Aside

Pemilu!

Jadi kemarin tanggal 19 gue melaksanakan kewajiban gue dalam pesta demokrasi rakyat! Iye…apalagi kalau bukan pemilu pilkada Jakarta season 2?!

20170419_073857

Sebenernya kagak heboh-heboh amat sih. Gegara suami diharuskan balik lagi ke kantor maksimal jam 11 siang akhirnya kami pakai sistem kebut. Kami datang, Kami nyoblos, Kami pulang. Simpel, kan? Terpaksa pulang cepet dan gak bisa nungguin hasil penghitungannya sih. Tapi gak masalah deh, soalnya lewat quick countternyata yang gue nyoblos menang. Tinggal nunggu perhitungan yang sebenernya aja.

Pas ke sana dipikir bakal sepi. Eh ternyata udah ramai. Kayaknya nasibnya banyak juga kayak suami gue, kantor di daerah dan harus balik cepet. Wkwkwk banget… 😛

20170419_073534

TPS gue dijagain sama satu polisi sama satu TNI. Karena gue gak berani moto mereka dari deket jadinya gue poto aja dari jauh 😛

Review NHW#9 – Berubah Atau Kalah

Barang siapa hari ini LEBIH BAIK dari hari kemarin, dialah tergolong orang yang BERUNTUNG. Barang siapa yang hari ini SAMA DENGAN hari kemarin dialah termasuk golongan orang yang MERUGI. Dan Barang siapa yang hari ini LEBIH BURUK dari hari kemarin dialah tergolong orang yang CELAKA– HR Hakim

Berubah adalah sebuah keniscayaan bagi kita semua, karena kalau anda tidak pernah berubah, maka sejatinya kita sudah mati. Maka dengan membaca Nice Homework #9 ini, kami bangga dengan banyaknya ide-ide perubahan yang sudah teman-teman tuangkan dalam tulisan. Kebayang tidak, andaikata dari seluruh peserta matrikulasi Ibu Profesional ini menjalankan langkah pertama perubahan yang sudah dituangkan dalam ide-ide di NHW#9, akan muncul berbagai perubahan-perubahan kecil dari setiap lini kehidupan.

Andaikata hanya 10 % saja yang berhasil menjadikan ide perubahan ini menjadi sebuah gerakan nyata, maka sudah ada sekitar 100 lebih perubahan –perubahan kecil menjadi sebuah gerakan-gerakan positif baru yang memicu munculnya perubahan besar.

Untuk itu kita perlu mencari yang namanya Tipping point agar perubahan-perubahan yang kita lakukan bisa memberikan impact perubahan yang besar.

IMG-20170327-WA0002

The Tipping point : the point at which a series of small changes or incidents becomes significant enough to cause a larger, more important change –Malcolm Gladwell

Tipping point adalah titik di mana usaha-usaha kecil yang dilakukan berakumulasi menjadi satu hal besar yang cukup signifikan untuk dianggap sebagai perubahan. Istilah tipping point sudah lama digunakan dalam bidang sosiologi, tapi baru populer setelah dibahas secara mendalam oleh Malcolm Gladwell dalam bukunya yang berjudul The Tipping Point: How Little Things Can Make a Big Difference

IMG-20170327-WA0003

Tidak perlu orang banyak untuk menyukseskan gerakan yang akan anda lakukan. Kalau bisa dengan suami dan anak-anak sebagai satu team, itu sudah cukup. Namun apabila tidak memungkinkan, maka temukan beberapa orang yang satu visi dengan anda, meski dengan misi yang berbeda-beda, pasti akan bertemu.

Dalam ekonomi, ada Pareto Rule yang menyatakan bahwa 80% dari pekerjaan yang ada sebenarnya diselesaikan hanya oleh 20% orang, yang berarti gerakan kita harus punya 20% orang spesial ini untuk bisa mencapai tipping point. Di bukunya, Gladwell mengupas tentang tiga jenis orang yang menentukan kesuksesan adopsi sebuah ide atau gerakan.

