Mr. Carrot and Alice in Wonderland

img-20160830-wa0001

Alice kecil merasa pusing. Ia baru saja meninggalkan pesta teh yang diselenggarakan oleh Mad Hatter. Alih-alih merasa kenyang dan tenang, gadis kecil itu justru merasa lebih pusing lagi dengan semua omong kosong kegilaan Mad Hatter dan para tamunya.

Alice kecil berjalan di jalan kecil satu arah. Saat keluar dari rumah Mad Hatter ia tidak memperhatikan arah jalan karena terlalu tergesa-gesa. Tapi toh gadis kecil itu tidak peduli, Alice masih merasa penasaran dengan dunia ini. Alice tiba di persimpangan jalan. Terdapat penunjuk jalan di antara persimpangan itu, jalan ke arah kiri menunjukkan arah “Ke sana” sementara jalan ke kanan menunjukkan arah “Ke sini”. Alice kecil merasa bingung.

“Jalan ke arah mana yang harus kuambil untuk bisa sampai ke rumah?” gumam Alice putus asa. Alice kecil merasa lelah. Setelah menghadapi kegilaan Mad Hatter, gadis kecil itu berharap agar tidak bertemu lagi dengan orang gila itu.

Alice terduduk di batu besar di pinggir jalan, memikirkan kiranya apa yang sedang dilakukan kucing kasayangannya saat ini. Saat ia baru saja mendudukkan dirinya sebuah suara mengaduh kecil terdengar. Alice melihat kanan dan kiri, tidak ada siapapun, pastilah suara itu hanya imajinasinya.

“Apa yang kau lakukan, anak nakal? Bangun dari dudukmu kalau kau tidak mau membuatku menjadi wortel gepeng!”

Alice melocat dari duduknya dan memandangi batu yang baru saja didudukinya. Ternyata di batu itu ada sebuah wortel yang bisa berjalan. Alice menggosok matanya, berharap dirinya salah lihat atau semua itu hanya imajinasinya.

“Jangan menggosok matamu terlau keras nak! Ini semua bukan mimpi kau tahu!” seru wortel itu.

“Maafkan aku Tuan Wortel, tapi aku tidak melihatmu disana,”

“Lucu sekali! Bagaimana mungkin kau bisa tidak melihatku ada disini?”

“Entahlah Tuan, aku baru saja minum teh bersama Tuan Mad Hatter dan-“

“Hah! Mad Hatter kau bilang! Tak heran kau kelihatan linglung!”

Alice kecil menatap penuh selidik pada wortel cerewet itu. Wortel itu tidak berbeda dengan wortel pada umumnya, akan tetapi Alice yakin tidak ada wortel yang bisa berbicara dan berjalan. Terutama, tak ada wortel yang menggunakan pakaian. Akan tetapi wortel dihadapannya melakukan semua itu, berbicara, berjalan dan berpakaian. Alice kecil merasa pusing dan berharap bisa pulang, kembali menemui kucingnya yang manis.

“Apa kau mendengarku anak bodoh!”

Alice kecil tersentak. Tuan Wortel itu kembali marah-marah. “Maaf Tuan Wotel, aku tak mendengarmu.”

“Jangan panggil aku dengan sebutan Tuan Wortel! Namaku adalah Carrot! Panggil aku  Mr. Carrot!”

“Tapi tuan, bukankah itu sama saja?” Alice menatap bingung.

“Dasar tak sopan! Tak bisakah kau memanggilku dengan Mr. Carrot!”

Sungguh wortel yang sangat cerewet, keluh Alice dalam hati.

“Maafkan aku Mr. Carrot,”

“Itu lebih baik!” Mr. Carrot mengangguk puas. “Jadi seperti kataku tadi, siapa namamu anak kecil?”

“Aku bukan anak kecil. Dan namaku adalah Alice. Hanya Alice.”

“Baiklah, hanya Alice, aku tadi bertanya apa yang kau lakukan disini? Wajahmu benar-benar terlihat bodoh,”

“Tapi Tuan- maksudku Mr. Carrot,” Mr. Carrot menatap tajam saat Alice hendak mengucap Tuan Wortel yang untung saja keburu diganti olehnya, “Tidak sopan mengatai seorang lady dengan sebutan anak bodoh. Lagipula aku bukanlah anak kecil,” Alice mulai keras kepala.

“Aku bebas memanggilmu dengan nama apapun yang kusuka!” Alice cemberut.

“Dan aku akan memanggilmu anak bodoh!”

Sungguh wortel yang egois, keluh Alice kecil dalam hati.

“Jadi anak bodoh, apa yang kau lakukan disini? Wajahmu begitu bodoh hingga kau berani mendudukiku,”

Alice memasang wajah masam. “Aku hanya berpikir jalan mana yang sebaiknya kuambil untuk sampai ke rumahku,”

“Hah! Ada dua jalan disini. Kau tinggal memilih jalan kesini atau kesana?” Mr. Carrot menjelaskan dengan gamblang seakan semua orang mengetahui hal itu.

“Tidak tuan, aku tidak mau mengambil kedua jalan itu. Aku hanya ingin tahu kearah mana seharusnya aku ambil untuk sampai di rumah,”

“Dan dimanakah rumahmu itu?”

Alice terdiam sesaat, bingung, “Aku tidak tahu tuan,”

“Hah! Benar-benar bodoh! Kau bahkan tidak tahu arah rumahmu sendiri,”

Alice kecil mulai merasa kesal, “Aku tidak bodoh Mr. Carrot. Aku bisa membaca, menulis, matematika dan geografi. Aku tidak bodoh,”

Mr. Carrot tertawa geli. “Anak bodoh. Kau bisa membaca? Kalau begitu kau harusnya tahu jalan apa yang harus kau pilih untuk sampai ke rumahmu,”

“Tidak ada penunjuk arah yang mengatakan ke arah mana rumahku,”

“Itulah dia! Kau hanya harus memilih dua jalan yang ada, kesini atau kesana?”

