Image

Agatha Christie: Sparkling Cyanide dan Elephants Can Remember

20170704_083841

Udah lama gak nulis mengenai rekomendasi buku. Apa kabar yang katanya mau target 30 buku di tahun 2017???

Jadi buku pertama kali ini adalah Agatha Christie. Judulny? Baca aja deh judul diatas!

Sparkling Cyanide: awal baca blurbnya jadi inget salah satu kasus di Kindaichi yang judulnya Sinterklas Janggut Merah. Tapi tau deh apakah beneran trik pembunuhan yang dipake di kasus itu diambil dari judul buku ini. Tau sendiri kan kalau komik detektif macem gini kan suka ngambil ide dari Agatha Christie atau Arthur Conan Doyle. Untuk cerita yang ini adalah cerita lepas ya yang artinya enggak ada detektif di cerita ini. Yang nyelesaiin kasus ini orang luar, jadi bukan Miss Marple atau Poirot atau pasangan suami istri T and T.

Elephants Can Remember: Kalau disini Hercule Poirot bersama temannya Mrs Ariadne Olliver mencoba mengungkap tragedi pembunuhan yang terjadi sekitar 15 tahun yang lalu. Kebayang sendiri kan gimana repotnya harus mengusut sebuah kasus? Apalagi kalau kasusnya ternyata udah terjadi puluhan tahun. Yah, tapi dengan kemampuan analisis Poirot yang sistematis seenggaknya dia bisa melihat kenyataan kasus yang terjadi 15 tahun lalu.

Target baca masih jauh. Semangat baca!

Advertisements

35 Sirah Shahabiyah: 35 Sahabat Wanita Rasullullah SAW Jilid 1

20170427_102006

Judul Asli : Shahabiyyaat Haul Ar-Rasuul saw

Penulis : Mahmud Al-Mishri

Penerjemah : Asep Sobari, Lc. dan Muhil Dhofir, Lc.

Tahun, Cetakan : Juni 2010, Cetakan Ketujuh

Penerbit : Al-I’tishom Cahaya Umat

ISBN : 979-3071-36-2


Sahabat-sahabat Nabi saw. adalah generasi terbaik sepanjang sejarah peradaban manusia setelah para Nabi dan Rasul. Demikian halnya dengan para sahabat wanita yang hidup bersama mereka. Setiap sahabat wanita ibarat kuntum bunga yang tumbuh di ladang Islam. Lalu, ketika awan berarak di atasnya dan menumpahkan air hujan, bunga yang bersih dan sarat dengan nilai takwa itu terus tumbuh subur dengan pupuk yang diperleh dari dua sumber yang bersih, yakni Al-Quran dan As-Sunnah. Maka, pada masa berikutnya, ia menebarkan semerbak keharumannya kepada seluruh pelosok alam raya dengan keharuman iman dan tauhid. Demikian halnya dengan pengorbanan dan kegigihan dalam membela akidahnya. Mereka mau mengorbankan segala yang dimiliki untuk kepentingan Islam dan tidak jerih dengan kezhaliman, siksaan, dan kematian yang harus dihadapinya.

Mari menuju oase yang subur dengan buah-buahan yang ranum untuk berjumpa dengan wanita-wanita yang tulus dan menghirup aroma ketulusan mereka. Mari kita teguk kesegaran air dan kita hirup keharuman kisah dari: 1. Khadijah binti Khuwailid ra., 2. Saudah binti Zam’ah ra., 3. ‘Aisyah binti Abu Bakar ra., 4. Hafshah binti Umar ra., 5. Zainab binti Khuzaimah ra., 6. Ummu Salamah ra., 7. Zainab binti Jahsy ra., 8. Juwairiyah binti Al-Harits ra., 9. Ramlah binti Abu Sufyan (Ummu Habibah) ra., 10. Shafiyyah binti Huyay ra., 11. Maimunah binti Al-Harits ra., 12. Fatimah binti Rasulullah saw., 13. Halimah As-Sa’diyah.


Sesuai judulnya, buku ini adalah jilid satu dari total dua jilid buku. Dalam buku ini dijelaskan sirah beserta peranan para sahabat wanita zaman Rasulullah saw. Jelasnya urutan 1 sampai 11 adalah peranan para istri nabi atau biasa kita kenal Ummul Mukminin dalam sejarah Islam. Untuk nomor 12 jelas itu adalah putri Rasulullah yang tercinta, Fatimah. Sementara untuk nomor 13 itu adalah ibu susuan Rasulullah.