Connector

Connector adalah mereka dengan kemampuan bersosialisasi luar biasa yang bisa menghubungkan orang dari berbagai bidang. Sepanjang yang kami tahu, suatu gerakan bisa jadi besar kalau bisa merangkul banyak orang untuk berkolaborasi. Inilah mengapa kita perlu tipe-tipe connector di komunitas atau gerakan apapun. Mereka adalah jenis orang yang secara natural selalu percaya diri untuk lebur dan bersosialisasi.

Tidak hanya sekedar gaul dan kenal banyak orang,  Connector juga harus punya sensitivitas untuk bertanya: Siapa ya yang saya kenal yang bisa membantu gerakan ini? atau Bagaimana cara menghubungkan si A dari bidang ini dan si B dari bidang itu untuk berkolaborasi?

Maven

Maven adalah mereka dengan pengetahuan sangat luas yang senang mengakumulasi informasi dan membagikannya. Bisa dibilang maven adalah orang-orang yang sangat senang belajar. Tidak hanya jadi nerd yang menyimpan semua ilmunya sendiri, maven senang membagikan temuan-temuan barunya kepada orang lain. Orang-orang seperti maven yang punya antusiasme dalam berbagi hal bisa menarik orang-orang ke sebuah gerakan, melalui api mereka dalam menyebarkan insight bermanfaat.

Salesman

Salesman, tentu, adalah mereka yang punya kemampuan persuasi luar biasa. Salesmen tentu saja dibutuhkan untuk menjual apa sebenarnya misi yang dibawa, dengan kemampuan persuasi yang sangat hebat. Tanpa berniat menjual pun, orang-orang yang gifted sebagai salesman selalu bisa bikin orang tertarik dengan apapun yang dibicarakannya.

Kebanyakan dari sebuah gerakan memiliki kemampuan salesman, tapi tidak punya connector dan maven untuk mengimbangi. Maka sejatinya kita perlu 3 orang saja di awal membangun sebuah gerakan perubahan di sekitar kita, ada salesman yang bisa menjual gagasan kita ke pihak lain,  ada connector yang berpikir strategis untuk menghubungkan pihak A dan B, serta maven yang pinter dan senang berbagi.

Setiap orang punya tipping point. Titik dimana persepsi, kebiasaan, bahkan hidup seseorang berubah secara mendadak, dan efeknya cukup dahsyat terhadap kehidupan kita semua. Oleh sebab itu, tipping point bukan titik balik, tetapi titik perubahan. Ia merupakan titik kritis dari kondisi A ke kondisi B.

Selamat berkolaborasi untuk menemukan tipping point teman-teman semua dengan ide-ide perubahan yang sudah dituangkan dalam bentuk NHW#9

Lihatlah potensi kekuatan di keluarga kita terlebih dahulu,  baru merambah ke luar.

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/


Sumber bacaan:

Malcolm Gladwel, Tipping Point: How Little Things Can Make a Big Difference , 2000

Materi Matrikulasi sesi #9, Ibu Sebagai Agen Perubahan, 2017

Hasil Nice Homework #9 para peserta matrikulasi Ibu Profesional batch #3, 2017

Materi 8 -Misi Hidup dan Produktivitas

Bunda, perjalanan kita untuk menemukan misi hidup selaras dengan perjalanan produktivitas hidup kita. Maka materi menemukan misi hidup ini, akan menjadi materi pokok di kelas bunda produktif.

Sebelumnya kita sudah memahami bahwa Rejeki itu pasti, Kemuliaan yang harus dicari. Sehingga produktivitas hidup kita ini tidak akan selalu diukur dengan berapa rupiah yang akan kita terima , melainkan seberapa meningkat kemuliaan hidup kita dimata Allah dan seberapa manfaat hidup kita bagi alam semesta.

Be Professional, Rejeki will Follow

Tagline Ibu Profesional di atas menjadi semakin mudah dipahami ketika kita masuk ranah produktif ini. “Be Professional” diartikan sebagai bersungguh-sungguh menjalankan peran. Kesungguhan dan keistiqomahan seseorang dalam menjalankan peran hidupnya  akan meningkatkan kemuliaan dirinya di mata Allah dan kebermanfaatan untuk sesama.