“Tapi Mr. Carrot, aku tidak mau kesini atau kesana! Aku hanya mau pulang ke rumahku!”

“Sungguh anak bodoh! Kau bisa membaca kan? Hanya ada jalan kesini dan kesana. Kau hanya perlu bisa membaca di Wonderland ini nak. Tak ada gunanya berpikir, matematika, geografi dan segala omong kosong itu!” Mr. Carrot mulai berang.

Alice kecil mulai memasang wajah putus asa.

“ Kalau aku mengambil jalan kesana, kemana jalan itu akan membawaku?” Alice mulai bertanya lagi.

“Kearah manapun jalan kesana akan membawamu,” Mr. Carrot menjawab dengan bangga.

“Kalau aku mengambil jalan kesini, kemana jalan itu akan membawaku?”

“Kearah manapun jalan kesini akan membawamu,”

Alice mengeluh. “Semua ini gila,”

Mr. Carrot tertawa. “Tak pernah ada yang waras di Wonderland ini nak. Kupikir pesta teh Mad Hatter telah membuatmu mengerti!”

Alice menunduk sedih.

“Kalau kau bingung kenapa kau tidak kembali ke pesta teh Mad Hatter? Kau akan merasa senang di Wonderland ini,”

Alice menatap Mr. Carrot dengan tatapan ngeri. Kembali ke pesta dan bertemu dengan Mad Hatter dan Kelinci Paskah? Itu mengerikan.

“Kurasa sudah cukup bagiku untuk mengurus anak bodoh sepertimu,” Mr. Carrot meloncat dari batu dan mulai berjalan kearah pesta teh Mad Hatter. Alice memandangi kepergiannya sebelum akhirnya Mr. Carrot mendadak berhenti.

“Kemari nak, ada yang ingin kuberikan kepadamu!”

Alice menghampiri Mr. Carrot yang menyerahkan satu toples kecil berisi buah arbei. Tulisan di tutupnya berbunyi jangan makan aku. Alice memandang toples arbei itu dengan penasaran.

“Apa ini Mr. Carrot?”

“Kau lihat tutupnya kan Nak? Jangan makan benda itu!”

Alice menatap Mr. Carrot penasaran, “Apa yang akan terjadi jika aku memakan buah arbei ini?”

“Anak bodoh! Jangan makan benda itu, bukankah ditulis dengan jelas di tutupnya?”

Mr. Carrot langsung melangkah pergi, seakan jika lebih lama lagi bersama Alice kecil hanya akan membuatnya gila saja. Alice justru menatap tertarik isi stoples tersebut. Kenapa diberikan kepadanya jika tidak boleh dimakan?

Alice kembali mengingat saat ia datang ke Wonderland ini, mengingat saat ini mendapat kesulitan karena memakan kue dan meminum ramuan bodoh itu. Karena kue dan ramuan bodoh itu tubuhnya menyusut dan membesar. Tapi ini kan buah arbei, jadi seharusnya tidak akan ada masalah, bukan?

Alice kecil membuka tutup toples kaca tersebut, mengabaikan tulisan di tutup itu. Tangannya meraih sebuah arbei dari toples. Alice kecil mengamati arbei tersebut, mengendusnya, tidak ada yang aneh dengan arbei itu. Perlahan alice kecil memasukkan arbei itu dan menggigitnya. Rasanya asam!

Sepertinya Alice kecil paham mengapa tertulis jangan makan aku ditutup toplesnya.

Akan tetapi setelah Alice kecil menelan kunyahan arbei itu, tiba-tiba saja tubuh Alice menyusut. Alice kecil merasa panik.

“Wah, wah wah. Terlibat masalah lagi, Alice?”

Alice menengadah. “Chesire Cat! Kau membesar!” Alice kecil menatap heran kucing menyebalkan itu. Sama sekali tidak menyadari masalah yang baru saja terjadi pada dirinya.

“Nah, Aliceku sayang. Aku tidak membesar, tapi kaulah yang menyusut,” Chesire Cat memasang seringai menyebalkan miliknya itu.

“Oh, bagaimana ini? Mengapa tubuhku menyusut?”

“Ck ck ck, rasa penasaranmu terlalu besar Aliceku sayang. Bukankah mereka bilang rasa penasaran bisa membunuhmu?”

“Tapi itu hanya buah arbei. Ia tidak mungkin membunuhku!”

Well, mungkin memang tidak membunuhmu. Tapi tubuhmu menjadi kecil sekarang,” Chesire Cat menatap Alice dengan tajam, seringainya tidak terlupakan.

“Aku merasa sangat aneh sekarang. Tubuhku mengecil, lalu membesar, lalu kembali normal. Sekarang tubuhku mengecil lagi. Apa yang harus kulakukan agar tubuhku kembali normal?”

Chesire Cat bergelung-gelung diatas batu, meregangkan tubuhnya. Alice menghentakkan kakinya, tidak sabar. “Chesire Cat! Tolong bantu aku!”

“Nah, kurasa Aliceku sayang. Paling bijak bagimu untuk tidak membiarkan rasa penasaran mengendalikan dirimu. Wonderland bukanlah tempat yang aman untuk gadis kecil polos sepertimu,”

Alice menatap Chesire Cat dengan pandangan memohon, matanya sembab dan hampir menangis. “Kalau kau pergi kearah sana mungkin kau akan menemukan sesuatu,” ujar Chesire Cat.

“Dan apa yang akan kutemui jika aku mengambil jalan kesana?”

Akan tetapi Chesire Cat perlahan menghilang, hingga menyisakan seringainya dan kemudian semuanya hilang.

