35 Sirah Shahabiyah: 35 Sahabat Wanita Rasullullah SAW Jilid 1

20170427_102006

Judul Asli : Shahabiyyaat Haul Ar-Rasuul saw

Penulis : Mahmud Al-Mishri

Penerjemah : Asep Sobari, Lc. dan Muhil Dhofir, Lc.

Tahun, Cetakan : Juni 2010, Cetakan Ketujuh

Penerbit : Al-I’tishom Cahaya Umat

ISBN : 979-3071-36-2


Sahabat-sahabat Nabi saw. adalah generasi terbaik sepanjang sejarah peradaban manusia setelah para Nabi dan Rasul. Demikian halnya dengan para sahabat wanita yang hidup bersama mereka. Setiap sahabat wanita ibarat kuntum bunga yang tumbuh di ladang Islam. Lalu, ketika awan berarak di atasnya dan menumpahkan air hujan, bunga yang bersih dan sarat dengan nilai takwa itu terus tumbuh subur dengan pupuk yang diperleh dari dua sumber yang bersih, yakni Al-Quran dan As-Sunnah. Maka, pada masa berikutnya, ia menebarkan semerbak keharumannya kepada seluruh pelosok alam raya dengan keharuman iman dan tauhid. Demikian halnya dengan pengorbanan dan kegigihan dalam membela akidahnya. Mereka mau mengorbankan segala yang dimiliki untuk kepentingan Islam dan tidak jerih dengan kezhaliman, siksaan, dan kematian yang harus dihadapinya.

Mari menuju oase yang subur dengan buah-buahan yang ranum untuk berjumpa dengan wanita-wanita yang tulus dan menghirup aroma ketulusan mereka. Mari kita teguk kesegaran air dan kita hirup keharuman kisah dari: 1. Khadijah binti Khuwailid ra., 2. Saudah binti Zam’ah ra., 3. ‘Aisyah binti Abu Bakar ra., 4. Hafshah binti Umar ra., 5. Zainab binti Khuzaimah ra., 6. Ummu Salamah ra., 7. Zainab binti Jahsy ra., 8. Juwairiyah binti Al-Harits ra., 9. Ramlah binti Abu Sufyan (Ummu Habibah) ra., 10. Shafiyyah binti Huyay ra., 11. Maimunah binti Al-Harits ra., 12. Fatimah binti Rasulullah saw., 13. Halimah As-Sa’diyah.


Sesuai judulnya, buku ini adalah jilid satu dari total dua jilid buku. Dalam buku ini dijelaskan sirah beserta peranan para sahabat wanita zaman Rasulullah saw. Jelasnya urutan 1 sampai 11 adalah peranan para istri nabi atau biasa kita kenal Ummul Mukminin dalam sejarah Islam. Untuk nomor 12 jelas itu adalah putri Rasulullah yang tercinta, Fatimah. Sementara untuk nomor 13 itu adalah ibu susuan Rasulullah.

Menuliskan sirah para sahabat wanita ini jelas tidak bisa mendetil sekali. Karena banyaknya jasa dan terbatasnya halaman kertas menjadi salah satu permasalahan penulis untuk menuliskan semua jasa mereka. Selain itu keterbatasan penulis untuk mengungkapkan keagungan dan harumnya jasa mereka juga menjadi salah satu kendala yang lain. Meskipun begitu kita sebagai pembaca masih bisa meneladani kisah mereka dan menjadi catatan terutama bagi wanita muslimah zaman ini yang kekurangan idola muslimah yang bisa diteladani.

Buku ini lumayan bagus dan saya rekomendasikan karena bahasanya yang mudah dipahami dan tidak bertele-tele. Penulis menuliskan isi buku dengan gaya bercerita disertai sub bab yang menarik dan jelas, membuat pembaca merasa ketagihan untuk terus membaca dan tidak mau menutup bukunya, setidaknya sebelum menyelesaikan satu sirah sahabat wanita. Banyak pelajaran dan kebijaksanaan yang dapat diambil dan diteladani, terutama bagi wanita muslimah yang sudah kebingungan harus bersikap seperti apa sebagai muslimah sejati.

