IMG_20180908_100725

Judul Terjemahan: Absolute Justice

Judul Asli: Zettai Seigi

Penulis: Akiyoshi Rikako

Penerjemah: Nurul Maulidia

Penerbit: Penerbit Haru

Cetakan: Kedua, Juli 2018

Dimensi Buku: 268 halaman, 19 cm

ISBN: 978-602-51860-1-1


BLURB BUKU

Seharusnya monster itu sudah mati…

 


REVIEW BUKU

Blurb bukunya singkat… Cuma satu kalimat itu aja. Otomatis saya langsung penasaran kan, gimana sih ceritanya?

Memang mungkin salah saya juga kali ya… pasang harapan cukup tinggi dengan judul buku ini. Otomatis buth sekitar satu bulan untuk saya meneyelesaikan baca buku ini. Itu juga diulang dulu dari awal untuk refresh memory.

Kasus di buku ini lumayan Ok sih, menurut saya genre buku ini masuk misteri dan psikologi. Misteri karena seperti karya Akiyoshi-sensei yang biasa, ada kasus pembunuhan walau di awal kita juga udah dikasih jawabannya siapa yang korban dan siapa yang pelaku. Psikologi karena menurut saya subjek yang dibicarakan di novel ini memang rada sakit jiwa. Oh iya, buku ini diceritakan melalui empat sudut orang yang berbeda yang menceritakan pengalaman mereka dengan korban terbunuh. Karena itulah saya sebagai pembaca juga bisa merasakan apa yang dialami oleh masing-masing POV ini.

Seperti biasa, Akiyoshi-sensei emang paling jago untuk menggiring pembacanya merasakan hal yang sama dengan para karakternya.

Terus kenapa saya bacanya bisa lama banget?

Pertama, mungkin karena saya terlalu terbawa dengan alur POVnya sehingga merasa gak nyaman dengan karakter dan nilai-nilai yang dianut oleh si korban. Akhirnya fatal, saya malah jadi males baca. Itu juga saya paksain baca karena pingin beli buku bacaan baru. Dan dengan prinsip gak boleh beli buku baru kalau buku yang lama belum selesai dibaca, akhirnya saya makasain diri untuk baca. Meskipun harus pause untuk beberapa saat untuk menjaga pikiran saya tetap waras.

Kedua, ekspektasi saya ketinggian. Walaupun untuk karya Akiyoshi-sensei tetap bagi saya yang terbaik adalah The Girl In The Dark dan Holy Mother walaupun untunglah ekspektasi saya gak setinggi ini. Tapi secara gak sadar saya pasang ekspektasi sesuai Scheduled Suicide Day yang merupakan rating kedua. Eh… tak tahunya ternyata buku ini – menurut saya – selevel dengan The Dead Returns dan Silence yang menempati rating paling rendah dalam daftar Akiyoshi Rikako milik saya. Akibatnya bisa ditebak, kecewa datang duluan sehingga bikin malas baca.

Walaupun saya bilang buku ini tidak sesuai ekspektasi saya, tapi untuk pembaca yang memang gak mau mikir dan cuma mau baca saja buku ini layak konsumsi. Tentu saja harus dijaga agar pikiran anda tetap waras karena takutnya kebawa alur cerita. Itulah sebabnya say abaca buku ini rada lama, untuk menjaga kewarasan pikiran saya 😛

Selain itu tema psikologi yang diangkat juga lumayan ok. Judul Absolute Justice memang sesuai dengan isi ceritanya. Membuat saya mengacungi jempol pada Akiyoshi-sensei yang bisa-bisanya kepikiran ide cerita seperti ini. Membuat saya memikirkan kembali apakah selama ini saya sudah berusaha mematuhi nilai-nilai aturan beragama dan bernegara? Atau apakah saya masih tipe orang yang ah cuma sedikit gak bakal dosa?