Menuliskan sirah para sahabat wanita ini jelas tidak bisa mendetil sekali. Karena banyaknya jasa dan terbatasnya halaman kertas menjadi salah satu permasalahan penulis untuk menuliskan semua jasa mereka. Selain itu keterbatasan penulis untuk mengungkapkan keagungan dan harumnya jasa mereka juga menjadi salah satu kendala yang lain. Meskipun begitu kita sebagai pembaca masih bisa meneladani kisah mereka dan menjadi catatan terutama bagi wanita muslimah zaman ini yang kekurangan idola muslimah yang bisa diteladani.

Buku ini lumayan bagus dan saya rekomendasikan karena bahasanya yang mudah dipahami dan tidak bertele-tele. Penulis menuliskan isi buku dengan gaya bercerita disertai sub bab yang menarik dan jelas, membuat pembaca merasa ketagihan untuk terus membaca dan tidak mau menutup bukunya, setidaknya sebelum menyelesaikan satu sirah sahabat wanita. Banyak pelajaran dan kebijaksanaan yang dapat diambil dan diteladani, terutama bagi wanita muslimah yang sudah kebingungan harus bersikap seperti apa sebagai muslimah sejati.

Selain itu sumber yang digunakan juga mendetil dan dari berbagai sumber dengan status hadis yang jelas dan tidak meragukan.  Menjadikan buku ini mempunyai riwayat yang In shaa Allah jelas dan bisa dipertanggung jawabkan. Sebagai pembaca saya sangat menyenangi buku ini karena bisa memberikan gambaran kepada saya untuk menjadi muslimah yang tidak hanya cantik diluar, tetapi juga cantik di dalam serta memiliki sifat pemberani untuk membela Islam. Terutama dengan keadaan yang lumayan rusuh di negeriku ini, Indonesia.

Alice’s Adventures in Wonderland

20170427_101610

Author : Lewis Carroll

Year : 2015

Published : Macmillan Children’s Books

ISBN : 978-1-4472-7999-0

…suddenly a White Rabbit with pink eyes ran close by her.

So begin Lewis Carroll’s famous story, which has become one of the best-loved books ever written.

Alice’s adventures lead her down the rabbit-hole into Wonderland, where she meets an array of curious characters, including the Mad Hatter, the Mock Turtle and the grinning Cheshire-Cat.


Akhirnya setelah sekian lama nemu juga salah satu buku klasik ini di bazaar buku paling heboh, Big Bad Wolf 2017. Buku ini adalah salah satu dari sekian buku yang saya beli (baca: langsung beli tanpa ngelirik buku lain). Alasannya enggak lain karena ini adalah salah satu buku klasik yang harus saya punya!

Ceritanya sebenernya udah enggak aneh lagi, seorang gadis cilik bernama Alice yang sedang duduk di tepi sungai bersama kakak perempuannya di suatu hari yang panas di musim panas. Alice kecil merasa bosan menemani kakaknya yang sedang membaca buku yang berderet tulisan, tanpa gambar maupun tanpa percakapan. Nah, saat Alice ini lagi bosan dia melihat seekor kelinci putih menggunakan waistcoat dan melirik jam sakunya sambil mengeluh kalau ia terlambat untuk sesuatu. Alice kecil yang selalu merasa penasaran pun mengikuti si kelinci putih dan memulai petualangannya di wonderland.

Untuk baca buku ini sebenernya enggak perlu mikir sih. Tapi karena buku ini dalam versi bahasa inggris palingan mikir cuma buat ngartiin aja jalan cerita isi buku ini. Sisanya sih buat saya enggak perlu terlalu dipikirkan karena semua tokoh yang ada di buku ini beneran gila! Saking gilanya kita gak perlu susah payah untuk berpikir, cukup baca dengan tenang. Meski begitu bukan berarti buku ini enggak bisa ditelaah dan dibedah. Bisa sih, cuma saya gak bakal menjelaskan dan menjabarkan apa isi buku ini macam kritikus. Banyak web yang bisa ngejelasin hal itu dan tulisan saya ini bukan bermaksud untuk membedah buku Alice ini.

