Image

Diambil tanggal 15 Maret 2018 di rumah. Jamnya mungkin sekitar pukul 06.30 WIB. Bulan sabitnya cantik banget jadinya langsung foto untuk diposting pribadi.

Advertisements

Spin off – summonerXknight

Image result for twilight red sky

“Matahari senja.”

Semburat warna merah memenuhi langit yang kali ini berwarna campuran merah dan jingga. Marina ikut menatap langit sore itu. Angin malam telah berhembus tanpa ia sadari.

“Cantik sekali.” Gumamnya. Tiba-tiba saja perasaan sepi dan sunyi menyelusup masuk dalam hatinya. Perasaan sedih yang tidak ada hubungannya dengan angin malam yang bertiup.

“Ayo pulang.” Sada menoleh menatap adiknya itu. Ah, bukan adiknya. Lebih tepatnya gadis kecil yang diangkat anak oleh orang tuanya. Akan tetapi Marina masih terus menatap matahari senja itu, rambutnya tertiup pelan. Ia menggeleng. “Aku belum mau pulang,” bisiknya.

Sada mengangkat alisnya. Ia mengarahkan pandangannya ke kaki bukit, di mana rumah mereka berada. Ayahnya sedang duduk menikmati angin sore sementara Ibu mereka melambai kearah mereka, mengisyaratkan untuk pulang.

“Ayo, Ibu sudah memanggil kita. Waktunya makan malam.”

Marina masih menggeleng.

“Besok kita bisa bermain lagi.” Sada masih membujuk.

Marina akhirnya mengalihkan pandangannya dari matahari senja, menatap matanya. Jujur saja, Sada merasakan getaran kecil di tubuhnya saat Marina menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.

“Aku ingin sekali begitu…,” gumam Marina pelan, “…tapi yang seperti ini juga cukup.”

Sada menatap Marina tak mengerti, yang ditatap tersenyum lembut. “Lebih dari ini itu namanya egois.”

“Apa maksudmu, Marina?” Sada mulai merasa tidak enak.

Angin pelan berhembus, kali ini hamburan kelopak bunga entah darimana bertiup mengelilingi mereka. Suasana menjadi gelap dan Sada tidak lagi bisa melihat kaki bukit maupun rumah mereka yang ada di bawah. Hanya ada langit senja, padang rumput yang ada di bawah kaki mereka serta taburan kelopak bunga yang bertebangan di sekeliling mereka. Untuk sesaat semua itu membutakan mata Sada hingga ia menutup matanya. Setelah dirasa tenang ia kembali membuka matanya dan mendapati sosok Marina yang berubah. Dari seorang gadis kecil berumur 6 tahun menjadi seorang gadis berumur 16 tahun.

Gaun putih yang ia kenakan melayang dengan cantik, menciptakan efek Marina sebagai seorang dewi dari dunia lain.

Marina menangkap sebuah kelopak bunga ke telapak tangannya dan menutupnya. Ia membawanya ke dada dan berbisik, “Yang berikutnya, hiduplah sesuai keinginan kalian.”

Sada berusaha mengulurkan tangannya pada Marina, tapi ia merasa berat. Ia merasa justru ditarik menjauh dari gadis itu. Marina mengulurkan tangannya, membuka telapak tangannya dan membiarkan kelopak bunga itu berhamburan menuju Sada.

Related image

“Aku mencintaimu, Sada.”

Marina menutup matanya dan perlahan tubuhnya tenggelam dalam kegelapan tak berdasar. Sada berusaha meronta, memberontak, berusaha menjangkau Marina. Akan tetapi tubuhnya justru tertarik ke area yang terang. Semakin menjauh dari Marina yang saat ini tubuhnya telah tertelan sempurna dalam kegelapan. Sada hanya bisa terisak…

.

.

.

… air mata mengalir di pipinya. Sada membuka matanya. Semua itu hanya mimpi tapi terasa nyata.

Tidak, dalam hatinya Sada tahu semua itu bukan sekedar mimpi. Itu adalah kenyataan. Marina telah menyelesaikan tugasnya. Sada memandang tangannya yang tergenggam, membuka telapak tangannya. Di sana terdapat sebuah kelopak bunga, Kelopak yang sama yang ada dalam mimpinya.