Rejeki will follow bisa dimaknai bahwa  rejeki  setiap orang  itu sudah  pasti, yang membedakan adalah nilai kemanfaatan dan keberkahannya seiring dengan bersungguh-sungguh  tidaknya seseorang menjalankan apa yang dia BISA dan SUKA.

Uang akan mengikuti sebuah kesungguhan , bukan bersungguh-sungguh karena uang

Pada dasarnya menemukan misi hidup itu tidak ada hubungannya dengan usia seseorang. Semakin awal seseorang merasa galau kemana arah hidupnya, semakin risau untuk mencari sebuah jawaban mengapa Allah menciptakan dirinya di muka bumi ini? maka semakin cepat akan menemukan misi hidup.

Kalau di pendidikan berbasis fitrah, proses ini secara alamiah akan dialami oleh anak-anak pre aqil baligh akhir ( sekitar 10-13 th) dan memasuki taraf aqil baligh ( usia 14 th ke atas). Maka kalau sampai hari ini ternyata kita masih galau dengan misi hidup kita, maka bersyukurlah, karena kita jadi tahu kesalahan proses pendidikan kita sebelumnya, dan tidak perlu lagi mengalami hal tersebut di saat usia paruh baya yang secara umum dialami oleh sebagian manusia yang disebut sebagai (mid-life crisis).

Maka sekarang, jalankan saja yang anda BISA  dan SUKA tanpa pikir panjang,   karena Allah pasti punya maksud tertentu ketika memberikan kepada kita sebuah kemampuan. Apabila kita jalankan terus menerus, kemungkinan itulah misi hidup kita.

Seseorang yang sudah menemukan misi hidup tersebut apabila menjalankan aktivitas produktif akan lebih bermakna, karena keproduktivitasannya digunakan untuk mewujudkan misi-misi hidupnya. Sehingga selalu memiliki ciri-ciri :

a. Selalu bersemangat dengan mata berbinar-binar

b. energi positifnya selalu muncul, rasanya tidak pernah capek.

c. rasa ingin tahunya tinggi, membuat semangat belajar tinggi

d. Imunitas tubuh naik, sehingga jarang sakit, karena bahagia itu imunitas tubuh yang paling tinggi.

Ada 3 elemen yang harus kita ketahui berkaitan dengan misi hidup dan produktivitas :

a. Kita ingin menjadi apa (be)

b. Kita ingin melakukan apa (do)

c. kita ingin memiliki apa (have)

Dari aspek dimensi waktu ada 3 periode yang perlu kita perhatikan :

a. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu kehidupan kita (lifetime purpose)

b.Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu 5-10 tahun ke depan ( strategic plan)

c. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu satu tahun ( new year resolution)

Setelah mendapatkan jawaban-jawaban dari pertanyaan di atas, maka mulailah berkomitmen untuk BERUBAH dari kebiasaan-kebiasaan yang anda pikir memang harus diubah.

Berikutnya mulai susun langkah-langkah usaha apa saja yang bisa kita lakukan untuk menunjang sebuah produktivitas hidup kita.Mulailah dengan menetapkan target waktu dan jadwal kegiatan selama satu tahun, serta menentukan ukuran atau indikator keberhasilan dalam setiap kegiatan yang kita lakukan.  Buatlah prioritas dan pilih hal-hal yang memang kita perlukan. Hindari membuat daftar yang terlalu panjang, karena hal tersebut membuat kita gagal fokus.

Demikian sekilas tentang pentingnya misi hidup dengan produktivitas, silakan dibuka diskusi dan nanti kami  akan lebih detilkan materi ini secara real di nice homework #8 berbasis dari kekuatan diri teman-teman yang sudah dituliskan di Nice homework #7.