Selain itu sumber yang digunakan juga mendetil dan dari berbagai sumber dengan status hadis yang jelas dan tidak meragukan.  Menjadikan buku ini mempunyai riwayat yang In shaa Allah jelas dan bisa dipertanggung jawabkan. Sebagai pembaca saya sangat menyenangi buku ini karena bisa memberikan gambaran kepada saya untuk menjadi muslimah yang tidak hanya cantik diluar, tetapi juga cantik di dalam serta memiliki sifat pemberani untuk membela Islam. Terutama dengan keadaan yang lumayan rusuh di negeriku ini, Indonesia.

Alice’s Adventures in Wonderland

20170427_101610

Author : Lewis Carroll

Year : 2015

Published : Macmillan Children’s Books

ISBN : 978-1-4472-7999-0

…suddenly a White Rabbit with pink eyes ran close by her.

So begin Lewis Carroll’s famous story, which has become one of the best-loved books ever written.

Alice’s adventures lead her down the rabbit-hole into Wonderland, where she meets an array of curious characters, including the Mad Hatter, the Mock Turtle and the grinning Cheshire-Cat.


Akhirnya setelah sekian lama nemu juga salah satu buku klasik ini di bazaar buku paling heboh, Big Bad Wolf 2017. Buku ini adalah salah satu dari sekian buku yang saya beli (baca: langsung beli tanpa ngelirik buku lain). Alasannya enggak lain karena ini adalah salah satu buku klasik yang harus saya punya!

Ceritanya sebenernya udah enggak aneh lagi, seorang gadis cilik bernama Alice yang sedang duduk di tepi sungai bersama kakak perempuannya di suatu hari yang panas di musim panas. Alice kecil merasa bosan menemani kakaknya yang sedang membaca buku yang berderet tulisan, tanpa gambar maupun tanpa percakapan. Nah, saat Alice ini lagi bosan dia melihat seekor kelinci putih menggunakan waistcoat dan melirik jam sakunya sambil mengeluh kalau ia terlambat untuk sesuatu. Alice kecil yang selalu merasa penasaran pun mengikuti si kelinci putih dan memulai petualangannya di wonderland.

Untuk baca buku ini sebenernya enggak perlu mikir sih. Tapi karena buku ini dalam versi bahasa inggris palingan mikir cuma buat ngartiin aja jalan cerita isi buku ini. Sisanya sih buat saya enggak perlu terlalu dipikirkan karena semua tokoh yang ada di buku ini beneran gila! Saking gilanya kita gak perlu susah payah untuk berpikir, cukup baca dengan tenang. Meski begitu bukan berarti buku ini enggak bisa ditelaah dan dibedah. Bisa sih, cuma saya gak bakal menjelaskan dan menjabarkan apa isi buku ini macam kritikus. Banyak web yang bisa ngejelasin hal itu dan tulisan saya ini bukan bermaksud untuk membedah buku Alice ini.

Balik lagi ke masalah karakter yang gila, semua karakter disini emang rada-rada. Misalnya aja Mad Hatter dan March Hare yang terus-terusan minum teh yang enggak selesa-selesai sejak beberapa minggu yang lalu gegara jam mereka berhenti di waktu untuk minum teh. Atau para tukang kebun yang ngecat mawar putih jadi merah gegara mereka salah tanam pohon mawar. Atau Alice yang harus ikutan lomba lari yang enggak selesai-selesai cuma untuk mengeringkan diri setelah kebanjiran. Atau ratu hati yang demen banget bentar-bentar perintah “penggal kepala dia!”.

Nah loh, Alice gadis kecil paling baru umur 6 atau 7 tahun menghadapi semua kegilaan itu gimana coba? Saking gilanya si Alice malah udah jadi terbiasa menghadapi semua kegilaan itu. Termasuk menghadapi Cheshire-Cat yang suka menghilang dan nyengir lebar.

