Status

Game Kelas BunSay#7 – Hari 3

Beda dengan saya yang suka membaca. Suami hobi memasak. Dalam seminggu minimal hari Sabtu dan Minggu suami lah yang dengan sukarela – bahkan memaksa – untuk memasak makanan di akhir pekan.

Sisanya? Bila sedang mood terkadang di malam hari selepas pulang kantor suami langsung ke dapur, mengintip isi kulkas dan langsung memasak dari bahan-bahan yang tersedia dari kulkas. Tak heran kalau berat badan saya bukannya menurun jadi tambah naik karena ulah suami yang suka memasak.

Ah, saat saya bilang memasak itu berarti memasak makanan dan membuat kue. Mengenai membuat kue saya akan cerita di lain waktu di game kelas BunSay ini. Untuk kali ini saya hanya akan menyebutkan bahwa kegiatan yang membuat suami saya merasa hidup adalah memasak.

Kalau yang saya tangkap dari cerita suami, beliau memang sudah mulai mencoba-coba memasak sejak kecil. Maklum, ibu mertua dulu bekerja di sebuah kantor sehingga otomatis suami suka memasak sendiri walau sebenarnya makanan untuk anak-anaknya sudah disiapkan terlebih dahulu oleh ibu mertua. Apalagi ditambah faktor ibu mertua adalah wanita yang sangat jago masak menjadikan suami justru lebih jago masak dibandingkan saya.

Setelah menikah pun suami tidak ambil pusing dengan saya yang benar-benar gagap dalam masalah masak. Bahkan dengan percaya diri dia juga mengajarkan kepada saya apa bedanya biji lada dan ketumbar, walau sekarang kami lebih memilih langsung menggunakan bubuk lada dibandingkan membeli bijinya. Dan setiap saya selalu memuji masakannya dia justru akan semakin semangat untuk mencari resep-resep dan rencana baru untuk memasak di akhir pekan.

Hmm, kemarin sih saya sempat bercanda ingin memakan roti cane dan kari ayam. Dan saat ini dia sedang serius mempertimbangkan resep request saya. Wow, semoga jadi kenyataan.

#Tantangan10Hari

#Level7

#KuliahBunSayIIP

#BintangKeluarga

Advertisements
Status

Game Kelas BunSay#7 – Hari 2

Well dalam postingan sebelumnya saya sudah menuliskan kalau saya sedang menyukai buku-buku dari terbitan terbaru. Walau dibilang penerbit baru sebenarnya penerbit ini di Januari 2018 ini sudah berumur 7 tahun. Kalau disamakan dengan anak-anak berarti sudah masuk SD ya.

Untuk kali ini saya sedang terpukau dengan novel karangan Akiyoshi Rikako. Penulis asal Jepang ini menawarkan novel bergenre misteri, thriller dengan plot twist yang menarik dan kadang tidak terduga.

IMG_20180111_145724

Selama membaca saya terhanyut dengan kepiawaian sang penulis membalut misteri dalam novelnya, membuat saya sambil membaca juga mempelajari teknik penulisan si penulis dan sekaligus berusaha memecahkan misteri ala-ala detetektif amatiran. Tapi tetap saja, teknik penulisan dan penyelesaian cerita penulis ini selalu membuat saya meringis terpukau dan merasa dipermainkan. Hah, kalau dibandingkan dengan beliau saya hanyalah remahan debu yang masih harus banyak belajar.

Dalam novel berjudul Girls In The Dark ini saya jadi belajar bahwa penulisan sudut pandang itu tidak harus mencakup sudut pandang personifikasi. Novel ini menawarkan sudut pandang lain yang berbeda dengan biasanya kita baca di novel lain. Sungguh membuat saya merasa harus banyak belajar lagi dalam hal menulis. Dan tentu saja sebagai pembaca saya benar-benar menikmati novel ini sehingga mengakhiri masa-masa reading slump saya yang begitu hampa.

#Tantangan10Hari

#Level7

#KuliahBunSayIIP

#BintangKeluarga

 

Status

Game Kelas BunSay#7 – Hari 1

Kalau ditanya kegiatan apa yang membuat mata saya berbinar-binar, well, hal paling pertama saya katakan adalah membaca.

IMG_20180111_145404

Kalau kata bookworm yang lain, membaca itu candu. Bener banget kalau kata saya. Apalagi kalau udah pernah mengalamin yang namanya reading slump – suatu keadaan dimana rasanya males banget baca buku entah karena lagi sibuk atau alasan lain – begitu baca buku rasanya kayak bendungan yang ngebuka pintunya supaya air bah bisa lewat. Rasanya kangen dan pingin cepat-cepat menyelesaikan buku yang dipegang.