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi IIP/


Sumber bacaan:

Antologi para Ibu Profesional, BUNDA PRODUKTIF, 2014

Materi Matrikulasi IIP, Bunda Produktif, 2017

Materi kuliah rutin Ibu Profesional, kelas bunda produktif, Salatiga, 2015

Hari Ke 3 di Semarang

Hari ke tiga~

Karena hari ini semua masyarakat di rumah mbak Dina kerja, sekolah dan kampus, walhasil kami jalan-jalan berdua doang, aku dan suami. Setelah sarapan dan ngegosip dikit sama mbak Dina akhirnya kami cus pergi.

20170130_104257

Sasaran pertama kami adalah Museum Satria Bhakti Mandala. Hehehe… inilah kami, kalau traveling mah gak suka yang kemana-mana, tapi demennya ke tempat-tempat bersejarah plus museum. Pas ke museum ini sempet bingung gegara pintu depan museum dikunci, akhirnya sama petugas parkir kami digiring ke pintu belakang museum. Oalah… pantesan aja pintunya dikunci, penjaga museumnya lagi ngasih tur buat anak-anak sekolah. Tapi toh gak masalah, kami jadi bisa jalan-jalan sendiri.

Suasana di museum itu gelap, serius deh! Malahan ada satu ruang yang full sama wayang yang kesannya gimana gitu. Saking ada aura gak enak akhirnya kami putusin untuk enggak masuk kesana. Dan malemnya kita tidur sambil ditemenin sama Rukyahan lewat hape 😀

Tapi museum itu emang lumayan bagus sih, terutama buat kamu yang penggemar sejarah. Disana kita jadi belajar ulang mengenai sejarah kemerdekaan baik yang post maupun yang pasca kemerdekaan. Bahkan di museumnya ada pojok khusus untuk buku-buku, yang kayaknya buku lama soalnya banyak debunya. Di museum ini juga dipajang miniatur G30S/PKI. Wahkalau ini salah satu tema favorit sejarah saya tuh. Bahkan di museum ini juga dipajang bendera palu arit dan tentara-tentara jaman dulu.

Museum ini ada dua lantai dan setiap lantainya ada banyak ruangan yang menceritakan berbagai sejarah perjuangan di Indonesia. Hmm, saya jadi makin merasakan betapa perjuangan dulu bener-bener penuh air mata dan darah. Jadi inget kata-kata presiden Soekarno, JAS MERAH yaitu Jangan Sekali Sekali Melupakan Sejarah. Siap Pak Soekarno! Insyaa Allah gak bakal ngelupain sejarah Indonesia asalkan museumnya dijaga dan dirawat oleh pemerintah.

20170130_104308

Selesai dari Museum, kita keluar dari area Museum dan foto di depan Tugu Muda Semarang. Tugu ini pas banget ada di depan museum jadinya gak perlu susah-susah buat foto. Setelah foto di Tugu Muda, kita nyebrang jalan dan voila… nyampai di gedung peninggalan Belanda yang dinamakan Lawang Sewu. Kalo kata Mbak Dina Lawang Sewu lebih cantik dilihat di malam hari, masalahnya kan kita pelancong, jadi lebih enak jalan siang hari.

Gedung Lawang Sewu bener-bener khas peninggalan Belanda. Pertama kali masuk kita langsung ngerasain segernya angin. Maklum, gedung belanda kan punya ciri khas langit-langit tinggi dan jendelanya gede-gede, jadi biar gak pakai AC tetep aja di dalam ruangan kerasa dingin.

Gedung Lawang Sewu ini masih kepunyaan PT Kereta Api Indonesia, makanya berbagai pernik yang sempet saya lihat di Museum Kereta Ambarawa juga bisa dilihat disini. Minus lokomotif kereta sih, tapi pernak-pernik kecil macemnya mesin pencetak tiket dan kalkulator ada disini.