“Hiduplah sesuai keinginan kalian.”

Sada kembali menggenggap kelopak bunga itu, air mata mengalir kembali di pipinya. Tubuhnya bergetar, terisak. Ia benar-benar menyesal sekarang. Kenapa pada saat ia bisa melindungi Marina ia malah neyerahkan gadis itu kepada pihak dunia? Kenapa saat Marina sudah tidak ada lagi ia malah berharap bisa ikut bersamanya untuk melindunginya?

Sada membuka genggaman tangannya, tubuhnya masih terisak. Kelopak bunga itu sudah tidak ada lagi.


A/N: Tahulah yaa ini terinspirasi dari mana. Kalau gak tahu yah, well, ini terinspirasi dari Final Fantasy XV. Untuk ceritanya ini lebih ke arah spin off dari fanfic fandom vocaloid: SummonerXKnight. Coba aja cari di fanfic 😛 ini cerita jauuuhhh sebelum Rin jadi summoner. Tapi sempet disinggung sedikit sama Mikuo mengenai summoner yang pernah koma selain Rin. Tapi di sini gak diceritain mengenai tidur komanya. Lebih fokus ke arah pov si knight nya. Kapan-kapan kalau lagi rajin mungkin mau nulis spin off summoner lain.

Game Kelas BunSay#6: Hari 2

Sekarang udah mulai masuk musim hujan. Dan kalau udah mulai hujan apalagi mulai ramai petir dan gemuruh, gue suka ngitungin jarak antara kilat dan suaranya dalam detik (atau bahasa fisikanya second).

Kenapa kayak gitu?

Yah, pertama gue adalah anak meteorologi, jadi wajar kan gue suka kepo sama hal yang begituan. Alasan lain adalah iseng doang pingin tahu kira-kira sejauh apa sih jarak antara tempat gue berada dengan tempat petir itu menyambar. Kenapa begitu?

Menurut prinsip fisika, kecepatan cahaya itu jauh lebih cepat dibanding kecepatan suara. Gue lupa sih perbandingan kecepatan per secondnya. Lagian sekali lagi, ini blog doang kok, bukannya textbook. Kalau mau tahu mah cari aja sendiri pakai OK Google. Nah, dari prinsip kecepatan ini bisa dipastikan bahwa cahaya akan selalu terlihat lebih dahulu dibandingkan terdengarnya suara. Prinsip ini pasti kita tahu kalau kamu rajin mantengin petir. Kita pasti bakal lihat cahanyanya dulu dibandingkan denger suaranya.

Semakin jauh tempat kita berada dari tempat petir itu jatuh, maka suaranya akan semakin lama terdengar setelah cahaya petirnya itu terlihat. Semakin dekat jarak antara bunyi petir dan cahaya kilatnya, maka semakin dekat posisi kita dengan tempat petir itu jatuh. Nah, dengan prinsip inilah gue suka iseng-iseng ngitung dalam detik. Seberapa jauh sih jarak antara gue dengan tempat petir itu jatuh? Gak nanggung-nanggung, gue juga ngajarin suami prinsip ini sih. Jadinya kadang dia juga suka iseng ngitungin jarak antara cahaya dan suara petir.

Sekarang udah masuk musim hujan dan petir juga lumayan agak banyak muncul. Gue jadi menumbuhkan hobi iseng gue lagi. Seberapa jauhkah (dalam detik) tempat gue berada dengan tampat petir berada?

#Tantangan10Hari

#Level6

#Hari2

#KuliahBunSayIIP

#ILoveMath

#MathAroundUs

Sate Padang

Cough! Cough!

HATSYIM!

Aku melirik kasihan pada istriku yang saat ini sedang batuk, pilek dan demam. Wajahku miris. Sudah beberapa hari ini istriku sakit dan sebagai seorang apoteker aku sudah mencoba beberapa obat untuk penyakit istriku itu, tapi sayang belum ada yang mempan.

Cough! Cough!

HATSYIM!

“Udah, gak usah cuci piring. Biar aku yang cuci piringnya nanti,”ujarku ragu. Mengenai masalah bersih-bersih rumah memang aku tidak terlalu jago. Istrikulah yang paling pandai membereskan rumah. Tapi aku yakin kalau sekedar mencuci piring pasti bisalah. Palingan cuma satu piring atau satu gelas saja yang pecah.

