aku menyenderkan punggungku di dinding batu yang sama dinginnya. Tubuhku menggigil. Di penjara batu ini tak ada seorangpun yang mau repot-repot memberiku selimut atau alas kaki. Aku menutup mataku. Meskipun aku rasa aku tidak mau tidur, tapi tak bisa kupingkiri aku ingin sekali menutup mata. Kalau perlu, selamanya.

Entah berapa lama aku menutup mataku, tiba-tiba aku mendengar bunyi langkah yang berat beserta kibasan jubah.

Aku membuka mataku dan mendapati ada tiga orang pemuda berada di depan jeruji besi ruanganku. Yang satu sedang sibuk membuka kunci, yang lain berdiri menatap dalam diam. Saat pintu besi terbuka, hanya satu orang yang masuk, yang lain tetap berada diluar, berjaga.

“Ada perlu apa anda mendatangiku ke sini? Bahkan-“ aku menatap jendela yang ada jauh di atas, “-kupikir ini sudah lewat tengah malam.”

Aku memasang senyum terbaikku. Aku mengenali orang ini. Cladius Van Evellyn. Penerus keluarga ksatria militer Evellyn di kerajaan Lantica. Sekaligus yang seharusnya adalah ksatriaku.

Cladius menatapku dengan dingin. “Hukumanmu sudah ditetapkan. Besok pagi kau akan dipancung di hadapan semua orang di ibukota.”

Hatiku mendingin dan hanya menggumakan oh.

Wajah Cladius mengeras, tampak tidak puas.

“Butuh waktu lama untuk menentukan hukumanmu. Beberapa ada yang ingin kau dibakar di kayu pancang. Beberapa da yang ingin kau dihukum gantung, bahkan dijual ke rumah pelacuran. Tapi akhirnya kami sepakat memilih hukum pancung.”

Aku menatap Cladius. “Oh, pasti berat untuk kalian memutuskannya.”

Cladius tidak mendapatkan ekspresi yang ia harapkan. Ia mengibaskan jubahnya dan keluar dari ruang penjara, berdecak sebal.

“Kenapa…” aku bergumam. Cladius menghentikan langkahnya dan memutar kepalanya, memandangku. “Kenapa kau mengingkari janji kita saat itu? Di bawah langit biru?”

Sinar mata Cladius berubah, terlihat bersemangat.

Aku tahu seharusnya aku tidak membiarkan Cladius mematahkan semangatku. Dalam situasi seperti ini, ia pasti akan melakukan apapun untuk membuatku bersedih atau patah semangat.

“Kau adalah wanita. Kau pikir kami mau tunduk kepadamu yang seorang wanita hanya karena kau seorang Ratu?”

Cladius mengharapkan aku kaget atau sedih. Tapi diluar dugaan, ternyata alasannya sesuai dengan apa yang kuduga jadi aku tidak merasa kaget sama sekali. Sebaliknya, gumaman oh kembali keluar dari bibirku. Cladius kembali berdecak sebal dan pergi dari sana.

Aku mendesah.

Apa semua itu salahku kalau ayah dan ibuku meninggal saat umurku 12 tahun?

Apa itu salahku juga kalau aku satu-satunya anak  dari ayah dan ibuku?

Apa itu salahku juga aku terlahir sebagai perempuan dan bukan sebagai laki-laki?

Apa semua itu salahku?

Bahkan sebelum aku sempat bersedih atas kehilangan ayah dan ibuku, para dewan kerajaan langsung menyambar stempel kerajaan. Menguasai semua system pemerintahan dan mengatur siasat untuk menyingkirkanku yang meruoakan pewaris sah tahta kerajaan.

Dan alhasil, rakyat membenciku dan menjulukiku ratu yang kejam.

Apa itu juga salahku?

Aku menutup mataku.

Anehnya hatiku terasa tenang dan aku bisa tertidur nyenyak.

.

.

.

“Suatu saat nanti aku berjanji, aku akan menjadi ratu yang bijak dan adil. Aku akan jadi ratu yang bisa dibanggakan oleh rakyatku.”

“Kalau kau jadi ratu, aku juga akan berjanji akan menjadi ksatriamu yang paling hebat. Ksatria yang paling kuat di kerajaan ini.”

 

Saat itu kalau tidak salah langitnya sama seperti saat ini, biru dan tenang. Tidak terlalu banyak awan dan suasananya tenang. Ia sedang duduk di panggung kayu dan di hadapannya terdapat pisau pancung. Tanpa sadar aku menghela napas dan memandang langit biru di atas.

Angin semilir bertiup dan aku tidak terlalu memikirkan bisik-bisik dan cemoohan rakyat yang datang berkumpul untuk menyaksikan hukumanku. Melihat banyaknya rakyat yang datang melihat eksekusinya saat ini, pastinya aku gagal menjadi ratu yang baik bagi mereka semua, pikirku. Seseorang mendorongku untuk mendekati pisau pancung dan merebahkan leherku di lengkungan kayu itu.