Bangunan ini punya lima gedung yang enggak semuanya dibuka. Bahkan untuk gedung utama yang dibuka cuma sampai tangga yang menunjukkan kaca-kaca mozaiknya aja. Untuk lantai duanya sendiri ditutup dan orang umum dilarang masuk. Untuk Gedung kedua ada dua lantai yang full dibuka untuk umum dan sepertinya bisa disewa juga untuk pertemuan. Pas kami kesana ada yang lagi workshop tapi pas kami liat ternyata peserta WSnya orang kereta api juga. Entahlah kalau ruangan itu bisa disewa untuk umum atau enggak. Kami juga sempet pergi ke loteng di gedung dua, tapi berhubung banyak kelelawar disana kami cuma sekedar lihat-lihat aja dan langsung keluar.

Di gedung ketiga ada dua lantai dan yang dibuka cuma satu lantai. Di lantai satu diperlihatkan proses pemugaran Lawang Sewu dan pembaruan gedung. Disini juga diperlihatkan keramik lantai yang digunakan masa Belanda dan perbandingan keramik yang digunakan di masa kini. Kalau lantai duanya sih ketutup, tapi pas saya kesana ada orang kereta api yang lagi nyender di jendela. Mungkin lantai dua dijadiin kantor sama mereka. Sementara sisa dua gedungnya lagi kami enggak masuk karena sepertinya tertutup untuk umum. Mungkin digunakan sebagai kantor makanya orang umum gak boleh sembarangan masuk.

Capek banget jalan-jalan akhirnya kami istirahat dulu untuk selanjutnya kami jalan menyisiri Jalan Pandanaran. Disana adalah pusat oleh-oleh khas Semarang yang berjejer di satu jalan. Kami mampir untuk beli oleh-oleh di toko Juwana. Yang dibeli? Tentu aja bandeng presto yang enak banget. Sempet bingung waktu mau beli bandeng uuran apa disana. Kami pikir mau beli yang ukuran sedang, sayang lagi habis. Penjualnya nawarin mau yang ukuran kecil gak? Pas saya tanya ukuran kecil kayak gimana ditunjukkin sama penjualnya bandeng sepanjang lengan orang dewasa. Saya sama suami kaget, tapi kami putusin untuk beli yang seukuran itu. Pas ditanya sama Mbak Dina malah dibilang di Semarang ukuran segitu emang kecil, tapi kalau di Jakarta ukuran yang saya beli itu ukuran besar. Hmm, harus noted kalau Insyaa Allah ke Semarang lagi beli oleh-oleh bandeng presto.

Setelah beli oleh-oleh kami langsung cus pulang ke rumah Mbak Dina, packing sekaligus istirahat karena besok kereta kami berangkat jam enam pagi dan membawa kami balik ke Jakarta.

Menghabiskan malam yang terakhir kalinya di kamar tamu yang lumayan nyaman, sambil nonton tv kabel. Tidur setelah sebelumnya baca Quran dulu sambil ditemenin Rukyah lewat Hape. Pengalaman berlibur yang menyenangkan, walau mungkin emang enggak lama sih. Tapi lumayan worthedlah. Jadi pingin jalan-jalan lagi.

Selanjutnya Insyaa Allah traveling kemana lagi ya?

Hari Ke 2 di Semarang

Yeee…. hari kedua, diawali dengan….

Foto-foto di Studio Photo

Hah? Apa? Gak salah?

Iyeee…kagak salah. Wong kita yang travel juga panik dibawa sama Mbak Dina dan suami ke foto studio. Iyalah, rencana jalan-jalan ke Semarang mah mau traveling, mana ada kepikiran mau foto studio? Kalo selfie mah ini emang wajib, tapi gak kepikiran sampai foto resmi toh?

Tapi sayang seribu sayang, kita dibawa juga ke foto studio, namanya Jonas. Bukan maksudnya promosi loh… cuma menceritakan pengalaman doang. Berbekal baju seadanya plus sepatu kets, kita mejeng sana-sini di depan kamera. Huhuhu… berasa salah kostum, padahal Mbak Dina sekeluarga pada pake baju batik semua.

