Materi#3 BunSay: Pentingnya Meningkatkan Kecerdasan Anak Demi Kebahagiaan Hidup

Dalam kehidupan ini ada dua kata yang selalu diinginkan manusia dalam hidup yaitu SUKSES dan BAHAGIA

Makna SUKSES

Menurut D. Paul Reily dalam buku Succes is Simple mendefinisikan sukses sebagai pencapaian yang berangsur-angsur meningkat terhadap suatu tujuan dan cita-cita yang berharga

Sedangkan menurut Lela Swell dalam bukunya Success mengemukakan pendapatnya bahwa sukses adalah  peristiwa atau pengalaman yang kita akan mengingatnya sebagai pemuasan diri.

Makna BAHAGIA

Menurut Prof. Martin Selligman dalam bukunya Authentic Happiness mendefinisikan kebahagiaan hidup dalam tiga kategori :

A. Hidup yang penuh kesenangan (Pleasant Life )

Hidup yang penuh kesenangan, ialah kondisi kehidupan dimana pencarian kesenangan hidup, kepuasan nafsu, keinginan dan berbagai bentuk kesenangan lain nya menjadi tujuan hidup manusia.

Kebahagiaan jenis ini lebih bersifat material.

B. Hidup nyaman ( Good Life)

Hidup yang nyaman ialah kehidupan dimana segala keperluan kehidupan manusia secara jasmani, rohani dan sosial telah terpenuhi. Hidup yang aman, tentram, damai. Kebahagiaan jenis ini lebih bersifat mental

C. Hidup Bermakna ( Meaningful Life)

Hidup yang bermakna lebih tinggi lagi dari tingkat kehidupan yang nyaman. Selain segala keperluan hidupnya telah terpenuhi, ia menjalani hidup ini dengan penuh pemahaman tentang makna dan tujuan kehidupan. Selain untuk diri dan keluarganya, ia juga memberikan kebaikan bagi orang lain dan lingkungan sekitar. Rasa kebahagiaan yg timbul ketika banyak orang lain mendapatkan kebahagiaan karena usaha kita, pleasure in giving, kebahagiaan dalam berbagi. Kebahagiaan jenis ini lebih bersifat spiritual

Untuk mencapai kategori hidup SUKSES dan BAHAGIA kita perlu memiliki berbagai macam kecerdasan hidup.

KECERDASAN

Para ahli berpendapat untuk tidak membicarakan atau memberikan batasan yang jelas tentang kecerdasan. Karena kecerdasan itu merupakan status mental yang tidak memerlukan definisi. Para ahli lebih memusatkan perhatian pada perilaku kecerdasan seperti kemampuan memahami dan menyelesaikan masalah dengan cepat, kemampuan mengingat dan daya kreativitas serta imajinasi yang terus berkembang.

MACAM-MACAM KECERDASAN

A. Kecerdasan Intelektual (Intellectual Quotient)

Adalah  kemampuan untuk menalar, perencanaan sesuatu, kemampuan memecahkan masalah, belajar memahami gagasan, berfikir, penggunaan bahasa dan lainnya.

Howard Gardner pakar psikologi perkembangan, menjelaskan ada sembilan macam kecerdasan manusia. Kecerdasan tersebut meliputi kecerdasan bahasa (linguistic), musik (musical), logika-matematika (logical-mathematical), spasial (spatial), kinestetis-tubuh (bodily-kinesthetic), intrapersonal (intrapersonal), interpersonal (interpersonal), naturalis (naturalits) dan eksistensial (existensial)

B. Kecerdasan Emosional (Emotional Quotient)

kemampuan untuk mengenali perasaan kita sendiri dan perasaan orang lain, memotivasi diri sendiri, mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungannya dengan orang lain.

Komponen-komponen dasar kecerdasan emosional adalah :

1.  Kemampuan Mengenali Emosi diri sendiri (kesadaran diri).

2.  Kemampuan Mengelola Emosi.

3.  Kemampuan Memotivasi Diri Sendiri (Motivasi).

4.  Kemampuan Mengenali Emosi Orang lain (Empati).

5.  Membina Hubungan Dengan Orang Lain (Ketrampilan sosial).

C. Kecerdasan Spiritual ( Spiritual Intelligence)

Kemampuan untuk mengenal Allah  dan memahami posisinya sebagai hamba Allah. Inilah yang disebut dalam agama sebagai fitrah keimanan.

