Status

Game BunSay#2: Hari 1

20170712_123341

Yup, sebenernya ini pernah saya ceritain di game BunSay periode bulan lalu. Lupa di hari ke berapa, tapi adalah saya cerita mengenai hal ini. Jadi inilah penampakan selai cokelat yang harus dijual.

Karena tema bulan ini mengenai Kemandirian mugkin aku mau ngambil tema kemandirian dalam finansial. Well bukannya butuh uang lebih atau apa. Cuma kan kita gak tau what future holds dan sebagai wanita better be safe than sorry.

Jadi – harusnya enggak aneh sih seperti sudah ditebak akhirnya memang akulah yang harus jualan – suami mempercayakan semua selai cokelat itui dijual. Sendiri. Oleh Aku. Terima kasih banyak.

Strategi pertama: jualannya nanti aja setelah semua kue lebaran habis.

Strategi kedua: kita manfaatkan momen anak yang mau masuk sekolah dan bilang kalau selai cokelat ini sesuai untuk bekal anak sekolah.

Strategi ketiga: kirim marketing ke seluruh grup WA :v

Sisanya tinggal tunggu deh siapa aja yang mau beli….

#Hari1

#Level2

#BunSayIIP

#MelatihKemandirian

#Tantangan10Hari

 

Snow White Fanfic: A Queen with A Broken Heart

Chapter 2

Karena Raja tidak memiliki saudara lain, sementara Snow White masih terlalu muda untuk menjadi seorang Ratu, maka Grunhilde dinobatkan sebagai seorang Ratu. Grunhilde menerima tanggung jawab yang berat itu. Setelah Grunhilde menjadi seorang Ratu, ia memerintahkan agar Snow White mengganti gaun kerajaannya menjadi gaun pelayan dan menempati kamar pelayan. Hal ini bertujuan untuk mendidik Snow White agar memahami kehidupan rakyat biasa, kilah Sang Ratu. Jika Snow White tidak mampu memahami kehidupan rakyat biasa, bagaimana mungkin Ia bisa menjadi ratu yang baik? Begitulah alasan Grunhilde.

Para pegawai Istana setuju dengan alasan Grunhilde, sementara Snow White tidak mampu membantah. Akan tetapi semakin lama semakin terlihat bahwa Ratu mulai bertindak semena-mena kepada Snow White. Sang puteri kecil itu diharuskan melaksanakan tugas pelayan yang berat dan hanya diberi makan ala kadarnya. Para pelayan berbisik-bisik bahwa Ratu yang kejam itu menindas Snow White dan menaruh kasihan. Terkadang mereka menggantikan tugas pelayan yang diberikan kepada Snow White, akan tetapi setelah Ratu mengetahuinya para pelayan itu dihukum dengan kejam. Karena itulah para pelayan tidak berani lagi menggantikan tugas Snow White. Snow White juga paham bahwa hukuman Ratu bisa sangat kejam hingga akhirnya ia tidak memperbolehkan para pelayan untuk menggantikan tugasnya.

.

.

.

Snow White sedang menimba sumur. Gadis berumur enam belas tahun itu sebenarnya sedang dalam perjalanan pulang dari belanja di kota. Akan tetapi di tengah jalan gadis itu merasa haus sehingga ia terpaksa mampir di sumur milik desa. Snow White tidak terlalu suka menimba air dari sumur, karena ia tidak begitu kuat menimba ember kayu yang berat. Akan tetapi rasa haus menderanya, terpaksa ia menimba air. Lengannya sakit dan rasa haus membuatnya pusing, ember kayu hampir mencapai atas bibir sumur. Rasa haus tak tertahan lagi saat tarikan tali sumur melemah, menyebabkan ember merosot kembali ke dasar sumur.

Ember kayu tidak jadi meluncur ke dasar sumur, seseorang telah menahan tali sumur tersebut. Snow White tidak mampu melihat orang yang menolongnya, kepalanya pusing sementara pandangannya menggelap. Seseorang itu menarik ember kayu, menyendok air dan mendekatkannya ke bibir Snow White. Snow White meminum dengan rakus. Ia tidak peduli sopan santun, rasa haus yang mendera benar-benar membunuhnya.

“Wow sabar, kau seperti tidak minum berhari-hari saja,” suara itu berusaha bercanda tetapi Snow White tidak peduli. Gadis itu terus meminum airnya hingga setengah air di ember kayu habis diminumnya.

“Wow, kau benar-benar haus.” ujar suara itu lagi.

Saat itulah Snow White baru bisa melihat jelas siapa yang menolongnya. Seorang pemuda berpakaian pengelana, akan tetapi entah kenapa pedang panjang terselip di pinggangnya. Tak jauh dibelakang pemuda itu juga terdapat seseorang yang sedang menahan dua kuda dan menatap bergantian antara dirinya dan pemuda di depannya. Sadar karena mungkin ia telah mempermalukan dirinya sendiri, Snow White mengibaskan pakaiannya dan meraih belanjaannya.

“Terima kasih telah membantu saya. Saya mohon pamit,” Snow White buru-buru pergi.

“Hei, hei, bagaimana kalau kuantar? Kau kelihatan… tidak terlalu sehat,” Pemuda itu menatap Snow White dengan tidak yakin. Wajar saja, wajah Snow White benar-benar pucat.