20170129_104518

Selesai foto-foto, kami dibawa mampir ke gedung BPK Semarang. Maklum, karena suaminya Mbak Dina kerja disana walhasil mampir dulu. Kantornya ada diatas bukit jadi anginnya lumayan kenceng, bahkan sesekali hampir nyibak jilbab saya. Dan disana kita udah kayak inspeksi kantor aja, mana ketahuan lagi ada satpam yang mangkir kerja gak bilang-bilang. Alhasil kami kejebak dulu di kantor BPK gegara suaminya mbak Dina marah-marah dulu 😛

Selanjutnya kami dibawa ke museum kereta api di daerah Ambarawa. Pas datang kesana udah rame dan tiket untuk kereta wisatanya udah habis untuk semua jam. Yah, belum rejeki sih. Tapi lumayanlah bisa lihat sana-sini.

Museum ini sebenernya lebih tepat stasiun kereta api yang udah gak dipakai lagi dan disana ditaruh berbagai lokomotif kereta. Mulai dari jenis lokomotif kereta batu bara samapi uap masih ada disini. Mulai yang dari kecepatannya masih 45 Km/jam sampai yang udah 100 Km/jam. Jadi bisa ngebayangin gimana lamanya ntuh kereta sampai ke tempat tujuan, pegel plus capek banget kali ya penumpangnya.

Di museum ini juga diperlihatkan berbagai macam kelengkapan kereta api pada jaman dulu, misalnya tiket, sinyal kereta dll. Bahkan disini juga diperlihatkan mesin pencetak tiket jaman dahulu beserta kalkulatornya. Gede banget. Sampai bercanda kalau kalkulator masih segeda gitu niscaya anak sekolah pada males bawa kalkulator.

Pulang dari Ambarawa udah waktunya makan siang, jadinya kami mampir di warung makan yang rame. Dan aku lupa buat fotoin ntuh warung makan.Duh…dodol banget deh, saking lapernya sampai lupa foto-foto warung makan itu. Yang pasti sambelnya enak banget. Pedesnya mantep.

Setelah makan kami mampir ke pelabuhan Tanjung Emas Semarang. Enggak ngapa-ngapain sih, cuma lihat-lihat kapal yang lagi berlabuh aja. Jujur ini pertama kalinya saya ngedeketin kapal yang lagi ditambat, sensasi gedenya kapal itu ajaib banget. Belum angin laut yang dingin niup para pendatang pelabuhan, seger banget. Cuma sayangnya pelabuhan ini enggak terlalu bersih sih airnya. Entah faktor sampah atau memang banyaknya kapal yang lalu-lalang. Atau mungkin juga faktor pelabuhan ini bukan salah satu destinasi wisata Semarang? Entahlah. Cukup disayangkan sebenernya pelabuhan ini gak terlalu dirawat untuk tujuan wisata.

Karena para masyarakat udah teriak kecapekan akhirnya kami pulang deh ke rumah. Lagian besok juga hari Senin, kasihan yang ada kegiatan sekolah, kerja dan kampus. Akhirnya kami pulang ke rumah buat bobo cantik. Apalagi saya udah mulai pilek. Menyebalkan!

Besok hari ketiga jalan-jalan lagi~

Aside

Even if I’m weak

A man has to walk alone


Halo, apa kabarmu?

Apakah engkau ada di suatu tempat di bawah langit yang luas ini?

Mereka bilang kau akan mengetahui hal yang berharga bagimu disaat hal itu lepas darimu

Semua itu omong kosong

Awalnya kupikir begitu

Tapi ternyata baru kusadari

Senyum yang selalu kau berikan padaku

Perhatianmu yang selalu kupikir menyebalkan

Dan segala kebaikan yang ada pada dirimu

Itulah hal berharga yang telah lepas dariku

Kau tidak akan pernah kembali

Tapi aku ingin kita kembali seperti dulu

Karena itu, bisakah aku pergi ke tempatmu berada?

