Ada Satu Rasa

Screenshot_2016-08-04-15-34-28

“Begitu…,” Aladdin mendesah. Sesaat pemuda itu tersentak, tersadar akan sesuatu.

“Lalu kenapa kau menceritakan semua ini padaku?”

Aladdin menatap Sang Ratu Kerajaan Kou yang masih belia itu, akan tetapi Sang Ratu masih terus menatap ke depan, pandangan matanya tidak fokus. Gadis itu menghela napas sesaat.

“Entahlah, kupikir kau pasti akan mendengarkanku,” gumam Kougyoku tidak jelas, pandangannya masih mengarah ke depan. Keramaian yang berada di depannya masih bergembira, merayakan kabar gembira dan – terutama untuk Ka Koubun – mengeluh keras-keras betapa bahagianya Alibaba dan Morgiana.

“Yah, begitulah aku,” Kougyoku kembali bergumam tidak jelas, akan tetapi Aladdin mampu mendengarnya.

Sesaat degup jantung pemuda itu berdetak keras dan cepat. Aladdin terdiam, wajahnya berkerut. Ada apa dengan dirinya? Mengapa tiba-tiba saja jantungnya terasa aneh? Dan wajahnya, entah kenapa merasa agak panas hingga telinga. Cukup aneh juga padahal malam di kerajaan Kou ini cukup dingin, tetapi mengapa justru tubuhnya terasa panas?

Dan tanpa diduga, tanpa terpikirkan oleh rasional pikirannya, bibirnya telah berucap tanpa dipikir, “Apakah dibandingkan Alibaba, kau lebih menyukaiku?”

Sedetik kemudian pemuda itu tersadar dan menggigit bibirnya. Sungguh bodoh! Apa sih yang ia pikirkan hingga tiba-tiba saja berucap begitu? Oh tidak! Justru karena ia tidak memikirkan apapun makanya ia bertanya seperti itu! Perasaannya campur aduk dan detak jantungnya meningkat tajam. Keringat dingin mengalir di dahinya. Kenapa dirinya justru begitu gugup hanya untuk mendengarkan jawaban Kougyoku?

Kougyoku membulatkan matanya dan menatap Aladdin, wajahnya sesaat menyiratkan kebingungan. Akan tetapi Sang Ratu muda itu sepertinya terbiasa mengontrol emosi wajahnya. Karena sedetik kemudian Kougyoku malah memasang wajah tenang dan dewasa, tangannya memainkan rambutnya.

“Dasar anak kecil! Dengarkan saja dan jangan bersikap sombong!”

Normalnya Aladdin akan memasang wajah cemberut jika dipanggil anak kecil. Tapi tidak kali ini. Matanya terpaku pada gadis di sampingnya. Kougyoku saat mengatakan kalimat itu, entahlah, tapi gadis itu terlihat begitu cantik. Begitu bersinar. Aladdin mengabaikan kalimat apapun yang diucapkan oleh Kougyoku dan lebih fokus kepada apa yang dilihatnya.

“Sejak kapan Kougyoku terlihat begitu berbeda?” batin Aladdin. Pemuda itu sendiri juga tidak tahu, apa yang berbeda dari Kougyoku. Wajahnya masih sama sebelum ia pergi ke Dark Continent. Tatanan rambutnya juga masih sama.  Yang berbeda paling hanyalah pakaiannya karena sekarang Kougyoku adalah seorang Ratu dari Kerajaan Kou. Ah ya, dan ia tidak lagi memegang Djinn Vessel. Hanya itu.

Tapi mengapa? Mengapa Kougyoku terlihat begitu berbeda?

Kougyoku menjulurkan lidahnya, menggoda Aladdin. Akan tetapi pemuda itu tidak bereaksi apapun. Bahkan caranya mengejek Aladdin pun begitu memesona. Begitu manis. Padahal ia sedang memasang wajah jelek di depan Aladdin.

Kougyoku kembali mengalihkan pandangannya, menatap keramaian di depannya – yang sekarang beralih mengejek Ka Koubun karena masih jomblo sampai sekarang. Helaian rambut magenta miliknya melambai ringan di depan wajah Aladdin. Rasanya begitu lambat, Aladdin mengikuti arah gerak helaian rambut itu dengan bola matanya.

Rambut panjang magenta itu menyapu lantai, tepat di hadapannya.