“Kau sangat tidak membantu seperti biasa, Chesire Cat! Aku benar-benar marah padamu,” Alice kecil menggerutu.

Alice bangkit dari duduknya, mengibaskan pakaiannya dan mulai melangkah menuju jalan kesana. Perjalanan yang cukup memakan waktu hanya untuk mencapai jalan kesana mengingat tubuhnya yang mengecil saat ini. Jika saja tubuhnya normal, pasti Alice kecil sudah sampai ke jalan yang dituju hanya beberapa langkah.

Kali ini Alice malangkah perlahan dalam hutan yang gelap. Alice kecil menggigil. Kalau saja tubuhnya tidak sekecil ini pastilah hutan ini tidak akan terlalu mengerikan. Akan tetapi karena tubuhnya saat ini mengecil, entah kenapa semuanya terlihat begitu mengerikan.

Tiba-tiba langkah Alice terhenti. Nun kegelapan di depan sana terdengar bunyi sesuatu. Alice kecil terpaku, tidak mampu melangkahkan kakinya lebih jauh. Gadis kecil itu menunggu terlebih dahulu, kira-kira apa yang menghasilkan suara itu.

“Mr. Carrot!” seru Alice.

Dari kegelapan di depannya muncul dengan berlari tergesa, sosok Mr. Carrot. Mr. Carrot terus berlari hingga berhenti mendadak tepat di depan Alice kecil.

“Oh, kau mengenalku?”

Alice manatap Mr. Carrot dengan aneh. Kali ini suara Mr. Carrot terdengar ramah, tidak kasar seperti tadi.

“Mr. Carrot, bukankah kau sedang menuju pesta teh Mad Hatter tadi?”

Mr. Carrot menatap Alice kecil dengan bingung dan tertawa riang. “Tidak, tidak gadis cilik. Kurasa kau salah, aku baru akan menuju pesta teh Mad Hatter,”

“Tapi tadi kau memberikanku toples berisi buah arbei ini bukan?” Alice mengeluarkan toplesnya dan menunjukkan kepada Mr. Carrot.

“Hoo, itu aneh. Seharusnya kakakku membawa stoples itu. Bagaimana benda ini bisa ada bersamamu?”

“Anda saudara Mr. Carrot?” Alice kecil malah balik bertanya.

“Ya, ya, ya. Dia kakakku. Sementara aku adalah adiknya. Namaku adala Mr. Carrot,” ujar Mr. Carrot dengan bangga. Alice kecil benar-benar merasa pusing sekarang.

“Tolonglah aku Mr. Carrot. Bagaimana caranya agar aku bisa kembali ke tubuh asliku?”

“Apa yang terjadi?”

Dan Alice kecilpun mulai menceritakan kembali pertemuannya dengan kakak Mr. Carrot hingga akhirnya tubuhnya mengecil karena memakan buah arbei dalam stoples itu. Mr. Carrot tertawa mendengar cerita Alice kecil.

“Nah, nah, Nona kecil. Bukankah tutup stoples itu bertulis untuk jangan dimakan? Mengapa kau melanggarnnya?”

Alice kecil tampak malu, “Kupikir buah arbei itu tidak akan menimbulkan masalah apapun,”

“Nah, kalau begitu aku tidak bisa membantumu,” ujar Mr. Carrot secara gampang. Alice kecil terkejut.

“Tolonglah Mr. Carrot. Aku harus pulang ke rumahku dan aku tidak bisa pulang dengan tubuh yang kecil seperti ini,” Alice kecil memohon dengan bersungguh-sungguh. Mr. Carrot mau tak mau merasa iba.

“Kita lihat apa yang bisa menolongmu,” Mr. Carrot memeriksa semua saku pakaiannya sebelum akhirnya mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya. Sebuah botol minuman bertuliskan jangan minum aku.

Mr. Carrot mengulurkan botol itu kepada Alice. Gadis itu hanya menatap botol itu.

“Apalagi yang kau tunggu? Minumlah,” desak Mr. Carrot.

“Tapi di botolnya tertulis jangan diminum,”

Mr. Carrot tertawa tergelak, “Dan apa yang membuatmu merasa hati-hati sekarang? Bukankah kau memakan buah arbei itu padahal sudah tertulis untuk jangan dimakan?”

Alice berpikir dan apa yang dikatakan Mr. Carrot memang benar.

“Apakah tubuhku akan kembali membesar kalau aku meminum ini?”

Mr. Carrot kembali tertawa. “Oh gadis kecil, aku tidak tahu. Tapi kau boleh mencoba meminumnya,”

Alice membuka tutup botol itu dan mengendus cairan didalamnya, tidak tercium apapun. Alice melirik Mr. Carrot sesaat sebelum akhirnya memutuskan untuk meminum ramuan itu. Rasanya pahit!

Kini Alice mengerti mengapa ramuan ini jangan diminum.

Alice kecil menunggu apa yang akan terjadi, akan tetapi belum terjadi apapaun. Alice kecil hendak bertanya kepada Mr. Carrot ketika tiba-tiba saja tubuhnya menyusut semakin mengecil.

“Mr. Carrot! Apa-“

Belum selesai protes Alice tiba-tiba saja tubuhnya kembali membesar dan tadaa! Alice kembali ke ukuran tubuhnya yang semula. Alice kecil tidak mampu menyembunyikan senyumnya.

“Aku kembali! Aku kembali seperti semula! Terima kasih Mr. Carrot!”

Mr. Carrot memasukkan stoples buah arbei yang tadi sempat diberikan Alice kecil ke dalam sakunya. “Buah arbei ini akan kuambil lagi. Kuharap ini menjadi pelajaran bagimu Little Lady,”

Alice kecil mengangguk paham.