Apalagi setelah baru-baru ini saya ketemu sama penerbit buku yang seru. Rasanya bagaikan oasis di tengah padang gurun yang gersang. Bukannya buku-buku terbitan penerbit lain enggak asyik juga sih. It’s just about my genre choice yang membuat saya agak pilih-pilih buku bacaan untuk beberapa tahun terakhir ini. Dan begitu ketemu buku yang sesuai pilihan genre saya…ow ow…It’s just like in heaven.

Sejak kapan saya suka baca? Sejak kecil. That’s it! Kalau dispesifikasi lagi sejak saya umur 5 tahun saya sudah suka baca buku. Tentu saja dalam bentuk komik dan gambar. Tapi hei, wajar kan anak seumur itu lebih asyik lihat tulisan dan gambar dibandingkan lihat kertas full tulisan hitam diatas kertas putih. Karena kesukaan saya baca buku itu akhirnya saya jadi yang paling pertama bisa membaca sewaktu masuk TK. Hahaha, jadi ingat karena sudah bisa membaca ini pula setiap hari Senin saya selalu diberi tugas upacara yang berkaitan dengan membaca, seperti membaca Pancasila ataupun Pembukaan UUD 1945.

Balik lagi ke keadaan reading slump, karena baru awal tahun ini saya sembuh dari kondisi itu karena menemukan penerbit yang seru. Akhirnya untuk tahun 2018 ini saya berencana untuk kembali menata serpihan keinginan saya untuk membaca banyak buku. Well, setidaknya tahun 2018 ini saya harus bisa menyelesaikan 25 judul buku. Bertahap semoga penerbit kesukaan baru saya kali ini menerbitkan buku yang asyik agar saya terhindar dari reading slump yang amat parah. Sempat menyesal juga sih karena akhir tahun 2017 kemarin tidak sempat membuat kaleidoskop bacaan dan tulisan di tahun 2017. Tapi sudahlah, menyesal berkepanjangan tidak ada gunanya, hmm?

Semoga di tahun yang baru ini misi membaca sebanyak 25 judul terlaksana dan dari bacaan ini saya bisa menelurkan tulisan-tulisan fantasi yang bermakna. Bukan cuma sekedar wacana. Amin.

#Tantangan10Hari

#Level7

#KuliahBunSayIIP

#BintangKeluarga

Semua Anak Adalah Bintang

Institut Ibu Profesional
Kelas Bunda Sayang sesi #7

Anak-anak yang terlahir ke dunia merupakan anak-anak pilihan, para juara yang membawa bintangnya masing-masing sejak lahir. Namun setelah mereka lahir, kita, orang dewasa yang diamanahi menjaganya, justru lebih sering “membanding-bandingkan” pribadi anak ini dengan pribadi anak yang lain.

BANDINGKANLAH ANAK-ANAK KITA DENGAN DIRINYA SENDIRI, BUKAN DENGAN ANAK ORANG LAIN

Jadi kalimat yang harus sering anda keluarkan adalah,

“ Apa bedanya kakak 1 tahun yang lalu dengan kakak yang sekarang?”

bukan dengan kalimat

“Mengapa kamu tidak seperti si A, yang nilai raportnya selalu bagus?”

”Mengapa kamu tidak seperti adikmu?”

Kita, orang dewasa yang dipercaya untuk melejitkan “ mental jawara” anak, justru lebih sering memperlakukan mereka menjadi anak rata-rata, yang harus sama dengan yang lainnya.

MEMBUAT GUNUNG, BUKAN MERATAKAN LEMBAH

Ikan itu jago berenang, jangan habiskan hari-harinya dengan belajar terbang dan berharap terbangnya sepintar burung

Seringkali kalau ada anak-anak yang tidak menyukai matematika, kita paksakan anak untuk ikut pelajaran tambahan matematika agar nilainya sama dengan anak-anak yang sangat menyukai matematika. Ini namanya meratakan lembah. Anak akan menjadi anak yang rata-rata.

Burung itu jago terbang, apabila sebagian besar waktunya habis untuk belajar terbang, maka dalam beberapa waktu ia akan menjadi maestro terbang

Anak yang terlihat berbinar-binar mempelajari sesuatu, kemudian orangtuanya mengijinkan anak tersebut menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mempelajari hal tersebut, maka kita sedang mengijinkan lahirnya maestro baru. Ini namanya membuat gunung. Anak akan memahami misi spesifiknya untuk hidup di muka bumi ini.

ENJOY, EASY, EXCELLENT, EARN

Kita sebagai orangtua harus sering melakukan “ discovering ability” agar anak menemukan dirinya, dengan cara mengajak anak kaya akan wawasan, kaya akan gagasan, dan kaya akan aktivitas.