“Tidak perlu, terima kasih atas bantuan anda.” Snow White mempercepat langkahnya. Tak baik dirinya pergi belanja terlalu lama, apalagi menerima tawaran orang asing untuk mengantarkan dirinya kembali ke Istana.

.

.

.

Dan seperti yang sudah diduga, Ratu menghukumnya karena ia terlambat kembali ke Istana. Kali ini hukumannya adalah membersihkan kamar tamu Istana. Snowa White tidak paham mengapa ia harus membersihkan kamar tamu. Tapi bisik-bisik pelayan mengatakan bahwa istana mereka akan kedatangan tamu penting sore ini.

Tamu yang ditunggu tiba, tapi Snow White tidak tahu, gadis malang itu masih sibuk membersihkan tiap sudut kamar tamu. Benar-benar melelahkan, pikir gadis itu. Mungkin setelah semua tugasnya selesai ia akan pergi makan, mandi dan langsung tidur.

Pintu kamar terbuka, Snow White kaget dan menoleh ke arah pintu. Disana ia melihat pemuda yang menolongnya tadi siang. Pemuda itu juga tampak kaget melihat Snow White.

“Jadi kau pelayan di istana ini? Pantas saja kau tampak lelah setengah mati tadi siang,” sang pemuda langsung berjalan menghampiri Snow White. Sementara gadis itu hanya terdiam dan merapat ke dinding, tidak yakin harus bicara apa.

“Halo~ kau bengong, nona?“ pemuda itu melambaikan tangannya tepat di depan mata Snow White.

Snow White tidak yakin harus berbicara apa, karena itulah Snow White hanya bisa diam sambil mengamati sosok pemuda di hadapannya itu.

Pemuda itu berkacak pinggang, “Ada apa Nona? Belum pernah bertemu pria setampan diriku?”

Wajah pemuda itu dipenuhi seringai jahil. Tata krama istana mengajarkan bahwa memutar bola mata merupakan sikap yang sangat tidak sopan, karena itulah Snow White tidak memutar bola matanya karena kenarsisan pemuda itu. Akan tetapi Snow White mendengus kecil.

“Yah, wajar saja. Pelayan istana seperti dirimu pastinya jarang bertemu dengan pria tampan. Apalagi yang setampan diriku ini.” Pemuda itu merentangkan lengannya seakan mempertegas pernyatannya.

“Karena itu, silahkan pandangi wajah tampanku ini selama yang kau mau,” pemuda itu tersenyum memikat.

Snow White mengakui, jika dalam situasi biasa bisa saja dirinya jatuh cinta pada pemuda ini. Jujur wajahnya memang tampan. Tapi demi apa, kenapa pemuda ini narsis sekali?

“Jadi, apa kau sebegitu inginnya bertemu denganku sampai menungguku di kamar ini?” Pemuda itu memandang sekeliling.

“Aku sedang membersihkan kamar ini!” ketus Snow White dengan jengkel.

“Ah sayang sekali. Tapi kau sudah selesai membersihkannya?”

“Aku tinggal mengepelnya,” Snow White masih menjawab dengan ketus.

Pemuda itu memandang Snow White, “Tidak perlu dipel, aku mau langsung tidur saja. Lagipula kau hampir pingsan tadi siang jadi langsung saja beristirahat,”

“Aku tak bisa-“ Snow White hendak menyanggah, kelihatan sekali tidak setuju dengan ide itu.

“Nanti kalau ada yang bertanya padaku akan kujawab kau melaksanakan tugasmu dengan baik.”

Snow White cemberut. “Hei, aku sudah berbaik hati padamu, jadi sana. Sana.” pemuda itu mengibaskan tangannya bagaikan mengusir lalat. Snow White benar-benar cemberut.

“Kalau itu keinginan anda,” Snow White meraih peralatan bersih-bersihnya.

“Hei! Setidaknya bilang terima kasih padaku!”

Snow White mendelik sebal, “Terima kasih,” gumamnya ketus sebelum akhirnya keluar dari kamar. Pemuda itu menggeleng kepalanya, “Heran, gadis itu kasar sekali.”

“Tapi lumayan cantik,” gumamnya tak lama kemudian.

.

.

.

Snow White tiba di kamar makan pelayan dengan terhuyung, perutnya lapar dan tubuhnya lelah. Belum lagi tingkah si tamu yang narsis sekali, benar-benar lelah mental dan fisik. Tanpa banyak omong Snow White meraih makanannya dan meneguk air sepuasnya.

“Tuan Puteri, apa kau tadi bertemu dengan tamu itu?” seorang pelayan tua menghampiri Snow White yang hanya dijawab dengan anggukan lemah.

“Putriku, ternyata ia adalah seorang pangeran dari negeri sebelah. Tadi hamba mendengarnya saat Ratu berbicara padanya,”

Tak ada jawaban dari Snow White, ia hanya berusaha menghabiskan makan malamnya. Lagipula ia tidak mau mengingat betapa tinggi tingkat narsis pangeran itu.

“Sungguh terlalu Yang Mulia Ratu! Bahkan disaat ada tamu seperti ini ia tidak memperkenalkan Anda dengan pangeran itu!”