“Baiklah, aku sudah terlambat menuju pesta teh Mad Hatter. Kuharap ia tidak marah padaku,”

“Terima kasih atas bantuan anda, Mr. Carrot.” Alice berterima kasih sambil menekuk lututnya. Mr. Carrot hanya melambaikan tangan dan bergegas pergi lagi, menuju pesta teh Mad Hatter.

Well, padahal cukup mengasyikkan melihat tubuhmu menyusut kecil, Aliceku sayang,”

Alice menengadah dan menatap Chesire Cat yang sedang tidur di batang pohon. Seringainya benar-benar mengerikan.

“Chesire Cat! Kau sama sekali tidak membantuku!”

“Oh, tapi aku sangat membantumu sayangku. Kalau kau tidak mengambil jalan ini tentu kau tidak akan mendapatkan kembali tubuhmu,”

Alice kecil hanya cemberut.

“Kurasa sudah waktunya kau melanjutkan perjalananmu, Aliceku. Dan jangan lupa, rasa penasaran bisa membuatmu dalam kesulitan,” lama kelamaan Chesire Cat menghilang hingga menyisakan seringainya dan semua itu lenyap.

Alice kecil menatap jalannya di depan. Setelah semua kegilaan ini ia benar-benar lelah dan ingin cepat pulang, menemui kucingnya yang manis.

Dan Alice kecilpun mulai melangkah pergi.


#Challenge Bulanan September

A/N: Wkwkwk….syaratnya harus fantasi dan gambar Tuan Wortel. Yah gak gimana-gimana, taunya malah kepikiran Alice in Wonderland. Dalam cerita aslinya tentua aja si Alice gak pernah ketemu Mr. Carrot karena Mr. Carrot mah gak pernah ada. Cuma nyempilin doang kegilaan sedeng punya saya. Enjoy aja lah.

Advertisements

SIGH

Aku mendesah.

Kuangkat kepalaku dan menatap matahari yang agak condong. Musim gugur yang agak dingin di Venezia. Meskipun begitu masih ada perasaan hangat. Matahari masih bersinar, akan tetapi angin yang bertiup, terutama di Venezia ini cukup membuat musim gugur agak terlalu dingin.

Kuarahkan pandanganku kepada matahari, menantang. Konyol memang. Matahari memiliki sinar yang begitu kuat, mengapa dengan konyolnya aku berusaha menatapnya? Ah, lagi-lagi aku jadi teringat dirinya. Aku berusaha menggeleng, menepis pikiran konyolku.

Kuarahkan pandangan ke sekelilingku. Jembatan Ponte della Paglia sore ini agak sepi. Tidak banyak wisatawan- mungkin karena saat ini bukanlah musim wisatawan padat, masih bisa kumaklumi. Hanya terdapat beberapa orang yang bersantai di jembatan ini, menikmati pemandangan kanal dibawah, matahari senja musim gugur, atau entahlah mereka sibuk masing-masing.

Dengan malas aku menatap kanal dibawah, hanya beberapa gondola yang sedang dikayuh oleh para gondolier. Beberapa itik mengapung di sudut kanal, bergerombol entah sedang apa.

Entah berapa lama aku termenung, memandangi itik tersebut hingga tersadarkan oleh bunyi dentang jam menara. Aku mengenali bunyi dentang itu. Dentang jam Piazza San Marco berbunyi sebanyak lima kali. Kembali aku mencoba menatap langit, matahari sudah condong bahkan hampir tenggelam.

Air mataku menggenang di sudut mata. Berapa lama lagi aku harus menunggu? Selalu begini. Pada akhirnya akulah yang harus menunggu, sementara dirimu entah sedang dimana saat ini. Berpura-pura melupakan janji temu antara kita berdua. Dan esok harinya kau akan menemuiku, tersenyum bodoh dan meminta maaf, lalu mengatur janji bertemu yang pasti akan kau lupakan lagi.

Aku mendesah, mataku menatap lurus.

Sungguh ironis. Aku mendesah di depan Jembatan Desah (Ponte dei Sospiri).

Sungguh lucu kan? Mereka bilang para pelaku kejahatan saat dibawa melintas jembatan itu akan mendesah sambil menatap indahnya Venezia. Dan aku ada disini. Menatap Jembatan Desah sambil mengenang semua yang telah kita lalui.

Sebuah gondola melintas dibawah Jembatan Desah. Penumpang yang dipandu oleh gondolier itu berciuman tanpa malu-malu, dihadapan sang gondolier.

Aku mendengus sinis. Kami juga pernah melakukan hal itu. Legenda mengatakan pasangan yang berciuman tepat di bawah Jembatan Desah pada senja hari pasti akan memiliki hubungan yang kekal selamanya.

Aku menggeleng keras. Itu semua cuma legenda. Buktinya aku dan dia tidak baik-baik saja.

Kuraih loket kalung yang kugunakan, foto kami berdua. Aku masih menatap foto itu saat handphoneku bergetar.

Maafkan aku. Aku tak bisa menemuimu sore ini.

Perasaan campur aduk memenuhi rongga dadaku. Jadi ini jawabanmu setelah kau membuatku menunggu selama enam jam?

Aku menarik loket kalungku dengan kasar, rantai tipis itu terlepas. Dengan kasar aku membuang loket itu ke kanal di bawah. Biarlah loket itu menghilang. Biarlah perasaan cinta ini menghilang. Biarkan semua keluh kesah dan desahku ini terbawa oleh angin Adriatik, mengalir menyeluruh ke Venezia, menyampaikan perasaanku kepada lautan. Hanya kepada lautan ini saja aku bisa mencurahkan perasaanku.