Aku kembali menghela napas.

“Jika aku bisa terlahir kembali. Kuharap aku terlahir menjadi orang biasa. Yang bebas hidup demi diriku sendiri dan tidak perlu hidup demi orang lain.”

Aku menutup mataku dan terakhir yang kudengar hanyalah bunyi besi bergesekan dengan kayu.

.

.

.

“Hukuman baru saja dilaksanakan”

Seorang tentara melapor kepada Cladius. Pemuda itu tidak mengatakan apapun dan memberi isyarat agar bawahannya bubar. Semua orang meninggalkan tempat itu kecuali dirinya.

Pemuda itu menatap langit luas yang ada di hadapannya. Ia saat ini berada di sisi lain menara istana. Tepat dibagian yang menghadap hutan dan tidak menghadap lapangan desa tempat berlangsungnya eksekusi.

“Saat itu, langitnya juga sama seperti ini.” gumamnya pelan.

Ia menatap langit untuk beberapa saat dan akhirnya mengibaskan jubahnya, pergi dari tempat itu.

#IOC Writing Challenge Agustus: The Sky That We Look That Day

Teman Main

“Kena tuh! Karetnya goyang!”

“Enggak kena kok!”

“Baju kamu yang ngenain, tuh, karetnya goyang!”

Nanda bersungut dan mendekati Nila yang menyerahkan pegangan karetnya, tersenyum senang. Semua orang yang ada di sana tertawa.

“Makanya pegang dulu jilbab sama rokmu itu sebelum loncat.” seru yang lain yang ada di sana. Mereka tertawa gembira riang, ada sekitar enam orang yang sedang bermain lompat karet.

“Iya, aku lupa. Udah lama sih, jadinya agak lupa sama peraturannya.” Nanda memegang ujung tali karetnya setinggi dada.

“Dasar orang kota!” seru yang lain.

“Gak ada hubungan!” Nanda balas teriak. Dan mereka semua tertawa gembira. Meloncat dan sesekali bersalto. Bermain tali karet, mengenang masa dulu.

.

.

.

Sekumpulan anak kecil sedang duduk bergerombol di panggung rumah, menghadap halaman rumah tempat permainan karet sedang berlangsung.

“Itu ibu-ibu kita lagi pada ngapain sih?” Andi mengangkat matanya sesaat dari layar androidnya.

Hasnah mengangkat bahu, “Tahu tuh.”

“Kok, gak tahu? Kan kamu anak perempuan juga?” Bayu, sepupunya ikut mengomentari. Matanya tidak lepas dari gadget.

“Kalau aku bilang gak tahu, ya gak tahu! Daripada begitu konsen deh ke mobile kamu. Musuh dari tadi mau nyerang aku mulu tahu!” Hasnah balik ngomel. Bayu langsung kembali fokus.

“Itu ibu-ibu kita apa pada gak inget umur ya? Masih jaman main-main loncat gitu.”

Dan percakapan pun terhenti, mereka semua fokus pada gadget mereka masing-masing.

Enemies has been slayed

Sementara tawa riang gembira yang sesekali ditingkahi obrolan dan gosip-gosip ala ibu pedesaan terdengar riang dari halaman rumah.

The End

You, And Only You

Untuk challenge Unusual Pet Challenge, IOC Writing Project

High Quality Twilight Princess Zelda and wolf link Blank Meme Template

 

Pada zaman dahulu kala,

Seekor serigala terbangun dari tidurnya, telinganya bergerak-gerak. Ia membuka matanya dan mendapati bahwa malam ini sangat gelap. Padahal sebelum ia tertidur ia yakin bahwa bulan sedang purnama.

Saat sang serigala menatap ke langit, ia melihat seekor raksasa sedang melahap rembulan.

Serigala itu bangun dan melolong, menggeram pada raksasa. Serigala ini bukan serigala biasa: matanya berwarna biru langit, tubuhnya sebesar gunung, bulunya berwarna cokelat gelap dengan bulu putih di dahinya yang membentuk tanda yang aneh. Suara geramannya sangat keras, bagaikan halilintar menyambar.

Raksasa itu terkejut dan rembulan memanfaatkan itu untuk lari dari genggaman sang raksasa. Sang serigala terus menggeram, melolong kepada raksasa hingga akhirnya ia pun lari dari tempat itu.

Setelah raksasa pergi, rembulan turun ke hadapan serigala. Sang rembulan berubah menjadi sosok gadis yang cantik. Tidak pernah serigala melihat gadis secantik rembulan.

“Terima kasih karena telah menolongku dari raksasa. Sebagai tanda terima kasih aku akan melakukan apapun.” Ujar putri rembulan.