Advertisements

IMG_20180908_100831

Judul Terjemahan: Credit Roll Of The Fool

Judul Asli: Gusha No End Roll

Penulis: Honobu Yonezawa

Penerjemah: Faira Ammadea

Penerbit: Penerbit Haru

Cetakan: Pertama, April 2018

Dimensi Buku: 260 halaman, 19 cm

ISBN: 978-602-6383-50-1


BLURB BUKU

Oreki Hotaro lagi-lagi terseret oleh rasa ingin tahu Chitanda Eru. Melawan keinginannya, kali ini Hotaro harus menebak penyelesaian scenario naskah film misteri kelas 2-F yang akan ditayangkan saat Festival Kanya nanti.

Seorang siswa terjebak dalam kamar tertutup bangunan terbengkalai, mati setelah tangannya terpotong. Namun, siapa yang membunuh? Bagaimana caranya? Film itu selesai begitu saja tanpa penjelasan. Hotaro-lah yang bertugas untuk menebak siapa dan bagaimana trik pembunuhan itu dilakukan.

Namun, hanya itukah masalahnya? Atau ada sesuatu yang lebih besar dari sekedar menyelesaikan skenario film?


REVIEW SAYA

Walaupun sudah menonton animenya – dan otomatis sudah tahu jalan ceritanya – saya masih menikmati membaca buku ini. Apalagi dalam cerita kali ini entah kenapa saya merasa Hotaro agak lebih banyak menceritakan pemikirannya dibanding di buku satu (apa ada yang merasa sama dengan saya?)

Kalau di buku satu Hotaro masih terlihat kalem dan hemat energi, di buku kedua ini Hotaro makin vocal menceritakan pemikirannya walau hanya sebatas pemikirannya sendiri dan belum diucapkan kepada karakter buku lainnya. Tetap, sifat hemat energinya masih ada.

Chitanda Eru memang mengerikan 😛

Di buku  kedua ini walaupun yang diminta tolong oleh kelas 2-F untuk memecahkan misteri ini, tetap saja yang akhirnya dilimpahi tanggung jawab adalah Hotaro. Meskipun merasa malas dan dengan alasan hemat energi, namun dengan dorongan semua kawannya di Klub Literatur Klasik dan permintaan khusus dari Irisu Fuyumi kelas 2-F, mau tidak mau Hotaro harus mengorbankan waktunya yang berharga untuk memecahkan misteri.

Di sini saya sangat menikmati dimana Hotaro mulai menarasikan pemikirannya mengenai berbagai macam kemungkinan pemecahan misteri, penilaiannya mengenai karakter seseorang dan komentar Hotaro mengenai pembicaraan atau sikap orang lain.

Kalau di animenya mungkin dialog pikiran Hotaro tidak terlalu jelas, atau mungkin sedikit dark Tapi di dalam buku dialog pikiran Hotaro cukup deskriptif, bahkan bersifat komedi membuat saya bisa membaca berulang kali karena terlalu lucu bahkan menghibur.

Yah, tidak akan berpanjang lebar. Bagi yang sudah membaca buku maupun menonton animenya pasti pahamlah maksud saya. Lagipula misteri yang ada di buku ini tidak terlalu rumit, sehingga bisa dijadikan bacaan ringan untuk santai. Buku ini juga bisa dibaca tanpa edisi Hyouka yang sebelumnya, tapi tentu saja pembaca jadi kehilangan gambaran seperti apakah karakter yang ada di buku kali ini, mengingat karakter literature klasik dijelaskan pada buku pertama.

Overall¸buku ini sangat menarik. Akan saya baca lagi di kala senggang saat tidak ada buku baru yang harus dibaca.

 

The Lord of The Rings

IMG_20180525_134140

Judul Asli: The Lord of The Rings: The Fellowship of The Ring

Pengarang: J.R.R. Tolkien

Alih Bahasa: Gita Yuliani K

Penerbit: Gramedia

Cetakan: Ketiga belas, Agustus 2016

Dimensi Buku: 512 halaman; 23 cm

ISBN: 978-602-03-3226-0


Blurb Buku

Di sebuah desa yang tenang di Shire, seorang hobbit muda bernama Frodo Baggins mendapat warisan cincin bertuah yang menyimpan kekuatan dahsyat. Agar cincin utama itu tidak jatuh ke tangan Sauron yang jahat, Frodo mesti mengadakan perjalanan panjang dan penuh bahaya ke gunung api di Mordor, untuk memusnahkan cincin tersebut. Bersama kedelapan sahabatnya, ia berangkat. Dipimpin oleh Gandalf sang penyihir, kesembilan pembawa cincin itu memulai perjalanan. Tapi Sauron dan anak buahnya tidak tinggal diam.