Aladdin benar-benar tidak mengerti, mengapa helaian rambut gadis itu begitu menarik. Pada masa lalu mungkin Aladdin akan menarik rambut panjang itu, hingga Kougyoku memekik kesakitan dan mereka akan bertengkar seperti biasanya. Akan tetapi tidak kali ini. Ada rasa dimana Aladdin ingin menyentuh lembut rambut magenta itu, dan mungkin menghirupnya? Kira-kira bagaimana wangi rambut gadis itu? Sungguh, seorang Aladdin pun merasa penasaran.

Dan tiba-tiba saja tangannya telah bergerak sendiri, menggerakkan tongkat miliknya secara sembunyi-sembunyi untuk menyentuh rambut Kougyoku. Kougyoku masih menatap ke depan, terpukau dengan keramaian. Aladdin melirik Kougyoku, membiarkan tongkatnya mendekat sedikit demi sedikit, menuju helaian rambut Kougyoku yang menyapu lantai.

Sedikit. Sedikit lagi.

Aladdin rasanya tidak berani menyentuh rambut Kougyoku, aneh juga padahal dulu ia sering menarik rambut itu. Akan tetapi sekarang dirinya merasa begitu pengecut. Jikalau tangannya belum berani menyentuh rambut itu, setidaknya biarkanlah tongkat miliknya itu menyentuh rambut gadis itu.

Sedikit lagi. Sedikit lagi.

Ada rasa penasaran dalam diri Aladdin. Rasa bingung, berharap, khawatir, gugup semua itu bercampur menjadi satu. Ada satu rasa dalam dirinya. Dan Aladdin masih belum paham, apakah satu rasa itu.

Sedikit lagi-

“ALADDIN!”

Dan pemuda itu terkesiap, tongkatnya kembali dipeluknya, gerakannya terlihat salah tingkah, bagaikan seorang anak kecil yang ketahuan mencuri kue. Aladdin dan Morgiana menghampiri dirinya, tersenyum sumringah. Aladdin meracaukan sesuatu mengenai dirinya yang ingin pergi ke kerajaan lain dan Morgiana yang mengangguk setuju. Entahlah, Aladdin tidak begitu memperhatikan, sudut matanya mencuri pandang ke arah Kougyoku – yang sedang berbicara serius dengan Ka Koubun.

Ada sedikit rasa kecewa dalam diri Aladdin. Entahlah, dirinya kecewa karena apa? Karena Kougyoku yang perlahan berjalan menjauhi dirinya? Ataukah karena Aladdin dan Morgiana yang akan menikah dan meninggalkan dirinya? Ataukah karena dirinya yang gagal mengetahui seberapa halusnya rambut Kougyoku?

Aladdin menggeleng kecil.

Ada satu rasa dalam dirinya, dan semua itu muncul begitu saja saat ia bersama Kougyoku. Satu rasa dimana ia mampu merasakan kecewa, gugup, khawatir, bingung- sebutkan perasaan apapun yang kalian mau, dan ia hanya merasakan ini pada saat dirinya bersama Kougyoku. Satu rasa yang mampu membekukan logikanya, bahkan Solomon Wisdom sekalipun.

Satu rasa ini, bernama apa?


A/N: Dalam rangka merayakan chapter 315. Kemarin waktu baca 314 rasanya sedih karena AliKou gak jadi canon. Tapi pas baca 315, Masya Allah, langsung jejerit seneng. Oh my, mereka so sweet beud. Ohtaka sensei, please biarkan AlaKou jadi pair canon.

Aside

Tambahan Script SAO – English Version

Narrative

Gun Gale Online, a game based on VRMMO (Virtual Reality Massively Multiplayer Online) developed by ZASKAR company, a gaming company from America. This game is a virtual reality game where the situation is made as real as possible, and the players are able to fight each other by using a system of firearms taken from the real world.

In April 2025, the world technologies growing sophisticated including gaming technology. By using a tool called AmuSphere, players can freely enter the game world and control their body as real as the real world.

All of this initially happened when I and my friends stuck in an online game called Sword Art Online. We managed to stop the creator of the game, Kayaba Akihiko, and managed to get out of that horrible game.

Originally I thought I would live a quiet life as before, but …

PETUGAS : (bertopang dagu) is it possible if we shoot someone inside the game, they would also die in the real world?

KIRITO:  (wajah tegas dan serius) It’s impossible!

PETUGAS: Some players died in the real world while they are playing Gun Gale Online.

KIRITO: (wajah kaget, bingung dan hanya diam)

PETUGAS: I want you to investigate this case!