“Bibi…” Snow White memanggil lirih. Yang ia butuhkan saat ini adalah tempat tidur yang nyaman. Tidak perlu ditambah dengan gosip yang aneh-aneh terutama tentang pangeran itu.

“Aduh Tuan Puteri, Anda terlihat lelah sekali. Sebaiknya anda segera istirahat.”

Snow White menyuapkan sendok terakhir, meneguk air miliknya untuk kemudian langsung ke kamarnya. Tak lupa ia mengucapkan selamat malam kepada semua pelayan yang ada disana. Snow White langsung rebah ke tempat tidur, melupakan mandi yang seharusnya dilakukannya.

.

.

.

Snow White menimba air lagi, wajahnya kecut sementara peluh berulir dari dahinya. Gadis itu benar-benar benci menimba air, tapi karena pagi ini gadis itu kebagian tugas untuk mencuci baju mau tidak mau Snow White harus menimba air. Cucian bajunya tidak begitu banyak, karena para pelayan diharuskan mencuci baju mereka masing-masing, tapi tetap saja Snow White harus menimba air. Andai saja air bisa langsung memancar dari bawah tanah yang sayangnya baru bisa terjadi entah berapa ratus tahun lagi.

“Jadi kau ada disini?”

Snow White mengalihkan pandangannya ke sumber suara akan tetapi tangannya terus mencuci baju. Pangeran yang kemarin memandangnya tak jauh dari tempat Snow White mencuci baju.

“Mau apa anda disini?”

“Hanya penasaran dengan sosok puteri kerajaan ini,”

Snow White mendelik, “Anda mengejekku?” jelas sekali nada jengkel. Karena saat ini Snow White benar-benar berantakan, busa cucian dan keringat menempel pada pakaian dan rambutnya. Benar-benar tidak kelihatan anggun sama sekali.

“Apa sekian lama menjadi pelayan istana membuat anda melupakan tata krama kerajaan?”

Snow White mendelik tajam tapi berusaha mengabaikan sindiran itu. Dengan sembarangan gadis itu menyelesaikan kegiatan mencuci pakaiannya dan cepat-cepat pergi dari sana.

“Tunggu… tunggu, aku cuma bercanda.” pangeran itu mengejar dan menghalangi jalan Snow White. Snow White tidak menggubris dan berusaha melangkah ke depan. Akan tetapi setiap Snow White berusaha melangkah Pangeran itu selalu menghalangi langkah Snow White.

“Baiklah pangeran tampan, aku punya banyak pekerjaan.” Snow White mendesis dibagian tampan sementara pangeran itu menyeringai.

“Pergilah dari sini sebelum aku memanggil pengawal untuk mengusirmu,” lanjut Snow White.

Pangeran itu hanya terkekeh. “Aku punya nama, Anda tahu. Namaku James-“

“Tak peduli! Charming sesuai untukmu.” Snow White langsung memotong, James mengangkat kedua alisnya, terkekeh pelan. “Sekarang, jangan ganggu aku, Charming!

James terkekeh, “Bukan begitu caranya memperlakukan seorang pangeran,”

“Oh, lalu apa ini caramu untuk mendapatkan perhatian seorang gadis?”

James menatap Snow White. “Kau pandai berbicara,”

“Luar istana mengajarkan banyak hal padaku,” Snow White hendak pergi dari sana tapi buru-buru dicegah kembali oleh James.

“Aku butuh seseorang untuk mengantarkanku berkeliling luar istana,”

Snow White mengangkat alisnya. “Dan alasan apa yang membuat anda memilih saya?”

“Karena kau puteri kerajaan ini,”

“Dan siapa yang mengatakan kalau akulah puteri kerajaan ini?” Snow White menyipit curiga.

James mengangkat bahunya, “Beberapa koin emas cukup membuat pelayan dan pengawal istana berbicara.”

Snow White membelalakkan matanya. Astaga, ternyata pelayan istana dan pengawalnya mudah sekali disuap dengan koin emas.

“Ayolah, gosip menarik beredar ke negeri tetangga. Puteri Snow White yang cantik dengan kulit seputih salju-“ James memandang lekat wajah Snow White yang walau pucat tetap saja menguarkan aura kecantikan tersendiri.

“- rambut sehitam eboni-“ James memandang rambut hitam Snow White yang berkilau.

“- dan bibir semerah darah. Siapapun juga akan langsung tahu jika melihatmu.” Yak, James mulai terpikat dengan kecantikan Snow White. Gosip yang beredar memang tidak salah. Malahan Tuan Putri yang ada di hadapannya ini jauh lebih menawan dibanding gosip yang didengarnya.

Snow White masih terdiam, seakan menimbang apakah pemuda yang ada di hadapannya ini pantas untuk dipercaya.

“Apakah ini berarti kau menerima ajakanku?” James memutuskan dengan sepihak.

“Aku punya banyak kerjaan yang lebih penting.”

“Ayolah~ ini juga tugas penting karena terkait misi diplomatik dua kerajaan.” James mulai berkilah. Apapun yang terjadi James harus berhasil mengajak gadis ini jalan-jalan ke luar istana. Tak peduli harus menggunkan cara licik sekalipun.

Snow White masih diam dan kali ini menatap curiga kepada James.

“Atau haruskah aku laporkan pada Ratu bahwa Puteri Snow White berusaha menggagalkan misi diplomatik kerajaan?”