Sang serigala menutup matanya dan ia berubah wujud menjadi seorang pemuda yang gagah. Sang putri rembulan belum pernah melihat pemuda yang lebih rupawan dari pemuda serigala itu.

“Aku tidak butuh apa-apa. Aku hanya berusaha membantu.” Pemuda serigala menolak tawaran si gadis.

Lalu sang putri pun bercerita bahwa pada waktu tertentu sang raksasa selalu datang dan mencari dirinya. Sang raksasa akan memakan cahaya rembulan dan menjadikan rembulan menjadi gelap. Itulah yang kita kenal sebagai gerhana bulan.

Sang pemuda pun bersumpah, bahwa setiap raksasa datang ia akan melolong, menggeram kepada raksasa. Dengan begitu gerhana bulan bisa cepat selesai dan bulan bisa kembali bersinar.

Itulah sebabnya, di Kerajaan Ioer ini jika terjadi gerhana bulan kita bisa mendengar serigala melolong. Karena para serigala bersumpah untuk membantu sang putri rembulan untuk lari dari kejaran raksasa.

Selesai.

.

.

.

“Putri Amaris, apa itu sebabnya bendera kerajaan kita bergambar serigala yang memandang bulan?”

Amaris meletakkan bukunya dan menatap bocah lelaki berumur sepuluh tahun di hadapannya. “Begitulah. Mereka bilang pemuda serigala itu tinggal di sini supaya bisa menolong putri rembulan. Mereka akhirnya membentuk kerajaan yang disebut Kerajaan Ioer. Logo bendera kita diambil dari cerita ini.”

“Hah? Berarti kita juga bisa berubah jadi serigala, dong?”

“Hah? Masa sih?”

Suasana langsung ricuh, Amaris tertawa lepas. Beberapa anak menahan napas hingga wajah mereka menjadi merah. Seakan dengan begitu mereka bisa berubah wujud.

“Ini cuma cerita, jangan dibawa serius ya.”

Beberapa anak mendesah kecewa. Wajah mereka sangat imut. Amaris tersenyum lembut, “Nah, sudah sore. Ayo pulang. Ibu kalian pasti sudah mencari kalian.”

Anak -anak yang ada di sana langsung meloncat-loncat, melangkah pergi tidak lupa sambil melambaikan tangan. Memaksa Amaris berjanji untuk besok kembali membaca dongeng yang dengan antusias Amaris setujui.

Amaris tinggal sebentar untuk membereskan beberapa buku yang berserakan dan menumpukkannya di meja perpustakaan. Ia meraih tasnya, melambaikan tangan kepada petugas dan keluar dari perpustakaan.

Hari sudah gelap, Amaris tidak sadar ternyata membereskan buku memakan waktu yang lumayan. Angin malam bertiup dingin, tanpa sadar Amaris menggigil. Istana kerajaan hanya berjarak sepuluh menit dari perpustakaan, tak terasa ia sudah sampai.

Amaris berjalan cepat-cepat, disapa oleh berbagai pelayan dan penjaga istana. Tak lama kemudian ia sudah sampai di kamarnya. Saat ia membuka kamarnya seekor serigala berbulu cokelat sedang berbaring di karpet kamarnya.

“Aku pulang.” Amaris menyapa serigala itu. Ia berjalan mendekat dan langsung memeluk serigala. Sang serigala hanya diam, mengendus dan menggerak-gerakkan telinganya.

Sang serigala menggeram, Amaris menatap sesaat. “Apa kamu tidak suka aku peluk?”

Serigala itu mengendus-endus udara dan langsung berlari ke balkon kamar, Amaris mengikuti. Ia menatap langit. “Ah, sebentar lagi mau gerhana bulan ya?”

Amaris menatap serigalanya. Tapi alih-alih serigala Amaris malah menatap seorang pemuda yang rupawan. Auranya memancarkan angkuh dan keras kepala. Sirat matanya seperti bertanya sesuatu, Amaris tersenyum.

“Karena setiap akan gerhana bulan kamu pasti langsung gelisah dan menjauh dariku.”

Wajah pemuda itu gelap untuk sesaat.

“Meski begitu, kamu tidak bisa benar-benar menjauh dariku. Kau selalu ada di dekatku tapi seakan takut bahkan untuk satu ruangan denganku.”

Suasana hening.

“Maaf.”

Hanya ada satu kata itu saja. Amaris tersenyum.

“Sudah kubilang. Kamu tidak perlu minta maaf, kan?”

Pemuda itu menatap Amaris dengan serius, “Kalau saja aku lebih cepat. Kalu saja aku punya kekuatan yang cukup, aku bisa-”

Ucapan itu terputus, Amaris telah memeluk pemuda itu. “Sudah cukup. Kamu tidak perlu menyesali apapun.” bisik Amaris.