Secara ilmiah Kecerdasan Spiritual pertama kali dicetuskan oleh Donah Zohar dari Harvard University dan Ian Marshall dari Oxford University, yang diperoleh berdasarkan penelitian ilmiah yang sangat komprehensif.  Pada tahun 1977 seorang Ahli Syaraf, V.S Ramachandran bersama timnya menemukan keberadaan God Spot dalam jaringan otak manusia dan ini adalah pusat spiritual ( spiritual center) yang terletak diantara jaringan syaraf dan otak.

Dari spiritual center ini menghasilkan suara hati yang memiliki kemampuan lebih dalam menilai suatu kebenaran bila dibandingkan dengan panca indra.

Ada Tiga prinsip dalam kecerdasan Spiritual yaitu :

🍀Prinsip Kebenaran

🍀Prinsip keadilan

🍀Prinsip kebaikan

D. Kecerdasan Menghadapi Tantangan  (Adversity Intelligence)

Kemampuan untuk mengubah hambatan menjadi peluang.

Ada tiga tipe  menurut Stoltz yaitu :

1.  Quitters adalah kemampuan seseorang yang memilih untuk keluar, menghindari kewajiban, mundur dan berhenti bila menghadapi kesulitan.

2. Campers adalah kemampuan seseorang yang pernah mencoba menyelesaikan suatu kesulitan, atau sedikit berani menghadapi tantangan, tatapi tidak berani menghadapi resiko secara tuntas.

3. Climbers adalah sebutan untuk orang yang seumur hidup selalu menghadapi kesulitan sebagai suatu tantangan dan terus berusaha untuk menyelesaikan hambatan tersebut hingga mencapai suatu keberhasilan.

Kecerdasan Intellektual : Membuat anak pandai, sehingga bisa menjadi sarana meraih kebahagiaan hidup yang penuh kesenangan (pleasant life). Seperti masuk universitas ternama, mendapat pekerjaan dan jabatan yang tinggi. Memiliki rumah, mobil dan kesenangan materi yang lain.

Kecerdasan Emosional : membuat anak bisa mengenali dan mengendalikan emosi diri serta emosi orang lain. Kecerdasan ini sangat diperlukan agar seseorang bisa mencapai taraf kebahagiaan di ranah nyaman ( good life), karena kebutuhan jasmani, rohani dan spiritualnya terpenuhi.

Kecerdasan Spiritual : membuat hidup penuh arti, anak akan mampu memberi makna pada kehidupan, dan paham apa misi Allah menciptakan diri kita di dunia ini. Membuat anak berpikir secara luas makna sebuah kesuksesan. Hal ini akan mendorong anak-anak mencapai kebahagian hakiki yaitu kehidupan penuh makna ( meaningful life).

Kecerdasan Menghadapi Tantangan : Menentukan seberapa tangguh anak ini untuk mencapai tingkat kebahagiaan hidup yang dia inginkan.

Terlampir beberapa indikator kecerdasan anak yang bisa kita jadikan acuan unt mendampingi perjalanan kita mendidik mereka.

Selamat melatih kecerdasan anak-anak, sehingga mereka bisa menemukan jalan sukses dan bahagianya.

Salam Ibu Profesional,

/Tim Fasilitator Bunda Sayang/

Sumber Bacaan :

Stoltz, Paul G, PhD, 1997 Adversity Quotient, Mengubah hambatan menjadi Peluang, Jakarta , Grasindo

Melva Tobing, MPsi, Daya Tahan Anak Hadapi Kesulitan, Jakarta

D. Paul Reily, “Success is Simple”, Gramedia, Jakarta

Lela Swell, Success, Grasindo, Jakarta

Martin Selligman, Authentic Happiness, Jakarta      

Review Tantangan 10 Hari Kelas Bunda Sayang #2 Materi #2 : Melatih Kemandirian Anak

Bunda, terima kasih sudah menyelesaikan tantangan 10 hari tentang MELATIH KEMANDIRIAN ANAK.

Pekan ini kita akan review berbagai pola kemandirian yang telah Bunda lakukan bersama dengan anak-anak di rumah.

🌟 Selamat untuk para Bunda, yang berhasil menyelesaikan tantangan 10 hari ini sampai dengan tanggal 30 juli 2017, dengan berbagai kondisi, ada yang konsisten setiap hari, lompat-lompat, maupun dirapel.

Sekali lagi KONSISTENSI masih diperlukan di tahap bunda sayang ini, karena Konsistensi adalah sebuah usaha untuk terus menerus melakukan sesuatu sampai  tercapai tujuan akhir.