Air mataku telah menetes membasahi pipi, bahuku bergetar, akan tetapi aku tidak peduli. Aku telah menumpahkan segala perasaanku kepada kanal. Apa tidak sebaiknya sekalian aku melakukan ritual Marriage of The Sea?

Aku menepis pikiran konyolku sesaat.

Perdere, Stai Bene (Miss, are you alright)?”

Seorang polisi bersepeda menatapku dengan was-was. Pastilah aku terlihat sangat berantakan saat ini.

Sto Bene (I am fine),” gumamku sambil melempar senyum kecil.

Polisi itu bingung sesaat sebelum akhirnya menyentuh tepi topi miliknya dan mengayuh sepedanya. Aku menghapus air mata di pipiku, menarik napas dalam-dalam dan membuangnya, terus melakukan hal itu hingga aku kembali mendesah.

Aku mendesah di depan Jembatan Desah. Lagi. Sungguh ironis.

I wed thee, sea, as a sign of true and everlasting domination,” gumamku sambil menatap kanal dibawah.

Aku menatap langit. Senja ini Venezia kembali menikah dengan Laut Adriatik. Sebagai pelarian karena tak mampu menggenggam cinta yang nyata.

Aku mendesah. Lagi. Melangkah pergi dari Ponte della Paglia.


#Malam Tantangan OWOP

A/N: Apaan ini??? udah setorannya telat, risetnya kurang, bahasanya pakai google translate! Terlalu! Sediiih hayati. mOga-moga bisa jalan-jalan ke Itali deh.

Satu Cuplik Kehidupan

Hosh. Hosh. Hosh.

Seorang pemuda berlari. Keringat bercucuran dari dahi dan lehernya, akan tetapi ia tak menghiraukan semua itu. Matanya terfokus pada satu tujuan.

Tubuhnya berkelit dengan lincah. Celana abu-abunya agak kotor sedikit, terpercik genangan air berwarna cokelat. Akan tetapi sekali lagi ia masih tidak menghiraukan semua itu.

Sedikit lagi. Tinggal sedikit lagi.

Napas pemuda itu sudah berat. Akan tetapi ia yakin bahwa ia bisa mencapai tujuannya tanpa gagal. Saat kakinya telah mencapai titik tertentu ia melompat. Melempar tubuhnya ke depan.

GREEEETTTT

Chandra, nama pemuda itu memposisikan tubuhnya berlutut. Ia aman.

“Dasar Bocah! Kamu lagi beruntung saya gak tutup pintu pagarnya! Kamu harusnya telat tahu!”

Pak Sukirman, satpam sekolah geleng-geleng kepala. Pria itu meletakkan tangannya di pinggang, menatap Chandra dengan jengkel. Pagar sekolah yang ada di belakangnya dalam posisi tertutup.

Chandra melempar senyum sinis. Ia menepukkan celananya, berusaha menyingkirkan debu. “Tentu saja saya tidak akan telat. Semua latihan lari di pagi hari akan terasa sia-sia,” ujar Chandra sok keren. Pak Sukirman hanya bisa bengong.

“Sampai jumpa lagi, Pak Sukirman,” Chandra mengibaskan jaketnya dan berjalan dengan tenang. Pak Sukirman kembali hanya bisa bengong.

Chandra melangkahkan kakinya sepanjang koridor sekolah. Langkahnya santai akan tetapi tatapan matanya waspada. Telinganya berusaha menangkap suara sekecil apapun, meski sekedar suara hembusan angin. Akan tetapi nihil, tak ada suara sekecil apapun.

Ini tidak bagus sama sekali. Chandra mempercepat langkahnya dan berhenti di depan pintu bertuliskan XII IPA 2.

“Disinilah medan perang akan dimulai,” pikir Chandra waspada.

Tubuhnya merapat ke arah pintu, telinganya ditempelkan ke daun pintu. Aneh, sama sekali tidak terdengar suara apapun. Ia berusaha mengintip ke jendela kelas akan tetapi suasana kelas nampak tenang.

Degup jantung pemuda itu berdetak cepat, keringat dingin mengalir. Perlahan Chandra membuka pintu dan mengintip, tidak ada guru di dalamnya. Dengan perasaan lega chandra menampakkan diri, membuka pintunya dan…

“CHANDRA!”

Sebilah penggaris kayu menebas dari arah atas, secara refleks Chandra menahan serangan itu dengan lembaran file tebal yang memang dibawanya dari awal.

“Abdul! Apa-apaan-”

“Diam! Beraninya kau terlambat!” Pemuda bernama Abdul itu melontarkan serangan lain, kali ini penggaris kayu itu menebas dari samping. Chandra berkelit, meloncat beberapa langkah kebelakang dan berlutut.

“Kau tidak tahu apa yang-”

“Diam! Kami tak menerima alasanmu!”

Abdul berlari, penggaris kayu itu menyabet ke segala arah. Chandra mulai kewalahan. Ia tidak bersenjata dan hanya punya kertas file tebal sebagai pelindung. Bukan hal yang bagus untuk melawan senjata penggaris kayu.

“Abdul sudah cukup!”

Sebuah suara mencoba menghentikan pertarungan mereka. Seorang gadis dengan jilbab yang lebar menatap mereka berdua dengan cemas.

“Jangan hentikan aku Latifah. Anak ini memang harus diberi pelajaran!”

“Tapi ini tidak benar. Bukankah yang penting Chandra bisa kembali mengambil tugas kita dengan selamat?!” Latifah terisak dengan emosi yang terlalu berlebihan.

“Aku akui aku memang salah. Tapi kau tak perlu menyerangku seperti ini!” seru Chandra.

“Diam Latifah! Tak akan kubiarkan Chandra menyakitimu dan membuatmu sedih!”

“Jangan kau bicara seperti itu pada Latifah!”