Rupanya istriku menangkap nadaku yang ragu-ragu, “Gak usah. Cuci piring aja gak apa-apa kok,” ujarnya lemah yang diikuti batuk dan bersin.

Aku menatap miris istriku. Kemarin saat awal sakit istriku itu memang sudah meminta untuk diantarkan periksa ke klinik dokter. Hanya saja aku menolak dengan alasan lebih baik minum obat batuk, pilek dan demam yang dijual secara bebas. Istriku sempat protes tapi aku cuek. Harga diriku sebagai apoteker berbicara, manja amat batuk pilek demam harus ke dokter segala.

Sekarang aku malah menyesal, harusnya aku mendengar permintaan istriku. Kali ini saat aku menyerah dan giliranku mengajak periksa ke klinik, istriku menolak. Sudah terlalu mual untul minum obat, begitu alasannya.

Sekarang istriku tidak enak badan, tidak ada nafsu makan bahkan tidurnya sering terganggu. Aku jadi bingung. Situasi kesehatan istriku ini tidak pernah kudapatkan di mata kuliah farmasi ataupun kesehatan. Aku benar-benar bingung, harus bagaimana ini?

~Cling

Handphone istriku berbunyi, istriku mengisyaratkan aku untuk mengangkat panggilan itu sementara ia naik ke tempat tidur. Kulihat matanya memerah dan cairan terus keluar dari hidungnya. Aku tak tega juga melihatnya.

Ponsel istriku terus berbunyi dan ID callernya dari mertuaku.

“Halo, Assalamualaikum.”

“Wa’alaikumsalam. Nak Reza ya, apa kabar?” Suara mertuaku dari seberang sana.

“Alhamdulillah baik bu.”

“Alhamdulillah. Hayati mana?”

Aku melongok ke kamar, istriku sedang berusaha tidur dan aku tak tega mengganggunya.

“Lagi tidur Bu. Hayati lagi sakit.”

“Ya Allah. Pantesan aja beberapa hari ini Ibu kepikiran Hayati terus,” Aku mengangkat alis, mungkin ini namanya feeling seorang Ibu. “Sakit apa?” lanjut mertuaku.

“Batuk, pilek sama demam Bu,”

“Udah dibawa ke dokter?”

Aku mengerut bingung. “Gak saya bawa ke dokter sih Bu. Saya bawain aja obat-obat yang bebas dijual.”

Mertuaku terdiam di ujung sana. Aku jadi merasa bersalah. “Hayati itu kalau sakit memang harus cepat-cepat dibawa ke dokter.” Mertuaku menghela di ujung sana.

“Tapi kan sakitnya cuma batuk, pilek sama demam aja, Bu.” Aku berusaha membela diri.

“Iya, walau penyakitnya cuma yang ringan memang Hayati sudah terbiasa kalau sakit langsung dibawa ke dokter,” jelas Mertuaku.

“Tapi saya sekarang mau bawa Hayati ke dokter, Bu.” Aku kembali berusaha membela diriku.

“Tidak perlu, Nak Reza. Hayati mungkin sekarang sudah mual minum obat ya?” Mertuaku menebak dengan jitu. Aku cuma bisa diam.

“Jadi saya sebaiknya harus bagaimana Bu?” Aku mulai menyerah.

“Gampang. Kamu lakukan sesuai yang Ibu bilang ke Nak Reza sekarang,”

.
.
.

“Hayati, ayo bangun.” Istriku itu menggeliat dan membuka matanya.

“Ayo makan,” ujarku sambil membuka bungkusan makanan yang baru kubeli. Satu porsi Sate Padang masih hangat dan sebungkus keripik balado.

Wajah Istriku tampak bercahaya melihat sajian itu. Tangannya meraih tusuk sate dengan bersemangat. Setiap gigitan dari daging sate, lontong dan keripiknya seakan membawa kembali cahaya ke wajah istriku yang pucat.

Istriku merobek daun pisang yang dijadikan alas dan menjadikannya sendok, menyendok kuah sate padang yang kental. Ia memakannya dengan wajah tersenyum. Ketika hidangan itu sudah habis wajahnya terlihat puas.