Sikap/sifat yang gigih dan rajin ini akan menjadikan seseorang yang biasa-biasa menjadi luar biasa.

KEMANDIRIAN erat sekali kaitannya dengan KONSISTENSI, seberapa konsisten kita melatih anak-anak untuk mandiri, akan berpengaruh pada  seberapa besar tingkat keberhasilan kita melatih anak-anak untuk menghadapi kehidupannya kelak tanpa bergantung pada orang lain.

Anak mandiri adalah anak yang mampu berpikir dan berbuat untuk dirinya sendiri.

Seorang anak yang mandiri biasanya aktif, kreatif, berkompeten di bidangnya, tidak tergantung pada orang lain dan tampak spontan. Inilah beberapa  life skill yang perlu dimiliki oleh anak.

Ketika hari ini bunda bersusah payah melatih kemandirian anak-anak kita, maka

Jangan pernah menyerah, walau kadang kita merasa lelah

Hasilnya akan bunda lihat dalam beberapa tahun mendatang, tidak seketika. Sehingga hal inlah kadang yang menggoda keteguhan kita untuk bersungguh –sungguh mendidik kemandirian anak kita.

Karena kalau kita berhenti melatih kemandirian anak akan muncul perilaku negatif yang dapat menjauhkan anak dari kemandirian di usia selanjutnya.

Gejala-gejala tersebut seperti contoh di bawah ini:
a. Ketergantungan disiplin kepada kontrol luar, bukan karena kesadarannya sendiri. Perilaku ini akan mengarah kepada perilaku  tidak konsisten.

b. Sikap tidak peduli terhadap lingkungan sekitarnya, anak mandiri bukanlah anak yang lepas dari keluarganya melainkan anak yang tetap memiliki ikatan batin dengan keluarganya tetapi tidak bergantung pada keluarganya.

c.Sikap hidup kompromistik tanpa pemahaman dan kompromistik dengan mengorbankan prinsip. Gejala masyarakat sekarang yang meyakini segala sesuatunya dapat diatur adalah bentuk ketidakjujuran berfikir dan bertindak serta kemandirian yang masih rendah.

Kalau melihat gejala-gejala di atas, menyelesaikan tugas kemandirian anak  sekarang, sifatnya menjadi wajib dalam membangun peradaban dunia ini. Karena merekalah nanti yang disebut generasi penerus pembangun peradaban.

Berikut beberapa indikator yang bisa bunda lihat untuk melihat tingkat keberhasilan anak-anak kita secara global.

🍄 Ciri khas kemandirian anak :
a. Anak mandiri mempunyai kecenderungan memecahkan masalah daripada berkutat dalam kekhawatiran.

b. Anak mandiri tidak takut dalam mengambil resiko karena sudah mempertimbangkan hasil sebelum berbuat.

c. Anak percaya terhadap penilaian sendiri, sehingga tidak sedikit-sedikit bertanya atau minta bantuan.

d. Anak memiliki  kontrol yang lebih baik terhadap kehidupannya

Menurut Masrun dkk dalam bukunya jurnal kemandirian anak, membagi kemandirian dalam lima komponen sbb :

a. MERDEKA, anak bertindak atas kehendak sendiri, bukan karena orang lain dan tidak bergantung orang lain

b. PROGRESIF, berusaha mengejar prestasi, tekun, terencana dalam mewujudkan harapannya.

c. INISIATIF , mampu berpikir dan bertindak secara original, kreatif dan penuh inisiatif

d. TERKENDALI DARI DALAM,  individu yang mampu mengatasi masalah yang dihadapi, mampu mengendalikan tindakannya serta mampu mempengaruhi lingkungan .

e. KEMANTAPAN DIRI, memiliki harga diri dan kepercayaan diri, percaya terhadap kemampuan sendiri, menerima dirinya dan memperoleh kepuasan dari usahanya.

Kemandirian-kemandirian tersebut di atas akan sangat penting kita persiapkan hari ini, karena anak-anak kita nanti akan memasuki pendidikan abad 21, yang memerlukan ketrampilan kemandirian yang  lebih untuk mencapainya.


Sumber Bacaan :
Masrun dkk, Jurnal Kemandirian Anak, diakses melalui www.lib.ug.co.id, pada tanggal 13 Februari 2016

Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang : Melatih Kemandirian Anak, Gaza Media,2016

Trilling dan Fadel, 21st century skills, 2009

Status

Game BunSay#2 : Hari 10

 

Kali ini masih tema mandiri secara finansial, tentu aja niatnya masih usaha diluruskan. Selurus makna dari surat Al-Fatihah.