Di suatu tempat di bawah langit yang luas ini

Ayo kita kembali seperti dulu

Dimana kau akan tersenyum padaku


Looking back It’s all scars

The pitiful me is crying

Once again, I am saddened by the sun rising again


A/N: Sumpaaahhhh gue bikin apaan. Ini gegara bikin challenge nulis dari OWOP temanya lagu. Yang ditulis tengah miring itu diambil dari lirik OST Misaeng yang nyanyi Red Motel judulnya Dreams. Terus puisi gak jelas kanan kiri terinspirasi dari lagunya Hatsune Miku yang judulnya Dear You. Galau dah galau deh tuh tulisan. Bodo’ amat yang penting hutang kelaaarrr 😛

Materi 6 – Ibu Manajer Keluarga Handal

Motivasi Bekerja Ibu

Ibu rumah tangga adalah sebutan yang biasa kita dengar untuk ibu yang bekerja di ranah domestik. Sedangkan Ibu Bekerja adalah sebutan untuk ibu yang bekerja di ranah publik. Maka melihat definisi di atas, sejatinya semua ibu adalah ibu bekerja yang wajib professional menjalankan aktivitas di kedua ranah tersebut, baik domestik maupun publik.

Apapun ranah bekerja yang ibu pilih, memerlukan satu syarat yang sama, yaitu

kita harus “SELESAI” dengan management rumah tangga kita

Kita harus merasakan rumah kita itu lebih nyaman dibandingkan aktivitas dimanapun. Sehingga anda yang memilih sebagai ibu yang bekerja di ranah domestik, akan lebih professional mengerjakan pekerjaan di rumah bersama anak-anak. Anda yang Ibu Bekerja di ranah publik, tidak akan menjadikan bekerja di publik itu sebagai pelarian ketidakmampuan kita di ranah domestik.

Mari kita tanyakan pada diri sendiri, apakah motivasi kita bekerja ?

🍀Apakah masih ASAL KERJA, menggugurkan kewajiban saja?

🍀Apakah didasari sebuah KOMPETISI sehingga selalu ingin bersaing dengan orang/ keluarga lain?

🍀Apakah karena PANGGILAN HATI sehingga anda merasa ini bagian dari peran anda sebagai Khalifah?

Dasar motivasi tersebut akan sangat menentukan action kita dalam menangani urusan rumah tangga dan pekerjaan kita
.
🍀Kalau anda masih ASAL KERJA maka yang terjadi akan mengalami tingkat kejenuhan yang tinggi, anda menganggap pekerjaan ini sebagai beban, dan ingin segera lari dari kenyataan.

🍀Kalau anda didasari KOMPETISI, maka yang terjadi anda stress, tidak suka melihat keluarga lain sukses

🍀Kalau anda bekerja karena PANGGILAN HATI , maka yang terjadi anda sangat bergairah menjalankan tahap demi tahap pekerjaan yang ada. Setiap kali selesai satu tugas, akan mencari tugas berikutnya, tanpa MENGELUH.

Ibu Manajer Keluarga

Peran Ibu sejatinya adalah seorang manager keluarga, maka masukkan dulu di pikiran kita Saya Manager Keluarga kemudian bersikaplah, berpikirlah selayaknya seorang manager.

🍀Hargai diri anda sebagai manager keluarga, pakailah pakaian yang layak (rapi dan chic) saat menjalankan aktivitas anda sebagai manager keluarga.

🍀Rencanakan segala aktivitas yang akan anda kejakan baik di rumah maupun di ranah publik, patuhi

🍀Buatlah skala prioritas

🍀Bangun Komitmen dan konsistensi anda dalam menjalankannya.

Menangani Kompleksitas Tantangan

Semua ibu, pasti akan mengalami kompleksitas tantangan, baik di rumah maupun di tempat kerja/organisasi, maka ada beberapa hal yang perlu kita praktekkan yaitu :

a. PUT FIRST THINGS FIRST

Letakkan sesuatu yang utama menjadi yang pertama. Kalau buat kita yang utama dan pertama tentulah anak dan suami. – Buatlah perencanaan sesuai skala prioritas anda hari ini – aktifkan fitur gadget anda sebagai organizer dan reminder kegiatan kita.

b.ONE BITE AT A TIME

Apakah itu one bite at a time?
-Lakukan setahap demi setahap

-Lakukan sekarang

-Pantang menunda dan menumpuk pekerjaan

c. DELEGATING

Delegasikan tugas, yang bisa didelegasikan, entah itu ke anak-anak yang lebih besar atau ke asisten rumah tangga kita.