Sehingga anak dengan cepat menemukan aktivitas yang membuat matanya berbinar-binar(enjoy) tak pernah berhenti untuk mengejar kesempurnaan ilmu seberapapun beratnya (easy)dan menjadi hebat di bidangnya (Excellent).

Setelah ketiga hal tersebut di atas tercapai pasti akan muncul produktivitas dan apreasiasi karya di bidangnya (earn).

ALLAH TIDAK PERNAH MEMBUAT PRODUK GAGAL

Tidak ada anak yang bodoh di muka bumi ini, yang ada hanya anak yang tidak mendapatkan kesempatan belajar dari orangtua/guru yang baik, yang senantiasa tak pernah berhenti menuntut ilmu demi anak-anaknya, dan memahami metode yang tepat sesuai dengan gaya belajar anaknya.

ANAK-ANAK TERLAHIR HEBAT, KITALAH YANG HARUS SELALU MEMANTASKAN DIRI AGAR SELALU LAYAK DI MATA ALLAH, MEMEGANG AMANAH ANAK-ANAK YANG LUAR BIASA

Salam Ibu Profesional,

/Tim Fasilitator Bunda Sayang/


📚Sumber bacaan

Septi Peni Wulandani, Semua Anak adalah Bintang, artikel IIP, 2016

Abah Rama, Talents Mapping, Jakarta, 2016

Dodik Mariyanto, Belajar Cara Belajar, paparan seminar, 2016
Bahan referensi video:
1. Bentuk kecerdasan yang berbeda

2. Menggugat sistem pendidikan

 

Game Kelas BunSay#6: Hari 7

Ini adalah kejadian yang baru gue alami selama dua bulan ini. Jadi, sebagai guru PAUD alhamdulillah gue dapat uang transport. Yeah, bukan gajian sih. Istilahnya uang transport. Lumayanlah buat jajan buku tiap bulan. Nah, karena jumlah uangnya terbatas sementara buku yang gue mau ada banyak jadinya kudu harus pilih-pilih buku apa yang gue beli bulan ini supaya enggak terlalu menderita pingin baca buku baru padahal duit transport belom turun.

Emang mmalukan sih, tapi untungnya gue sadar sebelom terlambat sama sekali. Gue lagi naksir sama buku terbitan Haru. Guys, kalian harus baca kalau kalian udah bosen sama buku penerbit mayor yang menurut gue sih udah gak terlalu seru lagi bukunya. Tapi gitulah, buku terbitan Haru emang lumayan menguras kantong walau sebenernya gak bakal nyesel juga. Kualitas buku dan isinya emang T.O.P menurut gue sih.

Uang transport gue baru aja turun tanggal 1 Desember dan selama beberapa hari ini gue perang batin. Masalahnya adalah gue cuma punya uang R 175.000 dan buku yang gue mau adalah:

                      

  1. The Dead Returns (Akiyoshi Rikako)
  2. Suicide Day Schedule (Akiyoshi Rikako)
  3. Holy Mother (Akiyoshi Rikako)
  4. Love O20 (Gu Man)
  5. Hyouka
  6. Silence (Akiyoshi Rikako)

Rata-rata buku nomor 1-3 lalu 5 dan 6 harganya 50 ribuan. Itu belum masuk ongkir. Terutama nomor 4 harganya 70 ribuan belum masuk ongkir. Jatah duit cuma 150 ribu. Wajar dong kalau gue nangis-nangis minta pohon duit :”(

Setelah gelisah, gundah gulan dan galau beberapa hari…akhirnya bulan ini… gue memutuskan untuk beli The Dead Returns sama Love O20. Gue belanja di OL bookstore baru yang gue temuin dan harganya jauh lebih murah. Yah, walau gue bilang lebih murah tetep aja total belanjaan gue 120 ribuan udah termasuk ongkir. Cuma bisa beli dua buku :”(

Gak papa deh. Asalkan gue dapet uang transport bulan selanjutnya gue nanti beli lagi deh daftar whistlist buku diatasa.

Tuuh kan…buat booklovers jajan buku juga masuk matematika management keuangan :”(

 

#Tantangan10Hari

#Level6

#Hari7

#KuliahBunSayIIP

#ILoveMath

#MathAroundUs

Game Kelas BunSay#6: Hari 6

Baru-baru ini jalan di depan kompleks perumahan gue lagi ditutup karena sedang diperbaiki. Jalannya emang udah rusak parah sih, bahkan udah lubang-lubang. Apalagi sekarang udah masuk musim hujan, kalau ketutup sama banjiran air emang bahaya banget karena enggak kelihatan.