Kalau kemarin pingin coba reseller padahal gak punya passion disana, sekarang pingin nyoba menulis cerita atau novel. Karena emang punya minat disitu.

Selama ini demen banget yang namanya nulis. Kalau enggak percaya silahkan aja scroll blog ini. Kebanyakan yang ditulis adalah cerita-cerita yang genrenya fiksi. Nah, punya mimpi pingin banget nulis cerita atau novel dengan genre fantasi Islam.

Hah? Fantasi Islam tuh maksudnya gimana?

Jadi gini, sejak jaman masih kecil dulu, gue demen banget sama yang namanya anime, manga dan games Jepang. Ide ceritanya ituloh…huh keren banget. Sekarang di umur 27 tahun ini juga masih demen yang begituan kok. Makanya kalau temen-temen atau orang lain ngeliat gue mereka selalu pikir gue anak kuliahan yang awet muda 😛 ini ciyuss…gak bohongan.

Nah, karena demen hal-hal fantasi gituan jadi coba kepikiran, kenapa enggak nulis cerita fantasi tapi ada unsur Islamnya gituloh. Jadi kita sebagai muslim jangan cuma ceriwis di socmed doang kalau ada yang mojokin kita. Kita bisa bales mereka dengan hasil karya apapun, truly it’s the elegant ways.

Nah, masalahnya adalah gue masih maless… wahahaha… ini adalah musuh besar gue. Padahal mah draft ceritanya mah udah ada. Tapi rasa males ini melanda banget banget. Sungguh enggak keren. Walhasil cuma bisa ngumpulin receh-receh idenya dengan perlahan, walau target tahun 2017 ini salah satu idenya harus jadi. Target oh target…good bye…

Padahal mah proses selanjutnya masih panjang. Mau dikirim ke koran apa gitu. Atau ngirim ke penerbit apa gitu. Tapi ini mah masih nulis gegara males.

Belum lagi kegiatan udah nambah PAUD jadinya makin….HALAH! Alesan banget! 😛

Anyway cuma bisa ngebanggain seenggaknya blog ini masih terisi tulisanlah walaupun tulisannya rata-rata random.

#Hari10

#Level2

#BunSayIIP

#MelatihKemandirian

#Tantangan10Hari

Cemilan Rabu BunSay #2 : Mendidik Kemandirian Emosi Anak

Cemilan Rabu 3

Seorang lelaki duduk beristirahat dibawah pohon. Matanya menatap seksama kepompong kecil yang tergantung di cabang pohon tempatnya berteduh. Kepompong itu bergerak-gerak, nampaknya ada yang berusaha keluar dari dalam kepompong itu. Sungguh kesempatan langka, pikir si lelaki. dan iapun memperhatikan dengan lebih seksama. Cukup lama juga, kepompong itu terus bergerak-gerak, hingga akhirnya sedikit tersobek di salah satu sisinya. sobekan itu masih sangat kecil, belum cukup untuk pintu keluar bagi si penghuni kepompong. Maka iapun masih terus mengeluarkan tenaga, yang menyebabkan kepompongnya terus berguncang.

Lama kelamaan, si lelaki merasa jatuh kasihan, begitu banyak tenaga sudah dikeluarkannya, belum juga si penghuni berhasil keluar. Dilihatnya kepompong itu lebih dekat. Rupanya sobekannya masih juga terlalu kecil. Akhirnya diambilnya inisiatif untuk menolong si penghuni itu untuk bisa segera keluar. Segera diguntingnya kepompong tersebut sehingga terbuka lebar sisinya, agar si calon kupu-kupu bisa segera keluar.

Tapi sungguh diluar dugaan, yang keluar dari kepompong itu bukanlah kupu-kupu cantik, tetapi kupu-kupu dengan bentuk aneh. Kepala dan perutnya besar, sementara sayapnya lemah tak bisa terentang. Kupu-kupu cacat itu langsung terjatuh ke tanah, dan hanya bisa menggelepar-gelepar tak berdaya.

Ternyata tindakan si lelaki untuk menolong dengan menggunting kepompong itu yang justru menyebabkan cacatnya kupu-kupu itu. Sesungguhnya susah payahnya si kupu-kupu keluar dari kepompong, termasuk proses akhir pertumbuhan bandannya. Melalui kerja kerasnya mengguncang kepompong sampai tersobek itulah yang justru akan mengecilkan kepala dan badannya hingga ke ukuran yang pas. Sementara otot sayapnya menjadi kuat sehingga cukup kuat untuk mengepakkan sayapnya.