Balik lagi ke masalah karakter yang gila, semua karakter disini emang rada-rada. Misalnya aja Mad Hatter dan March Hare yang terus-terusan minum teh yang enggak selesa-selesai sejak beberapa minggu yang lalu gegara jam mereka berhenti di waktu untuk minum teh. Atau para tukang kebun yang ngecat mawar putih jadi merah gegara mereka salah tanam pohon mawar. Atau Alice yang harus ikutan lomba lari yang enggak selesai-selesai cuma untuk mengeringkan diri setelah kebanjiran. Atau ratu hati yang demen banget bentar-bentar perintah “penggal kepala dia!”.

Nah loh, Alice gadis kecil paling baru umur 6 atau 7 tahun menghadapi semua kegilaan itu gimana coba? Saking gilanya si Alice malah udah jadi terbiasa menghadapi semua kegilaan itu. Termasuk menghadapi Cheshire-Cat yang suka menghilang dan nyengir lebar.

Dannn…masih banyak lagi sih. Tapi cerita ini juga emang bukan rahasia karena seenggaknya pasti udah pernah denger dong endingnya. Yak, semua itu hanya mimpi! Cuma gue merasa puas sih bisa beli buku ini di BBW! Dengan ini perjalanan gue untuk mengoleksi classical pun resmi dimulai!

Btw, buku ini layak dibeli buat kalian yang juga tertarik sama classical dan baru mau belajar baca buku english version.

The Monogram Murders

20170327_133736

Judul : The Monogram Murders

Pengarang : Sophie Hannah based on Agatha Christie

Cetakan, Publisher: Sepuluh, Harper Collins Publisher

ISBN : 978 0 06 239475 0


Blurb

” I’m a dead woman, or I shall be soon…”

Hercule Poirot’s quiet supper in a London coffeehouse is interrupted when a young woman confides to him that she is about to be murdered. Though terrified, she begs Poirot not to find and punish her killer. Once she is dead, she insists, justice will have been done. Later that night, Poirot learns that three guests at a London hotel have been murdered, and a monogrammed cufflink has been placed in each one’s mouth. Could there been a connection with the frightened woman? While Poirot struggles to put together the bizarre pieces of the puzzle, the murderer prepares another hotel bedroom for a fourth victim.


Sebenernya nih buku punya adekku. Cuma karena dia udah males baca, dan aku juga lagi tergila-gila ngumpulin Agatha Christie, akhirnya nih buku jadi punyaku. Pertama kalinya baca buku genre mystery dalam bahasa Inggris. Walaupun enggak setiap katanya saya terjemahin dalam kepala, tapi seenggaknya saya bisa narik kesimpulan dari buku ini.

MENARIK

Yang nulis memang bukan Agatha Christie sih, tapi lumayan menarik bisa membaca petualangan mantan polisi Belgia dengan kepala bulat telur, Hercule Poirot. Kali ini Poirot yang ingin beristirahat dari kasus kembali dihadapkan dengan kasus pembunuhan yang cukup rumit dan penyelidikan mendalam. Tapi memang udah ciri khasnya Poirot, dia gak bkal capek-apek pergi jauh ke suatu tempat untuk mencari fakta, cukup memerintahkan seseorang dan Poirot akan mendapatkan berbagai fakta untuk membantunya memecahkan kasus pembunuhan.

Dalam cerita kali ini Poirot harus menyelesaikan kasus pembunuhan yang motifnya bermula beberapa tahun yang lalu di suatu daerah bukan London. Kali ini Poirot tidak ditemani Kapten Hasting melainkan ditemani oleh anggota Scotland Yard – Edward Catchpool. Bersama Catchpool, Poirot berusaha mencari fakta yang tersembunyi di balik adegan tiga pembunuhan di panggung hotel mewah London, yaitu Hotel Bloxham.

Secara alur cerita menurut saya buku ini lumayan menarik. Karena saya penggemar pemula Hercule Poirot mungkin saya tidak bisa membandingkannya dengan penulis aslinya, Agatha Christie. Lagipula ini adalah buku misteri pertama yang saya baca dengan bahasa Inggris, menyebabkan saya kurang bisa membandingkan antara penulisan Sophie Hannah dan karya asli Agatha Christie.

Cerita cukup menarik walau menurut saya alurnya cukup lama. Kemungkinan hal ini dikarenakan banyaknya pembunuhan yang terjadi sementara motif kasus berawal dari beberapa tahun yang lalu, menyebabkan semua karakter di buku ini harus menemui bermacam-macam karakter untuk sekedar mendapatkan fakta. Kebohongan yang dilapisi oleh kebohongan lainnya menyebabkan pembaca harus berpikir keras untuk sekedar memilah informasi apa saja yang harus dipercaya dan bagian mana saja yang harus dibuang, membuat kita seakan sebagai detektif yang ikut bergabung dengan petualangan Poirot.