Dannn…masih banyak lagi sih. Tapi cerita ini juga emang bukan rahasia karena seenggaknya pasti udah pernah denger dong endingnya. Yak, semua itu hanya mimpi! Cuma gue merasa puas sih bisa beli buku ini di BBW! Dengan ini perjalanan gue untuk mengoleksi classical pun resmi dimulai!

Btw, buku ini layak dibeli buat kalian yang juga tertarik sama classical dan baru mau belajar baca buku english version.

The Monogram Murders

20170327_133736

Judul : The Monogram Murders

Pengarang : Sophie Hannah based on Agatha Christie

Cetakan, Publisher: Sepuluh, Harper Collins Publisher

ISBN : 978 0 06 239475 0


Blurb

” I’m a dead woman, or I shall be soon…”

Hercule Poirot’s quiet supper in a London coffeehouse is interrupted when a young woman confides to him that she is about to be murdered. Though terrified, she begs Poirot not to find and punish her killer. Once she is dead, she insists, justice will have been done. Later that night, Poirot learns that three guests at a London hotel have been murdered, and a monogrammed cufflink has been placed in each one’s mouth. Could there been a connection with the frightened woman? While Poirot struggles to put together the bizarre pieces of the puzzle, the murderer prepares another hotel bedroom for a fourth victim.


Sebenernya nih buku punya adekku. Cuma karena dia udah males baca, dan aku juga lagi tergila-gila ngumpulin Agatha Christie, akhirnya nih buku jadi punyaku. Pertama kalinya baca buku genre mystery dalam bahasa Inggris. Walaupun enggak setiap katanya saya terjemahin dalam kepala, tapi seenggaknya saya bisa narik kesimpulan dari buku ini.

MENARIK

Yang nulis memang bukan Agatha Christie sih, tapi lumayan menarik bisa membaca petualangan mantan polisi Belgia dengan kepala bulat telur, Hercule Poirot. Kali ini Poirot yang ingin beristirahat dari kasus kembali dihadapkan dengan kasus pembunuhan yang cukup rumit dan penyelidikan mendalam. Tapi memang udah ciri khasnya Poirot, dia gak bkal capek-apek pergi jauh ke suatu tempat untuk mencari fakta, cukup memerintahkan seseorang dan Poirot akan mendapatkan berbagai fakta untuk membantunya memecahkan kasus pembunuhan.

Dalam cerita kali ini Poirot harus menyelesaikan kasus pembunuhan yang motifnya bermula beberapa tahun yang lalu di suatu daerah bukan London. Kali ini Poirot tidak ditemani Kapten Hasting melainkan ditemani oleh anggota Scotland Yard – Edward Catchpool. Bersama Catchpool, Poirot berusaha mencari fakta yang tersembunyi di balik adegan tiga pembunuhan di panggung hotel mewah London, yaitu Hotel Bloxham.

Secara alur cerita menurut saya buku ini lumayan menarik. Karena saya penggemar pemula Hercule Poirot mungkin saya tidak bisa membandingkannya dengan penulis aslinya, Agatha Christie. Lagipula ini adalah buku misteri pertama yang saya baca dengan bahasa Inggris, menyebabkan saya kurang bisa membandingkan antara penulisan Sophie Hannah dan karya asli Agatha Christie.

Cerita cukup menarik walau menurut saya alurnya cukup lama. Kemungkinan hal ini dikarenakan banyaknya pembunuhan yang terjadi sementara motif kasus berawal dari beberapa tahun yang lalu, menyebabkan semua karakter di buku ini harus menemui bermacam-macam karakter untuk sekedar mendapatkan fakta. Kebohongan yang dilapisi oleh kebohongan lainnya menyebabkan pembaca harus berpikir keras untuk sekedar memilah informasi apa saja yang harus dipercaya dan bagian mana saja yang harus dibuang, membuat kita seakan sebagai detektif yang ikut bergabung dengan petualangan Poirot.