Tetapi campur tangan seseorang mengeluarkannya terlalu cepat, maka proses pertumbuhan terakhir itu tak sempat dilewatinya. Yang terlahir adalah kupu-kupu berkepala dan badan yang bengkak, dengan sayap yang loyo tak berkekuatan.

CAMPUR TANGAN YANG MERUSAK

Seperti kupu-kupu itu pulalah nasib anak-anak kita, jika orang tua terlalu banyak ikut campur tangan dalam pembentukan kemandirian emosi mereka. Ketika anak sudah sampai pada tahap pengendalian diri maka hampir seluruh upaya mereka lakukan sendiri. Orang tua hanya berperan sebagai fasilitator saja.

Saat anak berupaya mengendalikan emosi kemarahan, kesedihan atau kekecewaan yang menyerang dirinya, maka ayah ibu hanya bisa memotivasi saja, sementara si anaklah yang harus memutuskan sendiri, apakah ia akan lakukan atau tidak. Jika orang tua memberikan campur tangan dan bantuan untuk menyelesaikan masalah anak, maka anak tidak akan memperoleh pembelajaran hidup.

Ketika dua orang anak bertengkar, bukanlah tugas orang tua untuk melerai dan memutuskan siapa yang bersalah dan harus minta maaf. tetapi semestinya anak-anak itu sendirilah yang menyelesaikannya. Yang bisa dilakukan orang tua adalah memotivasi kedua anak yang sedang berseteru untuk berempati satu sama lainnya, sehingga perseretuan bisa diakhiri. Masing-masing bisa menghormati hasil fikiran temannya serta saling menghormati.

Bisa saja orang tua memaksa salah satu pihak yang dianggapnya salah untuk mengaku  salah dan minta maaf, tetapi bukannya menyelesaikan masalah, justru akan memperburuk masalah. Bukannya empati yang timbul dihati anak tapi justru rasa iri, merasa dipojokkan , pilih kasih  yang menimbulkan rasa dendam.

Disinilah orang tua belajar tega untuk tidak buru-buru menolong anak yang sedang berjuang menempuh ujian kehidupan. sehingga orang tua tidak terlibat dalam campur tangan yang merugikan. Sepintas nampaknya menolong anak keluar dari kesulitan yang dihadapi, akan tetapi justru menggagalkan pengembangan kemandirian emosi anak.

Salam ibu profesional
/Tim Fasilitator Bunsay 2/


Sumber Inspirasi
    Istadi, Irawati. Melipat Gandakan Kecerdasan Emosi Anak. Bekasi. Pustaka Inti:2006

Status

Game BunSay #2 : Hari 9

Reseller.

Sebenernya ide ini udah lama banget sejak resign kerja. Sebagai IRT baik yang pingin punya uang tambahan buat jajan buku rasanya ini ide yang agak-agak menggoda gitu. Cuma ada beberapa alasan yang bikin saya belum daftar jadi reseller apapun.

Pertama, jualan kayaknya bukan passion gue. Dan ini dibuktikan dengan saat ini dimana gue nyoba bantu-bantu teman buat jualan tupperware ataupun selai cokelat tapi belum ada kemajuan apapun. Yah, walau dengan alasan tuh dua macam barang bukanlah barang sehari-hari yang harus dibeli tiap hari.

Yang kedua, hmmm… apa ya? Kayaknya alasan pertama udah cukup buat mematahkan semangat gue buat jadi reseller. Tapi meskipun begitu masih kebayang-bayang sih untuk jadi agen reseller gitu.

Nah, pas minta ijin sama suami, doi sih bilang kalau aku mau jualan atau jadi reseller sih boleh aja. Tapi pertama-tama gue ditanya dulu, kenapa niat pingin jadi reseller?

Yah, dengan jujur gue bilanglah. Pingin punya tambahan uang aja.

“Emang butuh uang buat beli sesuatu? Kenapa gak minta sama aku?” suami mulai nanya tingkat lanjut,

“Bukan buat beli sesuatu sih. Cuma buat situasi darurat kalau misalnya mungkin suami kenapa-kenapa.” jawabku.

Nah disini suami langsung pasang muka kerut. “Wah, kalau alasannya kayak gitu aku gak kasih ijin.”