Latifah terdiam, matanya menatap bingung dan cemas. Pasalnya awal mula permasalahan ini adalah mengenai tugas presentasi yang tertinggal. Kenapa sekarang jadi berubah menjadi kasus cinta segitiga?

“Diam!” seru Abdul.

Abdul menyerang, memanfaatkan kelengahan Chandra. Penggaris kayunya mampu menyabet lengan, perut dan paha Chandra. Chandra yang tidak siap diserang berlutut jatuh, kesakitan dan kehabisan napas.

Latifah segera mengulurkan botol air minum yang langsung diteguk oleh Chandra, yang mana membuat Abdul berdecak sebal. Mata Chandra meneliti ke suatu arah. Ia berdiri dan berlari, Abdul berusaha memotong jalur pemuda itu. Akan tetapi Chandra lebih cerdik, ia melompati serangan penggaris kayu itu, mengambil sebilah penggaris kayu yang lain dan menahan sabetan ke kepala dari Abdul.

“Sekarang kita seri,” ujar Chandra.

“Pertarungan belum berakhir!”

Chandra dan Abdul meloncat mundur beberapa langkah. Senjata siap di tangan sementara mata mereka waspada. Kedua pemuda itu saling menatap satu sama lain, mereka tidak bergerak. Kedua pihak saling menyadari, saat diri mereka bergerak itu akan menjadi serangan terakhir mereka.

Latifah menatap was-was kedua temannya. Masing-masing tangannya telah siap dengan air mineral di botol.

Suasana hening, sunyi. Hanya detik jam yang memecah keheningan. Peluh mengalir dan jantung berdetak kencang.

Tiba-tiba saja angin kencang menerpa pandangan Latifah, tak mampu melihat apapun. Saat Latifah membuka matanya kedua senjata sudah menebas satu sama lain. Chandra dan Abdul berusaha menahan ayunan pedang lawan dan menyarangkan serangan.

Mereka masih mengukur kekuatan satu sama lain saat…

PLOK!

…kepala mereka berdua dipukul pelan dengan buku absensi.

“Penggaris sekolah bisa patah!”

Chandra melompat mundur, mengacungkan penggaris kayu mereka kepada musuh baru…

“Guru!” “Pak Guru!”

…yang ternyata adalah guru mereka.

Syat! Syat! Syat!

Chandra dan Abdul terkapar di lantai. Guru mereka telah mengeluarkan jurus “sabetan cahaya buku absensi”. Tak pernah ada satu orangpun korban dari jurus itu yang mampu melihat gerakan cahaya sabetan itu.

Pak Guru menatap ke arah Latifah.

“Beri mereka minum!”

Tanpa basa-basi Latifah langsung berlari menghampiri kedua pemuda itu.

“Dan kalian berdua, sepulang sekolah temui saya untuk menerima hukuman,” Pak Guru menatap tajam. Chandra dan Abdul hanya bisa menatap Pak Guru dengan ringis kesakitan.

Pak Guru membalikkan badan, mereka bertiga hanya bisa memandang punggung pak guru. Angin berhembus dan Pak Guru melangkah pergi.

“Darah muda seperti kalian, memang terlalu berapi-api.”

Pak Guru memang keren!

#End#

 

Akan Lebih Baik

Edward Phillip Arsene Louis.

Jujur saja, Primrose belum pernah mendengar nama itu. Akan tetapi nama itu adalah nama terakhir dari para pemuda yang memaksa ingin bertemu dengannya – mendadak perut Primrose terasa sakit. Setelah pertemuan pertama – yang Primrose tidak ingat lagi siapa nama pemuda itu- dan pertemuan kedua dengan Mr. Medusa, Primrose sekali lagi ingin membenturkan dahinya ke meja kayu.

Sayang, kali ini ayahnya sudah memerintahkan agar semua meja kayu di mansion dilapisi setidaknya lima lembar taplak meja yang tebal, sehingga percuma saja membenturkan kepalanya yang sudah cukup stress itu.

Meskipun perut gadis itu terasa sakit melilit karena pertemuan yang tiada berkesudahan, gadis itu cukup penasaran juga dengan pemuda yang terakhir ini. Pasalnya, nama pemuda ini belum pernah didengar sebelumnya.

Ayahnya, Mr. Kirkland memastikan bahwa pemuda itu berasal dari keluarga bangsawan yang cukup terkemuka, akan tetapi pemuda ini memiliki sedikit cacat. Ibu dari pemuda itu bukanlah istri yang sah, melainkan istri kedua yang berlatar belakang seorang pelayan. Kalau bukan karena latar keluarga bangsawan itu yang cukup terkenal, tentu Mr. Kirkland sudah menolak keras pemuda itu menemui putrinya.

Dan disinilah Primrose, kembali duduk di tempat yang sama seperti sebelumnya. Primrose sedang melamunkan hal-hal yang tidak penting saat sesosok pemuda menghampirinya. Gadis itu berdiri dan mengangguk angun. Saat matanya menatap wajah pemuda itu mata Primrose membelalak dan ia hampir berteriak. Untunglah pemuda itu memberi isyarat diam hingga Primrose tidak berteriak karena terkejut.

“Selamat siang Milady Primrose. Maafkan kedatangan saya yang terlambat ini,” ujar pemuda itu ramah.

Ekspresi Primrose berubah-ubah: terkejut, bingung, penasaran, hingga akhirnya ia harus disadarkan dengan batuk kecil dari pelayannya. Primrose mengangguk hormat kepada pemuda itu, mengulurkan tangannya yang disambut dan dikecup di bagian punggung tangan.

Primrose kembali duduk yang diikuti oleh pemuda itu. Mata gadis itu menatap menyelidik. Pasalnya pemuda di hadapannya itu…

“Perkenalkan, nama saya adalah Edward Phillip Arsene Louis. Anda bisa memanggil saya Phillip saja.”