Snow White melotot kepada James, “Kau mengancamku?”

“Jika itu bisa membuat Anda mau jalan denganku,” James mengangkat bahu dan terkekeh, kentara sekali menyeringai puas. Snow White memandang sebal.

“Jadi?” James mendesak.

“Hanya karena untuk misi diplomatik,” Snow White menjawab dengan sebal.

James tersenyum puas.

“Sore hari kutunggu di depan gerbang Istana. Dan aku benci orang yang terlambat!” Snow White menoleh sekilas dan melanjutkan langkahnya. James tak lagi menyembunyikan seringai lebarnya dan malah mulai berjingkrak senang.

.

.

.

Grunhilde melihat semua itu dari jendela kamarnya di istana atas, matanya menatap dingin pada Snow White dan Pangeran James.

“Kau tidak bisa lagi menyembunyikan kecantikan gadis kecil itu.”

Grunhilde tidak mempedulikan ucapan tersebut, akan tetapi matanya memancarkan sinar yang dingin.

“Aku tidak tertarik dengan kecantikan gadis itu,” Grunhilde memutar tubuhnya, menatap cermin besar yang aneh.

“Lalu apa yang kauinginkan?” Suara itu muncul dari dalam cermin, menampilkan sesosok wajah pucat bagaikan topeng.

“Oh Ibuku tersayang, kau pikir apa alasan aku mengutuk dirimu menjadi cermin seperti ini?” Grunhilde tersenyum, “Dikutuk selamanya untuk menjadi cermin yang tak mampu berbuat apapun.”

Grunhilde berputar dalam kamarnya. “Tak menyangka bahwa anakmu, yang mewarisi kekuatan sihirmu akan tega menggunakan kekuatannya untuk mengutuk ibunya sendiri.” Grunhilde tertawa terkekeh.

“Grunhilde, kau tahu aku hanya ingin membuatmu bahagia!”

“Diam!” Grunhilde melemparkan gelas kaca ke cermin tersebut akan tetapi hanya gelas itu yang pecah berkeping sementara cermin tersebut tidak rusak sama sekali.

“Kau ingin aku bahagia? Memaksaku menikah dengan Raja? Bekerja sama dengan pria terkutuk itu dan membunuh kekasihku?!”

“Grunhilde, Raja sangat mencintaimu-“

“Dia bukan cinta sejatiku!” jerit Grunhilde, rambutnya berantakan sementara napasnya terengah.

“Hanya Edward… hanya dia… cinta sejatiku…” Grunhilde terduduk di lantai. Air mata mengalir di pipi ratu muda itu, napasnya terisak.

“Dan Snow White tolol itu merasa dewasa dan ikut campur urusanku. Harusnya dulu aku membunuhnya…. yah, harusnya aku membunuhnya. Gadis tolol itu membuka mulut terlalu lebar hingga akhirnya Raja dan kau membunuh Edwardku!”

“Grunhilde, kau tahu aku sangat mencintaimu.”

Grunhilde menatap tajam cermin tersebut. “Kau tidak mencintaiku Ibuku tersayang. Kau terlalu mencintai kekuasaan.”

“Grunhilde, kumohon jangan terus menambah dosamu,” sosok di cermin tersebut mulai terisak.

“Semua sumber kebencianku harus kulenyapkan. Raja bodoh itu sudah mati dan Ibuku tersayang, kau sudah tak berdaya. Sisanya, tinggal gadis tolol itu.”


A/N: Hai…hai…sekarang entah kenapa lagi seneng nulis cerita fanfic ini. Sebenernya ide cerita ini ada yang sedikit kuambil dari drama tv Once Upon A Time dari ABC TVs sih…cuma karena belom pernah nonton filmnya secara full dan cuma nonton per part jadinya saya juga gak tau apakah cerita yang sekarang ini ditulis bakal sama banget sama filmnya atau enggak. Kalau sama banget maap deh…itu semua unsur ketidak sengajaan kok 😛 yang penting saya udah tulis disclaimernya kalau emang mirip banget.

Materi 6 – Ibu Manajer Keluarga Handal

Motivasi Bekerja Ibu

Ibu rumah tangga adalah sebutan yang biasa kita dengar untuk ibu yang bekerja di ranah domestik. Sedangkan Ibu Bekerja adalah sebutan untuk ibu yang bekerja di ranah publik. Maka melihat definisi di atas, sejatinya semua ibu adalah ibu bekerja yang wajib professional menjalankan aktivitas di kedua ranah tersebut, baik domestik maupun publik.

Apapun ranah bekerja yang ibu pilih, memerlukan satu syarat yang sama, yaitu

kita harus “SELESAI” dengan management rumah tangga kita

Kita harus merasakan rumah kita itu lebih nyaman dibandingkan aktivitas dimanapun. Sehingga anda yang memilih sebagai ibu yang bekerja di ranah domestik, akan lebih professional mengerjakan pekerjaan di rumah bersama anak-anak. Anda yang Ibu Bekerja di ranah publik, tidak akan menjadikan bekerja di publik itu sebagai pelarian ketidakmampuan kita di ranah domestik.

Mari kita tanyakan pada diri sendiri, apakah motivasi kita bekerja ?