“Udah agak enakan?”

Istriku mengangguk puas. Aku cukup lega melihat istriku yang tidak lagi merasa lemas.

“Kok kakak beliin Sate Padang?” gumam istriku penasaran.

“Tadi Ibu nelepon tanya keadaanmu. Waktu aku bilang kamu sakit katanya kamu cukup dibeliin Sate Padang aja juga bisa bikin sembuh.”

Wajah Istriku merona merah.

“Kok kamu enggak bilang mau makan Sate Padang?”

Istriku terdiam, “Hayati pikir kalau Hayati minta sate kakak bakal nolak dan suruh minum obat aja,” aku Hayati.

Aku menghela napas, merasa bersalah. “Ya udah, sekarang sikat gigi terus tidur ya.”

Istriku mengangguk patuh dan turun dari tempat tidurnya. Dan terbukti, tiga hari kemudian istriku sembuh dari batuk, pilek dan demamnya.

.
.
.

Omake

“Jadi sebetulnya kamu sakit atau kangen makan Sate Padang?”

“Mungkin dua-duanya.”

#End

Game BunSay#2: Hari 1

20170712_123341

Yup, sebenernya ini pernah saya ceritain di game BunSay periode bulan lalu. Lupa di hari ke berapa, tapi adalah saya cerita mengenai hal ini. Jadi inilah penampakan selai cokelat yang harus dijual.

Karena tema bulan ini mengenai Kemandirian mugkin aku mau ngambil tema kemandirian dalam finansial. Well bukannya butuh uang lebih atau apa. Cuma kan kita gak tau what future holds dan sebagai wanita better be safe than sorry.

Jadi – harusnya enggak aneh sih seperti sudah ditebak akhirnya memang akulah yang harus jualan – suami mempercayakan semua selai cokelat itui dijual. Sendiri. Oleh Aku. Terima kasih banyak.

Strategi pertama: jualannya nanti aja setelah semua kue lebaran habis.

Strategi kedua: kita manfaatkan momen anak yang mau masuk sekolah dan bilang kalau selai cokelat ini sesuai untuk bekal anak sekolah.

Strategi ketiga: kirim marketing ke seluruh grup WA :v

Sisanya tinggal tunggu deh siapa aja yang mau beli….

#Hari1

#Level2

#BunSayIIP

#MelatihKemandirian

#Tantangan10Hari

 

Snow White Fanfic: A Queen with A Broken Heart

Chapter 2

Karena Raja tidak memiliki saudara lain, sementara Snow White masih terlalu muda untuk menjadi seorang Ratu, maka Grunhilde dinobatkan sebagai seorang Ratu. Grunhilde menerima tanggung jawab yang berat itu. Setelah Grunhilde menjadi seorang Ratu, ia memerintahkan agar Snow White mengganti gaun kerajaannya menjadi gaun pelayan dan menempati kamar pelayan. Hal ini bertujuan untuk mendidik Snow White agar memahami kehidupan rakyat biasa, kilah Sang Ratu. Jika Snow White tidak mampu memahami kehidupan rakyat biasa, bagaimana mungkin Ia bisa menjadi ratu yang baik? Begitulah alasan Grunhilde.

Para pegawai Istana setuju dengan alasan Grunhilde, sementara Snow White tidak mampu membantah. Akan tetapi semakin lama semakin terlihat bahwa Ratu mulai bertindak semena-mena kepada Snow White. Sang puteri kecil itu diharuskan melaksanakan tugas pelayan yang berat dan hanya diberi makan ala kadarnya. Para pelayan berbisik-bisik bahwa Ratu yang kejam itu menindas Snow White dan menaruh kasihan. Terkadang mereka menggantikan tugas pelayan yang diberikan kepada Snow White, akan tetapi setelah Ratu mengetahuinya para pelayan itu dihukum dengan kejam. Karena itulah para pelayan tidak berani lagi menggantikan tugas Snow White. Snow White juga paham bahwa hukuman Ratu bisa sangat kejam hingga akhirnya ia tidak memperbolehkan para pelayan untuk menggantikan tugasnya.

.

.

.