Amaris menahan wajah pemuda itu, mereka saling berpandangan. “Lagipula kehidupan seperti ini juga sangat menyenangkan. Aku tidak perlu takut dengan raksasa apapun. Dan aku tidak perlu kesepian.”

Angin malam berhembus.

“Karena kamu akan selalu berada di sisiku, kan?” Amaris tersenyum lembut menatap si pemuda.

Sang pemuda menggenggam tangan Amaris dan berlutut, “Aku, Ulv, dewa dan pemimpin para serigala di dunia ini. Bersumpah untuk selalu berada di sisi sang rembulan.”

Ulv memandang Amaris, “Tak peduli berapa kalipun kau terlahir di dunia ini. Aku akan terus mencarimu dan menemanimu untuk menghadapi gerhana rembulan bersama dirimu.”

Amaris tersenyum dan menggenggam tangan Ulv. Matanya menatap langit. Sebentar lagi gerhana rembulan merah akan terjadi.

.

.

.

Raksasa tidak suka serigala mengganggunya saat ia memakan cahaya rembulan. Karena itulah sang raksasa berpikir dan menemukan suatu cara.

Ia menangkap rembulan pada siang hari, ketika rembulan sedang tertidur. Sulit untuk menatap rembulan pada siang hari, tapi akhirnya raksasa bisa menangkapnya. Ia memakan cahya rembulan. Tidak hanya itu, ia bahkan memakan daging dan meminum darah sang rembulan.

Saat malam tiba, rembulan tidak bersinar putih cemerlang seperti biasanya. Akan tetapi berwarna merah. Sang raksasa tertawa. Sang serigala meraung dan melolong. Darah rembulan menetes ke Bumi, dari tetesan darah itu lahirlah seorang gadis yang sangat mirip dengan putri rembulan.

Sang serigala melindungi sang gadis. Akan tetapi raksasa masih terus mengejar sang gadis untuk memakan cahaya rembulan yang tersisa. Karena sang gadis tidak punya kekuatan apapun, ia mudah tertangkap oleh raksasa. Rembulan kembali berwarna merah.

Dan setiap sang gadis tertangkap, sang serigala akan melolong sedih.

Sang gadis akan lahir setiap gerhana bulan merah.

Dan akan mati setiap gerhana bulan merah.

Dongeng yang sedih, ya?

END


A/N: Ya, seperti yang ditulis diatas. Ini buat challenge di IOCWP. Dan lagi-lagi entah cerita apa yang saya buat setengah hati karena terlalu males. Jadi sebenernya mau nulis kalau serigalanya itu seperti hewan peliharaan buat Amaris. Tapi kok rada gak enak ya, soalnya si Ulv itu kan selain serigala dia juga dewa. Jadi kalo dia sumpah untuk jadi hewan peliharaan Amaris supaya barengan terus…err… kayaknya nganu banget. Jadilah saya nulis biar si Ulv barengan sama Amaris aja, gak perlu nulis jadi hewan peliharaan 😛

Tapi Amaris hebat amat ya…hewan peliharannya dewa serigala 😀

Aside

Related image

Nggg~ Nnn~ Ngg~ Nnn~

Aku memandang ke atas. Aula gedung ini memiliki atap yang terbuka, membuat semua orang yang ada di dalamnya bisa memandang ke atas, atau permukaan perairan. Segerombolan paus sedang berenang di kejauhan atas sana. Mereka berenang beriringan. Sesekali cahaya rembulan bergoyang menyelinap menembus sela-sela paus, menghujam dasar laut. Ah, sungguh pemandangan yang indah sekaligus misterius.

Teknologi sudah semakin maju, karena itu manusia bisa menjelajah dan menempati berbagai pelosok dunia. Misalnya, di bawah laut ini. Dengan teknologi rekayasa genetika manusia dan kemajuan teknologi mesin lainnya, kami bisa tinggal di bawah laut tanpa takut tenggelam atau tidak bisa bernapas. Malahan kami bisa bernapas di dasar laut ini sama baiknya dengan mereka yang tinggal di daratan atas.

Aku masih menatap ke atas, memandang sosok paus yang berenang semakin lama semakin menjauh. Nyanyian paus tidak selalu terdengar di dasar laut, bahkan untuk kami sekalipun yang seumur hidup selalu tinggal di bawah air. Paus adalah makhluk yang pemalu, karena itu mendengarkan nyanyian paus sama seperti mendapatkan keberuntungan.

Aku memandang sekeliling, semua orang masih membicarakan nyanyian paus tadi. Tapi sedetik kemudian musik dansa mulai dimainkan dan mereka kembali berdansa. Aku memandang ke satu sudut yang sepi, seorang pemuda sedang berdiri sambil memandangku. Ah, akhirnya ketemu juga. Aku tersenyum padanya.