Meski begitu untuk pembaca yang sekedar mencari bacaan menarik dengan genre misteri masih bisa membaca buku ini dan mendaptkan hiburan yang menantang.

The Kite Runner

20170209_125539

Judul : The Kite Runner

Penulis :  Khaled Hosseini

Penerbit : Bloomsbury

Cetakan, Tahun terbit : Pertama, 2004

ISBN : 978 0 7475 6653 3

Terakhir kalinya baca buku versi inggris adalah saat membaca sebuah buku yang diadaptasi dari game. Bukan pengalaman yang menyenangkan sebetulnya karena saya justru lebih menikmati menonton gamenya dibanding membaca bukunya. Hal sepele sebenarnya, ternyata apa yang digambarkan di buku tidak mendetil dan tidak sejelas di game, makanya saya berhenti membacanya.

Setelah beberapa lama adek yang baru pulang dari Jepang menawarkan buku ini ke saya. Hmm, gak terlalu buruk sebenarnya. Karena buku ini juga pernah menjadi best seller di Indonesia waktu saya masih kuliah dulu, meski saya belum membaca bukunya. Tapi tantangannya adalah, saya diberikan buku ini dalam versi bahasa inggris, padahal terakhir kali membaca novel versi inggris mungkin sekitar satu tahun. Bisakah?

Ternyata tidak semenakutkan itu.

Versi inggris yang digunakan dalam buku ini adalah versi inggris yang biasa. Tidak rempong dan masih mudah dipahami. Pun kalau ada kata yang sulit dipahami itu hanya kata per kata dan masih bisa menggunakan kamus. Atau kalau malas menggunakan kamus – dalam hal ini adalah saya – masih bisa dipahami hanya dengan membaca kalimatnya saja.

Alur cerita?

Hmm, so far so good. Menceritakan seorang anak bernama Amir, putra seorang pengusaha sukses yang tinggal di rumah mewah di distrik perumahan elit. Ia mempunyai seorang pelayan bernama Hassan, yang merupakan keturunan Hazara, etnis minoritas yang cukup terpinggirkan di Afghanistan. Awal-awal bab hanya menceritakan mengenai masa kecil Amir dan Hassan di distrik yang bernama Wazir Akbar Khan. Jujur, sempat merasa bosan dengan cerita masa kecil mereka masa kecil mereka masih normal. Tidak ada konflik apapun. Benar-benar tenang dan damai. Sampai akhirnya kedua bocah itu mengikuti festival layang-layang.

Hmm, disini saya baru paham mengapa buku ini diberi judul The Kite Runner. Dalam buku ini dijelaskan bahawa Hassan memiliki bakat untuk mengetahui dimanakah layang-layang putus akan mendarat. Dan sesuai tradisi Afghanistan, jika seseorang berhasil mendapatkan layang-layang putus maka ia berhak memilikinya. Tidak jauh berbeda dengan di Indonesia.

Dan di festival ini pulalah konflik mulai terjadi. Jujur saya juga kaget, karena awalnya hanya membaca secara tenang tiba-tiba muncul twist yang tidak terduga. Dan disinilah pembaca semakin memahami bagaimana watak sebenarnya dari karkter Hassan dan Amir.

Ada banyak konflik yang dipaparkan di novel ini tapi yang terkesan bagi saya hanyalah konflik utama di festival layang-layang. Karena konflik itulah yang menjadi titik balik kehidupan Amir, Hassan beserta semua karakter dalam novel ini. Meskipun akhirnya Amir beserta ayahnya harus pindah ke Amerika untuk meminta suaka, dikarenakan suasana Afghanistan sudah tidak aman lagi, konflik itu terus menghantui Amir.

Buku ini layak disebut sebagai best seller.