Snow White sedang menimba sumur. Gadis berumur enam belas tahun itu sebenarnya sedang dalam perjalanan pulang dari belanja di kota. Akan tetapi di tengah jalan gadis itu merasa haus sehingga ia terpaksa mampir di sumur milik desa. Snow White tidak terlalu suka menimba air dari sumur, karena ia tidak begitu kuat menimba ember kayu yang berat. Akan tetapi rasa haus menderanya, terpaksa ia menimba air. Lengannya sakit dan rasa haus membuatnya pusing, ember kayu hampir mencapai atas bibir sumur. Rasa haus tak tertahan lagi saat tarikan tali sumur melemah, menyebabkan ember merosot kembali ke dasar sumur.

Ember kayu tidak jadi meluncur ke dasar sumur, seseorang telah menahan tali sumur tersebut. Snow White tidak mampu melihat orang yang menolongnya, kepalanya pusing sementara pandangannya menggelap. Seseorang itu menarik ember kayu, menyendok air dan mendekatkannya ke bibir Snow White. Snow White meminum dengan rakus. Ia tidak peduli sopan santun, rasa haus yang mendera benar-benar membunuhnya.

“Wow sabar, kau seperti tidak minum berhari-hari saja,” suara itu berusaha bercanda tetapi Snow White tidak peduli. Gadis itu terus meminum airnya hingga setengah air di ember kayu habis diminumnya.

“Wow, kau benar-benar haus.” ujar suara itu lagi.

Saat itulah Snow White baru bisa melihat jelas siapa yang menolongnya. Seorang pemuda berpakaian pengelana, akan tetapi entah kenapa pedang panjang terselip di pinggangnya. Tak jauh dibelakang pemuda itu juga terdapat seseorang yang sedang menahan dua kuda dan menatap bergantian antara dirinya dan pemuda di depannya. Sadar karena mungkin ia telah mempermalukan dirinya sendiri, Snow White mengibaskan pakaiannya dan meraih belanjaannya.

“Terima kasih telah membantu saya. Saya mohon pamit,” Snow White buru-buru pergi.

“Hei, hei, bagaimana kalau kuantar? Kau kelihatan… tidak terlalu sehat,” Pemuda itu menatap Snow White dengan tidak yakin. Wajar saja, wajah Snow White benar-benar pucat.

“Tidak perlu, terima kasih atas bantuan anda.” Snow White mempercepat langkahnya. Tak baik dirinya pergi belanja terlalu lama, apalagi menerima tawaran orang asing untuk mengantarkan dirinya kembali ke Istana.

.

.

.

Dan seperti yang sudah diduga, Ratu menghukumnya karena ia terlambat kembali ke Istana. Kali ini hukumannya adalah membersihkan kamar tamu Istana. Snowa White tidak paham mengapa ia harus membersihkan kamar tamu. Tapi bisik-bisik pelayan mengatakan bahwa istana mereka akan kedatangan tamu penting sore ini.

Tamu yang ditunggu tiba, tapi Snow White tidak tahu, gadis malang itu masih sibuk membersihkan tiap sudut kamar tamu. Benar-benar melelahkan, pikir gadis itu. Mungkin setelah semua tugasnya selesai ia akan pergi makan, mandi dan langsung tidur.

Pintu kamar terbuka, Snow White kaget dan menoleh ke arah pintu. Disana ia melihat pemuda yang menolongnya tadi siang. Pemuda itu juga tampak kaget melihat Snow White.

“Jadi kau pelayan di istana ini? Pantas saja kau tampak lelah setengah mati tadi siang,” sang pemuda langsung berjalan menghampiri Snow White. Sementara gadis itu hanya terdiam dan merapat ke dinding, tidak yakin harus bicara apa.

“Halo~ kau bengong, nona?“ pemuda itu melambaikan tangannya tepat di depan mata Snow White.

Snow White tidak yakin harus berbicara apa, karena itulah Snow White hanya bisa diam sambil mengamati sosok pemuda di hadapannya itu.

Pemuda itu berkacak pinggang, “Ada apa Nona? Belum pernah bertemu pria setampan diriku?”