Sepertinya ia menyadari kalau aku memergokinya yang sedang memandangku, makanya ia langsung membuang muka. Aku tertawa kecil dan terus menatapnya. Ia sama persis dengan pemuda yang kulihat dalam mimpiku. Seorang pemuda yang terlihat canggung, tapi penuh dengan tekad. Ia akan terus berjuang meski dihadapkan dengan tantangan yang berat demi mencapai tujuannya. Sesaat hatiku sedikit sakit tapi buru-buru kutepis rasa itu.

Tak lama kemudian ia kembali menatapku lagi tapi terburu-buru membuang muka. Aku tersenyum dan mendatanginya. Ia tampak salah tingkah.

“Berdansalah denganku!” ajakku tiba-tiba.

Ia tampak terkejut tapi tidak berkata apa-apa. Aku tertawa kecil. “Biar kutebak. Kamu tidak mau berdansa denganku karena aku tidak cukup cantik?”

Dia tertawa. “Aku tidak bisa dansa.”

Aku memandang pakaiannya, seragam militer kerajaan Pacifista. “Tentara sepertimu tidak diajari berdansa? Lalu untuk apa kau datang ke pesta ini?”

Ia kembali tertawa kecil. “Aku hanya menjalankan tugas.”

“Humph. Sayang sekali, pemuda tampan sepertimu malah tidak bisa berdansa.”

“Ajak saja orang lain.” Ia berusaha memberi solusi.

“Tidak mau. Kau lebih tampan dari mereka semua.” Dan lagi alasanku yang utama adalah ingin ngobrol dengan pemuda yang muncul dalam mimpiku itu. Yang ditakdirkan untukku.

“Bagaimana kalau kita mengobrol saja?” ia memberi tawaran.

Aku pura-pura berpikir, “Tidak buruk juga mengobrol dengan orang tampan.” Ia menunjukkan senyumnya.

“Ngomong-ngomong, namaku Alex.” Ia memperkenalkan diri.

“Aku adalah Moirai.” Bukan nama yang asli sih tapi mungkin tidak apa-apa.

“Nama yang aneh.” komentarnya. Aku tertawa. Mau bagaimana lagi, itu kan bukan namaku yang sebenarnya?

“Jadi, untuk apa kau di sini?” Aku mulai berbasa-basi.

“Menjalankan tugas.” sahutnya singkat. “Kau sendiri?”

“Mencari pria tampan untuk diajak berdansa.” selorohku. Ia tertawa kecil. Yah, sebenarnya aku ingin mengobrol dengan pemuda ini sih. Tapi kalau aku bilang begitu semua alasanku dari awal harus diceritakan. Itu merepotkan.

“Jadi, bagaimana menurutmu acara tanda tangan ini?” Aku kembali ke topik.

Alex mengangkat alisnya, “Aku tidak menyangka gadis seumuranmu tertarik dengan politik? Kutebak umurmu , hmmm, 17 tahun?”

Aku tertawa, “Sebenarnya 18 tahun. Tapi kuanggap itu pujian.”

“Hanya salah satu tahun.” gumam Alex.

“Giliranku,” Aku memandang Alex yang balik menatapku. Bisa kulihat ia meiliki warna mata cokelat gelap. “Hmm, umurmu sekitar 25 tahun?”

Giliran Alex yang tertawa, “Sebenarnya umurku 23 tahun.”

“Hee, kau muda sekali untuk ukuran orang yang diundang ke acara penting seperti ini.”

“Kurasa kau yang lebih muda untuk bisa bergabung dalam acara formal ini. Apa kau seorang bangsawan atau tokoh penting lainnya?”

Aku menggigit lidahku, sepertinya aku sudah salah bicara. Seorang pelayan melintas dan menawari kue, aku mengambil satu.

“Lupakan saja. Aku tidak tertarik mendengarnya.” Alex menambahkan. Aku menghembuskan napas lega, tidak sadar kalau dari tadi aku terus menahannya.

“Kita mengobrol yang lain saja.” Alex setuju dengan ajakanku.

“Jadi menurutmu bagaimana acara tanda tangan ini?” Aku mengulang pertanyaanku.

“Kupikir kita mau mengobrol hal lain selain politik?” Alex tersenyum padaku.

“Sudahlah, jawab saja.”

Alex terdiam, tampak memikirkan sesuatu. Sebenarnya aku paham dengan maksudnya yang terdiam itu. Hanya saja aku ingin menanyakannya pendapatnya.

“Biar kutebak. Kau merasa tidak yakin dengan perjanjian kerja sama ini.”

Alex membulatkan matanya tapi ia berusaha tenang. Aku tersenyum misterius. Dari pandangan matanya aku tahu Alex bertanya-tanya mengapa aku seakan bisa membaca pikirannya.

“Tidak perlu berpikir terlalu keras untuk mengambil kesimpulan ini.” Mataku menatap para duta utusan yang saat ini sedang berbincang. “Dan yang pasti, banyak negara lain yang tidak setuju dengan keputusan ini.”