Review Saya

Awal dulu tahu mengenai trilogi ini cuma dari film. Tapi karena waktu itu seri LOTR ini barengan beken dengan seri Harry Potter, jadilah saya lebih suka dengan Harry Potter. Habis dulu waktu nonton filmnya kayaknya berat banget dan gak paham siapa-siapa aja tokoh di LOTR ini. Tapi satu yang saya tahu, Legolas itu ganteng XD

Dan baru tahun inilah saya mulai tertarik untuk memahami LOTR dengan cara membaca bukunya, dan benar dugaan saya. Kalau belum baca bukunya memang agak susah langsung paham ke filmnya. Apalagi LOTR Universe sangat luas dengan banyak kerajaan terbentang dari Shire, Hobbiton ke Gunung Api Mordor. Wajarlah jaman saya kecil dulu yang mana belum baca bukunya bakal pusing mengenai alur ceritanya.

Karena seri ini adalah seri perjalanan maha panjang yang menempuh beratus-ratus mil dengan jarak league demi league makanya di bukunya dilampirkan peta Middle-Earth agar kita bisa memahami betapa jauhnya perjalanan ini.

IMG_20180525_134242
Salah satu peta daerah Middle-Earth LOTR

Dan setelah dewasa ini baru saya juga memahami LOTR ini hampir mirip dengan seri Narnia. Dalam cerita ini ada analogi ataupun terinspirasi dari Bible. Seperti misalnya karakter Galadriel yang terinspirasi dari Bunda Maria. Yah, karena saya bukan pakar teologi jadi lebih baik yang ini saya skip saja.

Buku ini sebenarnya bercerita mengenai awal mula perjalanan Frodo untuk menghancurkan cincin pusaka ini ke gunung api yang ada di Mordor. Di buku ini juga diceritakan awal mula terbentuknya fellowship of the ring.

Nah, kenapa juga Frodo yang notabene cuma seorang hobbit yang diserahin tugas ini?

Itu karena yang paling bijak sekalipun semacam Elf maupun wizard macam Gandalf terlalu takut dengan kekuatan cincin itu. Selain memberikan kekuatan, cincin ini juga menarik hasrat pemakainya kepada kekuatan dan kekuasaan.

Di buku ini selain menceritakan kawanan sembilan yang melakukan petualangan, penjabaran perjalanan Frodo dan kawan-kawan dalam melintasi daratan kerajaan sangat luar biasa. Membuat saya berpikir apakah Bapak Tolkien bikin peta dulu baru ditulis ceritanya?

Kalau mau dibandingkan dengan buku The Hobbit pembahasan buku seri ini lebih serius dibanding buku Hobbit. Karena buku ini sasarannya adalah pembaca dewasa, sedangkan Hobbit memang sasaran untuk anak-anak.

Kalau di buku Hobbit masih diceritakan kelucuan Bilbo Baggins dan kawan-kawan kurcacinya, di buku ini semuanya bersifat serius. Hal ini dikarenakan situasi dunia dalam buku ini penuh dengan bahaya dan peperangan. Kalaupun ada yang bersifat tenang itu juga hanya sedikit, hanya sebagai tempat persinggahan perjalanan mereka.

Seri buku ini diakhiri dengan berpisahnya Frodo dan Sam dengan kawanan pembawa cincin yang lain. Karena Frodo sudah memahami betapa berbahayanya perjalanan mereka dan berbahayanya kekuatan cincin yang dibawa olehnya.