Wajah pemuda itu dipenuhi seringai jahil. Tata krama istana mengajarkan bahwa memutar bola mata merupakan sikap yang sangat tidak sopan, karena itulah Snow White tidak memutar bola matanya karena kenarsisan pemuda itu. Akan tetapi Snow White mendengus kecil.

“Yah, wajar saja. Pelayan istana seperti dirimu pastinya jarang bertemu dengan pria tampan. Apalagi yang setampan diriku ini.” Pemuda itu merentangkan lengannya seakan mempertegas pernyatannya.

“Karena itu, silahkan pandangi wajah tampanku ini selama yang kau mau,” pemuda itu tersenyum memikat.

Snow White mengakui, jika dalam situasi biasa bisa saja dirinya jatuh cinta pada pemuda ini. Jujur wajahnya memang tampan. Tapi demi apa, kenapa pemuda ini narsis sekali?

“Jadi, apa kau sebegitu inginnya bertemu denganku sampai menungguku di kamar ini?” Pemuda itu memandang sekeliling.

“Aku sedang membersihkan kamar ini!” ketus Snow White dengan jengkel.

“Ah sayang sekali. Tapi kau sudah selesai membersihkannya?”

“Aku tinggal mengepelnya,” Snow White masih menjawab dengan ketus.

Pemuda itu memandang Snow White, “Tidak perlu dipel, aku mau langsung tidur saja. Lagipula kau hampir pingsan tadi siang jadi langsung saja beristirahat,”

“Aku tak bisa-“ Snow White hendak menyanggah, kelihatan sekali tidak setuju dengan ide itu.

“Nanti kalau ada yang bertanya padaku akan kujawab kau melaksanakan tugasmu dengan baik.”

Snow White cemberut. “Hei, aku sudah berbaik hati padamu, jadi sana. Sana.” pemuda itu mengibaskan tangannya bagaikan mengusir lalat. Snow White benar-benar cemberut.

“Kalau itu keinginan anda,” Snow White meraih peralatan bersih-bersihnya.

“Hei! Setidaknya bilang terima kasih padaku!”

Snow White mendelik sebal, “Terima kasih,” gumamnya ketus sebelum akhirnya keluar dari kamar. Pemuda itu menggeleng kepalanya, “Heran, gadis itu kasar sekali.”

“Tapi lumayan cantik,” gumamnya tak lama kemudian.

.

.

.

Snow White tiba di kamar makan pelayan dengan terhuyung, perutnya lapar dan tubuhnya lelah. Belum lagi tingkah si tamu yang narsis sekali, benar-benar lelah mental dan fisik. Tanpa banyak omong Snow White meraih makanannya dan meneguk air sepuasnya.

“Tuan Puteri, apa kau tadi bertemu dengan tamu itu?” seorang pelayan tua menghampiri Snow White yang hanya dijawab dengan anggukan lemah.

“Putriku, ternyata ia adalah seorang pangeran dari negeri sebelah. Tadi hamba mendengarnya saat Ratu berbicara padanya,”

Tak ada jawaban dari Snow White, ia hanya berusaha menghabiskan makan malamnya. Lagipula ia tidak mau mengingat betapa tinggi tingkat narsis pangeran itu.

“Sungguh terlalu Yang Mulia Ratu! Bahkan disaat ada tamu seperti ini ia tidak memperkenalkan Anda dengan pangeran itu!”

“Bibi…” Snow White memanggil lirih. Yang ia butuhkan saat ini adalah tempat tidur yang nyaman. Tidak perlu ditambah dengan gosip yang aneh-aneh terutama tentang pangeran itu.

“Aduh Tuan Puteri, Anda terlihat lelah sekali. Sebaiknya anda segera istirahat.”

Snow White menyuapkan sendok terakhir, meneguk air miliknya untuk kemudian langsung ke kamarnya. Tak lupa ia mengucapkan selamat malam kepada semua pelayan yang ada disana. Snow White langsung rebah ke tempat tidur, melupakan mandi yang seharusnya dilakukannya.

.

.

.

Snow White menimba air lagi, wajahnya kecut sementara peluh berulir dari dahinya. Gadis itu benar-benar benci menimba air, tapi karena pagi ini gadis itu kebagian tugas untuk mencuci baju mau tidak mau Snow White harus menimba air. Cucian bajunya tidak begitu banyak, karena para pelayan diharuskan mencuci baju mereka masing-masing, tapi tetap saja Snow White harus menimba air. Andai saja air bisa langsung memancar dari bawah tanah yang sayangnya baru bisa terjadi entah berapa ratus tahun lagi.