… adalah Gentleman Thief.

Primrose hanya mampu menatap pemuda itu dalam diam. Tiba-tiba saja ia tersentak dan mulai merapikan tatanan rambutnya yang mungkin berantakan, dahinya yang masih sedikit membengkak dan gaunnya yang sedikit kusut. Pelayan gadis itu kembali berdehem sementara Phillip tersenyum geli.

“Mereka bilang anda adalah gadis yang sangat cantik dan saya mengakui kecantikan anda memang luar biasa,” Phillip tersenyum geli, akan tetapi terlintas senyum sinis.

Primrose dapat melihat senyum sinis itu dan memasang wajah cembut. Sungguh Unlady-like!

Kalau memang Gentlemen Thief ini ingin bermain, Primrose akan melayani permainannya, pikir Primrose.

“Terima kasih atas pujian anda, meskipun saya yakin semua itu hanya berita yang dibesar-besarkan,” Primrose melempar senyum manisnya.

Phillip melihat gelagat bahwa gadis itu mulai mengikuti alur permainannya. Pemuda itu tersenyum sesaat.

“Kita belum pernah bertemu sebelumnya bukan, Lady Primrose?”

“Tidak Lord Phillip, kita belum pernah bertemu sebelumnya.”

Primrose menuangkan secangkir teh dan mempersilahkan Phillip untuk mencicipi kue yang ada. Untuk sesaat suasana menjadi hening. Primrose ingin sekali berbicara banyak dengan pemuda di depannya ini, akan tetapi merasa tidak bebas karena pelayannya.

Sir Phillip, apakah anda mau berkeliling taman? Saya bisa menunjukkan beberapa koleksi bunga mansion ini kepada anda,” Primrose sudah bangkit dari duduknya, pertanda tidak menerima penolakan.

Sang pelayan membelalakkan mata. Baru kali ini nonanya berinisiatif melakukan sesuatu. Phillip menatap selidik gadis itu sesaat dan melemparkan senyumnya. “Saya merasa senang,” ujar pemuda itu. Phillip bangkit dan mengulurkan lengannya, Primrose melingkarkan lengannya ke sekeliling lengan pemuda itu.

Sang pelayan meski penasaran tetap menghormati Ladynya itu. Karena itu sang pelayan berdiri agak menjauh, memberi ruang bagi Primrose untuk berbicara tanpa terdengar oleh sang pelayan.

Sir Gentleman Thief?”

Phillip tersenyum kecil. “Milady, rupanya kabar burung yang mengatakan anda akan dijodohkan itu memang benar?”

Primrose merengut.

“Tahukah anda, orang-orang di kota saling bertaruh satu sama lain mengenai siapa pemuda beruntung yang akan mendapatkan anda?”

“Aku bukan barang,” Primrose membalas ketus.

“Hmm, dengan ini saya memenangkan taruhan. Kurasa aku akan menagih uangku yang mengatakan anda terlalu keras kepala untuk menikah dengan salah satu diantara para pemuda ini,” Phillip atau Gentleman Thief melanjutkan tanpa jeda.

“Kau bertaruh mengenaiku?!” Primrose menghentikan langkahnya dan menatap Phillip dengan pandangan marah.

“Aku anggap itu sebagai jawaban yang tepat, bukan?” Phillip tersenyum kecil. Primrose masih menatap marah.

“Siapa kau sebenarnya? Apakah kau memang Edward Phillip Arsene Louis?”

Phillip tersenyum kecil. “Edward Phillip adalah sahabat baikku, milady. Ia meyakinkanku bahwa ia tidak suka dipaksa menikah dengan anda. Mengejutkan sebenarnya, karena sahabatku itu begitu bodoh menolak gadis secantik anda. Dengan ramainya desas-desus perjodohan anda, tentu saya menawarkan diri untuk mengetahui di sisi mana dewi fortuna akan tersenyum. Dan yang seperti anda lihat, sepertinya saya memenangkan taruhan itu,”

Primrose menatap tak percaya pada pemuda di hadapannya itu. Phillip menangkap anak rambut Primrose yang tidak tertata rapi dan menyelipkannya di belakang telinga gadis itu. “Sekarang saya bisa melihat sisi lain dari di anda, milady. Dibalik pribadi anda yang anggun dan gemulai, anda hanyalah seorang gadis pemberontak yang mendambakan kebebasan,”

Primrose menampik tangan Phillip dengan kasar. “Bukankah anda sudah mengetahuinya sejak saya diculik pada saat lalu?”

“Dan karena hal itulah lady, saya sangat mengagumi topeng anda,”

Primrose tertegun. “Bukankah kita sama-sama menggunakan topeng, Sir Thief?”

Phillip mendecak tidak setuju. “Inilah pribadi saya yang sebenarnya milady. Tentu pribadi saya ini tak akan mampu ditolerir oleh gadis sekelas anda bukan?”

Primrose menangkap nada sindiran disana. “Apa maksud anda?” Nada bicara Primrose telah berubah berbahaya.

Phillip mendekatkan bibirnyake telinga Primrose. “Menurut anda, mengapa saya menolak untuk membawa anda pada saat itu?”

Dan Primrose bisa merasakan hatinya terasa sakit. Ia tidak tahu mengapa terasa sakit, tiba-tiba saja air mata telah menetes ke pipinya. Akan tetapi Phillip malah tersenyum. Seolah bangga mampu membuat Primrose menangis dengan kata-katanya yang menusuk.

Primrose sadar diri. Ia telah ditolak sebelum sempat menyatakan perasaanya. Gadis itu mundur beberapa langkah menjauh dari Phillip, mengangguk hormat dan melangkah pergi. Langkah gadis itu terhenti sesaat dan menoleh sebentar.