Secara selintas buku ini juga menjelaskan mengenai situasi di Afghanistan. Buku ini memang tidak bisa dijadikan rujukan secara pasti, tapi setidaknya bisa menggambarkan secara kasar.

Dulu saya berpikir Afghanistan adalah negara yang taat agama Islam dan menjunjung nilai-nilai islam. Tapi ternyata dalam buku ini digambarkan bahwa tidak semua penduduk Afganistan adalah orang yang taat agama. Ayah Amir, misalnya, digambarkan sebagai karakter yang menganggap bahwa agama tidak terlalu penting.

“Baba was pouring himself a whiskey from the bar he had built n the corner of the room.” – p.14

“ ‘They do nothing but thumb their prayer beads and recite a book written in a tongue they don’t even understand.’ He took a sip. ‘God help us all if Afghanistan ever fall into their hands.’ “ –p.15

Bahkan Amir, sebagai karakter utama juga digambarkan tidak pernah melaksanakan sholat.

“Then I remember I haven’t prayed for over fifteen years.” –p.301

Yang dijelaskan selalu melaksanakan sholat hanyalah Hassan dan Ali, ayah dari Hassan.

“Hassan never missed any of the five daily prayers.” –p.60

Masih banyak poin-poin lain yang membuat saya tersadar, bahwa ternyata modernisasi juga melanda Afghanistan sehingga negara itu juga mengalami apa yang dialami umat muslim di Indonesia. Membuka mata saya, karena selama ini saya membayangkan bahwa justru Afghanistan yang sedang digadang-gadang oleh Israel ini taat beragama.

Tentu saja penilaian ini muncul kalau hanya berdasarkan penggambaran di novel ini. Saya yakin di Afghanistan tidak semua orang memiliki karakter seperti Amir dan ayahnya. Sama yakinnya bahwa di negara itu masih banyak warga yang benar-benar taat agama. Hanya saja poin-poin novel ini membuka mata saya sedikit mengenai situasi di Afghanistan. Apalagi si penulis menuliskannya berdasarkan pengalamannya semasa kecil tinggal disana sebelum akhirnya pindah ke Amerika.

Buku ini sangat layak dibaca menurut saya. Alur ceritanya yang mengalir pelan dengan twist konflik tak terduga di tengahnya, menyebabkan saya jadi ketagihan dan tidak mau mengalihkan pandangan ke buku lainnya. Novel ini mengajak pembaca untuk merenung mengenai nilai kemanusiaan terutama sifat pemberani, membuat pembaca tergugah dan membandingkan diri dengan karakter Amir.

Review: Tales of Old England

20170106_125459

Judul : TALES OF OLD ENGLAND: Dua Kisah Kepahlawanan Klasik dari Inggris Raya

Pengarang : Paul Creswick dan Maude L. Radford

Alih Bahasa : Peusy Sharmaya dan Nita Iskandar

Penerbit : PT Elex Media Komputindo

Tahun : 2014

Cetakan : Pertama

ISBN : 978-602-02-4293-4


Blurb Buku

Kisah Raja Arthur dan Robin Hood adalah dua kisah yang sangat populer dalam kisah-kisah rakyat dari Inggris. Raja Arthur sendiri menurut legenda hidup di akhir abad ke-5 hingga awal abad ke-6 Masehi. Pendahulu dan keturunan raja itu kemudian melahirkan sbuah genre sendiri yang dikenal sebagai Arthurian, dengan rentang periode waktu sejak tahun 33 hingga 1090-an masehi. Beliau dikenal sebagai seorang raja yang adil sekaligus pemimpin sejati atas para ksatrianya dalam melawan penyerbuan Saxon dan Romawi. Pedang Excalibur, pusat pemerintahan di kastil Camelot dan dewan Ksatria Meja Bundar adalah unsur-unsur yang melekat erat pada legenda Arthurian.