Setting akhir kisah buku ini berada di daerah Air Terjun Rauros. Frodo dan Sam berjalan ke arah timur ke daerah Emyn Muil menuju Mordor. Sementara Aragorn, Legolas dan Gimli berjalan ke arah barat menuju kerajaan Rohan.

Dan belum! Boromir belum mati di buku satu ini. Meskipun Gandalf sudah jatuh di tambang Moria.

The Hobbit

Image result for buku the hobbit

Judul Asli: The Hobbit atau Pergi Dan Kembali

Pengarang: J.R.R. Tolkien

Alih Bahasa: A. Adiwiyoto

Penerbit: Gramedia

Cetakan: Ketiga, Mei 2002

Dimensi Buku: 352 halaman; 23 cm

ISBN: 979 686 767 2


Blurb Buku

Gara-gara Gandalf, Bilbo jadi terlibat petualangan menegangkan. Tiga belas kurcaci mendatangi rumahnya dengan mendadak, karena mengira ia seorang pencuri berpengalaman, seperti kata Gandalf. Terpaksa ia bergabung dalam petualangan mereka: mengadakan perjalanan panjang dan berbahaya untuk mencari Smaug, naga jahat yang telah merampas harta kaum kurcaci di masa lampau.

Dalam perjalanan, rombongannya dihadang pasukan goblin. Saat melarikan diri dari kejaran mereka, Bilbo tersesat ke gua Gollum dan menemukan cincin yang bisa membuatnya tidak kelihatan. Cincin ini sangat membantunya ketika menghadapi Smaug, juga dalam perang besar yang berkobar kemudian, antara kelompok Peri, Manusia, dan Kurcaci melawan pasukan goblin dan Warg.


Komentar Saya

Padahal yang namanya LOTR sama Hobbit dan seri Tolkien yang lain sudah booming samaan dengan jaman Harry Potter, tapi waktu bocah dulu saya masih belum ngerti dan lebih kepincut sama Harry Potter dibandingkan buku ini.

Nah, di tahun inilah – which is umur saya udah 28 tahun – barulah merasa tertarik dan pingin tahu gimana sih sebenarnya cerita buku ini. Berawal dari nonton film The Hobbit – gak usah cerita mengenai LOTR ya, padahal awalnya semua dari situ tapi nanti saya ceritain pas lagi bahas buku LOTR. Suami bawa film-film baru dan diantaranya adalah dua seri dari tiga film Hobbit. Karena penasaran banget bagaimana nasib ending film itu – dan gak tahu juga kapan bisa dapet film Hobbit Battle of Five Armies – akhirnya saya beli aja bukunya.

Yang mana saya juga sudah tahu, Buku itu beda dengan film!

Dan, ternyata beda banget sama filmnya. Gak nyesel juga sih belinya. Saya pribadi lebih asyik baca bukunya sih, lebih masuk akal, walau ini juga genre fantasy. Maksud saya masuk akal adalah karakter yang di buku lebih asyik aja dan kita lebih bisa ngikutin dibanding yang di film yang lebih dramatis dan bertabur action yang menurut saya sebenarnya gak perlu dilebay-lebay kan.

Dalam buku ini karakter Bilbo Baggins dijelaskan juga walaupun dia suka bertualang kadang dia juga suka nyesel dan berandai-andai, andai aja dia gak ikut petulangan ini. Yang menurut saya wajar. Wong biasa selalu hidup santai dan tahu-tahu bertualang sampai susah istirahat dan terlambat makan malam wajar karakter Bilbo Baggins ini suka berandai dia gak ikutan petualangan.

Tapi meski dia suka berandai gak ikut petualangan, Bilbo ini cukup cerdik sehingga sering mengeluarkan para tim petualang dari kesulitan yang tidak diduga. Saya pribadi malahan senang saat bagian Bilbo bermain teka teki dengan Gollum supaya dia tidak dimakan. Lumayan menambah khazanah teka teki.