Meski begitu untuk pembaca yang sekedar mencari bacaan menarik dengan genre misteri masih bisa membaca buku ini dan mendaptkan hiburan yang menantang.

Status

Displaying 20170313_120730.jpg

Untuk #DiariOWOP kali ini, buku yang memberikan pengaruh besar buat kehidupanku adalah buku ini… jeng..jeng…jeng… Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karyanya HAMKA.

Aku inget banget pertama kali baca buku ini pas SD dan itu masa-masanya aku kenal sama yang namanya sastra Indonesia. Jadi, dulu Bunda maksa aku baca buku-buku kayak gini. Alasannya apa cuma Bunda sama Allah aja yang tahu. Tapi pas habis baca buku ini…. langsung mewek. Sedih banget ceritanya.

Setelah baca buku ini langsung sih ngelirik buku sastra Indonesia yang lain atau buku novel lainnya. Tapi tetep aja, buku ini selalu jadi special number one in my heart. Bahkan saking spesialnya dulu di perpustakaan sekolah SD, buku ini bisa setiap sebulan sekali aku pinjem sampai guru perpustakaannya jengkel ngeliat aku yang selalu minjem buku ini sampai gelombang-gelombang gitu bukunya 😛

Pas waktu kuliah ternyata nemu bazaar buku dan ada buku ini. WOW! Sayang sih ini buku bajakan yang difotokopi, tapi bodo amat. Yang penting baca. Duh, maafkan aku ya penerbit Bulan Bintang 😦 nanti kalau nemu yang asli aku beli deh, asal jangan mahal-mahal. Saking senengnya sama nih buku spesial aku kasih cover plastik biar awet.

Lewat buku ini aku jadi belajar banyak mengenai adat minangkabau jaman dulu, agama bahkan tips memilih suami yang baik 😛 Jadi wajar kan kalau buku ini masuk dalam kategori buku yang mempengaruhi kehidupanku 😀

Jangan sampai terlintas dalam hatimu bahwa ada pula bahagia selain bahagia cinta. Kalau kau percaya ada pula satu kebahagiaan selain kebahagiaan cinta, celaka diri kau Dik! Kau menjatuhkan vonis kematian ke atas diri kau sendiri!


#DiariOWOP

#BukuYangMempengaruhiKehidupan

Hari Ke 3 di Semarang

Hari ke tiga~

Karena hari ini semua masyarakat di rumah mbak Dina kerja, sekolah dan kampus, walhasil kami jalan-jalan berdua doang, aku dan suami. Setelah sarapan dan ngegosip dikit sama mbak Dina akhirnya kami cus pergi.

20170130_104257

Sasaran pertama kami adalah Museum Satria Bhakti Mandala. Hehehe… inilah kami, kalau traveling mah gak suka yang kemana-mana, tapi demennya ke tempat-tempat bersejarah plus museum. Pas ke museum ini sempet bingung gegara pintu depan museum dikunci, akhirnya sama petugas parkir kami digiring ke pintu belakang museum. Oalah… pantesan aja pintunya dikunci, penjaga museumnya lagi ngasih tur buat anak-anak sekolah. Tapi toh gak masalah, kami jadi bisa jalan-jalan sendiri.

Suasana di museum itu gelap, serius deh! Malahan ada satu ruang yang full sama wayang yang kesannya gimana gitu. Saking ada aura gak enak akhirnya kami putusin untuk enggak masuk kesana. Dan malemnya kita tidur sambil ditemenin sama Rukyahan lewat hape 😀

Tapi museum itu emang lumayan bagus sih, terutama buat kamu yang penggemar sejarah. Disana kita jadi belajar ulang mengenai sejarah kemerdekaan baik yang post maupun yang pasca kemerdekaan. Bahkan di museumnya ada pojok khusus untuk buku-buku, yang kayaknya buku lama soalnya banyak debunya. Di museum ini juga dipajang miniatur G30S/PKI. Wahkalau ini salah satu tema favorit sejarah saya tuh. Bahkan di museum ini juga dipajang bendera palu arit dan tentara-tentara jaman dulu.