“Jadi kau ada disini?”

Snow White mengalihkan pandangannya ke sumber suara akan tetapi tangannya terus mencuci baju. Pangeran yang kemarin memandangnya tak jauh dari tempat Snow White mencuci baju.

“Mau apa anda disini?”

“Hanya penasaran dengan sosok puteri kerajaan ini,”

Snow White mendelik, “Anda mengejekku?” jelas sekali nada jengkel. Karena saat ini Snow White benar-benar berantakan, busa cucian dan keringat menempel pada pakaian dan rambutnya. Benar-benar tidak kelihatan anggun sama sekali.

“Apa sekian lama menjadi pelayan istana membuat anda melupakan tata krama kerajaan?”

Snow White mendelik tajam tapi berusaha mengabaikan sindiran itu. Dengan sembarangan gadis itu menyelesaikan kegiatan mencuci pakaiannya dan cepat-cepat pergi dari sana.

“Tunggu… tunggu, aku cuma bercanda.” pangeran itu mengejar dan menghalangi jalan Snow White. Snow White tidak menggubris dan berusaha melangkah ke depan. Akan tetapi setiap Snow White berusaha melangkah Pangeran itu selalu menghalangi langkah Snow White.

“Baiklah pangeran tampan, aku punya banyak pekerjaan.” Snow White mendesis dibagian tampan sementara pangeran itu menyeringai.

“Pergilah dari sini sebelum aku memanggil pengawal untuk mengusirmu,” lanjut Snow White.

Pangeran itu hanya terkekeh. “Aku punya nama, Anda tahu. Namaku James-“

“Tak peduli! Charming sesuai untukmu.” Snow White langsung memotong, James mengangkat kedua alisnya, terkekeh pelan. “Sekarang, jangan ganggu aku, Charming!

James terkekeh, “Bukan begitu caranya memperlakukan seorang pangeran,”

“Oh, lalu apa ini caramu untuk mendapatkan perhatian seorang gadis?”

James menatap Snow White. “Kau pandai berbicara,”

“Luar istana mengajarkan banyak hal padaku,” Snow White hendak pergi dari sana tapi buru-buru dicegah kembali oleh James.

“Aku butuh seseorang untuk mengantarkanku berkeliling luar istana,”

Snow White mengangkat alisnya. “Dan alasan apa yang membuat anda memilih saya?”

“Karena kau puteri kerajaan ini,”

“Dan siapa yang mengatakan kalau akulah puteri kerajaan ini?” Snow White menyipit curiga.

James mengangkat bahunya, “Beberapa koin emas cukup membuat pelayan dan pengawal istana berbicara.”

Snow White membelalakkan matanya. Astaga, ternyata pelayan istana dan pengawalnya mudah sekali disuap dengan koin emas.

“Ayolah, gosip menarik beredar ke negeri tetangga. Puteri Snow White yang cantik dengan kulit seputih salju-“ James memandang lekat wajah Snow White yang walau pucat tetap saja menguarkan aura kecantikan tersendiri.

“- rambut sehitam eboni-“ James memandang rambut hitam Snow White yang berkilau.

“- dan bibir semerah darah. Siapapun juga akan langsung tahu jika melihatmu.” Yak, James mulai terpikat dengan kecantikan Snow White. Gosip yang beredar memang tidak salah. Malahan Tuan Putri yang ada di hadapannya ini jauh lebih menawan dibanding gosip yang didengarnya.

Snow White masih terdiam, seakan menimbang apakah pemuda yang ada di hadapannya ini pantas untuk dipercaya.

“Apakah ini berarti kau menerima ajakanku?” James memutuskan dengan sepihak.

“Aku punya banyak kerjaan yang lebih penting.”

“Ayolah~ ini juga tugas penting karena terkait misi diplomatik dua kerajaan.” James mulai berkilah. Apapun yang terjadi James harus berhasil mengajak gadis ini jalan-jalan ke luar istana. Tak peduli harus menggunkan cara licik sekalipun.