Japanese government can not do anything. The developer ZASKAR in America declined to give GGO gamer personal data based on players confidentiality. And this is where I belong. Together with SINON, a fellow players in GGO. I tried to investigate homicides that occur in online games and also in the real world.

Situasi gelap dengan latar belakang hitam, DEATHGUN mengangkat pistolnya dan mengacungkan senjata pistolnya ke kamera.

DEATHGUN: It’s Show Time (Suara tembakan pistol)

Kondisi layar berubah jadi garis-garis seperti TV kehilangan sambungan saluran kemudian gelap.

.

.

.

.

  1. INT. DALAM CAFÉ – SIANG

KIRITO:  (kedua tangan bertopang menutup mulut, menutup mata kemudian membuka matanya) That’s all!

ASUNA: (terkejut sesaat langsung berdiri menggebrak meja) No! What do you mean?!

Pengunjung cafe langsung melirik kearah mereka.

LISBETH: Hey hey, Asuna! You are too loud! (sambil melirik sekeliling)

ASUNA: (langsung duduk dan menunduk malu) So-sorry.  (matanya melirik kanan dan kiri tapi kepalanya tidak ditolehkan) KIRITO-kun! What do you mean by investigating it?

LISBETH: (menghela napas) I agree KIRITO-kun. We just escape from that horrible SAO. Why would you want to involve in a dangerous thing again? >> pas kata again ditekankan

KIRITO: (menghela napas dan meminum tehnya, meletakkan cangkir baru menjawab) I have a guess.

LISBETH dan ASUNA menunggu tapi KIRITO tidak melanjutkan.

ASUNA: And that is?

KIRITO: (terdiam, matanya menatap cangkir tehnya) I cannot tell you. Not yet.

LISBETH: (menghela napas tapi masih menatap KIRITO dan tidak mengatakan apapun).

ASUNA: (menghela napas, wajah menengadah keatas sambil menutup mata sesaat sebelum akhirnya menatap kembali KIRITO) Are you really sure?

KIRITO: (menatap ASUNA dan mengangguk pelan)

ASUNA: (terdiam ekspresi wajah tidak yakin sebelum akhirnya tersenyum lemah) One thing KIRITO-kun. Promise me that you must live and return to the real world.

LISBETH: Hey-hey ASUNA! How could you?

ASUNA: It’s useless, no matter what we say if KIRITO-kun has decided we can not change his mind. (Menoleh ke KIRITO dan tersenyum) Right?

KIRITO: (tersenyum dan mengangguk).

LISBETH: Hah! I cannot believe you two!

KIRITO dan ASUNA tersenyum menadangi LISBETH.

.

.

.

  1. INT. KAMAR TIDUR/RUMAH SAKIT – MALAM

KIRITO menatap AmuSpherenya sesaat. Tidur di tempat tidur dan mengaktifkan AmuSphere.

KIRITO: Link Starto!

.

.

.

KIRITO membuka matanya dan ia sudah ada di dalam dunia GGO. SINON ada disampingnya.

KIRITO: I am expecting you, SINON! (sambil tersenyum).

SINON: (menatap tajam KIRITO) Don’t you dare to die! (melangkah pergi membelakangi KIRITO)

KIRITO: (tersenyum memandangi punggung SINON)

.

  1. INT. CAFÉ – MALAM

ASUNA sedang duduk di café, terdiam. Tangannya mengenggam gelas minumannya dan matanya memandang gelasnya. Ekspresi wajahnya sedih.

LISBETH: I knew it! I thought you’d be here.

ASUNA: (menatap LISBETH yang sudah duduk dihadapannya) How do you know I was here, LIZ?

LISBETH: (duduk menyender) Well, even if you look understand KIRITO the most, but you are still worried about him right?

ASUNA: (hanya tersenyum terdiam)

LISBETH: Don’t worry. He is KIRITO, the strongest swordsman. He will be alright, so we have to trust him! (senyum menyemangati).

ASUNA: (memandang LISBETH sebelum akhirnya tersenyum dan mengangguk) Hmm.

Terdengar suara heboh, LISBETH dan ASUNA memandang ke kumpulan orang yang sedang menonton televisi Café. LISBETH dan ASUNA mendekati kumpulan tersebut.

TAMU 1: Great! I think that move can only be done in the movies!

TAMU 2:  Bullets versus swords! Incredible!

ASUNA dan LISBETH memandangi televisi yang sedang menyiarkan siaran turnamen Bullet of Bullets 3.

ASUNA: (wajah terkejut khawatir) KIRITO-kun!