Sebuah kembang air meledak di atas gedung, memercikkan warna-warni yang cantik. Yah, kemajuan teknologi lainnya. Sebuah kembang air yang memiliki fungsi yang sama seperti kembang api di daratan atas.

Segerombolan ikan kecil berenang dengan cepat, menghasilkan arus yang lumayan kencang bagaikan angin bertiup. Aku melemparkan remahan kue milikku, beberapa diantara mereka berhenti untuk memakannya.

“Karena itu, selagi masih bisa dinikmati, lebih baik menikmati perdamaian yang ada saat ini.” gumamku.

Alex memandangku dengan heran. “Apa maksudmu?”

Aku tersenyum, “Bukan apa-apa, kok.” Aku menepukkan tanganku. “Kurasa sudah waktunya aku pulang.”

Alex tidak membantahku, aku menatapnya sekali lagi. “Kau bisa mulai bersiap-siap.”

“Bersiap untuk apa?”

Sebuah ledakan keras terdengar, hawa panas menyembur dan gedung dansa bergetar sebelum akhirnya mulai runtuh. Bom Karbon. Sebuah bom yang efektif di dasar air. Efeknya seperti bom biasa di dataran atas, hanya saja minus api.

Alex sempat menyembunyikan diriku di belakangnya, berusaha melindungiku dari efek ledakan. Ia terbatuk sesaat dan belum sempat bereaksi apapun. Aku berjinjit, mendekatkan bibirku ke telinganya, “Aku adalah Moirai.”

Ia menoleh ke arahku.

“Ingatlah, suatu saat kau akan memerlukan nama itu.”

Aku langsung berlari dalam buih air yang tebal, hasil dari ledakan sebelumnya.

.

.

.

Aku memandang hiruk pikuk gedung itu, para petugas sudah mulai melakukan evakuasi. Inilah awal mula dari segalanya.

Datanglah padaku, wahai yang ditakdirkan untuk membunuhku.

Buih air terus naik ke permukaan. Dan dari jauh dapat ku dengar suara nyanyian paus. Mungkin sebenarnya nyanyian paus bukanlah pembawa keberuntungan.

#End


A/N: Tamat dengan gaje…apalah ini enggak banget jelasnya. Terus mana keindahan dasar lautnya? Ah, kepala saya error gegera minum obat. Jadinya pikiran ng fly mulu.

 

The Fated One To Kill Me

Everything is Permitted

Tak ada satupun yang berani berteriak, semua orang yang ada di lapangan hanya berani berbisik-bisik. Wajah mereka pucat dan pandangan mata mereka cemas. Di hadapan mereka semua terdapat lima orang berdiri di panggung kayu, tepatnya empat orang pria dengan satu orang remaja. Di leher mereka terlilit tali tambang yang cukup tebal. Di depan panggung kayu itu berbaris tentara berseragam angkuh, memasang barikade dengan menggunakan tombak mereka.

Seorang pria tua dengan rambut dan janggut memutih menatap pemandangan itu dengan angkuh dari sebuah balkon. Satu tangannya mengangkat, semua orang mengarahkan atensi mereka ke tangan itu. Lima orang berdiri menggigil, tubuh mereka bergetar keras. Jari itu menjentik, menjadi sebuah pertanda. Seorang pria menarik sebuah tuas-

Jreggg!

-semua orang menarik napas, tercekat. Dalam sekejap lantai kayu itu menjeblak terbuka ke bawah dan lima orang itu tergantung dengan tambang terlilit di leher mereka. Mereka meronta sesaat dan akhirnya mati. Kematian yang lambat dan menyiksa.

Semua orang yang ada di sana terdiam. Tak berani berbisik-bisik, hanya mampun menggeram dalam hati. Mereka semua tahu, satu saja suara protes terdengar maka giliran leher merekalah yang akan terlilit tali tambang.

.

.

.

“Lihat, kan putriku? Begitulah caranya menghukum mereka yang menentang kita.” Pria tua itu menatap putrinya dengan tatapan tajam.

Sang gadis menutup matanya, wajahnya pucat. Perutnya mual dan kepalanya pusing. Ia tidak sanggup melihat eksekusi barusan.

“Apa kau paham?” kali ini sang ayah bertanya dengan suara yang berbahaya. Tak ada pilihan lain, sang gadis membuka matanya perlahan an menatap ayahnya dengan tatapan mata sedih. Mulutnya membuka dan menutup beberapa kali, tidak yakin harus berkata apa.

Semua itu salah! Ayahnya salah!

Para rakyatnya tidak bersalah. Apakah sebuah kesalahan kalau rakyat menuntut sesuatu dari Rajanya? Bukankah tugas seorang Raja adalah memastikan kebutuhan Rakyatnya terpenuhi? Lalu mengapa mereka berlima harus dibungkam selamanya hanya karena mereka mempertanyakan kepemerintahan sang Raja?