🍀Apakah masih ASAL KERJA, menggugurkan kewajiban saja?

🍀Apakah didasari sebuah KOMPETISI sehingga selalu ingin bersaing dengan orang/ keluarga lain?

🍀Apakah karena PANGGILAN HATI sehingga anda merasa ini bagian dari peran anda sebagai Khalifah?

Dasar motivasi tersebut akan sangat menentukan action kita dalam menangani urusan rumah tangga dan pekerjaan kita
.
🍀Kalau anda masih ASAL KERJA maka yang terjadi akan mengalami tingkat kejenuhan yang tinggi, anda menganggap pekerjaan ini sebagai beban, dan ingin segera lari dari kenyataan.

🍀Kalau anda didasari KOMPETISI, maka yang terjadi anda stress, tidak suka melihat keluarga lain sukses

🍀Kalau anda bekerja karena PANGGILAN HATI , maka yang terjadi anda sangat bergairah menjalankan tahap demi tahap pekerjaan yang ada. Setiap kali selesai satu tugas, akan mencari tugas berikutnya, tanpa MENGELUH.

Ibu Manajer Keluarga

Peran Ibu sejatinya adalah seorang manager keluarga, maka masukkan dulu di pikiran kita Saya Manager Keluarga kemudian bersikaplah, berpikirlah selayaknya seorang manager.

🍀Hargai diri anda sebagai manager keluarga, pakailah pakaian yang layak (rapi dan chic) saat menjalankan aktivitas anda sebagai manager keluarga.

🍀Rencanakan segala aktivitas yang akan anda kejakan baik di rumah maupun di ranah publik, patuhi

🍀Buatlah skala prioritas

🍀Bangun Komitmen dan konsistensi anda dalam menjalankannya.

Menangani Kompleksitas Tantangan

Semua ibu, pasti akan mengalami kompleksitas tantangan, baik di rumah maupun di tempat kerja/organisasi, maka ada beberapa hal yang perlu kita praktekkan yaitu :

a. PUT FIRST THINGS FIRST

Letakkan sesuatu yang utama menjadi yang pertama. Kalau buat kita yang utama dan pertama tentulah anak dan suami. – Buatlah perencanaan sesuai skala prioritas anda hari ini – aktifkan fitur gadget anda sebagai organizer dan reminder kegiatan kita.

b.ONE BITE AT A TIME

Apakah itu one bite at a time?
-Lakukan setahap demi setahap

-Lakukan sekarang

-Pantang menunda dan menumpuk pekerjaan

c. DELEGATING

Delegasikan tugas, yang bisa didelegasikan, entah itu ke anak-anak yang lebih besar atau ke asisten rumah tangga kita.

Ingat anda adalah manager, bukan menyerahkan begitu saja tugas anda ke orang lain, tapi anda buat panduannya, anda latih, dan biarkan orang lain patuh pada aturan anda

Latih-percayakan-kerjakan-ditingkatkan-latih lagi-percayakan lagi-ditingkatkan lagi begitu seterusnya

Karena pendidikan anak adalah dasar utama aktivitas seorang ibu, maka kalau anda memiliki pilihan untuk urusan delegasi pekerjaan ibu ini, usahakan pilihan untuk mendelegasikan pendidikan anak ke orang lain adalah pilihan paling akhir.

Perkembangan Peran

Kadang ada pertanyaan, sudah berapa lama jadi ibu? Kalau sudah melewati 10.000 jam terbang seharusnya kita sudah menjadi seorang ahli di bidang manajemen kerumahtanggaan. Tetapi mengapa tidak? Karena selama ini kita masih

SEKEDAR MENJADI IBU

Ada beberapa hal yang bisa bunda lakukan ketika ingin meningkatkan kualitas bunda agar tidak sekedar menjadi ibu lagi, antara lain:

🍀Mungkin saat ini kita adalah kasir keluarga, setiap suami gajian, terima uang, mencatat pengeluaran, dan pusing kalau uang sudah habis, tapi gajian bulan berikutnya masih panjang.

Maka tingkatkan ilmu di bidang perencanaan keuangan, sehingga sekarang bisa menjadi manajer keuangan keluarga.

🍀Mungkin kita adalah seorang koki keluarga, tugasnya memasak keperluan makan keluarga. Dan masih sekedar menggugurkan kewajiban saja. Bahwa ibu itu ya sudah seharusnya masak.Sudah itu saja, hal ini membuat kita jenuh di dapur.

Mari kita cari ilmu tentang manajer gizi keluarga, dan terjadilah perubahan peran.

🍀Saat anak-anak memasuki dunia sekolah, mungkin kita adalah tukang antar jemput anak sekolah. Hal ini membuat kita tidak bertambah pintar di urusan pendidikan anak, karena ternyata aktivitas rutinnya justru banyak ngobrol tidak jelas sesama ibu –ibu yang seprofesi antar jemput anak sekolah.

Mari kita cari ilmu tentang pendidikan anak, sehingga meningkatkan peran saya menjadi manajer pendidikan anak.

Anak-anakpun semakin bahagia karena mereka bisa memilih berbagai jalur pendidikan tidak harus selalu di jalur formal.

🍀Cari peran apalagi, tingkatkan lagi…..dst

Jangan sampai kita terbelenggu dengan rutinitas baik di ranah publik maupun di ranah domestik, sehingga kita sampai lupa untuk meningkatkan kompetensi kita dari tahun ke tahun.