Museum ini ada dua lantai dan setiap lantainya ada banyak ruangan yang menceritakan berbagai sejarah perjuangan di Indonesia. Hmm, saya jadi makin merasakan betapa perjuangan dulu bener-bener penuh air mata dan darah. Jadi inget kata-kata presiden Soekarno, JAS MERAH yaitu Jangan Sekali Sekali Melupakan Sejarah. Siap Pak Soekarno! Insyaa Allah gak bakal ngelupain sejarah Indonesia asalkan museumnya dijaga dan dirawat oleh pemerintah.

20170130_104308

Selesai dari Museum, kita keluar dari area Museum dan foto di depan Tugu Muda Semarang. Tugu ini pas banget ada di depan museum jadinya gak perlu susah-susah buat foto. Setelah foto di Tugu Muda, kita nyebrang jalan dan voila… nyampai di gedung peninggalan Belanda yang dinamakan Lawang Sewu. Kalo kata Mbak Dina Lawang Sewu lebih cantik dilihat di malam hari, masalahnya kan kita pelancong, jadi lebih enak jalan siang hari.

Gedung Lawang Sewu bener-bener khas peninggalan Belanda. Pertama kali masuk kita langsung ngerasain segernya angin. Maklum, gedung belanda kan punya ciri khas langit-langit tinggi dan jendelanya gede-gede, jadi biar gak pakai AC tetep aja di dalam ruangan kerasa dingin.

Gedung Lawang Sewu ini masih kepunyaan PT Kereta Api Indonesia, makanya berbagai pernik yang sempet saya lihat di Museum Kereta Ambarawa juga bisa dilihat disini. Minus lokomotif kereta sih, tapi pernak-pernik kecil macemnya mesin pencetak tiket dan kalkulator ada disini.

Bangunan ini punya lima gedung yang enggak semuanya dibuka. Bahkan untuk gedung utama yang dibuka cuma sampai tangga yang menunjukkan kaca-kaca mozaiknya aja. Untuk lantai duanya sendiri ditutup dan orang umum dilarang masuk. Untuk Gedung kedua ada dua lantai yang full dibuka untuk umum dan sepertinya bisa disewa juga untuk pertemuan. Pas kami kesana ada yang lagi workshop tapi pas kami liat ternyata peserta WSnya orang kereta api juga. Entahlah kalau ruangan itu bisa disewa untuk umum atau enggak. Kami juga sempet pergi ke loteng di gedung dua, tapi berhubung banyak kelelawar disana kami cuma sekedar lihat-lihat aja dan langsung keluar.

Di gedung ketiga ada dua lantai dan yang dibuka cuma satu lantai. Di lantai satu diperlihatkan proses pemugaran Lawang Sewu dan pembaruan gedung. Disini juga diperlihatkan keramik lantai yang digunakan masa Belanda dan perbandingan keramik yang digunakan di masa kini. Kalau lantai duanya sih ketutup, tapi pas saya kesana ada orang kereta api yang lagi nyender di jendela. Mungkin lantai dua dijadiin kantor sama mereka. Sementara sisa dua gedungnya lagi kami enggak masuk karena sepertinya tertutup untuk umum. Mungkin digunakan sebagai kantor makanya orang umum gak boleh sembarangan masuk.

Capek banget jalan-jalan akhirnya kami istirahat dulu untuk selanjutnya kami jalan menyisiri Jalan Pandanaran. Disana adalah pusat oleh-oleh khas Semarang yang berjejer di satu jalan. Kami mampir untuk beli oleh-oleh di toko Juwana. Yang dibeli? Tentu aja bandeng presto yang enak banget. Sempet bingung waktu mau beli bandeng uuran apa disana. Kami pikir mau beli yang ukuran sedang, sayang lagi habis. Penjualnya nawarin mau yang ukuran kecil gak? Pas saya tanya ukuran kecil kayak gimana ditunjukkin sama penjualnya bandeng sepanjang lengan orang dewasa. Saya sama suami kaget, tapi kami putusin untuk beli yang seukuran itu. Pas ditanya sama Mbak Dina malah dibilang di Semarang ukuran segitu emang kecil, tapi kalau di Jakarta ukuran yang saya beli itu ukuran besar. Hmm, harus noted kalau Insyaa Allah ke Semarang lagi beli oleh-oleh bandeng presto.

Setelah beli oleh-oleh kami langsung cus pulang ke rumah Mbak Dina, packing sekaligus istirahat karena besok kereta kami berangkat jam enam pagi dan membawa kami balik ke Jakarta.