“Akan lebih baik jika anda adalah Edward Phillip Arsene Louis,”

Primrose berjalan menjauh dan disambut oleh pelayannya. Phillip hanya mampu mendesah memandang kepergian Primrose.

“Yah, aku harap aku bisa menjadi Edward Phillip, milady.

Pasangan Kedua

Sang pelayan tidak melepaskan pandangan matanya sedikitpun dari Lady Primrose. Matanya menatap waspada akan setiap gerakan terkecil dari Ladynya itu. Yang ditatap hanya duduk dengan pandangan kosong, meski saat ini jelas Primrose ingin sekali membenturkan kepalanya ke meja di hadapannya.

Sang pelayan masih menatap waspada, merasa khawatir dengan keadaan dahi Lady Primrose. Sebelum pertemuan ini sang Lady telah membenturkan kepalanya berkali-kali ke meja kayu saking stress dan frustasinya. Ayahnya, Sang Lord Arthur Kirkland tentu saja langsung panik, dan sebenarnya memang itu tujuan Primrose. Membuat ayahnya panik agar pertemuannya dengan pria yang lain bisa dibatalkan. Pertemuan dengan pria pertama saja sungguh sangat mengerikan, Primrose tidak berani membayangkan mengenai pertemuan kedua.

Sialnya, meski dahi Primrose kelihatan memar dan ia yakin mempengaruhi kecantikannya- meski ayahnya bersikukuh ia tetap cantik, pertemuan itu tidak dibatalkan. Hell! Memang ayahnya disuap apa hingga beliau benar-benar keras kepala untuk mempertahankan pertemuan kali ini?

Jadi disinilah Primrose berada. Terjebak di pertemuan yang membosankan, diawasi oleh pelayannya dengan dahinya yang berdenyut memar. Primrose mendesah bosan. Sepuluh menit telah berlalu sejak dimulainya pertemuan dengan Duke William akan tetapi pemuda itu tidak mengucapkan sepatah katapun. Sisi positifnya, pemuda dihadapannya tidak banyak bicara, tidak seperti pemuda sebelumnya yang Primrose bahkan sudah lupa siapa namanya.

Sisi negatifnya, Duke William terus menatap dirinya dengan tatapan yang tajam, nyaris setajam pisau. Primrose bergidik, pasalnya kali ini Duke William menatapnya tajam dari balik cangkir teh yang sedang dihirupnya.

“Terima kasih atas pertemuan kali ini, Lady Primrose,” Duke William meletakkan cangkirnya ke tatakan dengan sangat elegan. Membuat Primrose bertanya bagaimana pemuda ini bisa terlihat lebih elegan dibanding dirinya yang seorang wanita.

Deheman sang pelayan menyadarkan Primrose dari pikirannya yang asal, gadis itu melemparkan seulas senyum manis, berharap senyum itu cukup sebagai balasan.

“Kita memang belum pernah bertemu sebelumnya. Akan tetapi nama anda sangat terkenal di kota ini milady,” Duke William menopangkan dahunya ke tangannya.

“Sesuai kabar burung yang beredar, anda memang sangat cantik. Tak heran Gentleman Thief menjadikan anda sebagai targetnya,” lanjut Duke William.

Primrose tidak yakin apa yang ia harus lakukan, gadis itu memilih kembali tersenyum.

Duke William mengedarkan pandangannya ke sekeliling taman. Ya saat ini mereka berdua sedang minum teh di taman mansion Kirkland. Pemandangan bunga warna-warni cukup membuat mata terpukau kagum, memberikan kesempatan bagi Primrose untuk terbebas dari tatapan tajam pemuda di hadapannya.

Milady Primrose. Tentu anda tahu mengenai tujuan kedatangan saya ini bukan?”

Primrose ragu sejenak, akan tetapi ia memilih pura-pura tak tahu. “Saya tidak mengerti maksud anda, Duke William.”

Duke William kembali menatap Primrose dengan tajam, kini Primrose benar-benar merasa kaku. Mungkin ditatap oleh Medusa akan jauh lebih baik dibanding tatapan Duke William, pikir Primrose asal.

Duke William menatap matanya dan tersenyum, ia bersender di punggung kursinya. “Saya mengajukan tawaran pernikahan kepada anda.”

Jantung Primrose mencelos, sesaat menyesal tidak sedang menghirup tehnya. Ada kemungkinan saat Primrose meminum tehnya dan Duke William menyatakan tujuannya, gadis itu bisa berpura-pura menyembur tehnya ke wajah tuan muda itu dengan alasan terkejut. Sayang, semua itu hanya dalam bayangannya saja.

“Tentu pernikahan kita tidak akan terjadi sekarang. Tetapi saya ingin anda memikirkannya,”

Primrose hanya mampu terdiam, tangannya memegang cangkir di hadapannya sementara tatapan matanya terarah ke meja di hadapannya. Primrose berusaha menyembunyikan perasaan hatinya, akan tetapi kegelisahan gadis itu dapat ditangkap baik oleh William.

William bangkit dari duduknya dan menggunakan topi tingginya yang selama ini diletakkan di meja. “Anda tidak perlu terburu-buru. Akan tetapi saya harap anda mempertimbangkan tawaran saya,”

Duke William mengangguk sopan sebelum akhirnya undur diri dari sana. Primrose hanya duduk terdiam, tidak menatap kepergian William apalagi memberi salam perpisahan. Gadis itu malah menghembuskan napas secara berat, menyenderkan punggungnya ke kursi dan menatap langit yang berwarna biru.

Milady! Kelakuan anda sungguh tak pantas!”

Primrose menghiraukan serentetan teguran dari pelayannya. Kepalanya benar-benar pusing kali ini. Siapapun, tolong bantu ia kabur dari sini!