Sang putri menatap ayahnya dengan tatapan berkaca-kaca. Mata ayahnya berkilat tajam. Satu kata saja yang salah maka sang putri akan menemukan dirinya sendiri dengan tambang terlilit di lehernya. Dengan berat sang putri mengangguk.

Sang Raja menepuk pundak putrinya dengan lembut, “Suatu saat tahta ini akan menjadi milikmu, putriku. Ratu Fauziah. Tidakkah itu kedengaran bagus?”

Sang putri – yang bernama Fauziah hanya bisa mengangguk lemas. Napasnya sesak. Ayahnya, Sang Raja berlalu dengan wajah puas sementara Fauziah berbelok ke arah lain. Edward, pengawal pribadinya mengikuti dirinya dari jarak tertentu. Fauziah merasakan napasnya sesak dan langsung berlari menuju kamarnya. Air matanya tumpah.

Pintu kamarnya menjeblak terbuka, mengagetkan semua dayang yang ada di kamarnya.

“Tuan putri, ada a-”

“Keluar.”

“Tapi tuan putri, a-”

“Aku bilang keluar.”

Semua pelayan menunduk patuh dengan pandangan bertanya. Fauziah melemparkan diri ke tempat tidur bersamaan dengan dayang terakhir keluar dari kamarnya. Ia membenamkan wajahnya di bantal dan berteriak sekencangnya, menangis sekuat-kuatnya.

Ia merasa dirinya lemah. Ayahnya telah berbuat sewenang-wenang,  padahal ayahnya bukanlah seorang Raja. Pewaris tahta sesungguhnya adalah dirinya setelah ibunya meninggal. Akan tetapi ayahnya sengaja merebut tahta itu dengan alasan dirinya belum cukup umur untuk memerintah kerajaan sendiri. Oh, Fauziah kali ini benar-benar berharap ibunya tidak pernah meninggal. Atau umurnya sudah cukup untuk memerintah sendiri sesuai hukum yang berlaku.

“Kau masih menangis.”

Fauziah tidak perlu menengok untuk tahu siapa yang berbicara. “Aku merasa lemah.” Fauziah meringkuk di tempat tidurnya.

Edward mendekat dan berlutut di sisi tempat tidur, “Anda tidak lemah.”

Fauziah menggeleng, “Aku tidak bisa menghentikan ayahku. Aku tidak bisa menolong rakyatku sendiri. Aku tidak pantas menjadi seorang ratu.”

“Anda pantas menjadi seorang ratu.” Edward menatap Fauziah dengan serius. “Masalahnya adalah apakah anda mau mengotori tangan anda sendiri untuk menghentikan ayah anda?”

Fauziah mengubah posisinya menjadi duduk di atas kasurnya, matanya menatap Edward. “Apa maksudmu?”

“Menjadi seorang ratu tidak selalu menggunakan jalan yang lurus dan jujur.”

Fauziah terdiam sejenak, ia bukanlah gadis naif yang tidak tahu makna tersembunyi di balik perkataan Edward.

“Masalahnya adalah apakah anda bersedia mengotori tangan anda?”

Edward menatap Fauziah dengan tatapan yang tajam, seakan memastikan sesuatu. Fauziah terdiam beberapa lama akan tetapi Edward masih setia menunggu jawaban Fauziah.

Nothing is true-

-and Everything is permitted.[*]

Fauziah menatap Edward dengan pandangan cemas. “Tapi kupikir, ayahku-”

“Kami adalah sebuah ideologi. Dan ideologi tak akan pernah hancur meskipun semua orang yang menggenggamnya telah mati.”

Fauziah menatap Edward dengan tatapan yang tak bisa diartikan.

“Kami bersumpah untuk selalu setia pada ratu kerajaan ini, baik Ibu anda maupun anda sendiri.”

Angin bertiup lembut menerbangkan tirai kamar yang tipis.

“Pertanyaannya adalah apakah anda mau mengotori tangan anda?”

.

.

.

Sebuah pesta yang megah sedang berlangsung. Gelas-gelas tinggi berisi anggur dan berbagai minuman mahal lainnya terus diisi berulang kali. Para bangsawan tertawa-tawa dan saling menjilat, memastikan keamanan posisi diri.

Fauziah menatap semua itu dengan muak. Di saat rakyatnya sedang tercekik karena mereka tidak bisa makan, di sini para bangsawan bermewah-mewah dan seenaknya menghamburkan makanan. Mereka makan, memuntahkannya dan kemudian makan lagi. Memuakkan.

Fauziah menatap ayahnya yang bangkit dari kursinya, mengangkat gelas anggur.

“Malam ini mari kita makan dan minum sepuasnya.” Para bangsawan bertepuk tangan meriah.

Sang Raja mengangkat tangannya, “Lupakan semua yang ada di luar istana ini. Semoga kerajaan kita akan bertahan selama-lamanya!”