Snow White masih diam dan kali ini menatap curiga kepada James.

“Atau haruskah aku laporkan pada Ratu bahwa Puteri Snow White berusaha menggagalkan misi diplomatik kerajaan?”

Snow White melotot kepada James, “Kau mengancamku?”

“Jika itu bisa membuat Anda mau jalan denganku,” James mengangkat bahu dan terkekeh, kentara sekali menyeringai puas. Snow White memandang sebal.

“Jadi?” James mendesak.

“Hanya karena untuk misi diplomatik,” Snow White menjawab dengan sebal.

James tersenyum puas.

“Sore hari kutunggu di depan gerbang Istana. Dan aku benci orang yang terlambat!” Snow White menoleh sekilas dan melanjutkan langkahnya. James tak lagi menyembunyikan seringai lebarnya dan malah mulai berjingkrak senang.

.

.

.

Grunhilde melihat semua itu dari jendela kamarnya di istana atas, matanya menatap dingin pada Snow White dan Pangeran James.

“Kau tidak bisa lagi menyembunyikan kecantikan gadis kecil itu.”

Grunhilde tidak mempedulikan ucapan tersebut, akan tetapi matanya memancarkan sinar yang dingin.

“Aku tidak tertarik dengan kecantikan gadis itu,” Grunhilde memutar tubuhnya, menatap cermin besar yang aneh.

“Lalu apa yang kauinginkan?” Suara itu muncul dari dalam cermin, menampilkan sesosok wajah pucat bagaikan topeng.

“Oh Ibuku tersayang, kau pikir apa alasan aku mengutuk dirimu menjadi cermin seperti ini?” Grunhilde tersenyum, “Dikutuk selamanya untuk menjadi cermin yang tak mampu berbuat apapun.”

Grunhilde berputar dalam kamarnya. “Tak menyangka bahwa anakmu, yang mewarisi kekuatan sihirmu akan tega menggunakan kekuatannya untuk mengutuk ibunya sendiri.” Grunhilde tertawa terkekeh.

“Grunhilde, kau tahu aku hanya ingin membuatmu bahagia!”

“Diam!” Grunhilde melemparkan gelas kaca ke cermin tersebut akan tetapi hanya gelas itu yang pecah berkeping sementara cermin tersebut tidak rusak sama sekali.

“Kau ingin aku bahagia? Memaksaku menikah dengan Raja? Bekerja sama dengan pria terkutuk itu dan membunuh kekasihku?!”

“Grunhilde, Raja sangat mencintaimu-“

“Dia bukan cinta sejatiku!” jerit Grunhilde, rambutnya berantakan sementara napasnya terengah.

“Hanya Edward… hanya dia… cinta sejatiku…” Grunhilde terduduk di lantai. Air mata mengalir di pipi ratu muda itu, napasnya terisak.

“Dan Snow White tolol itu merasa dewasa dan ikut campur urusanku. Harusnya dulu aku membunuhnya…. yah, harusnya aku membunuhnya. Gadis tolol itu membuka mulut terlalu lebar hingga akhirnya Raja dan kau membunuh Edwardku!”

“Grunhilde, kau tahu aku sangat mencintaimu.”

Grunhilde menatap tajam cermin tersebut. “Kau tidak mencintaiku Ibuku tersayang. Kau terlalu mencintai kekuasaan.”

“Grunhilde, kumohon jangan terus menambah dosamu,” sosok di cermin tersebut mulai terisak.

“Semua sumber kebencianku harus kulenyapkan. Raja bodoh itu sudah mati dan Ibuku tersayang, kau sudah tak berdaya. Sisanya, tinggal gadis tolol itu.”


A/N: Hai…hai…sekarang entah kenapa lagi seneng nulis cerita fanfic ini. Sebenernya ide cerita ini ada yang sedikit kuambil dari drama tv Once Upon A Time dari ABC TVs sih…cuma karena belom pernah nonton filmnya secara full dan cuma nonton per part jadinya saya juga gak tau apakah cerita yang sekarang ini ditulis bakal sama banget sama filmnya atau enggak. Kalau sama banget maap deh…itu semua unsur ketidak sengajaan kok 😛 yang penting saya udah tulis disclaimernya kalau emang mirip banget.