Dan yang paling bikin saya gregetan adalah kaum kurcaci. Adaaaaaaa aja yang dikeluhin ke mereka mengenai Bilbo. Padahal mah lebih dari sekali Bilbo mengeluarkan mereka semua dari situasi yang tidak menyenangkan tapi emang dasar perhitungan, kadang ada aja yang mereka keluhin mengenai Bilbo dan petualangan yang mereka alamin.

Sampai saya suka gemes, lah yang bikin petualangan kan kalian! Kenapa pada ngeluh dan gak mau susah sih? Kalau gak mau susah mah gak usah bikin petualangan! Dan jangan nyuruh Bilbo mulu untuk tugas yang gak enak!

KESEL!

Overall, ini buku yang bagus sih. Kalau kata saya cocok buat cerita anak-anak. Maksudnya ceritanya gak terlalu berat gitu dan fantasi banget. Wkwkwk kalau fantasi mah kesenangan saya.

Selain itu buku ini juga dilengkapi dengan peta perjalanan Bilbo dkk menuju Gunung Sunyi. Di halaman depan juga ada huruf rune yang saya juga gak tahu bacanya XD jadinya saya bisa lah ngebayangin bagaimana jauhnya perjalanan Bilbo dkk dan membayangkan bahasa yang mereka gunakan, walau saya juga gak paham artinya 😛

Hyouka

IMG_20180416_140544

Judul: Hyouka

Pengarang: Yonezawa Honbu

Penerjemah: Andry Setiawan

Penerbit: Penerbit Haru

Cetakan: Pertama, Desember 2017

Dimensi Buku: 244 Halaman, 19 cm

ISBN: 978-602-6383-39-6


Blurb Buku

Kalau kita menyelidikinya, mungkin akan terjadi hal-hal yang tidak baik.

Oreki Hotaro adalah pemuda hemat energi. Mottonya adalah, “Kalau tidak butuh dikerjakan, lebih baik tidak dikerjakan. Kalau harus dikerjakan, sebisanya saja.”

Hanya saja, semua itu berubah saat dia terpaksa bergabung dengan Klub Sastra Klasik. Chitanda Eru – gadis dengan rasa penasaran yang tinggi – mengubah hari-hari Hotaro, dan dia harus memecahkan misteri demi misteri yang terjadi di sekitar mereka.

Gara-gara Chitanda, mereka dihadapkan pada kasus 33 tahun yang lalu. Hanya saja petunjuk mereka hanyalah sebuah antologi berjudul Hyouka.


Komentar Saya

Awalnya sempet ragu juga mau beli buku ini atau enggak. Secara saya udah nonton anime nya duluan sementara wishlist buku yang pingin saya beli masih banyak. Setelah ragu selama sebulan, akhirnya saya memutuskan utnuk beli. Dengan niat sekedar untuk koleksi.

Seharusnya saya belajar dari pengalaman, buku yang diangkat jadi anime atau film tetap saja beda. Makanya saya sekarang legas udah beli buku ini. Kesan antara baca dan nonton memang beda sih. Tidak menyesal juga udah beli buku ini.

Walau saya pribadi juga sudah tahu bagaimana alur cerita untuk seri kali ini (Hyouka ada 6 seri, semoga diterbitkan semua oleh Penerbit Haru) tapi ternyata saya masih bisa menikmati alur ceritanya. Apalagi ternyata karakter dalam novel ini sedikit berbeda dengan yang di anime.

Misalnya karakter Hotaro yang di anime nya benar-benar digambarkan datar banget. Tapi di novelnya Hotaro juga bisa menunjukkan ekspresi tertawa,

“Tentu saja aku benar.” Aku tertawa. Satoshi pun tertawa. (Bab 2 Hal. 33)

dan sebagai narator Hotaro juga menampilkan sarkas yang lebih kentara dibanding di anime nya:

“Apa Klub Sastra Klasik dilarang melakukan kegiatan?” (Bab 2 Hal. 24)

Selain itu karakter Chitanda Eru juga digambarkan sangat, sangat, sangat polos:

Namun, Chitanda yang memiliki daya ingat super tinggi dan intuisi super rendah ini, sudah hendak mengundurkan diri. (Bab 5 Hal. 116)