Legenda Robin Hood muncul sekitar 7 abad kemudian, yakni pada abad ke-13 atau 15 Masehi di Wakefeield, Yorkshire, walaupun dalam kisah-kisah lain, kemunculannya dikaitkan dengan periode kekuasaan Richard I sekitar abad ke-11 (dikenal juga sebagai Richard, raja berhati singa). Sejak awal Robin dikisahkan sebagai “orang bebas” yang memilih untuk tinggal di hutan bersama Little John, Much, dan Will Scarlet. Kemunculan Marian, istrinya dan pendeta Tuck yang menikahkan mereka terjadi kemudian, seolah menambahkan unsur romantisme dalam legenda tersebut. Sepanjang masa, Robin dikenal sebagai si “perampok yang baik hati” yang membela hak-hak rakyat tertindas di masa itu.


Komentar Tentang Buku Ini

Buku ini didapatkan dengan enggak sengaja waktu pergi ke bazaar buku Gramedia Bekasi. Sebagai orang yang emang tertarik sama sejarah dan legenda, pas nemu buku ini langsung aja deh disambar. Sebenernya gak perlu buru-buru juga sih karena orang-orang bazaar mana tertarik sama buku macem beginian? Tapi karena saya tertarik akhirnya langsung deh nambil buku ini.

Dalam buku ini ada dua kisah, yaitu Kisah Raja Arthur dan kisah Robin Hood. Sebenernya dua tokoh ini terkenal banget kok. Cuma karena cerita mereka simpang siur, iyalah wong mereka legenda turun temurun, akhirnya saya putusin beli buku ini buat lebih ngerti cerita yang sebenarnya.

Di bagian pertama diceritain mengenai legenda Raja Arthur mulai dari lahirnya, proses dia kepilih jadi Raja, dapet pedang Excalibur sampai kematiannya. Lucu juga sih karena pas ngebayangin Raja Arthur ini aku malah ngebayangin Arthuria Pendragon dari anime Fate/Stay Night. Dan ternyata legenda Raja Arthur ini berupa potongan-potongan. Jadi dalam masa Raja Arthur itu yang diceritain bukan cuma Raja Arthur, tapi ksatria-ksatria lain dari Ksatria Meja Bundar juga ikut diceritain. Mungkin daripada dibilang legenda lebih mirip dibilang kumpulan cerita pendek dengan genre Arthurian. Walau bentuknya kumpulan cerpen tapi saya gak kecewa sih, malah bisa dibilang kehidupan Raja Arthur itu jadi lebih hidup aja. Gak monoton karena yang diceritain dia lagi-dia lagi.

Kalau untuk cerita Robin Hood beda lagi. Kali ini konsepnya per chapter dengan alur maju. Jadi dari chapter awal sampai akhir ngejelasin latar belakang si Robin, perjalanan hidupnya samapai akhir meninggal. Karena cerita ini tentang Robin Hood tentu aja tokoh sentral utamanya si Robin Hood ini. Waktu pertama kali baca buku ini aku ngebayangin mungkin aja ceritanya bakalan sama dengan cerita Robin Hood yang pernah disiarin di TV. Tapi ternyata alur ceritanya beda banget sih. Mungkin karena masuk legenda jadinya ceritanya bisa macem-macem walau punya poin yang sama, Robin Hood si pencuri yang baik hati.

Kalau dari segi isinya sih saya gak mecewa sama buku ini karena ceritanya disusun dengan baik dan dijelaskan dengan baik pula. Walau saya gak permasalahin apakah cerita versi ini yang paling bener atau gimana setidaknya saya bisa narik poin penting bahwa kurang lebih kayak beginilah cerita Raja Arthur dan Robin Hood. Mungkin untuk pembaca buku yang suka sama sejarah atau legenda mungkin bisa puas juga baca buku jenis beginian.