Ingat anda adalah manager, bukan menyerahkan begitu saja tugas anda ke orang lain, tapi anda buat panduannya, anda latih, dan biarkan orang lain patuh pada aturan anda

Latih-percayakan-kerjakan-ditingkatkan-latih lagi-percayakan lagi-ditingkatkan lagi begitu seterusnya

Karena pendidikan anak adalah dasar utama aktivitas seorang ibu, maka kalau anda memiliki pilihan untuk urusan delegasi pekerjaan ibu ini, usahakan pilihan untuk mendelegasikan pendidikan anak ke orang lain adalah pilihan paling akhir.

Perkembangan Peran

Kadang ada pertanyaan, sudah berapa lama jadi ibu? Kalau sudah melewati 10.000 jam terbang seharusnya kita sudah menjadi seorang ahli di bidang manajemen kerumahtanggaan. Tetapi mengapa tidak? Karena selama ini kita masih

SEKEDAR MENJADI IBU

Ada beberapa hal yang bisa bunda lakukan ketika ingin meningkatkan kualitas bunda agar tidak sekedar menjadi ibu lagi, antara lain:

🍀Mungkin saat ini kita adalah kasir keluarga, setiap suami gajian, terima uang, mencatat pengeluaran, dan pusing kalau uang sudah habis, tapi gajian bulan berikutnya masih panjang.

Maka tingkatkan ilmu di bidang perencanaan keuangan, sehingga sekarang bisa menjadi manajer keuangan keluarga.

🍀Mungkin kita adalah seorang koki keluarga, tugasnya memasak keperluan makan keluarga. Dan masih sekedar menggugurkan kewajiban saja. Bahwa ibu itu ya sudah seharusnya masak.Sudah itu saja, hal ini membuat kita jenuh di dapur.

Mari kita cari ilmu tentang manajer gizi keluarga, dan terjadilah perubahan peran.

🍀Saat anak-anak memasuki dunia sekolah, mungkin kita adalah tukang antar jemput anak sekolah. Hal ini membuat kita tidak bertambah pintar di urusan pendidikan anak, karena ternyata aktivitas rutinnya justru banyak ngobrol tidak jelas sesama ibu –ibu yang seprofesi antar jemput anak sekolah.

Mari kita cari ilmu tentang pendidikan anak, sehingga meningkatkan peran saya menjadi manajer pendidikan anak.

Anak-anakpun semakin bahagia karena mereka bisa memilih berbagai jalur pendidikan tidak harus selalu di jalur formal.

🍀Cari peran apalagi, tingkatkan lagi…..dst

Jangan sampai kita terbelenggu dengan rutinitas baik di ranah publik maupun di ranah domestik, sehingga kita sampai lupa untuk meningkatkan kompetensi kita dari tahun ke tahun.

Akhirnya yang muncul adalah kita melakukan pengulangan aktivitas dari hari ke hari tanpa ada peningkatan kompetensi.  Meskipun anda sudah menjalankan peran selama 10.000 jam lebih, tidak akan ada perubahan karena kita selalu mengulang hal-hal yang sama dari hari ke hari dan tahun ke tahun.

Hanya ada satu kata

BERUBAH atau KALAH

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi IIP/


SUMBER BACAAN:

Institut Ibu Profesional, Bunda Cekatan, sebuah antologi perkuliahan IIP,  2015

Hasil diskusi Nice Homework Matrikulasi IIP Batch #3, 2017

Irawati Istadi, Bunda Manajer Keluarga, halaman featuring, Success Mom’s Story: Zainab Yusuf As’ari, Amelia Naim, Septi Peni, Astri Ivo, Ratih Sanggarwati, Okky Asokawati,Fifi Aleyda Yahya, Oke Hatta Rajasa, Yoyoh Yusroh, Jackie Ambadar, Saraswati Chasanah, Oma Ary Ginanjar, Pustaka Inti, 2009