Langsung siyoookkk mode on. “Kenapa?”

“Kalau alasan kamu mau jadi reseller kayak gitu, seakan-akan kamu tuh meragukan rejeki yang Allah kasih sama kamu. Cobaan tuh bukan cuma saat lagi sulit uang. Banyak loh kasus cobaan istri saat penghasilan mereka justru lebih besar dari suami.”

Aku langsung diem.

“Lain cerita kalau kamu reseller niatnya untuk hasilnya membantu sesama. Atau bikin seneng orang tua kita. Itu gak apa-apa.”

Masih diem.

“Aku gak maksud ngelarang kamu reseller loh. Cuma niat kamu diperbaikin lagi ya.”

Aku ngangguk-ngangguk. Iya ya, mungkin walau cuma sedikit ada sedikit rasa takut saat Allah ngasih cobaan kesempitan harta makanya mendadak kepikiran ide buat nambah penghasilan reseller gitu. Sekarang setelah ditegur sama suami rasanya jadi tenang dan enggak buru-buru memutuskan mau jadi reseller atau enggak.

Dan sekarang jadi kepikiran, mungkin semua game BunSay selama beberapa hari ini harus saya perbaiki kembali niatannya. Yeah mandiri secara finansial tapi untuk apa tujuannya? Mungkin disini saya haruis kembali meluruskan hati.

Alhamdulillah, punya suami yang baik dan selalu menuntun. Enggak menuntut macem-macem dan selalu membimbing.

#Hari9

#Level2

#BunSayIIP

#MelatihKemandirian

#Tantangan10Hari


Omake…

“Tapi kak, tadi liat-liat di web jualannya jilbabnya pada lucu-lucu sama bagus-bagus ih. Boleh beli gak? Kan lagi butuh beberapa warna tertentu.”

“Hmm, yaah. Kalau emang perlu mah beli aja.”

Yesss!!!

Status

Game BunSay #2: Hari 8

20170723_153520

Hari ini capek banget. Saking capeknya mungkin postingan kali ini bakal apa adanya, atau dengan kata lain enggak panjang.

Tangan capek karena seharian full dari pagi jam 8 pagi sampai jam 3 sore full gunting-gunting. Dilanjut sampai jam 5 sore nempel-nempel. Walhasil bisa dibayanginlah betapa capeknya tangan dan betapa ngantuknya mata.

Tapi lumayan puas juga karena alat peraga edukasi anak-anak PAUD untuk pengenalan huruf abjad alhamdulillah selesai sudah. Iyalah, demi bisa mandiri secara finansial harus berusaha sebaik mungkin agar gak disangka kerja ngasal-ngasalan doang. Nilai plusnya semua tempel dan gunting ini dibantuin sama suami makanya jadi ada quality time bersama suami.

Yah, sekarang saatnya untuk goler dan istirahat sebelum menemui kesibukan di Senin pagi.

#Hari8

#Level2

#BunSayIIP

#MelatihKemandirian

#Tantangan10Hari

Status

Game BunSay#2 : Hari 7

20170722_135252

Hari ini hari Sabtu. Besok hari Senin udah masuk KBM Efektif di PAUD. Anak-anak PAUD sekarang belajarnya udah canggih, udah mulai pengenalan huruf abjad dan angka. Dan karena basis PAUDnya adalah yayasan Islam makanya kami juga mulai pengenalan huruf hijaiyah.

Namanya juga anak PAUD masih bocah-bocah cilik yang demen main, makanya belajarnya juga di ala ala supaya kayak main-main.

Nah, kalau buatku PAUD ini salah satu proses buat mandiri secara finansial. Supaya lebih kerasa mandirinya makanya usahanya juga harus maksimal kan?

Makanya di hari sabtu yang santai ini buka-buka internet buat nyari contoh untuk alat peraga edukasi buat anak PAUD. Lumayan banyak juga ternyata alat peraga edukasi, makanya begitu ketemu contoh yang OK langsung mau coba dibikin sendiri. Moga-moga hari Selasa In Shaa Allah udah siap digunakan.

Kenapa Selasa? Soalnya pelajaran bahasa adanya di hari Selasa.

Terus hari Senin ngapain?

Belajar Agama Islam pengenalan huruf hijaiyah. Tuh di foto juga udah keliatan alat peraga hijaiyahnya 😛

#Hari7

#Level2

#BunSayIIP

#MelatihKemandirian

#Tantangan10Hari