Akhirnya yang muncul adalah kita melakukan pengulangan aktivitas dari hari ke hari tanpa ada peningkatan kompetensi.  Meskipun anda sudah menjalankan peran selama 10.000 jam lebih, tidak akan ada perubahan karena kita selalu mengulang hal-hal yang sama dari hari ke hari dan tahun ke tahun.

Hanya ada satu kata

BERUBAH atau KALAH

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi IIP/


SUMBER BACAAN:

Institut Ibu Profesional, Bunda Cekatan, sebuah antologi perkuliahan IIP,  2015

Hasil diskusi Nice Homework Matrikulasi IIP Batch #3, 2017

Irawati Istadi, Bunda Manajer Keluarga, halaman featuring, Success Mom’s Story: Zainab Yusuf As’ari, Amelia Naim, Septi Peni, Astri Ivo, Ratih Sanggarwati, Okky Asokawati,Fifi Aleyda Yahya, Oke Hatta Rajasa, Yoyoh Yusroh, Jackie Ambadar, Saraswati Chasanah, Oma Ary Ginanjar, Pustaka Inti, 2009

NHW 1 – Adab Menuntut Ilmu

Jadi, minggu ini saya baru aja dapat ilmu mengenai Adab Menuntut Ilmu. Sebelumnya saya udah post di sini jadi silahkan dicek lagi aja sendiri 😉

Nah, tugas kelas ini masih berhubungan dengan materi dari grup Institut Ibu Profesional. Kebetulan saya kedapetan di Batch 3 daerah Bekasi – Karawang dan tugasnya lumayan juga. Lumayan bikin pusing maksudnya 😛 tapi sekarang saya akan post disini untuk tugas mingguannya.


Sebenarnya yang namanya hidup itu pastinya akan selalu ada proses belajar mengajar. Bahkan ada hadis dari Rasulullah yang menyatakan tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat. Bayangin, dari buaian sampai liang lahat! Itu berarti menegaskan bahwa ilmu itu emang sangat penting banget dan kalau masih bisa dikejar ya kudu harus dikejar. Yang namanya belajar itu bukan cuma sekedar di sekolah atau kampus atau tempat les. Tapi setiap kehidupan kita, setiap detik napas kita pasti ada banyak hal yang bisa kita pelajari. Jadi kalau boleh diibaratkan sebenarnya kehidupan kita ini udah kayak universitas kok. Bedanya mungkin gak ada bangku sama meja, tapi pasti setuju kan kalau kehidupan ini bisalah disama-samain dengan universitas.

Nah, kalau misalnya ada kampus yang dinamakan Universitas Kehidupan, kira-kira mau ngambil urusan apa? Wah itu sebenarnya pertanyaan yang susah sih. Ada banyak yang saya pingin pelajarin, misalnya agama, filsafat atau psikologi. Tapi kalau saya tulis semua itu nanti namanya ngabsen, jadi saya mau pilih aja jurusan psikologi. Dan karena ini adalah grup Ibu Profesional mungkin saya panjangin aja nama jurusannya jadi ilmu psikologi keluarga islam. Keren kan?

Kalau menurut KBBI, Psikologi berarti ilmu yang berkaitan dengan mental baik normal maupun tidak abnormal dan pengaruhnya pada perilaku. Sementara keluarga berarti orang seisi rumah yang menjadi tanggungan. Jadi secara gamblang bisa dijelaskan bahwa psikologi keluarga islam adalah ilmu yang mempelajari mental dan pengaruh pada perilaku semua anggota keluarga yang menjadi tanggungan dengan berdasarkan hukum Islam. Awalnya dulu sama sekali enggak tertarik dengan yang namanya psikologi. Maklum, sewaktu kecil saya dijejalin kalau psikologi itu sama dengan gila atau sakit jiwa, jadi wajar kan kalau saya enggak tertarik buat cari tahu ilmu macam apa psikologi itu. Lucunya yang bikin saya tertarik ilmu psikologi gara-gara baca webtoon dari applikasi hape saya yang pintar. Nah di komik itu diceritain berbagai macam kasus yang terjadi yang berhubungan dengan masalah kejiwaan. Dan disanalah saya baru tahu, ternyata psikologi itu bukan cuma sekedar sakit jiwa. Bahkan yang namanya gangguan tidur atau insomnia itu juga masuk urusan ilmu psikologi.

Tapi yang bikin saya tertarik sebenarnya dalam cerita komik itu ada  cerita yang tokoh dalam kasus itu mengalami tekanan yang berat atau bahasa kerennya stress gegara dia dapet tekanan beban prestasi dari keluarganya. Orang tua si tokoh kasus ini kerja di perusahaan gengsi, kedua kakaknya lulus dari kampus yang keren dan juga kerja di perusahaan ternama. Sebagai anak paling bontot otomatis dia merasa tertekan dengan beban prestasi yang harus dicapai. Bahkan sampai stressnya si tokoh ini gak bisa tidur selama tiga bulan.