Cuma satu hal yang bikin saya kecewa. Buku ini Masya Allah banget typonya. Tiada halaman buku tanpa setidaknya sepuluh jenis typo di buku ini, baik salah nulis kata, kalimat atau penulisan. Saya aja bacanya kepluyengan, bentar-bentar coret-coret sana sini pakai pensil biar lebih gampang bacanya. Tadinya kata temen emang Gramedia udah banyak typo sana sini, Cuma karena saya belom pernah dapet kejadian kayak gitu saya masih biasa aja. Tapi begitu dapet kasus typo, hmmm rasanya sakit banget.

Emang sih mungkin mereka puyeng juga, tapi bukannya ini juga kerjaan mereka para Editor ya? Duh, mohon para Editor lebih teliti lagi deh.

SUPERNATURAL: Bone Key

Displaying 20170105_140323.jpg Displaying 20170105_140336.jpg

Judul : SUPERNATURAL : Bone Key (Dendam Calusa Terakhir)

Pengarang : Keith R.A. DeCandido

Alih Bahasa : Olivia Bernadette

Penerbit : PT Elex Media Komputindo

Tahun : 2011

Cetakan : Pertama

ISBN : 978-602-00-0037-4

 

Blurb Buku

Dua puluh dua tahun yang lalu, Sam dan Dean Winchester kehilangan ibu akibat kekuatan supernatural yang jahat dan misterius. Bertahun-tahun setelahnya, sang ayah, John, mengajarkan kepada mereka tentang kekutan jahat yang mendiami sudut-sudut gelap dan jalanan yang sepi… serta cara membunuhnya.

Tahun baru Winchester bersaudara diganggu segerombolan hantu yang tiba-tiba menggila di Key West. Curiga kejadian itu ada hubungannya dengan para setan yang keluar dari Gerbang Iblis, Sam dan Dean segera mengunjungi kepulauan di selatan benua Amerika itu. Dan hantu-hantu orang terkenal pun menyambut mereka disana: mulai dari mantan presiden Amerika, pencari harta karun, sampai penulis terkenal, Ernest Hemingway.

Tapi semua itu tidak ada apa-apanya dibanding roh indian berkekuatan luar biasa yang bangkit untuk membalaskan dendam sukunya. Keadaan yang memburuk memaksa Sam dan Dean menggunakan semua bantuan yang bisa mereka dapat, karena semua bergantung pada mereka berdua untuk menyelamatkan penduduk Key West… sebelum pulau indah itu berubah menjadi pulau dengan tumpukan tulang.

Komentar Tentang Buku Ini

Awal baca buku ini cuma karena penasaran aja. Selain karena saya udah pernah denger serial tv Supernatural series juga pingin tahu bagaimana sih penampakan hantu-hantu di benua Amerika menurut orang amrik sana. Dan akhirnya saya baca dan terus baca buku ini hingga akhirnya selesai. Satu kesimpulan.

H.O.R.R.O.R.

Bukan, bukan karena isinya hantu yang gimana-gimana sehingga bikin saya mual-mual. Juga bukan adegan action yang gimana entahlah-entahlah.

Horror disini saya artikan sebagai. What the hell? Elo kerja sama dengan setan dengan taruhan jiwa elo ke neraka? Setan? Setan yang itu? Neraka? Neraka yang itu? Kalian sehat?

Oke stop. Mungkin emang sudut pemikiran gue yang sempit (atau normal?) tapi serius deh, siapa sih yang mau kerja sama dengan setan dengan taruhan jiwa ke neraka? Oke, mungkin emang karakter Sam yang ada disini bersedia melakukan apa aja untuk adeknya, tapi menjual jiwa ke neraka? Well, gue lebih milih durhaka jadi kakak dibanding jual jiwa gue ke neraka.

Kalo dari sudut pandang agama jelaslah novel ini gak layak konsumsi. Dalam novel ini aja bertebaran segala macam perzinahan, dosa dan hubungan romansa sesama jenis. Ini kalo kita ngomong dari sudut agama ya. Sayangnya gue orang yang patuh agama jadi wajarlah poin ini gue titik beratin banget.