Lagian juga ini udah akhir tahun, jadi mungkin sekalian ngabisin anggaran akhir tahun juga kali ya… 😛

Nah, karena jalannya sebenernmya sempit dan ditutup, otomatis mobil dan motor gak bisa lewat jalan ini. Terpaksa harus pakai jalan muter. Yang biasanya enggak kena macet tapi karena jalannya ditutup otomatis mobil dan motor makin numpuk dan menyebabkan terjadinya M.A.C.E.T.

Karena macet otomatis suami yang biasanya berangkat jam 7 pagi ke kantor jadi berangkat jam setengah 7 pagi. Hmm…setengah jam lebih awal dari biasanya. Soalnya ternyata bukan cuma jalan depan kompleks gue aja yang lagi diperbaikin. Tapi ternyata jalan raya Cibitung juga lagi deperbaikin sehingga macet dimana-mana.

Supaya enggak kena macet makanya suami berangkat setengah jam lebih cepat dari biasanya. Emang sih nyampai ke kantor juga lebih cepat dari biasanya, Tapi kan mendingan nunggu daripada telat dan buru-buru kan?

Untuk postingan kali ini contoh matematika yang bisa diambil adalah perkiraan jarak waktu yang diperlukan untuk sampai ke tempat tujuan setelah ditambah waktu bermacet-macet ria. Well untuk masalah ini emang enggak gampang kalau kita emang gak tahu sikon lingkungan tersebut. Karena gue tinggal di Cibitung makanya bisa bilang dari rumah gue ke tempat kerja suami berangkat 30 menit lebih awal itu udah cukup. Tapi seenggaknya situasi matematika ini sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari, kan?

#Tantangan10Hari

#Level6

#Hari6

#KuliahBunSayIIP

#ILoveMath

#MathAroundUs

Game Kelas BunSay#6: Hari 5

Kalau lihat buku yang seru pasti langsung kalap!

Itu gue… dan baru-baru ini gue baru aja memahami serunya buku-buku terbitan dari Oenerbit Haru beserta anak-anaknya. Bukannya mau promosi loh yaa~ tapi itulah yang gue rasakan. Pantesan aja grup buku gue ngomongin buku terbitan penerbit ini mulu. Bukunya emang T.O.P banget.

Jujur karena gue lagi menderita reading slump yang parah atau artinya males baca, satu-satunya cara ngebangkitin minat baca gue adalah harus baca buku yang seru. Sayangnya buku yang beredar di pasaran kali ini – menurut gue yang pecinta fiksi – gak ada yang seru semua. Walaupun penulisnya macem DTL – yang sekarang demi apa baper banget – atau IK – yang sama aja kayak DTL bapernya – gue gak tertarik untuk baca buku mereka.

Pas lagi parah-parahnya gue putusin untuk beli buku ini:

Iyee…ini sebenernya buku lama, tapi gue baru bisa beli sekarang-sekarang ini. Dan bukunya emang lumayan keren, bisa membangkitkan reading slumpgue yang parah dan memutuskan untuk beli buku lainkarangan penulis yang sama.

Here’s the math.

Gue per bulan dapet uang transport dari PAUD 175 ribu rupiah. Dan buku yang gue mau harga kisarannya 50 ribu rupiah. Buku yang gue mau saat ini ada lima buku. Kalau gue hitung-hitungan dengan jatah per bulan cuma 175 ribu seenggaknya bulan Desember ini gue bisa beli tiga buku dan bulan Januari dua buku sisanya – itu juga kalau penerbitnya lagi enggak nerbitin buku bagus lainnya 😛

Cuma…sebagai cewek banyaklah yang gue mau beli dengan uang terbatas, otomatis gue harus bijak dan mikir dengan bener kemana uang itu mau gue spend. Ditabungkah? Dibeliin buku? Atau dibeliin baju?

Yah… kalau hitung-hitungan matematika mah jelas aja uang gue gak bakalan cukup. Tapi yang namanya rejeki kan selalu datang dari tempat yang enggak disangka-sangka. Hmm… jadi mungkin kali ini bukan hal yang bijak untuk ngitung-ngitung rejeki pakai logika matematika.

Terus ini postingan apaan?

Bukan apa-apa. Cuma menunjukkan aja begitu cara gue ngitung-ngitung uang yang gue punya untuk memutuskan berapa banyak buku yang bisa gue beli. Biasanya setelah proses hitung uang ini sih yang bikin bingung adalah buku apa yang gue pilih untuk dibeli bulan ini? 😛

Hayoo…kamu juga pasti bingung kan kalau di posisi gue?

#Tantangan10Hari

#Level6

#Hari5

#KuliahBunSayIIP

#ILoveMath

#MathAroundUs