Menghabiskan malam yang terakhir kalinya di kamar tamu yang lumayan nyaman, sambil nonton tv kabel. Tidur setelah sebelumnya baca Quran dulu sambil ditemenin Rukyah lewat Hape. Pengalaman berlibur yang menyenangkan, walau mungkin emang enggak lama sih. Tapi lumayan worthedlah. Jadi pingin jalan-jalan lagi.

Selanjutnya Insyaa Allah traveling kemana lagi ya?

Hari Ke 2 di Semarang

Yeee…. hari kedua, diawali dengan….

Foto-foto di Studio Photo

Hah? Apa? Gak salah?

Iyeee…kagak salah. Wong kita yang travel juga panik dibawa sama Mbak Dina dan suami ke foto studio. Iyalah, rencana jalan-jalan ke Semarang mah mau traveling, mana ada kepikiran mau foto studio? Kalo selfie mah ini emang wajib, tapi gak kepikiran sampai foto resmi toh?

Tapi sayang seribu sayang, kita dibawa juga ke foto studio, namanya Jonas. Bukan maksudnya promosi loh… cuma menceritakan pengalaman doang. Berbekal baju seadanya plus sepatu kets, kita mejeng sana-sini di depan kamera. Huhuhu… berasa salah kostum, padahal Mbak Dina sekeluarga pada pake baju batik semua.

20170129_104518

Selesai foto-foto, kami dibawa mampir ke gedung BPK Semarang. Maklum, karena suaminya Mbak Dina kerja disana walhasil mampir dulu. Kantornya ada diatas bukit jadi anginnya lumayan kenceng, bahkan sesekali hampir nyibak jilbab saya. Dan disana kita udah kayak inspeksi kantor aja, mana ketahuan lagi ada satpam yang mangkir kerja gak bilang-bilang. Alhasil kami kejebak dulu di kantor BPK gegara suaminya mbak Dina marah-marah dulu 😛

Selanjutnya kami dibawa ke museum kereta api di daerah Ambarawa. Pas datang kesana udah rame dan tiket untuk kereta wisatanya udah habis untuk semua jam. Yah, belum rejeki sih. Tapi lumayanlah bisa lihat sana-sini.

Museum ini sebenernya lebih tepat stasiun kereta api yang udah gak dipakai lagi dan disana ditaruh berbagai lokomotif kereta. Mulai dari jenis lokomotif kereta batu bara samapi uap masih ada disini. Mulai yang dari kecepatannya masih 45 Km/jam sampai yang udah 100 Km/jam. Jadi bisa ngebayangin gimana lamanya ntuh kereta sampai ke tempat tujuan, pegel plus capek banget kali ya penumpangnya.

Di museum ini juga diperlihatkan berbagai macam kelengkapan kereta api pada jaman dulu, misalnya tiket, sinyal kereta dll. Bahkan disini juga diperlihatkan mesin pencetak tiket jaman dahulu beserta kalkulatornya. Gede banget. Sampai bercanda kalau kalkulator masih segeda gitu niscaya anak sekolah pada males bawa kalkulator.

Pulang dari Ambarawa udah waktunya makan siang, jadinya kami mampir di warung makan yang rame. Dan aku lupa buat fotoin ntuh warung makan.Duh…dodol banget deh, saking lapernya sampai lupa foto-foto warung makan itu. Yang pasti sambelnya enak banget. Pedesnya mantep.

Setelah makan kami mampir ke pelabuhan Tanjung Emas Semarang. Enggak ngapa-ngapain sih, cuma lihat-lihat kapal yang lagi berlabuh aja. Jujur ini pertama kalinya saya ngedeketin kapal yang lagi ditambat, sensasi gedenya kapal itu ajaib banget. Belum angin laut yang dingin niup para pendatang pelabuhan, seger banget. Cuma sayangnya pelabuhan ini enggak terlalu bersih sih airnya. Entah faktor sampah atau memang banyaknya kapal yang lalu-lalang. Atau mungkin juga faktor pelabuhan ini bukan salah satu destinasi wisata Semarang? Entahlah. Cukup disayangkan sebenernya pelabuhan ini gak terlalu dirawat untuk tujuan wisata.

Karena para masyarakat udah teriak kecapekan akhirnya kami pulang deh ke rumah. Lagian besok juga hari Senin, kasihan yang ada kegiatan sekolah, kerja dan kampus. Akhirnya kami pulang ke rumah buat bobo cantik. Apalagi saya udah mulai pilek. Menyebalkan!

Besok hari ketiga jalan-jalan lagi~