Tapi kalau mau diambil dari sudut pandang misteri… yah, gimana ya? Novel ini juga gak misteri-misteri amat kok. Apa karena Supernatural ini punya banyak episode dengan berbagai macam season ya jadinya cuma baca secuil kehidupan para karakter dalam novel ini jelas gak bakal ngebantu banyak para pembaca untuk mengetahui kehidupan mereka, terutama kalo Cuma ngandelin dari novel ini.

Dari segi horor? Gak horor juga sih karena gak ada yang perlu ditakutin dari novel ini kecuali setan yang gaul habis sama kutukan jaman tauk yang basi banget.

Intinya… novel ini cuma sekedar selingan doang. Sekali lagi, selingan doang. Dan bisa dipastikan buku ini akan berakhir disudut kontainer buku gede punya gue, berdebu dan tak tersentuh. Dan kalo lagi iseng bongkar kontainer baru ngeh ‘oh gue pernah punya buku kayak gini ya?’

Robert Galbraith: Dekut Burung Kukuk

“Apakah lebih mudah pada kali kedua?” – Cormoran Strike pada Pelaku.


Judul Asli: The Cuckoo’s Calling

Judul Buku Terjemahan: Dekut Burung Kukuk

Pengarang: Robert Galbraith

Alih Bahasa: Siska Yuanita dan M. Aan Manyur

Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit Beserta Cetakannya: Cetakan Ketiga, Febuari 2014

Dimensi Buku: 520 halaman; 23 cm

Harga Buku: Rp 99.500 (11 Mei 2016)


Novel Dekut Burung Kukuk menceritakan karakter bernama Cormoran Strike, seorang pensiunan militer yang dipulangkan dari medan perang karena menderita fisik. Untuk menghidupi dirinya, ia membuka kantor detektif partikelir, berbekal pengalamannya selama militer sebagai Divisi Cabang Khusus, divisi militer yang bertugas melaksanakan investigasi bila terjadi kasus kejahatan dalam tubuh militer.

Tidak hanya mengalami luka fisik, Strike juga mengalami luka psikis yang berasal dari latar belakang keluarganya dan juga kehidupan romantismenya. Dalam keadaan yang benar-benar buruk dan bangkrut, Strike menerima investigasi sebuah kasus mahal dimana seorang Supermodel ditemukan meninggal dalam keadaan tidak wajar. Dimulailah kisah investigasi Cormoran Strike, ditemani asistennya yang memang bercita-cita ingin menjadi seorang detektif Robin Ellacott, untuk mengungkap rahasia kematian sang Supermodel yang tidak wajar.

Robert Galbraith adalah nama pena untuk J.K. Rowling, penulis terkenal dalam seri Harry Potter. Akan tetapi jangan mengharapkan novel ini akan sama menariknya dengan Harry Potter, karena itu akan membuat kecewa bagi pembaca yang hanya sekedar mengejar kesuksesan J.K. Rowling. Cuckoo’s Calling ini bercerita mengenai kisah yang lain. Alur dan gaya bahasa yang digunakan juga sangat berbeda dengan seri Harry Potter. Dalam novel ini, gaya bahasa dan alur yang digunakan memiliki rating yang dewasa dikarenakan banyaknya kata-kata makian, penggambaran yang sensual mengenai seks bebas serta deskripsi sadis pembunuhan yang banyak bertebaran dalam cerita ini.

Bagi para penggemar kisah Detektif, menurut saya novel ini layak diikuti karena novel ini menggambarkan sistem metodis bagaimana tokoh detektif melakukan investigasinya. Selain itu digambarkan juga dengan jelas bagaimana sulitnya melakukan investigasi dan wawancara dan betapa setiap keadaan tidak selalu berpihak kepada sang detektif.

Buku ini layak dibaca oleh pembaca dewasa yang memang menggemari kisah detektif, meskipun bagi mereka yang mengejar J.K. Rowling pun layak mengonsumsi buku ini. Hanya perlu ditekankan bahwa buku ini ditulis Roberth Galbraith, bukan J.K. Rowling.