Dan di novel ini akhirnya saya tahu, orang semacam apa Fukube Satoshi ini:

“Bagi Satoshi, hal yang penting hanyalah hal-hal yang dia sendiri anggap penting. Aku menganggap cara pikirnya kurang ajar.” (Bab 5 Hal. 100)

Sementara Ibara Mayaka digambarkan sebagai:

“Intinya, Ibara sedikit terlalu memperhatikan hal yang aneh. Mungkin bisa kusebut perfeksionis.” (Bab 5 Hal. 100)

Jujur saja, saya juga kaget ternyata saya bisa hanyut dengan alur ceritanya, padahal saya sudah tahu kemana cerita ini akan mengarah. Tapi gaya bahasa buku ini bisa membuat saya mengimaginasikan sendiri alur ceritanya, walau ngebayangin pakai karakter anime sih 😛

Intinya, buku ini rekomen untuk kalian yang menyukai genre misteri yang tidak terlalu berat. Berlatar kehidupan SMA yang biasa tapi dibalut dengan misteri yang biasa terjadi di sekeliling kita.

Related image
Setiap inget Hyouka entah kenapa selalu inget OST Hyouka Classical Cello No. 1

Gadis Pantai

IMG_20180416_140628

Judul: Gadis Pantai

Pengarang: Pramoedya Ananta Toer

Penerbit: Lentera Dipantara

Cetakan: Cetakan 7, September 2011

Dimensi Buku: 272 Halaman, 13×20 cm

ISBN: 979-97312-8-5


Blurb Buku

“Mengerikan bapak, mengerikan kehidupan priyayi ini… Ah, tidak, aku tak suka pada priyayi. Gedung-gedungnya yang berdinding batu itu neraka. Neraka. Neraka tanpa perasaan.” —Pramoedya Ananta Toer

Gadis Pantai lahir dan tumbuh di sebuah kampun nelayan di Jawa Tengah, Kabupaten Rembang. Seorang gadis yang manis. Cukup manis untuk memikat hati seorang pembesar santri setempat; seorang Jawa yang bekerja pada (administrasi) Belanda. Dia diambil menjadi gundik pembesar tersebut dan menjadi Mas Nganten: perempuan yang melayani “kebutuhan” seks pembesar sampai kemudian pembesar memutuskan untuk menikah dengan perempuan yang sekelas atau sederajat dengannya.

Mulanya, perkawinan itu memberi prestise baginya di kampung halamannya karena dia dipandang telah dinaikkan derajatnya, menjadi Bendoro Putri. Tapi itu tidak berlangsung lama. I terperosok kembali ke tanah. Orang Jawa telah memilikinya, tega membuangnya setelah dia melahirkan seorang bayi perempuan.


Komentar Saya

Tidak kenal maka tidak sayang.

Awalnya saya tidak terlalu berminat untuk membaca buku ini. Tapi demi masa depan anak-anak saya yang belum lahir – yaitu mengoleksi buku bacaan bermutu – dan sudah sayang juga – masa beli tapi enggak dibaca – akhirnya saya baca juga buku ini.

Hasilnya?

Saya jatuh cinta.

Alur ceritanya, setting waktunya bahkan karakter dalam buku ini membuat saya hanyut dalam emosi.

Saya menyayangkan Gadis Pantai yang lugu yang terpaksa harus berubah dalam menghadapi semua cobaannya di dalam rumah Bendoro. Tapi anehnya, saya justru tidak merasakan kegeraman kepada orang tua Gadis Pantai yang telah menjerumuskan Gadis Pantai dalam situasi seperti itu. Pun saya juga tidak merasa geram atau kasihan dengan Mardinah yang awalnya menjelek-jelekkan Gadis Pantai malah jadi senjata makan tuan.

Tidak

Saya justru lebih geram kepada karakter Bendoro ini. Istilah kasarnya adalah: sesudah senang lalu dilepeh begitu saja.