Setelah baca komik itu saya jadi mikir, zaman sekarang udah beda banget sama zaman waktu saya masih ngampus dulu. Apalagi kalau saya udah punya anak, seberapa besar beban prestasi yang harus dipikul anak saya supaya bisa sesuai dengan tuntutan pemerintah dan kemajuan zaman. Kita bisa lihat sendiri, banyak kasus dimana para remajanya gadget addict sampai seakan tanpa hape dunianya udah berakhir. Atau mungkin kasus bunuh diri dengan alasan yang bermacam-macam. Duh, sedih banget dengernya.

Di zaman dimana teknologi berkembang dengan cepat, anak-anak jadi terlalu rentan terhadap segala sesuatu yang ada di internet. Padahal semua yang berasal dari internet belum tentu baik dan memiliki sumber yang bisa dipercaya. Cepatnya informasi yang beredar di internet jika tidak disikapi dan dibimbing dengan baik oleh orang tua, maka anak-anak akan mudah terjerumus ke dampak negatif, misalkan saja narkoba, tawuran, pemerkosaan atau hal lainnya. Selain itu semakin meningkatnya kasus kriminalitas melalui dunia cyber mengakibatkan para orang tua harus ekstra waspada dalam membimbing anak-anaknya. Anak-anak yang rentan bisa saja mendapat limpahan informasi yang padahal seharusnya secara umur ia belum siap menerima informasi tersebut. Karena itulah semakin berkembangnya teknologi sebagai orang tua kita harus membimbing anak-anak kita bukan hanya pengetahuan, tetapi juga akal dan psikisnya agar siap menghadapi derasnya kemajuan teknologi dan tetap bertahan dengan norma-norma Islam meskipun diserang dari berbagai arah.

Terus saya harus gimana dong?

Iya sih, saya gak punya latar belakang apapun yang berhubungan dengan psikologi. Tapi zaman sekarang udah maju, saya bisa memanfaatkan kemajuan teknologi untuk mencari sumber ilmu yang saat ini semakin mudah didapatkan. Hape udah enggak kekinian lagi kalau cuma dipakai untuk socmed. Mendingan dipakai buat baca-baca hal yang bermanfaat. Nah salah satunya bisalah dimanfaatin untuk menambah pengetahuan, khususnya buat saya mengenai psikologi keluarga islam ini. Melalui internet perkembangan ilmu bisa terus di update sesuai masa kini sehingga bisa dipelajari dan diaplikasikan saat mendidik anak ataupun membimbing keluarga.

Sumber bacaan bisa macam-macam, melalui buku, situs web terpercaya maupun jurnal ilmiah. Kita juga harus hati-hati kalau membaca sesuatu dari sumber yang belum jelas asal-usulnya. Apalagi yang lagi saya lakonin ini adalah ilmu psikologi, jadi kudu ekstra hati-hati, urusannya masalah mental seseorang sih.

Tapi kita juga gak bisa belajar dengan membaca aja. Kita terkadang harus cari contoh kasusnya karena walau kita punya ilmu tapi enggak pernah diterapin itu sia-sia aja. Karena itu selain baca mengenai pemahaman ilmu psikologi, kita juga harus mencari contoh kasus yang terkait, memahami permasalahan dan mengaplikasikan pemahaman itu kepada anak kita. Gak usah repot-repot sih,cukup kita pantengin aja berita dan kalau misalnya ada kasus yang pelakunya masih remaja kita bisa coba mempelajari kenapa si pelaku melakukan hal tersebut, setelah itu kita bisa membimbing anak kita agar tidak terjerumus seperti itu.

Hufft…setelah dibahas ternyata banyak juga tugas yang harus dilakukan kalau kita ingin anak-anak kita tidak terjerumus ke hal negatif seperti itu. Tapi tenang aja, insyaa allah semua itu pasti bisa dilaluin, asalkan orang tuanya juga berinisiatif untuk berubah ke hal yang lebih baik. Anak-anak cenderung selalu meniru apa yang dilakukan oleh orang tuanya, jadi bisa dikatakan orang tua adalah sekolah pertama bagi anak-anak.

Saya akuin sih terkadang saya suka slebor, tapi bukan berarti saya juga mau punya anak yang sleboran. Nah, disini saya harus mencoba memperbaiki diri sendiri. Kalau mengacu pada ilmu adab menuntut ilmu yang kemarin, saya akui selama ini saya memang hobi membaca berbagai topik maupun ilmu pengetahuan yang random. Tujuannya cuma satu, untuk sekedar tahu dan supaya pengetahuan lebih luas. Tapi setelah dapat ilmu adab menuntut ilmu akhirnya saya sadar juga, mungkin selama ini tujuan saya untuk membaca salah arah. Saya hanya sekedar ingin tahu tanpa ada niatan untuk mengaplikasikan ilmu yang baru saya baca itu. Alhasil walau saya sudah baca tapi ilmu itu biasa-biasa aja, tidak terlalu ngefek di dunia nyata. Jangankan ngefek, yang ada malah kepikiran bacaan yang baru saya baca itu gak ada gunanya, cuma sekedar passing time aja. Duh, jadi malu tapi untungnya cepet-cepet disadarin. Jadi, sambil belajar bareng IIP ini saya mau balik lagi lurusin niat untuk terus belajar dan mencari ilmu supaya bisa diaplikasikan ke anak cucu saya. Amin.

SIGH

Aku mendesah.