Fauziah ingin sekali memutar matanya. Kalau ayahnya terus memerintah dengan tangan besi seperti ini justru Fauziah akan heran kalau kerajaan ini masih akan bertahan setidaknya untuk satu tahun kedepan.

“Demi kerajaan kita.” Raja mengangkat gelasnya dan diikuti semua bangsawan, “Demi kerajaan kita.”

Sebelum mereka semua minum lampu mendadak mati. Suasana menjadi gelap gulita. Akan tetapi lampu padam hanya sesaat dan berikutnya ruang aula kembali terang benderang.

Akan tetapi pemandangan menjadi sangat mengerikan. Sang Raja terkapar di lantai dengan darah yang masih mengalir deras. Matanya terbuka dan ekspresi wajahnya terlihat ketakutan.

Suara teriakan terdengar dan para bangsawan mulai berlari keluar ruangan. Fauziah hanya terpaku menatap ayahnya, mengambil napas dan menghampiri jasad ayahnya yang tak bergerak lagi. Sang putri menatap sesaat ayahnya, menutup matanya sebelum akhirnya dipaksa ditarik oleh para pengawal istana untuk kembali ke kamarnya.

Di dalam kamarnya Fauziah berdiri merenung. Pengawal di tempatkan di depan kamar dan di bawah balkon kamarnya. Lagi pula kamarnya berada di lantai tiga, jadi seharusnya tidak ada yang bisa masuk ke kamarnya kan?

Akan tetapi sesosok yang tegap menyelinap masuk ke kamarnya tanpa terlihat oleh para pengawal yang ramai berjaga. Tubuhnya terbalut jubah berwarna gelap dan wajahnya ditutupi tudung. Ia muncul tanpa suara di belakang sang putri. Fauziah mengangkat wajahnya dan menatap sosok itu.

“Kau kah yang membunuh ayahku?”

Sosok itu membuka tudungnya dan menampilkan wajah Edward, pengawal sang putri. Ia berlutut di hadapan Fauziah. “Bukan aku yang melakukannya,” Edward menjawab dengan suara yang serak, “tapi kami.”

Tanpa dikomando muncul sosok-sosok lain berjubah gelap dan wajah ditutupi oleh tudung. Mereka melingkari Fauziah dan berlutut hormat, satu tangan di depan dada dan tangan lain diletakkan di belakang punggung.

“Kami bersumpah untuk selalu setia pada anda, Ratu Fauziah. Ratu kerajaan yang sah di kerajaan ini.”

Edward menatap Fauziah dengan serius, “Akan tetapi camkanlah! Jika anda mengkhianati kepercayaan kami dan rakyat, maka kami tidak akan segan membunuh anda.”

Fauziah menghela napas lelah. Para sosok berjubah gelap itu bangkit dan keluar satu persatu melalui balkon kamar sang putri. Bagaimana para prajurit yang seharusnya berjaga tidak menyadari kehadiran para sosok itu Fauziah tidak mengerti. Saat ini di kamar hanya ada Edward dan dirinya.

“Kalian telah membunuh ayahku, setelah ini kalian akan kemana?”

Edward memakai kembali tudungnya, menyembunyikan wajahnya. “Kami akan terus berlari.”

Fauziah mengerutkan alisnya.

Berlari. Berlari. Berlari. Selama malam masih ada aku akan terus berlari.”

Edward melooncat ke pegangan balkon dan menatap Fauziah. “Jaga dirimu, ratuku.”

Fauziah menangkap tangan Edward, “Apakah kau akan kembali padaku?”

Edward menatap Fauziah dengan lekat. “Saat matahari bersinar aku akan berada di sisimu, Ratuku.”

Fauziah melepaskan pegangannya pada Edward yang sudah berlari ke satu arah. Para prajurit mulai menyadari keberadaan mereka dan mulai saling berteriak dan mengejar. Fauziah menatap sosok yang berlari di atap-atap. Angin dingin bertiup lembut.

.

.

.

Edward menatap sang putri yang masih berdiri di balkon. Ia merapatkan jubahnya dan membenahi tudungnya.

“Dan saat malam tiba, aku akan kembali berlari. Karena kami adalah assassin.”

#END


Note:

[*] Ideologi yang dianut para anggota Assassin’s Creed yang juga diambil dari novel berjudul Alamut karangan Vladimir Bartol. Ideologi ini jadi dasar dalam dunia Assassin’s Creed.

A/N: Hadiah ulang tahun yang udah lewat buat Ratu Fauziah, member IOCWP. Selamat ulang tahun Ziah sekaligus nih cerita buat kadomu untuk lulus sidang dan sekalian ngelunasin utang challenge. Duh nih cerita sekalian-sekalian semua 😛 gak modal banget ya ngasih kado sekaligus semuanya :”)