Elah. Mentang-mentang priyayi terus main lepeh aja. Situ sehat?

Dalam buku ini, Bendoro dikarakterkan sebagai pria keturunan bangsawan yang rajin belajar agama dan seorang ahli buku. Atau istilah lain gak pernah kerja berat alias kerja kantoran. Tapi saya pribadi justru menangkap semua perilaku taat agama Bendoro ini justru malah melecehkan agam Islam sendiri.

“Kotor itu tercela, tidak dibenarkan oleh orang yang tahu agama. Di mana banyak terdapat kotoran, orang-orang di situ kena murka Tuhan, rezeki mereka tidak lancar, mereka miskin.” 

Yaelah, mas bendoro. Situ kalau tahu agama jangan NATO doang dong! Bikin aksi nyata napa?

KESEL BACANYA!

“Nyonyaku?” Bendoro setengah berteriak. “Aku belum punya nyonya!”

Terus si Gadis Pantai siapa elo? Pembantu?!

KESEL!

Dan masih banyak hal lainnya yang bikin aku makin ilfil sama bendoro satu ini. Kalau bisa aku bejek-bejek deh tuh mulut, sumpel pakai kaos kaki. Jaman now kalau ada orang kelakukan kayak gini bisa habis dia dicaci maki oleh para yang mulia Netizen terhormat.

Novel ini sungguh membawa saya hanyut dalam emosi, terutama perasaan sebal dan geram kepada Bendoro. Membuat saya berpikir, Ya Allah, jaman dulu ternyata kawin kontrak kayak begini udah ada ya. Yah, walaupun bukan kawin kontrak beneran tapi perbuatan begini kan hampir sama dengan Zina. Dan malahan yang ngelakuin hal ini adalah para priyayi yang katanya tahu dan belajar agama.

Shock mode on!

Fix pingin ninju si bendoro!

Yah, sebelum kata-kata lain yang menunjukkan betapa saya sangat frustasi kepada tokoh bendoro ini, lebih baik saya akhiri review ini dengan nilai plus untuk novel roman ini. Fix! Alur ceritanya mempermainkan emosi saya sebagai pembaca. Membuat saya ingin menonjok seseorang dengan sangat keras – malahan sampai berdarah dan benjol – gegara membaca novel ini.

Sebuah novel yang wajib kamu baca kalau kamu penyuka sastra Indonesia.

“Maling!” bentak Bendoro. “Ayoh. Lepaskan bayi itu dari gendongannya. Kau mau kupanggil polisi? Marsose?”

“Aku cuma bawa bayiku sendiri. Bayiku! Bayi yang kulahirkan sendiri. Dia anakku, bapaknya seorang setan, iblis. Lepaskan!”

.

.

OK FIX!

TINJU BENDORO BERJAMAAH!

Gallery

IMG_20180416_140424

Bukan mau review buku, tapi cuma sekedar supaya gampang ngitung berapa banyak buku yang sudah ku baca di tahun 2018 ini 😛

Dari bulan Desember 2017-Febuari 2018 saya full baca buku karangan Akiyoshi Rikako yang udah diterbitkan di Indonesia oleh penerbit Haru.

Ceritanya Akiyoshi-sensei T.O.P banget!

Rekomen banget buat kamu yang penggemar genre misteri dan thriller. Apalagi dengan plot twist yang tak terduga. Akkk, gak bakal nyesel deh kamu baca buku ini.

Berderet dari atas-bawah, kiri- kanan:

  1. Girls In The Dark
  2. The Dead Return
  3. Scheduled Suicide Day
  4. Holy Mother
  5. Silence

Saya pribadi paling suka Holy Mother. Plot twist nya aje gileeee! Lanjut ke Scheduled Suicide Day favorit kedua saya.

Yang paling bukan favorit saya adalah Silence. Karakter utama ceweknya pingin banget minta ditabok. Cinta boleh tapi jangan goblok! Itu adalah pesan yang saya dapet setelah baca buku Silence ini.

Intinya, semua buku Akiyoshi-sensei ini OK punya. Baca deh!