Kuangkat kepalaku dan menatap matahari yang agak condong. Musim gugur yang agak dingin di Venezia. Meskipun begitu masih ada perasaan hangat. Matahari masih bersinar, akan tetapi angin yang bertiup, terutama di Venezia ini cukup membuat musim gugur agak terlalu dingin.

Kuarahkan pandanganku kepada matahari, menantang. Konyol memang. Matahari memiliki sinar yang begitu kuat, mengapa dengan konyolnya aku berusaha menatapnya? Ah, lagi-lagi aku jadi teringat dirinya. Aku berusaha menggeleng, menepis pikiran konyolku.

Kuarahkan pandangan ke sekelilingku. Jembatan Ponte della Paglia sore ini agak sepi. Tidak banyak wisatawan- mungkin karena saat ini bukanlah musim wisatawan padat, masih bisa kumaklumi. Hanya terdapat beberapa orang yang bersantai di jembatan ini, menikmati pemandangan kanal dibawah, matahari senja musim gugur, atau entahlah mereka sibuk masing-masing.

Dengan malas aku menatap kanal dibawah, hanya beberapa gondola yang sedang dikayuh oleh para gondolier. Beberapa itik mengapung di sudut kanal, bergerombol entah sedang apa.

Entah berapa lama aku termenung, memandangi itik tersebut hingga tersadarkan oleh bunyi dentang jam menara. Aku mengenali bunyi dentang itu. Dentang jam Piazza San Marco berbunyi sebanyak lima kali. Kembali aku mencoba menatap langit, matahari sudah condong bahkan hampir tenggelam.

Air mataku menggenang di sudut mata. Berapa lama lagi aku harus menunggu? Selalu begini. Pada akhirnya akulah yang harus menunggu, sementara dirimu entah sedang dimana saat ini. Berpura-pura melupakan janji temu antara kita berdua. Dan esok harinya kau akan menemuiku, tersenyum bodoh dan meminta maaf, lalu mengatur janji bertemu yang pasti akan kau lupakan lagi.

Aku mendesah, mataku menatap lurus.

Sungguh ironis. Aku mendesah di depan Jembatan Desah (Ponte dei Sospiri).

Sungguh lucu kan? Mereka bilang para pelaku kejahatan saat dibawa melintas jembatan itu akan mendesah sambil menatap indahnya Venezia. Dan aku ada disini. Menatap Jembatan Desah sambil mengenang semua yang telah kita lalui.

Sebuah gondola melintas dibawah Jembatan Desah. Penumpang yang dipandu oleh gondolier itu berciuman tanpa malu-malu, dihadapan sang gondolier.

Aku mendengus sinis. Kami juga pernah melakukan hal itu. Legenda mengatakan pasangan yang berciuman tepat di bawah Jembatan Desah pada senja hari pasti akan memiliki hubungan yang kekal selamanya.

Aku menggeleng keras. Itu semua cuma legenda. Buktinya aku dan dia tidak baik-baik saja.

Kuraih loket kalung yang kugunakan, foto kami berdua. Aku masih menatap foto itu saat handphoneku bergetar.

Maafkan aku. Aku tak bisa menemuimu sore ini.

Perasaan campur aduk memenuhi rongga dadaku. Jadi ini jawabanmu setelah kau membuatku menunggu selama enam jam?

Aku menarik loket kalungku dengan kasar, rantai tipis itu terlepas. Dengan kasar aku membuang loket itu ke kanal di bawah. Biarlah loket itu menghilang. Biarlah perasaan cinta ini menghilang. Biarkan semua keluh kesah dan desahku ini terbawa oleh angin Adriatik, mengalir menyeluruh ke Venezia, menyampaikan perasaanku kepada lautan. Hanya kepada lautan ini saja aku bisa mencurahkan perasaanku.

Air mataku telah menetes membasahi pipi, bahuku bergetar, akan tetapi aku tidak peduli. Aku telah menumpahkan segala perasaanku kepada kanal. Apa tidak sebaiknya sekalian aku melakukan ritual Marriage of The Sea?

Aku menepis pikiran konyolku sesaat.

Perdere, Stai Bene (Miss, are you alright)?”

Seorang polisi bersepeda menatapku dengan was-was. Pastilah aku terlihat sangat berantakan saat ini.

Sto Bene (I am fine),” gumamku sambil melempar senyum kecil.

Polisi itu bingung sesaat sebelum akhirnya menyentuh tepi topi miliknya dan mengayuh sepedanya. Aku menghapus air mata di pipiku, menarik napas dalam-dalam dan membuangnya, terus melakukan hal itu hingga aku kembali mendesah.

Aku mendesah di depan Jembatan Desah. Lagi. Sungguh ironis.

I wed thee, sea, as a sign of true and everlasting domination,” gumamku sambil menatap kanal dibawah.

Aku menatap langit. Senja ini Venezia kembali menikah dengan Laut Adriatik. Sebagai pelarian karena tak mampu menggenggam cinta yang nyata.

Aku mendesah. Lagi. Melangkah pergi dari Ponte della Paglia.


#Malam Tantangan OWOP

A/N: Apaan ini??? udah setorannya telat, risetnya kurang, bahasanya pakai google translate! Terlalu! Sediiih hayati. mOga-moga bisa jalan-jalan ke Itali deh.